1850. "Operasi Teheran"

13-01-2026

Sebuah operasi digelar untuk mendongkel Salvador Allende (Cile) di awal decade 1970-an, di puncak Perang Dingin, di awal-awal paradigma neoliberalisme mau diuji-coba oleh rombongan Chicago Boys, dan nama operasinya adalah Operasi Djakarta. Apakah ‘Operasi Teheran’ akan menjadi kata sandi sebuah operasi untuk menjatuhkan rejim yang demen ‘anti-asing’? Dari pemberitaan kita bisa melihat bertahun-tahun pemimpin Iran selalu lekat dengan retorika anti Amerika, anti-Israel. Tentu silahkan saja dan mungkin saja punya alasan kuatnya, masalahnya apakah rakyat akan kenyang begitu saja dengan ajakan heroic untuk melawan osang-asing itu? Apapun retorika yang dibangunnya?

Demen dengan retorika anti-osang-asing tentu adalah sebuah pilihan, silahkan saja …. cuk, tetapi lupa untuk mensejahterakan rakyatnya tentu bukan pilihan, terutama bagi khalayak kebanyakan. Itu adalah kewajiban, sekali lagi, bukan pilihan. Bayangkan, masalah makan gratis di sekolah dan (versus) hari libur sekolah-pun tidak bisa dikelola dengan ‘bermartabat’, pating pecothot apa-apa yang keluar dari petingginya, maunya sih memberikan penjelasan, hasilnya? Prèk. Asal mangap asal njeplak itu akankah menjadi ‘bermartabat’ ketika anti osang-asing ditabuh genderangnya? Yang nggak-lah … Lihat, begitu rapuh bangunan argumentasinya, semau-maunya, seakan menggambarkan bagaimana argumentasi dalam mengelola republik secara umum yang sering menampakkan begitu rapuh adanya. Di tengah segala ketidak-pastian, kerapuhan pasti bukanlah pilihan. Segala kerapuhan, fragilitas yang ‘terbangun’ selama bertahun ini, sungguh semakin ‘menggelisahkan’ terlebih ketika ketidak-pastian global itu semakin menampakkan sisi brutalnya. Brutal adalah serapan bahasa asing yang dari asal katanya dekat dengan pengertian ‘perilaku kebinatangan’.

Maka menghadapi tidak hanya ketidak-pastian, tetapi juga brutalitas, satu-satunya pilihan trategis adalah memaksimal segala kapasitas manusia, terutama kapasitas berpikirnya. Berpikir yang sungguh membedakan manusia dengan dunia binatang secara mendasar. Berpikir termasuk di sini dalam membedah ancaman brutalnya kekuatan kekerasan ataupun brutalnya kekuatan uang. Masa lalu memberikan pelajaran bagaimana keberpikiran itu bisa secara telak dipinggirkan, itu terutama adalah karena eksploitasi hasrat yang sudah sampai pada tahap kegilaannya. Kegilaan hasrat akan uang, dan atau kegilaan akan hasrat terhadap hal-hal besar. Kegilaan anti osang-asing itu pada dasarnya adalah salah satu wujud dari kegilaan hasrat akan hal-hal besar, akhirnya menjadi ‘kejahatan logika’ dalam memandang yang serba asing. Tentu kewaspadaan terhadap kepentingan asing perlu terus ada dan dijaga, bahkan perlu itu selalu diperhitungkan terkait dengan bagaimana kepentingan nasional terus diupayakan, tetapi menjadi kegilaan dalam retorika? Kapan itu menjadi sebuah kegilaan? Ketika itu telah ‘membunuh’ akal sehat, telah menekan ke-prudence-an dalam melihat dan mengelola apa-apa yang menjadi tanggung jawab utama: mensejahterakan rakyatnya. Atau menjadi malas berpikir untuk menentukan hal-hal mendasar terkait dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bersama. Energi atau focus banyak digerogoti oleh imajinasi terhadap yang ada di jauh sana, osang-asing. Akhirnya isi tindakan justru banyak menghambur-hamburkan bermacam sumberdaya, apapun itu. Dihambur-hamburkan dengan tanpa beban. Lupa bahwa masalah dalam negeri-pun sudah akan menguras banyak imajinasi, banyak energi. Godaan ‘jalan gampang’ akhirnya menjadi begitu mudah untuk dirangkul. Kritik kemudian dianggap ‘jahat’. Lingkaran setan megalomania itu semakin membayang saja.

Jika muncul kata yang kemudian menjadi mudah diserap khalayak seperti ‘akal sehat’, ‘salam akal waras’, ‘salam cerdas’, atau bahkan ‘dungu’ atau ‘plonga-plongo’ itu sedikit banyak memberikan gambaran memang ada situasi dimana keberpikiran itu memang bertahun telah dipinggirkan. Terutama dalam pengelolaan negara. Istilah-istilah yang mudah diserap karena ternyata ketidak-berpikiran berjalan seiring dengan ketidak-adilan yang semakin menguat. Bertahun terakhir adalah bukti telanjang bagaimana ketidak-berpikiran telah membuat rapuh hidup bersama. Dalam semua aspeknya. Kerapuhan yang akan membuat daya tahan dalam menghadapi kebrutalan ketidak-pastian global akan menjadi begitu tipisnya. Akankah republik akan menjadi Iran selanjutnya? Jika tidak mau (menjadi seperti Iran hari-hari ini), hentikan itu retorika anti osang-asing yang justru malah -sadar atau tidak, jadi tirai tebal dari ketidak-mampuan dalam mengelola negara secara prudence. Aèng-aèng saja … *** (13-01-2026)