1985. Pancasila dan 'Patok Duga' Eksekusinya

01-06-2026

Salah satu yang ‘menjengkelkan’ pada jaman old adalah asumsi bahwa ketika Pancasila dihayati oleh semua hidung rakyat maka ‘masyarakat adil-makmur’ akan tercipta. Lupa bahwa tentang Pancasila itu pertama-tama adalah tertuju pada pengelola negara, pemerintah. Semakin jelas ketika Pembukaan UUD 1945 dibaca secara perlahan, terutama alinea terakhir. Dalam mengurus negara ada yang perlu selalu diperhatikan sebagai dasar pijak kebijaksanaannya: Pancasila. Bukan pertama-tama warga negara ‘eksekutor’-nya. Warga bisa menggunakan Pancasila pertama-tama sebagai ‘ideologi kritis’ dalam menilai apakah sebagai kebijakan dan perilaku pengurus negara sudah benar atau belum. Warga negara menghayati Pancasila bisa melalui ia taat hukum dimana hukum semetinya jika dirunut sampai ‘puncak’ ia akan sudah mendasarkan diri pada nilai-nilai yang ada dalam Pancasila. Dan tentu boleh saja warga negara mempelajari Pancasila secara mendalam, tetapi kembali seperti sudah disinggung, terutama untuk mengkritisi pemerintahnya.

Masalahnya lagi hal di atas tidaklah sekedar ‘cara pandang’ jaman old saja, tetapi ketika genderang penghayatan khalayak kebanyakan ditabuh keras-keras, ia perlahan pula menjadi lupa bahwa dia sendirilah yang sebenarnya harus melaksanakan. Cermin disebar di rumah-rumah warga, lupa memasang cermin itu di depan dirinya. Tetapi apa yang bisa dipelajari tentang hal itu? Ada satu hal yang bisa dipelajari terlebih jika dikaitkan dengan hari-hari ini dan bertahun lalu, propaganda. Keranjingan akan propaganda. Carl Schmitt pernah mengatakan bahwa "sovereign is he who decides on the exception" (1922) dan nampaknya ini sangat mempengaruhi jaman old, bagaimana nuansa exception yang terus saja ‘dijaga’, respon terhadap itu salah satunya –‘soft power’, propaganda. Penggunaan ‘hard power’ sudah jelas dan sampai sekarang akibat-akibatnyapun masih dirasakan. Dan dilanjutkan.

‘Kedaruratan’ bagi pihak-pihak tertentu kemudian menjadi semacam ‘candu’, karena akan memberikan kenikmatan luar biasa di ranah ‘sovereign’, khususnya ketika membuat keputusan. Semau-maunya. Termasuk dalam hal ini membangun ‘kekuatan pemaksa’, hard power. Apa yang sebenarnya terjadi? Penyempitan kemungkinan-kemungkinan. Tantangan kemudian menjadi tersempitkan lebih pada hal yang membuat situasi darurat itu, sedangkan kemungkinan-kemungkinan lain kemudian diabaikan. Atau banyak diabaikan. Bahkan yang memberikan kemungkinan lain itu apesnya akan dilihat sebagai dissident. Hal-hal di atas kemungkinan ‘berhasil’-nya lebih besar di era modus komunikasi man-to-mas, tetapi di era mass-to-mass via jaringan digital-internet seperti sekarang ini?

Hari-hari ini kita bisa melihat bagaimana Amerika dibuat oleh Trump menjadi sungguh telanjang seakan berperan sebagai ‘kepala polisi’ dari apa yang disebut Negri dan Hardt sebagai ‘global police state’. Tentu dengan kekuatan militer-nya, bukan NYPD atau Chicago PD-nya. Kekuatan uang dan kekuatan pengetahuan -termasuk propaganda, masih bisa dimainken secara maksimal dalam dunia space of flows (Manuel Castells), tetapi bagaimana tentang space of places-nya? Terutama dalam jaringan kekuatan kekerasan? Dalam Revolusi Informasi yang menghadirkan space of flows itu akhirnya juga melahirkan apa yang disebut Castells sebagai ‘masyarakat jaringan’. Dalam hikayat ‘dominasi’ maka kekuatan kekerasan-pun akan juga menganggap lebih penting soal ‘jaringan’ ini, terutama jaringan yang akan ‘merawat’ space of places. Jaringan bisa dilihat bahwa jejaring itu mestinya akan terbangun baik secara horizontal maupun vertical: ada sampai pada unit terkecil dalam masyarakat.

Dalam banyak halnya, Empire yang ditulis oleh Negri dan Hardt pada tahun 2000 itu tidak jauh-jauh amat dari little empire pada jaman old yang ‘tumbang’ di tahun 1998. Hanya saja itu terjadi di ‘bagian akhir’ Revolusi Industri dengan modus komunikasinya masih dominan di man-to-mass. Bertahun terakhir di republik sedang ada upaya untuk menegakkan lagi ‘little empire’ ini. Salah satu indikasi selain nuansa kontra-desentralisasi, juga melalui perubahan undang-undang terkait yang pegang senapan, tank, roket, pentungan, gas air mata, sehingga nantinya akan terbangun juga ‘jaringan’ kekuatan kekerasan yang akan ‘merawat’ space of places. Mixed constitution atau ‘rejim campuran’ akan kembali ditegakkan. Dengan terbangunnya jaringan kekuatan kekerasan sampai ke unit terkecil itu, maka siapa pemenang pemilihan-pun akan segera saja diketahui, bahkan sebelum pemilihan digelar. Demokrasi kemudian kembali hanyalah salah satu alat dalam ‘menjinakkan’ yang banyak. Dari segi propaganda, apapun yang hadir di depan publik hanyalah panggung semata. Karena yang beroperasi, sekali lagi, dalam praktek sehari-hari nantinya adalah jaringan kekuatan kekerasan itu. Bisa dibayangkan dalam pemilihan umum misalnya, akan ada ‘jaringan kekuatan kekerasan’ yang lekat membayangi pemilihan bahkan mulai dari (tingkat) tempat pemungutan suara, termasuk juga nantinya saat perhitungan. MBG dan Koperasi Desa semakin ke sini nampak semakin lekat dengan upaya tersebut. Dan jelas itu tidak hanya soal kampanye atau dukung-mendukung saja. Jadi, what is to be done …, Pancasila? *** (01-06-2026)

1986. Bukan Mou dan Pep

04-06-2026

Petr Cech sebagai kiper Chelsea FC menguasai enam bahasa asing. Ketika ditanya mengapa ia sampai-sampai ‘harus’ menguasai banyak bahasa itu, dijawab karena banyak rekan-rekannya dalam satu tim berasal dari macam-macam negara dan bahasanya. Dengan menguasai banyak bahasa ia kemudian dengan mudah memberikan ‘masukan’ pada rekan-rekannya, terutama di lini belakang. Demikian juga Mourinho, Pep Guardiola, Mikel Arteta, dan banyak pelatih lainnya menguasai beberapa bahasa. Dengan itu mereka bisa memberikan arahan atau menjelaskan strategi kepada para pemainnya melalui bahasa ‘asli’ masing-masing ketika ada keterbatasan dalam bahasa. Menjadi presiden di Amerika cukup menguasai satu bahasa saja, tetapi di Kanada paling tidak dua bahasa, Inggris dan Perancis. Apakah di Indonesia perlu menguasai lebih dari seratus bahasa yang digunakan oleh berbagai suku? Maka anugerah besar republik mempunyai Bahasa Indonesia. Tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi seakan bahasa itu juga ikut mempersatukan sebuah republik kepulauan yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau!

Tetapi berbahasa itu tidak hanya ada di ‘tahap mitis’ yang cenderung digunakan dalam modus taken for granted saja, tetapi ia juga ada di ‘tahap ontologis’ dan ‘tahap fungsionil’. Mou dan Pep menguasai banyak bahasa tidak hanya untuk membangun relasi positif dengan para pemain dalam kesehariannya, tetapi juga untuk menjelaskan apa ‘filosofi permainan’ yang ingin dibangun dalam timnya. Juga ketika menghadapi tim A atau B, strategi atau taktik apa yang sudah dipersiapkan. Bahkan ketika waktu istirahat pertandingan saat ditetapkan perubahan taktik. Sebuah ‘permainan bahasa’ yang dengan sadar diyakini pentingnya oleh pelatih-pelatih ‘besar’, di luar kemampuan dalam kepelatihan dan membangun strateginya. Belum lagi ketika mereka harus berhadapan pada para jurnalis, sebelum atau sesudah pertandingan. Kalah atau menang.

Sebagian besar bahasa memang akan dipraktekkan dalam modus taken for granted-nya, dari ngobrol sampai pada saat transaksi jual beli. Tetapi ada pelajaran penting dimana praktek bahasa semestinya tidak dalam modus taken for granted, yaitu saat Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara AS dan Indonesia ditanda-tangani 19 Februari 2025 lalu. Tentu lebih pada proses-nya dalam hal ini. Semakin ke sini semakin terkuak bagaimana sontoloyo-nya perjanjian itu, dari pihak republik. Ketika kata-kata dibongkar, pasal-ayat disambung satu sama lain, dan diuji, semakin nampak bagaimana kemampuan dalam berbahasa yang lama dibangun dalam nuansa asal mangap, asal njeplak, sok-sok-an itu. Tidak terlatih berbahasa dalam nuansa ‘tahap ontologis’, katakanlah ‘berdebat’ terkait dengan hal-hal mendasar. Akibatnya? Ketika masuk ‘tahap fungsionil’-pun kemudian masuk dalam modus bablasannya: operasionalisme, pragmatism ugal-ugalan yang kembali lagi pada ketidak-mauan, ketidak-mampuan dalam berdebat terkait hal mendasar, akhirnya: mbudeg total. Semau-maunya.

Apa cerita lanjutannya? Nggampangké, menyepélékan, semau-maunya. "You are what you eat" demikian ada sebuah ungkapan, terbiasa ‘makan’ makanan asal mangap, asal njeplak selama sepuluh tahun, akhirnya seluruh republik yang menanggung. Terjerumus, rusak-rusakan, bahkan mereka sambil dan masih saja pecingas-pecingis. Tanpa beban. Sok-sok-an mau keliling-keliling republik. Memang bebal. Bahkan asal mangap asal njeplak ketika bencana menerjang!

Beberapa hari lalu beredar ‘perbandingan’ antara PM Singapura dan presiden republik dalam menjelaskan krisis akibat perang nun jauh di sana. Dalam konteks bahasan di atas, perbedaannya adalah PM Singapura membangun bahasa berangkat dari ‘tahap ontologis’ -menjelaskan hal mendasar, dan ‘tahap fungsionil’ -soal bagaimana aksi kongkretnya dengan mau mendengar masukan dari kanan-kiri. Sedang di republik, tetap saja berkutat dalam ‘tahap mitis’, bahkan ‘magis’, maunya main ‘sihir’ saja. Seakan sudah kecanduan propaganda saja. Atau memang bisanya hanya sebatas itu?

Penggalan kata ‘pokoknya ada’ beberapa waktu lalu itu tidak hanya lucu-lucu-an saja, tetapi itu adalah ‘puncak gunung es’ yang sedang menampakkan diri. Gunung es tentang ke-amatir-an dalam mengelola negara. Amatir karena maunya ‘jalan gampang’ saja, main sihir dengan tidak mau melatih diri untuk masuk hal mendasar dan terus saja mbudeg. Dengan terus saja semakin mendekat pada krisis yang nantinya kita semua pertama-tama akan menanggungnya, maka sudah waktunya kita semakin tegas dalam bersikap. Terhadap yang ‘amatir-amatir’ itu kita bisa juga bersikap tegas, tidak hanya muak tetapi segera saja dihentikan dalam menggunakan pajak-pajak kita. Pecat! Tidak usah basa-basi lagi. Dan dengarkan ketika masyarakat bicara, termasuk juga bagian masyarakat yang mempunyai kompetensi. Dengarkan mereka, cuk … Jangan mbudeg saja … *** (04-06-2026)

1987. Saat 'Efisiensi Berkeadilan' Diuji Lagi

06-06-2026

Frase ‘efisiensi berkeadilan’ muncul dalam amandemen UUD 1945 sekitar 25 tahun lalu. Dalam bahasan pasal ekonomi itu jamak diketahui ada kubu efisiensi dan kubu berkeadilan dalam penysunan ‘naskah akademik’-nya, dan jadilah ‘kompromi’ sehingga lahirlah istilah ‘efisiensi berkeadilan’ itu. Masalahnya, bagaimana soal efisiensi itu akan bergandengan tangan dengan berkeadilan? Di Amerika sono, keduanya ‘diselesaikan’ secara politik, Republik lebih condong ke ‘efisiensi’ sedangkan Demokrat lebih ke ‘berkeadilan’ meski memang di sana-sini ada irisannya, bagaimanapun juga mereka sama-sama kapitalisnya. Kalau memakai istilah jaman old, mungkinkah ini bisa dibayangkan sebagai ‘pertumbuhan dan pemerataan’? Atau kalau kita memakai karya Adam Smith, apakah kita sedang bicara soal The Wealth of Nations dan The Theory of Moral Sentiments, meski itu secara tidak langsung?

Tetapi apa yang membuat efisiensi dan berkeadilan ini bisa saja dibicarakan secara bersamaan? Salah satunya adalah yang dihadapinya sama, ‘kematian’. Ketika menjadi tidak efisien dan tidak berkeadilan, ‘kematian’-lah yang sedang dihadapi. Dan ketika ‘kematian’ tidak diingkari maka bagaimana bersikap dalam menghadapinya kemudian menjadi penting. Membangun langkah efisien dan atau bangunan yang berkeadilan adalah merupakan pilihan. Tetapi dalam hidup bersama, apa yang akan ‘menggetarkan’ dalam pilihan-pilihan itu? Mau berkubang dalam ‘ultra-minimal state’ atau ‘ultra-maximal state’, atau diantaranya, selalu saja akan diperlukan ‘yang bisa dipercaya’, atau katakanlah kredibilitas. Dan dalam ‘dunia yang kredibel’ itulah tesis-anti tesis akan bisa berkembang menjadi ‘lebih produktif’. Lihat misalnya, bagaimana sebuah kredibilitas kadang perlu juga hadirnya advocatus diaboli atau devil’s advocate. Pelajaran dari dua-abad terakhir, terlebih se-abad terakhir, materialisme-dialektika-logika jika memakai singkatan dari Tan Malaka itu, sebenarnya selalu lekat dalam membangun pilihan-pilihan. Pertanyaannya, sejauh mana juga terbangun soal ‘kredibilitas diri’?

Mengapa kredibel? Karena dalam ‘pilihan-pilihan’, atau kemungkinan-kemungkinan itu akan melibatkan juga ‘horison’, dan terkait dengan itu pastilah akan melibatkan ‘tempat pijak’. Tentu ‘tempat pijak’ bisa saja terus berkembang seperti ketika itu ada di lembah gunung akan berbeda kemungkinan yang akan dilihat ketika tempat pijaknya di atas gunung. Maka kredibilitas lebih soal ‘sekarang’ meski tetap saja soal ‘rekam jejak’ akan terus ‘menghantui’, bahkan akan juga sangat menentukan. Mengapa kredibilitas ini penting dipermasalahkan? Selain hal-hal di atas, dalam praktek olah-kuasa ada pelajaran terlebih 12 tahun terakhir, yaitu saat kredibilitas menjadi ‘pusat gravitasi-permainan’ dari bermacam olah strategi dan taktik sementara pihak. Intinya, jangan sampai republik dipimpin oleh yang kredibel! Bahkan jika perlu mulai dari input-nya.

Salah satunya adalah soal kredibel atau tidak itu kemudian ‘digeser’ lebih pada soal ‘keluaran’ atau output. Padahal jika melihat hal-hal di atas, kredibilitas itu lebih sebagai soal proses. Dia dihadapkan pada ‘kematian’, dan dengan itu kemungkinan-kemungkinan menjadi semakin ‘jelas’, terus bagaimana ia kemudian membuat ‘pilihan-pilihan’? Ada ‘alur proses’ sehingga khalayak kebanyakan kemudian perlahan juga akan mempercayainya. Maka ketika kredibilitas lebih diletakkan pada output tidak mengherankan kemudian masa-masa emas di berpuluh tahun yang akan datang itu diulang-ulang terus. Ngibal-ngibul tentang masa depan untuk menyamarkan proses dari hari-ke-hari. Ngibal-ngibul tentang hal-hal besar untuk menyamarkan materialisme-dialektika-logika sehari-hari, yang sebenarnya sangat penting dalam pondasi kredibilitas Jika di beberapa tulisan sebelumnya disinggung soal ‘sosialisme abracadabra’ atau ‘sosialisme sim-sa-la-bim’ itu adalah salah satu contoh bagaimana ‘paradigma proses’ memang sudah sekarat dihantam tidak hanya oleh sihir ‘paradigma output’ tetapi bahkan sudah memenuhi mimpi-mimpi saat tidur. Dan seakan ketika bangun tidur, sosialisme sudah hadir dengan gilang gemilangnya. Penuh dengan keadilan.

Mau ingin membawa republik seperti China hari-hari ini? Tetapi lupa membangun kredibilitas seperti Deng Xiao Ping? Ya ngimpi. Dalam olah kuasa, Deng Xiaoping sangat paham bahwa untuk melaksanakan mimpinya ia perlu kredibilitas. Dan kredibilitas ini tentu akan ‘mengganggu’ beberapa pihak yang juga merasa kredibel di tempat pijak lain. Deng Xiaoping paham bahwa ‘matahari kembar’ akan mengganggu langkahnya, termasuk dalam membangun kredibilitas. Mengganggu kokohnya tempat pijak. Dan untuk itu pula ia mau-maunya kesusahan menggelar ‘perjalanan ke selatan’ menemui face-to-face terutama para petinggi partai dan militer. Mengapa ‘matahari kembar’ bisa jadi masalah? Karena bagaimanapun juga soal kredibilitas ini tidak akan ada jika tidak ada ‘yang mempercayainya’, yaitu rakyat kebanyakan. Ketika kemungkinan-kemungkinan dilihat, ketika pilihan-pilihan dijatuhkan, khalayak kebanyakan perlahan akan mempercayai pilihan-pilihan itu, dan bahkan akan ‘meniru’-nya. Gaya sentrifugal akan terganggu jika ada ‘dua pusat’. Dan itulah sebenarnya fungsi oposisi atau juga kritik-oto-kritik dalam internal partai -sebagai katakanlah ‘gaya sentripetal’-nya. Lebih baik datang kritik keras dari oposisi atau gaduh di dalam internal partai dari pada menusuk dari belakang di depan publik, menjerumuskan dengan berbagai rute atau caranya sehingga kredibilitas menjadi hancur. Dan ketika kredibilitas hancur? Maka ketidak-efisienan, ketidak-adilan-pun akan tetap terus saja berlangsung sampai republik ini akan hancur berkeping. Atau khalayak kebanyakan tetap miskin dan ngos-ngos-an.

Dan ketika ketidak-efisienan dan ketidak-adilan ini ada yang justru menikmati dan terus menikmati, pertanyaannya lanjutan adalah apa yang akan dilakukan oleh mereka-mereka itu untuk mempertahankan kenikmatan yang sudah di tangan? Mereka akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kenikmatan itu. Apa saja! *** (06-06-2026)

1988. Mati Rasa

08-06-2026

"Imagination is more important than knowledge” demikian pernah dikatakan Einstein hampir seratus tahun lalu. Yang dimaksud Einstein nampaknya bukan head-to-head penting mana antara imajinasi dan pengetahuan itu, tetapi lebih sebagai ‘dua sahabat’ yang sedang berpetualang. Atau sedang mendaki gunung yang sedikit demi sedikit semakin mendekat ke puncak dengan segala kesulitannya. Imajinasi akan memperluas kemungkinan-kemungkinan, pengetahuan akan mencoba menguji kemungkinan-kemungkinan itu. Sayangnya di republik, ke dua sahabat itu sudah hampir 12 tahun terakhir seakan sedang dirantai sehingga tidak bisa lagi berpetualang, apalagi naik ke puncak gunung. Menurut Toynbee dalam psikologi perjumpaan budaya, salah satunya adalah ‘yang satu akan membawa yang lain’. Ketika imajinasi dibiarkan semakin mengering dan pengetahuan terus menerus dipinggirkan, salah satunya yang perlahan mulai semakin dirasakan adalah terkait dengan mati rasa.

Padahal ketika republik dikatakan sebagai yang ‘paling bahagia’ itu lebih didasarkan pada survei bagaimana suatu komunitas ketika menghadapi kesulitan atau krisis. Dengan modal ‘rasa-merasa’ yang tinggi terhadap kanan-kiri itulah ketika krisis menghantam kelenturan hidup bersama bisa dikatakan lebih berhasil menghadapinya. Maka tidak mengherankan jika Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan di TIM hampir 50 tahun lalu mengatakan beberapa watak positif seperti berjiwa artistik dan suka tolong menolong. Jiwa artistik atau seni itu akan sangat lekat dengan imajinasi. Dan dengan imajinasi pula kita bisa membayangkan rasanya jika yang lain memakai sepatu dengan ada kerikil di dalamnya. Secara insting sebenarnya itu bisa saja sudah terjadi dengan serta-merta, misalnya ketika mengiris kedondong kadang air liur tiba-tiba saja sedikit diproduksi lebih banyak. Atau ketika berjalan-jalan tiba-tiba mendengar kerasnya suara tangis bayi.

Hal-hal di atas bisa dibayangkan lebih dekat dengan soal ‘kultural’ sedangkan ‘pe-rantai-an’ imajinasi dan pengetahuan lebih terjadi dalam ‘struktural’, dalam arti struktur-struktur kuasa. Bagaimana bisa secara ‘kultural’ soal ‘mati rasa’ ini sebenarnya tipis-tipis saja tetapi ‘mati rasa’ yang ada di struktur-struktur kuasa semakin menebal saja? Yang paling vulgar tentu keranjingannya asal mangap, asal njeplak, asal usir, dan asal-asalan lainnya. Asal ‘pokoknya ada’, misalnya. Dalam komunitas dengan power distance tinggi (Hofstede) situasi ini akan lebih mempunyai daya rusak. Tetapi juga justru karena sadar bahwa ia ada dalam komunitas dengan power distance tinggi justru malah semau-maunya. Atau dengan tanpa beban lagi, semau-maunya. Kasus ijazah palsu adalah contoh telanjang bagaimana semau-maunya itu dipertontonkan. Bahkan juga tontonan ‘mati rasa’ yang tanpa beban dipertontonkan baik oleh ‘ternak-ternak’-nya maupun juga oleh majikannya itu. Diminta untuk bersikap seperti layaknya negarawan sudah pasti tidak akan dilakukan, sudah mati rasa. Imajinasinya sudah dipenuhi oleh imajinasi diri dan keluarganya saja, tidak ada yang lain.

Bagaimana dengan Trump yang juga sering menampakkan diri sebagai sosok yang ‘mati rasa’? Ugal-ugalan dalam banyak halnya. Bagaimanapun Trump adalah penampakan dari salah satu faksi di Republik, faksi ‘radikal’-nya -survival of the fittest habis-habisan, Dan tentu di luar itu masih ada Demokrat, yang dalam kebijakannya akan lebih ‘tebal’ soal rasa-merasanya. ‘Mati-rasa’-nya lebih kecil, lebih tipis. Sebagai sebuah komunitas, ada rute ‘agere contra’ di sana, hasrat ditabrakkan dengan hasrat lain yang ‘lebih baik’. Itulah guna oposisi atau juga mekanisme kritik - oto-kritik. Titik bidiknya adalah hasrat yang sebenarnya akan beririsan besar dengan imajinasi. Dan yang namanya imajinasi itu bisa begitu liarnya, maka ia perlu dikomunikasikan dengan imajinasi-imajinasi lain, atau di cek-ricek dengan realitas yang berkembang. Pada titik inilah juga pengetahuan akan terlibat. Atau hampir dua abad sebelum Einstein, dikatakan oleh David Hume, reason is, and ought only to be the slave of the passions.

Jadi ketika merasa diri sama sekali tidak sedang ‘mati rasa’ dan untuk itu akan maju ke depan membela ini membela itu, dan mengatakan bisa merasakan penderitaan khalayak kebanyakan, terlebih dalam ranah olah kuasa, jika itu tanpa didampingi oleh pengetahuan maka bisa-bisa yang terjadi malah masuk dalam mode bablasan hasrat. Karena tidak pernah dicek-ricek oleh realitas yang berkembang. Dan apa sebagai pintu masuknya sehingga mau membuka pintu lebar-lebar terhadap ilmu pengetahuan? Pertama-tama, sadarlah itu ada di ‘ruang publik’, dan bukan di ‘ruang privat’. Jadi, kata ‘pokoknya ada’ itu bukan sekedar ‘kata lucu’, tidak, itu bukan ‘kata lucu’ di ranah publik. Tapi adalah puncak gunung es dari sebuah ke-semrawutan republik hari-hari ini. Amatiran. *** (08-06-2026)

1989. Dicari: Efisien dan Efektif

10-06-2026