26-05-2026
Bukan Kramer vs Kramer (1979), tetapi krisis vs krisis. Bukan di ranah ‘privat’ tetapi di ranah kuasa negara. Negara yang sebenarnya selalu saja ada kemungkinan kehancurannya, berkeping-keping. Negara, terlebih lagi seperti diistilahkan oleh Driyarkara sebagai juga menegara. Menegara yang selalu dihadapkan pada bermacam kemungkinan, termasuk di dalamnya pilihan-pilihan dalam merespon kemungkinan-kemungkinan itu. Maka tidak hanya manusia yang ada dalam bayang-bayang Being-towards-death seperti dikatakan oleh Heidegger, bisa dibayangkan pula hidup bersama dalam menegara-pun bisa saja selalu mengarah pada (kemungkinan) kehancuran-kematiannya.
Maka menjadi penting bagaimana respon terhadap kemungkinan kehancuran itu, terlebih ketika kemungkinan itu membesar dalam situasi krisis. Pengelola negara semestinya menjadi salah satu actor penting dalam membangun respon tersebut. Tidak hanya dalam krisis sebenarnya, tetapi juga dalam menghadapi bermacam tantangan di depan. Atau katakanlah dalam terminology Toynbee, sebagai salah satu ‘minoritas kreatif’. Minoritas kreatif yang responnya terhadap tantangan akan ditiru oleh khalayak kebanyakan. Dengan ini pula bisa dibayangkan apa ‘syarat’ sehingga khalayak kebanyakan akan meniru? Salah satu faktor penting adalah ‘bisa dipercaya’ atau katakanlah mempunyai kredibilitas. Kredibilitas sebagai serapan kata asing dengan asal katanya dari credo, percaya.
‘Yang bisa dipercaya’ dalam nuansa kosmosentris, teosentris, dan antroposentris tentu akan berbeda dalam bermacam penampakannya. Dalam nuansa antroposentris yang akan terlibat dengan bermacam keterbatasannya, ‘yang bisa dipercaya’ itu juga akan bersinggungan juga dengan ‘batas’, atau katakanlah ‘terukur’. Karena itu bisa ‘diperdebatkan’. Atau jika kita bicara ‘politik riil’ dimana itu berarti adalah ‘sesuatu yang masih bisa dicapai’, kredibilitas atau ‘yang bisa dipercaya pada sebuah batas tertentu’ menjadi penting. Akan berbeda ketika kita bicara tentang ‘politik ideal’, yang mungkin saja tentang ‘masyarakat adil-makmur berdasarkan PS’ akan diulang-ulang dibicarakan. Ada leitstar -bintang penuntun, dan ada tempat dimana kita berpijak, ruang antara-nya adalah lapangan ‘politik riil’ berdenyut dalam panas-dinginnya. Itulah mengapa setelah proses pemilihan umum itu selesai, sebaiknya bermacam relawan itu dibubarkan saja. Mengapa? Karena sebenarnya mereka hanya punya satu leitstar, memenangkan pemilihan, titik. Dan bagaimana jadinya menegara di rentang penggunaan kuasa setelah pemilihan jika berjalan tanpa leitstar -katakanlah, sebagai bagian dari ‘elan vital’-nya? Bertahun-tahun terakhir kita mendapat pelajaran berharga tentang hal itu.
Ketika terlalu demen bicara tentang ‘hal-hal besar’ komplit dengan segala bahasa tubuhnya -entah itu ‘di-blondrok-é / dijerumuskan, atau memang begitu adanya, maka bisa saja tiba-tiba ‘kehilangan’ bermacam momentum dalam ‘politik riil’-nya, dan lebih parah lagi, gagal dalam membangun kredibilitas. Akibatnya? Perlahan dinamika ‘politik riil’ itu telah bergeser, atau parahnya lagi, ditabuh oleh ‘kepentingan lain’. Sibuk bicara soal ‘masyarakat adil-makmur’ tetapi lupa bahwa itu semua butuh tahap-tahapnya. Tahap-tahap yang mestinya dibangun-disambung oleh sebuah kredibilitas.
Hari-hari ini terberitakan bagaimana krisis di era SBY berhasil diatasi dan pemerintahan sekarang ingin mendapat masukan dari beberapa petinggi di era itu. Tetapi yang sering dilupakan, pagi-pagi di hari-hari pertama, SBY sudah menaruh perhatian besar tentang (potensi) ‘matahari kembar’. Lihat misalnya terkait dengan posisi Penglima TNI saat itu. Dan pengalaman itulah yang secara tidak langsung telah dibagikan SBY jauh sebelum situasi seperti sekarang ini berkembang seakan tanpa kendali lagi. Atau katakanlah, saat menghadapi krisis saat itu, bagian dalam internal pemerintahan (SBY) tidak mengalami krisis secara ‘internal’. Jadi tidak masuk dalam cerita krisis vs krisis. Bahkan sebenarnya pemerintahan SBY dulu itu semestinya berterimakasih terhadap partai di luar pemerintahan, saat itu diujung-tombaki oleh PDIP. Jelas ada di luar, sekeras apapun tetapi jelas tidak plintat-plintut ada di belakang dan selalu siap menusuk dari belakang, menjerumuskan dengan bermacam dorongan supaya masuk ‘jurang’.
Dengan adanya oposisi itu maka seakan saja selalu ada pengingat akan Being-towards-death, kemungkinan akan ‘matinya rejim’. Dengan selalu dihadapkan oleh kemungkinan ‘kematian’-nya maka dorongan untuk bersikap ’otentik’ di depan bermacam pilihan itu akan semakin kuat pula. Salah satunya adalah menjadi berani dengan stamina tinggi menggeluti hal timbang-menimbang. Mungkin akan dibingkai sebagai sik-peragu, tetapi sejarah mencatat itu lebih dari soal ragu-ragu atau tidak. Dan jika ditanya hari-hari ini, mengapa SBY santai-santai saja dibingkai sebagai sik-peragu? Mungkin jawabannya, daripada dibingkai sebagai sik-monster … *** (26-05-2026)