19-05-2026
Jika memakai pembedaan tipe oligarki dari Jeffrey Winters, maka paling tidak dalam ‘politik riil’ -sesuatu yang masih bisa dicapai, hari-hari ini adalah menggeser oligarki pada tipe ‘oligarki sipil’. Tipe dimana hukum masih mampu ‘mengendalikan’ ugal-ugalannya oligarki. Tetapi kemampuan hukum seperti itu tidaklah hadir di ruang kosong, sekali lagi ia butuh prakondisi politis, teknis, dan sosial. Prakondisi politis, oleh yang pernah dinobatkan sebagai finalis ‘pemimpin’ paling korup sedunia itu, telah dibuat serendah-redahnya, mengikuti kualitas dirinya. Diobok-obok semau-maunya, selama hampir 10 tahun lamanya. Dalam komunitas dengan power distance tinggi, prakondisi politis ini bisa sangat mempengaruhi prakondisi teknis. Karena hal teknis ini pasti akan melibatkan orang-orang atau jajaran di bawahnya. Maka retak-rusaklah lembaga-lembaga yang katakanlah ada di ‘bangunan atas’ itu. Sebut saja semua yang mungkin lebih ada di ‘bangunan atas’ itu, bahkan juga lembaga keagamaan dan pendidikan, maunya dirusak juga. Termasuk juga jajaran penegakan hukum, rusak-rusakan. Bagaimana dengan prakondisi sosial? Yang utama adalah membuat ‘yang sosial’ itu menjadi tidak berdaya. Keinginan untuk merasakan keadilan justru dijauhkan dengan dibiasakan merasakan ketidak-adilan dari waktu ke waktu. Tentu ditambah juga dengan dengan ‘dibisiki’ oleh hal-hal yang sifatnya represif. Selain itu, adu domba dan ‘main sihir’ tiada henti. Seakan ‘yang sosial’ itu maunya dikurung saja, tanpa ada kesempatan untuk merasakan apa yang paling mendasar dalam hidup bersama sebagai warga negara republik: menuju atau mendekat pada keadilan sosial.
Ketika kesulitan mencukupi kebutuhan hidup semakin sulit, katakanlah selalu saja tergencet-terpinggirkan dalam relasi-relasi kekuatan produksi, perjuangan melawan ketidak-adilan yang bisa saja sedang ‘bermain’ di ‘bangunan atas’ itu bisa-bisa akan lebih cepat diserap. Maka sangat berharga ketika melawan ketidak-adilan itu dibangun di atas pondasi ilmu pengetahuan seperti dinampakkan oleh trio RRT (sekarang tinggal RT) atau juga Topi Merah, Bonjowi, dan tentu Bonatua Silalahi. Juga Dirty Vote sampai Pesta Babi itu, yang lebih berangkat dari temuan sehari-hari. Juga tentu kanal-kanal atau akun-akun yang banyak memberikan pencerahan. Bukan hanya sekedar ‘obat’ untuk penderitaan –‘eskapisme’, tetapi mengajak horizon terus dimajukan sehingga lebih mampu menguak apa yang menjadi sebab dari semakin sulitnya hidup.
Mungkinkah multitude-nya Negri dan Hardt itu seakan berfungsi sebagai ‘partai pelopor’ ketika partai-partai politik pada mèmblè? Kita tidak tahu bagaimana ke depannya nanti, tetapi menjaga proses-proses molekuler terus berlangsung adalah sesuatu yang mestinya masih bisa dicapai. Multitude yang masing-masing membuka diri terhadap bermacam ‘masukan’ sehingga kekuatan semakin berkembang. Dari bermacam arah, dari bermacam ‘kelompok’. Kekuatan yang nantinya akan head-to-head dengan sik-‘pokoknya ada’ itu sebagai salah satu puncak gunung es. Head-to-head dengan yang di bawah permukaan yang sudah berkembang lama: ‘gunung es emang lo siapa?’ ‘Entitas bukan siapa-siapa (emang lo siapa?)’ yang (maunya) harus ikut saja ditentukan mutlak oleh ugal-ugalannya, semau-maunya ‘mereka’ dalam menumpuk kekayaan. Ugal-ugalan, semau-maunya sampai-sampai ‘pemimpinnya’ kemudian dinobatkan sebagai finalis terkorup sedunia itu.
Dan ternyata ‘entitas bukan siapa-siapa’ itu perlahan telah merubah diri sebagai -katakanlah, multitude, sebagai ‘partai pelopor mini’ yang tidak hanya tersebar, tetapi juga tanpa takut, dan selalu membawa nuansa pencerdasan. Para ‘intelektual organic’ yang sadar atau tidak, semakin mahir dalam ‘mengorganisir’ diri. Dan semakin nampak saja bagaimana ‘keterbelahan’ itu, satu yang mencerdaskan dan yang dipelihara oleh sik-finalis terkorup sedunia itu: pembodohan. Nampak dengan telanjangnya. Sana mau ke sana, sini mau ke sini, kata si-Bung. Lalu … kapan dan sebagai apa katalis akan datang? *** (19-05-2026)