1905. Selancar Tandem?

10-03-2026

Yang sukses dalam (politik) berselancar di atas ‘gelombang globalisasi’ adalah Deng Xiao Ping. Suka atau tidak. Memang ada yang menyebut bahwa ketika neoliberalisme naik di atas panggung dunia melalui Thatcher dan Reagen, terjadilah (atau semakin membesar) ‘gelombang globalisasi kedua’. Gelombang globalisasi pertama disebut terjadi di sekitar tahun-tahun UU Agraria jaman Hindia Belanda itu ditetapkan. Jadi memang globalisasi itu lekat dengan arus modal, bukan semata hanya soal modus komunikasi. Ketika tanda-tanda jaman memperlihatkan bagaimana arus modal ‘minta jatah dengan brutal’ melalui cerita kaum neolib itu, Deng Xiao Ping berselancar di atasnya sekaligus membuka ‘tirai bambu’-nya. Brutal, lihat apa yang terjadi dengan Tembok Berlin, dan USSR. Juga jatuhnya para ‘diktator’ yang menghambat lancarnya arus modal dalam rentang waktu ‘gelombang globalisasi kedua’ tersebut. Atau ‘pesan brutal’ terkait dengan kudeta Allende di Cile, tiga tahun sebelum Deng Xiao Ping naik berkuasa. Dan Deng Xiao Ping ternyata berhasil dalam berselancarnya.

Masalahnya, bagaimana Ketua Deng bisa berhasil? Yang jelas bagaimana Deng Xiao Ping berselancar itu bukanlah sebuah ‘selancar tandem’. Bagaimana ia harus berhadapan dulu dengan Gang of Four sebelum mulai berselancar. Meski berbadan kecil, Deng Xiao Ping bukanlah pengecut, ia tahu dan berani harus berhadapan dengan siapa dulu. Coba bayangkan jika berselancar di atas gelombang bersama Jiang Qing? Bisa-bisa ia justru tenggelam di telan besarnya ombak.

Selancar tandem memang dimungkinkan. Tetapi jelas tidak ada ‘ketegori’ selancar ‘matahari kembar’. Meski harus berselancar tandem, tetapi yang pegang ‘navigasi’ tetap hanya satu, dan lainnya ikut saja. Menyesuaikan diri dalam segala keseimbangannya. Atau juga bagaimana dalam akrobatiknya. Dan itu perlu latihan panjang, lebih lama dibanding dengan selancar ‘solo’ atau sendirian. Soekarno-Hatta berhasil berselancar-tandem melalui jalan panjang dan dalam nuansa suasana kebatinan sama. Maka meski dalam penampakan ‘tandem’, mereka berselancar di atas gelombang perang dunia kedua yang mengakibatkan adanya rantai terlemah imperialisme itu, mereka adalah satu dalam berselancar saat itu. Jadi sebenarnya memang bukan ‘selancar tandem’, apalagi ‘selancar matahari kembar’.

Maka hati-hati ketika mau main ‘politik selancar’. Ada syarat mutlak dan mencukupi dalam ‘permainan’ itu. Syarat mutlaknya, pastikan itu bukan ‘selancar matahari kembar’. Bahkan jika ‘selancar tandem’-pun, ke-tandem-an itu perlu waktu bertahun-tahun untuk teruji. Selain itu dalam kualitas diri peselancarnya, perlu ada bagian yang memperhatikan dengan serius terkait dengan apa-apa yang sedang dipertaruhkan. Bukan hanya diri yang akan tenggelam jika gagal, tetapi ratusan juta nyawa ikut dipertaruhkan. Ratusan jiwa itu jelas jauh lebih berharga dibanding ketika ia dihujat dari kanan kiri saat berselancar itu. Maka jika mau menjalankan ‘politik berselancar’, belajarlah dari Deng Xiao Ping atau juga Bung Karno-Hatta. Jika tidak maka ketika berpolitik-selancar itu, seakan-akan hanya sedang memperlihatkan asyiknya ‘keindahan’ saja, padahal yang dipertaruhkan sangat-sangat-sangat besar. Kesediaan untuk dihina, dihujat itu hanyalah bagian kecil saja dari segala nasib ratusan juta rakyat. ‘Selancar matahari kembar’ itu ternyata terbukti telah mempertaruhkan nasib ratusan juta rakyat di bibir jurang krisis, dengan ancaman akan semakin miskin saja. Semakin menderita dalam bermacam bentuknya. Penuhi dulu ‘syarat-syarat berselancarnya’, baru bolehlah bicara soal ‘indahnya politik berselancar’. Apalagi gelombang yang sedang jadi ajang berselancar itu menggendong juga watak ketidak-pastian tinggi. Selancar tandem apalagi selancar matahari kembar akan sangat-sangat beresiko. Akan menjadi mudah terjerembab dan tenggelam dalam gelombang besar itu. *** (10-03-2026)

1906. Biaya-biaya Kasus Ijazah Palsu

12-03-2026

Ketika mulai kuliah di Fakultas Kedokteran 41 tahun lalu, istilah evidence-based medicine belumlah dikenal. Sekarang ketika bicara soal pendidikan dokter akan selalu bertemu dengan istilah tersebut. Tetapi apapun itu, tujuannya adalah sama, bagaimana menemukan ‘kebenaran’ yang dihadapi oleh pasien, atau masyarakat dalam konteks kesehatan masyarakat, misalnya. ‘Kebenaran’ itu kemudian diberi nama sebagai ‘diagnosis’ atau bisa juga ‘diagnosis sementara’. Juga dipikirkan adanya kemungkinan ‘kebenaran-kebenaran’ lain atau differential diagnosis. Bahkan jika perlu dimintakan second opinion terhadap diagnosis. Maka memang tidak mudah bahkan bisa-bisa mahal untuk mendekati ‘kebenaran’ itu. Termasuk juga ketika ‘kebenaran’ itu didekati melalui inter-subyektifitas sebagai ‘bagian lanjutan’ dari rute the truth of disclosure. Contoh berbulan-bulan ini, bagaimana the truth of correctness terkait penelitian keaslian sebuah ijazah misalnya, yang berkesimpulan atau ter-diagnosis bahwa 99,9% ijazah itu palsu ketika terlibat dalam the truth of disclosure menjadi panjang urusannya, dan sebenarnya juga mahal. Berapa biaya harus dikeluarkan dari pihak yang membela kepentingan supaya ijazah itu disebut asli? Juga berapa ‘biaya sosial’ khalayak kebanyakan harus menanggungnya? Bahkan ruang pengadilan yang semestinya juga evidence-based itu justru menjadi carut marut, jelas sebuah ‘biaya’ yang tidak kecil. Prosedurpun diacak-acak semau-maunya. Keadilan melayang entah dimana.

Pelajaran dari beberapa hal di atas adalah, baik melalui rute the truth of correctness ataupun the truth of disclosure kita sedang diberitahu bahwa ternyata banyak yang belum kita ketahui. Tidak hanya itu, the truth itupun bisa-bisa akan menghadapi tantangan tidak kecil, bahkan bisa sampai kebrutalan-lah yang akan dihadapi. Baik kebrutalan dari ranah kekuatan kekerasan, pengetahuan, maupun uang. Terlebih ketika kegilaan bermacam hasrat sudah sampai ubun-ubun. Mengapa ‘pencarian kebenaran’ itu penting? Karena itu akan terkait erat dengan ‘kemajuan’, yang dalam hal ini bisa dihayati sebagai ‘memajukan horison’. Di antara kita ‘berdiri’ dan ‘batas horison’ akan banyak kemungkinan hadir, dan ketika kemungkinan-kemungkinan itu semakin tersingkap melalui bermacam rutenya, tiba-tiba horizon juga ‘dimajukan’ dan bermacam ‘tambahan’ kemungkinanpun akan hadir. Atau bahkan bagi sementara pihak, menjadi semakin berani untuk ‘menembus batas’ dan masuk dalam segala ketidak-pastian di seberang horizon. Kadang ‘sementara pihak’ ini disebut sebagai ‘minoritas kreatif’. Maka hadirnya ‘minoritas kreatif’ itupun sebenarnya tidak di ruang kosong, ia akan ‘dilahirkan’ ketika dinamika dari khalayak kebanyakan ‘mendukung’ kelahirannya. Ke-organikan dari ‘intelektual organic’ teruji dalam hal ini. Tetapi adanya ‘intelektual tradisional’ tidaklah akan terhayati sebagai ‘alien’ meski perlu waktu untuk itu, terlebih dengan berkembangnya modus komunikasi mass-to-mass seperti sekarang ini, ke-alien-nya bisa semakin mudah terkikis. Masyarakat pembelajar itu bisa belajar dari bermacam arah.

Apa yang mau dikatakan di sini akan semakin jelas ketika kita memakai ‘tahap-tahap kebudayaan’-nya Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan. Jika kita mengambil contoh proyek makan gratis dan koperasi desa, maka itulah contoh telanjang dari operasionalisme, bablasan dari ‘tahap fungsionil’. Bahasanya sebenarnya adalah bahasa pragmatism ugal-ugalan. Dan dapat dilihat dengan telanjang pula bagaimana ‘tahap ontologis’ seakan dilewati begitu saja. Atau memperlakukan tahap ontologis dalam dunia bablasannya sehingga tidak mau mendengar. Katakanlah dilihat sebagai yang asyik bicara saja tanpa mau bertindak, asyik mengajukan kritik tetapi tidak memberikan solusi. Makanya: mbudeg. Maka tak mengherankan pula kemudian merasa bahwa khalayak kebanyakan itu (telah) ada dalam genggaman, akan tersihir habis-habisan dengan segala tebaran cerita, masuklah dalam bablasan ‘tahap mitis’: magis.

Magis-mbudeg-operasionalisme kemudian menjadi unholy-trinity bagi khalayak kebanyakan. Karena akhirnya yang hadir di depan mata adalah laku semau-maunya. Dengan kekayaan republik maka ‘yang semau-maunya’ itu akan memberikan bermacam kenikmatan paripurna tanpa ujung lagi. Tidak ada puas-puas-nya. Tanpa batas. Dan kita kembali ingat pendapat Hobbes bahwa hasrat akan kuasa itu tidak hanya akan dibawa sampai ajal menjemput, tetapi juga soal mengamankan atau mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya. Pembedaan bermacam oligarki menurut Jeffrey Winters berangkat dari ini. Dan untuk ‘mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya’ itu, terlebih ketika diperoleh lebih melalui segala ‘jalan gampang’, maka ‘apa saja’ akan dilakukan. Apa saja. Tulisan ini didorong oleh berita terkait Rismon Suanipar yang dikabarkan memilih jalan ‘mundur’ dalam konteks penyingkapan kasus ijazah palsu (dan surat keterangan kesetaraan abal-abal). Menghadapi kebrutalan kekuatan kekerasan, pengetahuan, dan uang setiap orang akan berbeda satu sama lain. Wajar-wajar saja. Tetapi apapun itu, sampai pada titik sekarang ini, apa yang dilakukan oleh Rismon (dan Roy, Tifa, dan lainnya) telah banyak membuka mata publik dan memberikan pelajaran sungguh berharga. Tidak mudah menghadapi kebrutalan ini, terlebih jika di belakangnya ada yang begitu takut terhadap efek domino ketika kasus ijazah palsu (dan surat keterangan kesetaraan abal-abal) itu semakin tersingkap. Tidak hanya efek domino terhadap keruntuhan mereka, tetapi juga efek domino dari kebangkitan sebuah perlawanan. Perlawanan dari ‘masyarakat pembelajar’. Tidak mudah melawan magis-mbudeg-operasionalisme ini, lihat bagaimana upaya tanpa lelah dari seorang Paulo Freire, misalnya. *** (12-03-2026)

1907. Dunia Ketiga

13-03-2026

Apakah kita kemudian membuang ke tempat sampah buku-buku Nietzsche setelah tahu bahwa di bagian akhir hidupnya ia mengalami gangguan mental berat? Katakanlah gila? Atau buku seorang filsuf yang mengidap sifilis berulang? Atau komposisi yang dibuat seorang maestro yang di kemudian hari kehilangan pendengarannya? Banyak karya-karya, apapun itu, dibuat dan pembuatnya yang dikemudian hari jatuh dalam ‘dunia gelap’. Atau apakah kita menjadi alergi terhadap karya Richard Wagner karena karya-karyanya jadi favorit Hitler? Tentu semua contoh di atas adalah juga pilihan bebas kita. Artinya, bagaimana kita akan menghayati apa-apa yang sudah dilempar dalam ‘dunia ketiga’ semuanya terserah pada kemampuan dan kemauan (bebas) kita. Atau bagaimana dengan adanya larangan membaca Karl Marx karena adanya tafsir ugal-ugalan setelahnya yang membuat sejarah menjadi banyak bercak hitam di sana sini?

Karl Popper membedakan tiga ‘dunia’, ‘dunia pertama’ adalah dunia fisik, macam-macam dari batu, bangunan, bumi, manusia, binatang dst. Beserta dinamika di dalamnya. ‘Dunia kedua’ adalah proses mental dalam diri kita, bagaimana kita menafsir atau menghayati ‘dunia pertama’ itu. Dan sebenarnya juga ‘dunia ketiga’, dimana ‘dunia ketiga’ adalah dunia dimana bermacam aktifitas berpikir manusia ‘dilempar’ di dalamnya. Ketika aktifitas manusia dalam berpikir atau kita bisa berbicara juga soal budaya, terlempar di dunia ketiga, maka ia akan menjadi hal yang dinamis, dan bukan sebuah ‘idée fixe’. Katakanlah ia akan juga merupakan sebuah tesis-anti tesis-sintesis dimana sintesis selalu sementara sifatnya. Atau ia juga siap menghadapi error elimination jika diperlukan. Artinya, apa-apa yang sudah masuk dalam ‘dunia ketiga’ itu memang harus siap diuji dan diuji ulang. Bahkan jika itu adalah sebuah janji-janji kampanye yang terucap atau tertulis. Di uji ulang dengan hati-hati dan teliti dalam hubungannya dengan ‘dunia kedua’ dan ‘dunia pertama’, realitas obyektif yang berkembang.

Pierre Bourdieu pernah mengaatakan bahwa tindakan manusia itu akan dipengaruhi oleh capital, ranah, dan habitus. Capital atau modal di sini lebih pada modal sosial atau juga modal simbolik. Ranah misalnya (ranah) rumah sakit akan menempatkan para dokter itu ada dalam capital (simbolik) tertinggi. Dalam ranah perguruan tinggi atau sekolah, akan lain. Dengan sudah berkembangnya habitus tertentu, itu semua akan mempengaruhi bagaimana akhirnya kita akan bertindak. Tulisan ini didorong oleh yang sedang hangat akhir-akhir ini, terkait dengan berita-berita soal Rismon Sianipar. Bagaimana semestinya kita bersikap? Atau bertindak?

Salah satu pertanyaan adalah, kita sedang bicara dalam ranah apa? Tentu dalam praktek keseharian sering tidak jelas batas-batasnya, tetapi bagaimana jika kita bayangkan dulu batasnya jelas, ranah sains misalnya. Jika kita mengikuti paparan Rismon terkait dengan kasus ijazah palsu itu (dan juga tentu Roy Suryo dan Tifa), berbulan-bulan mereka (termasuk Rismon) selalu konsisten bicara dalam ranah sains. Dan banyak ilmu yang kita bisa belajar dari mereka, apapun ‘gaya’ penyampaian mereka itu. Terlebih ketika mereka bicara dalam sidang CLS di Surakarta itu, sebagai saksi ahli. Tanpa disadari perlahan banyak kalangan menjadi semakin diperkaya pengetahuannya. Lihat misalnya soal font Times New Roman yang terlibat dalam dokumen-dokumennya. The truth of correctness yang akan sangat lekat dengan koherensi misalnya, tiba-tiba membantu kita dalam menghayati betapa ugal-ugalannya kasus ijazah palsu itu. Sains yang sudah lama seakan terpinggirkan dalam ruang publik seakan kembali hadir lagi, dan: selamat datang!

Ilmu ekonomi doeloe masuk dalam ‘ranah’ filsafat, maka tak mengherankan seperti Adam Smith misalnya, akan ‘terampil’ bicara juga soal filsafat. Tetapi hidup bersama semakin berkembang, dan bermacam ‘ranah’ atau ‘panggung pertunjukan’ itu semakin beragam. Tidak hanya semakin beragam, tetapi hidup bersamapun semakin terampil juga dalam menghayati bermacam ranah itu. Semestinya. Maka jika boleh menyarankan, jangan sampai dihapus ranah sains ini meski hebohnya Rismon akan semakin menghangat. Mungkin saja ada yang sedang bermain kill the messenger, tetapi bagaimanapun massage-nya sudah terlempar dalam ‘dunia ketiga’. Maka mendalami apa-apa yang sudah dilempar terlebih yang berasal dari Rismon (karena kasus terakhir ini), lakukan uji ulang dan uji ulang, bahkan penegasan-penegasan jika perlu. Tentu masih banyak ahli yang mampu berpikir saintifik seperti Rismon, telaah dan kembangkanlah. Jika perlu ada error elimination, lakukan dan lakukan. Jika secara saintifik apa yang pernah disampaikan Rismon mempunyai koherensi kuat misalnya, maka jangan sungkan diterima kalau perlu ditegaskan lagi, atau bahkan diperkuat. Bahkan jika suatu saat harus berhadapan dengan Rismon sekalipun. Tidak masalah, karena ranahnya memang ranah sains. Jangan sampai kill the messenger itu juga sekaligus menjadi shift the field, ranahnya (field) mau-mau saja digeser. Sebab jika ranah digeser bisa-bisa pemegang ‘capital (simbolik)’-nya juga akan ganti. Marah, kecewa, atau apapun itu tentu sangat-sangat wajar, tapi jangan sampai kehilangan focus. Tumbang satu, tumbuh seribu. *** (13-03-2026)

1908. Res-brutalis

14-03-2026

Dari bermacam pemberitaan kita bisa menjadikan Haiti sebagai salah satu contoh res-brutalis, terlebih jika latar belakang kekuatan kekerasan yang digelar. Kekerasan dengan bahasa tubuh brutal sungguh telanjang masuk dalam pemberitaan. Tetapi kebrutalan tidak hanya ada di ranah kekuatan kekerasan, ia juga ada di ranah kekuatan uang dan kekuatan pengetahuan, dua hal yang dibongkar Marx sekitar 150 tahun lalu: brutalnya perampokan ‘nilai lebih’ dan ‘eksploitasi’ kesadaran palsu, diantaranya. Tetapi Marx juga menunjukkan dari mana ‘sumber’ dari segala sumber kebrutalan itu, yaitu dari relasi-relasi kekuatan produksi di ‘basis’. Lihatlah kebrutalan di ranah ‘kekuatan uang’ maka kebrutalan di ranah pengetahuan dan kekerasan itu akan lebih terjelaskan, demikian kurang lebihnya. Atau bayangkan kebrutalan apa yang akan dilahirkan dari brutalnya laku korupsi yang akhirnya mengantarkan sebagai paling korup nomer 2 di dunia! Apa yang akan dilakukan untuk mempertahankan segala kenikmatan yang sudah diperoleh sebagai paling korup nomer 2 di dunia? Carut marut dalam dunia makan gratis saja sudah melahirkan terror bagi pengkritiknya yang BEM UGM itu. Brutal.

Bayangkan jika ‘nilai lebih’ yang dirampok secara ugal-ugalan tidak hanya berhenti pada buruh, tetapi seluruh negara-bangsa (lihat juga, ‘ranah’ modus akumulasi-nya accumulation by dispossession-nya David Harvey). Dan juga bagaimana eksploitasi ‘kesadaran palsu’ itu sudah sampai pada level tertingginya, tanpa beban, tanpa sungkan, sama sekali tidak peduli terhadap kerusakan yang harus ditanggung oleh republik. Negara-bangsa akhirnya mengarah hanya menjadi semacam ‘habitat’ saja bagi segala laku brutal. Hal timbang-menimbang dunia animal rationale menjadi semakin melenyap dipinggirkan secara telak oleh gejolak segala hasrat gelap. Brutal adalah serapan bahasa asing yang dari asal katanya memang dekat dengan perilaku ke-binatang-an. Sebagai sebuah ‘habitat’ yang sudah di-normal-kan untuk laku-laku brutal, untuk laku-laku yang dekat dengan perilaku binatang.

Jeffrey Winters membayangkan beberapa tipe oligarki, oligarki panglima, oligarki penguasa kolektif, oligarki sultanistik, dan oligarki sipil. Perbedaan jika berangkat pada pendapat Hobbes adalah pada bagaimana cara-cara mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya. Bagaimana power digunakan untuk tujuan di atas. Dan semakin nampak bahwa pergeseran dari oligarki penguasa kolektif ke (maunya) oligarki sultanistik bisa berlangsung dengan begitu panas dingin. Di satu sisi ada upaya juga bagi masyarakat sipil untuk menggeser menjadi oligarki sipil, dimana menurut Winters ini akan diback-up oleh penyelenggaraan hukum yang kuat dan profesional. Menurut Winters, oligarki ‘era reformasi’ lebih pada oligarki penguasa kolektif, sedangkan sebelumnya lebih pada oligarki sultanistik.

Maka kebrutalan bisa-bisa karena adanya dinamika dimana ada yang mau menggeser dari oligarki penguasa kolektif ke oligarki sultanistik. Bagi kaum oligark penguasa kolektif, mempertahankan apa-apa yang sudah diperoleh dan mencegah sik-(calon) sultan adalah ‘satu paket’. Macam-macam caranya. Bagaimana dengan upaya khalayak kebanyakan yang berupaya untuk menggeser menjadi oligarki sipil yang ‘taat hukum’? Hal di atas tidak hanya soal ‘mempertahankan apa-apa yang diperoleh’ tetapi juga soal bagaimana ‘pendapatannya’. Soal pendapatan diperoleh, baik oligarki penguasa kolektif dan oligarki sultanistik sebenarnya tidaklah jauh berbeda, maka jika itu diusik oleh ‘ketaatan hukum’ jadilah khalayak kebanyakan yang mengusahakan ‘oligarki sipil’ itu tidak hanya sebagai sik-pelanduk, tetapi juga kambing hitam. Kebrutalan-lah yang akan dihadapi, dari waktu ke waktu. Res-publika akhirnya menjadi res-brutalis. Bukan kebrutalan atau aksi tingkat ‘dewa’, tetapi aksi tingkat binatang-lah yang merebak. *** (14-03-2026)

1909. Bukan Kapal

14-03-2026

Bermacam metafora bisa digunakan untuk menggambarkan sebuah negara-bangsa. Pada kesempatan ini bukan metafora kapal, bukan juga Leviathan, tetapi meminjam pemikiran Platon, Alegori Kereta. Kereta dalam hal ini menggambarkan polis jaman Platon, atau katakanlah juga sebuah negara-bangsa. Alegori Kereta berangkat dari pembedaan Platon terkait dengan tripartite jiwa. Digambarkan dalam Alegori Kereta, sebuah kereta dengan sayap di kanan-kiri dan ditarik dua ekor kuda, kuda putih dan kuda hitam. Ada juga sais yang menggambarkan kekuatan nalar atau rasio. Kuda putih menggambarkan hasrat akan kehormatan, dan kelas serdadu ada di situ. Kuda hitam menggambarkan hasrat perut ke bawah, makan, minum, seks, dan terutama hasrat akan uang. Karakter kuda putih cenderung untuk lebih mudah ikut arahan sais, sebaliknya kuda hitam maunya semau-maunya sendiri. Energinyapun meledak-ledak, dan sayangnya maunya meluncur ke bawah saja. Sayap kanan kiri adalah sebuah energi-semangat hidup, atau katakanlah sebuah elan vital. Kereta semestinya selalu ke arah ‘atas’, mendekati kebaikan dewa-dewa. Atau bisa dibayangkan selalu mendekati apa yang menjadi cita-cita hidup bersama, atau katakanlah cita-cita Proklamasi. Dan tentu saat ‘terbang ke atas’ itu tidaklah mulus-mulus saja, baik karena masalah ‘internal’, misal terkait dengan karakter sik-kuda hitam itu, atau memang kadang ada badai menghadang.

Jeffrey Winters membayangkan beberapa tipe oligarki, oligarki panglima, oligarki penguasa kolektif, oligarki sultanistik, dan oligarki sipil. Jika memakai Alegori Kereta Platon ini, bisa dibayangkan bahwa oligarki panglima dan penguasa kolektif itu, peran sais lebih pada atau digantikan oleh sik-kuda hitam. Oligarki sultanistik, biasanya saisnya adalah sik-kuda putih. Sedangkan oligarki sipil dengan modal utama hukum yang memang mak-nyus, sais-lah yang pegang kendali, sais yang menggambarkan kekuatan nalar. Elan vital yang melekat pada sayap di kanan-kiri kereta, semestinya lekat dengan ‘hal-hal baik’. Atau bayangkan juga bahwa setiap diri itu akan juga punya (suara) hati nurani. Kolaborasi sayap dengan sais jika kita memakai imajinasi Henry Bergson, maka creative evolution akan menjadi semakin besar potensinya untuk berkembang.

Meski banyak perkembangan setelah Freud, pembedaan ego, super-ego, dan id sedikit banyak bisa membantu untuk membuat ‘peta masalah’ selain Alegori Kereta di atas. Dari Freud kita bisa menghayati bagaimana id yang lebih mendasarkan diri pada ‘prinsip kesenangan’ memang merupakan bagian besar dari kesadaran kita. Layaknya seperti kuda hitam yang mempunyai energi meledak-ledak. Apa yang disebut ego yang berdasar ‘prinsip realitas’ -makanya perlu nalar kuat, ternyata hanyalah puncak gunung es dari ‘kesadaran diri’. Ego bisa kita bayangkan sebagai sais dalam Alegori Kereta-nya Platon di atas. Bagaimana dengan super-ego yang berdasarkan ‘prinsip moralitas’ itu? Ataukah bisa kita bayangkan sebagai ‘kuda putih’? Karena karakter kuda putih itu lebih bisa manut atau ikut arahan dari sais maka bisa saja ia dilatih seakan berperan sebagai super-ego. Mark Miley komandan staf gabungan AS pada suatu saat ‘meralat’ peristiwa yang menempatkan ia berfoto bareng dengan presiden Trump di tengah-tengah bermacam demonstrasi merebak. Ada ‘prinsip moralitas’ yang dipegang kuat sehingga ia (Mark Miley) tidak mau tentara ikut-ikutan dalam politik praktis. Yang pada dasarnya mempunyai ‘prinsip moralitas’ sebenarnya adalah sayap-sayap di kanan-kiri kereta dalam Alegori Kereta-nya Platon itu. Sayap-sayap yang akan memberikan ‘energi hidup’ tidak hanya pada kereta tetapi juga khususnya sais. Maka bagaimana jika sayap-sayap itu patah?

Maka ketika kereta mau ‘naik ke atas’, atau katakanlah kapal berlayar pada tujuan cita-cita Proklamasi, itu bukan hanya soal bagaimana menghadapi badai atau gelombang pasang, tetapi adalah juga bagaimana soal ‘internal’ kereta atau kapal ‘dikelola’. Atau kata Sun Tzu, if you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles. *** (14-03-2026)