29-03-2026
Yang dimaksud di sini jogetan di ranah kuasa negara, dan jogetan dalam arti harafiah. Tentu di ranah kuasa pada rentang waktu kampanye, meski serasa memuakkan, jogetan tidak bisa dicegah dan memang silahkan saja. Tetapi ketika menang dan masuk rentang penggunaan kuasa? Tiga jogetan dimaksudkan ketika jogetan hadir di depan publik saat peringatan kemerdekaan Agustusan di tempat sama ketika upacara digelar, yang kedua di ruang sidang DPR sebelum heboh demonstrasi Agustus tahun lalu, dan terakhir joget MBG itu oleh salah satu pengelola SPPG. Dalam banyak halnya sebenarnya termasuk juga joget-panggul-beras oleh petinggi saat bencana. Atau juga joget bibir dimana keluarannya adalah asal mangap, asal njeplak. Terakhir ketika menghadapi krisis energi, menterinya menyarankan pada khalayak ‘kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak jangan kompornya boros’. Maksudnya mungkin mematikan kompor gas setelah masakannya matang? Apapun itu, itu pejabat memang sering asal mangap. Mengapa yang seperti ini terus saja berulang?
Negri dan Hardt dalam Empire (2000) mengangkat lagi apa yang sudah ditulis oleh Polybius lebih dari 2000 tahun lalu, rejim campuran, antara monarki, aristokrasi, dan demokrasi. Apakah seperti Inggris, misalnya? Nampaknya tidak, karena di Inggris monarki (dan aristokrasinya) sudah sangat dibatasi melalui konstitusi, dan dengan itu pula demokrasi kemudian mendapat kesempatan lebih untuk berkembang. Bagaimana jika monarki dan aristokrasi tidak dibatasi oleh konstitusi? Maka bisa dibayangkan, ketika kuasa lebih untuk mempertahankan apa-apa yang sudah diperoleh, kaum monarki dan aristokrasi itu akan (lebih) bersekutu untuk melawan demokrasi. Melawan sik-demos. Melawan ‘yang banyak’, demi segala kenikmatan tanpa putus.
Bertahun terakhir sebenarnya bisa dilihat sebagai upaya tanpa henti untuk membangun ‘rejim campuran’ ini. Bahkan di sana-sini berlangsung dengan vulgarnya, misalnya mengintrodusir istilah ‘raja jawa’ itu. Juga lihat bagaimana sibuknya dalam membangun kelas bangsawannya itu. Bagi-bagi jabatan semau-maunya, atau juga lapak-lapak korupsi dan pemburuan rente, komplit dengan pendisiplinan melalui sandera kasusnya. Termasuk lagi bagaimana membangun kelas bangsawan kesayangan: yang pegang senjata, terutama yang pegang senjata api, pentungan, dan gas air mata di rejim terdahulu. Police-state yang disinggung dalam Empire itu kemudian diterjemahkan secara harafiah selama paling tidak sepuluh tahun. Jika dilihat lebih jauh, sebenarnya bangunan rejim yang diangankan itu persis sama dengan bangunan rejim jaman old. Ada sik-mono, sik-aristo-sik-olig(arki), yang bersama-sama memanipulasi sik-demos. Penampakan sik-mono memang ‘mono’ tetapi pada dasarnya semacam board of power, tidak di tangan tunggal, kalau memakai istilah Jeffrey Winters, sudah bukan lagi oligarki sultanistik setelah jaman old ‘runtuh’. Di bawahnya adalah kaum bangsawannya, aristokrasi, dengan bangsawan ‘pilihan’ adalah yang pegang kekuatan kekerasan. Tak jauh-jauh amat dari bangunan Empire yang dibayangkan oleh Negri dan Hardt. Dengan segala kenikmatan diperoleh, tugas kaum bangsawan terutama adalah mengendalikan sik-demos. Dengan cara pengendalian dari jogetan seperti di atas sampai pada yang paling brutal jika diperlukan. Newspeak Orwellian itu tidak hanya soal bahasa verbal, tetapi juga dengan bahasa tubuh. Tubuh yang terpenjara, tubuh yang bonyok, sampai tubuh yang terkelupas karena siraman air keras. Bahkan sampai tubuh yang meregang nyawa. Brutal. *** (29-03-2026)