1930. Pensiun
03-04-2026
Tiga tahun lalu di Perancis heboh demonstrasi besar-besaran terkait rencana pemerintah menaikkan usia pensiun dari semula usia 62 tahun menjadi 64 tahun. Di beberapa negara Eropa sudah banyak yang melakukan, bahkan sudah ada yang sampai usia pensiun 67 tahun. Banyak aspek masuk dalam pertimbangan usia pensiun ini, tidak hanya soal hitung-hitungan dana dikelola, atau hak menikmati hasil kerja berpuluh tahun, atau hak ‘istirahat’, tetapi juga soal jenjang karir. Perbincangan dalam unggahan Forum Keadilan TV dengan Soleman B. Ponto[1] memberikan banyak informasi, salah satunya tentang usia pensiun TNI (menit 9.00-10.30) sesuai dengan revisi UU TNI. Pembahasan revisi UU TNI ini menuai kontroversi, paling tidak dari tempat diselenggarakan rapat anggota DPR di hotel mewah, Fairmont, 13-14 Maret 2025 lalu. Tentu tidak hanya soal tempat penyelenggaraan yang mengundang kritik, tetapi hal-hal lain yang memang selama ini menjadi perhatian penuh dari masyarakat sipil tentang peran TNI. Tetapi sedikit sekali atau bahkan tidak ada yang membahas naiknya usia pensiun dalam hal ini (perpanjangan) usia pension perwira tinggi atau para bintang, seperti disinggung oleh Soleman B. Ponto di atas. Seperti diketahui bintang satu menjadi (usia pension maksimal-nya) 60 tahun, bintang dua 61 tahun, bintang tiga 62 tahun, dan bintang empat 63 tahun dan bisa diperpanjang. Soleman B. Ponto menguraikan secara jelas konsekuensi perpanjangan usia pensiun para perwira tinggi ini, terutama dengan yang belum masuk ‘arena’ perwira tinggi.
Tetapi ada pertanyaan juga, siapa diuntungkan oleh perpanjangan usia pensiun dari para perwira tinggi itu, terlebih bagi yang sedang menduduki posisi-posisi strategis sekarang ini? Dan kita tahu bahwa hampir semua itu diangkat pada rentang waktu rejim terdahulu? Mungkinkah Koperasi Desa MP yang dibicarakan erat dengan kiprah jajaran tentara itu sebagai upaya memotong jalur komando dari atas yang erat dengan sik-matahari lama? Atau lainnya? Bahkan MBG itupun semakin lama semakin nampak itu tidak lepas dari upaya membangun ‘pilar rejim’? Ketika bandul secara semau-maunya ditarik sampai ujung kegilaan (karena sama sekali tidak memikirkan kerusakan hidup bersama jangka jauh), maka reaksinya-pun bisa-bisa tak kalah gila pula? Di Perancis geger naiknya batas usia pensiun (semuanya) bisa berhari-hari, lha ini di republik? Di ranah yang pegang senjata? *** (03-04-2026)
1931. Sosialisme Mangkrak?
04-04-2026
Berapa uang dari para pembayar pajak terhormat yang dihambur-hamburkan oleh sik-pengelola pajak yang berujung pada mangkraknya bermacam proyek? Dengan mudahnya jejak digital dipanggil, dan kita bisa dengan mudah melacak proyek-proyek mangkrak secara factual ataupun yang masih merupakan fakta potensial (mangkrak). Ugal-ugalan, semau-maunya. Apa yang bisa kita pelajari dari ‘mangkrak-mania’ ini? Mangkrak yang terus saja berulang tanpa berpikir lagi akibatnya, konsekuensinya, collateral damage-nya, seakan sudah menjadi kegilaan tersendiri, madness, manic.
Baru-baru ini Zelensky presiden Ukraina melawat ke beberapa negara Teluk yang ikut terseret dalam perang Iran-Israel-AS, dan mendapatkan kontrak pertahanan udara, khususnya dalam melawan-mencegat serangan drone, khususnya lagi dengan biaya murah. Mengapa Ukraina bisa sampai pada titik mampu mengembangkan ‘anti-drone’ berbiaya murah tetapi efektif? Apakah ini ‘hasil sampingan’ dari dibombardirnya Ukraina oleh drone-drone Rusia? Berangkat dari ini kita bisa membayangkan bahwa tidak mesti ‘yang kuat yang menang’, tidak mesti survival of the fittest a la Darwin itu terus maju sendirian, ternyata masih ada apa yang disebut Henri Bergson creative evolution komplit dengan elan vital terkait mempertahankan hidup yang tinggi dengan kemudian tidak menyerah begitu saja untuk semata jadi santapan yang lebih besar. Dengan menjadi kreatif. Lalu apa kita harus menunggu dihujani drone atau rudal lebih dahulu untuk kemudian menjadi kreatif?
Maka tidak mengherankan jika Arnold J. Toynbee menandaskan bahwa soal berkembangnya peradaban itu adalah juga soal tantangan dan respon. Respon yang dibangun terutama oleh sik-minoritas kreatif. Lainnya? Menurut Toynbee akan meniru saja. Masih menurut Toynbee, tantangan yang terlalu besar, seperti misalnya bencana maha-dahsyat, akan melenyapkan peradaban. Sebaliknya, tantangan terlalu kecil mungkin saja tidak akan mengembangkan peradaban. Hari-hari ini, dan sebenarnya adalah sepanjang kehidupan manusia, ketidak-pastian mestinya dihayati sebagai tantangan. Bagi sebagian besar, respon dari ketidak-pastian itu adalah munculnya sebuah harapan. Harapan seakan menjadi pulau kepastian di tengah gejolak samudera ketidak-pastian. Tetapi bagi sik-minoritas kreatif, ketidak-pastian itu tidak semata hanya menghadirkan harapan sebagai responnya, tetapi lebih dari itu. Bahkan lebih dari itu, tidak sekedar lebih dari berharap saja, tetapi seakan ia juga sedang menunjukkan suatu ‘kedaulatan’ tertentu. Kata Carl Schmitt, sovereign is he who decides on the exception. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi? Bagi sik-minoritas kreatif, bermacam ketidak-pastian itu dengan bermacam rutenya, mau dan mampu ‘dimaksukkan’ sebagai salah satu hal dalam rentang horizon-nya. Perang berlarut seperti disinggung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sedikit banyak ‘bermain’ seperti di atas, ketika segala ketidak-pastian perang digeser ke dalam ‘horisonnya’ dan dengan itu menjadi lebih mampu untuk menampakkan daulat diri, dan dengan itu pula diharapkan akan memenangkan pertempuran. Bagaimana dengan fenomena kasus ‘ijazah (palsu) berlarut’? Apakah ‘medan perang’ sedang diolah untuk berlarut-larut dan dengan itu ia bisa gegayaan menunjukkan siapa yang sebenarnya berdaulat? Masalahnya bukan hanya soal output, keluaran, tetapi juga proses-nya. Lihat bagaimana proses yang membuat berlarut-nya kasus ijazah palsu ini: ngawur dan mentang-mentang, dan apa akibatnya? Biaya tinggi! Biaya tinggi yang harus dipikul oleh hidup bersama, oleh republik. Republik perlahan menjadi retak seretak-retaknya. Karena berlarutnya kasus ijazah palsu itu sungguh mengambil rute ngawur, semau-maunya, sok-sok-an, dan lihat bagaimana penampilan para termul-termul itu di muka publik, semau-maunya, petèntang-petèntèng, ngerusak rasa peradaban saja. Atau memang ada yang sedang menyelenggarakan ‘perang berlarut’ melawan republik? Untuk memecah republik?
Judul ‘sosialisme mangkrak’ ini dikaitkan dengan ungkapan Rocky Gerung ketika bertemu dengan Prabowo agak jauh sebelum hari-hari ini, terkait dengan keinginan Prabowo tidak hanya ingin menjadi pemimpin sosialis Indonesia, tetapi juga pemimpin sosialis Asia.[1] Ketika seorang dosen dari eks-Jerman Timur -seperti dikutip oleh Ignas Kleden dalam Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe (1996), mengatakan bahwa sosialisme itu akan baik jika tidak diganggu, maka gangguan dahsyat akan berasal dari mana? Tahu bahwa diri mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin sosialis, tetapi tidak mau tahu siapa musuh atau pengganggu sosialisme? Bahkan juga tidak mau tahu lapangan seperti apa tempat ia ‘bertarung’? Apakah ia juga tidak sadar bahwa dalam komunitas dengan power distance tinggi (Hofstede), pemimpin itu perlahan akan menjadi ‘model’ utama yang akan ditiru oleh bawahan atau yang dipimpinnya? Yang mana pepatah ‘ikan busuk mulai dari kepala’ itu bisa menjadi lebih signifikan? Maka hati-hati dengan keinginan. Bukan berarti tidak boleh berkeinginan atau berharap, tetapi masalahnya untuk menjadi sik-minoritas kreatif itu tidak mudah, apalagi sekaligus menjadi seorang pemimpin. Dari pada mangkrak, mengapa tidak mengintrodusir sosialisme merangkak dulu, mulailah dengan yang ‘kecil-kecil’ dulu. Sambil belajar, dan mengajak belajar orang-orang sekitarnya. Juga khalayak kebanyakan. *** (04-04-2026)
[1] https://rmol.id/politik/read/2025/05/21/667261/diungkap-rocky-gerung-prabowo-ingin-jadi-pemimpin-sosialis-asia
