Bersama Pergerakan Kebangsaan Menyongsong Zaman Baru

IKP_SoloIndonesia hari ini adalah Indonesia yang sedang berada di tengah-tengah turbulensi perubahan dunia. Kapitalisme masih tetap menjadi sistem dunia, tetapi kapitalisme sekarang ini adalah kapitalisme yang sedang berganti bulu. Konsentrasi kapital telah mencapai titik puncaknya, dan kita akan menyaksikan berlangsungnya proses sentralisasi kapital yang lebih cepat. Kekayaan dunia akan terkonsentrasi di tangan beberapa gelintir perusahaan super kaya dunia dan niscaya akan mengubah cara kerja kapitalisme dunia.
Kita sudah mengakhiri gelombang globalisasi kedua yang dimulai setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, tetapi gelombang globalisasi baru belum dimulai. Kita sedang berada dalam “situasi batas” di mana pranata-pranata lama tidak lagi dapat diharapkan untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah penting dunia, sementara itu pranata-pranata baru masih dalam proses pembentukannya. Pola distribusi kekayaan dan pola produksi maupun pola konsumsi masyarakat tengah berubah dengan cepat seiring dengan percepatan proses sentralisasi kapital; dan perubahan pada bangunan infrastruktur sosial ini pun pada gilirannya juga akan mengubah, mengondisikan, dan menentukan bangunan politik, hukum, mental dan budaya, serta penghayatan ideologi masyarakat. Umat manusia akan segera meninggalkan zaman lama dan memasuki zaman baru. Sinyal kegagalan pranata-pranata lama untuk mengatasi masalah-masalah penting dunia tercermin pada resesi ekonomi dunia yang berkepanjangan, masih terus berlangsungnya aksi-aksi terorisme, kegagalan lembaga-lembaga keuangan internasional mengatasi kemiskinan yang makin luas, dan perdagangan narkoba yang belum ada tanda-tanda untuk teratasi.
Frederic S. Mishkin dalam bukunya The Next Great Globalization (2006), membagi proses globalisasi atau liberalisasi perdagangan dalam tiga tahap, yaitu (1) gelombang globalisasi pertama yang dimulai tahun 1870 dan berakhir sekitar tahun 1929, (2) gelombang globalisasi kedua yang dimulai setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua dan berakhir sekitar tahun 2003, dan (3) gelombang globalisasi ketiga yang sekarang sedang kita tunggu kehadirannya. Mishkin juga menegaskan bahwa globalisasi ketiga adalah globalisasi keuangan, yang memungkinkan suatu bangsa dapat bergerak dengan pertumbuhan ekonomi melampaui 15% per tahun. Sementara itu perlu dikemukakan di sini, globalisasi kedua memberi kemungkinan suatu bangsa bergerak dengan laju pertumbuhan 10% per tahun, globalisasi pertama 4% per tahun, dan sebelum proses globalisasi dimulai berkisar antara 1½ – 2% per tahun.
Dari pengalaman globalisasi kedua, secara empiris kita bisa menyaksikan bahwa dalam pergulatannya dengan proses globalisasi, ada bangsa-bangsa yang berhasil menjadi makmur, dan ada pula bangsa-bangsa yang gagal dan kurang berhasil memberikan kemakmuran kepada rakyatnya. Bangsa-bangsa yang berhasil adalah bangsa-bangsa yang berhasil mengelola globalisasi di negerinya sendiri; dan bangsa-bangsa yang gagal atau kurang berhasil adalah bangsa-bangsa tidak berhasil mengelola globalisasi itu untuk menjaga kepentingan nasionalnya. Ketidakberhasilan itu seringkali berpangkal pada godaan untuk memperkaya diri dan memupuk kepemimpinan oligarkis dari rejim yang berkuasa.
Melihat masih luasnya kemiskinan di Indonesia dan masih sulitnya orang miskin untuk bertahan hidup, menjadi indikasi bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kurang berhasil mengelola globalisasi dan seringkali terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi itu sendiri. Itulah yang terjadi ketika kita menghadapi gelombang globalisasi kedua yang baru saja berlalu; dan tentu saja hal ini tidak boleh terjadi keika nanti kita menghadapi gelombang globalisasi ketiga yang dapat dipastikan akan segera hadir. Bangsa Indonesia ditantang untuk menghadapi gelombang globalisasi baru yang diperkirakan sangat dahsyat itu dengan lebih proporsional dan cerdik. Dengan kekayaan alam yang melimpah (meskipun sudah banyak terkuras), apabila dipadukan dengan kesanggupan bangsa Indonesia untuk mengelola saling ketergantungan bangsa-bangsa di bumi Indonesia, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat membebaskan rakyatnya dari cengkeraman kemiskinan. Zaman baru yang dibentuk oleh gelombang globalisasi ketiga dan kecenderungan yang makin nyata ke arah sentralisasi kapital dengan semua implikasinya, haruslah digunakan sebagai momentum untuk mencapai cita-cita itu.
Terdapat dua persoalan yang harus dihadapi bangsa Indonesia dalam menyongsong zaman baru itu, yakni (1) ketidaksadaran masyarakat bahwa dunia sedang berproses menuju zaman baru, dan (2) gambar kerangka institusional yang akan lahir pada zaman baru itu sendiri masih samar. Karena dua persoalan inilah, Pergerakan Kebangsaan, sebuah komunitas politik yang dibangun sejak tahun 2005, mendirikan Institut Kepemimpinan Pancasila (IKP) untuk secara khusus menyiapkan kader-kader bangsa dalam menghadapi zaman baru, melalui (1) kajian atas kecenderungan-kecenderungan yang mungkin terjadi pada masa globalisasi ketiga, (2) kursus-kursus tentang zaman baru dengan berbagai implikasinya, dan (3) membangun komunitas untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi zaman baru.*** PK_012016

Jakarta, 17 Januari 2016

Kerangka Acuan dalam Peresmian “INSTITUT KEPEMIMPINAN PANCASILA”, yang diselenggarakan di Borobudur Ballroom – Novotel Surakarta, 6 Pebruari 2016

4 thoughts on “Bersama Pergerakan Kebangsaan Menyongsong Zaman Baru

  • 7 February 2016 at 9:12 am
    Permalink

    Saya tertarik untuk berpartisipasi dlm Institut Kepemimpinan Pancasila. Supaya ada generasi penerus. Dan untuk memperkuat ideologi serta wawasan kebangsaan saya. Sukses selalu……

    Reply
  • 16 February 2016 at 10:17 pm
    Permalink

    semoga ada kursus kelanjutan dr kursus tahap pertama kemaren..trims

    Reply
  • 19 February 2016 at 5:28 pm
    Permalink

    Para penggerak haruslah siap-siap dengan seleksi alam, yakinkan dalam hatimu dan pikiranmu bahwa komunitas politik pergerakan kebangsaan adalah sebuah komunitas yang tepat untuk melakukan perubahan sejarah.

    Reply
  • 13 March 2016 at 8:48 pm
    Permalink

    Bergabung dalam pergerakan kebangsaan gimana caranya mohon informasinya. trimakasih.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *