1950. KDMP, Setahun Lalu

25-04-2026

Bisakah Koperasi Desa Merah Putih sukses?

Awalil Rizky vs Suroto

Klik:

https://www.youtube.com/watch?v=XV6KCeSGct8

1952. Problem Yang Dibuka C.P. Snow

27-04-2026

Bermacam ‘pintu masuk’ bisa hadir sehingga tiba-tiba atau perlahan kepenasaran menyeruak ke atas. Macam-macam, salah satunya ‘celetukan’, bahkan jika itu merupakan ‘celetukan alam’ sekalipun. Apalagi ‘cetetukan’ dari seorang pemikir, tentu keluarnya sudah melalui proses panjang, disadari atau tidak. Kutipan dari C.P. Snow (1905-1980) dari bukunya Public Affairs (Macmillan, 1971, p. 195) kiranya bisa menjadi salah satu ‘pintu masuk’ kepenasaran: “When you think of the long and gloomy history of man, you will find more hideous crimes have been committed in the name of obedience than have ever been committed in the name of rebellion.” Kutipan ini juga ada dalam Introduction bukunya Stanley Milgram (1933-1984), Obedience to Authority (1974), yang merupakan ‘laporan’ dari percobaan lamanya di decade 1960-an.[1]

‘Pintu’ di atas seakan-akan terbuka sedikit ketika beberapa pemberitaan hadir di depan mata melalui jaringan digital-internet, berita pertama adalah kelompok berita yang sedikit banyak menyinggung istilah ‘termul’, dan kelompok berita kedua terkait dengan ‘makar’-nya Saiful Munjani. Istilah ‘termul’ hadir bukanlah di ruang kosong, ‘loyalitas’ mereka-mereka terhadap sik-‘mulyono’ itu semakin menampakkan diri seakan seperti layaknya ‘hewan piaraan terhadap tuannya’. Di lain pihak, ada yang menggelembungkan bahwa ‘makar’-nya Saiful Munjani itu dikategorikan sebagai ‘hal gelap’. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih mengantarkan republik pada the long and gloomy history?

Kedua pemikir-peneliti di atas adalah ‘angkatan’ yang bisa menghayati keganasan Perang Dunia II secara ‘lebih dekat’ dan melanjut pada Perang Dingin. Keduanya juga merasakan bagaimana modus komunikasi man-to-mass terutama melalui jaringan elektronik merangkak sampai puncaknya. Bagaimana kita akan menghayati kutipan di atas di tengah-tengah merebaknya modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital-internet seperti sekarang ini? Keduanya juga merasakan bagaimana bangunan ekonomi global pasca Perang Dunia II sampai kira-kira akhir hayatnya. Sedangkan kita sekarang sedang merasakan bagaimana paradigma neoliberalisme itu sudah mengharu-birukan bangunan ekonomi global selama 40 tahun-an. Dengan segala pergeserannya hari-hari ini yang belum juga jelas mau ke arah mana itu.

Dalam Spiral of Violence (1971) Dom Helder Camara (1909-1999) mengamati bahwa munculnya spiral kekerasan itu dimulai dari situasi ketidak-adilan. Meski kadang ketidak-adilan tidak mampu keluar dari mulut (can subaltern speak?), tetapi soal rasa-merasa akan selalu bisa menghampiri dalam penghayatan. Manusia adalah juga animal symbolicum, dan bahasa adalah simbol paling penting yang pernah diciptakan manusia. Meski tidak mudah, ketidak-adilan perlulah disuarakan, didengar, dan langkah selanjutnya adalah upaya sungguh-sungguh untuk menghindari adanya ‘spiral kekerasan’. Ketika ketidak-adilan disuarakan sebagai salah satu bentuk ‘perlawanan’, dan jika itu tidak didengar tetapi malah kemudian ditekan, direpresif, justru akan muncul ketidak-adilan lebih besar, dan ‘perlawanan’-pun semakin besar, represif semakin besar juga, terjadilah ‘spiral kekerasan’ itu. Tetapi apa yang mendahului bahasa? Meski sebagian besarnya berbahasa dalam praktek itu seakan taken for granted saja, tetapi sebenarnya berpikir-lah yang mendahului berbahasa. Apa yang mau dikatakan dalam konteks ini, antara obedience dan rebellion ada satu hal yang mesti diperhatikan sehingga tidak terperosok dalam the long and gloomy history, bagaimana soal berpikir mendapat perannya. Jadi, apakah itu berarti bahwa ‘without revolutionary theory, there can be no revolutionary movement’?

Masalah utama dalam ‘peta’ kesadaran, apa yang disebut Freud sebagai ‘super-ego’ (berdasar pronsip moralitas) dan ‘ego’ (berdasar prinsip realitas) itu hanyalah merupakan puncak gunung es atau bagian kecil saja dari keseluruhan kesadaran. Bagian terbesarnya adalah ‘id’ (berdasar prinsip kesenangan) yang ada di bawah permukaan, atau bagian ‘tidak sadar’. Maka berpikir yang ada dalam alam sadar (ego) itu perlu selalu diperkuat secara bersama-sama, atau katakanlah dengan peer group-nya, entah dalam bentuk apapun. Yang tidak hanya akan terlibat dalam mengembangkan rasio, tetapi juga super-ego seperti soal integritas, misalnya. Kelompok-kelompok masyarakat sipil pada dasarnya adalah peer group yang di dalamnya akan ada dinamika-dialektika yang mestinya akan melibatkan rasio dan ‘prinsip moral’ tertentu, demikian juga pers, dan juga tentu, partai politik. Bagaimana dengan relawan di ranah politik? Apalagi relawannya sik-A, sik-B? Apalagi ‘ternak-ternak’ sik-A, sik-B? ‘Ternak-ternak’-nya sik-kenikmatan, ‘ternak-ternak’-nya ‘id’. Fasisme ‘berternak’ loyalitas buta karena eksploitasi ‘alam tidak sadar’ ini, atau katakanlah ‘id’. Dari sejarah kita bisa melihat bagaimana the long and gloomy history menjadi begitu kelam-pekatnya ketika evil kemudian menjadi banal, pada jaman Hitler itu. *** (27-04-2026)

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Milgram_experiment

1953. Bahasa dan Kita

28-04-2026

Dalam salah satu unggahan yang membahas tentang LCLR Prambors[1] dikatakan lomba cipta lagu remaja itu digelar karena kesumpekan terhadap lagu-lagu yang liriknya terlalu banyak memakai kata ‘mengapa’. Atau katakanlah terlalu banyak cengengnya. Kecengeng-cengeng-an yang terus saja diulang dalam liriknya. Banyak peserta yang masih duduk di bangku SMA ikut dalam lomba itu. Banyak pula lagu dan nama penyanyi yang di kemudian hari menjadi ikon musik nasional.

Dalam sebuah kuliah di STF Driyarkara, salah satu dosen ‘menjelaskan’ mengapa Singapore itu kadang diplesetkan menjadi Singa-bore oleh beberapa orang Indonesia. Terlalu banyak yang serba tertib, teratur, sehingga menjadi membosankan. Tidak seperti di Indonesia. Dalam sebuah unggahan bincang antara Frankie Budiman dan Bagus Muljadi, disinggung soal bagaimana bahasa Jerman itu memuat istilah atau kata sampai sekecil-kecilnya sehingga terbedakan antara maksud ini dan itu. Sangat tipis bedanya, tergantung pula konteksnya. Di lain pihak banyak bahasa di Nusantara, termasuk bahasa Indonesia kadang serasa ambigu. Meski kadang suatu kata tidak jelas maksud atau ‘batasan’-nya, tetapi di ranah praktek komunikasi tetap saja masing-masing ‘pelaku’ saling memahami maksudnya.

Dalam kuliah di Fakultas Kedokteran doeloe, perlahan menjadi akrab dengan istilah-istilah bahasa asing, terutama yang berakar pada bahasa Latin, untuk menamai bermacam organ tubuh manusia. Sehingga untuk bagian tulang terkecil-pun ada namanya. Bahkan juga dalam diagnosisnya. Ketika menjalani ‘wajib kerja’ di Puskesmas selama 3 tahun, dalam ‘tukar ilmu’ dengan pasien-pun menjadi begitu beragam. Apa yang dipelajari dengan bermacam detailnya -sebatas sebagai dokter umum, berhadapan dengan bermacam keluhan atau definisi dari pasien yang begitu beragam. Apakah kemudian apa saja yang disampaikan oleh pasien itu merupakan hal ‘tidak obyektif’ karena tidak sesuai dengan ‘ukuran obyektifitas’ ilmu kedokteran? Kadang dalam tahap ‘anamnese’ sebagai bagian awal dalam membangun diagnosis, pasien dibiarkan dulu mengatakan apa-apa yang dirasakan. Jika ada pengantar, kadang ikut memperjelas apa yang dialami pasien. Rasa-rasanya yang terjadi adalah sebuah ‘pertemuan’ antara the truth of disclosure yang dibawa oleh pasien dan the truth of correctness yang dipelajari kurang lebih selama 6 tahun di Fakultas Kedokteran doeloe itu.

Salah satu hal terkait dengan modernitas adalah menjadi semakin banyak apa yang kita sebut sebagai ‘ranah’ itu, atau kadang disebut hidup semakin fragmentaris. Apakah bahasa keseharian yang sering menampakkan diri komplit dengan ambiguitasnya itu menjadi tidak kompatibel dengan modernitas yang didorong juga oleh berkembangnya sains? Mau kompatibel atau tidak, nyatanya bahasa itu telah mengiringi perjalanan republik bahkan jauh sebelum merdeka. Dan ‘bekerja’ tuh, baik sebagai alat komunikasi maupun tanpa sadar ikut memberikan ‘kelonggaran’ sehingga lebih mudah tumbuh sebuah toleransi, misalnya. Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata terhadap apa-apa yang bisa dihasilkan oleh ‘bahasa yang detail-clear-distinct’, atau katakanlah supaya lebih bisa masuk pada the truth of correctness. Maka dari bermacam ranah dalam hidup bersama, adalah penting untuk merawat ranah yang lekat dengan the truth of correctness. Kita tidak usah risau dengan perdebatan tentang ‘menara gading’ atau soal ‘pengabdian masyarakat’ seperti disebut dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan mampu membangun the truth of correctness dengan standar tertinggi, itulah salah satu bentuk ‘pengabdian masyarakat’. Yang ‘detail-clear-distinct’-pun bisa saja akan meretakkan ke-menara gading-nya ketika realitas keseharian menjadi salah satu perhatiannya. Dari hal ini maka kitapun bisa menjadi semakin bisa menghayati apa itu ‘rejim jahat’, yaitu ketika hampir semua ranah kehidupan dirusaknya. Termasuk di sini dunia pendidikan, dan terutama pendidikan tinggi komplit dengan dunia penelitiannya.

Hari-hari ini kadang muncul lagu-lagu yang isinya mengkritik laku semau-maunya para pejabat atau elit di republik. Elit yang tidak hanya (menggunakan bahasa untuk) menipu, tetapi juga semau-maunya, bahkan tanpa beban lagi merusak dunia pendidikan. Semau-maunya. Ataukah ini gejala yang mirip dengan lahirnya LCLR ketika merasa sumpek dengan lirik-lirik lagu yang disesaki oleh kata ‘mengapa’[2]? *** (28-04-2026)

[1] https://www.youtube.com/watch?v=DLWTBKmjCgQ

[2] Mengapa di dunia ini
Selalu menertawai
Hidupku yang hina ini
Berteman dengan seorang gadis

Mengapa semua manusia
Menghina kehidupannya
Mencari nafkah hidupnya
Sebagai seorang pramuria

(Kisah Seorang Pramuria, The Mercy’s, 1972)

1954. Ratusan Triliun Serasa Bom Bunuh Diri

29-04-2026

Ketika dua pesawat dibajak dan dipaksa menabrak gedung kembar WTC New York 25 tahun lalu, salah satu yang kemudian muncul dalam silang pendapat: apakah sik-pembajak yang ikut terbunuh dalam peristiwa itu adalah seorang pemberani? Bukan pengecut? Apakah aksinya adalah wujud dari sebuah ‘keutamaan keberanian’? Di awal-awal bukunya Plato and the Virtue of Courage (2006) Linda B. Rabieh mengangkat problem di atas. Banyak pendapat atau nuansa ketika keberanian di-silang-pendapat-i, dan itu menjadi penting karena akan banyak yang dipertaruhkan ketika terperangkap dalam pokoknya berani, berani, berani. Kita sudah merasakan akibat dari pokoknya kerja, kerja, kerja itu, dan tentu kita, anak-anak kita tidak mau menanggung segala bablasan akibat dari pethakilannya pokoknya berani, berani, berani itu.

Platon sendiri tidak sampai pada sebuah definisi kaku tentang apa itu keberanian, tetapi ada yang menarik ketika ‘kegigihan yang bijak’, wise perseverance, (Rabieh, hlm. 28) diajukan. Dan jelas pula, ‘kegigihan yang bijak’ ini akan sangat beda dengan ‘kepala batu’. Ataukan kita juga bisa bertanya, perlukah kegigihan dalam menggapai kebijaksanaan? Dari tahap-tahap kebudayaan Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan mungkin kita bisa lebih mudah membayangkan. Van Peursen membedakan adanya tahap mitis, ontologis, dan fungsionil. Masing-masing tahap tidaklah berarti yang satu lebih tinggi dari yang lain. Semua tahap itu bisa ada dalam perjalanan hidup kita, dan tetap ada. Tetapi masing-masing punya versi bablasannya. Tahap mitis bisa jatuh pada magis, tahap ontologis bisa jatuh pada eskapisme, dan tahap fungsionil bisa jatuh pada operasionalisme. Kerja, kerja, kerja, selama sepuluh tahun diusung kita bisa membayangkan bahwa itu sebenarnya sudah jatuh dalam operasionalisme. Dan jika dirunut ‘ke belakang’, tahap ontologis-pun jatuh dalam eskapisme, dalam arti biar berbusa-busa memperingatkan bermacam hal mendasar -ontologis, ya tetap saja tidak didengar, mbudeg. Jika tidak didengar masih juga ngèyèl bersuara, bisa-bisa ya masuk penjara. Demikian pula tahap mitis, maunya dalam praktek ya masuk dalam modus magis, dikurung ketat dalam bermacam propaganda tanpa henti.

Bagaimana dengan berani, berani, berani, meski tidak secara eksplisit dikatakan, diglorifikasi? Nuansa ‘kegigihan yang bijak’ semakin lama semakin nampak bahwa itu ternyata tidak hadir. Yang hadir, keberanian lebih dalam bentuk ‘operasionalisme’-nya. Dan hikayat tahap ontologis dan tahap mitis-pun akhirnya tidak jauh dari era sebelumnya. Bahkan serasa lebih rusak-rusakan, karena perlahan semakin terhayati ratusan triliun ‘maksud baik’ -misalnya, ingin memberantas stunting, kurang gizi, atau meningkatkan ekonomi kaum miskin di desa, itu justru laksana sebuah bom bunuh diri, hadir dalam ‘keberanian’ yang dengan telak memiggirkan ‘kegigihan yang bijak’. “Bom bunuh diri” yang ikut membunuh ranah-ranah kehidupan lain, dan sayangnya juga telah membesarkan secara ugal-ugalan perburuan rente dan bentuk korupsi lainnya. Gila-gilaan, tanpa beban, tanpa sungkan. Ratusan triliun uang yang dikumpulkan dari segala keringat pembayar pajak. Maka bagi pembayar pajak yang terhormat, mungkin saja hanya satu kata yang akan keluar dari mulut: aaa-su! *** (29-04-2026)