1290. Soal Bicara, Bukan Bacot

19-11-2023

Mau diberi ‘nama’ apa jika omongan berulang dan berulang seringnya berlawanan dengan fakta-faktanya? Bilang A tetapi faktanya jauh dari A, atau mengatakan mau melakukan B tetapi terbukti justru yang dilakukan lawannya B. Namanya: banyak cocot, bacot-kah? Katakanlah, orang itu sebenarnya sedang ngebacot, bukan sedang bicara. Apa perlunya membedakan antara ‘ngebacot’ dan ‘bicara’? Dalam serial kartun Spongebob ada satu episode: Opposite Day,[1] tetapi bagaimana dengan ranah politik?

Jika dalam skala 1-10, dan ngebacot total ada di angka 1, sedang bicara bak seorang nabi ada di angka 10, maka bicara dalam ranah politik mestinya ada di kisaran paling tidak 7 sampai 8-lah, intinya lebih banyak bicara dibanding ngebacot-nya. Platon-pun memberikan perhatian lebih dari soal pada soal dialektika –seni debat, dengan menempatkan di bagian akhir dari pendidikannya bagi yang ingin terlibat dalam urusan polis. Atau lihat dalam ‘pendidikan klasik’ yang terdiri dari trivium dan quadravium itu. Trivium akan diajarkan lebih dahulu dan terdiri dari grammar, logic, dan rhetoric, dengan fokus pada soal hubungan antar manusia melalui kata-kata. Kata-kata yang dirangkai untuk menguak atau membagikan kebenaran. Sedang quadravium (arithmetic, astronomy, geometry, music) untuk melatih diri hubungan antara manusia dan alam semesta, melalui angka-angka.

Tetapi mengapa ‘ngebacot’ itu bisa dikatakan sudah sampai pada pintu gerbang ‘pelembagaan’-nya, ‘institusionalisasi’-nya? Jangan-jangan ini sudah seperti digambarkan oleh George Orwell dalam novel 1984: sebagai new-speak? Newspeak yang dikembangkan untuk mengendalikan ‘yang banyak’ oleh si-penguasa? Atau kita coba melihat tulisan Spivak sekitar 35 tahun silam: Can the Subaltern Speak? Atau tilikan Paulo Freire 30 tahun sebelumnya tentang adanya ‘kebudayaan bisu’ itu. Tetapi Orwell menulis bahkan computer-pun belum dikenal. Tetapi jelas juga Orwell menulis novelnya saat modus komunikasi man-to-mass terutama via surat kabar, film, radio, televisi, sedang di depan pintu gerbang kejayaannya. Dengan merebaknya modus komunikasi mass-to-mass via jaringan internet-digital seperti sekarang ini akankah ‘ngebacot’ sebagai newspeak itu akan berhasil membangun relasi penguasa dan yang dikuasai dalam sebuah status-quo yang tak tergoyahkan?

Maka ini tidaklah sekedar ‘bicara’ atau lucu-lucu-an saat ‘ngebacot’. Jika ada seorang pemimpin yang sudah keranjingan ‘ngebacot’ bahkan di era merebaknya modus komunikasi mass-to-massdimana khalayak bisa dengan cepat melakukan cek-ricek, dan bahkan meng-up-load ulang lagi momen-momen saat dia ‘ngebacot’, ke-status-quo-an yang sedang dinikmati dengan tanpa beban itu bisa-bisa akan menghadapi potensi besar keretakannya. Jika itu terjadi? Karena kuasa bisa begitu menyihir dan membutakan maka kekuatan kekerasan-lah yang kemudian akan maju paling depan. Tanpa sungkan lagi, tanpa beban. Rusak-rusak-an. *** (19-11-2023)

[1] https://www.pergerakankebangsaan.com/144-Spongebob-Opposite-Day/

1291. 'Partai Marhaen' Sebagai Candu Kang Marhaen

1292. Menyongsong Era Pembelajaran Bersama

20-11-2023

Dari unggahan-unggahan bermacam momen pemaparan dari calon-calon presiden, juga calon-calon wakilnya, hanya Anies B. yang lebih sering bernuansa ‘mengajak belajar bersama’. Apakah karena ia berlatar belakang dosen, seorang pendidik? Mungkin saja, tetapi apapun latar belakangnya, seorang calon pemimpin dalam komunitas yang di-survei rata-rata IQ-nya tidak tinggi-tinggi amat, kemampuan untuk ‘mengajak belajar bersama’ adalah sesuatu yang sungguh diperlukan oleh komunitas itu. Lontaran-lontaran yang sama sekali tak berbobot dan cenderung berangkat dari emosi jelas hanya akan menjerumuskan komunitas ini dalam jeratan kebodohan yang kronis. Tentu tidak mudah untuk menjelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami khalayak, maka komunikasi ‘gaya sarungan’ Muhaimin bisa membantu dengan tetap diharapkan tidak terus mengurangi hal mendasar yang sedang dikomunikasikan.

Tetapi lepas dari soal ‘teknis komunikasi’, upaya Anies B. untuk ‘mengajak belajar bersama’ ini patut didukung demi menyongsong ‘era pembelajaran bersama’, dan bukan melanjutkan era ‘pembodohan massal’ seperti bertahun terakhir. Ingat puisi Dorothy Law Nolte, Children Learn What They Live (1954)? Bukankah sebuah pembodohan jika komunitas terus saja berulang-dan-berulang mendengar bagaimana pemimpinnya ngibul tak tahu batas? Sok-sok-an gegayaan tak tahu batas? Atau memelihara buzzerRp yang kata-katanya sungguh menjijikkan itu? Bertahun-tahun khalayak kebanyakan sudah dianggap bodoh semua, di-kibul-i terus menerus seakan khalayak kebanyakan itu tidak punya otak sama sekali.

Maka ini saatnya untuk menolak dan melawan pembodohan massal itu. Kalau ada calon yang keranjingan jogat-joget, silahkan saja. Tidak ada larangan itu. Tetapi khalayak juga bebas untuk menilai aksi calon seperti itu sebagai salah satu bentuk pembodohan massal. Bebas juga. Mau kayang juga boleh. Coba lihat salah satu unggahan saat Anies B. datang dalam forum ‘kiai kampung’ dan memaparkan konsepnya tentang perubahan: clear and distinct! Itu masih ditambah lagi dengan keterbukaan akan masukan-masukan maka memang terasa lebih ‘membumi’, dan itu juga sudah terbukti saat memimpin Jakarta. Atau lihat saat menjelaskan perjalanan bangsa sejak 1908, 1928 dan seterusnya secara kontekstual dan elegan.

Dari apa-apa yang sudah beredar sampai sekarang maka saatnya kita belajar bersama untuk menghadapi pemilihan umum dan politik secara serius. Istilah pemilihan umum sebagai sebuah ‘pesta demokrasi’ sebaiknya dikubur dalam-dalam, demikian juga soal ‘politik riang-gembira’ itu. Jika mau ‘riang-gembira’ sana nonton Coldplay atau Ndang-dut Pantura. Atau God Bless, atau ke bioskop nonton film. Uang puluhan triliunan rupiah hanya untuk nonton jogat-joget? Untuk ber-riang-gembira? Jangan-lah. Ingat, pemilihan umum itu dibiayai oleh pajak-pajak yang kita bayar setiap harinya. Mau … melihat panggung pemilu yang didirikan atas biaya pajak yang dibayar oleh keringat kita itu diisi dengan jogat-joget-sok-lucu, atau loncat-loncat kegirangan dalam politik? Sebaiknya jangan mau-lah. Memangnya mereka yang punya republik? Maka hanya yang mampu menghargai penggunaan pajak rakyat-lah yang pantas untuk mengelola republik ini ke depannya. Bertahun terbukti ketika panggung pemilihan umum yang dibangun oleh pajak rakyat itu tidak dihargai oleh calon, dan calon itu terpilih, ketidak-mampuan menghargai penggunaan pajak rakyat itu terus saja melanjut. Di-gituin saja diam kok … Jadilah: semau-maunya. Maka sekali lagi, inilah saatnya untuk bertindak dalam tindakan yang serius, biar tidak ketipu lagi. *** (20-11-2023)

1293. Memperbaiki Diri

21-11-202

Dalam politik kita bisa melihat contoh-contoh yang sesungguhnya amat mbèlgèdès, misalnya mengalihkan perhatian persoalan dalam negeri dengan isu-isu bombastis terkait urusan luar negeri dengan olah-emosi nasionalisme ‘dadakan’. Mendadak nasionalis, misalnya. Atau disibukan dengan mimpi-mimpi masa depan tetapi lupa bahwa tantangan sesungguhnya adalah soal ‘memperbaiki diri’ lebih dahulu. Tetapi mungkin ini bisa didekati melalui pendapat Rene Girard dalam teori segitiga hasrat-nya, terutama soal ‘model internal’ dan ‘model eksternal’.

Jika yang menjadi model adalah ‘model internal’, entah karena memang begitu dekatnya, ada di sekitar-sekitar, maka kemungkinan pada titik tertentu ia berkembang menjadi ‘rival’ dari S memang cukup besar. Dalam teori segitiga hasrat-nya Girard dikatakan bahwa S akan menghasrati O (obyek) itu lebih karena meniru M (model). Menurut Girard, untuk menjaga komunitas hidup bersama tidak hancur karena keretakan gara-gara ‘rivalitas’ itu maka ia butuh ‘kambing hitam’. Masalahnya adalah sebelum ‘kambing hitam’ itu dibutuhkan tentu berkembang dulu rasa ‘tidak nyaman’. Jika M adalah ‘model eksternal’ maka rasa tidak nyaman akibat berkembangnya rivalitas bisa dikatakan jauh lebih kecil. Mungkinkah ini yang juga mendorong sehingga ‘urusan luar’ atau ‘mimpi-mimpi jauh di masa datang’ lebih mudah diterima? Selain juga menurut MacIntyre, manusia itu secara esensial adalah juga a strory-telling animal.

Apapun itu, ajakan untuk memperbaiki diri memang tidak mudah. Dimana-mana. Para motivator itu pastilah akan mengkombinasikan langkah-langkah ‘self-help’ dengan misal: komisi itu batasnya langit! Atau apa-apa yang akan diperoleh jika mau memperbaiki diri. Bicara memperbaiki diri pada dirinya sendiri memang bukanlah jalan mudah. Terlebih dalam ranah politik, dan terlebih lagi di dalam peristiwa pemilihan yang rentang waktunya bisa dikatakan terbatas. Apalagi yang dihadapi adalah yang demen-nya berkubang atau berangkat dari ruang gelap machiavellisme. Semau-maunya, segala cara akan ditempuh bahkan jika itu melanggar aturan sekalipun. Memperbaiki diri memang akan tidak lepas dengan pertanyaan: untuk apa?

Maka sebenarnya yang kita bicarakan itu adalah soal keutamaan, virtue. Keutamaan yang menurut Aristoteles selalu katakanlah, ada dalam ‘ruang antara’, in-between. Antara keberanian yang ugal-ugalan dan kepengecutan, misalnya. Dalam ‘ruang antara’ itu akan ditemukan keutamaan keberanian, dan bukan di ujungnya: keberanian yang ugal-ugalan itu misalnya. Atau sibuk bicara bahkan sudah sampai tahap ‘mengeksploitasi’ soal masa depan, tetapi lupa untuk fokus pada upaya memperbaiki diri. Ber-keutamaan bukan berarti terus diambil tengah-tengahnya, antara dua ujung yang ekstrem itu. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengambil posisi. Melihat situasi republik saat ini, ber-keutamaan dalam konteks ini adalah lebih mendekat pada upaya serius dalam memperbaiki diri, dan bukan mendekat pada eksploitasi masa depan. Masa depan jelas harus ditelisik dengan teliti: “Bukankah hakikat dari kerja mengurus negara adalah melihat lebih dahulu ke depan. Gouverner, c’est prévoir, to govern is to foresee,” demikian ditulis Daoed Joesoef merujuk kata-kata Emile de Girardin.[1] Tetapi masa depan adalah untuk di-antisipasi, bukan untuk di-eksploitasi. Dan antisipasi itu adalah soal mempersiapkan diri, soal memperbaiki diri. Hanya dengan ini apa-apa yang dilihat si-pengurus negara soal masa depan akan punya makna. Jika dan hanya jika ia merupakan bagian dari upaya memperbaiki diri maka masa depan yang dilihat si-pengurus negara itu akan dapat dijelaskan. Di luar itu: ngibul.

Mengapa ini perlu ditekankan? Apa yang disinyalir oleh Manuel Castell perlu kita perhatikan lebih, yaitu ketika dalam merebaknya modus komunikasi via digital-internet ini, justru identitas bisa-bisa menjadi sumber utama dalam pencarian makna. Bukan apa-apa yang dikerjakan, misalnya. Maka akan ada saja pihak-pihak yang menyodorkan bermacam dongeng masa depan dan atau juga dongeng masa lalu untuk membangun identitas demi memperoleh dukungan politik. Kalau perlu di-eksploitasi sampai ujung-ujungnya. Jika eksploitasi tak tahu batas itu yang terjadi, berapa biaya yang harus ditanggung hidup bersama? Maka soal ‘kanan-kiri’ dalam politik itu sebaiknya kita hayati dengan kembali saja ke ‘asal-usul’-nya, kanan berarti adalah soal ‘sihir’, eksploitasi sihir ala ‘kerajaan’ di ‘bangunan atas’ komplit dengan segala kepentingan ‘kaum bangsawan’-nya, sedang kiri adalah ajakan untuk melihat realitas khalayak kebanyakan yang ada, terutama dalam relasi-relasi kekuatan produksi yang ada di ‘basis’. Termasuk temuan-temuan yang kongkret harus diperbaiki. *** (21-11-2023)

[1] Daoed Joesoef, Pikiran dan Gagasan -10 Wacana tentang Aneka Masalah Kehidupan Bersama, PT Kompas Media Nusantara,2011, hlm. 268

1294. Depolitisasi?

21-11-2023

Power becomes and remains democratic when it proves to belong to no one,” demikian pendapat Claude Lefort (1924-2010) seperti dikutip oleh Simonetta Falasca-Zamponi dalam bukunya Rethinking The Political (2011, hlm. 245). Bagaimana jika power ternyata telah menjadi milik dari satu orang? Maka politik-pun bisa bertanya-tanya dan cepat atau lambat akan bergejolak pula. Terlebih jika secara terbuka maunya adalah demokrasi. Lalu apa yang akan dilakukan oleh ‘satu orang’ itu sehingga power tetap dalam genggamannya meski tetap ada dalam klaim demokrasi? Power tetap menjadi miliknya? Salah satunya adalah melakukan ‘depolitisasi’ sehingga politik tidak menjadi banyak bertanya-tanya lagi dan jangan sampai bergejolak. Tetapi apa itu ‘depolitisasi’, apakah sama dengan istilah yang akrab di jaman old: depolitisasi kampus?

Tentu kita bisa menghayati layaknya nuansa ‘depolitisasi kampus’ itu, tetapi bagaimana jika kita coba lihat lebih dalam lagi? Dengan mempersoalkan hal terkait mengapa politik itu menjadi dimungkinkan ada? Atau katakanlah kita bicara soal ‘the political’ atau ‘yang politikal’ itu? Menurut Carl Schmitt, ekonomi menjadi ada karena ada pembedaan soal untung-rugi, dan menurut Carl Schmitt hampir se-abad lalu politik itu menjadi dimungkinkan ada karena ada pembedaan antara lawan dan kawan. Inilah yang disebut sebagai ‘the political’ itu, ‘yang politikal’. Atau kalau kita memakai istilah George Lakoff, meski tidaklah terlalu tepat, ‘yang politikal’ itu adalah deep frames, sedangkan politik itu adalah surface frames, dimana ia akan ‘digantungkan’ pada deep frames. Tentu kita boleh tidak setuju dengan pendapat Carl Schmitt di atas terkait dengan ‘yang politikal’ tersebut, dan memang kemudian banyak pendapat soal ‘yang politikal’ ini dengan beda-beda titik berangkatnya. Tetapi sebagai ‘studi kasus’ terkait dengan proses pemilihan yang sedang menghangat seperti sekarang ini, kita bisa bertanya-tanya mengapa jogat-joget atau tepatnya aèng-aèng saja itu serasa didorong untuk maju ke depan? Juga ajakan untuk berpolitik dengan ‘riang-gembira’ melalui figure anak-muda yang disebut oleh salah satu pengamat sebagai ‘yang kosong’ itu? Jika kita menghayati ‘yang politikal’ itu seperti pandangan Carl Schmitt maka jelas juga itu sudah bukan lagi keinginan untuk mencari suara saja, tetapi diam-diam ‘depolitisasi’-pun ikut numpang lewat. Titik bidiknya justru hal yang mendasar: hal yang menjadikan politik itu ada. Dan ini sebenarnya bisa kita lihat juga bahwa penthalitan aèng-aèng itu justru untuk menyembunyikan apa yang mereka tidak mau lakukan, mereka tidak mau seperti kata-kata Lefort di awal tulisan: “Power becomes and remains democratic when it proves to belong to no one.” Maunya ya milik-ku terus menerus. Maka praktis saja: JANGAN PILIH calon yang suka jogat-joget aèng-aèng itu, dan jangan dengarkan ajakan ‘politik riang gembira’ itu. Berpolitik ya harus dengan serius, yang dipertaruhkan itu adalah republik dengan segala isi dan mimpi-mimpinya! *** (21-11-2023)