1900. Propaganda Istana

06-03-2026

Jika hanya romantika saja -soal dinamika dan dialektika entah ditaruh dimana, maka yang terjadi adalah ‘revolusi istana’. Kalau toh dalam dunia romantika kemudian ditambah dengan bicara soal ideologi maka yang hadir adalah ideologi kenang-kenangan saja. Berbusa-busa di atas podium komplit dengan tudang-tuding sambil koprol dan kayang sekalipun, tetap saja ideologi kenang-kenangan yang sedang dibicarakan. Bukan yang lain. Bahkan jika kemudian terdengar tepuk tangan meriah.

Dalam kunjungan ke Australia baru-baru ini, dalam forum resmi PM Kanada selalu mengawali dengan dua bahasa, Inggris dan Perancis. Dan memang bahasa resmi Kanada adalah dua bahasa itu. Bahasa Perancis dominan di wilayah Quebec, yang pernah minta referendum untuk memisahkan diri tetapi kalah. Dan tiba-tiba saja menjadi ingat celetukan Kang Sobary dalam sebuah podcast terkait kemampuan Gibran sebagai wapres dalam hal berbahasa Indonesia yang tidak baik. Lebih dari 50 tahun lalu, McLuhan (1911-1980) memberi judul salah satu bab dalam bukunya Understanding Media: The Extensions of Man (1964): The Medium is the Massage. Medium yang dimaksud bisa bermacam-macam, tetapi bagaimana jika itu bahasa? Dan massage-nya adalah buah pikiran? Lihat misalnya ketika Bible diterjemahkan dalam bermacam bahasa setempat setelah penemuan mesin cetak massal Guttenberg, soal rasa-merasa hidup bersama di Eropa sana doeloe itupun kemudian berubah, proto-nationalism kemudian berkembang. Bahkan Heidegger pernah melontarkan bahwa bahasa adalah rumah dari being, atau katakanlah manusia. Dengan bahasa manusia membangun ‘keberakaran’-nya. Tentu bahasa juga mempunyai batasnya, maka Wittgenstein pernah mengatakan, “whereof one cannot speak, thereof one must be silent.” Heidegger mempunyai ‘solusi’ terhadap ini, melalui puisi.

Politik dalam praktek tidak akan lepas dari propaganda, tetapi ketika propaganda menjadi keseluruhan politik maka sebenarnya politik-pun akan meredup, terlebih jika politik dihayati sebagai sebuah ‘diskursus publik’. Bertahun terakhir rasa-rasanya republik jatuh dalam situasi ini, bagi penguasa propaganda sudah seperti panacea saja. Apapun masalahnya pemecahannya adalah propaganda. Dan apa yang sedang dikorbankan terkait ini? Bukan hanya ‘diskursus publik’ yang kemudian dianggap tidak ada: mbudeg, tetapi bahasa itu sendiri menjadi compang-camping. George Orwell dalam novel 1984 (terbit pertama kali tahun 1949) telah memberikan gambaran ini terkait dengan istilah newspeak. Banyak tinjauan hubungan antara bahasa dan kuasa, atau power, tetapi apakah hanya soal power? Mungkin saja ya, tetapi masalahnya mlipirnya itu kemudian nyampluk atau menghantam kanan-kiri juga. Atau kalau memakai pendapat Toynbee dalam ‘hukum perjumpaan kebudayaan’: yang satu akan membawa yang lain. Salah satu yang ikut terhantam adalah apa yang disebut Ben Anderson sebagai ‘komunitas terbayang’.

Disinggungnya Mark Carney seperti di awal tulisan dimaksudkan sebagai konteks tulisan ini, ranah kuasa negara. Keranjingan kuasa negara, atau katakanlah istana, dalam propaganda ternyata tidak hanya tertuju pada rakyat tetapi ternyata juga pada ‘pilihan rakyat’ juga, you are what you eat. Maksud dalam judul adalah propaganda di dalam istana. Dinamika di dalam istana ternyata sudah terjebak-tenggelam dalam ‘newspeak’ bikinannya sendiri. Ini lebih dari sekedar soal ‘asal bapak senang’. Bahasa kemudian didominasi sebagai medium hasrat gelap, bermacam hasrat bablasan. Spin-doctor kemudian menyesaki ruang-ruang istana. Romantika dipompa dan dipompa terus, dinamika dan dialektika dicampakkan entah dimana. Dan dalam dinamika ‘yang satu akan membawa yang lain’, bagaimana jika yang dibawa adalah proto-fascism? *** (06-03-2026)