1910. Rapat 2026
15-03-2026
AH: Hutang luar negeri masih rendah 29,9 persen dari PDB per hari ini
PS: Maaf maaf 29 atau 39
AH: 29,9 persen
PS: Menurun ya
AH: Di bawah 30 persen pak kondisi per hari ini
PS: Ini menurun ya ..
[..]: (Luar negeri itu pak itu)
AH: Hutang luar negeri saja pak
PS: Kalau … kalau
AH: Di luar uang yang diambil dari dalam negeri
PS: Kalau jadi satu berapa
AH: 40 persen pak
PS: Masih salah satu terendah di dunia
AH: Masih pak, terendah
Dst.




1911. Berkelanjutan? MBG Behind the Scene
15-03-2026
Kapan Badan Gizi Nasional (BGN) dibentuk? BGN dibentuk pada 15 Agustus 2024 melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional. Saat itu presidennya masih Joko Widodo. Sedangkan kepala BGN, Dadan Hindayana dilantik oleh presiden Joko Widodo pada 19 Agustus 2024 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 94P Tahun 2024. Dadan Hindayana sendiri saat itu adalah juga dosen IPB, mengajar di Program Studi Entomologi. Jadi Dadan memang bukan ahli gizi, tetapi ahli serangga.
Mengapa hal di atas perlu diingatkan? Supaya dalam melihat bermacam carut-marut pelaksanaan MBG termasuk ngototnya pemerintah saat ini dalam proyek tersebut, bisa menjadi lebih teliti dan semakin tersingkap apa yang sebenarnya behind the scene proyek MBG ini. Terimakasih. *** (15-03-2026)


1912. Brutal Permanen?
16-03-2026
Tulisan ini didorong oleh kekhawatiran anak-anak kita, generasi penerus bangsa akan selalu menghadapi kebrutalan yang sudah sangat telanjang bertahun terakhir. Jangan sampai kebrutalan bertahun terakhir ini menjadi permanen, atau katakanlah mengalami pe-normal-an habis-habisan, dan kemudian -mau tidak mau, harus menjadi bagian keseharian anak-anak kita. Ada dua hal perlu dipertimbangkan terkait dengan kebrutalan ini, pertama pendapat Thomas Hobbes (1588-1679) dalam Leviathan yang mengatakan bahwa hasrat akan kuasa pada manusia itu tidak hanya dibawa sampai mati, tetapi juga untuk mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya. Kedua dari Karl Marx (1818-1883) yang mengatakan bahwa superstruktur itu akan sangat dipengaruhi oleh ‘basis’.
Yang dimaksud dengan ‘basis’ adalah relasi-relasi produksi dan kekuatan-kekuatan produksi. Maka pertanyaannya adalah, bagaimana jika yang dominan di ‘basis’ adalah kapitalisme kroni dan juga rent-seeking activities? Akumulasi yang terjadi tidak hanya melalui ‘akumulasi tradisional’ tetapi juga -menurut David Harvey, accumulation by dispossession? ‘Kultur brutal’ yang ada di suprastruktur atau bangunan atas itu, menurut Marx, akan sangat dipengaruhi oleh dinamika di ‘basis’. Tidak hanya ‘kultur brutal’ tetapi juga politik, dan banyak lagi. Tetapi apa sebenarnya yang di-produksi itu? Kita bisa membayangkan: kekayaan. Maka bisa dikatakan, bagaimana kekayaan itu di-akumulasi atau diproduksi akan menentukan bangunan atas termasuk juga politik, dan ‘kultur brutal’ dalam konteks ini.
Bashar Al-Assad presiden Suriah selama 24 tahun (2000-2024) pada tahun 2024 dinobatkan sebagai tokoh paling korup oleh OCCRP (Organized Crime and Corruption Reporting Project). Dan bagaimana keadaan Suriah selama itu bisa kita lihat dari bermacam pemberitaan. Tentu ada konflik ideologis atau apapun itu, dan tentu pula ada soal perebutan sumber daya. Tetapi bagaimana jika situasi Suriah selama itu adalah juga refleksi dari segala macam upaya untuk ‘mempertahankan apa-apa yang sudah diperoleh’ seperti dikatakan Hobbes di atas? ‘Apa-apa yang sudah diperoleh’ yang akhirnya menempatkan Bashar Al-Assad sebagai yang ter-korup? Maka memang jika kita akan menemui bermacam peraturan pembatasan jabatan di berbagai negara-bangsa, nampaknya berangkat dari ini. Jika tidak dibatasi, selain semakin tergoda akan ‘jalan gampang’ dalam akumulasi kekayaan tetapi lebih penting dari itu, akhirnya akan mau saja (tanpa beban) mempertaruhkan kepentingan hidup bersama demi ‘mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya’ itu. Terlebih lagi (pembatasan) jabatan yang terkait dengan kekuatan kekerasan, yang memegang senjata atau pentungan atau gas air mata. Dari segi dipatuhi bawahan melaui system komando ketat itu adalah ‘kenikmatan’ sendiri. Belum yang lain-lainnya.
Jika Bashar Al-Assad adalah sik-nomor satu dalam dunia OCCRP di atas, bagaimana dengan sik-nomor dua? Akankah melahirkan juga ‘kebrutalan permanen’ yang akan melanjut berpuluh tahun kemudian demi ‘mempertahankan apa-apa yang sudah diperoleh’-nya? Dan akan mempertaruhkan apa saja demi amannya ‘apa-apa yang sudah diperoleh’-nya itu? Dan dunia serta budaya seperti apa yang akan disongsong oleh anak-anak penerus bangsanya? *** (16-03-2026)


1913. Hobi Menghambur-hamburkan Sumber Daya
17-03-2026
Hobi? Bahkan di ruang privat bagi sementara orang itu adalah ‘jalan hidup’, aku mengkonsumsi maka aku ada, demikian kira-kira semboyannya. Tentu jika ada sumber daya melimpah. Tidak hanya itu, tetapi ‘batas’ kemudian juga ditegaskan sebagai kelas tersendiri. Beda. Kelas dengan logika hidup sendiri, termasuk soal ‘jalan hidup’ penghambur-hamburan sumber daya itu. Tetapi bagaimana jika di ruang publik, atau katakanlah ranah kuasa negara terjadi seperti itu? Menghambur-hamburkan sumber daya layaknya jaman kerajaan dimana ada saja raja atau ratu atau kaum bangsawannya yang demen pesta setiap hari, misalnya.
Dan persis di sinilah kita bisa berangkat, terkait pembedaan antara ruang privat dan ruang publik, terlebih di ranah kuasa negara. Dimana dalam bertahun terakhir ketidakmampuan dan ketidakmauan menghayati pembedaan itu, terlebih di ranah kuasa negara membuat carut marutnya hidup bersama. Tentu kita bisa berharap pada kualitas diri yang mampu membedakan mana ranah privat dan ranah publik, tetapi apakah cukup? Terlebih ketika berhadapan pada dinamika perebutan dan pertahankan kekuasaan? Ketika hasrat akan kuasa sudah memuncak bisa-bisa bermacam hal akan ditabrak atas nama ‘politik praktis’. Atau atas nama apapun. Kita bisa mengandaikan bahwa segala dinamika kuasa terutama soal merebut dan mempertahankan kuasa itu ada di ranah id jika memakai pembedaan Freud, id, super-ego, ego. Siapa sik-super-egonya? Bisa dikatakan di sini adalah: partai politik. Egonya? Para intelektual, terutama ‘intelektual organik’.
Mungkin berlebihan melihat polah tingkah partai politik sekitar 50 tahun terakhir dan masih mengatakan bahwa ‘prinsip moralitas’ (super-ego) di ranah negara itu dipegang oleh partai politik. Tetapi dari perjalanan hidup bersama sebenarnya bisa dikatakan pada partai politik-lah kita bisa membayangkan bagaimana ‘rejim monarki’ dan ‘rejim aristokrasi’ dilawan, atau menjadi terbedakan. Partai politik merupakan benteng penting dalam melawan hasrat gelap berkuasanya sik-mono atau bahkan sik-tiran, juga sik-aristo terlebih sik-olig. Sedangkan kaum ‘intelektual organic’ bahkan juga sebenarnya ‘intelektual tradisional’ akan berperan penting untuk membangun benteng perlawanan terhadap serangan bermacam sihir yang akan ditebar oleh sik-mono atau sik tiran, juga sik-olig(arki), dengan pertama-tama membangun benteng ke-berpikir-an.
Atau hal-hal di atas adalah ‘kesibukan’ yang memang harus ‘disempatkan’ sehingga nuansa deterministic dari dinamika ‘basis’ tidak menjadi ugal-ugalan dalam mendikte ‘bangunan atas’ terutama dalam dunia politik ranah kuasa negara. Politik ranah kuasa negara yang diharapkan akan juga berperan dalam ‘pembagian kekayaan’. Maka membuat pemilihan umum se-murah mungkin adalah hal mendasar yang perlu dipikirkan. Dari sini saja, penampakan dan laporan bagaimana anggota KPU memakai private jet mewah sungguh itu adalah kejahatan bagi hidup bersama. Sadar atau tidak. Segera saja audit KPU habis-habisan, termasuk itu Sirekapnya!
Jepang bisa dicontoh bagaimana pembiayaan partai politik dan pengurangan biaya-biaya pemilihan umum dilaksanakan. Termasuk juga bagaimana bermacam upaya sehingga pemilihan bisa lebih ada pada jalur ‘rasional’-nya. Ketika dinamika ‘basis’ berhasil meruntuhkan feodalisme, maka ‘kutukan’ hasrat untuk menjadi sik-mono harus selalu dilawan, termasuk ketika modal tergiur untuk menjadi sik-mono. Ketika kerajaan-kerajaan itu kemudian bergeser menjadi ‘negara kerajaan konstitusional’ maka lihat siapa pengawalnya? Pengawal utamanya adalah: partai politik. Partai politik adalah salah satu upaya penting sehingga yang publik itu tidak digeser dengan semena-mena menjadi yang privat.
Hari-hari ini adalah pelajaran berharga terkait hal-hal di atas. Bermacam penampakan dari perebutan-mempertahankan-penggunaan kuasa ranah negara. Dan sebenarnya itu (terutama dan terutama) berasal dari tidak berfungsinya partai politik seperti seharusnya, terutama dalam hal membawa dan mengembangkan ‘prinsip moralitas’. Bertahun-tahun lalu, ‘petugas partai’ itu berkhianat dan berusaha membangun ‘partai pribadi’-nya sendiri melalui penggunaan kuasa yang ugal-ugalan. Dari pengerahan buzzerRp dan relawan-relawannya, sampai membangun ‘invisible party’ dari yang pegang senjata, pentungan, dan gas air mata itu. Gejolak hasrat akan kuasa dan hasrat untuk mempertahankannya (termasuk apa-apa yang sudah diperolehnya) seakan tidak mengindahkan lagi ‘prinsip-moralitas’ yang ada dalam partai politik yang mengusungnya. Semau-maunya terhadap partai pengusungnya dulu itu, dan jelas: berkhianat. Sumber daya republik kemudian dihambur-hamburkan demi membangun pilar-pilar pertahanan kekuasaan untuk mempertahankan kuasa dan tentu sekaligus apa-apa yang sudah diperoleh. Carut-marut MBG hari-hari ini tidaklah lepas dari ini semua. Juga soal menghambur-hamburkan sumber daya republik itu. Sejak bertahun-tahun lalu.
Maka ketika partai politik mémblé, yang tertinggal adalah kaum ‘intelektual organic’, dan sebenarnya juga kaum ‘intelektual tradisional’. Hanya saja kaum ‘intelektual tradisional’ ini harus didampingi oleh kaum ‘intelektual organik’ terlebih karena soal daya tahan atau staminanya. Terbukti akhir-akhir ini. Disebut kaum intelektual ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan gelar akademik atau pendidikan formal. Jika ada, juga baik-baik saja, tidak masalah dan bisa saja lebih baik juga, jika tidak, ya tidak apa-apa. Intelektual adalah serapan dari bahasa asing, yang dari asal katanya bisa dirunut menggendong juga pengertian "the highest faculty of the mind, capacity for comprehending general truths."[1] *** (17-03-2026)


