1875. Kutukan Matahari Kembar

10-02-2026

Kutukan sumber daya (alam) atau resources curse sudah dirasakan sejak 300 tahun lalu, tetapi ‘diikat’ dalam sebuah istilah resources curse mulai tahun 1993 oleh Richard Auty. ‘Kutukan matahari kembar’ sebenarnya bisa dirasakan-dibayangkan paling tidak melalui tulisan Thucydides lebih dari 2000 tahun lalu. Dari laporannya tentang Perang Peloponnesos (431-404 SM) antara Athena dan Sparta. Dalam Melian Dialogue, Thucydides menulis apa yang lebih dari 2000 tahun kemudian menjadi pembuka pidato Mark Carney -PM Kanada, saat bicara di Davos beberapa waktu lalu, intinya: ‘yang kuat akan mendikte yang lemah’. Dalam teori mimetic atau segitiga hasrat, Rene Girard membedakan antara model eksternal dan internal. ‘Subyek’ akan menghasrati O atau ‘obyek’, lebih karena meniru sik-‘model’ yang juga menghasrati O. Ketika modelnya adalah model internal maka rivalitas perlahan akan memuncak antara ‘subyek’ dan ‘model’ (internalnya, karena dekat misalnya). Dalam teorinya, rivalitas itu akan ‘dikelola’ sehingga tidak menghancurkan ‘kebersamaan’ melalui dihadirkannya sik-‘kambing hitam’.

Dengan ‘landasan teori’ di atas, dari Thucydides dan Girard bisa dibayangkan bagaimana ‘kutukan matahari kembar’ ini akan mendapat pintu masuknya. Bagi komunitas yang sudah kena ‘kutukan sumber daya’, tambahan ‘kutukan’ ini akan memperberat ‘nasib’ yang harus ditanggung. Akibat cawé-cawé yang bahkan menampakkan diri secara vulgar tanpa sungkan tanpa beban tanpa malu itu maka suka atau tidak suka, matahari kembar telah hadir dan perlahan mulai menampakkan ‘kutukan’nya. Rivalitas akan semakin menguat karena dengan cawé-cawé itu -sadar atau tidak, ia telah ‘masuk’ menjadi ‘model internal’. Apalagi bermacam pilihan ‘kambing hitam’ tak kunjung ‘disepakati’. Mau mengkambing-hitamkan yang radikal-radikul? Sudah tidak mempan. Mau kaum osang-asing? Jelas ‘matahari lama’ tidak akan sepakat. Mau kaum aktivis yang terus mengusik? Mereka malah diundang diskusi oleh sik-‘matahari baru’. Repot.

Bagaimana ‘matahari kembar’ akan berperilaku dalam dunia Thucydides di atas? “[-].. and that in fact the strong do what they have the power to do and the weak accept what they have to accept,”[1] demikian dikatakan utusan Athena kepada utusan Melos, negara kecil yang sebelumnya ingin mengambil sikap netral dalam perang Athena-Sparta. Maka dalam hikayat ‘matahari kembar’ tidak hanya soal ‘yang kuat akan mendikte yang lemah’, tetapi juga soal siapa sik-kuat dan sik-lemah-nya. Maka tak mengherankan bahkan sejak hari pertama dilantik, scenario ‘monsterisasi’ terhadap sik-‘matahari baru’ langsung dijalankan. Atau lihat bagaimana ramainya ‘gas melon’ itu beberapa waktu lalu, atau laku asal njeplak, asal panggul beras saat bencana dari ‘antek-antek’ sik-‘matahari lama’ itu. Atau yang hari-hari ini masih dirasakan, carut-marut pasar keuangan dan soal kepesertaan BPJS yang mendapat bantuan dari pemerintah karena masuk dalam golongan miskin. Termasuk bermacam upaya untuk menandingi kuatnya ‘logistik’ sik-‘matahari lama’ yang terkumpul secara gila-gilaan selama 10 tahun itu, akhirnya juga khlayak kebanyakan jugalah yang jadi korbannya (lagi). State redistributions dalam bermacam bentuknya itupun kemudian menjadi lekat dalam bangunan pernak-pernik penguatan rejim, bukan pertama-tama untuk penguatan khalayak kebanyakan, sik-pembayar pajak yang terhormat. *** (10-02-2026)

[1] https://www.pergerakankebangsaan.com/024-The-Melian-Dialogue/