31-01-2026
Apa saja ‘isu publik’ di ranah kuasa-negara? Tentang demokrasi vs otoritarianisme? Tentang HAM dan pelanggarannya? Krisis ekonomi? Ataukah juga isu ijazah palsu dan surat keterangan kesetaraan abal-abal? Dan banyak lagi. Ataukah juga isu soal perkontholan dan pertempikan? Apakah diantara bermacam isu tersebut ada isu-isu yang ‘berkelas’ dan ‘tidak atau kurang berkelas’? Seperti isu selebritis yang sering nganèh-anèhi, aèng-aèng saja kok seperti itu dibicarakan, misalnya. Apakah isu ijazah palsu itu ‘kalah kelas’ dibanding isu demokrasi, otoritarianisme, pelanggaran HAM, dwifungsi TNI/Polri, misalnya? Yang bahkan karena ‘kalah kelas’ dituding hanya sebagai bagian dari ‘pengalihan isu’?
Menjadi isu ‘yang berkelas’, misalnya jika kita pakai istilah itu, bukanlah soal ‘jenis’ isunya, tetapi lebih pada dua hal, bangunan argumentasi dan staminanya. Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar bukanlah hanya semata soal kebencian, tetapi adalah hadirnya ketidak-berpikiran. Maka penting di sini soal bangunan argumentasi di atas. Tetapi Toynbee dalam psikologi perjumpaan kebudayaan-kebudayaan (1953) mengatakan bahwa sinar budaya dengan ‘nilai tinggi’ cenderung akan mengalami resistensi tinggi: sukar menembus, sedang yang ‘nilai rendah’ sebaliknya. Maka di sinilah pentingnya ‘stamina’, pantang menyerah dan terus menerus tetap berargumentasi layak. Bahkan jika ada pembonceng isu, katakanlah itu dimainken sebagai pengalihan isu, tetaplah itu bukan alasan untuk berhenti. Ada prinsip lain yang dikatakan Toynbee terkait dengan psikologi perjumpaan kebudayaan di atas, yaitu yang satu akan membawa yang lain. Isu ijazah palsu yang dikelola dengan argumentasi layak dan dengan stamina tinggi, bisa-bisa akan mengubah juga banyak hal yang bahkan tidak ada kaitannya dengan isu tersebut. Atau bahkan ikut menyingkap bermacam selubung yang bertebaran selama ini.
“The great enemy of the truth is very often not the lie -deliberate, contrived and dishonest - but the myth – persistent, persuasive, and unrealistic. Too often we hold fast to the cliches of our forebears. We subject all facts to a prefabricated set of interpretations. We enjoy the comfort of opinion without the discomfort of thought,” demikian dikatakan John F. Kennedy di Yale, 1962. Dan lihat bagaimana ‘mitos orang baik’ itu menjadi sangat terkikis oleh isu ijazah palsu yang sudah berlangsung berbulan-bulan ini. ‘Orang baik’ itu semakin dihayati sebagai memang benar adanya terkorup nomer dua se-dunia, juga culas, licik, dan pengecut! Bahkan semakin banyak yang yakin bahwa orang itu adalah pengkhianat republik. Pengkhianat republik ‘yang ditugaskan’ untuk merusak-memperlemah republik. Semakin nampak, semakin tersingkap. ‘Mereka’ masih yakin untuk dimainken sebagai pengalih isu? Silahkan, silahkan, bagaimanapun juga ranah atau field menurut Bourdieu itu tidak hanya merupakan ‘satu set aturan’, tetapi juga ada kompetisi di situ. Kompetisi yang akan semakin sulit ‘mereka’ menangkan di era merebaknya modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital-internet seperti sekarang ini.
Maka tidak ada isu yang ‘berkelas’ atau ‘tidak berkelas’ di ruang publik, yang ada adalah apakah ia didukung oleh argumentasi yang layak atau tidak. Termasuk argumentasi bahwa isu tersebut mempunyai potensi besar untuk dimainken sebagai ‘sandera kasus’. Bahkan pula jika ada penampakan verbal yang ‘kurang sopan’ sekalipun, selama argumentative maka relative tidak masalah. Republik sudah lama tak kurang-kurang ajakan untuk bersopan-sopan -banyaklah, tetapi ajakan untuk berpikir dan berpikir di ruang-ruang publik, masih sangat-sangat kurang. Yang kedua seperti disinggung di atas, soal stamina. Soal daya tahan. Proses-proses molekuler memang perlu konsistensi dan daya tahan, karena siapa tahu entah kapan tiba-tiba saja datang sik-katalis. *** (31-01-2026)