1915. Ketika Palu Dipukul Keras

19-03-2026

Ketika dalam ruang pertemuan terhanyut dalam keberisikan sendiri, masing-masing bicara satu sama lain, berbisik, atau setengah keras, yang di depan segera saja mengambil palu dan dipukulnya keras-keras menghantam meja di depannya, sekali, dua kali, tiga kali. Segera saja suasana menjadi tenang, dan menunggu setelah palu diketuk lalu ada apa? Bagi Naomi Klein dalam The Shock Doctrine (2007), ketika palu itu diketuk begitu dahsyatnya dan mewujud pada Badai Katrina yang menerjang New Orleans (23 Agustus, 2005), tidak hanya ‘suasana menjadi tenang’ tetapi kesadaran seakan menjadi sebuah kanvas putih karena dahsyatnya shock. Selanjutnya Klein menunjukkan bagaimana kaum neolib itu mengambil kesempatan dengan melukis proyek-proyeknya di atas (kesadaran) kanvas putih tersebut. Yang kemudian disebut Klein sebagai ‘disaster capitalism’. Maka juga kita mengenal istilah ‘pengalihan isu’. Bahkan dalam banyak halnya, alih isu ini sudah menjadi ‘industri’ tersendiri.

Tetapi kita juga pernah mendengar istilah ‘kudeta merangkak’. Tetapi berapapun lamanya merangkak, pada akhirnya ia perlu juga peristiwa dimana palu dipukul keras-keras. Atau hadirnya sebuah ‘katalis’ yang membuat semacam ‘patahan’ dari proses-proses molekuler panjang. Macam-macam ‘urutannya’, tetapi secara umum bisa dikatakan itu perlu prakondisi sosial, prakondisi teknis, dan prakondisi politis. Prakondisi sosial itu lebih dari sekedar ‘tabungan’ di dunia ketiga-nya Popperian, atau tidak hanya soal eksternalisasi-obyektivasi, tetapi juga kadang perlu peristiwa dimana palu dipukul keras-keras. Dari perjalanan panjang kasus ijazah palsu di republik kita bisa mendapatkan pelajaran berharga. Dari apa yang hadir dalam dunia digital-internet, trio RRT (ya RRT) tidak hanya menghadirkan bahasan-ilmiah soal kasus ijazah palsu, tetapi ketiganya dengan gaya-gayanya seakan telah memukul palu keras-keras. Dan dengan itu pula, sadar atau tidak, pejuang yang lain seakan juga mendapat energi tambahan, terutama secara tidak langsung, yaitu dengan mulai berkembangnya prakondisi sosial. Ketika prakondisi sosial itu semakin terbentuk maka bagaimana ‘dunia kedua’ (dunia olah mental termasuk bagaimana menghayati (kembali) dunia ketiga), akan semakin saling mengembangkan, terlebih ketika inter-subyektifitas menjadi lebih mudah seperti sekarang ini. Atau katakanlah juga, proses internalisasi dari yang sudah terobyektivisir akan semakin ‘mudah’. Bahkan jika R yang satu itu dari RRT nekad ‘menyeberang’, mampukah ia menghancurkan prakondisi sosial yang ia juga ikut membangunnya? Sangat kecil kemungkinannya, bahkan dengan menyeberangnya dia dan kemudian mengambil langkah ‘kontra-revolusi’, justru ‘revolusi’ semakin menguat. Setan gelap yang sedang dilawan itu justru nampak semakin gelap saja, dan itulah juga yang sedang dihayati oleh khalayak kebanyakan. Setan gelap yang semakin terbukti semau-maunya menghalalkan segala cara seakan ia hidup di luar peradaban saja. Lihat juga bagaimana semakin banyak alumni Universitas Gajah M itu semakin berani membela kehormatan alma-mater-nya. Semakin banyak yang melihat petinggi universitas adalah biang kerok dari hancurnya kehormatan alma-maternya. Dan siapa sudi kehormatan ibu (mater) yang sudah membesarkannya diacak-acak demi uang yang tak lebih dari 30 milyar itu?

Maka segala terkait dengan gugatan di pengadilan, CLS atau sidang-sidang KIP, juga bagaimana terkait dengan kepolisian, yang bisa dikatakan sebagai prakondisi teknis, semakin menampakkan diri sebagai hal yang tidak lepas dari berkembangnya prakondisi sosial. Tanpa prakondisi sosial berkembang, bisa-bisa hal teknis itu jadi ‘lepas kendali’ semau-maunya. Dengan terus berkembangnya prakondisi sosial dan prakondisi teknis, kita juga bisa merasakan adanya prakondisi politis dimana yang sosial dan teknis itu mendapat atau ‘diberi’ kesempatan untuk berkembang.

Dengan proses-proses molekuler yang terus berlangsung dan terjaga itu sebenarnya tinggal menunggu ‘katalis’ saja untuk ‘menyelesaikan’ kasus ijazah palsu ini. Tentu sik-setan gelap yang sedang dilawan itu tidak akan tinggal diam. Ketika sik-R satunya bisa dibuat ‘menyeberang’ setelah sebelumnya ada peristiwa ‘penyeberangan’ sama, dan ternyata itu tidaklah mengubah apa-apa dalam prakondisi sosial -bahkan jika sik-R itu mau kayang atau koprol sekalipun, khalayak kebanyakan bahkan akan semakin yakin bahwa yang sedang dihadapi memang adalah setan gelap, yang semakin gelap saja. Maka yang harus dipersiapkan adalah ketika ‘industri alih isu’ akan dikerahkan. Sebab jika itu sudah ‘diaktifkan’ maka bisa saja muncul peristiwa yang nekad keluar dari horizon peradaban. Apa saja. Apa saja. Apa saja. Mata gelap. Tanpa beban. Kalau ‘orang itu’ merasa hidup (terbiasa) dalam peradaban, ia pasti sudah menunjukkan ijazahnya dulu-dulu dan mempersilahkan siapa saja untuk menguji keasliannya. Siapa saja. Itu kalau ia sadar hidup dalam peradaban. Masalahnya, nampaknya ‘orang itu’ memang sudah terbiasa hidup di luar peradaban. Atau memang tidak tahu tidak paham soal keadaban-publik? *** (19-03-2026)

1916. Ayunan Ekstrem Bandul

20-03-2026

Teori tentang bintang tidak akan mengubah esensi bintang, tetapi teori tentang manusia bisa akan mengubah manusia secara esensial, demikian pernah dikatakan oleh Abraham J. Heschel (1907-1972), seorang filsuf-rabbi Yahudi dalam Who is Man? (1965) Dengan berangkat dari teori tripartite jiwa-nya, Platon menggambarkan keadilan bisa didekati jika masing-masing menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik. Kelas filsuf raja, kelas serdadu, dan kelas pedagang/petani itu masing-masing menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik. Tentu setelah Platon banyak teori tentang keadilan terus berkembang, tetapi paling tidak pendapat Platon tentang keadilan itu bisa sebagai alat deteksi dini hadirnya ketidak-adilan.

Aristoteles muridnya Platon pernah mengatakan bahwa manusia itu juga adalah zoon politicon, binatang politik, yang hidup dalam polis. Dari studi panjang Marx, kita bisa semakin yakin bahwa tugas sebagai ‘binatang politik’ itu memang untuk membuat polis menjadi semakin ‘cocok’ untuk kehidupan manusia. Politik tidak untuk menjadikan bandul terayun di ujung dan membiarkan negara menjadi ‘ultra-minimal state’, atau di ujung lain menjadi ‘ultra-maximal state’. Yang dimaksud di sini adalah politik yang tempatnya di ‘bangunan atas’, menjadi ‘ultra-minimal’ karena seakan semata ditentukan oleh dinamika ‘basis’, menjadi ‘ultra-maksimal’ ketika semua dinamika di ‘basis’ diatur oleh negara, oleh politik. Maka menjadi politisi yang tidak amatiran itu bukan soal bagaimana merebut kuasa, tetapi lebih soal bagaimana soal penggunaan kuasa. Bagaimana soal bermacam hasrat dikelola saat penggunaan kuasa. Maka kalau ingat nasehat Sun Tzu, bukan hanya mengenal ‘musuh’, tetapi mengenal diri juga penting. Termasuk diri yang mana menurut Freud justru bagian tidak-sadarlah yang merupakan bagian terbesarnya. Bagian terbesar dimana id bersemayang. Id yang lebih mendasarkan diri pada ‘prinsip kesenangan’.

Maka dalam rentang ‘perebutan kuasa’ atau katakanlah di sini pemilihan umum, kadang ‘prinsip kesenangan’ ini yang lebih menonjol jika bermacam pembatasan minim atau pelanggaran dibiarkan. Gelombang sinyal yang dipancarkan menyesuaikan dengan radar-radar yang digendong oleh pemilih, radar ke-tidak-sadar-an. Jika 100% sinyal yang dipancarkan berangkat dari keberpikiran maka bisa-bisa yang menangkap sinyal itu hanyalah sedikit orang saja. Kita bisa belajar dari Jepang terkait dengan pembatasan atas laku eksploitasi ke-tidak-sadar-an atau id ini, sehingga ketika sinyal keberpikiran dikeluarkan oleh calon, banyak yang mau dan mampu menangkapnya. Jangan sekali-kali berpikir bahwa sebagian besar pemilih masih berpendidikan rendah atau sekitar-sekitarnya, tidak sekali lagi tidak, dan ini lebih terkait dengan (tidak dibatasinya yang terkait dengan) eksploitasi ke-tidak-sadar-an itu. Bukan IQ. Percobaan Stanley Milgram menunjukkan hal itu, tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan peserta eksperimen. Atau ‘kedudukan sosial’. Ketika eksploitasi ‘prinsip kesenangan’ -dalam hal eksperimen Milgram: keinginan kuat ikut mengembangkan pendidikan (bandingkan dengan keinginan kuat mengembangkan gizi anak), maka siapa saja rasionalitasnya akan mudah saja untuk tertekan.

Ketika Lord Acton pada abad 19 mengatakan bahwa absolute power corrupts absolutely, jelas itu ada dalam rentang ‘penggunaan kuasa’. Dan godaan terbesar adalah (hasrat) untuk mempertahankan kuasa. Kuasa digunakan pertama-tama untuk melanggengkan kuasa. Kuasa untuk mempertahankan apa-apa yang sudah diperoleh, yang sudah dinikmati. Sebenarnya Machiavelli sudah menyinggung soal ‘merebut’ dan ‘menggunakan’ kuasa, yang memang bisa beda. Beda karena dalam menggunakan kuasa Machiavelli menekankan pentingnya virtue, dalam arti: situasi yang berbeda memerlukan cara-cara penanganan yang berbeda juga. Maka ketika sihir melanggengkan kuasa seakan sudah seperti ‘lingkaran tertutup’, virtue-pun akan menyempit. Situasi yang dilihat hanya situasi yang mengancam kuasa di tangan. Jika memakai pembedaan Alvin Toffler terkait power, dimana dibedakan antara kekuatan kekerasan, uang, dan pengetahuan, maka dimaksimalkanlah ketiga sumber kekuatan itu. Dimaksimalkan artinya bandul diayun sampai ujung ekstremnya. Kekuatan pengetahuan melalui buzzerRp, relawan, dan propaganda tanpa henti. Kekuatan uang melalui redistribusi asset (negara) secara ugal-ugalan bagi para pendukung, dan tentu juga: kekuatan kekerasan. Kekuatan pengetahuan tidak hanya berupa ‘serangan’ kepada khalayak, tetapi juga pada para ‘elit’ melalui ancaman ‘politik skandal’: sandera kasus.

Apa cerita selanjutnya ketika ketiga bandul kekuatan di atas diayun sampai ujung ekstremnya? Hasil akhirnya tak jauh-jauh amat dari kubangan id yang berdasar ‘prinsip kesenangan’ itu: kenikmatan luar biasa. Dan kembali pada Thomas Hobbes yang berpendapat bahwa soal kuasa itu tidak hanya dibawa sampai ajal menjemput, tetapi adalah juga untuk mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya, maka tak mengherankan meski sudah ‘berganti rejim’, rejim lama yang penuh dengan ‘prinsip kesenangan’ itu akan memaksakan diri sebagai ‘matahari kembar’. Dan dapat kita lihat bersama, bagaimana ‘kutukan matahari kembar’ itu terus saja mewarnai perjalanan republik, sampai hari-hari ini. Melawan ayunan bandul ekstrem dengan ayunan ekstrem pula. Sungguh mem-bagong-kan. Sungguh celaka rakyat ‘terperangkap’ di tengahnya. Politik akhirnya bukan untuk ‘melawan’ nuansa deterministik ‘basis’ sehingga ‘pembagian kekayaan’ bisa lebih merata, tetapi lebih sibuk untuk ‘mempertahankan kuasa’ demi mempertahankan apa-apa yang sudah diperoleh, termasuk ‘jalan gampang’ dalam memperoleh pendapatan. Aksi-reaksi yang membangun ‘spiral kekerasan’ ini akhirnya melanggengkan juga ke-tidak-adil-an. *** (20-03-2026)

1917. Mulut Bermata Dua

21-03-2026

Bukan tanpa sebab SBY memperingatkan soal ‘matahari kembar’[1]: berdasarkan pengalaman.[2] Yang dilakukan sejak hari-hari pertama menjabat adalah memastikan tidak adanya potensi berkembangnya ‘matahari kembar’. Yang sama dengan hari-hari ini, ada kerepotan terkait dengan “Cikeas Boys/Girls” saat itu, contoh gamblang terkait dengan ‘apel washington’ itu. Demikian juga saat ini banyak keluhan terkait dengan “Hambalang Boys”, tentu beda soalnya. Tetapi ini cerita lain, focus tulisan ini lebih pada soal ‘matahari kembar’. Juga tulisan ini didorong oleh kegeraman terkait dengan program MBG yang terus saja menuai kontroversi dalam pelaksanaannya. Kontroversi? Apa sebabnya? Akankah jika SBY presidennya sekarang ini hari-hari pertama ia akan ganti dulu ‘panglima’ Badan Gizi Nasional-nya? Itu jika berandai-andai.

Tetapi jelas bukan berandai-andai jika dikatakan bahwa terlalu banyak jejak digital menunjukkan bagaimana kata-kata Kepala BGN tunjukan rejim terdahulu itu banyak yang masuk kategori asal mangap, asal njeplak, nir-empati. Tentu ini bukan kebetulan soal kualitas saja, nggak ada soal kebetulan di sini. Apapun itu, dilihat dari besarnya anggaran yang dipersiapkan atau yang akan terlibat, bahkan malaikat-pun akan tergoda untuk ikut menikmati. Maka kita sebagai pembayar pajak akan sangat sah ikut nimbrung membicarakan. Sah, sangat sah. Termasuk khawatir jika dana gigantis itu kemudian digunakan untuk membangun ‘invisible party’ demi langgengnya kekuasaan. Dan dalam konteks ‘matahari kembar’, bagaimana jika ini lebih untuk sik-‘matahari lama’? Yang kemudian sik-‘matahari baru’-pun tidak mau kalah? Dan bagaimana jika sik-‘matahari lama’ yang menunjuk Kepala BGN itu berkepentingan program makan gratis ini menjadi ‘gagal’ sehingga tidak bisa digunakan untuk mendukung nantinya ketika pemilihan digelar? Makanya muncullah asal mangap, asal njeplak, nir-empati, gegayaan main golf saat bencana, dari petinggi BGN itu. Tidak ada yang kebetulan. Semau-maunya, nantang sana nantang sini, kebetulan karena tidak punya kualitas? Tidaklah. Inilah yang dimaksud dalam judul, mulut bermata dua. Bayangkan saja, mata satunya untuk menggunakan dana gigantis yang dikumpulkan dari pembayar pajak terhormat untuk membangun kaki-kaki atau pilar kekuasaan, sedangkan mata lainnya untuk melakukan pembunuhan karakter program sehingga menjadi kurang berkhasiat jika mau dijadikan modal dalam pemilihan berikut? Mau uangnya untuk bangun kaki kuasa, tetapi ogah ‘memberikan nama’ bagi lawan? Dan semua terjadi karena adanya ‘matahari kembar’ itu. Bagaimana jika memang itu yang sedang terjadi dalam dunia nyata, tidak berandai-andai lagi?

Sebagai pembayar pajak, sah dan sangat sah untuk mempersoalkan hal-hal di atas. Yang pasti dan tidak berandai-andai, jelas itu bukan uang-uangnya mbah-mu, cuk … *** (21-03-2026)


[1] Lihat misalnya, https://news.detik.com/berita/d-7532183/sby-singgung-matahari-kembar-di-politik-akan-kacau-dan-makin-panas

[2] Lihat misalnya masalah penetapan Panglima TNI saat itu

1918. Mendadak Terharu

22-03-2026

Hari-hari ini banyak unggahan presiden Prabowo bertemu dengan pengamat dan jurnalis, termasuk Najwa Shihab. Banyak pendapat atau analisa terkait bermacam unggahan tersebut. Tulisan ini berangkat dari momen 2 detik saat presiden menjawab cecaran Najwa Shihab, lihat salah satunya dari unggahan https://www.youtube.com/watch?v=bWHCcGocQJU dua detik di tengah-tengah rentang waktu menit 9.20-9.25, ketika membahas kerusuhan Agustus tahun lalu. Isi tanya jawab antara presiden dan mbak Najwa sungguh menggelitik, tetapi yang jadi bahasan saat ini adalah 2 detik ketika yang duduk di samping presiden (Hasan Nasbi?) bilang ‘kantor gubernur’ saat presiden mengatakan akan ada yang mau bakar gedung DPR. Dan segera saja kata ‘kantor gubernur’ itu diulang presiden untuk menegaskan lagi jawabannya.

Melihat dan mendengar momen itu, tiba-tiba saja menjadi ingat Eksperimen Milgram bersama Universitas Yale di awal tahun 1960-an. Intinya kira-kira begini, ditempelkanlah pamphlet untuk merekrut relawan untuk suatu percobaan dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan. Jadi sejak awal, para peserta eksperimen sudah tahu dan ada dalam kesadaran mereka bahwa tujuan eksperimen itu baik adanya: meningkatkan kualitas pendidikan. Mungkin saja ada yang mendaftar karena ada ‘uang saku’-nya, tetapi tetap saja maksud baik itu sudah masuk dalam otak. Eksperimen sendiri terdiri dari ‘guru’ yang akan diperankan oleh peserta eksperimen yang direkrut itu. Juga murid diperankan oleh actor. Selain itu ada ‘pengawas’. ‘Guru’ akan memberikan pertanyaan pada ‘murid’ dan jika salah maka dalam eksperimen itu ‘guru’ akan atau wajib memberikan sengatan listrik (pura-pura) pada ‘murid’, yang adalah seorang actor dan akan acting pura-pura kesakitan ketika ‘sengatan’ diberikan. Lalu apa tugas ‘pengawas’? Ia akan memperingatkan ‘tugas’ guru jika ‘guru’ menjadi ragu-ragu saat akan memberikan sengatan listrik pada ‘murid’ karena salah menjawab. Dan apa hasil dari eksperimen itu? Ternyata sebagian besar ‘guru’ atau rekrutan peserta eksperimen mau saja memberikan sampai sengatan tertinggi, bahkan ketika ‘murid’ (actor) sudah memperlihatkan kesakitan tinggi dan minta sengatan untuk dihentikan. Apapun latar belakang ‘guru’ rekrutan itu, ada yang pendeta, dosen, pekerja biasa, dan macam-macam. Eksperimen ini seakan mengkonfirmasi apa yang disebut oleh Hannah Arendt sebagai banality of evil.

Bagaimana jika peserta eksperimen atau yang akan berperan sebagai ‘guru’ itu adalah sosok yang mempunyai karakter ‘mudah terharu’? Tidak hanya ‘mudah terharu’ saja, tetapi juga ‘mudah senang’, mudah marah’ dan bermacam ‘mudah’ lainnya dalam gejolak emosinya? Dan jika masuk ruang kantor jabatan dengan ‘hal-hal besar’ yang diyakini punya maksud baik? Apakah segala carut marut jika itu terjadi -padahal sejak awal begitu kuat ‘maksud baik’-nya, hanya masalah ABS dari para penjilat di sekitar? Jangan-jangan selalu saja ada ‘pengawas’ di situ, dekat-dekat di sekitarnya … *** (22-03-2026)

1919. Biaya Cawé-cawé

23-03-2026

Teori segitiga hasrat atau teori mimetic-nya Rene Girard sebagai titik berangkat tulisan ini. Dikatakan oleh Girard bahwa seseorang itu (S) akan menghasrati suatu obyek (O) lebih karena ia meniru model (M) yang juga menghasrati (O). Tidak jauh-jauh amat dari logika iklan, khalayak kebanyakan diharapkan akan berhasrat juga pada rokok Marlboro ketika melihat sik-Marlboro Man, misalnya. Atau dalam dunia influencer juga. Girard membedakan model menjadi model internal dan model eksternal. Sik-Marlboro Man adalah model eksternal, karena katakanlah jauh dari (S). Sedangkan model internal serasa dekat, dan memang secara fisik dekat. Misalnya, ketika kita masuk rumah makan dan melihat ada yang makan X terlihat sangat menikmati, maka kita bisa-bisa ingin ikut (meniru) pesan juga. Ketika kita pesan, ternyata X sudah habis, tanpa sadar ada perasaan menelusup bahwa yang sedang makan X itu seakan menjadi rival kita. ‘Status’ sebagai model internal tidak hanya akan ditiru hasrat-hasratnya, tetapi menurut Girard perlahan akan memunculkan rivalitas antara (S) dan (M)-nya. Bagaimana membuat rivalitas antara subyek (S) dan model (M) itu tidak berkembang menjadi saling menghancurkan? Distitulah pentingnya adanya ‘kambing hitam’. Kambing hitam yang akan ‘disembelih’ bersama-sama untuk mengurangi ‘tensi’ rivalitas antara (S) dan (M).

Kata cawé-cawé menunjuk bukan hanya ikut ngerècoki atau campur tangan, di ranah kuasa negara itu akan menjadi ‘model internal’ jika yang cawé-cawé adalah penguasa rejim terdahulu. Maka menurut Girard di atas, cepat atau lambat akan muncul rivalitas antara S, penguasa baru, dan M (model: ‘hidup sik-Jé …’): sik-penguasa lama yang cawé-cawé itu. Karena hasratnya (jadi) sama, hasrat akan kuasa dengan segala benefit ikutannya. Inilah biaya utama dari cawé-cawé itu, munculnya rivalitas. Dan bayangkan jika rivalitas itu muncul dalam ranah kuasa negara, dengan segala kepentingan dan segala kenikmatan yang sudah diperoleh oleh rejim terdahulu dan segala kenikmatan yang dibayangkan akan diperoleh oleh rejim baru? Dengan segala pendukungnya, baik yang lama maupun yang baru. Dan jelas pula rivalitas dalam konteks ini akan terjadi dari hari-ke-hari, tidak hanya terjadi besok saat rentang waktu pemilihan digelar. Dari hari-ke-hari dengan segala perhatiannya, dengan segala energinya, dengan segala panas-dinginnya. Dengan segala kucluk-kucluk-annya. Dalam konteks republik, bahkan paradigma bebas aktif-pun bisa-bisa akan dikorbankan demi mempertahankan diri dan memenangkan kontes rivalitas tersebut. Tidak hanya bebas aktif yang bisa-bisa akan dikorbankan, tetapi juga serasa periode kampanye itu tidak pernah berakhir saja. Panggung ‘maksud baik’ itu digelar dimana-mana, dan diulang-ulang, terutama dalam pidato-pidato. Atau bincang-bincang. Akhirnya tanpa sadar tumbuh keyakinan bahwa propaganda itu seakan sebagai obat mujarab saja, sebagai panacea. Semua akan selesai ketika ‘maksud baik’ dibentangkan lagi di atas panggung. Sim-sa-la-bim.

‘Biaya’ kedua masih terkait dengan rivalitas di atas, bagaimana jika kemudian mengambil bentuk juga dengan mencari ‘kambing hitam’? Untuk mengurangi ‘tensi’ rivalitas? Siapa sik-kambing hitamnya? Maka masyarakat sipil-lah yang tidak hanya sebagai pelanduk mati di tengah ketika ada rivalitas antar gajah, tetapi juga sebagai kambing hitam. Sebagai kambing hitam ketika ronde-ronde rivalitas harus dihentikan lebih dahulu. Bahkan dalam berbagai aspeknya, telah menjadi kambing hitam permanen. Kepentingan rakyat yang diamanatkan oleh cita-cita Proklamasi itu telah dirampok secara ‘bergerombol’, dikhianati, dipinggirkan, jadi ‘musuh bersama’, layaknya kambing hitam yang sedang disembelih tanpa henti. Belum lagi ‘aktor-aktor’-nya yang sungguh telanjang telah ‘disembelih’ dalam bermacam bentuknya. Dari kekerasan verbal dengan dituding sebagai antek asing, tidak patriotic, sampai dalam bentuk yang sungguh mengerikan. Brutal. *** (23-03-2026)