1440. Belajar Dari Prof. Sumitro Djojohadikusumo (2) Bag. 2

11-06-2024

Bagian 2

Pendidikan secara luas pertama-tama adalah soal memajukan horison. Riset adalah soal ‘menembus batas’ –sebenarnya juga: seni. Ranah ‘permainannya’ katakanlah sampai di batas horison, dengan keberanian satu kakinya melangkah di luar horison. Dengan metodologi tertentu. Maka tidak mengherankan pula jika Thomas Kuhn mengintrodusir istilah ‘pergeseran paradigma’, artinya batas horison itu memang dimungkinkan untuk diotak-atik. Dalam hal ini, horison dilihat dengan ‘kacamata’ lain. Tetapi riset tidaklah ada di ruang kosong, katakanlah iapun perlu adanya prakondisi politis, teknis, dan sosial. Trivium yang disinggung di bagian 1, dalam jangka panjangnya ia juga akan terlibat aktif dalam membangun prakondisi sosial untuk riset ini. Mengapa riset disebut seakan menjadi hal penting? Karena ia sangat dimungkinkan untuk berubah menjadi ‘elan vital’-nya pendidikan. Tidak dengan ‘gegap-gempita’ memang, tetapi perlahan ia bisa menjadi ‘model’ bagi dunia pendidikan secara keseluruhan. Terlebih soal ‘gairah’-nya.

Trivium dalam pendidikan klasik adalah bagian dari ‘liberal arts’. Suatu pendidikan yang memang berangkat dari maksud untuk menjadi ‘manusia bebas’, atau kalau memakai istilah kurikulum-nya Mas Menteri: ‘merdeka’, meski sangat berbeda dalam prakteknya. Menjadi ‘bebas-merdeka’ karena ia –peserta didik, menjadi individu yang mampu untuk berpikir dan mengungkap diri. Dan soal ‘kebebasan’ inilah juga yang menjadi dasar dari berkembangnya riset. Tanpa kebebasan maka tidak akan ada sebuah riset, karena pada akhirnya periset harus ‘memilih’ diantara bermacam kemungkinan. Maka memang kemudian kondisi politis menjadi penting di sini. Melihat dari sisi pembiayaan, peran negara yang juga adalah pengumpul-pengelola pajak itu, menjadi sentral. Ha Joon Chang dalam Kicking Away the Ladder (2002) menunjukkan bagaimana peran sentral negara pada awal-awalnya dari negara-negara yang kita kenal sekarang ini sebagai yang maju. Termasuk juga dalam hal ini soal riset. Atau mudahnya kita bayangkan bagaimana NASA misalnya, bertahun-tahun soal program luar angkasanya dilaksanakan, dan pada titik tertentu bertahun kemudian swasta menjadi mampu mengirim wisatawan ke luar angkasa. Atau soal obat-obatan.

Dari keterlibatan swasta –baca: korporasi, dalam riset, kita bisa belajar tentang sebuah daya dorong. Swasta jelas daya dorongnya: untung, profit. Riset sebagai investasi. Apa daya dorong negara sehingga ia mau menaruh perhatian lebih pada riset? Dari Alegori Kereta-nya Platon kita bisa membayangkan daya dorong riset itu akan terkait dengan bayangan sais, kuda putih, dan kuda hitam. Riset yang dilakukan oleh korporasi bisa dibayangkan sebagai kuda hitam. Sedangkan bayangan sais dan kuda putih semestinya akan menjadi daya dorong utama negara dalam melakukan riset. Tetapi ketika korporasi (dalam negeri, misalnya) belum kuat untuk melakukan riset, maka negara-pun bisa ‘mengambil-alih’ pada awal-awalnya. ‘Bayangan’ sais dalam riset tidak hanya soal ‘menembus batas’, tetapi juga soal bagaimana sais dalam praktek menjadi terbantukan oleh temuan-temuan bermacam riset sehingga dalam pengambilan keputusan-kebijakan bisa lebih tepat. ‘Bayangan’ kuda putih akan terkait dengan kebanggaan, kehormatan. ‘Perlombaan’ dari bermacam riset jelas dalam beberapa hal-nya akan terkait dengan kebanggaan, kehormatan juga. Diakui atau tidak. Menjadi yang pertama, menjadi yang terdepan. Tetapi si-kuda putih, atau kalau kita bicara ‘kelas’, menurut Platon menggambarkan ‘kelas’ tentara. Dan sejarah memperlihatkan pada kita, salah satu daya dorong riset yang bisa-bisa memang sungguh menggetarkan: perang. *** (11-06-2024)

1441. Belajar Dari Prof. Sumitro Djojohadikusumo (2) Bag. 3

12-06-2024

Bagian 3

Berkembangnya peradaban menurut Toynbee karena adanya tantangan dan respon. Tantangan bisa bermacam bentuknya. Tantangan terlalu besar bisa menghancurkan peradaban, misal bencana alam dalam skala gigantisnya. Atau juga kita bisa bicara soal nasib peradaban suku Inca? Karena kita tidak hidup di Kepulauan Galapagos, maka tantangan tidak hanya soal keganasan alam. Meski memang kita bersinggungan dengan ring of fire, sepertihalnya Jepang, misalnya.

Hari-hari ini sedang berlangsung pemilihan untuk parlemen Uni-Eropa. Dari beberapa pemberitaan, sayap kanan-jauh di berbagai negara menunjukkan kenaikan suara yang signifikan. Berdasarkan pendapat George Lakoff kaum konservatif apalagi kanan-jauhnya, memang akan melihat bahwa dunia itu adalah tempat berbahaya. Hanya the fittest-lah akan bertahan. Demi ‘nilai-nilai luhur’ maka penampakan ‘ultra-nasionalis’ akan semakin sering ditemui. Intinya adalah, si-kanan-jauh itu justru membuat dunia semakin berbahaya. ‘Jaman bergerak’ justru bergerak menjadi semakin ‘berbahaya’, tidak hanya kaitannya dengan kedaruratan iklim, tetapi juga dalam hubungan antar-manusianya. Bayang-bayang Perang Peloponnesia lebih dari 2500 tahun lalu semakin membayang. Komplit dengan apa yang ditulis Thucydides, si-kuat akan mendikte si-lemah, pertama-tama untuk menjadi sekutunya. Dalam bayang-bayang seperti inilah kita bicara soal riset.

Pelemahan lembaga riset, terlebih dalam situasi di atas, jika itu terjadi maka itu berarti pula satu kaki sudah masuk dalam situasi ‘kalah perang’. Kita boleh saja membayangkan dunia penuh kedamaian, tapi faktanya terlalu banyak yang ada di luar kendali kita, termasuk ada pihak yang memakai ‘logika-perang’ saat berhubungan dengan republik. Perang tidak selalu berdarah-darah, tubuh hancur, nyawa melayang. Meski sebagian besar akan menampakkan diri seperti di Gaza dan Ukraina jika mengambil contoh terakhir. Perang Modern seperti sering disinggung Ryamizard Ryacudu, melibatkan tahap-tahap: infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, cuci otak, dan terakhir invasi/penguasaan. Atau bentuk perang lainnya. Tetapi kita bisa melihat dari sisi lain: kerusakannya. Jika kerusakan menampakkan begitu luas dan dalam kerusakannya, maka tidak salah-salah amat jika kita kemudian menghayati sebagai sedang dalam situasi perang. Apapun bentuk perangnya, mau ‘hard war’, ‘soft war’, ataupun juga Perang Modern. Kerusakan yang luas dan dalam tidak hanya soal berapa puluh-ribu nyawa melayang, ambulan meraung-raung tiada henti, kuburan massal di sana-sini terus saja bermunculan, gedung-rumah hancur, tetapi juga soal berantakannya kohesi sosial karena dalamnya adu domba misalnya, atau hancurnya ekonomi karena jebakan utang, atau juga bermacam sumber daya melenyap entah kemana sehingga menjadi semakin sulit upaya menjaga kelangsungan hidup bersama. Dan banyak lagi. Juga seperti sudah disinggung di atas, lembaga riset yang hancur-hancuran.

Machiavelli dalam Sang Penguasa menuliskan: Raja yang merasa lebih takut terhadap rakyat sendiri daripada serangan bangsa asing, sebaiknya membangun benteng. Tetapi raja yang merasa takut terhadap serangan musuh asing daripada rakyatnya sendiri tidak usah memusingkan soal benteng.[1] Benteng 500 tahun kemudian setelah Sang Penguasa terbit, bisa bermacam bentuknya. Dan banyaknya ‘benteng’ yang dibangun, seperti kata Machiavelli: ternyata ‘raja’ lebih takut pada rakyat dari pada serangan musuh asing. Atau, jangan-jangan memang sekedar kacung yang sedang main raja-raja-an? *** (12-06-2024)

[1] Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa, Penerbit Pustaka Gramedia, 1987, hlm. 90

1442. Belajar Dari Prof. Sumitro Djojohadikusumo (2) Bag. 4

14-06-2024

Bagian 4

Bahkan ketika dipakai pendekatan ‘memberi sesuai kemampuan, menerima sesuai kebutuhan’-pun pendidikan dikaitkan dengan mata-pencaharian masih punya ‘pembenaran’-nya. Gambar besarnya adalah bertahan-berkembangnya kehidupan kolektif. Pada Bagian 1, disebut tentang adaptive technology, pengembangan tekhnologi yang salah satunya mampu mendorong terciptanya lapangan kerja. Apakah itu kemudian pendidikan juga akan terkait dengan soal lapangan kerja tersebut? Sesuai dengan ‘kebutuhan pasar’? B. Herry Priyono memberikan sudut pandang menarik tentang hal ini dalam tulisannya: Menggugat Arti Ekonomi (Kompas, 1 Maret 2011). Yang digugat oleh Herry Priyono adalah ketika ekonomi kemudian disamakan semata dengan mekanisme pasar. “Seketika ekonomi diartikan sebagai mekanisme pasar, padahal prinsip pasar berisi ”pembayar tertinggi adalah pemenang”, ekonomi tidak lagi berurusan dengan mata pencarian, tetapi dengan urusan mengejar para pembayar tertinggi,” demikian ditulis Herry Priyono. Ataukah kita bisa menghayati bahwa akan terjadi ‘proletarisasi’ bagi yang berdaya beli rendah?

Indonesia Inc. yang diintrodusir oleh Christianto Wibisono[1] sedikit banyak bisa mendorong bayangan pemikiran Friedrich List (1789 – 1846). Jika Adam Smith (1723 – 1790) melihat the wealth of nations sebagai ‘konsekuensi logis’ saja dari sejahteranya masing-masing individu, List melihat peran negara. Dua tahun setelah List meninggal, Marx (1818 -1883) dan Engels (1820 – 1895) berseru: “Kaum buruh seluruh dunia, bersatulah”, sebagai penutup Manifesto Komunis. Banyak yang berpendapat bahwa pemikiran List memberikan pendasaran bagi teori JM. Keynes (1883 – 1946) yang menjadi paradigma pasca Perang Dunia II. Dan lahirlah generasi baby boomers itu. Di penghujung dekade 1960-an dan memuncak di akhir dekade 1970-an dengan naiknya Thatcher dan Reagen, neoliberalisme kembali menempatkan kepentingan diri masing-masing individu di altar sucinya. Lima-puluh tahun kemudian kita melihat bagaimana bermacam korporasi menjadi begitu meraksasanya. Tetapi kita juga melihat bagaimana China Inc. mampu juga meraksasa. Bahkan muncul sebagai penantang si-super power. *** (14-06-2024)

[1] https://pergerakankebangsaan.org/tulisan-73 no. 1438