Setelah Nekolim, Apa Lagi?

Tahun 1960an, menjelang masa akhir pemerintahannya, Bung Karno sering menyerukan istilah Nekolim (Neo Kolonialisme – Imperialisme), sebagai ancaman dan musuh bersama. Bukan hanya musuh bangsa Indonesia, namun bahkan musuh bagi Bangsa-bangsa yang lahir pada masa-masa Perang Dunia ll (PD ll) dan setelahnya.

Itulah landscape politik dan ekonomi global masa itu – ruang di mana Bung Karno membentangkan gagasan-gagasannya. Tarik menarik antara blok barat dan blok timur (Perang Dingin) dalam kepentingan yg sama – imperialistik, dalam menghegemoni dunia. Maka sangat masuk akal ketika Bung Karno menggelorakan persatuan NEFO (New Emerging Forces) – negara-negara yg merdeka pada masa PD ll dan setelahnya, membuat Poros Jakarta – Peking (sekarang Beijing), mencanangkan Tri Sakti, dan sebagainya. Gagasan-gagasan yg dibangun atas dasar kesadaran intensional nya dengan obyek (fenomena) dalam ruang waktu konkrit sebagai sebuah landscape.

Jaman terus bergulir tanpa ada yg mampu membendungnya. Bung Karno pun telah damai berada dalam pelukan Semesta Sang Pencipta, lantas bagaimana dengan Nekolim yang dulu dia lawan habis-habisan? Matikah?, atau sekedar ganti wajah?

Nekolim adalah Rezim Global saat itu. Harap dicatat, rezim bukanlah pemerintahan. Ia adalah seperangkat aturan main serta proses dan cara pengambilan keputusan dalam membentuk aturan main. Sebagai sebuah rezim, Nekolim terbentuk dalam masa peralihan tahap-tahap kapitalisme. Nekolim adalah wujud kepentingan kapitalisme yg sedang bertransisi dari tahap Akumulasi Kapital ke tahap Konsentrasi Kapital. Berakhirnya Perang Dingin, sekaligus menandai kemenangan Blok Barat atas Blok Timur (kalau ada pertanyaan mengapa Blok Timur kalah, ini perlu uraian tersendiri). Dan, kapitalisme masuk pada tahapan konsentrasi kapital (melihat fenomena ini tidak bisa seperti melihat pergantian episode dalam sinetron. Itu adalah sebuah proses). Sebagai sebuah Rezim, Nekolim pun berakhir. Kapitalisme Internasional membutuhkan Rezim baru, aturan-aturan main baru, tentunya juga dalam proses-proses pembentukan aturan mainnya yang baru pula.

Apa yang kita lihat, kita alami dan rasakan dalam kurang lebih tiga dasawarsa terakhir ini, dunia berada dalam cengkeraman kuasa Rezim Post-Nekolim. Apakah mau disebut Neoliberalisme, atau apapun, ya itulah yang kita alami dan kita rasakan. Andaikan Bung Karno masih ada, mungkin beliau sudah membuat Istilah baru untuk mengidentifikasi rezim paska Nekolim itu. Respon-responnya pun pasti dimajukan. Bukan lagi berdikari, Tri Sakti Tavip, Poros Jakarta Peking dsb – yang mau tak mau sudah menjadi kuno, karena interdependensi sdh menjadi keniscayaan.

Sekarang, kapitalisme sedang beranjak dari fase konsentrasi kapital menuju ke fase Sentralisasi Kapital. Sementara itu, dengan Reinesance Asia Timur, bangkitnya China secara eksponensial dalam dua dasawarsa terakhir, disusul India, maka pusat pertumbuhan ekonomi dunia bergeser dari Atlantik ke Pasifik.

Fase sentralisasi kapital, akan ditandai oleh kepemimpinan “Finance Capitalisme“, dan bukan lagi “Manufacturing Capitalisme“. China sebagaimana diketahui, dengan kemajuannya, ia menjadi pemegang uang yg sangat besar. Bank Dunia pun terpaksa harus mengakui dan mengakomodir Yuan sebagai salah satu standar mata uang dan perdagangan internasional. Padahal, de facto para pendekar finance capitalism berada di dunia barat. Masalahnya, bagaimana hegemoni dijalankan sementara pusat pertumbuhan ekonomi ada di Pasifik. Perang, bukan lagi merupakan resolusi jitu sebagaimana terjadi pada abad lampau. “Mari kita nikmati makanan bersama”, mungkin menjadi resolusi konflik utk menyelesaikan ketegangan2 dunia sekarang.

Dalam konsep “makan bersama” seperti di atas, terjadikah keadilan? Pasti Tidak lah. Di sinilah permasalahan besarnya. Mampukah rezim ini menjawabnya? Tanda tanya besar, ketika “pakta dominasi” rezim masih dikuasai oleh para Oligark dan Pemburu Rente. Ini adalah rezim yang telah lapuk, seiring lapuknya rezim global yang dimakan usia dan perubahan “iklim”. Jaman baru dengan sentralisasi kapital dan Revolusi Industri lV, menuntut terbangunnya rezim baru. . . . Bingung . . . ?

Apakah kita harus membangunkan Bung Karno, dan bertanya ; “Bung . . . Apa lagi ini namanya? . . . dan bagaimana meresponnya?”
Andaikan bisa, pun beliau akan marah besar dan berkata; ” . . . Hei . . Goblog kalian semua !! . . .hei kakerlak !!!!, . . Dengarkan baik-baik . . . Itu bukan lagi tugasku, . . . Itu semua adalah tugas kalian untuk menjawabnya”.

Jaman baru, di bawah rezim sentralisasi kapital, kesenjangan akan tetap menganga lebar, meskipun dalam tema “makan bersama”. Perkembangan akibat Revolusi Industri lV, memastikan terjadinya “demokratisasi” akses terhadap informasi. Memungkinkan terjadinya “demokratisasi” alat-alat produksi karena kecenderungan harga yang makin murah, dan aliran modal langsung dari sentral ke rakyat tanpa melalui perantara (middle man). Bersamanya, kesejahteraan di tingkat bawah akan meningkat, meski yg kaya (sentral kapital) akan semakin kaya. Namun demikian, di sinilah peluang kebangkitan untuk memperjuangkan yang lebih dari sekedar apa yg tersebut di atas.
Bukan hanya China dan India, tapi Indonesia harus menjadi salah satu pemain utama di Jaman baru nanti. Tidak cukup hanya mimpi, bahwa kelak Pancasila akan menjadi Mercusuar dunia. Ini membutuhkan kerja keras dan perjuangan yang tak kenal menyerah.
Adalah tugas generasi yg saat ini berusia antara 20-30an, yang akan memikul beban untuk menjawabnya. Lantas, apa tugas para seniornya yang masih dikaruniai umur? Para senior harus mampu menjadi mentor untuk menunjukkan “Peta” Jalan Perubahan. Bukan mencekokinya dengan dogma dan doktrin-doktrin lama yang jurusannya pasti jalan buntu. Berikan kepada mereka “peta” perubahan zaman. Bekali mereka dengan “kompas” penunjuk arah sebagai bintang penuntun.

Di ujung sana nanti barulah pantas kita teriak MERDEKA!!! dan Marhaen Menang.

 

Yos Soetiyoso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *