1965. 'Benar' Di Tengah Ketakutan
10-05-2026
Menurut Carl Schmitt se-abad lalu, "sovereign is he who decides on the exception". ‘Berdaulat’ di sini nampaknya juga termasuk diri yang ‘merasa benar’. Dan salah satu penampakan lekat dari situasi exception adalah menyebarnya rasa takut. Maka bisa dibayangkan bahwa ketika ada rejim keranjingan menyebar ‘rasa takut’ maka disadari atau tidak, bisa-bisa perlahan ia akan merasa ‘paling benar’ sendiri. Ataukah ini juga soal ‘legitimasi’? Lihat misalnya ketika situasi exception karena pandemi COVID-19 lalu, tiba-tiba saja tersedia sebuah legitimasi untuk boleh melakukan hampir apa saja. Terutama dalam penganggaran dan penggunaannya, yang hampir-hampir juga tipis pertanggung-jawaban di ujungnya. Tak mengherankan David Harvey menyebut salah satu fitur dari accumulation by dispossession-nya kaum neolib: manajeman dan manipulasi krisis.
Bagaimana jika tiba-tiba saja dikatakan bahwa ada krisis di depan mata, misalnya ada situasi ‘darurat gizi anak’? Apakah perasaan berdaulat kemudian semakin hari semakin menebal dan ujungnya akan merasa paling bisa memutuskan mana yang paling benar untuk dilakukan? Juga misalnya, situasi darurat ‘ekonomi pedesaan’? Apakah keputusan akan juga ada dalam bayang-bayang (telikungan) accumulation by dispossession dalam fitur manajeman dan manipulasi krisis-nya? Bagaimana jika kemudian ditebar rasa takut terhadap radikalisme-fundamentalisme, dan dengan itu kemudian merasa -sadar atau tidak, mempunyai legitimasi untuk berbuat semau-maunya? Bahkan tidak hanya merasa paling benar, paling berdaulat, tetapi juga seakan datang sebagai pahlawan. Seakan sebagai ‘ksatria baja hitam’ yang sedang memberantas kekurangan gizi pada anak. Memberantas mundur-mandegnya ekonomi desa. Atau sedang menghadapi segala radikalisme-fundamentalisme.
Dari bukunya Chris Lowney, Heroic Leadership (2003) kita bisa mendapatkan ‘pembanding’ bahwa yang namanya ‘heroisme’ itu (semestinya) tidak pernah berdiri sendiri. Dia perlu dilatih bersama-sama dengan kemampuan mengenal diri, mampu berpikir kreatif dan kritis terutama dalam memecahkan masalah, dan juga rasa cinta dan penghormatan terhadap sesama. Bahkan juga alam-semesta. Jika ke-heroik-an itu dibiarkan tidak hanya tidak terus dilatih dan dilatih tetapi dibiarkan juga berlari sendiri, apa yang ditakutkan adalah jika itu kemudian masuk dalam mode bablasannya.[1] Atau ada yang gatal membuat bablas, dijerumuskan. Jadi apa yang dikatakan oleh Carl Schmitt tentang ‘kedaulatan’ di awal tulisan, haruslah dihayati dengan hati-hati. Itu bukanlah cek kosong, dan dari beberapa hal di atas, bisa dilihat bahwa itu penuh dengan ‘jebakan’ juga. *** (10-05-2026)
[1] Lihat artikel no, 1954, Ratusan Triliun Serasa Bom Bunuh Diri
1966. Belajar Bersama
11-05-2026
Antara tahun 1967 – 1973, Geert Hofstede -ahli psikologi-sosial dari Belanda, meneliti cabang-cabang IBM yang tersebar di banyak negara. Yang diteliti adalah bagaimana respon atau kebudayaan setempat terkait dengan perbedaan ‘distribusi kuasa’ atau otoritas. Maka muncullah istilah power distance (index) rendah dan tinggi. Komunitas dengan power distance rendah akan menghayati perbedaan distribusi otoritas tidak dengan ‘baik-baik saja’. Mereka cenderung rèsèh atau berani mempertanyakan perintah atau perilaku ‘atasan’ jika dirasa ‘ganjil’. Sebaliknya dalam komunitas dengan power distance tinggi, akan melihat kuasa atau power di atasnya oke-oke saja, cenderung tidak rèsèh, bahkan kuasa di atasnya itu dilihat ‘serba putih’ saja. Apakah ini akan berpengaruh terhadap jawaban survei ketika ditanya pendapatnya tentang yang sedang berkuasa? Mungkin saja, mungkin jadi agak segan untuk ‘berterus terang’? Tetapi bagaimana jika Hofstede meneliti ketika hidup bersama masih di era manuskrip, atau bahkan masih sebatas oralitas? Atau sekarang di tengah merebaknya modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital internet seperti sekarang ini?
Ketika perburuan rente (rent seeking activities) sudah mengakar kuat maka spekulasi sangat besar jika ‘diktator yang baik hati’ masih ada dalam imajinasi. Apalagi dengan adanya fakta bahwa kekayaan sumber daya alam memang sungguh menggoda. Malaikat-pun akan tergoda, demikian sering terdengar. Maka segala ugal-ugalan yang berangkat dari keyakinan bahwa komunitas dengan power distance tinggi akan lebih mudah untuk ditelikung perlu dilawan. Bukan selalu mengharapkan akan hadirnya ‘diktator yang baik hati’ atau bahkan ‘ratu adil’ tetapi salah satunya adalah dengan bersama-sama membangun ‘prakondisi sosial’ dimana khalayak kebanyakan memang menjadi semakin mampu dan mau mempermasalahkan kuasa di atasnya.
Bermacam meteor masuk ke bumi, tetapi sebagian besarnya habis terbakar di atmosfir bumi, mengapa? Karena ketika ia masuk dengan kecepatan sangat besar ke bumi, udara yang diterjangnya seakan tidak punya kesempatan untuk tersibak menyingkir ke kanan kiri, tetapi udara di depannya justru menjadi semacam bantalan yang semakin lama semakin besar, dan karena gesekan atau ‘tabrakan’ dengan udara yang menebal di depannya itu maka terbakarlah meteor-meteor itu. Ada titik batas sehingga udara akan dengan ‘suka rela’ menyingkir ke kanan kiri ketika ia ditabrak. Ketika ada pemimpin yang kemudian dibaptis sebagai finalis pemimpin terkorup se-planet bumi, ‘udara’ yang dibentuk khalayak kebanyakan itupun menjadi tidak mudah menyingkir ke kanan-kiri dan membiarkan ‘meteor korup’ itu menerjang dan menghancurkan tempat ia hidup. Itulah salah satunya mengapa kasus ijazah palsu itu tetap bertahan dan semakin lama semakin ‘tebal’ saja orang atau pihak-pihak yang mempersoalkan. Mereka tidak mau tempat hidupnya diporak-porandakan oleh finalis ‘meteor terkorup’ se-dunia.
Ada banyak teknologi dikembangkan untuk ‘mengelola’ karakter udara semacam itu ketika ditabrak dengan kecepatan sangat tinggi, seperti bentuk pesawat Concorde, misalnya. Atau bantalan canggih tertentu yang dikembangkan sebagai lapisan bawah dari kapsul luar angkasa yang mau pulang ke bumi. Bantalan yang dikembangkan oleh Lockheed Martin yang tidak hanya tahan panas sampai ribuan derajat celcius, tetapi juga mampu menyerap panasnya gesekan (dengan ‘bantalan’ udara). Maka astronaut yang ada di dalamnya tetaplah hidup dan masih bisa dadah-dadah -melambaikan tangan, sesampainya di permukaan bumi. Demikian juga kapsul yang di dalamnya ada ‘meteor paling korup’ itu, dengan susah payah dirancang untuk mampu bertahan ketika udara menebal di depannya. Lapisan pertama adalah untuk menyerap panasnya gesekan melalui lembaga-lembaga pengadilan. Di belakang lapisan itu ada lapisan kedua, yang siap dengan pentungan dan senapan. Dan tidak lupa andalan ketika laju meteor masih mampu menyibak udara ke kanan kiri dan keyakinan bahwa power distance-nya masuk dalam kategori tinggi: dengan propaganda, tetap dilakukan. *** (11-05-2026)


1967. Kembaran Tak Berwajah
12-05-2026
Menolak menjadi pelanduk, demikian kira-kira yang semakin dirasakan khalayak kebanyakan. Ketika ‘gajah kembar’ -atau ada yang bilang:‘matahari kembar’, itu sedang asyik-asyiknya tenggelam dalam segala adu ‘tehnik politik’ untuk sebuah singgasana jauh di atas sana. ‘Gajah kembar’ yang satunya seakan ‘tidak berwajah’, kayak kentut, barangnya tidak nampak tetapi baunya menyengat. Mengapa soal ‘wajah’ diikut-ikutkan dalam konteks ini? Karena ‘kuasa tanpa wajah’ bisa lebih kejam. Tetapi jangan-jangan soal ‘pakaian’-pun perlu dilibatkan. Gajah satunya laksana ‘the emperor has no clothes’[1] meski wajahnya selalu ingin tampil dengan gaya meyakinkan, sedang gajah lainnya seperti sudah disebut, ‘tidak berwajah’. Cilakak!
Studi kasus hal di atas salah satunya adalah pelaksanaan proyek MBG. Kepala BGN sebagai penanggung jawab proyek MBG bisa dikatakan adalah bagian dari ‘gajah tak berwajah’. Ia ditunjuk oleh rejim terdahulu, dan lihat bagaimana asal mangap, asal njeplak, di depan pembayar pajak sudah seperti ‘junjungannya’ saja. Kejam, brutal. Khas gaya petinggi rejim terdahulu. Bahkan di depan ‘gajah tanpa pakaian’-pun dengan tanpa beban, tanpa sungkan main aksi tipu-tipu juga. Ngibul habis-habisan. Pecicilannya Kepala BGN karena loyalitasnya pada ‘gajah tanpa wajah’ itu seakan membenarkan apa yang pernah dikatakan CP. Snow di tahun 1970-an: "When you think of the long and gloomy history of man, you will find that far more hideous crimes have been committed in the name of obedience than have ever been committed in the name of rebellion". ‘Rebellion’ bisa saja itu mengambil bentuk paling soft: kritik. Bahkan pengamat yang mengajukan kritik kemudian disebut sebagai ‘inflasi pengamat’. Atau ‘orang pintar’ yang bisanya bla bla bla. Pokoknya inflasi, tanpa mau melihat cermin. Pokoknya loyal saja tanpa mau lagi berpikir.
Belum lama ini Kepala BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) mengatakan bahwa MBG di bertahun kemudian -nanti, nantinya, akan mempunyai potensi meraih hadiah Nobel (!). Gila, gila, dan ini omongan kepala riset dan inovasi di sebuah republik! Dan ini -yakinlah, barulah salah satu contoh omongan yang membutakan yang tentu akan semakin menggelembungkan ‘heroism buta’ juga. Sik-PSHNC[2] itu pastilah akan semakin ‘lupa diri’, tidak sadar bahwa ia sedang dijerumuskan habis-habisan. Para ‘machiavellis’ itu tidak hanya sedang menjerumuskan melalui rute penggelembungan hasrat akan ‘nama besar’ tetapi juga sebenarnya sedang ‘memperkenalkan pada publik’ siapa yang nantinya akan menjadi sik-kambing hitam. Kambing hitam yang membuat ‘gajah tanpa wajah’ semakin ugal-ugalan tanpa beban, tanpa sungkan lagi. Karena tahu siapa yang pertama-tama akan disalahkan. Akan dilengserkan.
Maka ‘pilihan rasional’ dari khalayak kebanyakan hari-hari ini adalah menolak jadi pelanduk sebagai bagian mode survival-nya. Jika hidup bersama terjerembab dalam krisis besar, khalayak kebanyakanlah yang akan paling beresiko. Yang akan menjadi ‘jatuh miskin’ berjemaah. Bukan yang sudah menjadi finalis terkorup se-dunia itu, dan gerombolan-korup-nya. Bukan mereka. Bahkan jika krisis besar datang, mereka itu bahkan sedang merasa ‘bersinar’ dan siap merebut kekuasaan. Tidak peduli dengan lainnya. Tidak peduli nasib khalayak kebanyakan.
Lalu apa yang mesti ditempatkan paling atas dalam menolak menjadi pelanduk? Mempertebal ‘insting’ warga-jaga-warga. Memang ini seakan menjadi ‘anti-tesis’ dari tesis ‘gajah tanpa wajah’ yang tidak peduli terhadap warga. Warga justru dipersiapkan menjadi bahan bakar, sebagai kayu bakar, ketika krisis besar perlu daya dorong lebih untuk menjatuhkan gajah satunya, PSHNC. Tidak hanya sebagai kayu bakar, tetapi sebagai pintu masuk Plan-B mereka, pecah belah republik jika diperlukan. Ada yang sudah siap intervensi masuk ke dalam jantung republik ketika terjadi konflik horizontal. ‘Gajah tanpa wajah’ itu memang sudah mata gelap demi melindungi atau mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya, Apa-apa yang sudah dinikmatinya. At all cost. Tahun 2026 ini rasa-rasanya semakin menjadi the year of living dangerously saja. Déjà vu?[3] *** (12-05-2026)
[1] Lihat artikel no. 1956, The Nationalist Has No Clothes
[2] Pendek Sumbu Has No Clothes
[3] Doeloe anti-komunis, anti reforma-agraria, sekarang? Meski baru menjadi ‘fakta potensial’ sebut saja ‘anti-chaves’, mengingat bermacam program yang mirip-mirip dengan awal-awal Hugo Chaves berkuasa di Venezuela, meski sudah digergaji bahkan ketika baru diperkenalkan, atau baru merangkak. Meski baru omon-omon tingkat dewa dari aspek kesungguhan-‘teknis’nya.
1968. Kerumunan Yang Bijaksana?
13-05-2026
Bahasan terkait dengan psikologi massa atau psikologi kerumunan sudah mulai doeloe sekali. Berdasarkan peristiwa gelembung South Sea Company (1711-1720), gelembung Missisipi Company (1719-1720) dan sebelumnya gelembung Tulip Mania di Belanda sono pada awal abad-17 (sekitar 1637), Charles Mackay seorang jurnalis Skotlandia menulis buku pertamanya Memoirs of Extraordinary Popular Delusions pada tahun 1841. Pada tahun 1895, Gustave Le Bon seorang warga Perancis menulis The Crowd: A Study of the Popular Mind. Pada tahun 1960 terbit karya Elias Canetti, Masse und Macht atau Massa dan Kekuasaan. Tahun 2004 terbit karya James Surowieki, The Wisdom of Crowds: Why the Many Are Smarter Than the Few and How Collective Wisdom Shapes Business, Economies, Societies and Nations. Dalam praktek, massa atau kerumunan selalu saja menarik perhatian bahkan sejak lebih dari 2000 tahun lalu, paling tidak kita mengenal istilah ‘sirkus dan roti’ yang ditujukan lebih pada massa. Atau di awal abad ini apa yang disebut Negri dan Hardt sebagai multitude.
Jika ada yang meyakini adanya benevolent dictatorship apakah memang ada juga the wisdom of crowds? Menilik dari perjalanan hidup bersama, salah satu yang perlu diperhatikan adalah soal ‘jarak’. Dictatorship menjadi punya potensi untuk benevolent karena ia mampu mengambil dan mengelola ‘jarak’ dengan bantuan dari ‘political bureau’, sedangkan crowds bisa melahirkan wisdom bersamaan dengan bagaimana intelektual organic dilahirkan. Jika memakai beberapa istilah di awal tulisan, intelektual organic bisa dikatakan adalah penjaga utama sehingga crowds tidak mudah jatuh pada ‘popular delusions’, sedangkan ‘political bureau’ supaya sang-‘diktator’ tidak jatuh pada kegilaan atau mania. Baik ‘political bureau’ maupun ‘intelektual organic’ adalah kebutuhan ketika ‘yang sedikit’ dan ‘yang banyak’ semakin berjarak. Apa yang ada di ‘ruang antara’ itu? Jika meminjam istilah Jan Patocka, kita bisa membayangkan bahwa di ‘ruang antara’ itu ada dinamika terkait dengan ‘merawat jiwa’. Bukan soal perawatan terhadap ‘jiwa’ yang rusak atau sakit, tetapi adalah untuk semakin mendekati siapa diri kita. Salah satunya melalui ruang-ruang diskursus yang terus dikembangkan. Dengan ini pula selain ‘masyarakat sipil’ menjadi lebih mampu dibayangkan, peran partai politik-pun bisa dibayangkan pula, terlebih perannya dalam segala dinamika ‘merawat jiwa’ ini. ‘Jarak’ di atas juga bisa dihayati sebagai mampu untuk tidak ‘terkurung’ di lingkaran tertutup seperti digambarkan Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, ‘terkurung’ sebagai akibat ‘bablasan’ tahap mitis: magis. Tentu untuk mampu lolos dari terkaman ‘magis’ kualitas diri atau kerumunan bisa diharapkan, tetapi sejarah menunjukkan bahwa masih sangat perlu ‘hal lain’ sehingga ketertutupan itu bisa diretakkan. ‘Hal lain’ itu adalah ‘tahap ontologis’, yang akan terus digeluti oleh ‘political bureau’ maupun ‘intelektual organik’.
Lalu apa yang membuat hal-hal di atas menjadi ‘kejadian’? Mangunwijaya melihat peran penting retorika. Retorika yang berkembang berangkat dari trivium, awal dari pendidikan klasik, yang terdiri dari grammar, logika/dialektika, dan retorika. Bukan retorika yang berlari sendiri, retorika yang kemudian hanya menjadi semata ‘tehnik retorika’, ‘tehnik’ yang seakan netral-netral saja. Yang bisa saja akhirnya justru lebih akrab dengan segala bablasan hasrat, contoh jika mengambil istilah di atas, jatuh dalam sebuah situasi mania. ‘Politico bureau’ -termasuk dalam hal ini partai politik, mungkin saja tidak hanya tidak didengar, tetapi juga dikebiri dan digunakan sebagai alat legitimasi saja. Bayangkan ketika Kepala BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dengan entengnya mengatakan bahwa besok-besoknya proram MBG itu berpotensi meraih Hadiah Nobel (!). Tidak hanya itu, kaum ‘intelektual organik’-pun kemudian ‘dihabisi’ sehingga massa bisa mudah diubah menjadi bermental ‘kawanan’ saja. Inikah yang sedang dihadapi hari-hari ini, bahkan bertahun-tahun lalu, matinya ‘retorika’ sebagai retorika yang otentik? Retorika yang sudah kehilangan grammar dan terutama logika/dialektikanya?[1] Retorika yang hanya berkubang dalam romatika tetapi sudah meninggalkan dinamika dan dialektikanya? Jelasnya, retorika yang lebih memilih partner: mbudeg total. *** (13-05-2026)
[1] Lihat Trump yang bahkan soal grammar-pun sering menjadi olok-olok. Atau apakah ini bisa disebut juga sebagai apa yang disebut George Orwell sebagai newspeak? Jika ya, berarti yang kita hadapi adalah seorang otoriter.
