1935. Keras Kepala, Lanjutan
09-04-2026
Maka menjadi penting di sini peran oposisi, apapun seperti atau sebagai apa ia akan menampakkan diri. Imajinasi sebagai bahan dasar utama dari ‘keras kepala’ itu memang perlu dicek-ricek oleh imajinasi-imajinasi lain. Karena imajinasi itu bisa berkembang dengan liarnya, bahkan jika kita bicara tentang ideologi. Apalagi utopia. Maka di dalam ideologi, pada dirinya semestinyalah ada bagian yang disebut sebagai kritik-otokritik. Atau kalau memakai istilah si-Bung, ideologi jangan berhenti saja pada romantika, ia perlu terlibat dalam dinamika dan dialektika juga. Jika memakai ‘peta kesadaran’ Freud, suka atau tidak ideologi itu perlahan akan bergeser sehingga letaknya lebih di super ego, yang lebih mendasarkan diri pada ‘prinsip moralitas’. Kritik-otokritik, atau keterlibatan pada dinamika dan dialektika itu akan melibatkan rasio yang ada pada ego, dan lebih mendasarkan diri para ‘prinsip realitas’. Dialektika akan menggelinding berdasarkan dinamika realitas yang berkembang.
Waham adalah kelainan psikiatris dekat-dekat dengan pengertian delusi. Dalam kuliah psikiatri dulu, ada beberapa jenis waham, antara lain waham kebesaran, waham curiga, waham somatic, dan lain-lain. Dan yang mengagetkan atau bikin garuk-garuk kepala, kadang ‘pasien’ dengan waham tertentu, misalnya waham kebesaran itu bisa-bisanya punya ‘pengikut’. Misalnya, ia merasa yakin bahwa ia adalah titisan si-Bung. Dan memang ia kemana-mana suka berpakaian a la si-Bung. Ternyata ada tuh yang percaya, banyak. Dan ketika para ‘pengikut’ ini mau menyambangi rumahnya untuk mendengarkan pidato atau arahan, ternyata si-Bung palsu ini sudah dibawa oleh keluarga ke rumah sakit jiwa, maka perlahan bubarlah para pengikut-pengikutnya itu. Balik kanan pulang ke rumah masing-masing. Ini adalah salah satu contoh bagaimana salah satu bentuk dari ‘keras kepala’ itu bisa-bisa tidak hanya berubah menjadi delusional, tetapi juga bisa menciptakan pengikut-pengikutnya. Contoh paling menghebohkan adalah peristiwa bunuh diri massal pengikut-pengikut Jim Jones di sekitar tahun 1978-an di Guyana.
Keras kepala di urusan privat memang bisa dikatakan silahkan saja, toh dalam rentang pengaruhnya relative ditanggung sendiri akibat-akibatnya. Tetapi di ruang publik, terlebih di ranah kuasa negara? Dimana di ujung sana uang-uang pajak dari warganya menuntut pula sebuah pertanggung-jawaban? Dimana ranah negara mempunyai monopoli dalam penggunaan kekuatan kekerasan? Kalau dicontohkan ke-keras kepala-annya tokoh-tokoh pergerakan dulu untuk kemudian dijadikan ‘legitimasi’ keras kepalanya sekarang, itu beda cuk. Keras-kepalanya saat tokoh-tokoh pergerakan itu terjadi saat ‘perebutan kekuasaan’, beda dengan sekarang, saat ‘penggunaan kekuasaan’. Beda, bahkan Machiavellipun sudah menegaskan, hal merebut dan menggunakan kuasa itu jelas beda. Ketika sudah di rentang waktu ‘penggunaan kuasa’, menurut Machiavelli perlu hadirnya virtue, yang dalam hal ini adalah ketrampilan untuk menghadapi situasi yang bisa saja berubah-ubah. Maka bagaimana virtue seperti dimaksud Machiavelli dalam konteks ini bisa berkembang jika ‘keras kepala’ dan bahkan menjadi ‘kepala batu’? Aèng-aèng saja.
Bagi kaum Machiavellis dari sisi gelapnya, pemimpin semacam ini -keras kepala, cenderung kepala batu, bisa dikatakan adalah ‘makanan empuk’. Dari skema Percobaan Milgram (lihat tulisan sebelumnya, nomer: 1934) cukup disiapkan kaum penjilat dan ‘pengawas’ maka pemimpin seperti ini sebenarnya akan mudah diarahkan, bahkan jika mau ‘dihentikan’-pun akan lebih mudah juga. Karena akhirnya, ke-kepala batu-nya akan ‘membunuh’-nya. Ia akan gagal dan gagal lagi dan lagi dalam membaca situasi yang terus berubah. Cukup terus saja ‘dimuliakan’ (fungsi penjilat) sekaligus ‘dijerumuskan’ (fungsi ‘pengawas’ dalam skema Percobaan Milgram) ia akan ‘selesai’ dengan sendirinya. Masalahnya, berapa biaya yang harus ditanggung republik? Terutama jika berkembang juga ‘efek samping’-nya: banality of evil itu? *** (09-04-2026)


1936. Doktrin Sontoloyo 2
10-04-2026
Keberulangan semestinya bisa menjadi bahan pembelajaran penting. Ketika A, B, dan C dirasakan mirip, mestinya kepenasaran bisa menyeruak ke permukaan. Paling tidak penasaran bahwa jangan-jangan itu sama. Inilah saat peringatan Einstein menjadi lebih relevan, imagination is more important than knowledge, hampir seratus tahun lalu. Dimana imajinasi akan mendorong kepenasaran, dan dengan itu pula bermacam kemungkinan tidak hanya direngkuh, tetapi menjadi lebih dimungkinkan juga. Selanjutnya? Bermacam inovasipun akan lebih dimungkinkan pula. Bukankah bahan dasar utama dari inovasi itu adalah kemungkinan-kemungkinan? Binatangpun akan belajar dari keberulangan, eksperimen Pavlov pada tahun 1890-an menunjukkan hal itu. Tetapi manusia beda dengan binatang, ia juga mempunyai kemampuan imajinasi.
Salah satu ‘doktrin’ yang sering disinggung ketika membicarakan AS adalah Doktrin Monroe, yang dikeluarkan oleh Presiden ke-5 (1817-1825) James Monroe. Doktrin Monroe ditetapkan tahun 1823, intinya adalah soal ‘keamanan kawasan’ di mana kawasan sekitar AS tidak boleh ada campur tangan asing, terutama Eropa saat itu. Maka AS kemudian mendukung kemerdekaan negara-negara Amerika Latin dan sekitar-nya. Bagaimana dengan Doktrin Sontoloyo 1? Doktrin Sontoloyo 1 tidak jauh-jauh amat dari tilikan Syed Hussein Alatas dalam The Myth of the Lazy Native (1987). Doktrin itu begitu merasuki kaum penjajah dan dengan itulah mereka kemudian memperlakukan kaum terjajah. Bagaimana dengan Doktrin Sontoloyo 2?
Kata doktrin adalah serapan bahasa asing, yang asal usul katanya tak jauh-jauh amat dari doctor, terkait dengan belajar, pembelajaran. Jadi bisa dikatakan di sini, doktrin sontoloyo itu adalah terkait dengan apa yang menjadi bahan pembelajaran bagi kaum penjajah dalam memperlakukan yang dijajah atau akan dijajah dalam hal ini. Itulah yang dipelajari dari Doktrin Sontoloyo 1, entah faktanya benar atau tidak bahwa yang terjajah itu memang malas atau tidak. Dari ‘pembelajaran’ itu lahirlah Doktrin Sontoloyo 2, yang dalam praktek bisa dilihat polanya telah menampakkan diri seperti disinggung di awal tulisan. Doktrin Sontoloyo 2 ada di seberang jembatan emas. Apa pola yang nampak dari bertahun terakhir? Pola ‘jalan gampang’, semau-maunya, sok-sok-an, yang itu jika dirunut ke balakang berakar dari Doktrin Sontoloyo 1: malas. Ujung dari Doktrin Sontoloyo 2 ini adalah penghambur-hamburan sumber daya. Supaya ini bisa berlangsung dengan lancar maka dibangunlah mitos lain, doktrin lain: oposisi itu haram hukumnya, Doktrin Sontoloyo 3, negara tanpa oposisi.
Dengan doktrin ‘negara tanpa oposisi’ ini tidak hanya penghambur-hamburan sumber daya bisa menjadi lancar melenggang, tetapi seakan rejim dengan perilaku sontoloyo-nya itu tidak pernah menghadapi ‘kematiannya’. Maka jangan berharap muncul sikap atau keputusan ‘otentik’ yang jika itu hadir maka pasti akan terusik juga dengan laku penghambur-hamburan sumber daya itu. Lalu apa yang sebenarnya akan dicapai dengan mendorong penghambur-hamburan sumber daya itu? Penguasaan, dengan membuat lemah negara yang akan dikuasai itu. Kembali dijajah. Kembali dijajah bukan karena malas, tetapi karena menjadi atau dibiasakan untuk semau-maunya. Yang pada dasarnya adalah karena juga malas, dalam segala halnya. Tetapi yang malas itu bukanlah khalayak kebanyakan, bukan ‘bangsa malas’, tetapi telah bergeser menjadi ‘negara malas’, di seberang jembatan emas. Sebuah republik yang sudah bergeser menjadi republik pemburu rente.
Di tengah-tengah segala ketidak-pastian, di tengah-tengah semakin terbatasnya sumber daya karena ugal-ugalannya rejim terdahulu, melanjutkan ‘paradigma’ penghambur-hamburan sumber daya sadar atau tidak akan membawa republik ke tepi jurang. Apapun tirai asap yang dibangun di depan laku penghambur-hamburan itu, mau menyongsong masa emas, mau menerapkan ‘sosialisme’, atau apapun itu, penghambur-hamburan sumber daya itu sungguh absurd, jauh di luar akal sehat. Dan jelas akan membuat semakin jauh saja pada keadilan-sosial seperti dibayangkan saat Proklamasi. Tetapi apa sebenarnya jurang yang sedang dituju untuk ‘terjun bebas’ itu? Jurang hancur-pecahnya republik, apalagi jika mengingat segala panas-dinginnya peta geopolitik global seperti sekarang ini. *** (10-04-2026)
1937. Ghost Fleet, Ghost Power
11-04-2026
Ghost Fleet: A Novel of the Next World War (2015) adalah novel karangan P.W. Singer dan August Cole. Buku ini menjadi perhatian publik karena dulu pernah disinggung oleh Prabowo, terutama tentang kemungkinan Indonesia bubar di tahun 2030. Mengapa sebuah novel bisa membuat banyak orang berdebar-debar? Sepuluh tahun sejak terbitnya buku itu bermacam konflik memang terjadi, bahkan perang antar negara. Dan tak lupa pula bermacam analisis tentang potensi pecahnya Perang Dunia III juga semakin banyak. Tetapi apakah memang pecahnya Perang Dunia III itu patut dipertimbangkan?
Hari-hari ini semakin nampak saja ada beberapa negara yang sibuk ‘membersihkan’ halaman mereka, baik halaman depan maupun belakangnya. Indikasinya adalah soal Venezuela, kemudian melanjut pada Kuba, bahkan juga Greenland. Juga perang Iran-Israel-Amerika, yang sebelumnya ada perang Hamas-Israel. Juga Israel-Hezbollah. Atau juga perang Ukraina-Rusia. Bagaimana relasi AS dengan NATO dan negara-negara Eropa, juga Kanada? Ketika Thatcher naik ke panggung kekuasaan dan mengusung paradigma neoliberalisme, Thatcher dalam banyak pidatonya, seakan sedang menyerang ‘generasi bunga’ (merebak pada akhir 1960 sampai pertengahan decade 1970-an) yang dilihatnya banyak malas-malasan. Apakah bermacam ucapan pedas Trump terhadap ‘sekutu-sekutu’-nya itu adalah juga ‘serangan’ pada ‘negara-negara bunga’? Dan apakah di belakang itu karena ada imajinasi soal Perang Dunia III?
Maka ‘membersihkan’ halaman baik depan atau belakang adalah sangat penting (terlebih) ketika perang meletus. Atau dibayangkan akan meletus. Bayangkan ketika sibuk perang, eh dari halaman belakang diserang pula, atau juga diserang persis dari halaman depannya. Tetapi bagaimana jika itu bahkan tidak hanya dari halaman depan atau belakang, tetapi dari dalam rumah? Itulah mengapa dalam judul ada plèsètan ghost fleet: ghost power, yang dimaksud sebenarnya tak jauh-jauh dari shadow state tetapi dilihat dari sudut membesarnya potensi perang.
Di dalam ‘rumah’ ternyata ada ‘matahari kembar’, di mana matahari satunya lebih sebagai ghost power. Seakan sebuah power yang tidak berwajah kongkret di depan publik. Menurut Levinas, pertemuan tatap muka, face to face, wajah di depan kita itu seakan sedang mengatakan ‘jangan bunuh aku’. Ada penjelasannya sehingga Levinas sampai pada hal tersebut, tetapi intinya dalam perjumpaan tatap-muka itu ada relasi etis yang semestinya berkembang. Bagaimana jika power menjadi ‘tanpa wajah’, karena ghost, karena shadow? Apakah ia akan menjadi ‘raja tega’ yang sudah tidak bisa merasakan relasi etis lagi, dan bisa-bisa berubah menjadi kejamnya? Dan jika ia berubah seperti itu, maka akan semakin kejam saja karena apapun yang ia perbuat konsekuensinya akan lebih atau langsung ada di pundak ‘matahari satunya’ yang memang sedang ‘pasang wajah’ di depan publik saat itu -melalui pemilihan yang dimenangkan beberapa waktu lalu.
Seperti sudah disinggung di atas, banyak yang sudah mempersiapkan diri ketika Perang Dunia III itu benar-benar meletus. Apapun itu, salah satunya dengan ‘bersih-bersih’ halaman depan dan belakangnya. Lha ini malah tidak hanya di halaman, tetapi di dalam rumah! Apalagi dari jejak-jejaknya lebih dari sepuluh tahun terakhir ini, paling tidak ada dua watak ‘mendasar’ yang semakin bisa diraba: watak kacung dan watak pecah belah. Watak kacung tidak hanya akan menjadi demen meng-kacung-kan orang-orang sekitar -you are what you eat, tetapi bisa-bisa akan tanpa beban menjadi kacung kekuatan luar (lagi) demi melindungi kepentingan dirinya. Atau nasib dirinya. Bandul per-kacung-an itu bisa-bisa telah diayunkan dan akan diulang juga dengan tanpa beban nantinya, diayunkan sampai di ujung ekstremnya. Jadi super-kacung. Sama sekali tidak punya martabat-kehormatan lagi.
Watak pecah-belah sudah dinampakkan lebih dari sepuluh tahun, dan jelas juga terbukti itu sudah menjadi karakternya. Sampai sekarang. Pecah belah sudah menjadi salah satu ‘strategi-taktik’ andalan. Dan bayangkan ketika perang besar itu memang benar-benar meletus dan ada yang mengambil kesempatan untuk pecah-belah demi selamatnya diri dan gerombolannya itu sebagai konsekuensi karena sudah menjadi super-kacung, apakah ‘perang berlarut’ atau katakanlah juga ‘perang semesta’ itu akan efektif menjadi benteng terakhir dalam mempertahankan kedaulatan? Jadi …, what is to be done, cuk … *** (11-04-2026)
1938. Arus Balik Peradaban
12-04-2026
“Banyak orang keliru menganalisa seolah-olah kemajuan dunia Barat bertopang primer pada matematika, fisika atau kimia. Namun, bila kita mau lebih dalam lagi menyelam, maka kita akan melihat bahwa kemampuan luar biasa dunia Barat dalam hal ilmu-ilmu alam mengandaikan dahulu dan berpijak pada kultur berabad-abad pendidikan bahasa. Yang berakar pada filsafat Yunani yang bertumpu pada retorika”
“Pengertian retorika biasanya kita anggap negative, seolah-olah retorika hanya seni propaganda saja, dengan kata-kata bagus bunyinya tetapi disangsikan kebenaran isinya. Padahal arti asli dari retorika jauh lebih mendalam, yakni pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan berkomunikasi dalam medan pikiran. To be victorious lords in the battle of minds. Maka retorika menjadi mata ajaran poros demi emansipasi manusia menjadi tuan dan puan.” (Mangunwijaya, 1992)[1]
Tentu yang tidak nyaman dengan istilah ‘Barat’ boleh dilewati atau diganti dengan apapun, tetapi pendapat Mangunwijaya di atas terkait dengan peran retorika mohon tetap dipertimbangkan. Jika di akhir kutipan disinggung tentang ‘mata ajaran poros’ mungkin itu dimaksudkan sebagai bagian dari trivium yang terdiri dari logika, grammar, dan retorika. Trivium merupakan bagian pertama dari pendidikan klasik, yang sering disebut juga sebagai liberal arts, dalam arti pendidikan yang membebaskan, memerdekakan (sehingga menjadi tuan dan puan).
Soal retorika ini menjadi semakin penting jika mengingat pendapat Ernst Cassirer tentang animal symbolicum. Manusia dibedakan dengan binatang salah satunya dari tanda dan simbol. Binatang hanya mengenal tanda-tanda, tetapi manusia lebih dari itu, ia menciptakan-mengenal simbol-simbol. Banyak simbol diciptakan manusia, tetapi paling penting adalah: bahasa. Dengan bahasa sebagai simbol, manusia menjadi mampu ‘mengambil jarak’ dari alam semesta, dan dengan itu pula perlahan ilmu pengetahuan berkembang. Dengan bahasa sebagai simbol, imajinasi-pun menjadi bisa untuk dikomunikasikan, dan perlahan kepenasaranpun mulai berkembang bersama-sama. Dengan bahasa maka manusia bisa melepaskan diri dari berbagai sihir yang melingkupinya, meretakkan lingkaran tertutup yang mengkungkungnya. Dan dengan itu manusia mengambil jarak serta menjadi lebih mampu menelisik apa yang menjadi esensi sesuatu.
Maka peran bahasa dalam membangun peradaban adalah sangat penting. Toynbee memang pernah mengatakan bahwa peradaban itu berkembang karena adanya tantangan dan respon, tetapi bagaimana jika bahasa tidak berkembang, dan manusia hanya bisa menghayati tanda-tanda saja? Maka arus balik peradaban seperti ada dalam judul dimaksudkan melihat bagaimana bahasa akan berperan penting di dalamnya. Atau katakanlah, bagaimana hancurnya ke-lisan-an itu akan membuka pintu kemunduran sebuah peradaban. Di tingkat lebih luas, kita bisa pelajari dari pecicilannya sik-Trump, terutama keretakan dalam ke-lisan-an yang akhirnya suasana kebinatangan-lah yang perlahan semakin menyeruak ke permukaan, dengan segala hukumnya, survival of the fittest.
Menurut Walter J. Ong, ke-lisan-an, oralitas, akan mempersatukan, sedangkan ‘penglihatan’ terhadap gambar atau lainnya, cenderung akan memecah belah. Dengan segala perkembangan modus komunikasi via jaringan digital-internet ini, ‘kultur’ melihat terasa dominan dibanding dengan ‘kultur’ bicara. Artinya, hidup bersama memang menjadi mempunyai potensi lebih besar untuk ‘tercerai-berai’. Maka dapat dimengerti jika ada yang kemudian melarang bagi anak-anak untuk mengakses sosial media. Nampaknya ini adalah upaya supaya anak-anak mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk bicara (dan mendengar) satu sama lain. Dan menurut Levinas, dalam peristiwa tatap-muka, face to face, pengalaman akan hal etis diharapkan akan semakin terlatih.
Bagaimana dengan republik? Paling tidak dua-belas tahun terakhir ini kita menyaksikan bagaimana retorika menjadi babak belur. Mengalami keretakan luar biasa. Apa akibat dari hancurnya retorika? Jika menilik hal-hal di atas maka sebenarnya republik sedang digiring masuk dalam perangkap atau lingkaran tertutup dari sihir. Dan cerita selanjutnya adalah ketika ada yang mampu mengambil jarak dan kemudian berusaha mencari bermacam esensi, ia segera saja dipojokkan, dituduh-dituding macam-macam, bahkan dikriminalisasi. Dissident! Kekuatan kekerasan-pun akan digunakan jika diperlukan. Akhirnya ketika merasa dan begitu yakin sihir telah berkhasiat, laku korup-pun menjadi semakin ugal-ugalan. Semakin tanpa beban, tanpa sungkan, semau-maunya. Semakin pentèntang-petèntèng, emang loe siapa? Perlahan semakin dirasakan bahwa hidup bersama ini semakin jauh dari keadaban-publik-nya. Arus balik peradaban-pun semakin menyengat bau busuknya. Politik menjadi tidak berdaya sama sekali menghadapi nuansa deterministic dari segala keserakahan itu. *** (12-04-2026)
[1] Y.B. Mangunwijaya, Pendidikan Manusia Merdeka, (Kompas, 11 Agustus 1992), dikutip dari: Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001, cet.7
