1955. Nabok Nyilih Bedil

30-04-2026

Semestinya nabok nyilih tangan (Jw.), tetapi bagaimana jika itu di ranah negara? Biar jelas maka katakanlah, nabok nyilih bedil. Negara yang sampai sekarang diyakini sebagai yang sah dalam penggunaan kekuatan kekerasan. Termasuk bagaimana dan kapan serta tertuju pada siapa senapan akan menyalak.

Nabok nyilih bedil paling piawai salah satunya adalah Israel jika kita bicara di tingkat global. Bedil punya Amerika. Siapa yang akan di-tabok, atau bahkan ditempeleng? Ya suka-suka ia. Lha kok sampai mau-maunya bedil ‘dipinjam’ untuk menempeleng pihak lain? Rumit, tidak mudah dijelaskan meski bau menyengat sudah mengganggu hidung. Bisa saja dijelaskan, tetapi apapun itu tidak akan pernah ada penjelasan tunggal.

Politik akan lekat dengan ‘gertak’, paling tidak sebagai konsekuensi dari ‘perang tanpa pertumpahan darah’. Mungkinkah bongkar-pasang kabinet hari-hari ini sebagian adalah juga panggung unjuk-gigi untuk menggertak ‘lawan politik’ dari (jatah?) sik-‘matahari kembar’? Ia atau mereka ingin mengatakan bahwa bisa saja akan melakukan ‘nabok nyilih tangan’ dan bahkan jika perlu ‘nabok nyilih bedil’? Maka jangan heran jika antek-antek mereka tetaplah pecicilan dan merasa tidak akan tersentuh hukum. Tanpa beban, tanpa sungkan lagi.

Sekali lagi, menurut Thomas Hobbes dalam Leviathan, hasrat akan kuasa itu tidak hanya dibawa sampai ajal menjemput, tetapi adalah juga untuk mengamankan atau mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya, sudah dinikmatinya. Untuk itu bisa saja berakibat apapun akan dilakukan. At all cost. Dan itulah yang akan dilakukan oleh oligarki, terlebih tipe oligarki di luar tipe oligarki sipil (ada tipe: oligarki panglima, oligarki penguasa kolektif, oligarki sultanistik) dalam terminology Jeffrey Winters. Karena dalam oligarki sipil, hukum masih bisa diharapkan sebagai bagian rem dari laku ugal-ugalan. Ketika hukum menjadi rusak, maka memang akan menjadi rusak-rusakan. Semau-maunya. *** (30-04-2026)