1890. Ketika 'Bebas Aktif' Retak Besar

24-02-2026

Faktanya, ‘bebas aktif’ tidak mungkin tidak retak. Besar kecilnya keretakan ‘bebas aktif’ bisa dilihat secara langsung atau tidak langsung, misalnya, seberapa jauh nations-state building ikut terdampak. Pengalaman di jaman old, keretakan ‘bebas aktif’ itu terlalu besar, dan lihat bagaimana merebaknya rent-seeking activities misalnya, telah menggerogoti natios-state building secara mendasar. Yang dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang, lebih dari seperempat abad setelah runtuhnya jaman old itu. “Bebas aktif” adalah masalah kedaulatan, dalam arti juga terkait dengan penghayatan akan ‘state of emergency’. Ketika ‘bebas aktif’ retak besar akibat perilaku ‘patron-klien’ yang ugal-ugalan, sik-klien bisa-bisa tidak lagi mempunyai ‘sense of emergency’ yang adekuat. Kata Carl Schmitt seratus tahun lalu, sovereign is he who decides on the state of exception, dan bagaimana jika bahkan menghayati ‘state of exception’ saja tergagap-gagap? Terlalu dekat dan kemudian terkurung dalam ‘sihir’ sik-patron menjadi tidak mampu mengambil jarak lagi, sehingga bermacam hal mendasar atau esensial dalam hidup bersamapun akan semakin tidak menarik untuk diselami. Akan lebih gampang untuk menyelami kepentingan ‘hidup pribadi’ atau ‘kelompok’-nya saja.

Sepuluh tahun rejim terdahulu telah menggeser ‘bebas aktif’ dalam relasi patron-klien secara ugal-ugalan. Terlalu banyak penampakan di sana-sini bagaimana ugal-ugalannya dalam ber-patron-klien itu menampakkan diri dalam bermacam peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang jika dilihat dari upaya nation-state building sunggu sangat kontraproduktif. Karena ujung dari relasi patron-klien ugal-ugalan itu adalah penguasaan total. Dalam Perang Modern yang kadang disinggung oleh Ryamizard Ryacudu, terdiri dari tahap-tahap infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, cuci otak dan terakhir invasi/pencapaian sasaran/penguasaan, bukankah tahap-tahap sebelum penguasaan itu adalah juga persoalan nations-state building?

Dalam bayang-bayang retak besar nations-state building itu, serta dalam ancaman besar terkaman rejim terdahulu yang ingin status-quo dalam kenikmatan relasi ugal-ugalannya patron-klien bangunan mereka, maka godaan untuk mencari ‘patron baru’ untuk ‘bertahan hidup’ sangat besar. Lupa bahwa nations-state building yang rapuh itu bahkan telah melahirkan ‘lapisan budak’ yang tidak peduli siapa yang jadi patron-nya asal ikut menikmati nikmatnya kuasa dengan segala kenikmatan ikutannya. Lapisan yang sebenarnya sejak jaman old sudah terlatih dengan ‘baik’. Terlatih sebagai klien yang siap menjalankan perintah patron, siapapun itu. Baru atau lama tidak soal. Apapun perintahnya.

Maka ketika banyak apparat ‘baru’ ternyata kapasitasnya hanya amatiran saja, ia bisa-bisa akan menjadi makanan empuk bagi ‘lapisan-budak-terlatih-lama’ ini. Dalam ranah kuasa negara, amatiran berarti tidak hanya soal kapasitas diri dalam hal ketrampilan yang lama terasah, tetapi juga bagaimana ia menghayati tujuan negara berbangsanya. Dan tentu juga soal ‘ideologi’ yang diusungnya. Jika ada. Penghayataan akan dua hal ini dalam ranah kuasa negara akan berdampak tidak mudah jatuh dalam ‘budakisasi’ segala hasrat gelap. Sudah amatiran, dan tanpa sadar menjadi budak, maka dilahaplah -diuntal, oleh lapisan-budak-terlatih-lama itu. Lapisan-budak-terlatih-lama yang sebenarnya sama sekali tidak terlatih dalam mengendus ‘state of exception’. Maka, jangan-jangan memang diperlukan ‘state of exception’ untuk menyingkirkan lapisan-budak-terlatih-lama itu? Sehingga dengan itu perlahan bisa masuk dalam nations-state building yang benar? *** (24-02-2026)

1891. Jebakan Omon-omon

25-02-2026

Juni tahun lalu, Prof. Dr. Atik Triratnawati menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar bidang Antropologi Kesehatan FIB UGM dengan judul ‘Masuk Angin Sebagai Fenomena Budaya’. Mau dihayati sebagai flu terserah saja, monggo, tetapi bagaimanapun semua gejala yang ada dalam flu sudah termasuk dalam kategori ‘masuk angin’. Jika tidak masuk kerja dan ijin melalui telepon, bilang sedang ‘masuk angin’ maka yang di seberang telepon akan segera paham. Bagi komunitas yang akrab memakai kategori ‘masuk angin’ bolehlah bersyukur akhirnya ada kata yang menggambarkan bermacam ketidak-enakan tubuh, seperti saat menderita flu itu.

Setelah melakukan penelitian di Tahiti, Robert Levy psikiater dan antropolog AS menerbitkan laporannya dalam Tahitians: Mind and Experience in the Society Islands (1973). Penelitian itu dilakukan untuk menjawab mengapa tingkat bunuh diri di Tahiti saat itu boleh dibilang tinggi. Levy kemudian mendapatkan adanya hipokognisi ketika muncul rasa bersalah, kehilangan yang mendalam, dan segala ketidak-enakan tubuh karena sedih dan semacamnya. Hipokognisi karena tidak ada kata-kata yang ‘mewakili’ hal-hal tersebut.

Bagaimana ketika kita masuk showroom mobil bekas dan melihat mobil-mobil berjejer, dan masih kinclong? Dari rumah memang mau beli mobil pick-up untuk mendukung usahanya di pasar. Maka deretan mobil pick-up-lah yang menarik perhatian. Kepada penjaga ia menggambarkan mobil pick-up yang dinginkan, baik dari model maupun kantong yang memang agak cekak. Maka ditunjukkan mobil-mobol pick-up yang kurang lebih sesuai dengan kebutuhannya itu. Mendekatlah ia pada mobil-mobil pick-up yang ditawarkan oleh penjaga itu. Tiba-tiba saja perhatiannya tersedot pada satu mobil pick-up, masih kinclong tentu, kemarin habis dicuci bersih. Tetapi perhatian kembali tersedot pada satu bagian, samping kanan bak. Ia mendekat, dilihat dari kanan-kiri, diraba, dan seterusnya. Ia pergi ke showroom itu bersama adik. Kemudian berdiskusi dengan adiknya mengenai bagian itu, dan sampailah pada kesimpulan: mobil pick-up itu pernah tabrakan. Maka ia beralih pada pick-up disamping.

Dalam ‘diskusi’ dengan adiknya, atau juga dengan penjaga showroom mungkin, ia pastilah memakai bahasa. Bahasa yang pada akhirnya membantu pada satu kesimpulan, pick-up itu pernah tabrakan. Apa yang digendong juga dalam ‘tukar-kata’ itu? Tentu ‘lain’ dari yang digendong saat ngobrol gayeng tadi sebelum masuk show-room, yaitu keberpikiran. Berpikir itu mendahului bahasa, terlebih ketika masuk dalam ‘intensional kategoris’. Intensional dalam hal ini merupakan istilah dalam Fenomenologi. Berlangsung dua arah, tidak hanya perhatian tersedot akan sesuatu, tetapi sesuatu itu juga memberikan dirinya dengan cara tertentu. Sebagian besar penggunaan bahasa memang (seakan) tidak membutuhkan berpikir lebih dahulu, taken for granted saja, atau seperti naik sepeda ketika kita memang sudah berhasil naik sepeda sebelumnya. Naik, genjot, dan oké gas … oké gas

Judul tulisan, jebakan omon-omon, kok rasa-rasanya tidak jauh berbeda dari (jebakan) kerja-kerja-kerja. Konsultannya sama? Ah, terlalu konspiratif. Tetapi apapun itu, ‘keluaran’-nya tak jauh berbeda, khalayak kebanyakan sedang dilatih untuk (semata) bicara soal bicara vs kerja, kata vs aksi. Dunia yang sedang diperkenalkan (semata) adalah kata vs tindakan. Padahal seperti ditulis di atas, berpikir itu mendahului bahasa. Terlebih dalam ‘intensional kategoris’ seperti dicontohkan di atas. Dan ranah negara mestinya akan selalu lekat dengan ‘intensional kategoris’ ini. Juga pendidikan, terlebih perguruan tinggi. Juga kaum teknokrat, seniman, pengamat, cendekiawan, pengarang, dan banyak lagi. Bahkan khalayak kebanyakan-pun dalam satu dua tiga peristiwa pastilah akan bertemu dengan ‘intensional kategoris’ ini.

Maka dalam dunia ‘jebakan omon-omon’ atau ‘jebakan kerja-kerja-kerja’, bermacam upaya atau peristiwa yang ‘memprovokasi’ keberpikiran sangat patut untuk didukung, terlebih di ruang-ruang publik. ‘Kurungan bahasa vs tindakan’ itu harus diretakkan untuk memberikan tempat bagi ‘berpikir-bahasa’. Bukan dibuang karena bagaimanapun persoalan ‘kata vs tindakan’ itu adalah salah satu hal mendasar dari bahasa juga, tetapi harus dilengkapi dan memberi ruang luas bagi pertanyaan terkait ‘berpikir dalam berbahasa’. Jangan sampai ‘kata vs tindakan’ atau dalam bahasa ‘konsultan komunikasi’: omon-omon atau kerja-kerja-kerja, berkembang menjadi ‘jebakan’ yang justru membuat kita terkurung dan semakin terbelakang. *** (25-02-2026)

1892. Habitus Baru

26-02-2026

Iseng-iseng bongkar-bongkar arsip lama dan ketemu buku kecil Nota Pastoral KWI 2004 yang berjudul Keadaban Publik: Menuju Habitus Baru Bangsa, Keadilan Sosial Bagi Semua: Pendekatan Sosio-budaya. Nota Pastoral itu merupakan rumusan Sidang Tahunan KWI 3-13 November 2003, hampir 25 tahun lalu. Sebuah judul yang tidak mudah bagi umat kebanyakan, bahkan juga di kalangan ‘para gembala’ (salam buat mo’ Edy Pur dan mo’ Harsanto). Tetapi jika melihat situasi sekarang maka mungkin saja akan lebih mudah menghayatinya, paling tidak berangkat dari ‘identifikasi masalah’ yang disebut ‘penyakit sosial’ dimana ujungnya akan ‘membuat ruang publik tidak berdaya dan tidak berbudaya serta meningkatkan jumlah maupun jenis kerusakan-kerusakan lain dalam masyarakat’. Disebut tiga ‘penyakit sosial’, korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan. Penyakit-penykit sosial yang akan menyelusup dalam tiga poros hidup bersama, masyarakat sipil, negara, dan pasar. Yang akhirnya akan membuat ‘pembiasaan’ akan laku ‘yang kuat yang menang’, keranjingan dalam ‘menyembah uang’, dan membuat dengan tanpa beban lagi untuk ‘mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara’. (déjà vu?)

Yang dimaksud dengan habitus dalam Nota Pastoral di atas adalah gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang atau kelompok. Kadang-kadang kata ini diterjemahkan menjadi watak. Sementara itu kata watak juga menterjemahkan kata karakter yang berarti keseluruhan keadaan dan cara bertindak terhadap suatu rangsangan. Watak terus berkembang dalam masa kehidupan seseorang. Watak berkaitan erat dengan fungsi saraf pusat. Watak juga dipengaruhi oleh faktor eksogen, seperti lingkungan, pengalaman dan pendidikan.

David Reisman dkk dalam The Lonely Crowd (1950) menganalisa perjalanan panjang warga Amerika terkait dengan pergeseran-pergeseran karakter, membagi dalam ‘kategori’ tradition-directed, inner-directed, dan terakhir, other-directed. Terlebih di jaman merebaknya modus komunikasi via jaringan digital-internet ini, other-directed semestinya lebih mendapat perhatian lebih. Suka atau tidak. Maka sangat bisa dimengerti mengapa ada beberapa negara (dimulai dari Australia) kemudian melarang sosial media bagi anak-anak. Nampaknya masalah pembangunan karakter yang sedang dominan pada other-directed itu perlu ‘pondasi’ yang kuat, sehingga anak-anak perlu ‘kompas’ nantinya. Dan ‘kompas’ itu dibangun melalui inner-directed, atau mungkin saja ada nuansa tradition-directed. Digambarkan oleh Reisman inner-directed itu membangun diri yang nantinya seakan mempunyai sebuah ‘giroskop’, sedangkan dalam other-directed ‘radar’-lah yang ‘dipasang’ nantinya. Radar yang akan ‘menangkap’ sinyal-sinyal dari arah ‘horisontal’ dan ‘vertikal’, bercampur. Viral misalnya, adalah contoh paling mudah bagaimana yang horizontal itu ditangkap oleh ‘radar’. Bagaimana dengan yang vertical, terlebih dari penguasa? Terlebih dalam komunitas dengan power distance tinggi (Hofstede)? Terlebih lagi ketika yang horizontal itupun kadang sudah dimanipulasi melalui bermacam algoritma yang dioperasikan oleh sik-penguasa? Atau tanpa henti terus diusik oleh para buzzerRp sik-penguasa?

Peran habitus juga disinggung oleh Pierre Bourdieu dalam teori tindakannya. Katanya, tindakan akan dipengaruhi oleh capital, ranah, dan habitus. Judul Nota Pastoral di atas sedikit banyak membayangkan bahwa tindakan dalam ranah publik semestinya terus diupayakan menuju sebuah keadaban publik, dan dibayangkan salah satunya dengan mendorong sebuah ‘habitus baru’ yang ‘kompatibel’ dengan keadaban publik. Melalui pendekatan ‘sosio-budaya’. Tetapi soal ‘keadilan sosial’ juga disinggung. Jadi memang tidak mudah ‘meramu’-nya. Apalagi dalam ranah itu tidak hanya soal hadirnya satu set aturan misalnya, tetapi juga ada kompetisi di situ. Jadi, ada saran? *** (26-02-2026)

1893. Meksiko Hari-hari Ini

27-02-2026

Fear is everywhere’ demikian dilaporkan BBC terhadap situasi Meksiko hari-hari ini menyusul terbunuhnya pimpinan kartel narkoba “El Mencho”. Apa yang bisa kita pelajari terkait peristiwa itu? Apakah hanya soal perang kartel? Mafia-mafia-an? Laporan BBC itu menggambarkan bagaimana anggota gang kartel narkoba itu ‘menyerang balik’ dengan menebar bermacam terror. Apakah ini soal balas dendam? Apakah Thomas Hobbes benar ketika menulis dalam Leviathan (1651) bahwa hasrat akan kuasa itu tidak hanya dibawa sampai ajal mendekat, tetapi juga untuk mengamankan apa-apa yanag sudah dinikmatinya? Artinya, bisa-bisa orang akan melakukan apa saja untuk melindungi segala kenikmatan yang sudah di tangan. ‘Jalan gampang’ menumpuk harta (dan kuasa) melalui dagang narkoba itu jelas memberikan kenikmatan luar biasa, dan siapa mau segala kenikmatan itu berakhir begitu saja?

Maka prinsip meritokrasi itu tidak hanya soal ‘jalan baik’ tetapi juga mencegah hal-hal di atas kejadian. Ataupun soal bagaimana satu atau beberapa set aturan dalam suatu ranah mampu meredam bermacam kerusakan dengan bermacam sebabnya, terutama akibat ‘main kuasa’ yang ugal-ugalan dalam hal ini. Coba bayangkan jika “El Mencho” itu mempunyai ‘kartel bayangan’ dalam jajaran kepolisian atau tentara di Meksiko sana? Atau juga di kalangan politisi? Maka bisa-bisa di ranah negara ditambahkan satu set aturan baru, ‘yang kuat yang menang’. ‘Fear is everywhere’ jelas bukanlah sebuah ‘keadaban publik’.

Fear is everywhere’ adalah juga salah satu bayangan dalam imajinasi Hobbes soal ‘state of nature’, chaos. Hobbes kemudian membayangkan bahwa adanya kemampuan dan kemauan dalam bersepakat akan menjauhkan hidup bersama dari situasi ‘state of nature’. Tetapi siapa yang menjamin kesepakatan itu dijalankan? Pada titik inilah kita bisa membayangkan alternatif ‘diskursus publik’. Tetapi bagaimana alternatif ini berhadapan dengan sik-Leviathan yang menganggap bahkan sudah keranjingan bahwa propaganda-lah yang akan membuat ‘tertib aturan’ sehingga tidak chaos? Noam Chomsky pernah menyinggung soal ‘manufacturing consent’. Yang dibayangkan oleh Leviathan sebelum penggunaan kekerasan pemaksa secara TSM. Maka tak mengherankan dalam ‘manufacturing consent’ dan bayang-bayang kekerasan pemaksa dari Leviathan itu ada yang ‘kreatif’ dengan menggunakan potensi ‘state of nature’ itu sebagai tambahan daya desak. ‘Kedaruratan permanen’ kemudian menjadi pembenaran ‘menegakkan’ kedaulatan untuk menyamarkan ugal-ugalannya prinsip ‘yang kuat yang menang’.

Karena sudah terlatih mbudeg terhadap ‘diskursus publik’ dan yakin akan khasiat propaganda, maka soal kesepakatan-pun bisa dengan mudah dimainken, baik dalam membuat ‘kesepakatan’ baru atau bagaimana kesepakatan-kesepakatan itu dengan mudah tanpa beban dilanggar. Semau-maunya, akhirnya untuk mencapai tujuan ia akan menghalalkan segala cara. Dan ‘tujuan’ yang paling mudah dibayangkan adalah ‘menumpuk harta’, menumpuk segala kenikmatan. Akhirnya yang ‘disembah’ bukanlah kesepakatan-kesepakatan bersama, tetapi jelas telanjang: menyembah uang. Dan bagaimana ketika segala ‘kenikmatan jalan gampang’ itu diusik? Bahkan ketika dikritik-pun sudah menebar terror. ‘Orang baik’ itu memang (terbuksti) tidak punya ‘adab publik’ sama sekali. Sama sekali tidak punya. Dan semakin nampak saja bagaimana peradaban itu semakin remuk di semua segi kehidupan bersama republik. Jadi, what is to be done? Pertama-tama, mari kita latihan dan latihan terus terkait ‘warga jaga warga’ sebagai hal mutlak yang perlu dipersiapkan. Tentu ini belumlah mencukupi. *** (27-02-2026)

1894. Nasib Sik-Pèndèk Sumbu

27-02-2026

Ketika sang pangeran telah menguasai Rogmana dan merasa perlu untuk menenangkan dan membuat Rogmana patuh kepada pemerintahannya, ia menunjuk Remirro de Orco, seorang yang kejam, cakap dan diberinya segala kepercayaan dan wewenang. Dalam waktu yang singkat, Remirro telah berhasil memulihkan tata tertib dan persatuan dan mendapatkan pujian besar.

Kemudian sang pangeran mengambil keputusan bahwa wewenang yang berlebihan ini tidak diperlukan lagi, karena bisa tumbuh dan tak dapat dikendalikan lagi. Karena itu ia mendirikan di tengah propinsi sebuah pengadilan sipil, yang dipimpin oleh seorang ketua yang sangat terkenal. Setiap kota mempunyai perwakilannya di pengadilan tersebut. Dengan menyadari bahwa kekejaman dari masa lalu telah banyak menimbulkan kebencian padanya, sang pangeran bertekad untuk membuktikan bahwa kekejaman yang ditimpakan, bukanlah merupakan tindakannya, tetapi dilakukan oleh sifat kejam para menterinya.

Cesare menunggu kesempatan baik ini. Kemudian, pada suatu pagi, tubuh Remirro ditemukan terpotong dua di lapangan Cesena bersama sepotong kayu dan sebilah pisau berdarah di samping tubuhnya. *** (07-01-2026)

*) Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa, Penerbit Gramedia, 1987, hlm. 29-30