1895. Serakahlogi
28-02-2026
Serakah-logi adalah ilmu tentang (ke)serakah(an). Di ranah kuasa negara dalam hal ini. Apa yang bisa dibayangkan terkait dengan istilah yang dilempar oleh Albert Camus dalam The Rebel (1951), yaitu soal kejahatan hasrat dan kejahatan logika? Logika (jahat) yang dibangun Hitler misalnya, akhirnya sejarah mencatat lahirnya gejolak hasrat gelap-gulita yang berujung pada holocaust. Mengerikan. Serakah adalah gejolak hasrat yang sudah dekat dengan kegelapan karena selangkah lagi ia tidak akan melihat kanan-kiri lagi, atau dengan telak meniadakan bermacam ‘pembanding’ lain. Maka keserakahan itu kemudian ‘mengotak-atik’ logika ‘eksternalitas’ misalnya, untuk menyamarkan gelapnya hasrat. Atau juga logika trickle-down effect itu. Macam-macam bagaimana ‘kejahatan logika’ itu ‘mendukung’ atau melakukan ‘normalisasi’ terhadap kejahatan hasrat. Salah satunya ungkapan Gorden Gekho (Michael Douglas) dalam film Wall Street (1987), greed is good. Tetapi di ranah kuasa negara? Bahkan di ranah pasar-pun akhirnya kata greed is good itu telah membuat munculnya krisis secara berulang dan berulang, dan sebagian besar yang terdampak krisis bahkan banyak yang sekalipun tidak pernah menikmati logika ‘greed is good’ itu. Maka bisa dibayangkan ketika itu terjadi juga di ranah kuasa negara, dengan segala krisis yang akan dihadapi.
Salah satu yang ‘legendaris’ dalam membongkar keserakahan ini adalah Karl Marx, di bagian akhir abad-19. Nuansa kegelisahan (akibat keserakahan) sebenarnya sudah berkembang sebelum Marx, yaitu yang dikenal sebagai ‘sosialisme utopia’, berkembang di awal-awal abad-19. Engel memberikan istilah yang sudah disebut Marx dalam beberapa tulisan, dan itu adalah salah satu yang mendasar dalam upaya pembongkaran terhadap laku keserakahan abad-18 dan 19: kesadaran palsu. Hari-hari ini, kesadaran palsu itu nampaknya telah menjadi semacam ‘mainan utama’ dalam dunia keserakahan. Atau kalau memakai hikayat Yunani jaman kuno, ditebarkan banyak ‘Kuda Troya’ yang sebenarnya di dalamnya adalah laku serakah seserakah-serakahnya. Macam-macam, dari IKN, infrastruktur, hilirisasi, food estate, sampai dengan koperasi desa dan makan gratis. Hampir semua itu adalah Kuda Troya yang di dalamnya ngendon laku-laku serakah.
Maka yang disebut dengan serakahnomic itu adalah sebuah bangunan ‘ekonomi’ yang mengakomodir laku serakah, terutama dalam penggunaan sumber daya negara. Semboyannya? Greed is good … Jalan atau bangunan ekonomi yang sudah berlangsung sepuluh tahun terakhir, dan ternyata masih berlanjut sampai sekarang. Serakahnomic (ternyata) itu bukanlah bagian kritik, atau sesuatu yang mesti dihadapi atau dilawan, tetapi ternyata dilanjutkan sampai sekarang. Bahkan semakin vulgar, semakin ugal-ugalan, semakin tanpa beban. Mata gelap. Ternyata (itu) nikmat sekali, cuk … *** (28-02-2026)
1896. RIP, Ermanto Usman


1897. Trump dan Bola Saljunya
03-03-2026
Dalam rangka Dies Natalis STF Driyarkara baru-baru ini, ada seminar (pembuka) tentang: Pemikiran Magnis untuk Indonesia, F. Budi Hardiman sebagai pembicara pertama menyinggung soal Trump ketika ditanya wartawan New York Times tentang batasan kekuasaan globalnya, dijawab Trump seperti disampaikan oleh Frankie Budi Hardiman, ‘ya ada satu hal, moralitas saya sendiri, pikiran saya sendiri, itulah satu-satunya hal yang bisa menghentikan saya.[1] Apa yang dikatakan Trump itu sebenarnya bagian dari ‘ideologi’ partai Republik di AS sono, seperti digambarkan George Lakoff terkait figure strict father, sebagai salah satu konsekuensi dari pandangan bahwa dunia itu memang penuh mara-bahaya. Dan dalam dunia seperti itu, yang kuat yang menang, survival of the fittest. Jadi maunya memang ngajak gelut saja, petentang-petenteng ngajak kelahi. Trump adalah model bablasannya.
Apa di balik hal-hal di atas? Pemusatan kuasa? Pengalaman masa lalu memberikan pelajaran bahwa ‘gaya sentripetal’ dan ‘gaya sentrifugal’ itu terus saja berlangsung. ‘Gaya’ dalam hal apa? Terlalu banyak bukti bahwa itu adalah lebih karena ‘gaya atau force’ dalam dinamika akumulasi kekayaan. Mengumpulkan kekayaan sehingga kekayaan itu lebih terkonsentrasi pada ‘pusat’ dan (sebagai reaksinya) keinginan untuk supaya lebih ‘merata’. ‘Tanpa sadar’ akumulasi kekayaan itupun kemudian mempengaruhi bagaimana kekuasaan dijalankan: pemusatan kekuasaan. Dan memang ‘ideologi’ Partai Republik AS di atas, atau konservatisme pada umunya, katakanlah mereka lebih berangkat dari ‘darwinisme sosial’. Atau kalau memakai pembedaan Freud, dinamika lebih pada ‘manusia apa adanya’ dengan bagian terbesarnya adalah bagian tidak sadar, atau id (berdasarkan ‘prinsip kesenangan’ atau pleasure principle) yang digendongnya.
Tetapi di awal abad-20, Henry Bergson memperkenalkan konsep ‘creative evolution’. Evolusi perjalanan manusia tidak hanya soal seleksi alam ‘begitu saja’, tetapi juga melibatkan elan vital atau energi hidup yang akan ikut ambil bagian dalam respon manusia terhadap bermacam situasi yang terus berubah. Bermacam situasi yang kongkret dialaminya. Termasuk menggunakan daya persepsi, daya berpikirnya, dan akhirnya juga menjadi lebih kreatif. Katakanlah, tidak sekedar soal ‘natur’ tetapi juga ‘nurtur’. Atau kalau memakai pembedaan Freud seperti sudah disinggung di atas, manusia juga punya kesempatan untuk memaksimalkan ego (berdasarkan ‘prinsip realitas’ atau reality principle) dan super-egonya (berdasarkan ‘prinsip moralitas’ atau morality principle).
Jika menurut Toynbee peradaban adalah juga soal respon dan tantangan, dari apa yang sudah dijalani republik selama lebih dari 10 tahun terakhir ini dapat kita rasakan bahwa ‘manusia apa adanya’ itu adalah juga ‘tantangan’. Peradaban akan mengalami keretakan besar ketika ‘manusia apa adanya’ dengan bagian terbesarnya adalah ‘prinsip kesenangan’ mengambil alih hidup bersama dengan ugal-ugalan. Ugal-ugalan karena ‘prinsip realitas’ dan ‘prinsip moralitas’ telah dipinggirkan secara telak. Check and balances diingkari dengan tanpa beban lagi. Mbudeg.
Dalam komunitas dengan power distance tinggi, pemimpin bisa-bisa menjadi semacam ‘axis mundi’ dalam hidup bersamanya. Banyak yang akan ‘menyesuaikan diri’ terkait dengan ‘gaya’ pemimpinnya. Atau yang akan ditirunya. Dan bukan kata-kata yang pertama-tama akan ditiru atau didengar, tetapi segala hasrat yang sering sadar atau tidak, menampakkan diri dalam bahasa tubuh. Ketika hasrat yang menampakkan diri lebih muncul dari kubangan id, itu juga yang akan ‘ditiru’. Bertahun terakhir, hasrat akan hal-hal besar (dan itu jelas menyenangkan) seakan telah menjadi lokomotif dari munculdan ugal-ugalannya hasrat-hasrat yang lekat dengan segala ‘prinsip kesenangan’. Tanpa sadar, dunia tidak sadar itu telah tereksploitasi sedemikian rupa sehingga dunia nalar dan moral (juga hati nurani) tanpa beban lagi dicampakkan dengan brutalnya. Ketika keberpikiran dan suara hati terus saja dipinggirkan dan dalam waktu bersamaan eksploitasi ke-tidak-sadar-an dengan ‘prinsip kesenangan’ dalam bermacam bentuknya itu terus saja berlangsung, jaman Nazi telah memberikan pelajaran pada kita, fasisme-lah ujungnya. *** (03-03-2026)
[1] https://www.youtube.com/watch?v=1jyjJTQ8AGA&t=10s, menit 42:35 – 43:09
