24-02-2026
Faktanya, ‘bebas aktif’ tidak mungkin tidak retak. Besar kecilnya keretakan ‘bebas aktif’ bisa dilihat secara langsung atau tidak langsung, misalnya, seberapa jauh nations-state building ikut terdampak. Pengalaman di jaman old, keretakan ‘bebas aktif’ itu terlalu besar, dan lihat bagaimana merebaknya rent-seeking activities misalnya, telah menggerogoti natios-state building secara mendasar. Yang dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang, lebih dari seperempat abad setelah runtuhnya jaman old itu. “Bebas aktif” adalah masalah kedaulatan, dalam arti juga terkait dengan penghayatan akan ‘state of emergency’. Ketika ‘bebas aktif’ retak besar akibat perilaku ‘patron-klien’ yang ugal-ugalan, sik-klien bisa-bisa tidak lagi mempunyai ‘sense of emergency’ yang adekuat. Kata Carl Schmitt seratus tahun lalu, sovereign is he who decides on the state of exception, dan bagaimana jika bahkan menghayati ‘state of exception’ saja tergagap-gagap? Terlalu dekat dan kemudian terkurung dalam ‘sihir’ sik-patron menjadi tidak mampu mengambil jarak lagi, sehingga bermacam hal mendasar atau esensial dalam hidup bersamapun akan semakin tidak menarik untuk diselami. Akan lebih gampang untuk menyelami kepentingan ‘hidup pribadi’ atau ‘kelompok’-nya saja.
Sepuluh tahun rejim terdahulu telah menggeser ‘bebas aktif’ dalam relasi patron-klien secara ugal-ugalan. Terlalu banyak penampakan di sana-sini bagaimana ugal-ugalannya dalam ber-patron-klien itu menampakkan diri dalam bermacam peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang jika dilihat dari upaya nation-state building sunggu sangat kontraproduktif. Karena ujung dari relasi patron-klien ugal-ugalan itu adalah penguasaan total. Dalam Perang Modern yang kadang disinggung oleh Ryamizard Ryacudu, terdiri dari tahap-tahap infiltrasi, eksploitasi, politik adu domba, cuci otak dan terakhir invasi/pencapaian sasaran/penguasaan, bukankah tahap-tahap sebelum penguasaan itu adalah juga persoalan nations-state building?
Dalam bayang-bayang retak besar nations-state building itu, serta dalam ancaman besar terkaman rejim terdahulu yang ingin status-quo dalam kenikmatan relasi ugal-ugalannya patron-klien bangunan mereka, maka godaan untuk mencari ‘patron baru’ untuk ‘bertahan hidup’ sangat besar. Lupa bahwa nations-state building yang rapuh itu bahkan telah melahirkan ‘lapisan budak’ yang tidak peduli siapa yang jadi patron-nya asal ikut menikmati nikmatnya kuasa dengan segala kenikmatan ikutannya. Lapisan yang sebenarnya sejak jaman old sudah terlatih dengan ‘baik’. Terlatih sebagai klien yang siap menjalankan perintah patron, siapapun itu. Baru atau lama tidak soal. Apapun perintahnya.
Maka ketika banyak apparat ‘baru’ ternyata kapasitasnya hanya amatiran saja, ia bisa-bisa akan menjadi makanan empuk bagi ‘lapisan-budak-terlatih-lama’ ini. Dalam ranah kuasa negara, amatiran berarti tidak hanya soal kapasitas diri dalam hal ketrampilan yang lama terasah, tetapi juga bagaimana ia menghayati tujuan negara berbangsanya. Dan tentu juga soal ‘ideologi’ yang diusungnya. Jika ada. Penghayataan akan dua hal ini dalam ranah kuasa negara akan berdampak tidak mudah jatuh dalam ‘budakisasi’ segala hasrat gelap. Sudah amatiran, dan tanpa sadar menjadi budak, maka dilahaplah -diuntal, oleh lapisan-budak-terlatih-lama itu. Lapisan-budak-terlatih-lama yang sebenarnya sama sekali tidak terlatih dalam mengendus ‘state of exception’. Maka, jangan-jangan memang diperlukan ‘state of exception’ untuk menyingkirkan lapisan-budak-terlatih-lama itu? Sehingga dengan itu perlahan bisa masuk dalam nations-state building yang benar? *** (24-02-2026)