1940. Kampanye Tanpa Akhir?

15-04-2026

Dari pencarian di google, katanya, menurut KBBI kata kampanye berasal dari bahasa Belanda, yaitu campagne. Secara historis, istilah ini berakar dari bahasa Prancis campagne yang berarti daerah terbuka/lapangan, dan berakar lebih jauh dari bahasa Latin campania, yang merujuk pada operasi militer atau rangkaian aktivitas di lapangan. Dalam bahasa Inggris, campaign juga mempunyai asal usul kata sama. Pada tahun 1640-an berarti juga "operation of an army in the field”. Yang secara umum berarti pula "to continued or sustained aggressive operations for the accomplishment of some purpose" pada tahun 1790-an. Di Amerika mempunyai arti khusus sejak 1809, terutama sebagai "political activity before an election, marked by organized action in influencing the voters".[1] Dan perlu ditekankan di sini tentang political activity before an election.

Jadi judul jika dilihat dalam ranah aktivitas politik, terasa kontradiktif. Semestinya setelah pemilihan selesai dan pemenangnya ditetapkan, kampanye berakhir. Jika mengingat pendapat Ketua Mao tentang politik: perang tanpa pertumpahan darah, maka jika kampanye terus melanjut setelah pemilihan, perlahan hidup bersama seakan serasa masuk dalam ‘dobel perang’, ada double impact secara langsung. Sebab, kampanye sendiri seperti ditunjukkan di atas, erat dengan ‘nuansa perang’. Setelah pemilihan sebenarnya ‘perang’ terus melanjut, tetapi bisa dibayangkan itu terjadi dalam kanal-kanal tertentu, bukan di semua lini seperti saat kampanye. Term oposisi di luar pemerintah sebenarnya juga memberikan bayangan bahwa ‘perang tanpa pertumpahan darah’ itu berlangsung dalam ‘lapangan tertentu’.

Maka semakin terasa peran penting partai politik. Baik yang menang maupun yang kalah, setelah pemilihan masing-masing mengevaluasi diri dan kemudian melakukan konsolidasi atau apapun itu namanya. Termasuk dan terutama jika ia menjadi oposisi. Masyarakat sipil, media massa kadang dikatakan sebagai bagian dari pilar demokrasi sebenarnya karena ia mempunyai potensi besar untuk memainkan peran sebagai oposisi. Mengapa yang sedang mengelola negara perlu banyak di-oposisi-i? Karena memang sik-pengelola negara itu punya sumber daya yang sangat-sangat besar, jika tidak diimbangi dengan oposisi yang kuat maka bisa-bisa akan semau-maunya. Bahkan ‘partai tunggal’-pun perlu kritik-otokritik. Dengan bermacam ‘batasan’ dan etika dalam per-partai politik-an, maka ‘perang’ yang dilancarkan oleh partai oposisi-pun tidak akan mengambil ‘perang di semua lini’ seperti saat kampanye. Tetapi bagaimana dengan fenomena ‘relawan’?

Tentu di rentang pemilihan relawan-relawan bisa bermunculan, tetapi setelah pemilihan? Dari pengalaman lebih dari 10 tahun terakhir, dengan mata telanjang kita bisa merasakan bagaimana ‘relawan-relawan’ pasca pemilihan (tidak bubar-bubar meski pemilihan sudah berakhir) telah merusak dalam banyak hal hidup bersama. Paradigma-nya tetap saja paradigma kampanye, ‘perang’ di semua lini. Dan mereka-mereka itu tidak mempunyai aturan atau batasan atau etika seperti dituntut dalam sebuah partai politik. Apalagi melanjutnya ‘relawan’ itu lebih karena motif uang, baik secara langsung maupun mlipir melalui jatah pembagian kuasa. Artinya, dorongan lebih dari id dalam istilah Freudian. Sejelek-jeleknya partai, ia tidak hanya punya dorongan id, tetapi juga ada super-ego dan ego-nya.

Ada bagian pernak-pernik di atas yang perlu perhatian lebih, soal ‘tata kelola’ atau manajemen kerumunan. Salah satu alasan supaya rejim demokrasi ini tidak bablas jadi mob rule. Atau bahkan berbalik menjadi tirani. Yang dimaksud di sini tidak hanya kerumunan (ketidak-ber)pengetahuan, tetapi juga kerumunan kekuatan uang dan kerumunan kekuatan kekerasan. Kerumunan dalam ‘logika’ partai politik bagaimanapun ia mempunyai ‘hal lain’ (semestinya) sehingga tidak (mudah) jatuh pada nuansa mob. Tetapi relawan? Apalagi ‘relawan personal’, milik sik-A, sik-B, misalnya? Apalagi jika lebih didorong oleh ‘kerumunan uang’. You are what you eat, dan bagaimana jika sehari-hari yang ‘dimakan’ adalah kerumunan? Bayangkan jika sik-pemimpin lebih dibentuk oleh kerumunan.

Berangkat dari kemungkinan bablas jadi mob rule, sedikit banyak kita bisa membayangkan bahwa itu dimulai dari membusuknya lembaga-lembaga. Lembaga-lembaga menjadi busuk karena terlalu banyak dikelola oleh id, bukan super-ego dan ego lagi. Semau-maunya. ‘Hasrat gelap’ kemudian menjadi ‘pelaku utama’ dalam lembaga-lembaga. Segala kenikmatan kemudian direngkuh dengan ‘jalan gampang’. Dan apa akibatnya? Relawan-relawan, buzzerRp, cèntèng-cèntèng, akan melakukan apa saja yang diperintahkan demi segala kenikmatan itu tetap di tangan. Apa saja, apa saja, apa saja. At all cost. Tak peduli apakah republik akan masuk jurang atau tidak. Tidak peduli lagi jika republik akan pecah-hancur.

Kampanye tanpa akhir seperti dalam judul juga akan berdampak luas. Karena di belakang itu sebenarnya bisa-bisa menelusup sebuah kondisi ‘kedaruratan’. Lihat misalnya, kampanye tanpa henti tentang ‘bahaya laten’, tentang radikalisme, tentang ‘antek-antek asing’, atau ganyang ini ganyang itu, setan ini setan itu, dan seterusnya. Kata Carl Schmitt, "sovereign is he who decides on the exception" (souverän ist, wer über den Ausnahmezustand entscheidet), seratus-empat tahun lalu. *** (15-04-2026)

[1] https://www.etymonline.com/word/campaign