1930. Pensiun

03-04-2026

Tiga tahun lalu di Perancis heboh demonstrasi besar-besaran terkait rencana pemerintah menaikkan usia pensiun dari semula usia 62 tahun menjadi 64 tahun. Di beberapa negara Eropa sudah banyak yang melakukan, bahkan sudah ada yang sampai usia pensiun 67 tahun. Banyak aspek masuk dalam pertimbangan usia pensiun ini, tidak hanya soal hitung-hitungan dana dikelola, atau hak menikmati hasil kerja berpuluh tahun, atau hak ‘istirahat’, tetapi juga soal jenjang karir. Perbincangan dalam unggahan Forum Keadilan TV dengan Soleman B. Ponto[1] memberikan banyak informasi, salah satunya tentang usia pensiun TNI (menit 9.00-10.30) sesuai dengan revisi UU TNI. Pembahasan revisi UU TNI ini menuai kontroversi, paling tidak dari tempat diselenggarakan rapat anggota DPR di hotel mewah, Fairmont, 13-14 Maret 2025 lalu. Tentu tidak hanya soal tempat penyelenggaraan yang mengundang kritik, tetapi hal-hal lain yang memang selama ini menjadi perhatian penuh dari masyarakat sipil tentang peran TNI. Tetapi sedikit sekali atau bahkan tidak ada yang membahas naiknya usia pensiun dalam hal ini (perpanjangan) usia pension perwira tinggi atau para bintang, seperti disinggung oleh Soleman B. Ponto di atas. Seperti diketahui bintang satu menjadi (usia pension maksimal-nya) 60 tahun, bintang dua 61 tahun, bintang tiga 62 tahun, dan bintang empat 63 tahun dan bisa diperpanjang. Soleman B. Ponto menguraikan secara jelas konsekuensi perpanjangan usia pensiun para perwira tinggi ini, terutama dengan yang belum masuk ‘arena’ perwira tinggi.

Tetapi ada pertanyaan juga, siapa diuntungkan oleh perpanjangan usia pensiun dari para perwira tinggi itu, terlebih bagi yang sedang menduduki posisi-posisi strategis sekarang ini? Dan kita tahu bahwa hampir semua itu diangkat pada rentang waktu rejim terdahulu? Mungkinkah Koperasi Desa MP yang dibicarakan erat dengan kiprah jajaran tentara itu sebagai upaya memotong jalur komando dari atas yang erat dengan sik-matahari lama? Atau lainnya? Bahkan MBG itupun semakin lama semakin nampak itu tidak lepas dari upaya membangun ‘pilar rejim’? Ketika bandul secara semau-maunya ditarik sampai ujung kegilaan (karena sama sekali tidak memikirkan kerusakan hidup bersama jangka jauh), maka reaksinya-pun bisa-bisa tak kalah gila pula? Di Perancis geger naiknya batas usia pensiun (semuanya) bisa berhari-hari, lha ini di republik? Di ranah yang pegang senjata? *** (03-04-2026)

[1] https://www.youtube.com/watch?v=uFyNFglmEpc&t=3208s

1931. Sosialisme Mangkrak?

04-04-2026

Berapa uang dari para pembayar pajak terhormat yang dihambur-hamburkan oleh sik-pengelola pajak yang berujung pada mangkraknya bermacam proyek? Dengan mudahnya jejak digital dipanggil, dan kita bisa dengan mudah melacak proyek-proyek mangkrak secara factual ataupun yang masih merupakan fakta potensial (mangkrak). Ugal-ugalan, semau-maunya. Apa yang bisa kita pelajari dari ‘mangkrak-mania’ ini? Mangkrak yang terus saja berulang tanpa berpikir lagi akibatnya, konsekuensinya, collateral damage-nya, seakan sudah menjadi kegilaan tersendiri, madness, manic.

Baru-baru ini Zelensky presiden Ukraina melawat ke beberapa negara Teluk yang ikut terseret dalam perang Iran-Israel-AS, dan mendapatkan kontrak pertahanan udara, khususnya dalam melawan-mencegat serangan drone, khususnya lagi dengan biaya murah. Mengapa Ukraina bisa sampai pada titik mampu mengembangkan ‘anti-drone’ berbiaya murah tetapi efektif? Apakah ini ‘hasil sampingan’ dari dibombardirnya Ukraina oleh drone-drone Rusia? Berangkat dari ini kita bisa membayangkan bahwa tidak mesti ‘yang kuat yang menang’, tidak mesti survival of the fittest a la Darwin itu terus maju sendirian, ternyata masih ada apa yang disebut Henri Bergson creative evolution komplit dengan elan vital terkait mempertahankan hidup yang tinggi dengan kemudian tidak menyerah begitu saja untuk semata jadi santapan yang lebih besar. Dengan menjadi kreatif. Lalu apa kita harus menunggu dihujani drone atau rudal lebih dahulu untuk kemudian menjadi kreatif?

Maka tidak mengherankan jika Arnold J. Toynbee menandaskan bahwa soal berkembangnya peradaban itu adalah juga soal tantangan dan respon. Respon yang dibangun terutama oleh sik-minoritas kreatif. Lainnya? Menurut Toynbee akan meniru saja. Masih menurut Toynbee, tantangan yang terlalu besar, seperti misalnya bencana maha-dahsyat, akan melenyapkan peradaban. Sebaliknya, tantangan terlalu kecil mungkin saja tidak akan mengembangkan peradaban. Hari-hari ini, dan sebenarnya adalah sepanjang kehidupan manusia, ketidak-pastian mestinya dihayati sebagai tantangan. Bagi sebagian besar, respon dari ketidak-pastian itu adalah munculnya sebuah harapan. Harapan seakan menjadi pulau kepastian di tengah gejolak samudera ketidak-pastian. Tetapi bagi sik-minoritas kreatif, ketidak-pastian itu tidak semata hanya menghadirkan harapan sebagai responnya, tetapi lebih dari itu. Bahkan lebih dari itu, tidak sekedar lebih dari berharap saja, tetapi seakan ia juga sedang menunjukkan suatu ‘kedaulatan’ tertentu. Kata Carl Schmitt, sovereign is he who decides on the exception. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi? Bagi sik-minoritas kreatif, bermacam ketidak-pastian itu dengan bermacam rutenya, mau dan mampu ‘dimaksukkan’ sebagai salah satu hal dalam rentang horizon-nya. Perang berlarut seperti disinggung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sedikit banyak ‘bermain’ seperti di atas, ketika segala ketidak-pastian perang digeser ke dalam ‘horisonnya’ dan dengan itu menjadi lebih mampu untuk menampakkan daulat diri, dan dengan itu pula diharapkan akan memenangkan pertempuran. Bagaimana dengan fenomena kasus ‘ijazah (palsu) berlarut’? Apakah ‘medan perang’ sedang diolah untuk berlarut-larut dan dengan itu ia bisa gegayaan menunjukkan siapa yang sebenarnya berdaulat? Masalahnya bukan hanya soal output, keluaran, tetapi juga proses-nya. Lihat bagaimana proses yang membuat berlarut-nya kasus ijazah palsu ini: ngawur dan mentang-mentang, dan apa akibatnya? Biaya tinggi! Biaya tinggi yang harus dipikul oleh hidup bersama, oleh republik. Republik perlahan menjadi retak seretak-retaknya. Karena berlarutnya kasus ijazah palsu itu sungguh mengambil rute ngawur, semau-maunya, sok-sok-an, dan lihat bagaimana penampilan para termul-termul itu di muka publik, semau-maunya, petèntang-petèntèng, ngerusak rasa peradaban saja. Atau memang ada yang sedang menyelenggarakan ‘perang berlarut’ melawan republik? Untuk memecah republik?

Judul ‘sosialisme mangkrak’ ini dikaitkan dengan ungkapan Rocky Gerung ketika bertemu dengan Prabowo agak jauh sebelum hari-hari ini, terkait dengan keinginan Prabowo tidak hanya ingin menjadi pemimpin sosialis Indonesia, tetapi juga pemimpin sosialis Asia.[1] Ketika seorang dosen dari eks-Jerman Timur -seperti dikutip oleh Ignas Kleden dalam Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe (1996), mengatakan bahwa sosialisme itu akan baik jika tidak diganggu, maka gangguan dahsyat akan berasal dari mana? Tahu bahwa diri mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin sosialis, tetapi tidak mau tahu siapa musuh atau pengganggu sosialisme? Bahkan juga tidak mau tahu lapangan seperti apa tempat ia ‘bertarung’? Apakah ia juga tidak sadar bahwa dalam komunitas dengan power distance tinggi (Hofstede), pemimpin itu perlahan akan menjadi ‘model’ utama yang akan ditiru oleh bawahan atau yang dipimpinnya? Yang mana pepatah ‘ikan busuk mulai dari kepala’ itu bisa menjadi lebih signifikan? Maka hati-hati dengan keinginan. Bukan berarti tidak boleh berkeinginan atau berharap, tetapi masalahnya untuk menjadi sik-minoritas kreatif itu tidak mudah, apalagi sekaligus menjadi seorang pemimpin. Dari pada mangkrak, mengapa tidak mengintrodusir sosialisme merangkak dulu, mulailah dengan yang ‘kecil-kecil’ dulu. Sambil belajar, dan mengajak belajar orang-orang sekitarnya. Juga khalayak kebanyakan. *** (04-04-2026)


[1] https://rmol.id/politik/read/2025/05/21/667261/diungkap-rocky-gerung-prabowo-ingin-jadi-pemimpin-sosialis-asia

1932. Bencana Karena Amatiran

06-04-2026

Jika hidup di kepulauan Galapagos, tidak amatiran itu adalah soal mampu atau tidaknya beradaptasi. Yang tidak mampu beradaptasi, ‘amatiran’, akan lenyap. Tetapi di luar itu? Tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi ternyata juga harus kreatif. Beradaptasi sebaiknya juga merupakan bagian dari jalan kreatif, tidak hanya soal insting (adaptif) saja. Terutama jika itu manusia. Manusia yang hidup tidak hanya dalam alam semesta dengan segala isinya, tetapi terutama karena juga hidup diantara manusia-manusia lain. Politik menurut Ketua Mao adalah ‘perang tanpa pertumpahan darah’. Dan menurut Sun Tzu, dalam sebuah perang sangat penting untuk mengetahui tentang diri, dan juga musuh. Maka menjadi tidak amatiran dalam politik, syarat mutlaknya adalah tahu tentang diri dan juga musuh. Memang belum cukup, tetapi dua hal itulah syarat mutlaknya. Syarat mutlak dalam politik (sebelum) ketika bermacam kreatifitas mewujud dalam strategi dan taktik, atau lainnya.

Ideologi dalam politik bisa sangat membantu terkait tahu tentang diri dan juga musuh atau lawan, tetapi bagaimana jika ideologinya hanya samar-samar saja? Atau bahkan berhenti sebagai ‘ideologi kenang-kenangan’ saja? Tetap masih bisa sih tetapi perlu latihan, latihan, dan latihan lebih. Apa yang akan dicapai dengan latihan, latihan, dan latihan baik itu didampingi oleh ideologi atau yang hanya kenang-kenangan saja? Elan vital, energi hidup yang akan menghidup-hidupi potensi kreatifitas. Elan vital adalah juga titik-pijak kita berdiri dan kemudian menatap-menghadapi horizon yang terbangun. Titik pijak yang dinamis, tidak semata ‘statis’ saja.

Tetapi berkembangnya elan vital itu bukanlah di ruang kosong, atau sebatas dalam ruang kaderisasi saja, tetapi ia akan mengalami apa yang disebut si-Bung sebagai romantika, dinamika, dan dialektika. Contoh, ketika Manuel Castells mengatakan bahwa dengan berkembangnya modus komunikasi seperti sekarang ini, merebaknya modus digital-internet, maka ‘politik skandal’ akan menjadi ‘alat perang’ strategis. Dalam dinamika dan dialektikanya, elan vital harus berkembang dengan ‘memperhitungkan’ ini semua, misalnya. Elan vital yang mampu melawan ‘politik skandal’ sehingga nantinya kreatifitas yang dilahirkannya bisa lebih ‘otentik’. Atau ketika doeloe kaum terjajah dikatakan sebagai ‘bangsa malas’ oleh penjajahnya.

Tetapi dari mana datangnya skandal? Atau dalam praktek dikenal juga sebagai ‘sandera kasus’? Dengan meminjam Alegori Kereta-nya Platon, kita bisa mendekati dari mana ‘sumber’ skandal lebih berasal: itu dari sik-kuda hitam. Kuda hitam menggambarkan hasrat perut ke bawah, makan, minum, kenikmatan, dan juga narkoba, seks, dan terutama uang. Kuda hitam ini mempunyai energi besar dan cenderung ‘meledak-ledak’, dan semau-maunya, tidak mudah untuk ikut mau-maunya sais. Dan digambarkan Platon, cenderung meluncur ke bawah, padahal kereta mestinya naik ke atas mendekati ‘kebaikan dewa-dewa’. Tidak hanya diri yang memerlukan ‘hasrat perut ke bawah’, tetapi hidup bersama-pun sebenarnya memerlukan sik-kuda hitam ini, paling tidak dari energi besar-nya yang meledak-ledak itu, seakan bisa menjadi tambahan bahan bakar sehingga kereta bisa semakin cepat melaju. Maka pada ‘semau-maunya’ dan ‘tidak mudah nurut sais’ serta ‘cenderung meluncur ke bawah’-lah masalah sik-kuda hitam bagi hidup bersama. Jika itu dapat ‘dikelola’ dengan baik maka ‘energi besar’ sik-kuda hitam akan bisa sangat bermanfaat. Di tingkat ‘personal’, itulah juga sumber dari skandal yang dalam konteks bahasan di atas dapat masuk dalam ‘politik skandal’.

Jika politik adalah ‘perang tanpa pertumpahan darah’ maka faktor ‘gertak’ bisa menjadi salah satu hal penting. Dalam gertak jelas belum ada pertumpahan darah. Dengan berkembangnya modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital-internet seperti sekarang ini, politik skandal bermain dalam ranah gertak ini, atau katakanlah no viral, no scandal. Tentu soal ‘sandera skandal’ sudah ada sejak lama, tetapi sekarang semakin mudah saja skandal (diancam) dibuka melalui jaringan digital-internet, atau dimainken dalam permainan gertak-gertakan. Apalagi perkembangan AI seperti sekarang ini dan akan terus berkembang, seakan menyediakan bermacam hal untuk memfitnah atau memainken bermacam isu, bahkan ketika skandal itupun tidak ada.

Bertahun-tahun seakan semakin nampak saja bagaimana ‘jebakan skandal’ terus saja ditebar pada elit politik atau yang mempunyai potensi naik sebagai elit. Tidak hanya ia pribadi, tetapi juga orang-orang terdekat, terutama keluarga. Ingat posisi foto Gary Hart dan Donna Rice, salah satunya Donna Rice dipangku di atas kakinya (1987)? Atau juga keluarga elit bahkan tertinggi, baik itu soal kemewahan, ke-narkoba-an, soal per-konthol-an, per-tempik-an, dan sekitarnya: seks, dan terutama soal uang, tidak hanya korupsi tetapi juga perjudian, misalnya. Belum lagi soal penyalah-gunaan jabatan kong-ka-li-kong pat-gu-li-pat, sampai kasus ijazah palsu. Maka jika tidak hati-hati terhadap ‘operasi-operasi’ semacam ini, republik bisa-bisa akan menjadi ‘republik skandal’. Dan jelas jika itu yang terjadi, bermacam bencana bisa-bisa berawal dari kepakan ‘kupu-kupu amatiran’ ini. Amatiran karena politik skandal ini tidak pernah diperhitungkan. Belum lagi kita bicara soal kompetensi dan in-kompetensi. *** (06-04-2026)

1933. The Dark Side of the Moon

07-04-2026

Album The Dark Side of the Moon dari Pink Floyd tiga tahun lalu merayakan ulang tahun ke-50. Album itu dirilis pertama kali tahun 1973, empat tahun setelah Apollo 11 mendarat di bulan. Mungkinkah album di atas terinspirasi bahwa bulan menampakkan diri pada bumi selalu saja pada permukaan atau sisi yang sama. Sedangkan sisi jauhnya, atau ‘sisi gelap’ selalu saja ‘tersembunyi’. Hari-hari ini pesawat Antariksa Artemis 2 yang diluncurkan dari AS sono 1 April 2026 lalu akan mengelilingi bulan untuk mempersiapkan misi berikut, mendaratnya manusia di bulan (lagi).

Tahun depan, Voyager 1 yang diluncurkan tahun 1977 akan berulang tahun ke-50, dan telah menempuh perjalanan lebih dari 25 milyar km, dan terus saja melayang di kegelapan ruang antar bintang sejak 14 tahun lalu. Voyager 2 diluncurkan pada tahun sama, dan seperti saudaranya telah melenting masuk ruang antar bintang. Voyager 1 dan 2 sama-sama membawa juga pesan-pesan dari manusia bumi, direkam dalam piringan dalam berbagai bahasa. Sebagian besarnya tentang hal-hal baik di bumi, sehingga siapa tahu wahana Antariksa itu ketika ditangkap makluk cerdas di nun jauh di sana, bumi diperkenalkan dengan baik.

Ketika sik-A mempelajari tentang Voyagers ini, ia sambil menikmati Lucy in the Sky with Diamond-nya Beatles. Dan kemudian membayangkan mengapa Voyager 3 yang mestinya diluncurkan tahun 1979 tidak jadi meluncur. Mungkinkah karena hal-hal baik saja yang diperkenalkan oleh Voyager 1 dan 2 ternyata telah membuat makluk cerdas di sono menjadi minder untuk membuat kontak dengan bumi? Maka diputuskan kemudian Voyager 3 tidak lagi membawa hal-hal baik, tetapi hal-hal buruk saja. Tetapi di sini juga kesulitan hal buruk apa yang akan di bawa Voyager 3 sehingga makluk cerdas di sono tidak minder dan mau membuka diri. Perang? Tentu itu hal buruk, terlalu buruk, sehingga dirasa justru akan menakutkan. Maka akhirnya bertahun-tahun mandek-lah proyek Voyager 3 ini, sampai akhirnya ….

Akhirnya ditemukanlah hal buruk yang memungkin saja membuat alien tidak merasa minder ketika menerima pesan dari suatu peradaban yang ‘sedang-sedang’ saja, di bawah rata-rata, di bumi, yaitu melalui cerita fakta bahwa di suatu komunitas dengan jumlah warganya 300 juta, ternyata tidak bisa mengungkap asli atau palsunya selembar kertas ijazah. Dokumen lengkap sudah dirangkum dan dimasukkan dalam flash-disk, dan siap dikirim. Perugas yang merangkum dan memasukkan ke flash-disk sampai geleng-geleng membaca bagaimana riuh-gaduh kasus ijazah palsu itu, yang sebenarnya akan selesai dengan cukup diperlihatkan saja dan mempersilahkan siapa saja menguji dengan alat-alat tercanggih. Di era komunitas lain sudah sampai luar angkasa, bahkan komunitas itu gagal dalam mengungkap asli atau palsunya selembar kertas ijazah! Memang faktanya, hal mudah itu tidak dilakukan dan malah muter-muter tidak karu-karuan, sampai ada yang dipenjara pula. Sampai sebuah universitas ternama menjadi tercoreng nama besarnya karena ikut-ikutan menutupi kasus ini. Para pembela ijazah palsu itupun banyak yang kemudian berperilaku jauh di bawah standar peradaban komunitas lain di bumi. Hampir-hampir tidak bisa dibedakan dengan perilaku binatang pada umumnya. Akhirnya dengan keyakinan itu -kasus ijazah palsu itu, bisa mewakili the dark side of the earth, maka Voyager 3-pun menjadi siap diluncurkan. Rencananya pada ulang tahun ke-50 Voyager 1 dan 2, adik bungsu akan menyusul untuk memperkenalkan diri pada bintang-bintang. *** (07-04-2026)

1934. Keras Kepala

09-04-2026

Iseng-iseng dengan bantuan google mencari padanan dalam bahasa Inggris, ‘keras kepala’: stubborn. Dan banyak juga sinonimnya, salah satunya obstinate. Apa beda stubborn dan obstinate? Ada beberapa, intinya stubborn lebih ‘positif’ dibanding obstinate.[1] Dari google juga kemudian mencari terjemahan dalam bahasa Indonesia yang ternyata juga menampakkan perbedaan, stubborn: keras kepala, bandel. gigih, sedangkan obstinate: keras kepala, bandel, kepala batu. Tulisan ini didorong oleh pidato presiden Prabowo kemarin di depan petinggi-petinggi, dimana pemakaian kata ‘keras kepala’ sebenarnya menjadi salah satu kata sentral dalam pidato itu. Masalahnya, keras kepala dalam arti stubborn atau obstinate? Atau lainnya? Juga, bagaimana ‘keras kepala’ di mata pembayar pajak, yang sama sekali tidak disinggung dalam pidato itu? Artinya, sama-sama ‘keras kepala’ -apapun yang dimaksud, di ranah publik dan privat mestinya berbeda. Di mata Habermas, ‘keras kepala’ di ruang publik bisa-bisa akan mengganggung diskursus, tetapi pemikir lain, dari Foucault misalnya, mengapa tidak, toh menjadi keras kepala juga pilihan yang disediakan dalam ruang publik. Tetapi jika dilanjutkan seperti sudah disinggung di atas, bagaimana jika ke-publik-an itu menyangkut juga hubungan antara pembayar pajak terhormat dan sik-pengelola pajak? Atau juga bersinggungan dengan yang mampu mengerahkan kekuatan kekerasan di ruang-ruang publik, bahkan juga ruang privat?

Apakah kita juga boleh membayangkan bahwa Percobaan Milgram di sekitar decade 1960-an itu tidak hanya soal banality of evil, tetapi juga soal ke-keras kepala-an? Begitu keras kepala-nya sehingga menjadi ‘kepala batu’, dan tahu-tahu yang evil itu sudah menjadi banal?

Dalam banyak halnya, asal-usul keras kepala dalam bermacam artinya itu kadang dari ‘maksud baik’ atau sebuah keyakinan baik apapun itu. Tak jauh-jauh amat dari ‘skema’ Percobaan Milgram di atas. Syahdan, percobaan itu disosialisasikan sebagai upaya untuk menaikkan kualitas pendidikan, dan itu pula yang ada di pamphlet perekrutan peserta percobaan. Jadi peserta percobaan itu ikut dengan paham betul maksud baik dari percobaan. Tentu mungkin saja terkait dengan ‘uang lelah’ yang ditawarkan. Rekrutan peserta atau relawan percobaan kemudian berperan sebagai ‘guru’. Selain ‘guru’ ada ‘murid’ (diperankan actor), dimana ‘guru’ -rekrutan relawan, akan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada ‘murid’ dan jika jawaban salah maka ‘guru’ akan memberikan ‘sengatan listrik’ pada ‘murid’. Karena ‘murid’ diperankan oleh actor maka ia bisa begitu meyakinkan ketika pura-pura sakit. Sengatan listrik itu hanyalah kabel-kabel yang tidak ada aliran listriknya, tetapi sik-guru tidak tahu tentang hal itu. Tahunya, jika salah jawaban, ‘murid’ kemudian diberi sengatan listrik yang semakin lama semakin tinggi voltasenya, jika salah terus. Ada ‘pengawas’ yang tidak jauh dari ‘guru’, fungsinya dalam skema percobaan itu adalah mengingatkan ‘guru’ jika ia ragu-ragu dalam memberikan ‘sengatan’ listrik pada murid. Hasilnya? Hampir semua ‘guru’ yang diperankan oleh relawan atau rekrutan eksperimen itu mau saja memberikan sampai sengatan tertinggi, bahkan ketika ‘murid’ yang di depannya itu sudah mengiba-iba untuk dihentikannya sengatan. Latar belakang dari rekrutan yang kemudian berperan sebagai ‘guru’ itu macam-macam, dari tukang, guru, dosen, pendeta, atau lainnya. Apakah ‘guru’ itu kemudian berubah menjadi sosok ‘keras kepala’, dan atas nama ‘maksud baik’ (dalam hal ini meningkatkan kualitas pendidikan) kemudian menjadi ‘raja tega’, evil yang kemudian menjadi banal? Banality of evil adalah istilah dari Hannah Arendt untuk menggambarkan bagaimana rejim Hitler bisa menjadi begitu kejamnya.

Jadi, soal kata ‘keras kepala’ itu ketika masuk dalam ‘kenyataan hidup’ ternyata bisa mengandung banyak dimensinya. Gelap-terang-nya bisa merentang dengan tanpa basa-basi sebenarnya. Dengan segala konsekuensinya terhadap hidup bersama yang sebenarnya disangga juga oleh uang-uang terkumpul dari yang terhormat pembayar pajak. Kita tidak harus menjadi ‘ahli bahasa’ untuk merasakan segala konsekuensinya itu. *** (09-04-2026)


[1] https://www.quora.com/What-is-the-difference-between-stubborn-and-obstinate