Revolusi Industri Keempat dan Peran Leadership

Akhir-akhir ini kita diperlihatkan dengan berbagai macam inovasi dan kecanggihan yang menakjubkan. Dengan kehadiran artificial intelligence, robotics, the Internet of Things, Tesla, 3-D printing, nano-technology, bio-technology, energy storage, dan quantum computing telah mengubah banyak hal, terutama mengubah cara manusia hidup.

Kita kini dapat melihat bagaimana perkembangan artificial intelligence telah mengubah cara kita memesan taksi, memesan penerbangan, membeli produk, melakukan pembayaran, mendengarkan musik, menonton film yang semuanya dapat dilakukan dari jarak jauh. Hingga semua ini mengubah cara kita memandang sesuatu dalam hidup, produk yang kita konsumsi, bahkan bangunan yang kita tinggali.

Kini miliaran orang terhubung dengan perangkat mobile yang memiliki kekuatan pemrosesan, kapasitas penyimpanan, dan akses pengetahuan yang belum pernah terjadi sebelumnya; tidak terbatas.

Saat ini kita berdiri di ambang revolusi teknologi yang pada dasarnya akan mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain. Dalam skala, ruang lingkup, dan kompleksitasnya, transformasi ini akan berjalan begitu berbeda dengan yang dialami manusia sebelumnya.

Hal ini menandakan bahwa dunia ini senyatanya bergerak dan selalu menuju ke arah perubahan kualitatif. Di era Revolusi Industri Pertama, manusia telah berhasil memanfaatkan tenaga air dan uap untuk mekanisasi produksi, membebaskan manusia dari kekuatan hewan, sehingga membuat produksi massal menjadi mungkin.

Revolusi Industri Kedua, manusia beralih menggunakan tenaga listrik untuk menciptakan produksi massal berjalan lebih cepat. Dan Revolusi Industri Ketiga, dengan menggunakan teknologi informasi dan elektronika manusia mampu mengotomatisasi proses produksi, sehingga industrialisasi berjalan lebih efektif dan efisien dari sebelumnya.

Di era Revolusi Industri Keempat ini, revolusi teknologi digital berkembang secara eksponensial, bukan kecepatan linier. Dimana perangkat teknologi semakin berkembang pesat seiring dikeluarkannya prosesor yang memiliki kemampuan semakin tinggi dan murah.

Dengan inovasi dan terobosan baru, ia menghasilkan kemajuan eksponensial yang berkembang dengan cara “crossing the chasm”, melintasi jurang kesenjangan perkembangan teknologi yang selama ini menghambat dunia untuk maju lebih cepat.

Revolusi Industri Keempat berhasil menciptakan serangkaian teknologi baru yang menggabungkan dunia fisik, digital dan biologi, yang berdampak pada semua disiplin ilmu, ekonomi dan industri, dan bahkan menantang gagasan tentang apa artinya menjadi manusia.

Dengan dampak kecepatan dan ruang lingkup perubahan (kemajuan eksponensial) yang berbeda dengan perubahan di era sebelumnya, maka mau tak mau revolusi industri keempat bersifat mengganggu sejumlah industri mapan. Karena perubahannya menjangkau seluruh sistem produksi, manajemen, bahkan pemerintahan.

Dalam sejumlah hal, inovasi teknologi dapat menciptakan keuntungan jangka panjang terutama dalam hal efisiensi dan produktivitas dimana biaya transportasi dan komunikasi jauh lebih murah, serta membuat rantai logistik dan pasokan global menjadi lebih efektif, dan biaya perdagangan akan berkurang, yang kesemuanya akan membuka pasar baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun di lain sisi, perubahan ini menciptakan sebuah masalah yang serius di sebagian belahan dunia. Kemunculan artificial intelligence misalnya, telah menciptakan perpindahan secara drastis dari tenaga kerja manusia berganti dengan mesin atau robot. Sehingga banyak sebagian pekerjaan hilang yang semakin mempertajam kesenjangan antara pengembalian modal dan tenaga kerja.

Maka semakin banyak lapangan pekerjaan yang diambil alih oleh teknologi, memicu keresahan akan kehilangan pekerjaan dan penurunan pendapatan. Sehingga tak jarang hal ini juga memicu perlambatan daya beli. Hingga pada gilirannya akan menyebabkan meningkatnya ketegangan sosial.

Mungkin yang baru saja kita rasakan akhir-akhir ini yakni kehadiran taksi online (Grab, Go-jek dan Uber), yang dengan cepat dan tak terduga memukul industri transportasi konvensional. Yang pada titik tertentu kehadiran taksi online ini sejatinya tidak sepenuhnya membuat profesi dan pekerjaan itu menghilang, namun berganti dengan profesi yang terbantukan oleh artificial intelligence dan big data.

Akan tetapi kita melihat, dampaknya cukup besar. Terutama dapat menciptakan ketegangan sosial. Bagaimana jika semua ini sudah tergantikan dengan mobil otonom (Tesla)? Yang pasti ia akan memicu kegelisahan, hingga pada momen tertentu dapat memicu ketidakstabilan sosial-politik.

Dan kegelisahan yang berkembang tentang dampak jangka panjang perubahan ini pun mengakibatkan banyak pemimpin politik menarik diri dari percaturan global dan kembali ke wilayah lokal, dengan resiko populisme, ultra-nasionalisme, dan proteksionisme.

Sehingga justru berpotensi membawa masyarakat ke dalam kemorosotan dan menghambat kemajuan. Kegagalan memanfaatkan perubahan ini membuat sebagian pemimpin politik mengira mereka dapat mengambil keuntungan dengan cara dan berfikir konvensional, mempertahankan cara-cara lama di saat perubahan ini bersifat eksponensial.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh pemerintahan atau negara dan pemimpin politik untuk menghadapi gelombang revolusi industri keempat ini?

Tidak Cukup Hanya Inovasi

Saat ini kita dapat melihat bagaimana perkembangan kehadiran teknologi eksponensial dapat menciptakan bisnis yang inovatif sehingga meningkatkan daya saing perusahaan baru yang semakin berperan penting dan banyak memperoleh keuntungan mengalahkan perusahan-perusahan mapan.

Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana revolusi industri keempat ini dapat menciptakan daya saing dan keuntungan bagi negara, terutama negara-negara emerging market yang notabene memiliki indikator seperti infrastruktur, kesiapan teknologi, dan pendidikan yang masih relatif rendah?

Negara-negara berkembang seperti Kenya, Argentina, dan Brazil memiliki perusahaan lokal yang memanfaatkan sepenuhnya teknologi maju dan model bisnis inovatif.

Kenya seringkali dijuluki sebagai “Silicon Savannah”, negara dimana aplikasi M-Pesa lahir, sebuah aplikasi digital yang bergerak dalam keuangan mikro yang membantu masyarakat miskin memperoleh akses keuangan dan aplikasi ini berhasil merevolusi sektor perbankan dan ritel di belahan Afrika dengan penggunaan teknologi digital dan mobile. Namun di lain sisi, peringkat daya saing Kenya masih relatif rendah.

Begitu juga dengan Argentina, yang juga rumah bagi sebagian besar startup berkategori unicorn yang berteknologi canggih di Amerika Latin, juga memiliki daya saing yang masih rendah. Sedangkan Brazil yang notabene produsen jet regional terbesar di dunia dan di antara lima produsen teratas di bidang teknologi tinggi, peringkat daya saing nasionalnya justru turun dari 48 pada 2013 menjadi 81 pada 2017.

Banyak negara-negara berfikir melalui inovasi, mereka mampu mengejar ketertinggalan dan mendapatkan keuntungan lebih banyak dari perkembangan revolusi industri keempat ini. Namun faktanya itu tak cukup membuat daya saing dan pertumbuhan ekonomi mereka meningkat stabil. Ada faktor lain yang kurang diperhatikan, yang justru berada diluar kendali usaha individu dan pencapaian inovasi, yaitu lingkungan bisnis.

Dengan kata lain, inovasi tak berarti apa-apa bagi daya saing sebuah negara dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan tanpa lingkungan bisnis yang sehat.

Dalam kasus Kenya dan Brazil, angka korupsi yang masih relatif tinggi membuat sebagian pengembangan bisnis inovatif masih terganggu oleh in-efisiensi dan manipulasi kebijakan, yang memicu ketidakpastian ekonomi. Sehingga banyak terdapat kesalahan alokasi sumber daya, dan membuat banyak bisnis yang memiliki ide-ide inovatif tetapi sangat sedikit yang mampu berkembang.

Sedangkan untuk kasus Argentina, birokrasi dan regulasi yang tidak efisien membuat sebagian bisnis inovatif terjerembab dalam peraturan yang menghambat mereka untuk bersaing dan meraih pasar yang lebih luas. Sehingga sedikit dari mereka yang mampu menciptakan nilai tambah bagi kesejahteraan publik.

Dengan kata lain, adanya teknologi maju yang mudah diakses dan murah tidak serta merta menciptakan keuntungan bagi kesejahteraan publik. Ia membutuhkan lingkungan bisnis yang sehat guna mendukung berkembangnya bisnis yang inovatif yang dapat menciptakan pasar baru dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Penciptaan lingkungan bisnis yang sehat inilah membutuhkan peran leadership untuk menavigasi gelombang revolusi industri keempat agar menguntungkan masyarakat yang masih berada dalam garis kemiskinan. Kunci keberhasilan mengahadapi ini, yakni sebuah kepemimpinan yang kuat yang tunduk terhadap tingkat transparansi dan efisiensi.

Sehingga menciptakan tata kelola yang tangkas yang mampu mengelola masalah dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang cepat berubah, menemukan kembali kualitas peran negara sehingga para pengambil kebijakan benar-benar dapat memahami apa yang sedang mereka atur.

Sistem kebijakan dan pengambilan keputusan saat ini memang berevolusi bersamaan dengan Revolusi Industri Kedua, ketika para pengambil keputusan memiliki waktu untuk mempelajari isu spesifik dan mengembangkan respon yang diperlukan atau kerangka peraturan yang tepat.

Seluruh proses dirancang untuk menjadi linier dan mekanistik, mengikuti pendekatan “top down” yang ketat. Namun di lain sisi, otoritas kekuasaan negara akan semakin terredistribusi dan terdesentralisasi akibat teknologi baru. Maka model pengambilan keputusan semacam ini akan mendapat tantangan yang besar dan akan semakin tidak relevan dengan karakteristik masalah yang telah mengalami perubahan.

Dalam kaitan ini, regulasi dan kebijakan saat ini masih terstruktur secara legal dalam batas-batas tradisional (cara-cara konvensional). Namun peranan seorang pemimpin untuk mampu menavigasi gelombang revolusi industri keempat sangatlah penting, terutama dalam menciptakan ekosistem yang siap menerima dan memanfaatkan gelombangan perubahan bagi kesejahteraan masyarakatnya.

 

Arjuna Putra Aldino

Kontributor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *