10-03-2026
Yang sukses dalam (politik) berselancar di atas ‘gelombang globalisasi’ adalah Deng Xiao Ping. Suka atau tidak. Memang ada yang menyebut bahwa ketika neoliberalisme naik di atas panggung dunia melalui Thatcher dan Reagen, terjadilah (atau semakin membesar) ‘gelombang globalisasi kedua’. Gelombang globalisasi pertama disebut terjadi di sekitar tahun-tahun UU Agraria jaman Hindia Belanda itu ditetapkan. Jadi memang globalisasi itu lekat dengan arus modal, bukan semata hanya soal modus komunikasi. Ketika tanda-tanda jaman memperlihatkan bagaimana arus modal ‘minta jatah dengan brutal’ melalui cerita kaum neolib itu, Deng Xiao Ping berselancar di atasnya sekaligus membuka ‘tirai bambu’-nya. Brutal, lihat apa yang terjadi dengan Tembok Berlin, dan USSR. Juga jatuhnya para ‘diktator’ yang menghambat lancarnya arus modal dalam rentang waktu ‘gelombang globalisasi kedua’ tersebut. Atau ‘pesan brutal’ terkait dengan kudeta Allende di Cile, tiga tahun sebelum Deng Xiao Ping naik berkuasa. Dan Deng Xiao Ping ternyata berhasil dalam berselancarnya.
Masalahnya, bagaimana Ketua Deng bisa berhasil? Yang jelas bagaimana Deng Xiao Ping berselancar itu bukanlah sebuah ‘selancar tandem’. Bagaimana ia harus berhadapan dulu dengan Gang of Four sebelum mulai berselancar. Meski berbadan kecil, Deng Xiao Ping bukanlah pengecut, ia tahu dan berani harus berhadapan dengan siapa dulu. Coba bayangkan jika berselancar di atas gelombang bersama Jiang Qing? Bisa-bisa ia justru tenggelam di telan besarnya ombak.
Selancar tandem memang dimungkinkan. Tetapi jelas tidak ada ‘ketegori’ selancar ‘matahari kembar’. Meski harus berselancar tandem, tetapi yang pegang ‘navigasi’ tetap hanya satu, dan lainnya ikut saja. Menyesuaikan diri dalam segala keseimbangannya. Atau juga bagaimana dalam akrobatiknya. Dan itu perlu latihan panjang, lebih lama dibanding dengan selancar ‘solo’ atau sendirian. Soekarno-Hatta berhasil berselancar-tandem melalui jalan panjang dan dalam nuansa suasana kebatinan sama. Maka meski dalam penampakan ‘tandem’, mereka berselancar di atas gelombang perang dunia kedua yang mengakibatkan adanya rantai terlemah imperialisme itu, mereka adalah satu dalam berselancar saat itu. Jadi sebenarnya memang bukan ‘selancar tandem’, apalagi ‘selancar matahari kembar’.
Maka hati-hati ketika mau main ‘politik selancar’. Ada syarat mutlak dan mencukupi dalam ‘permainan’ itu. Syarat mutlaknya, pastikan itu bukan ‘selancar matahari kembar’. Bahkan jika ‘selancar tandem’-pun, ke-tandem-an itu perlu waktu bertahun-tahun untuk teruji. Selain itu dalam kualitas diri peselancarnya, perlu ada bagian yang memperhatikan dengan serius terkait dengan apa-apa yang sedang dipertaruhkan. Bukan hanya diri yang akan tenggelam jika gagal, tetapi ratusan juta nyawa ikut dipertaruhkan. Ratusan jiwa itu jelas jauh lebih berharga dibanding ketika ia dihujat dari kanan kiri saat berselancar itu. Maka jika mau menjalankan ‘politik berselancar’, belajarlah dari Deng Xiao Ping atau juga Bung Karno-Hatta. Jika tidak maka ketika berpolitik-selancar itu, seakan-akan hanya sedang memperlihatkan asyiknya ‘keindahan’ saja, padahal yang dipertaruhkan sangat-sangat-sangat besar. Kesediaan untuk dihina, dihujat itu hanyalah bagian kecil saja dari segala nasib ratusan juta rakyat. ‘Selancar matahari kembar’ itu ternyata terbukti telah mempertaruhkan nasib ratusan juta rakyat di bibir jurang krisis, dengan ancaman akan semakin miskin saja. Semakin menderita dalam bermacam bentuknya. Penuhi dulu ‘syarat-syarat berselancarnya’, baru bolehlah bicara soal ‘indahnya politik berselancar’. Apalagi gelombang yang sedang jadi ajang berselancar itu menggendong juga watak ketidak-pastian tinggi. Selancar tandem apalagi selancar matahari kembar akan sangat-sangat beresiko. Akan menjadi mudah terjerembab dan tenggelam dalam gelombang besar itu. *** (10-03-2026)