Pidato Pengantar Komnas Pergerakan Kebangsaan pada Peresmian Institut Kepemimpinan Pancasila

PIDATO PENGANTAR
KOMNAS PERGERAKAN KEBANGSAAN
PADA PERESMIAN
INSTITUT KEPEMIMPINAN PANCASILA

 

SudaryantoAssalamu ’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

  • Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah yang maha kuasa, yang telah memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di ruangan ini untuk mengikuti acara peresmian Institut Kepemimpinan Pancasila (IKP) dalam keadaan sehat wal’afiat.
  • Atas nama Komite Nasional Pergerakan Kebangsaan, perkenankan pada kesempatan ini saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran ibu-ibu, bapak-bapak, dan saudara-saudara sekalian dalam acara yang kami selenggarakan hari ini, tanggal 6 Februari 2016, di hotel Novotel, Surakarta. Kehadiran ibu-ibu, bapak-bapak, dan saudara-saudara sekalian dalam acara ini sangat menggembirakan hati kami dan memberikan dorongan yang kuat kepada kami untuk bekerja lebih keras lagi agar maksud dan tujuan didirikannya IKP dapat dicapai.
  • Bangsa Indonesia sedang berada di tengah-tengah turbulensi perubahan dunia yang berjalan sangat cepat dan seringkali tidak bisa dipahami arahnya dengan pasti. Kegamangan dan ketiadaaan pegangan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari sangat dirasakan oleh berbagai kalangan; dan akhirnya mereka terjebak dalam kegiatan-kegiatan yang hampir semuanya dilakukan demi kegiatan itu sendiri, tanpa mengacu pada tujuan-tujuan yang melatarbelakangi dilakukannya kegiatan-kegiatan itu. Kita sedang berada dalam situasi dimana pranata-pranata yang ada kita rasakan tidak dapat lagi menyelesaikan masalah-masalah penting dunia. Sinyal kegagalan pranata-pranata yang ada untuk dapat mengatasi masalah-masalah penting dunia itu tercermin pada resesi ekonomi yang berkepanjangan, kegagalan lembaga-lembaga keuangan internasional mangatasi kemiskinan yang makin luas, masih terus berlangsungnya aksi-aksi terorisme, dan perdagangan narkoba yang belum ada tanda-tanda untuk teratasi. Kelihatannya kita memang sedang berada dalam “situasi batas,” di mana pranata-pranata lama memang tidak lagi dapat diharapkan untuk menyelesaikan masalah-masalah penting dunia; sementara itu pranata-pranata baru yang diharapkan, masih juga belum muncul.
  • Untuk menganalisis persoalan ini, perkenankan kami berangkat dari pandangan Frederic S. Mishkin tentang globalisasi dalam bukunya The Next Great Globalization (2006). Dalam bukunya itu, Mishkin memahami globalisasi sebagai proses liberalisasi perdagangan pada tingkat dunia dan membagi proses liberalisasi perdagangan tersebut ke dalam tiga tahap, yaitu (1) gelombang globalisasi pertama yang dimulai tahun 1870 dan berakhir tahun 1914, (2) gelombang globalisasi kedua yang dimulai setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua dan berakhir pada dasawarsa pertama tahun 2000an, dan (3) gelombang globalisasi ketiga yang sekarang sedang kita tunggu kehadirannya. Gelombang globalisasi ketiga adalah globalisasi keuangan, yang memungkinkan suatu bangsa dapat bergerak dengan laju pertumbuhan melampaui 15% per tahun. Sementara itu perlu dikemukakan di sini, globalisasi kedua memberi kemungkinan suatu bangsa bergerak dengan laju pertumbuhan 10% per tahun, globalisasi pertama 4% per tahun, dan sebelum proses globalisasi dimulai berkisar antara 1½ – 2% per tahun.
  • Dari proses globalisasi kedua, secara empiris kita dapat menyaksikan bahwa dalam pergulatannya dengan proses globalisasi, ada bangsa-bangsa yang berhasil menjadi makmur; dan ada pula bangsa-bangsa yang gagal atau kurang berhasil memberikan kemakmuran kepada rakyatnya. Bangsa-bangsa yang berhasil adalah bangsa-bangsa yang berhasil mengelola globalisasi di negerinya sendiri; dan bangsa-bangsa yang gagal atau kurang berhasil adalah bangsa-bangsa yang gagal atau kurang berhasil mengelola globalisasi itu untuk menjaga kepentingan nasionalnya. Ketidak berhasilan itu seringkali berpangkal pada godaan untuk memperkaya diri dan memupuk kepemimpinan oligarkis dari rejim yang berkuasa.
  • Memang benar globalisasi akan membawa kita pada ketidakadilan, karena globalisasi pada prinsipnya adalah bentuk baru dari kapitalisme. Tetapi benar juga pernyataan yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa miskin tidak akan berubah menjadi kaya, kalau bangsa itu tidak membuka diri terhadap proses globalisasi. Bangsa Somalia, misalnya, pada tahun 1960 mempunyai pendapatan per kapita 10% lebih tinggi dari pendapatan per kapita bangsa Korea Selatan. Empat puluh lima tahun kemudian, pendapatan per kapita bangsa Korea Selatan (yang membuka diri terhadap globalisasi) menjadi sepuluh kali lipat pendapatan per kapita bangsa Somalia (yang menutup diri terhadap globalisasi). Pendapatan per kapita Korea Selatan mengalami kenaikan lebih dari 1.000%, sementara itu pendapatan per kapita Somalia justru turun 33%.
  • Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sudah membuka diri terhadap globalisasi. Melihat masih luasnya kemiskinan di Indonesia dan masih sulitnya orang miskin mencari makan, menjadi indikasi bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kurang berhasil mengelola globalisasi dan bahkan seringkali terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi itu sendiri. Itulah yang terjadi dan dialami oleh bangsa Indonesia ketika menghadapi gelombang globalisasi kedua yang baru saja berlalu; dan tentu saja hal ini tidak boleh terjadi ketika nanti kita menghadapi gelombang globalisasi ketiga yang dapat dipastikan akan segera hadir.
  • Zaman baru yang akan diukir dengan kehadiran gelombang globalisasi ketiga nanti, akan lebih nyata kebaruannya kalau kita dapat melihat fenomena-fenomena lainnya yang akan menyertai kehadiran globalisasi baru, yaitu :
    1. Tingkat perkembangan kapitalisme dunia yang mulai meninggalkan tahap “konsentrasi kapital” untuk secara penuh memasuki tahap “sentralisasi kapital.” Saat ini 62 orang terkaya dunia mempunyai kekayaan yang besarnya sama dengan kekayaan separuh penduduk dunia yang termiskin. (Oxfam, oganisasi nirlaba yang didirikan di Oxford tahun 1942 dan berdedikasi memerangi kemiskinan dan ketidakadilan di seluruh dunia). Jumlah penduduk dunia 7,3 milyar. Bayangkan, kekayaan 62 orang terkaya besarnya sama dengan kekayaan lebih dari jumlah kekayaan 3,6 milyar penduduk di lapisan terbawah. Sebuah bentuk ketidakadilan yang ekstrim.
    2. Revolusi Industri Keempat, yang tidak lain adalah revolusi teknologi enerji yang diakibatkan oleh lompatan besar dalam pembuatan baterei dan teknologi listrik tenaga surya yang dipadu dengan penggunaan plastik untuk menggantikan beberapa jenis logam. Revolusi Industri Keempat ini pada gilirannya akan memperlemah posisi tawar rejim enerji dalam pergulatan kekuasaan politik dunia.
    3. Renaisan Asia Timur yang dimulai dengan “keajaiban ekonomi” Jepang pada tahun-tahun 1950an – 1960an, yang menggelinding ke selatan memasuki negara-negara yang sering disebut sebagai empat macan Asia pada tahun-tahun 1970an – 1980an, dan akhirnya Cina pada tahun-tahun 1990an dan awal abad ke 21. Renaisan Asia Timur ini akan menjadikan Asia Timur sebagai pertumbuhan ekonomi dan pusat perdagangan dunia yang sangat dinamis, dan berpengaruh besar dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika.
  • Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa zaman baru yang akan segera hadir menggantikan zaman yang lama itu adalah gerak simultan dari gelombang globalisasi ketiga yang lebih dahsyat dari globalisasi kedua, proses sentralisasi kapital yang makin cepat, dan renaisan Asia Timur dengan berbagai implikasinya.
  • Ada dua persoalan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam menyongsong zaman baru itu, yakni (1) ketidaksadaran masyarakat bahwa dunia sedang berproses menuju zaman baru, dan (2) gambar kerangka institusional yang akan dilahirkan oleh zaman baru itu sendiri masih samar. Karena dua persoalan inilah, Pergerakan Kebangsaan, sebuah komunitas politik yang dibangun sejak tahun 2005, mendirikan Institut Kepemimpinan Pancasila (IKP) untuk secara khusus menyiapkan kader-kader bangsa dalam menghadapi zaman baru, melalui (1) kajian atas kecenderungan-kecenderungan yang mungkin terjadi pada masa globalisasi ketiga, (2) kursus-kursus tentang zaman baru dan implikasinya, dan (3) membangun komunitas-komunitas untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi zaman baru. Sepanjang tahun 2016 ini, Pergerakan Kebangsaan merencanakan menggelar kursus-kursus tentang zaman baru ini sebanyak 18 sampai 24 angkatan, yang akan dimulai di Solo besok pagi sampai tanggal 10 Februari 2016 sebagai angkatan pertama.
  • Sebelum saya mengakhiri pidato pengantar ini, perkenankan saya atas nama Komite Nasional Pergerakan Kebangssan, dengan segala kerendahan hati, memohon kesediaan Bapak Ryamizard Ryacudu untuk (1) menjadi pelindung Institut Kepemimpinan Pancasila, dan (2) meresmikan berdirinya Institut Kepemimpinan Pancasila dengan menandatangani prasasti peresmian.
  • Atas kesediaan Bapak Ryamizard Ryacudu kami ucapkan terima kasih; dan atas perhatian ibu-ibu, bapak-bapak, dan saudara-saudara sekalian juga kami ucapkan terima kasih yang tak berhingga. Mudah-mudahan Tuhan selalu menyertai kita semua.

Wassalamu ’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Novotel Hotel Surakarta, 6 Pebruari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *