1980. Krisis vs Krisis

26-05-2026

Bukan Kramer vs Kramer (1979), tetapi krisis vs krisis. Bukan di ranah ‘privat’ tetapi di ranah kuasa negara. Negara yang sebenarnya selalu saja ada kemungkinan kehancurannya, berkeping-keping. Negara, terlebih lagi seperti diistilahkan oleh Driyarkara sebagai juga menegara. Menegara yang selalu dihadapkan pada bermacam kemungkinan, termasuk di dalamnya pilihan-pilihan dalam merespon kemungkinan-kemungkinan itu. Maka tidak hanya manusia yang ada dalam bayang-bayang Being-towards-death seperti dikatakan oleh Heidegger, bisa dibayangkan pula hidup bersama dalam menegara-pun bisa saja selalu mengarah pada (kemungkinan) kehancuran-kematiannya.

Maka menjadi penting bagaimana respon terhadap kemungkinan kehancuran itu, terlebih ketika kemungkinan itu membesar dalam situasi krisis. Pengelola negara semestinya menjadi salah satu actor penting dalam membangun respon tersebut. Tidak hanya dalam krisis sebenarnya, tetapi juga dalam menghadapi bermacam tantangan di depan. Atau katakanlah dalam terminology Toynbee, sebagai salah satu ‘minoritas kreatif’. Minoritas kreatif yang responnya terhadap tantangan akan ditiru oleh khalayak kebanyakan. Dengan ini pula bisa dibayangkan apa ‘syarat’ sehingga khalayak kebanyakan akan meniru? Salah satu faktor penting adalah ‘bisa dipercaya’ atau katakanlah mempunyai kredibilitas. Kredibilitas sebagai serapan kata asing dengan asal katanya dari credo, percaya.

‘Yang bisa dipercaya’ dalam nuansa kosmosentris, teosentris, dan antroposentris tentu akan berbeda dalam bermacam penampakannya. Dalam nuansa antroposentris yang akan terlibat dengan bermacam keterbatasannya, ‘yang bisa dipercaya’ itu juga akan bersinggungan juga dengan ‘batas’, atau katakanlah ‘terukur’. Karena itu bisa ‘diperdebatkan’. Atau jika kita bicara ‘politik riil’ dimana itu berarti adalah ‘sesuatu yang masih bisa dicapai’, kredibilitas atau ‘yang bisa dipercaya pada sebuah batas tertentu’ menjadi penting. Akan berbeda ketika kita bicara tentang ‘politik ideal’, yang mungkin saja tentang ‘masyarakat adil-makmur berdasarkan PS’ akan diulang-ulang dibicarakan. Ada leitstar -bintang penuntun, dan ada tempat dimana kita berpijak, ruang antara-nya adalah lapangan ‘politik riil’ berdenyut dalam panas-dinginnya. Itulah mengapa setelah proses pemilihan umum itu selesai, sebaiknya bermacam relawan itu dibubarkan saja. Mengapa? Karena sebenarnya mereka hanya punya satu leitstar, memenangkan pemilihan, titik. Dan bagaimana jadinya menegara di rentang penggunaan kuasa setelah pemilihan jika berjalan tanpa leitstar -katakanlah, sebagai bagian dari ‘elan vital’-nya? Bertahun-tahun terakhir kita mendapat pelajaran berharga tentang hal itu.

Ketika terlalu demen bicara tentang ‘hal-hal besar’ komplit dengan segala bahasa tubuhnya -entah itu ‘di-blondrok-é / dijerumuskan, atau memang begitu adanya, maka bisa saja tiba-tiba ‘kehilangan’ bermacam momentum dalam ‘politik riil’-nya, dan lebih parah lagi, gagal dalam membangun kredibilitas. Akibatnya? Perlahan dinamika ‘politik riil’ itu telah bergeser, atau parahnya lagi, ditabuh oleh ‘kepentingan lain’. Sibuk bicara soal ‘masyarakat adil-makmur’ tetapi lupa bahwa itu semua butuh tahap-tahapnya. Tahap-tahap yang mestinya dibangun-disambung oleh sebuah kredibilitas.

Hari-hari ini terberitakan bagaimana krisis di era SBY berhasil diatasi dan pemerintahan sekarang ingin mendapat masukan dari beberapa petinggi di era itu. Tetapi yang sering dilupakan, pagi-pagi di hari-hari pertama, SBY sudah menaruh perhatian besar tentang (potensi) ‘matahari kembar’. Lihat misalnya terkait dengan posisi Penglima TNI saat itu. Dan pengalaman itulah yang secara tidak langsung telah dibagikan SBY jauh sebelum situasi seperti sekarang ini berkembang seakan tanpa kendali lagi. Atau katakanlah, saat menghadapi krisis saat itu, bagian dalam internal pemerintahan (SBY) tidak mengalami krisis secara ‘internal’. Jadi tidak masuk dalam cerita krisis vs krisis. Bahkan sebenarnya pemerintahan SBY dulu itu semestinya berterimakasih terhadap partai di luar pemerintahan, saat itu diujung-tombaki oleh PDIP. Jelas ada di luar, sekeras apapun tetapi jelas tidak plintat-plintut ada di belakang dan selalu siap menusuk dari belakang, menjerumuskan dengan bermacam dorongan supaya masuk ‘jurang’.

Dengan adanya oposisi itu maka seakan saja selalu ada pengingat akan Being-towards-death, kemungkinan akan ‘matinya rejim’. Dengan selalu dihadapkan oleh kemungkinan ‘kematian’-nya maka dorongan untuk bersikap ’otentik’ di depan bermacam pilihan itu akan semakin kuat pula. Salah satunya adalah menjadi berani dengan stamina tinggi menggeluti hal timbang-menimbang. Mungkin akan dibingkai sebagai sik-peragu, tetapi sejarah mencatat itu lebih dari soal ragu-ragu atau tidak. Dan jika ditanya hari-hari ini, mengapa SBY santai-santai saja dibingkai sebagai sik-peragu? Mungkin jawabannya, daripada dibingkai sebagai sik-monster*** (26-05-2026)

1981. Tidak Masalah Kucing Hitam atau Putih, Asal ...

28-05-2026

Bagi para pemburu rente dan ‘derivatif’-nya, tidak masalah pimpinan tertinggi itu sukanya baca komik atau baca buku ‘berat-berat’, sejauh perburuan rentenya tidak diganggu. Lebih-lebih jika diberi kesempatan memperlebar sayap-sayapnya. ‘Kekuasaan’ tidak hanya dihasrati sampai ajal menjemput, tetapi terutama untuk merawat atau mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmatinya, atau yang sudah di tangan. Sejarah perburuan rente atau rent seeking activities di republik berkembang paling tidak sejak 50 tahun lalu, melalui dunia konsensi hasil hutan. Bisa dibayangkan kemudian ini berkembang menjadi ‘oligarki sultanistik’ yang kemudian berkembang terus menjadi ‘oligarki penguasa kolektif’, setelah ‘sik-sultan’ lengser.

Selama 50 tahun itu, rent seeking activities terus berkembang dengan bermacam ‘derivatif’-nya. Macam-macam, tetapi intinya seakan sudah menjadi satu ‘kelas’ tersendiri. Kalau dulu pada awalnya sebagai ‘budak’-nya ‘sik-sultan’ bapak pembangunan itu, pemimpin tertinggi, sekarang sudah terbalik, pemimpin tertinggi harus menjadi ‘budak’. Budak yang bahkan merasa bukan siapa-siapa jika tidak didukung oleh ‘kelas’ pemburu rente dan ‘derivatif’-nya. Atau jelasnya, oleh kelas ‘oligark penguasa kolektif’. Relasi-relasi ‘kekuatan produksi kekayaan’ itu kemudian menjadi tuan yang sewenang-wenang dalam menentukan apa-apa yang ada di ‘bangunan atas’, termasuk politik tentunya. Bahkan juga lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan.

Maka sebagai ‘budak’-nya kelas ‘oligark penguasa kolektif’, sik-pemimpin tertinggi sebagai yang ada di ujung dalam pengelolaan negara, ada satu syarat mutlak yang tidak boleh ‘dilanggar’, ia tidak boleh mempunyai akar kuat di khalayak kebanyakan. Makanya Gus Dur dan Megawati itu ‘dipaksa’ untuk membagi rentang waktu 5 tahun jadi dua, supaya akar kuat-nya tidak semakin kuat jika genap 5 tahun, misalnya. Apalagi selama dua periode, sepuluh tahun. Atau bisa dikatakan, ‘hantu’ sebenarnya adalah ‘prakondisi sosial’.

Ada pelajaran dari perjalanan USSR menjadi Russia dari sudut ke-oligarkiannya Jeffrey Winters. Katakanlah selama USSR, oligarkinya adalah jenis ‘oligarki panglima’, dan dengan glasnost dan perestroika, Rusia kemudian bersahabat dengan ‘oligarki penguasa kolektif’, yang memuncak di era Yeltsin. Ketika Putin naik, perlahan kaum oligark itu di-disiplinkan, dan akhirnya jadilah ‘oligarki sultanistik’. Bagaimana Putin berhasil menggeser tipe oligarki itu? Dengan lama di KGB Putin sangat paham tentang sepak terjang kaum oligark itu, komplit dengan segala kenakalannya. Dan dengan semua ‘kekuatan kekerasan’ ada di tangan maka Putin tidak hanya mengeliminir kemungkinan adanya ‘matahari kembar’ tetapi juga mempunyai daya tawar tinggi ketika berhadapan dengan ‘oligarki penguasa kolektif’. Selain itu, faktanya yang disebut sebagai ‘oligarki penguasa kolektif’ itu umurnya masihlah ‘muda’, sangat muda jika dibandingkan dangan umur KGB.

Tetapi lain ladang lain belalang, ‘oligarki penguasa kolektif’ di republik tetaplah tidak bisa menghilangkan ‘archetype’ terkait dengan hubungan patron-klien. Atau katakanlah, ‘relasi-relasi kekuatan produksi khas mereka’ tetaplah di rasa ada dalam ‘pakta dominasi sekunder’. Maka kemana itu akan dicantholkan, akan digantungkan pada ‘pakta dominasi primer’-nya, dengan tetap ‘di-dalam negeri’ sebagai ‘oligarki penguasa kolektif’? Ketika ‘sik-sultan’ sudah tidak ada? Bagaimana ‘pakta dominasi primer’ menyikapi ‘rejeki nomplok’ ini? Dan dalam dunia semakin ‘multi-polar’, bagaimana dengan ‘pakta dominasi primer’ lainnya? Dan bagaimana sikap mereka jika ada yang ingin menggeser ‘oligarki penguasa kolektif’ kembali menjadi ‘oligarki sultanistik’ seperti jaman old? Atau a la Putin? A la Chaves? *** (28-05-2026)

1982. Kecanduan

29-05-2026

Apakah soal kecanduan adalah masalah nature atau nurture? Nature dalam arti memang dari sono-nya sudah punya bakat kecanduan. Sedangkan nurture terkait dengan faktor lingkungan. Bahkan dalam studi epigenetic faktor dari sono-nya itu bisa berubah karena faktor lingkungan dan diturunkan pula. Di otak, kecanduan ini akan melibatkan dopamine yang akan dikeluarkan oleh ‘area atau pusat senang-senang’ di otak. Ada studinya terkait dengan hal ini. Tetapi dalam kesempatan ini akan lebih pada soal nurture, meski bisa saja dalam dunia intelijen akan didukung dengan ‘studi DNA’ untuk melihat kuat atau tidaknya bakat kecanduannya. Terlebih ketika bicara di ranah kuasa negara dimana ada pertaruhan sangat besar di situ.

Tidak sedikit contoh di kalangan elit atau ‘calon’ elit dalam ranah kuasa negara soal kecanduan ini dimainken. Tidak hanya langsung pada yang bersangkutan, tetapi juga lingkaran dekatnya, katakanlah anggota keluarganya. Macam-macam kecanduan yang dimainken, dari soal kekayaan bahkan juga soal kuasa, narkotika dan obat-obatan, judi, narsis-narsis-an, bahkan sampai seks. Kasus Epstein Files yang menggegerkan itu tidak lepas juga bagaimana kecanduan dimainken, dalam hal ini kecanduan akan seks. Mengapa susah-susah membuat ‘lingkungan’ yang menjerumuskan sehingga terperangkap dalam sebuah kecanduan? Mudah ditebak, sandera kasus. Lihat bagaimana dalam Epstein Files itu adalah juga soal foto-foto ‘terlarang’, belum soal video jika ada. Kata Manuel Castells di penghujung abad-20 (The Power of Identity, 1997) di seberang Revolusi Informasi sana akan ada senjata ampuh dalam politik yang akan berkembang pesat: politik skandal. Bahkan saat itu belumlah berkembang sosial-media.

Wilhelm Reich (1897-1957) seorang pengikut Freud dan menjadi saksi hidup juga bagaimana fasisme Nazi berkembang, berpendapat bahwa eksploitasi ketidak-sadaran (kolektif) itulah yang membuka pintu fasis untuk berkembang. Ketidak-sadaran dimana id (berprinsip kesenangan) ada di dalamnya. Paulo Freire membedakan kesadaran sebagai kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Selangkah lagi sebenarnya kesadaran naif bisa melangkah ke kesadaran kritis, tetapi jika gagal dan jika memakai analisis Reich di atas tentang eksploitasi ketidak-sadaran, justru fanatisme-lah yang berkembang. Dalam kesadaran naif ada kecenderungan menyalahkan diri sendiri atau justru menyalahkan yang lain di luar diri, karena memang belum sampai pada pemahaman yang ‘menyeluruh’. ‘Kecanduan’ menyalahkan pihak lain dalam situasi tertentu, misalnya porak-poranda akibat Perang Dunia I, termasuk juga segala ‘kehinaan’ akibat kekalahannya, akhirnya terbukti menjadi salah satu ‘pondasi’ dari fasisme Nazi doeloe.

Holocaust adalah salah satu eposide terkelam saat itu, dan itu menurut Hannah Arendt berangkat dari ketidak-berpikiran yang kemudian di-istilahkan di ujungnya sebagai banality of evil itu. Ke-tidak-berpikir-an kolektif yang dengan telak telah meminggirkan super-ego (berprinsip moralitas) dan (terlebih) ego (berprinsip realitas) yang akan lekat dengan rasio atau hal timbang-menimbang. Bagaimana jika saat Hitler naik saat itu sosial-media telah berkembang via jaringan digital internet?[1] Saat itu yang dominan adalah modus komunikasi man-to-mass melalui radio, surat kabar, film, dan perlahan mulai menyebar: televisi. Sebagai ‘contoh kasus’, pernak-pernik kasus ijazah palsu bisa menjadi pelajaran, bagaimana satu pihak nampak dengan telanjang sering lebih mengaduk-aduk emosi, termasuk para buzzer-nya, sedang yang ingin membongkar lebih lekat dengan nalar atau hal timbang-menimbang, sekaligus banyak pihak menghimbau untuk sik-pemegang ‘ijazah’ itu mau melakukan sesuatu yang berprinsip pada ‘moralitas’ seperti berperilaku negarawan, misalnya. Maka kita sangat berterimakasih terhadap trio RRT (sekarang tinggal RT saja) dan kawan-kawan, juga Bonjowi dan Bonatua Silalahi serta Pak Taufiq cs dengan gugatan CLS di Solo itu, mereka -sadar atau tidak, telah ‘menjaga kewarasan’ dan dengan itu pula ‘gaya-gaya fasis’ menjadi tidak mudah lagi untuk semau-maunya. Tentu ini perlu keberanian dan stamina tinggi. Dan tentu pula perlu pihak-pihak lain untuk ‘ikut bermain’ di ranah-ranah lainnya.

Kembali ke hal ‘kecanduan’ dimana di atas sudah disinggung bagaimana kecanduan itu bisa ada di tingkat individu atau kolektif. Yang sebenarnya ujungnya tidaklah jauh berbeda, berkembangnya ke-tidak-berpikir-an (terkait ego) dan semakin jauh dengan prinsip-prinsip moralitas (terkait super-ego). Ego yang semakin lemah sehingga ‘prinsip realitas’ juga semakin lemah, hidup seakan ada dalam angan-angan saja. Jika bicara ideologi-pun menurut si-Bung, ideologi akhirnya hanya menjadi ‘ideologi kenang-kenangan’ saja. Atau inginnya menjadi ‘pemimpin sosialis’ tetapi penghayatannya ternyata abracadabra, sim-sa-la-bim. Sedang ‘kecanduan’ atau ‘mabuk’ apa ya …? Kok jadinya malah super-semrawut seperti ini. Semrawut dalam berpikir bahkan dalam berimajinasi, semrawut dalam integritas sehingga korupsi di depan mata-pun di-diamkan, seakan ‘evil atau iblis’ semrawut itu sudah menjadi banal saja. *** (29-05-2026)

[1] Tetap saja ‘wajah janus’ akan ada, misalnya terkait dengan ‘skandal Cambridge Analytica’ kira-kira sepuluh tahun lalu

1983. Genteng dari Perancis

30-05-2026

Doeleoe pernah ditemukan bahwa beberapa penyakit yang diderita beberapa anak-anak itu ternyata berasal dari mainan berbahan timbal. Mainan itu, entah mobil-mobilan atau lainnya kadang dijilat-jilat oleh anak-anak yang masih kecil itu. Akhirnya timbal masuk ke tubuh dan sampai dimana-mana, termasuk ke otak anak. Jadilah salah satu gejala menampakkan diri, gangguan dalam memori, ingatan, beberapa tahun setelah rutin ‘menjilat’ mainan itu. Banyak zat masuk tubuh bisa bermacam akibatnya, termasuk akibat negative, entah itu kecanduan sampai dengan keracunan bahkan kematian. Maka tidak mengherankan untuk yang ada di puncak kekuasaan tidak hanya perlu penjagaan terhadap ancaman kekerasan, tetapi juga yang masuk melalui makanan. Juga sebenarnya yang mempunyai sifat massal, misalnya program makan massal untuk anak pastilah diupayakan langkah-langkah pencegahan terhadap kemungkinan keracunan. Termasuk tempat makan, apakah sehat atau misalnya apakah ‘tercemar’ timbal atau lainnya yang jika ikut masuk akan berakibat buruk dalam jangka panjang? Negara-negara demi melindungi warganya terhadap produk-produk makanan, biasanya ada lembaga yang mengurusi pemantauan tersebut. Dibiayai oleh pajak-pajak warganya. Bahkan intelijen-pun akan ikut menaruh perhatian terhadap kemungkinan ‘perang’ melalui bermacam produk makanan yang masuk ke tubuh.

Judul “Genteng dari Perancis” dimaksudkan terkait beberapa letupan dari pidato presiden yang rasa-rasanya lebih sebagai letupan aèng-aèng saja. Tiba-tiba muncul ide ‘gentengisasi’ untuk rumah-rumah. Rumah di republik akan diganti dengan genteng semua. Atau yang sempat heboh beberapa waktu lalu, orang desa tidak pakai dollar. Atau terakhir di Perancis sono, saat di depan podium berdampingan dengan Presiden Perancis, mengatakan supaya anak-anak sekolah diwajibkan belajar bahasa Perancis. Yang sebelumnya ada keinginan memasukkan bahasa Portugis dalam pelajaran anak-anak sekolah ketika menerima Presiden Brasil, sekitar 7 bulan lalu. Belum lagi banyak yang dirasakan oleh khalayak kebanyakan, mendadak ingin itu ingin ini dalam pidato. Seakan impulsivitas itu selalu membayang saja dalam setiap pidatonya. Apakah tidak ada naskah pidato? Apakah tidak ada ‘tim kecil’ yang akan selalu memberikan masukan ketika akan pidato? Apakah tidak ada yang memberikan ‘masukan gizi’ sehingga muncul pidato yang ‘sehat’?

Impulsifitas biasanya ada faktor yang ada di otak, entah itu ada dalam rangkaian DNA nya atau akibat adanya kerusakan di otak, entah itu karena stroke atau luka kronis akibat benturan pada atlit tinju misalnya. Atau akibat kecelakaan yang berdampak pada struktur-mikro otak, Impulsifitas yang ‘ekstrem’ akan menampakkan diri pada kejang-kejang, sehingga kadang perlu operasi otak untuk menghilangkan ‘focal epileptic’-nya, misalnya dalam kasus penderita epilepsi. Tetapi selain dari ‘sono’-nya, faktor lingkungan akan sangat mempengaruhi bagaimana impulsifitas itu ‘dibangkitkan’. Bagi penderita epilepsy ini sangat penting untuk ikut mencegah serangan. Maka soal ‘orang-orang sekitar’ menjadi penting di sini. Ketika kita bicara soal pucuk pimpinan sebuah negara, termasuk bagaimana intelijen memahami hal ini. Intelijen yang pastilah akan menjadi bagian dari ‘orang-orang sekitar’ dari sik-pimpinan. SBY saat jadi presiden melakukan ini, dalam arti mewajibkan laporan intelijen di meja kerjanya setiap hari. Macam-macam laporan intelijen yang dimintanya. Dan itu digunakan SBY untuk lebih melihat realitas daripada untuk sok-sok-an ‘menggertak lawan’. Tetapi kita juga bisa membayangkan, apa yang akan dilakukan oleh jaringan ‘intelijen’ pihak ‘lawan’? Apapun atau siapapun itu. Mengapa ini perlu diperhatikan? Karena apapun itu, akhirnya khalayak kebanyakan terutama yang hidup pas-pas-an dan kekurangan, yang akan menerima dampak besarnya. *** (30-05-2026)

1984. Retorika dan Pelajaran Berharga Bertahun Terakhir

31-05-2026

Dalam trivium sebagai bagian pertama dari pendidikan klasik, retorika ada bersama-sama dengan grammar dan logika. Trivium di sini bisa dikatakan lapangan bermainnya adalah kata. Bagian kedua dikenal sebagai quadrivium terdiri dari aritmatika, geometri, musik, dan astronomi, yang bisa dikatakan lapangannya adalah angka. Pendidikan klasik sering disebut juga sebagai liberal arts, praktek-praktek yang membebaskan. Yang memerdekakan. Tentu kata dan angka itu bukanlah sekedar pembeda atau membuat kita bebas dari ‘dunia binatang’. Dari segi evolusi, dibebaskannya tangan dari fungsi berjalan dan dengan itu mempunyai kemampuan lebih untuk melakukan gerakan-gerakan motorik halus, itulah yang membuat area otak yang bertanggung-jawab terhadap kemampuan bicara menjadi berkembang. Faktor-faktor lingkungan yang ‘memaksa’ semakin berkembangnya motorik halus tangan demi memperbesar kemampuan bertahan hidup. Tidak jauh dari apa yang berkembang bertahun terakhir terkait dengan studi epigenetic. Faktor lingkungan yang akhirnya mempengaruhi ‘struktur otak’ yang kemudian diturunkan dalam ‘rantai DNA’-nya. Studi epigenetic yang salah satunyan dipicu oleh kelaparan kronik akibat Perang Dunia II di satu komunitas di Belanda sono, ternyata membuat munculnya penyakit-penyakit tertentu dan kemudian ditemukan dalam studi epidemologi bahwa itu diturunkan.

Menurut Walter J. Ong, oralitas yang akan bertemu dengan kegiatan mendengar mempunyai kecenderungan ‘menyatukan’. Sedangkan modus ‘melihat’ cenderung ‘memecah-belah’. Dalam dunia digital-internet ini, dominasi lebih pada modus ‘melihat’, jadi bisa dikatakan bahwa potensi untuk ‘terpecah-belah’ -fragmented, lebih besar. Beda di era Hitler misalnya ketika dominan masih man-to-mass, lihat bagaimana oralitas dibantu dengan pengeras suaranya ditambah dengan bermacam pernak-pernik panggung, bisa lebih ‘menyatukan’. Gabungan antara bahasa verbal dan bahasa tubuh itu bisa begitu dahsyatnya. Apa unsur utama dalam proses ‘menyatukan’ dari oralitas?

Dari Albert Mehrabian kita bisa belajar bahwa berhasilnya komunikasi itu ditentukan oleh terutama bahasa tubuh, dalam hal ini segala tarikan wajah dan lainnya. Baru kemudian intonasi dan terakhir sayangnya, isi dari yang sedang dikomunikasikan itu. Levinas terkait dengan peristiwa face-to-face mengatakan bahwa dalam peristiwa itu ada hal etis yang perlahan menyeruak ke permukaan. ‘Yang lain’ yang sedang ada di depan kita itu memang tidak pernah menampakkan diri secara keseluruhan, maka sekaligus juga itu sebenarnya sudah cukup bahwa ‘yang lain’ itu sedang juga bilang, ‘jangan bunuh (kemungkinan lain) saya’, misalnya. Karena di belakang ‘yang lain’ masih banyak kemungkinan. Seakan kita juga ikut bertanggung-jawab terhadap yang lain itu. Juga karena segala tarikan wajah itu sangat-sangat sulit untuk ‘dimanipulasi’, terlebih yang tidak punya bakat ‘poker face’. Maka dalam kontak tatap-muka itu perlahan juga muncul ke-saling-percaya-an.

Maka ada banyak alasan ketika usia anak-anak kemudian dilarang untuk ber-sosial-media. Nampaknya itu lebih untuk membangun pondasi dalam hal ‘mendengar’, ber-oralitas secara langsung, face-to-face, dan dengan itu juga membangun pondasi untuk lebih mampu menghayati hal etis. Hal-hal penting yang nantinya bisa saja akan sangat berguna saat dewasa. Dari hal-hal di atas, ternyata dalam praktek retorika tidak hanya berurusan dengan grammar atau logika, tetapi juga soal kepercayaan, dan lebih penting lagi ada hal etis di situ. Bertahun-tahun ‘retorika’ seakan lebih tersampaikan ke publik sebagai ‘yang lucu’, ‘gampang-gampang’ saja, bahkan tidak menampakkan adanya logika yang kuat. Apalagi bangunan kepercayaan dan hal etis. Sama sekali perspektif ‘satunya kata dan tindakan’ hampir-hampir sudah melenyap. ‘Retorika’ seakan sudah menjadi bagian dari ‘atraksi panggung’ belaka. Bahkan secara semena-mena ada di bawah telapak kaki propaganda saja. Apa akibat bagi khalayak kebanyakan ketika terus saja dihadapkan ‘retorika’ seperti itu. Dihadapkan pada ‘kelaparan kronis’ terkait dengan retorika yang baik dan benar? Akankah itu kemudian melahirkan bermacam ‘penyakit’ tertentu dan bahkan itu akan ‘diturunkan’? Penyakit semau-maunya, jauh dari logika, menjauh dari hal etis, asal mangap, asal njeplak, jauh dari bangunan kredibilitas-bisa-dipercaya, ngibul tipu sana tipu sini, dan parahnya lagi, semakin tidak mengenal ke-prudence-an. Ugal-ugalan. Peradaban seperti apa yang akan terbangun dengan itu semua? Maka tidak salah-salah amat jika Mangunwijaya melihat peran penting retorika dalam memajukan peradaban. Atau sebaliknya, hari-hari ini dan sudah berjalan bertahun terakhir: ‘retorika’ yang memundurkan peradaban. *** (31-05-2026)