“Sebagai pengawal dan penjaga kedaulatan negara juga harus siap untuk melakukan berbagai langkah-langkah preventif dan preemtif, bahkan kita siap untuk perang berlarut di dalam mempertahankan kemerdekaan dan NKRI,” demikian dikatakan oleh Sjafrie Sjamsoedin saat Rapim Kementerian Pertahanan -TNI di Gedung Dewan Pertahanan Nasional beberapa hari lalu. ‘Perang berlarut’ mungkin saja tidak hanya peringatan kepada jajaran TNI, tetapi juga pesan bagi siapa saja yang ingin invasi/penguasaan akan menghadapi perang panjang perlawanan atau pertahanan. Dalam Perang Modern yang pernah diungkap oleh Ryamizard Ryacudu, tahap terakhir adalah invasi/pencapai sasaran/penguasaan. Tahap-tahap sebelumnya adalah infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, dan cuci otak. Maka dalam konteks Perang Modern ini, kita bisa membayangkan bahwa upaya preventif dan preemtif akan terkait dengan infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, dan cuci otak, yang juga bisa kita hayati lebih sebagai ‘soft power’. Kita bisa bayangkan pula pendapat Mao Zedong tentang politik, katanya: “Politik adalah perang tanpa pertumpahan darah, sedangkan perang adalah politik dengan pertumpahan darah.”
Dari pendapat ketua Mao, dalam konteks perang, infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, dan cuci otak bisa dilihat sebagai bagian perang (tanpa pertumpahan darah). Delapan tahun lalu dalam halaman depan https://www.pergerakankebangsaan.com/ telah disampaikan tentang Perang Modern ini, dan semakin lama semakin nampak bagaimana infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, dan cuci otak telah berlangsung. Jika ‘cuci otak’ kita bicarakan hari-hari ini, nampak bertahun-tahun terakhir ‘yang dicuci’ adalah soal kehormatan dan integritas. Yang sebenarnya kehormatan dan integritas dalam ranah timbang-menimbang bisa menjadi salah satu bahan bakar utama atau elan vitalnya. Apa yang hancur dalam kasus ijazah palsu? Hal timbang menimbang, itu semua karena kehormatan dan integritas yang terus digerus. Untung ada trio RRT dan lingkaran dekatnya yang tanpa lelah, tanpa takut terus membela hal timbang-menimbang ini. Dan apa taktik ‘mereka’? Sama, maunya terus menghancurkan kehormatan dan integritas, lihat saja kasus ES dan DHL hari-hari ini. Bahkan sambil pamer mobil mewahnya sebagai bagian penghancuran kehormatan dan integritas. Gila. Belum lagi kita bicara ranah-ranah lainnya. Lihat juga misalnya, bagaimana ‘ritual’ kemartabatan bangsa yang katakanlah digelar hanya satu kali dalam setahun itu, ‘dicuci’ dengan jogat-joget di tempat yang sama dimana ‘ritual’ digelar. Jogat-joget tidak karu-karuan dan ‘sik-raja’ manggut-manggut sambil pecingas-pecingis di atas panggung. Bandingkan dengan ‘joget-koplo’ saat peringatan hari keagamaan lalu, banyak yang merasa jengah. Bukankah semua itu bagian dari cuci otak?
Eksploitasi (isu) bisa menjadi bagian dari politik adu domba. Tetapi eksploitasi bisa merambah di tiga ranah kekuatan, pengetahuan, uang, kekerasan. Eksploitasi dalam ranah kekuatan uang tidak hanya soal ‘jebakan utang’, tetapi juga soal ‘menghambur-hamburkan’ sumber daya. Sebagai bablasan dari hancurnya kehormatan dan integritas, hal timbang-menimbang juga akan kehilangan salah satu sumber bahan bakar utamanya. Akibatnya? Selain semakin tidak prudence, hal etika yang lekat dengan timbang-menimbang itupun akan meredup juga. Tahu batas menjadi hal langka. Akhirnya, semau-maunya. Infiltrasi? Akankah yang ada di Morowali itu hanyalah puncak gunung es? Soal politik adu domba? Lihat saja jejak-jejak digital rejim terdahulu itu. Dari hal-hal di atas, ‘perang berlarut’ seperti disinggung oleh Menhan Sjafrie sebenarnya sudah berlangsung lama, sadar atau tidak. Artinya, ‘perang berlarut’ itu akan menghadapi dua front ketika benar-benar invasi terjadi, dari dalam dan dari luar. Terlebih jika ‘perang berlarut’ itu mengambil jalan ‘perang gerilya’, menjadi lebih repot ketika harus berhadapan juga dengan pengkhianat-pengkhianat republik. Yang bahkan berkhianat sambil pecingas-pecingis, tanpa beban. *** (23-01-2026)