09-04-2026
Maka menjadi penting di sini peran oposisi, apapun seperti atau sebagai apa ia akan menampakkan diri. Imajinasi sebagai bahan dasar utama dari ‘keras kepala’ itu memang perlu dicek-ricek oleh imajinasi-imajinasi lain. Karena imajinasi itu bisa berkembang dengan liarnya, bahkan jika kita bicara tentang ideologi. Apalagi utopia. Maka di dalam ideologi, pada dirinya semestinyalah ada bagian yang disebut sebagai kritik-otokritik. Atau kalau memakai istilah si-Bung, ideologi jangan berhenti saja pada romantika, ia perlu terlibat dalam dinamika dan dialektika juga. Jika memakai ‘peta kesadaran’ Freud, suka atau tidak ideologi itu perlahan akan bergeser sehingga letaknya lebih di super ego, yang lebih mendasarkan diri pada ‘prinsip moralitas’. Kritik-otokritik, atau keterlibatan pada dinamika dan dialektika itu akan melibatkan rasio yang ada pada ego, dan lebih mendasarkan diri para ‘prinsip realitas’. Dialektika akan menggelinding berdasarkan dinamika realitas yang berkembang.
Waham adalah kelainan psikiatris dekat-dekat dengan pengertian delusi. Dalam kuliah psikiatri dulu, ada beberapa jenis waham, antara lain waham kebesaran, waham curiga, waham somatic, dan lain-lain. Dan yang mengagetkan atau bikin garuk-garuk kepala, kadang ‘pasien’ dengan waham tertentu, misalnya waham kebesaran itu bisa-bisanya punya ‘pengikut’. Misalnya, ia merasa yakin bahwa ia adalah titisan si-Bung. Dan memang ia kemana-mana suka berpakaian a la si-Bung. Ternyata ada tuh yang percaya, banyak. Dan ketika para ‘pengikut’ ini mau menyambangi rumahnya untuk mendengarkan pidato atau arahan, ternyata si-Bung palsu ini sudah dibawa oleh keluarga ke rumah sakit jiwa, maka perlahan bubarlah para pengikut-pengikutnya itu. Balik kanan pulang ke rumah masing-masing. Ini adalah salah satu contoh bagaimana salah satu bentuk dari ‘keras kepala’ itu bisa-bisa tidak hanya berubah menjadi delusional, tetapi juga bisa menciptakan pengikut-pengikutnya. Contoh paling menghebohkan adalah peristiwa bunuh diri massal pengikut-pengikut Jim Jones di sekitar tahun 1978-an di Guyana.
Keras kepala di urusan privat memang bisa dikatakan silahkan saja, toh dalam rentang pengaruhnya relative ditanggung sendiri akibat-akibatnya. Tetapi di ruang publik, terlebih di ranah kuasa negara? Dimana di ujung sana uang-uang pajak dari warganya menuntut pula sebuah pertanggung-jawaban? Dimana ranah negara mempunyai monopoli dalam penggunaan kekuatan kekerasan? Kalau dicontohkan ke-keras kepala-annya tokoh-tokoh pergerakan dulu untuk kemudian dijadikan ‘legitimasi’ keras kepalanya sekarang, itu beda cuk. Keras-kepalanya saat tokoh-tokoh pergerakan itu terjadi saat ‘perebutan kekuasaan’, beda dengan sekarang, saat ‘penggunaan kekuasaan’. Beda, bahkan Machiavellipun sudah menegaskan, hal merebut dan menggunakan kuasa itu jelas beda. Ketika sudah di rentang waktu ‘penggunaan kuasa’, menurut Machiavelli perlu hadirnya virtue, yang dalam hal ini adalah ketrampilan untuk menghadapi situasi yang bisa saja berubah-ubah. Maka bagaimana virtue seperti dimaksud Machiavelli dalam konteks ini bisa berkembang jika ‘keras kepala’ dan bahkan menjadi ‘kepala batu’? Aèng-aèng saja.
Bagi kaum Machiavellis dari sisi gelapnya, pemimpin semacam ini -keras kepala, cenderung kepala batu, bisa dikatakan adalah ‘makanan empuk’. Dari skema Percobaan Milgram (lihat tulisan sebelumnya, nomer: 1934) cukup disiapkan kaum penjilat dan ‘pengawas’ maka pemimpin seperti ini sebenarnya akan mudah diarahkan, bahkan jika mau ‘dihentikan’-pun akan lebih mudah juga. Karena akhirnya, ke-kepala batu-nya akan ‘membunuh’-nya. Ia akan gagal dan gagal lagi dan lagi dalam membaca situasi yang terus berubah. Cukup terus saja ‘dimuliakan’ (fungsi penjilat) sekaligus ‘dijerumuskan’ (fungsi ‘pengawas’ dalam skema Percobaan Milgram) ia akan ‘selesai’ dengan sendirinya. Masalahnya, berapa biaya yang harus ditanggung republik? Terutama jika berkembang juga ‘efek samping’-nya: banality of evil itu? *** (09-04-2026)