1970. Ketidak-adilan Yang Dipelihara

15-05-2026

Ketidak-adilan yang dipelihara, yang dibiasakan, dan akhirnya terlembagakan. Mengapa ada yang ingin ketidak-adilan melembaga? Bukan ketidak-adilan sendiri sebenarnya yang sedang dilembagakan, tetapi dunia mafioso-lah yang sedang dilembagakan. Dunia mafioso yang perlu ekosistem, perlu habitat untuk hidup, bertahan, dan berkembangnya. Maka bermacam instrumen untuk mendukung berkembangnya keadilan satu per satu di-‘matikan’. Paling tidak dibunuh karakternya. Atau kalau memakai pembedaan oligarki oleh Jeffrey Winters kita sedang bicara tentang oligarki panglima, oligarki penguasa kolektif, dan oligarki sultanistik sebagai satu kelompok, kelompok mafioso. Sedangkan dalam oligarki sipil, keadilan masih lebih dimungkinkan diperjuangkan dengan (paling tidak) tetap berfungsinya hukum. Tentu masih ada jalan lain, revolusi dalam rute perjuangan kelas, misalnya.

Sebenarnya analisis berbasis materialisme historis lebih bisa memperjelas ‘peta masalah’, dengan tetap tidak masuk dalam over-deterministic-nya. Jika segala dinamika hukum yang ada di bangunan atas itu tetap terjaga dan mampu mempengaruhi situasi basis sehingga tidak menjadi ugal-ugalan, paling tidak kita bisa mulai ‘lolos’ dari jerat ‘over-deterministik’. Demikian juga semestinya, politik. Sangat-sangat tidak mudah memang, tetapi bisa dan banyak contoh keberhasilannya. Sedangkan jenis oligarki yang masuk dalam kelompok mafioso di atas, pengalaman menunjukkan bagaimana itu juga sangat demen menentukan-‘merusak’ bangunan atas. Lihat, bagaimana lembaga-lembaga keagamaan itu ditawari konsensi tambang, misalnya. Atau perguruan tinggi, dan bahkan diminta membuat SPPG yang lekat dengan segala profit itu. Demikian juga ketika partai politik sudah berhasil digeser mendekat lebih pada masalah ‘logistik’. Belum lagi rusaknya intrumen di sekitar penegakan hukum. Dan tentu, akhirnya: penggunaan kekuatan kekerasan.

Jika tidak mau revolusi perjuangan kelas, maka ‘bangunan atas’ itu harus dianggap juga sebagai ‘rumah’ sosialisme, sedangkan ‘basis’ adalah ‘rumah’ kapitalisme, hari-hari ini. Dan menurut dosen asal ex-Jerman Timur yang dikutip Ignas Kleden dalam Sosialisme Dari Tepi Sungai Elbe, sosialisme itu akan baik jika tidak diganggu, sedangkan kapitalisme itu akan tidak ugal-ugalan jika terus diganggu. Jepang adalah salah satu contoh bagaimana politik yang ada di ‘bangunan atas’ itu di-proteksi sehingga tidak terlalu disetir-diganggu oleh ‘basis’ termasuk segala ‘bablasan hasrat’ yang menjadi bahan bakarnya. Salah satunya bagaimana gelar pemilihan itu dibuat se-murah mungkin, dengan segala pembatasannya. Pembatasan di sini sebenarnya termasuk juga terhadap ugal-ugalannya hasrat seperti yang dinampakkan di ‘basis’. Terlebih dalam akumulasi lanjut-nya dalam pasar keuangan: mentalitas kerumunan.

Kasus MBG adalah pisau bermata tiga, pertama bagaimana ugal-ugalannya bablasan hasrat dalam akumulasi profit itu dieksploitasi sedemikian rupa. Contoh vulgar, ‘joget 6 juta’ dari salah satu SPPG. Kedua, sekaligus mengusik-merusak dengan telak, sistematis, terencana, dunia pendidikan yang memang ada di ‘bangunan atas’ juga melalui perampokan dana pendidikannya. Bahkan perguruan tinggi-pun digoda untuk membuat SPPG. Ketiga, MBG yang semestinya merupakan program ‘sosialistis’ itu diganggu habis-habisan oleh hasrat akumulasi profit dan akumulasi kekuasaan. Sosialisme yang ‘banyak diganggu’ memang akan menjadi mudah bopeng, menjadi ‘tidak baik’ lagi. Lihat bagaimana keranjingannya ‘mereka’ dalam merusak dunia pendidikan, lebih dari 10 tahun terakhir ini. Atau juga, sekali lagi lembaga keagamaan, lembaga peradilan, dan seterusnya. Belum lagi kita bicara soal BRIN.

Ada satu pendapat yang sangat mungkin benar tentang ‘rentang kekuasaan’. Jika pemimpin itu ‘kuat’ maka ia cukup membuat ‘rentang kekuasaan’ tidak terlalu lebar, sebaliknya jika ia ‘lemah’ maka ia akan membuat ‘rentang kekuasaan’ melebar. Tetapi ini bisa dibaca sebaliknya, jika ingin memperlemah pemimpin maka dibuatlah rentang kekuasaannya selebar mungkin. Contoh kongkret soal kabinet itu. Atau juga soal ‘program unggulan’ itu, ‘diperlebar’ secara ugal-ugalan. Hasilnya? Program itu tidak hanya kehilangan focus, tetapi juga menjadi lemah. Atau kalau memakai istilah di atas, semakin banyak ‘gangguan’ program unggulan (sosialistis) itu akan semakin lemah saja.

Kembali pada pertanyaan awal, mengapa ketidak-adilan dipelihara? Selain ada ‘pembiasaan yang menumpulkan’ juga supaya ketika para mafioso itu ‘bertindak’ -yang pasti akan penuh dengan ketidak-adilan, akan dirasakan ‘biasa-biasa’ saja. Survival of the fittest yang benar-benar ada di hutan belantara. Tahu siapa musuhmu dan tahu siapa dirimu maka perang akan kau menangkan, demikian Sun Tzu pernah memberi nasehat. Dan kaum oligarki-mafioso tahu persis bahwa Marx perlu dipelajari untuk memenangkan peperangan, menghancurkan lawan. *** (15-05-2026)

1971. Nasib Nadiem (Selanjutnya Sik-Pendek Sumbu?)

15-05-2026

Ketika sang pangeran telah menguasai Rogmana dan merasa perlu untuk menenangkan dan membuat Rogmana patuh kepada pemerintahannya, ia menunjuk Remirro de Orco, seorang yang kejam, cakap dan diberinya segala kepercayaan dan wewenang. Dalam waktu yang singkat, Remirro telah berhasil memulihkan tata tertib dan persatuan dan mendapatkan pujian besar.

Kemudian sang pangeran mengambil keputusan bahwa wewenang yang berlebihan ini tidak diperlukan lagi, karena bisa tumbuh dan tak dapat dikendalikan lagi. Karena itu ia mendirikan di tengah propinsi sebuah pengadilan sipil, yang dipimpin oleh seorang ketua yang sangat terkenal. Setiap kota mempunyai perwakilannya di pengadilan tersebut. Dengan menyadari bahwa kekejaman dari masa lalu telah banyak menimbulkan kebencian padanya, sang pangeran bertekad untuk membuktikan bahwa kekejaman yang ditimpakan, bukanlah merupakan tindakannya, tetapi dilakukan oleh sifat kejam para menterinya.

Cesare menunggu kesempatan baik ini. Kemudian, pada suatu pagi, tubuh Remirro ditemukan terpotong dua di lapangan Cesena bersama sepotong kayu dan sebilah pisau berdarah di samping tubuhnya. *** (*)

*) Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa, Penerbit Gramedia, 1987, hlm. 29-30

1972. Sosialis Salah Kostum?

16-05-2026

Robin Van Persie lama jadi andalan Arsene Wenger di Arsenal. Tetapi entah kenapa pindah ke Manchester United, dan saat lawan Arsenal Van Persie membuat gol cantik ke gawang Arsenal. Dan MU-pun menang. Dalam wawancara setelah pertandingan Arsene Wenger ditanya wartawan apa komentar dia terhadap gol mantan andalan kesayangannya itu. Dijawab singkat oleh Wenger, ia salah kostum. Yang mau jadi ‘pemimpin sosialis’ itu juga semakin dirasa-rasa oleh pemilih yang lama mengandalkannya, serasa salah kostum juga. Malah membuat gol ke gawang sendiri, dan bersoraklah para pemburu-rente itu. Mengapa ia menjadi ‘salah kostum’?

Mau bicara soal sosialisme maupun kapitalisme akan melibatkan empati, atau yang doeloe disebut Adam Smith, simpati. The Theory Moral Sentiments (terbit pertama kali 1759) memang terbit sebelum Wealth of Nations (1776), tetapi yang sering jadi rujukan terkait Moral Sentiments adalah edisi terakhirnya, terbit tahun 1790. ‘Problem Adam Smith’ berangkat dari kedua buku itu, yaitu terkait dengan soal self-interest (Wealth of Nations) dan soal ‘simpati’ atau sekarang empati (Moral Sentiments). Dalam Moral Sentiments Adam Smith banyak mengeksplor filsafat Stoa dan juga filsafat lainnya. Pada ‘tingkat individu’ akhirnya muncul istilah ‘impartial spectator’, sedangkan dalam ‘tingkat bangsa’ misalnya -katakanlah begitu, muncul istilah ‘famous sect’ atau sik-sekte agung. Gaya penulisan ini tidak lepas dari pergeseran ‘teosentrisme’ ke ‘antroposentrisme’, bergeser menjadi ‘berpusat pada manusia (antropo)’ di Eropa sono. Ketika bermacam hasrat manusia sudah diterima sebagai bagian ‘apa adanya’ manusia. Tetapi bagaimana tentang panduan hidupnya atau hidup bersama? Maka kembali ajaran-ajaran Yunani Kuno diaduk-aduk lagi (renaissance), salah satunya filsafat Stoa itu.

Apa yang mau dikatakan di sini adalah ketika ada yang membayangkan ‘kapitalisme negara’ maka ‘syarat mutlak’-nya adalah ia mesti mempunyai kualitas sebagai sik-sekte agung itu. Famous sect yang dibayangkan Adam Smith mempunyai kualitas seperti seorang Stoic, terutama dalam hal ‘pengendalian diri’, tahu batas. Suatu kualitas diri yang lebih dari rata-rata kebanyakan orang yang dari hari-ke-hari terlibat bahkan tenggelam dalam dinamika pasar. Dalam praktek kita tidak hanya bicara soal satu individu saja, tetapi juga komplit dengan orang-orang sekitar-nya. Sebuah ‘cermin besar’ yang akan terlibat dalam impuls-impuls mirror neuron system khalayak kebanyakan. Hari-hari ini, ‘kapitalisme negara’ adalah juga sebuah ‘latihan panjang’ ketika bicara soal sosialisme, jika tidak mengambil langkah ‘revolusi kelas’. Dan kita-pun kemudian bisa membayangkan, apa yang akan dilakukan oleh ‘musuh-musuh’ terhadap ‘maksud baik’ di atas? Dari hari ke hari, sejak bertahun-tahun lalu, dan semakin jelas tahun-tahun ini, ada ‘pembunuhan karakter sistematis’ terhadap pondasi sik-sekte agung ini, soal ‘tahu batas’. Soal ‘pengendalian diri’. Intinya dibuat tidak tahu soal batas. Tidak mampu menghayati soal ‘tahu batas’ atau pengendalian diri. Merayakan ulang tahun orang sekitar dengan nuansa ‘tidak tahu batas’ itu bukannya di ruang kosong, cuk. Itu ‘operasi’, cuk -gitu saja koq gak tau sich …. Misalnya …. Atau membiarkan nafsu perburuan rente dari orang-orang sekitar? Maka jika lebih sering menampakkan diri sebagai yang ‘tidak tahu batas’, tidak mampu dan mau mengendalikan diri, dan masih saja ada mau jadi ‘pemimpin sosialis’, apakah ia seakan sedang berjalan atau pidato dengan kostum yang salah? *** (16-05-2026)

1973. Para Pembunuh Bakat

17-05-2026

Para Pembunuh Tuhan, buku karya A. Setyo Wibowo terbit pertama kali tahun 2009, sekitar enam-tujuh tahun sebelum ‘para pembunuh bakat’ mulai berkeliaran di ranah kekuasaan negara. Mengapa enam-tujuh tahun? Karena paling tidak di tahun 2014-2016 republik masih melihat ‘bakat-bakat terbaik’ hadir di depannya sebagai bagian dari pemerintahan, misalnya sebut saja Rizal Ramli (2015-2016), Sudirman Said (2014-2016), Ignasius Jonan (2016-2019), Thomas Lembong (2015-2016), Susi Pudjiastuti (2014-2019), Anies Baswedan (2014-2016), Yuddy Chrisnandi (2014-2016), dan juga Yudi Latief (Juni 2017-Feb 2018). Bagi komunitas dengan power distance tinggi (Hofstede), hadirnya ’bakat-bakat terbaik’ di ranah kuasa negara ini bukan saja soal bagaimana kebijakan dikawal, tetapi seakan juga menjadi ‘model’ yang bisa saja akan ditiru. Tetapi sayangnya, setelah itu ada yang berseru seperti Nietzsche, bakat telah mati! Ketika Nietzsche berteriak “Tuhan telah mati!” menurut buku Setyo Wibowo di atas, itu semestinya dibaca dalam keseluruhan bangunan pemikirannya. Tidak bisa dibaca secara harafiah begitu saja. Tetapi teriakan ‘bakat telah mati’ bisa dibaca secara begitu saja, meski memang harus dilihat ‘peristiwa besar’-nya, ‘habitat’ yang berkembang-dikembangkan. Bagaimana dirancang-bangunnya.

Apakah hal di atas akibat dari seperti pernah dikatakan Napoleon: “When small men attempt great enterprises, they always end by reducing them to the level of their mediocrity”? Yang sebenarnya tidak jauh yang digambarkan Nietzsche di atas. Karena manusia gagal menjadi tuan atas diri, maka superman is dead, kata group rock asal Bali itu.

Masalahnya dalam politik janganlah pertama-tama itu dihayati sebagai ‘kebetulan’ saja. Dewi Fortuna bisa saja terlibat, terutama dalam rentang ‘merebut kuasa’. Tetapi ketika masuk ‘penggunaan kuasa’? Kata Machiavelli, soal merebut dan menggunakan kuasa bisa sangat berbeda. Saat menggunakan kuasa, virtue harus terlibat. Sudah tidak ada lagi urusannya dengan Dewi Fortuna. Yang dimaksud virtue di sini adalah terutama bagaimana soal ‘antisipasi’ ketika situasi terus saja berubah. Jika perubahan adalah sebuah ‘tantangan’ maka siapa yang berdiri paling depan? Menurut Toynbee, sik-‘minoritas kreatif’ -yang sedikit banyak juga dinampakkan oleh nama-nama di atas, Rizal Ramli dst-nya.

Maka bahasa lain dari ‘para pembunuh bakat’ itu adalah juga: ‘para pembunuh minoritas kreatif’. Atau bayangkan kata inflasi pengamat, atau orang-orang pintar itu bisanya hanya bla … bla … bla ..., dst. Apa yang sebenarnya mau dicapai? Situasi ‘tidak berubah’, atau jaman old dulu sering disebut sebagai status quo. Maka pertanyaan lanjutannya adalah, siapa sih yang sebenarnya diuntungkan dalam situasi status quo itu? Siapa yang diuntungkan dalam ‘dinamika basis’ yang bertahun-tahun sudah berkembang 'seperti itu'? Bahkan ketika krisis datang? Ingat, salah satu fitur accumulation by dispossession-nya David Harvey itu adalah manajemen dan manipulasi krisis. Bagaimana krisis 1998 dan pandemi COVID-19 adalah pelajaran berharga. Setelah republik menjadi semakin kurus akibat dihajar fitur-fitur lainnya, privatisasi, finansialisasi[1] dan ugal-ugalannya state-redistribution[2] yang dibuat melalui kebijakan-kebijakan negara. *** (17-05-2026)


[1] Lihat bagaimana lembaga-lembaga pension itu digangsir, bahkan cadangan devisa juga. Dan banyak lagi kasus pat-gu-li-pat

[2] Hari-hari ini, MBG dan KDMP. Juga terkait Omnibus Law, UU Cipta Kerja, soal pengelolaan tambang, hutan

1974. Propaganda Sebagai Candunya Penguasa

18-05-2026

Apa beda ‘status’ propaganda pada titik tertentu dengan apa yang pernah dikatakan Marx: "Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people". Marx mengatakan itu ketika masih banyak yang prihatin dengan kondisi akibat ugal-ugalannya kapitalisme abad 18 dan awal abad 19, tetapi keprihatinan yang kemudian mengambil jalan seperti dikenal sekarang sebagai ‘sosialisme utopia’. Hampir 50 tahun setelah ‘opium of the people’ Gereja Katolik ‘terpaksa’ mengeluarkan ajaran sosial pertamanya Rerum Novarum yang memberikan perhatian dan dukungan kepada kaum buruh, pada tahun 1890. Jika tidak begitu maka gereja akan semakin ditinggalkan umatnya. Delapan tahun sebelum Rerum Novarum, atau hampir empat-puluh tahun sesudah ‘opium of the people’, Nietzsche menyerukan “Tuhan telah mati!” Tiga tahun sebelum Marx menulis soal ‘opium of the people’, Ludwig Feuerbach dalam The Essence of Christianity (1841) menandaskan bahwa manusia-lah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya.

Tetapi menurut Alasdair MacIntyre dalam After Virtue (1981), memang manusia itu secara esensial adalah ‘story-telling animal’. Tidak hanya soal ceritanya, tetapi juga saya ada dimana dalam cerita itu. Maka tidak mengherankan pula Heidegger kemudian menyebut bahwa bahasa adalah juga rumah being, atau katakanlah manusia. Tetapi bagaimanapun juga bahasa mempunyai keterbatasannya, sehingga Wittgenstein memperingatkan “whereof one cannot speak, thereof one must be silent”. Bagi Heidegger, puisi bisa sebagai ‘jalan keluar’ ketika sesuatu sulit diwujudkan dalam kata. Kadang soal rasa-merasa terkait dengan ketidak-adilan misalnya, bisa saja itu mendahului deskripsi kata untuk ungkapan tentang keadilan-ketidak-adilan. Hal-hal di atas menunjukkan bagaimana ternyata berbahasa bisa menjadi ‘rumit’ bahkan ketika kita berbahasa seakan taken for granted saja. Itu belum lagi bicara soal bahasa dan kekuasaan.

Maka propaganda dalam kata sekuat apapun ia mempunyai batasnya, terutama ketika first impression terhadap situasi sekitar terus-menerus juga sebagai hal pertama yang mempengaruhi kesadaran. First impression yang lebih lagi ketika kemudian dikomunikasikan dengan yang lain. Atau ketika sesuatu yang dipropagandakan itu kemudian diserap sebagai first impression, tetapi kemudian mau bersusah payah isi propaganda itu ‘ditunda’ lebih dahulu dan kemudian melihat apa yang dipropagandakan itu secara perlahan menguaknya lapis demi lapis, katakanlah semakin mendekat pada the truth of disclosure.

Propaganda dalam ‘permainan kesadaran’ itu kemudian lebih dari sekedar ‘permainan bahasa’ tetapi juga bagaimana ‘peta kesadaran’ dimainken. Jika tetap memakai kata propaganda dalam kata maka bisa dibedakan dua propaganda, terang dan gelap. ‘Propaganda terang’ lebih mengedepankan ‘ego’ (berprisip realitas) yang akan terbungkus kuat oleh rasio. ‘Super-ego’ (berprinsip moralitas) akan dikeluarkan untuk mendukung ‘suasana’. Tetapi ‘id’ (berprinsip kesenangan) hanya akan muncul satu-dua-tiga kali saja. Tetapi ‘propaganda gelap’ justru sebaliknya, eksploitasi justru pada ‘id’ atau bagian ketidak-sadaran. Sedangkan ‘ego’ dan ‘super-ego’ tanpa sungkan akan diperbudak.

Maka ketika ketidak-sadaran dieksploitasi secara ugal-ugalan, ke-taken for granted-an, yang make sense itu seakan sedang di-interupsi, apalagi tindakan ‘menunda’ dst sehingga sampai pada the truth of disclosure itu, akan menghilang. Ke-berpikiran akan melenyap, dan selanjutnya yang terjadi di era Hitler: banality of evil. Tetapi tetap saja potensi bahkan secara factual tetap akan ada saja sik-dissident. Yang tetap saja dengan guyuran kata-kata tetap tidak menemukan kata yang pas untuk menjelaskan situasi atau realitas yang sedang dihadapi. Aneh saja, propaganda Hitler mengatakan itu tetapi realitas yang dihadapi dirasakan jauh berbeda, terusik, penasaran. Apakah ini yang membuat Hitler kemudian ‘berkampanye’ bahwa musik-nya Richard Wagner sebagai musik-nya Nazi? Tetapi yang pasti untuk menutup ‘celah’ ini SS (Schutzstaffel)-pun kemudian dimaksimalkan komplit dengan ‘bahasa tubuh’-nya, ada Wagner maupun tidak.

Tetapi bagaimana jika Hitler saat itu dalam situasi ‘matahari kembar’? Ada yang masih demen cawé-cawé? Jangan-jangan bukan Perang Dunia II yang meledak, tetapi perang saudara dalam negeri Jerman sendiri. *** (18-05-2026)