1885. Lebih Dari Sekedar Teror
19-02-2026
Menurut Thomas Hobbes dalam Leviathan (1651), hasrat akan kuasa itu tidak hanya dibawa sampai ajal mendekat, tetapi adalah juga untuk melindungi apa-apa yang sudah diperolehnya. Buku karangan Jeffrey A. Winters Oligarki (2011) sedikit banyak bicara soal ini, bagaimana oligarki memastikan apa-apa yang sudah diperolehnya terlindungi. Bahkan jika mungkin, bertambah sampai tujuh turunan. Tetapi bagaimana jika itu tidak hanya kaum oligarki tetapi juga yang sedang ‘menumpuk harta’? Bertahun terakhir ada-banyak pengalaman bagaimana ‘jalan gampang’ dalam menumpuk harta itu bisa-bisa akan melahirkan embrio terror. Apa saja akan dilakukan demi melindungi apa-apa yang sudah diperolehnya, atau akan diperolehnya, terlebih jika rutenya adalah ‘jalan gampang’. Apa saja akan dilakukan termasuk terror sana terror sini. Fasis-fasis kecil-pun bertebaran di sana-sini. Seakan situasi yang dibayangkan oleh Thomas Hobbes, state of nature, sedang berlangsung.
Tulisan ini didorong oleh peristiwa Ketua BEM UGM yang mengalami terror hari-hari ini, terkait dengan kritik yang diajukan berangkat dari peristiwa bunuh dirinya seorang anak di NTT baru-baru ini. Yang secara tidak langsung kritik mau tidak mau akan menyinggung juga bagaimana banyak anggaran pendidikan itu ‘dialih-fungsikan’. Peristiwa terror ini adalah puncak gunung es dari bermacam terror yang sudah ditebar di masyarakat luas bertahun-tahun terakhir. Dan lihat bagaimana pemerintah melalui mensesneg-nya merespon terror tersebut, lebih pada soal: ‘sopan santun’! Sopan-santun kemudian menjadi tirai tebal yang menyembunyikan sebuah peristiwa tentang ganasnya sebuah terror.
Peradaban adalah soal ‘batas’. Bahkan ketika Toynbee berpendapat bahwa berkembangnya sebuah peradaban itu akan sangat dipengaruhi oleh tantangan dan respon, itu adalah juga soal ‘batas’. Seorang anak kecil yang belum tahu banyak tentang batas, kadang ia akan ‘membahayakan dirinya’ dalam situasi tertentu. Tantangan menjadi tantangan pertama-tama karena ia ada dalam horizon kita, dan horizon itu adalah juga soal ‘batas’. Apa yang dibayangkan Hobbes tentang state of nature, akhirnya itu ‘dijinakkan’ dengan membuat batas-batas melalui bermacam kesepakatan. Dalam ranah negara, ‘batas-batas’ dalam operasionalnya sering tidak hanya soal ‘maksud baik’ saja, ia perlu latihan dan latihan untuk ‘ditabrakkan’ dengan hasrat lain, atau katakanlah suara-suara kritis dari pihak lain. Ketika ada suara kritis justru menuai terror terhadap yang kritis, maka sebenarnya kita sedang mengingkari untuk selalu berlatih dan berlatih dalam menghayati bermacam ‘batas’ dalam hidup bersama.
Etika dalam praktek menurut Sidney Hook sering menjadi bukan lagi pilihan antara baik dan buruk, tetapi masalah etis yang sesungguhnya dirumuskan sebagai pertentangan antara baik dan baik, benar dan benar, serta antara yang baik dan yang benar.[1] Dan jangan pula etika kemudian ditabrakkan dengan etiket, atau sopan santun, misalnya. Maka masalah etika itu akan lekat dengan hal timbang-menimbang. Timbang-menimbang yang akhirnya juga akan sangat menentukan apakah hidup bersama akan menjauh atau tidak terhadap state of nature yang dibayangkan Hobbes. Dengan timbang-menimbang kita akan bicara soal batas-batas yang sudah disepakati, misalnya.
Apa yang mau disampaikan di sini adalah, terror terhadap Ketua BEM UGM itu bukanlah sekedar terror saja, tetapi adalah puncak gunung es retaknya hidup bersama, bahkan peradaban yang sedang kita bangun bersama. Hidup bersama rasanya sudah mendekat pada chaos saja. Rusak-rusakan, semau-maunya. Apakah masih ada sosok pemerintah seperti yang dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945 itu? Republik macam apa yang kami miliki? Apakah salah jika ada yang merasa bahwa republik ini sedang menuju kehancurannya? *** (19-02-2026)
[1] Harsja W. Bachtiar, Percakapan dengan Sidney Hook, Penerbit Djambatan, 1986, cet-3, hlm. 9
1886. Kutukan Matahari Kembar (2)
20-02-2026
Gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah, demikian pepatah yang jamak di berbagai tempat di dunia ini, dalam bahasa Inggris atau lainnya, dengan inti pesan tak jauh berbeda. Republik hari-hari ini, bagi khalayak kebanyakan nampaknya tak jauh-jauh amat dari situasi tersebut. Sepuluh tahun lalu bisa dilihat bagaimana kegilaan dalam membangun kekuatan rejim berdasarkan kekuatan kekerasan dan (terutama) uang, yang sekaligus kegilaan dalam menghancurkan kekuatan pengetahuan. Bermodal akumulasi kekuatan selama sepuluh tahun, dengan penuh keyakinan diri kemudian mendeklarasikan sebagai sik-kembarannya matahari (baru). Setahun ini, republik menjadi saksi bagaimana adanya gerak ‘berlawanan’ dari dua matahari (kembar), sik-matahari lama sebenarnya mudah saja ditebak, sejak hari pertama inginnya membusukkan sik-matahari baru. Dan dengan itu ia menjadi tetap bersinar sendirian. Sedang sik-matahari baru tentu ada keinginan untuk tidak kalah di tiga ranah power, kekuatan pengetahuan, kekerasan dan uang. Ugal-ugalannya sik-matahari lama dalam akumulasi kekuatan membuat situasi memang seakan menjadi ‘tidak terkendali’. Lihat pemimpin tertinggi matahari lama saja sampai diberi gelar sebagai koruptor nomer dua seluruh planet pada satu rentang waktu. Gila. Dan … bagaimana mau menandingi akumulasi gila-gilaan kekuatan uang ini? Ikut gila-gilaan? Rejim terdahulu itu dengan laku ugal-ugalan, dengan kegilaannya dalam korupsi, termasuk ‘rekayasa’ dalam membangun kekuatan kekerasan secara ugal-ugalan juga, seakan hal-hal tersebut telah mengubah ranah politik menjadi penuh dengan kegilaan. Politik kemudian menjadi semacam pertandingan menuju dasar kegelapan. Mata gelap, tidak peduli lagi kanan kiri.
Lalu bagaimana kita sebagai pembayar pajak bersikap terhadap ‘spiral ugal-ugalan’ ini? Ugal-ugalan seperti remaja atau lainnya sedang balapan liar itu? Riil politik menurut Mangunwijaya adalah sesuatu yang masih mungkin dicapai. Apa yang masih mungkin dicapai dalam kegilaan ‘balapan’ ini? Terkait dengan ini, memberikan dukungan penuh terhadap trio RRT dan rekan-rekan seperjuangannya dalam menguak kasus ijazah palsu adalah salah satu pilihan strategis untuk mengurangi ‘tensi’ kutukan matahari kembar ini. Mengurangi dampak -collateral damage, bagi khalayak kebanyakan. Termasuk di sini kasus surat keterangan kesetaraan abal-abal itu. Dorongan kuat untuk diselesaikannya kasus ini -isu ijazah palsu, dengan tuntas akan memberikan ruang lebih dan focus untuk melakukan kritik terhadap sik-matahari baru. Dan jelas juga, ini bukanlah ranah lesser evil. Atau sekitarnya. Tidak ada hubungannya dengan sik-lesser evil. *** (20-02-2026)
Cat. Bagian pertama lihat artikel no. 1875
1887. It's the Details, Stupid
21-02-2026
It’s the economy, stupid, adalah frasa yang diusung Bill Clinton dalam pemilihan presiden 1992. Dan hari-hari ini semakin nampak masyarakat sipil perlu mengangkat sebagai salah satu daya desak: “It’s the details, stupid!” Jangan bicara soal sopan santun dalam hal ini, atau itu adalah budaya asing, atau osang-asing, apapun itu, ketika kemuakan sudah sampai leher, maka sekali lagi, jangan bicara lagi soal sopan santun untuk memojokkan. Muak ya muak, tidak ada hubungannya dengan sopan atau tidak ketika kemuakan itu (harus) disuarakan. Hanya amatiran di ranah negara saja yang begitu demen bicara soal sopan santun ketika kemuakan warga tersuarakan. Amatiran, lihat saja tarikan wajahnya saat mensesneg menanggapi terror yang menimpa BEM UGM saat menyuarakan kemuakan dalam beberapa hal itu. Kata Mehrabian, bahasa tubuh akan lebih berpengaruh dibanding dengan bahasa verbal. Seakan pula ia tiba-tiba saja menjadi lembaga penentu mana yang baik dan tidak, padahal ia dalam banyak halnya tidak mampu atau mau menerjemahkan ‘maksud baik’ yang diusung selama ini secara jernih dan detail. Maksud baik atau juga hal etik itu perlu alat-alat untuk operasionalnya. Jangan seperti ‘tukang sulap’ saja, mau menampilkan ini dan bim sa la bim segera keluar kelinci dari topi.
Bicara soal details seperti dalam judul memerlukan daya imajinasi kuat. Detail dari asal katanya berarti bicara soal bagian-bagian. Kemampuan menghayati details semestinya merupakan refleksi dari perhatian penuh pada sebuah proses. Dalam sebuah bangsa, bicara details adalah pelengkap dari gerak-dinamika ‘komunitas terbayang’ dalam praktek. ‘Komunitas terbayang’ itu adalah gerak etis yang perlu dioperasionalkan, tentu dengan hati-hati, prudence. Pengalaman bertahun terakhir, ketika itu dioperasionalkan dengan ugal-ugalan, atau kalau memakai istilah Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, operasionalisme, hal esensi dari komunitas terbayang itupun akan mengalami keretakannya.
Ada ungkapan ‘the evil always comes from details’, dalam manajemen ini bisa dikatakan ada dalam pendekatan zero defect. Kaizen yang merupakan salah satu pilar penting meraksasanya Toyota itu adalah juga soal menemukan evil yang mungkin saja ‘bersembunyi’ dalam bermacam detail proses-proses produksi. Dan dengan itu perbaikan terus-menerus bisa dilakukan. Jika dalam bermacam details kita bisa menemukan evil-nya sebuah proses, bagaimana jika details-pun tidak menampakkan diri? Gegayaan bicara soal yang besar-besar dan berharap sim sa la bim kemudian ‘hal besar’ itu akan mewujud dengan serta merta? Jika details saja tidak nampak, bukan hanya evil-nya kemudian sulit ditemukan, tetapi justru keseluruhan proses bisa-bisa dikuasai oleh sik-evil. Segala ‘hasrat gelap’ itu akhirnya tanpa sungkan membonceng dalam setiap proses atau tahapannya. Karena yang dimaksud details itu tidak hanya soal perencanaan saja, tetapi juga pelaksanaan, monitoring, dan sampai evaluasinya. Dan dalam ranah negara, termasuk kritik dari bermacam pihak. *** (21-02-2026)
1888. Bangga Menyabot Diri?
22-02-2026
Dalam psikologi ada istilah sabotase diri, self-sabotage. Tulisan ini meminjam istilah tersebut untuk menggambarkan adanya kemungkinan ‘sabotase diri’ dalam beberapa program ‘unggulan’ dengan ‘maksud baik’ sebenarnya. Peristiwa terakhir atau akhir-akhir ini, atau hari-hari ini, berita tentang pembelian mobil pick-up buatan India sekian puluh ribu unit yang akan dipergunakan untuk ‘maksud baik’ koperasi desa (merah putih). Mendengar berita ini segera saja terpikirkan kemungkinan adanya ‘sabotase’ (eksternal) program tersebut, tetapi setelah dipikir-pikir, jangan-jangan itu ‘sabotase diri’. Sabotase dari asal katanya, sabot: sepatu kayu. Di Perancis pada suatu saat doeloe, ada protes dari pekerja yang memakai sepatu kayu atas kondisi tempat kerja, dengan cara memperlambat produksi. Kemudian kata sabotage diadopsi dalam bahasa Inggris.
Jika kita perhatikan, bertahun-tahun terakhir self-sabotage ini sudah terjadi pada pemimpin tertinggi, ia mau saja menyabot kehormatan diri dengan menjadi ‘sasaran tembak’ entah dalam bentuk atau hal apa akan dibidik (sesuai ‘scenario’) dan dengan itu kepentingan kaum oligark sik-‘pemegang kendali’ bisa berjalan dengan mulus. Sik-mono itu sering menjadi bahan ‘pengalih isu’ terhadap ugal-ugalannya perampokan republik. Kalau dibayangkan pusat kekuasaan di tangan oligarki, maka pertanyaannya adalah kepada sik-mono dan sik-demos, akan diapakan? Akan diperlakukan seperti apa? Akan dimainken seperti apa? Termasuk juga sik-aristo? Sebagai ‘pusat kekuasaan’ artinya juga sebagai ‘pusat kepentingan’. Dalam dunia sik-demos misalnya, jangan-jangan self-sabotage juga dimainken, melalui buzzerRp, misalnya. Atau terkait RJ bagi ‘dua tuyul’ dalam perjalanan kasus ijazah palsu itu. Macam-macam. Bagaimana self-sabotage di kalangan sik-aristo (aristokrasi, aristo-krasi, aristo: yang terpilih), terlebih yang dilahirkan melalui proses di perguruan tinggi? Sangat telanjang bagaimana di beberapa perguruan tinggi mapan itu mengalami self-sabotage dalam bermacam bentuknya. Sabotase diri itu intinya adalah pembusukan, tak beda-beda amat dengan sabotase eksternal.
Bahkan dalam tubuh, hasrat akan makan misalnya, yang biasa saja itu tiba-tiba akan membusukkan tubuh jika menjadi ugal-ugalan tak tahu batas dalam hal makan. “Desire is man’s very essence,” demikian pernah dikatakan Spinoza (1632-1677). Maka manusia apa adanya yang penuh dengan gejolak hasrat itu membuat perjalanan panjangnya penuh dengan upaya ‘pengendalian hasrat’ demi berlanjutnya hidup bersama. Kita bisa melihat pengalaman masa lalu bagaimana ketika hasrat menjadi tak terkendali, ujungnya bahkan bisa menghancurkan peradaban. Politik hasrat kemudian menjadi bagaimana melalui olah hasrat yang lain, hasrat kaum oligark menjadi tetap terlindungi. Yang ‘ditakuti’ oleh kaum oligark jelas sik-mono, sik-aristo dan sik-demos[1], maka bagaimana melalui olah hasrat semua itu bisa dikendalikan? Inilah mengapa self-sabotage dibicarakan dan dicontohkan terkait dengan koperasi desa yang akan digelontor dengan ratusan ribu mobil pick-up dari India itu. Pengadaan jelas akan business as usual, hasrat akan cuan-gampang di baliknya. Siapa bermain? Sabotase eksternal atau diri sendiri? Sebab dari segala hitung-hitungan, jelas ini akan berkontribusi terhadap pembusukan koperasi desa itu. Belum lagi jika program koperasi desa tersebut juga dimaksudkan untuk ‘membiayai’ kaki-kaki rejim pula, secara vulgar. Vulgar dalam arti, memang pertama-tama dimaksudkan demikian. Berhasil atau tidaknya koperasi desa itu adalah soal nomer sekian. Jadi, bukankah self-sabotage itu memang relevan dibicarakan? Atau juga tentu, external-sabotage. Dan tidak hanya soal koperasi desa, tetapi juga untuk yang lain. *** (22-02-2026)
[1] Lihat, https://pergerakankebangsaan.org/tulsn-162 No. 1883
