Revolusi Energi dan Zaman Baru

“Siapa yang menguasai minyak dialah yang akan keluar sebagai pemenangnya”.

Basis paradigma energi dari argumen di atas tentu saja tidak bisa dilepaskan dari cara manusia memandang energi sebatas energi fosil. Dahulu, siapa yang dapat menguasai energi fosil maka ia akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa besarnya, dan setelahnya ia akhirnya dapat mengendalikan aspek kehidupan yang lain.

Untuk itu, tidak jarang kita mendengar ada julukan bagi orang yang, jika menguasai sumber daya fosil, sebut saja minyak, maka orang itu akan dipanggil dengan sebutan Raja Minyak. Sebuah posisi yang dianggap begitu prestisius dizamannya.

Karena hampir seluruh aspek kehidupan manusia selalu ditentukan dan bergantung pada energi fosil, maka siapa yang memiliki atau menguasai sumber daya fosil, sudah pasti ia akan menjadi kaya raya.

Kita bisa melihat itu dari negara-negara kaya atau perusahaan-perusahaan kaya yang kekayaannya itu dihasilkan dari sumber daya yang berbasis pada energi fosil, sebut saja di antaranya ada Qatar, Arab Saudi, Exxon Mobil, atau Royal Dutch Shell.

Tetapi yang namanya manusia selalu tidak pernah puas. Dengan aktivitas kerjanya, manusia selalu ingin terus menerus memperbaharui sesuatu. Termasuk memperbaharui energi itu sendiri.

Perkiraan bahwa suatu saat sumber daya fosil akan habis, selain dari faktor efisiensi, besarnya kerusakan alam yang diakibatkan oleh eksploitasi sumber fosil, dan dampak pemakaian energi fosil sendiri yang tidak ramah terhadap lingkungan akhirnya menjadi sebuah paradigma baru dan menjadi bagian dari pemicu bagaimana sumber daya fosil pelan namun pasti harus ditinggalkan.

Salah satu revolusi energi saat ini yang sedang terjadi adalah hadirnya revolusi teknologi energi yang diakibatkan oleh lompatan besar dalam pembuatan baterai dan teknologi listrik tenaga surya yang dipadu dengan penggunaan plastik untuk menggantikan beberapa jenis logam.

Dengan kondisi itu, ditambah dengan penggunaan energi alternatif lainnya, kita jadi mengetahui, ketika wajah energi telah berubah menggantikan energi fosil, posisi energi fosil dunia sendiri akhirnya terpukul dan terpental, dan itu yang mengakibatkan hingga saat ini harga sumber daya fosil sendiri tidak pernah naik lagi.

Bagi penguasa energi fosil, kondisi semacam itu mau tidak mau mengharuskan mereka untuk melakukan dua hal, pertama adalah diversifikasi bisnis, atau yang kedua, dengan bersikap ekstrem untuk berupaya sekuat tenaga mempertahankan posisi dominasinya.

Pada yang terakhir inilah yang membuat mengapa dunia hingga hari ini tidak langsung mengubah wajah energi baru dan masih mencoba mempertahankan posisi sumber energi yang lama yakni sumber fosil.

Bagaimana jika energi fosil sudah tidak lagi digunakan? Dalam gelanggang dunia politik, tentu saja ini akan membuat bargaining position penguasa sumber fosil akan turun, sedangkan dalam dunia ekonomi, ini akan mengubah wajah industri yang selama ini mengandalkan dan berbasis pada sumber fosil.

Kita sebut saja misalnya wajah industri otomotif. Wajah industri otomotif mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perkembangan energi berwajah baru yang digunakan. Tetap mempertahankan industri otomotif dengan berbasis pada energi fosil sama saja pelaku bisnis menggali liang kuburnya sendiri.

Saat ini, perkembangan di negara-negara di belahan dunia lain misalnya telah mendorong agar di negaranya ke depan sudah tidak boleh lagi terdapat kendaraan yang menggunakan mesin diesel dan berbahan bakar bensin.

Sikap itu misalnya ditunjukkan oleh Norwegia yang akan menerapkannya pada tahun 2025, sedangkan Amerika, Jerman, Inggris, dan India akan menerapkannya pada tahun 2030, dan Perancis berencana pada tahun 2040.

Di Indonesia sendiri, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan telah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo untuk melarang penjualan mobil berbahan bakar minyak (BBM) pada tahun 2040.

Usulan itu merupakan tindak lanjut dari hasil kesepakatan forum yang membahas Rancangan Peraturan Presiden tentang Program Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik untuk Transportasi Jalan.

Apakah pada tahun 2040 larangan penjualan mobil berbahan bakar minyak di Indonesia itu dianggap terlalu lambat ataukah sudah tepat dalam penghitungan waktu, tetapi, dari kondisi seperti itu, bisa kita katakan bahwa Indonesia sendiri telah merespon perubahan wajah energi dunia untuk tunduk pada perubahan wajah energi yang baru.

Perkembangan teknologi energi yang diakibatkan oleh lompatan besar dalam pembuatan baterai dan teknologi listrik tenaga surya yang dipadu dengan penggunaan plastik untuk menggantikan beberapa jenis logam, mau tidak mau akan mengubah pandangan manusia tentang energi itu sendiri.

Kehadiran revolusi teknologi energi tersebut ternyata berbarengan dengan hadirnya Renaissance Asia Timur.

Perlu diketahui bahwa Renaissance Asia Timur dimulai dengan “keajaiban ekonomi” Jepang pada tahun 1950-an – 1960-an, menggelinding ke selatan memasuki negara-negara yang sering disebut sebagai empat macan Asia pada tahun-tahun 1970-an – 1980-an (Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Singapura) dan hingga akhirnya sampai ke China pada tahun-tahun 1990-an dan awal abad 21.

Renaissance Asia Timur ini akan menjadikan Asia Timur sebagai pusat perdagangan dunia dan tempat pertumbuhan ekonomi baru yang sangat dinamis, yang berpengaruh besar dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan juga Afrika.

Tidak cukup disitu, hadirnya revolusi energi yang telah disebutkan di atas, ditambah dengan hadirnya Renaissance Asia Timur, ternyata bergerak simultan dengan perubahan wajah konsentrasi kapital ke sentralisasi kapital, demokratisasi alat produksi, perkembangan teknologi eksponensial, di tambah dengan akan hadirnya globalisasi tahap ke-tiga. Kesemuanya itu akan mengubah wajah sosial, ekonomi, maupun politik dunia secara radikal.

Ketika kesemuanya, yakni revolusi energi, Renaissance Asia Timur, sentralisasi kapital, demokratisasi alat-alat produksi, perkembangan teknologi eksponensial dan globalisasi tahap ketiga bertemu pada satu titik yang sama, maka akan melahirkan kondisi yang baru sama sekali yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, sebuah situasi kehidupan dunia yang baru itulah yang akan dihidupi oleh umat manusia ke depan, sebuah dunia yang pada akhirnya oleh Pergerakan Kebangsaan sendiri disebut sebagai “Zaman Baru”.

 

Edi Subroto

Kontributor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *