1960. Revolusi Informasi dan Kita
06-05-2026
Menurut Alvin Toffler, ada tiga revolusi yang sungguh berpengaruh dalam perjalanan manusia, Revolusi Pertanian, Revolusi Industri, dan sekarang kita sudah masuk dalam era Revolusi Informasi. Tetapi bagaimana ketika dua orang bertemu dan saling tukar informasi dalam komunikasi langsungnya? Yang kemudian dikatakan oleh Albert Mehrabian bahwa berhasilnya komunikasi (langsung) itu pertama-tama ditentukan oleh bahasa tubuhnya, terutama segala tarikan wajah, baru kemudian intonasi, dan terakhir baru isi pembicaraan, atau bermacam informasi yang sedang disampaikan? Bagaimana ketika dalam Revolusi Informasi ini bermacam bahasa tubuh dan intonasi bisa-bisa ‘menghilang’ dalam komunikasi? Bagaimana jika apa-apa yang diteliti oleh Mehrabian di atas kita lihat dari kacamata Freud dalam ‘peta kesadaran’-nya? Isi informasi adalah soal ego (atau nalar, yang berprinsip pada realitas), intonasi terkait dengan super-ego (prinsip moralitas), dan bahasa tubuh, terutama tarikan wajah (sulit sekali dibuat-buat kecuali pada yang bakat poker-face) adalah id (hasrat, prinsip kesenangan). Yang itu semua digambarkan oleh Freud bahwa memang ego -merupakan bagian sadar, hanyalah bagian kecil saja dari kesadaran layaknya puncak gunung es saja, sedangkan id lebih ada dalam bagian tidak sadar yang merupakan bagian terbesar dari kesadaran.
Dan terkait hal-hal di atas bisakah kita membayangkan bagaimana komunikasi di tingkat kuasa negara? Apakah ‘tarikan wajah’ sik-pengelola negara yang akan menentukan berhasil tidaknya komunikasi kepada warganya? Dengan jembatan Freudian di atas sedikit banyak kita bisa membayangkan apa wajah dominan kuasa negara yang akan ditangkap oleh khalayak kebanyakan, yaitu bagaimana yang terkait dengan ‘prinsip kesenangan’ itu dikelola, dalam segala ‘bahasa tubuh’-nya. Contoh vulgar adalah yang dinampakkan oleh Gubernur Kalimantan Timur beberapa waktu lalu, dan bahkan sampai hari-hari ini: bagaimana ugal-ugalannya ‘prinsip kesenangan’ menampakkan diri dengan tanpa beban, tanpa sungkan lagi.
Platon dengan pendapatnya tentang tripartite jiwa kemudian membayangkan bagaimana polis sebaiknya dikelola. Komunikasi di ranah kuasa negara terkait dengan hal-hal di atas bisa dibayangkan pula berhasil atau tidaknya akan sangat ditentukan oleh ‘bahasa tubuh’ kuasa negara, atau dalam hal ini bagaimana hal terkait dengan ‘prinsip kesenangan’ itu dikelola akan memberikan latar belakang kuat bagaimana warga akan menghayati kuasa negara. Dan itu ada dalam sebuah rentang. Wilhelm Reich yang besar di tengah-tengah membesarnya Nazi, menunjukkan bahwa eksploitasi alam tidak sadar akan membuka berkembangnya fasisme. Yang ada dalam ‘prinsip kesenangan’ ini tidak hanya soal kenikmatan seksual, makan-pakaian-mobil mewah, tetapi juga keserakahan, impuls agresi, dan lain-lain. Yang dalam fasisme Nazi, justru ‘bahasa tubuh’ -komplit dengan segala ‘aksi panggung’-nya, seperti itu menunjukkan ‘keberhasilan yang gila-gila-an’ dan ujungnya memang kegilaan, holocaust.
Program MBG yang ada dalam olah kuasa negara bisa menjadi contoh bagaimana ‘dunia komunikasi’-nya lebih ditentukan oleh bermacam ‘bahasa tubuh’, mulai dari joget 6 juta itu, keracunan massal, mark-up gila-gilaan, keserakahan hari libur sekolah tetap maksa ada MBG, main golf dari petinggi BGN, bermacam dampak pada penyelenggaraan pendidikan pada umumnya. Sedikit banyak apa yang pernah dikatakan Ben Anderson ada benarnya, “no one can be true nationalist who is incapable of feeling ‘ashamed’ if his or her state/government commits crimes, including those against his or her fellow citizens”.[1] ‘Nasionalisme-gizi’ itu perlahan melenyap karena terhadap hal-hal di atas (‘bahasa tubuh’ MBG yang rusak-rusakan) kuasa negara tetap ‘tidak malu’ terhadap hal seperti itu. Tidak tegas dan dengan serius menindak penyimpangan di atas.
Atau jangan-jangan pejabat tertinggi tidak memperoleh informasi tentang ‘bahasa tubuh’ MBG yang rusak-rusakan itu? Termasuk juga program unggulan lain atau proyek-proyek lainnya? Jika ya maka sik-penyumbat informasi itu telah melakukan ‘kejahatan luar biasa’ terhadap republik. Tidak hanya pada si-pimpinan tertinggi, tetapi juga kepada republik! Terlebih itu terjadi di era Revolusi Informasi. Tetapi apapun itu, akhirnya yang bertanggung-jawab adalah pimpinan tertinggi. Bukan yang lainnya. Kok bisa-bisanya tidak tahu ada penyumbatan informasi …, kebangetan itu. *** (06-05-2026)
[1] Lihat artikel No. 1956
