1975. Keadilan Sosial dan Instingnya
19-05-2026
Jika memakai pembedaan tipe oligarki dari Jeffrey Winters, maka paling tidak dalam ‘politik riil’ -sesuatu yang masih bisa dicapai, hari-hari ini adalah menggeser oligarki pada tipe ‘oligarki sipil’. Tipe dimana hukum masih mampu ‘mengendalikan’ ugal-ugalannya oligarki. Tetapi kemampuan hukum seperti itu tidaklah hadir di ruang kosong, sekali lagi ia butuh prakondisi politis, teknis, dan sosial. Prakondisi politis, oleh yang pernah dinobatkan sebagai finalis ‘pemimpin’ paling korup sedunia itu, telah dibuat serendah-redahnya, mengikuti kualitas dirinya. Diobok-obok semau-maunya, selama hampir 10 tahun lamanya. Dalam komunitas dengan power distance tinggi, prakondisi politis ini bisa sangat mempengaruhi prakondisi teknis. Karena hal teknis ini pasti akan melibatkan orang-orang atau jajaran di bawahnya. Maka retak-rusaklah lembaga-lembaga yang katakanlah ada di ‘bangunan atas’ itu. Sebut saja semua yang mungkin lebih ada di ‘bangunan atas’ itu, bahkan juga lembaga keagamaan dan pendidikan, maunya dirusak juga. Termasuk juga jajaran penegakan hukum, rusak-rusakan. Bagaimana dengan prakondisi sosial? Yang utama adalah membuat ‘yang sosial’ itu menjadi tidak berdaya. Keinginan untuk merasakan keadilan justru dijauhkan dengan dibiasakan merasakan ketidak-adilan dari waktu ke waktu. Tentu ditambah juga dengan dengan ‘dibisiki’ oleh hal-hal yang sifatnya represif. Selain itu, adu domba dan ‘main sihir’ tiada henti. Seakan ‘yang sosial’ itu maunya dikurung saja, tanpa ada kesempatan untuk merasakan apa yang paling mendasar dalam hidup bersama sebagai warga negara republik: menuju atau mendekat pada keadilan sosial.
Ketika kesulitan mencukupi kebutuhan hidup semakin sulit, katakanlah selalu saja tergencet-terpinggirkan dalam relasi-relasi kekuatan produksi, perjuangan melawan ketidak-adilan yang bisa saja sedang ‘bermain’ di ‘bangunan atas’ itu bisa-bisa akan lebih cepat diserap. Maka sangat berharga ketika melawan ketidak-adilan itu dibangun di atas pondasi ilmu pengetahuan seperti dinampakkan oleh trio RRT (sekarang tinggal RT) atau juga Topi Merah, Bonjowi, dan tentu Bonatua Silalahi. Juga Dirty Vote sampai Pesta Babi itu, yang lebih berangkat dari temuan sehari-hari. Juga tentu kanal-kanal atau akun-akun yang banyak memberikan pencerahan. Bukan hanya sekedar ‘obat’ untuk penderitaan –‘eskapisme’, tetapi mengajak horizon terus dimajukan sehingga lebih mampu menguak apa yang menjadi sebab dari semakin sulitnya hidup.
Mungkinkah multitude-nya Negri dan Hardt itu seakan berfungsi sebagai ‘partai pelopor’ ketika partai-partai politik pada mèmblè? Kita tidak tahu bagaimana ke depannya nanti, tetapi menjaga proses-proses molekuler terus berlangsung adalah sesuatu yang mestinya masih bisa dicapai. Multitude yang masing-masing membuka diri terhadap bermacam ‘masukan’ sehingga kekuatan semakin berkembang. Dari bermacam arah, dari bermacam ‘kelompok’. Kekuatan yang nantinya akan head-to-head dengan sik-‘pokoknya ada’ itu sebagai salah satu puncak gunung es. Head-to-head dengan yang di bawah permukaan yang sudah berkembang lama: ‘gunung es emang lo siapa?’ ‘Entitas bukan siapa-siapa (emang lo siapa?)’ yang (maunya) harus ikut saja ditentukan mutlak oleh ugal-ugalannya, semau-maunya ‘mereka’ dalam menumpuk kekayaan. Ugal-ugalan, semau-maunya sampai-sampai ‘pemimpinnya’ kemudian dinobatkan sebagai finalis terkorup sedunia itu.
Dan ternyata ‘entitas bukan siapa-siapa’ itu perlahan telah merubah diri sebagai -katakanlah, multitude, sebagai ‘partai pelopor mini’ yang tidak hanya tersebar, tetapi juga tanpa takut, dan selalu membawa nuansa pencerdasan. Para ‘intelektual organic’ yang sadar atau tidak, semakin mahir dalam ‘mengorganisir’ diri. Dan semakin nampak saja bagaimana ‘keterbelahan’ itu, satu yang mencerdaskan dan yang dipelihara oleh sik-finalis terkorup sedunia itu: pembodohan. Nampak dengan telanjangnya. Sana mau ke sana, sini mau ke sini, kata si-Bung. Lalu … kapan dan sebagai apa katalis akan datang? *** (19-05-2026)
1976. Mengantisipasi Pidato
21-05-2026
Ketika pertama kali menonton langsung aksi kelompok Srimulat di Taman Budaya Raden Saleh Semarang doeloe saat masih kuliah, terpingkal-pingkal sampai terkencing-kencing. Atau juga saat tampil di TV, masih saja gayeng. Ketika Gepeng masuk panggung, langsung saja bayangan ‘untung ada saya’ sudah mendesak bahkan sebelum Gepeng membuka suara. Atau ketika guru ‘angker-galak’ masuk kelas, segera saja kelas menjadi ‘lebih tertib’. Ketika masa lalu dibicarakan, atau katakanlah heroiknya pejuang kemerdekaan dibicarakan, maka bisa saja ‘antisipasi’ kita bisa berbeda jika itu yang bicara guru sejarah di depan kelas, atau di dalam unggahan dari sebuah kanal. Bagaimana jika yang bicara adalah pemangku kebijakan? Sik-pengelola negara?
Maka tidak semua pidato pengelola negara akan dihayati oleh khalayak kebanyakan seperti dibayangkan oleh pembicara. ‘Antisipasi’ terhadap pidato itu bisa sangat beragam, first impression-nya bisa macam-macam. Tetapi sebenarnya sudah bertahun terakhir apa yang dikatakan oleh pengelola negara itu memang sudah nggak peduli lagi apa mau didengar atau tidak. Mengapa? Karena memang sudah dianggap bahwa rakyat itu tidak ada. Maka selain kemudian asal njeplak, asal mangap, mereka sik-pengelola negara itu juga mbudeg. Tidak peduli bahwa antara kata dan tindakan sudah sangat jauh dari nuansa seiring sebab memang maunya ‘main belakang’ , belakang panggung saja. Maunya merampok saja. Merampok yang tidak mungkin dikatakan secara terbuka di depan khalayak kebanyakan, atau di atas panggung. Meski sudah sedemikian telanjangnya sekalipun.
Itulah ketika segala pertanggung-jawaban itu diyakini akan selesai dengan sendirinya dengan aksi propaganda. Bahkan tidak hanya soal pertanggung-jawaban, tetapi semuanya. Propaganda seakan sudah sebagai panacea saja. Propaganda yang sudah seakan sedang bermain drama di atas panggung, bahkan dengan tidak peduli apakah ditonton atau tidak. Mengapa? Pokoknya buat pertunjukkan, pokoknya manggung, selesai: toh khalayak kebanyakan itu sudah berkembang sebagai the society of the spectacle. Mereka butuh pertunjukan, ya kemudian diberi saja pertunjukan, demikian keyakinan mereka, sik-pengelola negara. Sik-perampok kekayaan negara. Khalayak kebanyakan bukannya tidak tahu itu, terutama soal rampok-merampok itu. Makanya dibalik pertunjukan yang ditebar dan diulang, sebenarnya ada selalu akan ada ‘operasi senyap’ yang kadang juga perlu dinaikkan di atas panggung, penggunaan kekuatan kekerasan untuk ‘mendisiplinkan’, terutama yang mempersoalkan ada apa di balik bermacam gelaran ‘pertunjukan’ itu. Soal rampok-merampok.
Di tengah dunia rampok, apa yang dilakukan terhadap laku perampokkan hari-hari ini inilah yang akan menentukan ‘antisipasi’ ketika sik-pengelola negara pidato di atas podium. Pengalaman merasakan kesungguhan memberantas para perampok hari-hari ini terutama yang di depan hidungnya itu, itulah yang akan digunakan dalam ‘mengantisipasi’ pidato. Dan tentu akan berbeda ketika yang bicara adalah Timbul-nya Srimulat. Antisipasinya jelas beda. Apalagi ketika Timbul bicara di atas panggung komedi atau doeloe di TVRI. Dan masuk Gepeng yang kemudian bicara dengan logat khasnya: “Untung ada saya!” *** (21-05-2026)


1977. Daripada Menculik (1)
24-05-2026
Sejarah pemikiran di Eropa sono doeloe, salah satu yang dideskripsikan adalah pergeseran-pergeserannya, dari kosmosentrisme kemudian bergeser menjadi teosentris, dan akhirnya dikaitkan juga dengan merekahnya modernisme, teosentrisme kemudian bergeser ke antroposentrisme, berpusat pada antropos, manusia. Yang juga berakibat semakin gandrung saja keinginan untuk mencari atau memberikan penjelasan ‘tunggal’ terhadap bermacam hal, seperti mengapa benda jatuh selalu ke bawah? Soal ekonomi juga, seperti dilakukan oleh Adam Smith misalnya. Juga terjadi pembalikan, bukan matahari mengelilingi bumi, tetapi sebaliknya. Tetapi tetap saja ada ‘arus bawah’ yang menggelitik, kalau dulu dikenal ada yang ditempatkan sebagai ’axis mundi’, dan kemudian rute teologis perlahan menggesernya, bagaimana setelah antroposentrisme berkembang? Maka bukan sekedar kebetulan saja ketika teosentrisme mulai tergeser, renaissance -rebirth, mulai menggeliat. Adam Smith misalnya, tidak hanya menulis soal ‘gravitasi-ekonomi’ tetapi juga filsafat Yunani Kuno, termasuk filsafat Stoa. Lawan dari ‘tertib tatanan’ itu seakan terus menghantui. Tetapi apa yang mirip dari ‘tiga periode’ di atas terkait upaya menghadapi ‘lawan dari tertib tatanan’ itu? Nampaknya itu adalah ‘yang bisa dipercaya’.
Baik jaman kosmosentris, teosentris, antroposentris, manusia dalam hidup bersama selalu akan berurusan dengan ‘yang bisa dipercaya’ untuk terlibat dalam hidup bersama. Apapun ‘nada-dana’-nya, ‘yang bisa dipercaya’ akan selalu menempati tempat sentral. Terlebih ketika ‘kebutuhan dasar’ serasa jauh dari ‘tertib tatanan’ atau dalam situasi chaos penuh ketidak-pastian dalam pemenuhannya. Tetapi apa beda ‘yang bisa dipercaya’ dalam masa kosmosentris, teosentris, dan antroposentris? Atau bahkan dalam situasi chaos? Jika memakai ‘skema’ tahap-tahap kebudayaan Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, baik di era kosmosentris dan teosentris, seakan berhenti saja di tahap mitis, bahkan kemudian bablas ke magis. Seakan terkurung rapat. Ketika masuk dalam antroposentris, baik tahap mitis, ontologis, dan fungsionil seakan terbuka untuk digeluti. Tak mengherankan seperti disinggung di atas, kegandrungan untuk mencari ‘esensi’ dari satu hal menjadi meningkat pesat, dari soal gravitasi sampai ekonomi misalnya. Atau pengalaman bertahun terakhir, ketika perdebatan terkait yang ‘esensi’ dibungkam atau tidak dianggap ada, maka rute ‘yang bisa dipercaya’ itu seakan kembali dalam nuansa ‘kosmosentris’ dan ‘teosentris’, lebih mengandalkan pada ‘sihir’. Lihat bagaimana para buzzer-nya bahkan kemudian menempatkan ‘orang itu’ sebagai ‘nabi’!
Maka ‘yang bisa dipercaya’ itu akan ditempatkan -mau tidak mau, di atas meja mitis, ontologis, dan fungsionil. Tentu ‘bahasa sihir’ -verbal maupun bahasa tubuh, akan selalu saja muncul, tetapi hari-hari ini ia harus siap juga untuk ‘dikuliti’ atau berdebat dalam pencarian ‘hal mendasar’. Dan juga bahkan terlebih lagi, bagaimana yang diomongkan atau diperdebatkan itu kemudian melibatkan ‘tahap fungsionil’. Konsisten nggak dengan yang diomongkan? Dan bagaimana langkah-langkah kongkret itu selalu terbuka untuk diperdebatkan, untuk dievaluasi, dikritik. Maka ‘yang bisa dipercaya’ itu keluarannya adalah bukan pengikut nan setia-buta, apalagi ‘ternak’, tetapi jika memakai istilah Tan Malaka, adalah yang menaruh harapan di atas tungku ‘madilog’. Dan bahkan dalam ideologi-pun ada kritik-otokritik. Atau dalam olah iman, ada fides et ratio, dalam ‘batas’ tertentunya.
Ketika Abraham Lincoln mengatakan "you can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time," itu bisa menggambarkan hal di atas. Bisa saja sebagian besar bahkan hampir semua dari kita ‘berhasil’ dikurung dalam situasi ‘magis’, tetapi tetap saja akan ada yang berhasil meloloskan diri, sekarang atau suatu saat. Dan ini bisa saja akan berperan sebagai ‘bola salju’, semakin membesar meski tetap saja ada yang ‘memilih’ untuk terkurung selamanya. Tulisan ini didorong oleh beberapa pidato presiden yang nampaknya perlu diperhatikan. Karena itu dikatakan oleh presiden, suka atau tidak. Ada dua hal sebagai ‘contoh kasus’, soal sosialisme dan under-invoicing.
Bagi sebagian pihak, ketika seorang presiden mengungkapkan bahwa ia ingin jadi ‘pemimpin sosialis’ semestinya membuat jantung mulai berdebar-debar. Selain lama itu bernuansa ‘kata terlarang’, juga langsung ataupun tidak jelas akan beresiko. Bahkan ketika kata itu hanya berhenti sekedar omon-omon saja. Bagi sementara pihak, jelas itu akan ditanggapi tidak hanya dalam tataran omon-omon saja. Under-invoicing atau kasarnya penyelundupan, sudah dikatakan oleh Faisal Basri dan Rizal Ramli jauh sebelum hari-hari ini. Dan ketika itu dikatakan oleh presiden, sekali lagi entah itu omon-omon atau tidak, jelas itu bukannya tanpa resiko. Apalagi buat Faisal Basri maupun Rizal Ramli. Atau yang berkarya jurnalisme.
‘Yang bisa dipercaya’ seperti ada dalam bermacam catatan sejarah, akan sangat melibatkan ‘orang-orang sekitar’. Bahkan ketika raja otoriter sekalipun. Semakin ‘ke sini’ fungsi orang-orang sekitar ini sebenarnya adalah ‘tungku madilog’ seperti sudah disinggung di atas. Ia justru ada tidak untuk memperkuat ‘sihir’ secara membabi-buta layaknya seorang penjilat tulen, tetapi memberikan masukan seperti apa sebenarnya realitas kongkrit yang berkembang, dan dengan itu pula ‘komunikasi dialektis’ dengan puncak kekuasaan dibangun. Bagaimana dengan logika? Inilah mengapa sebagian dari ‘orang-orang sekitar’ itu mestinya ada dari kaum teknokrat-nya. Ketika masuk dalam ‘tahap fungsionil’ karena ‘lengkapnya’ orang-orang sekitar itu, diharapkan juga tahap fungsionil tidak masuk dalam mode bablasannya, operasionalisme. *** (23-05-2026)
1978. Daripada Menculik (2)
24-05-2026
Ada apa dengan ‘keprucut’, tiba-tiba saja terlanjur bicara soal mau majakin Selat Malaka? Ini pemerintahan atau anak sekolahan? Apapun itu, kuasa di tangan tetaplah tidak bisa diayunkan sesukanya seakan ada di ruang kosong saja. Kesadaran akan ini, bahwa kuasa itu tidak di ruang kosong, adalah salah satu pembeda penting apakah itu di tangan ‘profesional’ atau ‘amatiran’. Sudah diperingatkan oleh Machiavelli bahwa soal ‘merebut’ kuasa dan ‘menggunakan kuasa’ itu bisa sangat berbeda. Soal ‘merebut kuasa’ hanya akan menghadapi satu masalah, bagaimana ‘merebut kuasa’. ‘Orang-orang sekitar’-pun hanya akan focus pada satu masalah. Sedangkan ketika ada dalam rentang ‘penggunaan kuasa’, maka tiba-tiba saja bermacam masalah muncul. Ketika ‘orang-orang sekitar’ gagal dalam menggeser hal di atas -dan tentu juga ‘pemimpin tertinggi’-nya, maka bisa saja hidup serasa ada dalam ‘kampanye selamanya’. Kampanye yang lekat dengan propaganda itu akhirnya menempatkan propaganda kembali sebagai obat mujarab untuk menyelesaikan bermacam masalah. Padahal menurut Machiavelli, setelah ada di rentang ‘penggunaan kuasa’ itu maka diperlukan virtue, dalam arti kemampuan dalam menghadapi situasi yang terus saja berubah. Atau kalau memakai istilah di bagian pertama, saatnya menghidupkan ‘tungku madilog’, dan sebagai keosekuensinya akan menomer dua-tiga-kan propaganda. Tidak mudah karena jalan gampang memang menggoda, termasuk pilihan pada ‘jalan gampang’ propaganda ini.
Ada pola paling tidak sejak 10 tahun terakhir ini. Setelah banyak ‘orang-orang sekitar’ yang mumpuni dan mau berpikir keras disingkirkan, perlahan elit-elit republik masuk dalam jurang apa yang disebut oleh Hannah Arendt sebagai banality of evil. Mengapa bukan khalayak kebanyakan seperti jaman Nazi?[1] Karena rakyat dalam praktek keseharian sudah dianggap tidak ada. Khalayak kebanyakan cukup diberi pertunjukan, bermacam pertunjukan, bahkan juga sudah tidak peduli apakah pertunjukan itu akan ditonton atau tidak. Cukup ‘roti dan sirkus’, selesai. Cocok untuk komunitas dengan power distance tinggi, demikian mungkin keyakinan ‘mereka’. Kadang memang perlu diaktifkan ‘industri alih isu’ itu, tetapi itu kalau memang diperlukan saja.
Menurut Eksperimen Milgram di sekitar decade 1960-an, yang punya potensi masuk dalam banality of evil ini bisa bermacam latar belakangnya, dari yang sukanya baca komik sampai dengan yang akrab dengan buku-buku ‘berat’ misalnya. Sama saja, sama-sama mempunyai potensi untuk jatuh ke banality of evil. Yang dibutuhkan hanyalah ‘orang-orang sekitar’ yang mempunyai karakter sebagai penjilat dan terutama yang akan berperan sebagai ‘pengawas’ dalam skema Eksperimen Milgram. Menurut Alasdair MacIntery, manusia adalah ‘animal story-telling’, yang tidak hanya soal story-telling-nya, tetapi aku dimana dalam cerita itu. Tetapi jauh sebelum itu, Spinoza berpendapat bahwa hasrat adalah esensi atau hakikat dari manusia itu sendiri. Manusia kadang menginginkan sesuatu bukan karena itu baik, tetapi karena dorongan hasrat semata. Bagaimana jika ‘orang-orang sekitar’ yang kuat jilatannya itu kemudian mengulang dan mengulang cerita tentang ‘hal-hal besar’? Dan sik-‘pengawas’ selalu saja lalu-lalang sambil berguman ‘betul itu …!” Maka berjalanlah ‘skenario’ eksploitasi hasrat akan ‘hal-hal besar’. Bahkan dalam hal-hal tertentu, ‘eksploitasi’ kerumunan dalam rapat kabinet misalnya, dimanfaatkan untuk menegaskan betapa mak-nyos-nya sik-pemimpin. Saking banyaknya anggota kabinet. Dan perlahan ‘tungku madilog’ itupun perlahan padam.
Dan tentu ‘skenario’ itu punya Schutzstaffel-nya sendiri. Mulai dari ‘sandera kasus’ sampai dengan ‘jaringan kekuatan kekerasan’ yang terorganisir dari atas sampai bawah. Yang siap tidak hanya dalam senyap, tetapi bisa juga kejam dan brutal yang sekali-kali dinampakkan. *** (24-06-2026)
Bagian 3, Penutup
[1] Terimakasih juga dengan berkembangnya sosial-media via jaringan digital-internet
1979. Daripada Menculik (3)
25-05-2026
Hampir empat bulan lalu AS menyerang Venezuela dan menangkap-menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan kemudian dibawa ke Amerika untuk ‘diadili’. Hampir sebulan kemudian AS dan Israel menyerang Iran yang panas dinginnya sampai sekarang. Menangkap dan menculik seperti dilakukan terhadap Maduro mungkin tidak akan terulang dalam waktu lama, tetapi perang? Perang yang sering dipicu oleh masalah ekonomi, apapun ‘masalah’ itu akan menampakkan diri. Perang yang akan berulang, entah kapan. Entah apalagi alasan yang akan dipakai. Hari-hari ini Kuba-pun semakin memanas. Kuba yang letaknya persis di depan tanduknya Florida. Apakah kita sedang melihat bermacam ‘persiapan-uji coba’ Perang Dunia III? Tetapi apapun itu apakah perang besar akan meledak atau tidak, itu bukanlah hal yang tergantung kita. Sekeras apapun kita berteriak damai … damai … damai! Meski begitu bermacam hal terkait dengan panas-dinginnya geopolitik-geoekonomi global harus selalu diperhitungkan dan tentu harus mengambil sikap pula, tetapi pertanyaan utamanya adalah bagaimana terhadap ‘yang masih tergantung’ pada kita? Masalahnya lebih dari 2000 tahun lalu ketika Thucydides menulis tentang Perang Peloponnesos (431-404 SM) antara Athena dan Sparta, maka apakah kita seperti ‘negara kecil’ Melos yang ada diantara mereka? Yang maunya netral-netral saja tetapi malah diserbu oleh Athena, justru karena ingin netral ‘bebas-aktif’ dan tidak mau berpihak pada Athena?
Dalam dunia yang tidak hanya saling terhubung tetapi juga semakin saling tergantung, ‘titik pijak’, atau ‘pondasi tempat’ berdiri menjadi penting sebagai pintu untuk membukan horizon kesaling terhubung dan tergantung itu. Dan inilah yang kita rasakan selama satu-setengah tahun ini, pintu yang sedang dibuka oleh ‘proses merangkak’-nya monsterisasi. Orang luar tiba-tiba saja akan melihat sosok yang sedang di belakang pintu yang sedang dibuka itu, dan … ternyata sosok ‘monster’! Bahkan sejak hari-hari pertama satu-setengah tahun lalu, monsterisasi sudah mulai dijalankan. ‘Monster’ yang kemudian diperkenalkan tidak hanya ada di ranah ‘kekuatan kekerasan’, tetapi juga di ranah ‘kekuatan uang’ dan ‘kekuatan pengetahuan’.
Apa yang dilakukan oleh petinggi komunikasi mengumpulkan pengelola homeless media kemarin-kemarin itu, dan secara kasar mengklaim bahwa mereka adalah tangan pemerintah, bisa dilihat juga sebagai bagian dari ‘monsterisasi’ dalam ranah ‘kekuatan pengetahuan’. Juga ketika kasus ‘kepala babi’ kepada jurnalis dulu, ada petinggi yang bilang: “Dimasak saja”. Atau laku gegayaan panggul beras dan omongan tipu-tipu saat bencana, seakan ingin meyakinkan bahwa begini jadinya ketika bencana di tangan seorang ‘monster’. Belum lagi di ranah ‘kekuatan kekerasan’, miris. Di ranah ‘kekuatan uang’? Secara telanjang bagaimana MBG dan Koperasi Desa itu seakan ‘sengaja’ ingin dinampakkan bahwa banyak ‘monster-monster kecil’ yang juga menikmati program itu. Juga silih-berganti seakan menunggu giliran manggung, kepala daaerah muncul dengan kontroversi ugal-ugalannya. Terakhir, soal under-invoicing, solusi terhadap kasus itu banyak terhayati sebagai hadirnya ‘mendadak monster’.
Bahasa Jawa-nya, di-blondrok-é, dijerumuskan secara tidak sadar dalam banyak halnya. Atau katakanlah, bagaimana bermacam hasrat yang ada di id itu di-eksploitasi. Yang akhirnya ego dan super-ego akan tertekan. Siapa yang tidak gregetan dengan laku under-invoicing atau penyelundupan ekspor SDA itu? Dan jika itu diotak-atik, apakah ‘mereka’ akan diam saja? Bisa-bisa ‘mereka’ akan melakukan apa saja demi mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmati bertahun-tahun itu. Apa saja, termasuk mem-blondrok-é itu. Tiba-tiba saja maksud baik itu justru menampakkan diri sebagai ‘monster’, karena meminggirkan hal timbang-menimbang. Dalam lalu-lintas modal, sosok ‘monster’ dalam bermacam bentuknya bisa saja akan menjadi ‘musuh bersama’. Lihat saja bagaimana ‘gelombang globalisasi’ ke dua yang (selalu) diboncengi oleh kepentingan modal itu telah ‘menurunkan’ banyak diktator-‘monster’ di bagian akhir abad-20. Bahkan juga sampai balkanisasi. *** (25-05-2026)


