1845. 'Sahabat' Yang Tidak Membantu

08-01-2026

Melihat dari bermacam pemberitaan terutama di Venezuela dan Iran hari-hari ini, samar-samar ingatan kembali pada apa yang pernah diungkap oleh Ryamizard Ryacudu dalam satu diskusi kecil, kira-kira begini: “Jangan pernah mengharapkan bantuan dari luar ketika republik ada masalah’. Bukan berarti ketika ada bencana kita menolak bantuan dari luar dalam konteks ini, tetapi jika ada gègèran di dalam negeri, apapun pemicunya itu, jangan berharap bantuan dari luar. Mungkin menambah jelas jika kita membayangkan konsep persahabatan dari Platon. Bagi Platon, persahabatan sejati itu selalu akan melibatkan ‘pihak ketiga’, yaitu sesuatu (yang baik) yang menjadi kepedulian bersama. Setiap negara-bangsa pertama-tama akan mengelola atau berangkat dari kepentingan nasionalnya sendiri dalam pergaulan internasionalnya. Dari situ saja akan menjadi tidak mudah untuk mengharapkan adanya ‘persahabatan sejati’ antar negara. Tetapi terhadap bencana (kemanusiaan) negara-bangsa bisa dengan cepat menempatkan kemanusiaan sebagai ‘kepedulian bersama’, sehingga dalam konteks tersebut bisa saja muncul ‘persahabatan sejati’. Dan kitapun bisa menjadi terbuka bahkan ikut mengandalkan bantuan dari ‘para sahabat’ itu. Kecuali tentu jika apa yang menjadi kepedulian bersama ternyata bukan bencana (kemanusiaan), baik itu berasal dari ke dua pihak. Atau salah satunya, apapun alasannya.

Jika kita tidak bisa mengandalkan ‘orang lain’ saat, katakanlah misalnya, bencana politik merebak dalam negeri, maka memang hal-hal terburuk itu harus dipersiapkan sejak dini. Katakanlah, ‘daya tahan’ nasional. Apa yang membuat hidup bersama menjadi lebih ‘berdaya tahan’? Ada banyak bisa disebut, terlebih ‘yang kasat mata’, tetapi dalam kesempatan ini akan lebih focus pada soal ‘rasa-merasa’, dimana soal ‘rasa merasa’ ini bisa-bisa menjadi lebih bermakna dalam keseharian, yaitu soal ke(tidak)adilan.

Bukan hanya soal ketidak-adilan akan bisa memicu sebuah spiral kekerasan seperti pernah dikatakan Dom Helder Camara, tetapi rasa-merasa soal ketidak-adilan ini bisa-bisa menjadi hal pertama yang berpengaruh dalam melihat situasi. Bahkan anak kecil-pun akan terusik ketika ia diperlakukan tidak adil, meski apa itu adil ia belum mampu mendefinisikannya. Meski banyak konsep tentang keadilan, tetapi kita bisa memakai konsep keadilan Platon sebagai ‘deteksi dini’ potensi ketidak-adilan yang membesar. Menurut Platon, keadilan adalah ketika masing-masing melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. ‘Masing-masing’ adalah bayangan Platon tentang tripartite jiwa dan ‘perluasannya’. Dalam konsep keadilannya Platon ini sebenarnya kita juga bisa membayangkan apakah ‘efisiensi berkeadilan’ itu sebagai satu frasa hasil amandemen UUD 1945 itu dimungkinkan. Bukankah jika masing-masing melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya dalam sebuah hidup bersama adalah salah satu bentuk efisiensi? Atau paling tidak lebih bisa dinilai apakah sudah efisien atau tidak.

Bagi penikmat ketidak-adilan, pastilah sadar bahwa spiral kekerasan di atas bukanlah omong kosong saja, dan jika itu terjadi bisa merepotkan atau mengusik kenikmatan. Maka salah satu langkah ‘strategis’ adalah bagaimana ‘mengubur’ atau menumpulkan rasa-merasa soal ketidak-adilan. Yang sering dilakukan adalah digusur dengan rasa-merasa soal hal-hal besar, apapun itu. Apa yang dipakai Marx sebagai metafora itu, camera obscura, selalu saja ditenteng kemana-mana. Dan bermacam catatan masa lalu, ini juga menghadirkan collateral damage yang luas dan begitu dalamnya. Rusak-rusakan di bermacam segi hidup bersama. Jika kita bicara soal ‘daya tahan’ hidup bersama, itupun menjadi rapuh. Ketika ‘bencana politik’ datang entah dari arah mana, bermacam kegagapanpun akan menampakkan diri. Bermacam biayapun bisa-bisa menjadi begitu mahal bagi republik. Dan sekali lagi, jangan pernah mengharapkan ‘bantuan’ dari ‘negara sahabat’. Tak akan kunjung datang, seperti hari-hari ini yang terjadi di Venezuela dan Iran. *** (08-01-2026)

1846. Jika Republik Tanpa Ilmu Forensik?

09-01-2026

Bagaimana jika kita andaikan ahli-ahli forensic di republik menghilang misalnya, kabur aja dulu ke luar. Dan semua laboratorium pendukungnya shut-down karena tidak ada anggaran lagi. Semua fakultas atau mata kuliah terkait dengan ke-forensik-an tutup karena semua pengajarnya ikut-ikutan menghilang. Bagaimana jika pengadilan tiba-tiba saja memerlukan kehadiran bermacam bukti atau kesaksian dari forensic? Akankah yang maju di ruang pengadilan adalah ‘ahli dadakan’ di bidang forensic? Diambil di jalan sekenanya dan disuruh njeplak-mangap sebagai ahli forensic? Ataukah kita sebagai warga republik tiba-tiba saja merasakan mendung gelap di atas langit? Tidak bisa lagi menikmati serial CSI? Ataukah serial televisi itu kemudian dimasukkan dalam kategori science fiction?

Hal di atas adalah pengandaian sebagai bagian dari pengandaian situasi exception, katakanlah, seperti dikatakan oleh Carl Schmitt se-abad lalu dalam pandangan dia tentang sovereign: sovereign is he who decides on the exception. Maka, siapa yang kemudian berdaulat di ruang sidang dalam situasi seperti di atas? Masihkan hakim yang terhormat itu betul-berul berdaulat dalam sidang yang dipimpinnya? Ataukah ‘entitas’ lain? Kekuatan uang, kekuatan kekerasan?

Sebagai ilmu -bukan doktrin, forensic tentu terbuka untuk saling diuji, diuji, dan diuji. Ahli forensikpun akan siap untuk memberikan argumentasinya, dan dipertanggungjawabkan berdasar bukti-bukti di tangan. Siap dibantah juga dengan argumentasi lain. Dalam kuliah di fakultas kedokteran dulu, ada mata kuliah tentang ilmu kedokteran kehakiman (sekarang forensic dan medicolegal?) dan ada stase di ‘kamar mayat’ sebagai bagian dari putaran saat co-ass. Bisa saya saksikan bagaimana serius dan profesionalnya guru-guru saya saat itu, tak berbeda dengan bagian-bagian lain. Tabik-hormat bagi guru-guru kami. Apa yang mau disampaikan di sini adalah republik sejak lama mempunyai ahli-ahli forensic yang dididik di pusat-pusat pendidikan terhormat, baik di dalam maupun di luar negeri. Tidak hanya dari aspek medicolegal tetapi dari bermacam aspeknya. Tidak diragukan lagi.

Tidak hanya ahli forensic ada di republik, bermacam keahlian telah berkembang di republik. Tetapi mengapa istilah ‘dungu-dungu-an’ secara ‘sosial banyak diterima? Kasus isu ijazah palsu (dan surat keterangan kesetaraan abal-abal) yang sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun itu sebenarnya sedikit banyak bisa menjelaskan. Tentu sains atau ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya yang membangun sebuah horizon sehingga apa yang di depan itu tidaklah terasa seperti sedang chaos. Bahkan akan terjadi ‘krisis’ jika sains kemudian diklaim sebagai satu-satunya ‘pembangun’ horizon, dibaptis sebagai yang satu-satunya ‘obyektif’. Tetapi hidup bersama seperti apa jika sains tidak hanya dipinggirkan, tetapi juga diolok-olok?

Menurut Pierre Bourdieu, tindakan akan dipengaruhi oleh capital, ranah, dan habitus. Ranah tidak hanya soal satu set ‘aturan’, tetapi di situ ada ‘kompetisi’ juga. Bagaimana jika ‘tindakan sontoloyo di ranah kuasa negara itu akhirnya juga berkeinginan ‘mengubah aturan’ dalam ranah menjadi sebuah habitat yang sesuai dengan ke-sontoloyo-annya? Misalnya ‘kompetisi’ itu akhirnya berujung dipinggirkannya sains, misalnya. Dengan tanpa beban. Sambil cengèngèsan. Maka, kasus ijazah palsu (dan surat keterangan kesetaraan abal-abal) itu bisa dihayati juga sebagai sebuah ‘kompetisi’ dalam bagaimana soal ranah kuasa negara itu akan dibangun. Dan sikap saya sudah jelas, menolak horizon ranah kuasa negara yang meminggirkan sains, menempatkan sains di luar horizon. Meminggirkan ilmu pengetahuan. Meminggirkan hal timbang-menimbang. Mengapa? Hal-hal seperti ini salah satu ujung nantinya adalah kerdilnya penghayatan akan etika. Etika yang dalam praktek pasti lekat dengan hal timbang-menimbang. Hidup bersama seperti apa nantinya jika semakin tidak mengenal etika? ‘Orang itu’ dan gerombolannya semakin nampak saja maunya hanya merusak republik. Pengkhianat! *** (09-01-2026)

1847. "Menurut Petunjuk Bapak ..."

10-01-2026

Pada suatu rentang waktu di masa lalu -jaman old, berulang dan berulang warga republik sering mendengar frasa ‘menurut petunjuk bapak presiden’. Bertahun-tahun, diulang dan diulang. Repetitio est mater studiorum, demikian ada pepatah: ‘pengulangan adalah ibu dari pembelajaran’. Tetapi apakah hanya berhenti pada soal ‘belajar’? Mungkinkah itu juga ‘membentuk’. Ketika yang diulang dan diulang itu adalah kata, maka sedikit banyak itu adalah juga in-formatio. Demikian juga ‘habitus’ pada awalnya adalah juga pengulangan. Bertahun kemudian, frasa ‘menurut petunjuk bapak presiden’ itupun berubah menjadi ‘menurut petunjuk [….] bapak presiden mesti turun.” Kira-kira begitu. Oleh orang yang sama. Dijawab oleh bapak presiden saat itu, ora dadi presiden ora pathèken. Kira-kira begitu, dan seterusnya.

Apa yang ditulis Machiavelli dalam Sang Penguasa (terbit pertama kali tahun 1532 -sembilan puluh tahun setelah mesin cetak massal dikembangkan oleh Guttenberg), dari sudut lain ada yang melihat sebenarnya Machiavelli sedang memperingatkan apa-apa yang bisa merusak ke-republik-an. Banyak hal, termasuk dalam hal ini pentingnya menghadapi para penjilat. Dari paling tidak catatan-catatan bertahun terakhir, kita bisa melihat dengan telanjangnya bagaimana penjilat-penjilat di sekitar kekuasaan itu telah membuat kuasa menjadi kabur dalam melihat kenyataan-kenyataan yang berkembang dalam masyarakat. Terlalu banyak hikayat, cerita, bagaimana bablasan ‘besar kepala’ -salah satunya karena jilatan-jilatan tanpa henti, akhirnya menjadi boomerang yang tanpa ampun justru akan menebas leher dengan tanpa basa-basi. Atau kalau memakai istilah Toynbee, sebagai pemimpin ia gagal untuk menjadi bagian dari ‘minoritas kreatif’ karena semakin tidak mampu melihat adanya ancaman yang dihadapi oleh semua yang dipimpinnya, karena satu-satunya ancaman bagi dirinya adalah ancaman terhadap segala kenikmatan diri yang terus saja disodorkan oleh penjilat-penjilat di sekitarnya, salah satunya.

Tulisan ini didorong oleh peristiwa dimana kemudian muncul ungkapan 93% sudah menyala, beberapa waktu lalu, ketika ada peninjauan terhadap bagaimana penanganan bencana banjir bandang Sumatera. Bandingkan sik-pelontar ‘menurut petunjuk bapak presiden’ dan ‘93% sudah menyala’ itu. Doppelganger? Bagaimana dengan ‘komunitas’ yang membesarkan mereka? Déjà vu? *** (10-01-2026)

1848. Hikayat Sik Dorman

11-01-2026

Menurut KBBI, dorman berarti ‘tertidur, tidak aktif, lesu’. Dorman sendiri adalah kata serapan bahasa asing, dormant, yang memang dari asal usul katanya dekat dengan pengertian ‘tidur’. Ada nuansa umum yang dikenal sejak tahun 1600-an: ‘in a state of rest or inactivity’.[1] Dalam dunia medis, hikayat dorman adalah hikayat bakteri yang masih saja tidak mati meski sudah dihajar bermacam obat, dan sebagian kecil sik-bandel ini seakan kemudian mengambil bentuk dorman, tidur atau tidak aktif. Kapan sik-dorman itu bangun atau menjadi aktif? Ketika situasi memungkinkan, terutama ketika daya tahan tubuh turun atau dalam kondisi lemah.

Maka sik-dorman ini pada dasarnya memang punya beberapa panggung. Di atas, dalam ranah medis sik-dorman menjadikan tubuh sebagai panggung utamanya. Terutama ketika tubuh menjadi lemah, ringkih dalam daya tahan. Dalam film Jason Bourne di setiap sekuelnya, sik-dorman juga ikut main. Ia selalu harus siap menerima panggilan, dan dengan itu ia menjadi aktif untuk menyelesaikan suatu tugas. Tak jauh dari film Mission Impossible. Bahkan dalam MI itu pada dasarnya adalah film tentang hikayat sik-dorman. Atau dalam peristiwa ‘ditangkapnya’ Maduro di Vanezuela baru-baru ini, jelas itu adalah sebuah operasi penuh dengan presisi -suka atau tidak, termasuk bagaimana membangunkan sik-dorman secara presisi baik dari segi (siapa) sik-aset-nya maupun tempat dan waktu ia harus bangun dari tidur. Salah satu saja bagian operasi tidak presisi, bisa akan membuyarkan seluruh operasi.

Machiavelli dalam Sang Penguasa memberikan gambaran salah satu cara licik dari Sang Raja mempertahankan kuasa. Dikatakan Machiavelli bahwa kadang Sang Raja justru membuat-merekayasa ‘musuhnya’ sendiri yang akan ‘melawannya’. Karena buatannya sendiri maka Sang Raja menjadi mudah untuk menumpasnya, kapan-dimana saja. Kayak iklan Coca-Cola dulu, kapan saja dimana saja always Coca-Cola. Dengan berhasilnya ‘musuh’ ditumpas, maka khalayak kebanyakan akan semakin mudah ‘disihir’. Berhasil, plok … plok …. plok. Bahkan tidak hanya itu, keberhasilan Sang Raja ‘menumpas musuh’ itu bisa-bisa membuat sik-musuh beneran atau asli menjadi ciut nyali. Tidak hanya itu, bahkan sik-Raja bisa-bisa akan terpengaruh atas ‘keberhasilan’ (yang sebenarnya dibuatnya sendiri) itu. Bisa-bisa ia menjadi semakin ugal-ugalan, dan ke-republik-anpun akan menjadi semakin terpuruk.

Dalam era Machiavelli ‘kontemporer’, hal di atas bisa mengambil bentuk macam-macam, dari berkembangnya industri alih isu sampai industri monster(isasi). Yang kadang menampakkan diri sebagai ‘pembunuhan karakter’ atau eksploitasi ‘politik skandal’ yang menurut Manuel Castells akan semakin dominan dalam politik di era digital-internet ini. Dalam praktek ini bisa mewujud dalam ‘sandera kasus’. Bahkan tidak hanya berurusan kekuasaan, tetapi juga sekali dayung dua pulau dilampaui, ada ‘bisnis kekuasaan’ juga. Yang nampak dengan telanjang, bisnis para buzzerRp itu. Lainnya lebih mempunyai sejarah panjang dan nilainya jauh di atas bisnis buzzerRp: bisnis monster. Persis tak jauh beda di jaman Machiavelli ‘klasik’. Dan dalam bisnis monster ini, jelas ada peran penting dari sik-dorman, terlebih dalam arti bukan sebagai yang sedang tidur atau tidak aktif, justru ia bisa sangat aktif. Ke-dorman-annya lebih pada ia seakan tidur dan tidak aktif jika dilihat dari atas permukaan, di depan publik. Artinya, ketika ia muncul ke permukaan dengan telanjangnya -menampakkan diri asli-nya, itulah ke-dorman-nya telah berubah. Banyak alasan untuk ini. Salah satunya mungkin untuk membantu yang sedang lemah khususnya di depan publik. Tak jauh dari scenario Machiavelli di atas, sudah saatnya sik-raja yang melemah itu menunjukkan gigi dengan membunuh ‘musuh’, jika sik-dorman muncul memang untuk 'dikorbankan'. Mungkin saja dipilih karena sudah dekat dengan masa expired-nya? Mungkin, tetapi apapun itu tetaplah sik-raja bisa saja menjadi nampak menguat seperti yang diharapkan. Horééé …. Plok … plok … plok*** (11-01-2026)

[1] https://www.etymonline.com/word/dormant

1849. Kegilaan Untuk Tidak Belajar

12-01-2026

Apa yang ada di balik horizon? Banyak kemungkinan, dan mungkin saja kita tidak tahu apa saja kemungkinan-kemungkinannya. Bahkan ditambah lagi: menakutkan. Tetapi apa yang ada dalam horizon, di antara kita ‘berdiri’ sampai dengan batas horizon? Sama, banyak kemungkinan, hanya saja dengan sedikit atau banyak berkeringat, kita semakin melihat kemungkinan-kemungkinan itu, bahkan kemudian menjatuhkan pilihan misalnya. Semakin horizon ‘dimajukan’ maka pilihan-pilihanpun semakin banyak. Horizon yang terus dimajukan itu pada dasarnya adalah pondasi dasar untuk memahami apa itu ‘kemajuan’. Bagaimana horizon terus dapat dimajukan? Dalam hidup bersama salah satunya adalah dengan membangun komunikasi satu sama lain. Maka bagaimana horizon berkembang ia akan erat dengan bagaimana modus komunikasi berkembang. Misalnya, bagaimana modus komunikasi dari tatap muka atau man to man, kemudian berkembang modus man to mass via produk cetak massal dan jaringan elektronik -radio, televisi misalnya, dan sekarang kita begitu akrab dengan modus komunikasi mass to mass via jaringan digital-internet.

Jika kita bicara soal ‘propaganda’, tentu akan menemukan bagaimana itu akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan modus komunikasi. Propaganda ‘modern’ yang banyak diyakini mulai dari dibentuknya Komite Creel di AS sono pada tahun 1917, misalnya, itu terkait dengan bagaimana modus komunikasi man to mass berkembang, terutama saat itu melalui media cetak, radio, dan film. Ditambah kemudian televisi. Di era berkembangnya modus komunikasi mass to mass via jaringan digital internet seperti sekarang ini, propaganda-pun terus berkembang. Skandal Cambridge Analytica terkait dengan kampanye pilpres saat Trump maju untuk periode pertama, dan juga saat Brexit direferendum, nampak bagaimana algoritma dunia digital internet bisa sungguh berperan dalam dunia propaganda. Dan terus berkembang sampai sekarang. Tetapi yang sering dilupakan adalah ‘reaksi’ terhadap aksi propaganda tersebut, juga yang berkembang seiring dengan berkembangnya modus komunikasi. Ketika algoritma dalam dunia digital dikembangkan, khalayak kebanyakanpun -sadar atau tidak, ikut mengembangkan ‘algoritma inter-subyektivitas’-nya sendiri. Dulu melalui pamflet-pamflet bawah tanah misalnya, sekarang di era digital internet ini? Bahkan di awal-awal internet berkembang, Zapatista adalah salah satu yang pertama kali mulai menggunakan sumber daya internet dalam perjuangannya. Menurut Noam Chomsky, ketika satu sama lain semakin tahu apa yang menjadi sentiment masing-masing maka status quo akan lebih mudah diretakkan. Itu ditulis Noam Chomsky jauh sebelum internet masuk dalam hidup keseharian publik. Sekarang dengan berkembangnya sosial media?

Bagaimana relasi-relasi (kekuatan) produksi sangat penting dalam bangunan ‘semangat jaman’ telah banyak buktinya, tetapi jangan lupa peran penting dari relasi-relasi ‘produksi pengetahuan’ yang bisa saja itu tidak sepenuhnya ditentukan oleh relasi-relasi (kekuatan) produksi ‘kekayaan’. ‘Produksi pengetahuan’ yang juga sangat erat dengan berkembangnya modus komunikasi. Bahkan jika berkembangnya modus komunikasi itupun dipengaruhi oleh relasi-relasi (kekuatan) produksi kekayaan, tidaklah kemudian bisa secara total dihayati bahwa produksi pengetahuan semata hasil dari ‘produksi kekayaan’. Yang mau dikatakan di sini adalah, perkembangan modus komunikasi bagaimanapun akan semakin mampu memberikan kemampuan dalam menguak ketika ugal-ugalan di ‘basis’ itu mengambil jalan menebar tirai tebal untuk menutupinya. Menguak dan membangun perlawanan untuk membongkar bermacam tirai atau ‘kesadaran palsu’ demi menyembunyikan segala pemusatan ‘produksi kekayaan’, komplit dengan pemusatan kenikmatannya.

Alvin Toffler dalam Power Shift (1990) menunjukkan bagaimana Khomeini salah satunya menggunakan modus komunikasi mass to mass untuk meruntuhkan Shah Iran (runtuh tahun 1979) yang dalam hal komunikasi menguasai segala halnya, terutama modus komunikasi man to mass, media massa cetak ataupun radio, televisi. Menurut Toffler, modus komunikasi mass to mass yang dikembangkan Khomeini saat itu (saat itu belum ada internet) adalah ‘algoritma’ perbanyakan pidato-pidato Khomeini (yang saat itu di pengasingan Perancis) melalui rekam-merekam dengan kaset recorder secara mandiri (dari mass ke mass) dan diperdengarkan di masjid-mesjid dalam kelompok-kelompok kecil. Kalau di republik hari-hari ini bisa dibayangkan bagaimana film Dirty Vote (atau buku Reset Indnoesia) diboyong dari satu komunitas ke komunitas lain, diputar, dibedah, dan didiskusikan. Apa yang terjadi di Iran hari-hari ini bisa juga dikatakan sebagai kegagalan (rejim) untuk belajar, terutama dalam ‘menangkap’ bagaimana ‘semangat jaman’ berkembang, terutama setelah modus komunikasi mass to mass begitu berkembang dengan hadirnya modus komunikasi via jaringan digital internet. Meski Arab Spring memuncak di tahun 2010-2011 -enam tahun setelah Facebook, empat tahun setelah twitter), tetapi ‘semangat’-nya tetaplah ‘melayang-layang’ sebagai bagian ‘semangat jaman’ dan selalu siap saja untuk ‘ditangkap’ oleh siapapun. Terlebih ketika bermacam ketidak-adilan terus saja terjadi.

Maka ketika ada pemimpin dan ‘elit’ -katakanlah begitu, tetap tidak mau belajar, bahkan ketidak-mauannya itu sudah sampai tahap kegilaan, pertaruhannya sangat-sangat besar. ‘Resep-resep’ masa lalu seakan dipegang layaknya sebuah doktrin. Menjadi doktrin ketika berhenti sebagai ‘romantika’ saja, dan tidak mau ber-‘dinamika’, apalagi ber-‘dialektika’. Mengapa ketidak-mauan belajar itu bisa sampai pada tahap kegilaannya, madness? Karena ia (nalar) telah menjadi ‘budak’ dari kegilaan hasrat, terutama hasrat akan uang. Juga kegilaan hasrat akan hal-hal besar. Yang di otaknya hanyalah uang, uang, uang. Korup, korup, korup. Atau mimpi, mimpi, mimpi. Itu saja, tidak lebih dari itu. Sementara banyak di khalayak kebanyakan horizon sudah terus saja dimajukan, tetapi pemimpin dan elit justru seakan mengunci horizon dengan romantika berbagai resep masa lalu. Celah atau gap yang terus melebar seperti itulah yang akan mendatangkan krisis, mendatangkan penghayatan akan ketidak-adilan, dan akhirnya memicu spiral kekerasan yang semakin lama akan semakin besar. Seperti Iran hari-hari ini. Brutal. Bahkan sudah ada yang memprediksi Iran akan pecah menjadi negara-negara kecil. Padahal Iran adalah ‘negara daratan’, bukan negara kepulauan. Hati-hati, cuk *** (12-01-2026)