1755. Asal Usul Balkanisasi 2.0

26-08-2025

Ternyata setelah bertahun kemudian sejarah ditulis dengan kepala dingin, Balkanisasi 2.0 justru dimulai dari sebuah universitas. Universitas yang semestinya memegang teguh kehormatan, integritas, akal sehat, dan sekitar-sekitarnya itu ternyata telah menjadi kupu-kupu yang kepakan sayap-sayap kecilnya telah membuat badai nun jauh bertahun kemudian. Telah membuat terjadinya balkanisasi di sebuah republik kepulauan. ‘Salah kepak’ yang nantinya sejarah akan mencatat itu bukan sekedar ‘salah kepak’ saja.

Dalam hidup bersama yang semakin kompleks maka tak terhindarkan akan lahir bermacam ranah. Bermacam klaster kehidupan. Platon lebih dari dua ribu tahun lalupun sudah membayangkan dalam hidup bersama di polis paling tidak ada klaster yang diwakili oleh sais, kuda putih, dan kuda hitam, dalam Alegori Kereta. Atau coba kita bayangkan pembedaan Freud terkait dengan alam tidak sadar, bawah sadar, dan sadar, atau id, super-ego, dan ego itu. Meski banyak teori berkembang setelah Freud, tetapi pembedaan Freud itu bisa membantu kita untuk lebih mudah membayangkan sebuah ‘peta masalah’.

Tindakan manusia menurut Freud akan lebih banyak dipengaruhi alam tidak sadar. Atau katakanlah, taken for granted. Sebagian besar hidup akan memang akan kita jalani dengan modus taken for granted, atau dalam Fenomenologi, sikap alamiah, natural attitude. Tetapi sebagai hidup bersama, tentunya tidak semua klaster terus menjalani dengan bagian terbesarnya pada dunia id. Ada klaster yang lebih mau dan mampu berolah-rasa dalam super-ego, dan ada klaster yang lebih pada ego. Meski masing-masing individu selalu mempunyai id, super-ego, dan ego-nya sendiri-sendiri, tetapi -terlebih dengan semakin berkembang studi tentang mirror neuron system, klaster-klaster yang menaruh perhatian lebih pada super-ego dan ego sangat diperlukan untuk memberikan ‘keseimbangan’ dalam hidup bersama.

Bertahun terakhir, dan seakan memuncak pada penawaran hak kelola tambang pada lembaga keagamaan dan perguruan tinggi, kita melihat secara telanjang bagaimana kedua klaster di atas memang sering diusik, salah duanya. Juga terkait dengan tidak jelasnya apa yang disebut sebagai ‘ideologi partai’ juga bisa masuk dalam konteks ini. Diusik, digoda untuk lebih masuk pada ranah id. Atau paling tidak perlahan ‘dibunuh karakter’-nya. Atau kalau kita memakai ‘logika’ kaum neolib, satu-satunya yang rasional itu kepentingan diri, dan itu sebenarnya lebih didorong oleh segala hasrat yang ngendon dalam id. Amartya Sen mengajukan kritik terhadap keyakinan ini, dikatakan Sen bahwa komitmen-pun juga rasional. Komitmen yang dimaksud Sen bisa kita bayangkan ketika super-ego dan ego kemudian bersekutu.

Menurut Platon, keadilan akan lebih mudah mewujud jika masing-masing ‘klaster’ dalam ‘polis’ menjalankan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya. Tentu soal konsep keadilan bisa diperdebatkan atau dikembangkan, tetapi paling tidak bisa sebagai alat ‘deteksi dini’ bagaimana ketidak-adilan berpotensi merebak. Apa yang diyakini Platon di atas sedikit banyak adalah juga soal komitmen. Bertahun terakhir soal komitmen ini tidak hanya serasa compang-camping, tetapi justru memang sengaja dipinggirkan. Puncak dari itu salah satunya kasus Tom Lembong itu. Komitmen yang akan mengganggu bagaimana kepentingan diri (yang sudah berubah menjadi keserakahan) itu sedang bergeser untuk menjadi satu-satunya pondasi dalam bangunan rejim.

Persekutuan antara ‘super-ego’ dan ‘ego’ yang semestinya ada dalam partai politik sudah banyak dihancurkan di sana sini. Dan perguruan tinggi-pun, universitas misalnya, juga terus saja diusik. Mekanisme pengendalian hasrat (gelap) melalui rute hasrat vs hasrat itu semakin jauh dengan terus diusiknya ‘lawan-lawan’ dari ‘hasrat gelap’. Maka ‘hasrat gelap’-pun seakan menjadi semakin ugal--ugalan, semau-maunya, seakan sudah tanpa beban lagi. Ketika segala kenikmatan ‘hasrat gelap’ itu sudah sampai pada puncaknya bertahun lamanya, siapa yang mau kehilangan? Maka itu akan dipertahankan dengan segala upaya, dengan segala taktik-strategi, sudah dengan modus at all cost. Bahkan jika republik harus hancur berkeping-pun mereka tidak akan peduli lagi. *** (26-08-2025)

1756. Salam Cerdas!

1757. Para Pengatur Wasit (Kambing Hitam Selamanya?)

27-08--2025

Dalam suatu rantai produksi, quality control akan memegang peranan sangat penting. Ketika suatu pertandingan digelar, tim wasit pada dasarnya adalah juga berfungsi sebagai quality control. Seakan ia juga menjaga masing-masing tim supaya mengeluarkan segala kualitas yang sudah dibangun selama latihan, dan strategi-taktik pelatih yang dipersiapkan. Menjaga kualitas pertandingan, itulah sebenarnya fungsi wasit. Dalam ranah negara, bermacam apparatus diciptakan termasuk lembaga-lembaga yang berfungsi seakan sebagai wasit. Dalam negara otoriter, jelas sebenarnya hanya ada satu wasit, penguasa tunggal. Mau dibungkus seperti apa, jelas hanya ada penguasa tunggal. Dalam rejim demokrasi, wasit-wasit disepakati apapun rute yang ditempuh. Tak jauh berbeda, wasit-wasit inipun pada dasarnya untuk menjaga kualitas hidup bersama. Sehingga hidup bersama menjadi tidak penuh dengan kekacauan.

Tetapi bagaimana jika tiba-tiba saja ada yang ingin mengatur wasit-wasit ini? Ada yang ingin mengatur KPU misalnya. Atau MK dan lembaga yudikatif lain. Bahkan juga yang pegang senjata? Dan banyak lainnya. Termasuk partai-partai politik dan bahkan DPR-DPD-MPRnya juga. Maka bisa dikatakan sebenarnya ia sedang berusaha menjadi penguasa tunggal. Masalahnya tidak hanya kemudian berhenti pada retak-hancurnya ‘quality control’ hidup bersama sebagai akibatnya, tetapi juga ‘jawaban’ atas pertanyaan ini: siapa sih yang tidak mau sebagai penguasa tunggal?

Tiba-tiba ketunggalan kuasa di tangan itu juga menarik perhatian, dan bahkan akan ada yang meniru. Hasrat akan ke-penguasaan tunggal itu bisa-bisa akan banyak yang akan meniru, bahkan dari kanan-kirinya. Maka untuk melanggengkan kuasa tunggal di tangan, diperlukanlah adanya sik-kambing hitam. Rivalitas di kanan-kirinya terhadap dirinya harus dikelola dengn baik sehingga tidak mengancam kuasa di tangan. Rene Girard dengan teori mimetic atau segitiga hasrat-nya dengan gamblang menggambarkan ‘mekanisme’ itu. S (orang-orang sekitar, misalnya) hanya akan menghasrati O (kekuasaan di tangan satu orang) karena ia meniru M (model, dalam hal ini sik-penguasa tunggal). Pada titik tertentu, S akan menganggap M menjadi rivalnya. Supaya rivalitas ini tidak menghancurkan, seperti disebut di atas, maka M kemudian menciptakan sik-kambing hitam untuk ‘disembelih’ bersama-sama. Dengan ‘ritual’ seperti itu maka rivalitaspun kemudian akan surut ke belakang. Demikian menurut Girard. Maka fungsi kambing hitam tidak hanya untuk ‘pemuas nafsu’ saja, tetapi juga untuk merawat kekompakan kelompok atau gerombolan, katakanlah begitu.

Hari-hari ini kita melihat dengan telanjangnya bagaimana sik-pengatur wasit (paling tidak ia masih merasa begitu) sedang mempersiapkan ritual yang sudah dijalani bertahun-tahun lalu. Dan memang ternyata cukup berhasil di sana sini. Kambing hitam bisa berganti, bisa lain dulu lain sekarang, tetapi prinsipnya sama: perlu kambing hitam. Tahunya, demennya ya main kambing hitam doang, selamanya.

Masalahnya adalah, bagaimana jika yang mau dijadikan ‘kambing hitam’ sekarang ini sudah melakukan ‘gelar pasukan’? Akankah republik akan masuk terjerembab dalam rentang waktu the year of living dangerously? Demi kucluknya hasrat gelap sik-‘pengatur wasit’? Atau yang merasa masih sebagai sik-‘pengatur wasit’? Orang itu, yang masih saja merasa sebagai sik-pengatur wasit, sungguh tidak paham apa yang sedang dipertaruhkan. Atau memang sudah tidak peduli? Gelap mata. Atau …, apakah ia sekedar kacung saja? Ataukah ini juga soal “Machiavelli menumpuk harta”? *** (27-08-2025)

1758. Dilarang Berpikir?

27-08-2025

Republik macam apa jika keberpikiran terus saja dipojokkan? Res-publika atau res-animalita? Dipojokkan tentu bukan berarti dilarang, tetapi ia seakan dipaksa minggir ke pojok karena eksploitasi emosi telah menyesaki ruangan. Lihat kembali bertahun lalu bagaimana emosi, dan juga hasrat telah dimainken dalam bermacam peristiwa olah kuasa. Lihat apa yang dilakukan oleh buzzer-buzzerRp bertahun lalu, yang sebagian dari mereka seakan telah ‘bertobat’. Atau ‘menghilang’ -‘tugas’ sementara sudah ‘selesai’, ndan. Tidak lain adalah memainken emosi. Emosi dasar manusia ada yang bilang antara lain marah, muak, takut, senang, sedih, dan juga terkejut. Heran, terpana, penasaran. Salah satu ujung dimainkennya emosi itu, bisa kita lihat secara telanjang pula: fanatisme. Jika fanatisme mulai menghinggapi bahkan yang sudah potensial untuk mampu berpikir kritis, menurut Paulo Freire, itupun akan menjadikan keberpikiran-kritisnya perlahan akan mengkerut juga.

Hari-hari ini jika di kalangan khalayak timbul kemarahan, nampaknya itu bukannya kebetulan saja. Ada yang sudah bertahun ‘mainnya’ ya gitu-gitu saja. Kalau nggak bikin marah, benci, bikin takut, atau tawaran kesenangan bahkan tanpa batas terutama bagi yang mau mendukung. Apa tahunya cuman gitu saja? Bagi sik-boneka bisa saja tahunya itu saja, sehingga justru karena itu bisa tampil meyakinkan. Tetapi bagi sik-‘dalang’, jelas dia tahu banyak. Menyesaki republik dengan bermacam emosi jelas pilihan sadar. Tujuannya? Membuat republik, mati kagak tetapi kuat ya nggak. Hidup bersama menjadi ‘kuat’ jelas akan melandaskan diri pada keberpikiran dalam banyak halnya. Dan itu perlu prakondisi politis, teknis, dan sosial. Prakondisi politis dan teknis, jika kuasa di tangan relatif mudah untuk ‘dirusak’. Bahkan ‘dirusak’ sambil sekaligus sebagai alat ‘pembangkit kemarahan’ juga, misalnya. Asal mangap, asal njeplak, jogetan sambil nantang-nantang berulang dan berulang, seakan tidak mengenal kehormatan sama sekali. Sedangkan untuk prakondisi sosial, ya itu tuh, melalui eksploitasi emosi. Sehingga keberpikiran di ranah negara itu sama sekali menjadi tidak terdukung, baik secara politis, teknis, maupun sosial. Maka jadilah, mati kagak tetapi kuat ya nggak. Intinya, menjadi lebih mudah untuk dikuasai ketika res-publika telah digeser menjadi lebih bernuansa res-animalita.

Ya, seperti itulah ‘para-dalang’ itu memperlakukan republik layaknya kebun binatang saja. Tidak pernah diajak berpikir, tetapi diobok-obok terus emosinya. Bahkan ‘lembaga-lembaga keberpikiran’ seperti Universitas misalnya, tak luput dari obok-obok. Padahal, berpikir adalah salah satu hal terpenting mengapa manusia menjadi berbeda dengan binatang.

Dan cerita selanjutnya? Jika dilanjutkan maka sebenarnya ujungnya adalah sudah jelas menurut pengalaman sejarah, fasisme. Fasisme yang salah satu pintu masuknya adalah eksploitasi ketidak-sadaran, atau dalam term Freud, id. Ego dan super-ego akan tertekan, maka perlahan tapi pasti membayanglah apa yang disebut Hannah Arendt itu sebagai banality of evil. Maka ketika evil sudah menjadi banal, dibayangkanlah apapun ‘kambing hitam’ yang disodorkan akan dengan serta merta diterima sambil jogetan sebelum ritual penyembelihan dilakukan. Tak peduli lagi khalayak kebanyakan sedang butuh makan. Sedang butuh pekerjaan. Bukan ritual sembelih kambing hitam yang dibutuhkan. Mata gelap.

Ritual ‘penyembelihan’ kambing hitam sebenarnya banyak dilakukan dalam ranah bermacam ritual, bahkan juga dalam agama. Maka penguasa ranah negara yang sudah keranjingan menggelar ‘ritual’ penyembelihan kambing hitam ini sebenarnya, sadar atau tidak, perlahan ia menganggap dirinya sebagai ‘tuhan’ saja. Serba yang maha kuasa. Serba maha tahu. Dan yang di depannya itu bukanlah warga negara, tetapi adalah ‘miliknya’. Tak usahlah banyak berpikir. Tak mengherankan jika ia kemudian mudah saja terjerumus pada ‘mata gelap’. Semau-maunya. Keblinger. Karena bahkan iman-pun tidak terus meminggirkan rasio, fides et ratio.

Kembali ke laptop. Tetapi hal-hal di atas, itukan di jaman Hitler, ketika modus komunikasi dominan masih man-to-mass. Juga saat jaman old di republik. Bagaimana dengan sekarang di jaman merebaknya modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital-internet? Meski dengan rute-algoritma tertentu banality of evil bisa justru lebih mudah merebak, tetapi yang namanya echo chambers itu bisa datang dari berbagai arah. Termasuk diisi oleh pihak-pihak yang mengatakan tidak. Yang terus saja tanpa henti mengajak berpikir. Dengan tanpa henti menjaga republik untuk tetap waras menjadi res-publika. Dan selalu ingat salah satu tesis dalam Theses on Feuerbach, “The philosophers have only interpreted the world in various way; the point is to change it.” *** (27-08-2025)

1759. Tiga September

28-08-2025

Disclaimer: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan ‘militerisme’ atau bukan. Mendukung atau tidak mendukung. Oke-oke saja atau tidak oke-oke saja.

Judul tidak salah ketik, memang bukan dimaksud tiga-puluh September, tetapi 3 September. Ada apa dengan tiga September? Besok 3 September China akan mengadakan peringatan 80 tahun kemenangan atas Jepang sebagai bagian dari Perang Dunia II, dengan parade militer. Banyak seliweran ‘analisis’ terkait gelar parade militer itu, terutama kaitannya dengan masih kuat atau tidaknya Xi Jinping dalam dinamika politik kekuasaan di China sana, hari-hari ini. Bagi kaum realis, seperti Donald Rumsfeld mantan menteri pertahanan AS, kekuatan hard power akan sangat menentukan. Bahkan Rumsfeld ketika ditanya Joseph Nye Jr. tentang soft power, dengan singkat ia menjawab, tidak tahu apa itu soft power. Maka suka atau tidak, apapun itu, sebuah parade militer sebuah negara akan menyedot perhatian. Termasuk ketika pas hari ulang tahun Donald Trump ‘dirayakan’ dengan parade militer ‘ala kadarnya’ beberapa waktu lalu di Washington DC.

Bagi Platon, tentara, serdadu, tempatnya ada di dada, di tempat kehormatan bersemayam. Maka dalam film-film, ketika pensiunan tentara akan ikut menghadiri sebuah parade militer, atau juga misalnya pemakaman kolega secara militer, dinampakkan bagaimana ia memakai seragam militernya secara hati-hati, dengan kesungguhan. Seakan seragam yang dipakainya sepanjang karirnya itu begitu memberikan kebanggaan dan kehormatan sendiri. Demikian juga dari kalangan veteran. Apalagi yang masih aktif.

Ketika gelaran parade militer dilaksanakan, maka akan banyak yang menonton. Bagaimanapun juga, jauh dalam ketidak-sadaran manusia sebagai ‘yang sosial’, sekali waktu ia akan senang juga merasakan bagaimana ada ‘kelompok seragam’ beraksi di depannya. Dengan penuh kehormatan. Lihat misalnya, begitu takjubnya kita akan gelaran bunga matahari yang mekar serentak di sebuah ‘kebun bunga matahari’. Di Belanda sana, misalnya. Atau juga ketika musim bunga tulip. Atau sakura, di Jepang.

Dalam sebuah parade militer sebenarnya ‘peserta’ parade tidaklah hanya yang sedang baris berbaris, tidak hanya yang sedang memanggul senjata, atau mendorong rudal, tetapi juga para tamu undangan. Tamu undangan yang menampakkan bahasa tubuh takjub akan memberikan nilai tambah dari sebuah parade di depan khalayak. Keseluruhan itulah yang juga akan dihayati oleh khalayak kebanyakan ketika menonton sebuah parade militer.

Maka tamu undangan akan menjadi salah satu ‘atraksi’ sendiri dalam sebuah parade militer. Makanya, seperti disebut di awal tulisan, sebuah parade militerpun bisa di’analisis’ macam-macam. Tetapi bukan itu fokus tulisan ini, tetapi adalah parade militer itu sendiri. Maka pula sebagai tamu undangan ia akan berusaha sebaik mungkin menyesuaikan nuansa sebuah parade militer, yang menurut Platon semestinyalah penuh dengan kehormatan. Ia akan menghormati gelaran itu dengan memakai pakaian terbaiknya, tak jauh dari ketika menghadiri resepsi pernikahan seorang sahabat. Dengan sikap yang sesuai dengan protocol yang ditetapkan. Berbeda dengan khalayak kebanyakan yang ikut menonton, ia lebih bebas meski pastilah masih ada aturan-aturan tertentu. Anak-anakpun demi memeriahkan acara bisa saja ikut-kutan memakai baju ‘tentara-tentaraan’, tanpa perlu tahu betapa berarti dan terhormatnya sebuah seragam tentara bagi seorang serdadu. Tanpa perlu tahu arti pangkat yang ada di pundak. Namanya saja anak-anak.

Dalam sebuah parade militer di republik beberap waktu lalu, nampak ada tamu-tamu VVIP yang kompak memakai seragam militer, meski sebagian besar mereka itu tidak mempunyai latar belakang militer. Entah siapa yang nyuruh untuk memakai itu, tetapi nampaknya sebagian besar dari mereka-mereka menghayati parade militer itu layaknya sebuah karnaval saja, terlebih bagaimana mereka bertingkah saat memakai seragam itu, yang tentu saat masih dalam nuansa sebuah parade militer. Deep frame saat itu semestinyalah adalah kehormatan, tetapi mengapa mereka-mereka itu membuat surface frame yang ‘berbeda’? Sebuah karnaval deep frame-nya adalah ‘senang-senang’. Secara bersama-sama melepas ‘segala beban’ dengan boleh melakukan ‘apa saja’ demi rasa lepas dan senang. Mengapa sampai ‘begitu’? Apakah penampakan itu sekedar ‘berdiri sendiri’? Beberapa hari setelah itu, ada joget-joget sambil pecingas-pecingis tidak karu-karuan di ruang sidang parlemen. Sekali lagi, ruang parlemen yang semestinya juga terhormat menjadi semacam ruang karnaval juga. Misalnya. *** (28-08-2025)