1990. Ugal-ugalan Yang Sudah Banal
11-06-2026
Mungkin hari-hari ini bisa digunakan untuk melihat lebih jauh tentang keberanian, atau katakanlah ‘keutamaan keberanian’. Ugal-ugalan bisa dikatakan juga ada dalam nuansa pembicaraan tentang keberanian. Keberanian sudah dipermasalahkan paling tidak lebih dari 2000 tahun lalu. Sokrates melalui Platon telah membahas ini. Juga Aristoteles. Salah satu ‘keberanian’ dalam tanda kutip diajukan oleh Aristoteles, yaitu jenis ‘keberanian’ yang muncul karena adanya misinformasi mengenai bahaya-bahaya yang sebenarnya harus dihadapi. Dari keterlibatan ‘mis-informasi’ disini maka bisa dilihat bahwa sebenarnya soal keberanian ini memang semestinya melibatkan hal timbang menimbang. Yang ini juga ditegaskan oleh Sokrates, karena Sokrates melihat keberanian ini adalah juga salah satu dari keutamaan atau virtue. Sedangkan keutamaan itu akan selalu melibatkan pengetahuan. Maka dalam ‘ranah’ keutamaan tidak mengherankan ada yang berpendapat bahwa keutamaan prudence itu adalah ibu dari segala keutamaan.
Yang namanya keutamaan itu tidak akan ada dalam ujung ekstrem, tetapi dengan segala timbang-menimbang maka ia bisa menempatkan pada tempat yang tepat. Linda B. Rabieh dalam Plato and the Virtue of Courage (2006) di bagian awal mencoba mengangkat silang-pendapat terkait yang menabrakkan pesawat pada Menara Kembar WTC 11 September 2001, apakah ia seorang pengecut ataukah pemberani? Apakah yang menabrakkan pesawat itu mempunyai pengetahuan tentang yang benar dan salah terkait dengan segala akibatnya? Atau juga pelaku bom bunuh diri di tengah khalayak banyak, misalnya. Tidak mengherankan jika kemudian dalam dialog Sokrates itu muncul bayangan bahwa keberanian itu adalah ‘wise perseverance’. Tetapi bagaimana hari-hari ini, dan sudah bertahun terakhir seakan ‘ugal-ugalan’ itu sudah banal saja? Ugal-ugalan yang jelas jauh dari nuansa bijaksana, wise itu? Jauh dari timbang menimbang?
Jika kita memakai ‘peta kesadaran’ Freud, keberanian itu lebih terletak pada super-ego yang berprinsip pada moral, ada kehendak untuk berani. Ia ada ‘diantara’ id yang ada di bagian tidak sadar dan berprinsip pada kesenangan, dan ego, bagian sadar, lekat dengan rasio dan berprinsip pada realitas. Sayangnya ego itu hanyalah puncak gunung es yang nampak di permukaan saja, sedangkan bagian terbesarnya adalah bagian tidak sadar yang menggendong id. Artinya, keberanian sebagai keutamaan itu memang mempunyai godaan besar terjerumus dalam ‘prinsip kesenangan’, misal senang dielu-elukan, dapat nama besar, dan lainnya, dari pada lebih mengakrabi hal timbang-menimbang yang ada pada ego. Apalagi jika ia dikelilingi oleh penjilat-penjilat yang dengan enteng-enteng saja memberikan informasi yang ‘mis’, atau ABS misalnya, sehingga seperti diperingatkan oleh Aristoteles, ia tidak sadar bahaya apa yang menunggu di depan.
Judul mengambil inspirasi dari istilah Hannah Arendt dalam menggambarkan holocaust di era Nazi, banality of evil. Dan evil yang dihadapi republik hari-hari ini adalah sikap ugal-ugalan. Percobaan Milgram di sekitar decade 1960-an seakan mengkonfirmasi hal ini, tentang dimungkinkannya banality of evil itu. Detail tentang percobaan ini bisa dicari di internet, tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah keterlibatan ‘hal-hal besar’, dan kedua adalah adanya ‘pengawas’ dalam skema percobaan. Gabungan antara ‘penjilat’ dan ‘pengawas’ yang beredar di sekitar itulah yang memungkinkan hal timbang-menimbang atau bahkan ‘bisikan hati nurani’ menjadi tidak didengar lagi. Jadilah: ugal-ugalan. Tidak hanya ugal-ugalan, bahkan sudah sampai level kegilaan. Dan ketika itu sudah terjadi berulang dan berulang selama lebih dari sepuluh tahun, jangan-jangan sudah menjadi banal. Semakin nampak yang menjadi korban dari ‘holocaust’ ini adalah res-publika, dengan segala yang berumah di dalamnya. Lihat juga, bagaimana selama lebih dari sepuluh tahun ini, mbudeg seakan telah menjadi kebiasan baru. Mbudeg yang seakan jadi partner setia dari ugal-ugalan.
Tetapi apa sebenarnya tujuan dari scenario atau juga penjurumusan ini? Yang paling utama nampaknya adalah soal menumpuk kekayaan, atau kalau memakai istilah David Harvey, accumulation by dispossession. Terutama yang nampak telanjang adalah fitur state redistributions. Tetapi sebenarnya juga yang ‘kurang nampak’, privatisasi dan finansialisasi. Bahkan ‘mereka’ juga sudah siap-siap jika ugal-ugalan ini kemudian jatuh pada krisis, tetap akumulasi melalui fitur manajemen dan manipulasi krisis. Ada yang kemudian menambahkan dalam fitur-fitur accumulation by dispossession ini, fakta terjadi-meningkatnya mass incarceration. Ugal-ugalan dalam mengelola negara kemudian tidak hanya soal ke-banal-an saja, tetapi juga modus sekaligus tirai tebal terkait akumulasi yang ugal-ugalan juga. Dan apa yang akan terjadi ketika res-publika menjadi korban holocaust ini? *** (11-06-2026)
1991. Hancurnya Keadaban Publik
12-06-2026
Bagaimana mau membangun ‘keadaban publik’ jika membedakan yang publik dan yang privat saja masih tergagap-gagap. Bagi pejabat publik, mampu menghayati mana yang publik dan yang privat adalah syarat mutlak sebelum bicara tentang syarat-syarat lain yang mencukupi. Ketika seorang pejabat publik menjawab apa yang merupakan urusan publik dan dijawab dengan entengnya, pokoknya ada, jelas orang itu sama sekali tidak memenuhi syarat menjadi seorang pejabat publik. Apalagi ada di sekitar pusat kekuasaan. Jenis pejabat seperti ini, pengalaman memberikan pelajaran pada kita bahwa pejabat semacam itu hanya akan merusak hidup bersama, bahkan merusak peradaban yang semestinya selalu berkembang. Peradaban akan terkait dengan tantangan dan respon, dan dengan tidak bisa membedakan yang publik dan yang privat maka tidak hanya ‘tantangan publik’ yang menjadi kabur tetapi justru yang dihayati pertama-tama adalah ‘tantangan privat’-nya. Bagi yang sedang pegang kuasa, ‘tantangan privat’ utamanya adalah mempertahankan kuasa. Meski kita bisa membuat ‘peta masalah’ dengan lebih jelas seperti di atas, tetap saja bisa-bisa kita seakan hidup dalam kutukan, Seakan tidak ada yang bisa dilakukan. Akan berulang dan berulang bahkan bisa-bisa semakin ugal-ugalan saja: hadirnya rejim tirani.
Kira-kira sebulan lalu, saat menghadiri ‘pertemuan anak-anak muda’ di Nairobi Kenya, Emanuel Macron dalam pertemuan itu tiba-tiba naik ke panggung dan minta supaya hadirin tidak bicara sendiri. Ia minta hadirin respek terhadap anak-anak muda yang sedang tampil di panggung, saat itu ada tiga anak muda sedang berdiri di atas panggung. Apakah Macron saat itu sedang ‘kurang ajar’ sebagai tamu? Dari komentar terkait dengan unggahan peristiwa itu memang banyak yang merasa ‘nasionalisme’-nya terganggu. Bahkan menuduh Macron sedang berakting layaknya penjajah. Memang Perancis doeloe mempunyai banyak jajahan di Afrika. Tetapi bagaimana jika presiden Kenya sendiri yang sedang di atas panggung, atau bahkan Macron juga? Bisa-bisa hadirin akan tenang-khidmat, tidak riuh bicara sendiri. Takut? Mungkin. Kita bisa silang-pendapat terhadap tindakan Macron itu, tetapi ada pelajaran di situ, memang sering tidak mudah untuk bersikap terhadap yang ‘kurang-power’ dibandingkan dengan yang powerful. Apalagi dalam komunitas dengan power distance tinggi. Tetapi justru karena ‘tidak mudah’ maka sebenarnya itu bisa menjadi ‘tantangan’ tersendiri. Menurut Toynbee, peradaban itu akan lekat dengan tantangan dan respon. Maka pertanyaannya, bagaimana respon terhadap yang bahkan ‘tidak-mempunyai-power’?
Kepemimpinan republik bertahun terakhir menampakkan diri sayangnya justru sebagai yang semakin terlatih dalam ‘mengeksploitasi yang tidak-mempunyai-power’ itu. Bahkan dalam banyak halnya itu kemudian diperlakukan seakan sebagai ‘milik pribadi’ atau ‘properti pribadi’ saja. Salah satu indikasinya adalah tetap bertahannya relawan di rentang waktu ‘penggunaan kuasa’ atau setelah pemilu. Selain itu lihat bagaimana kerumunan-kerumunan itu kemudian berulang dan berulang terus saja dimainken untuk membangun ‘citra diri’. Dalam banyak halnya ini bisa dibayangkan juga bagaimana ‘kerumunan anak kurang gizi atau stunting’ dimainken. Juga ‘lemah’-nya ekonomi di pedesaan. Atau juga kelompok-kelompok miskin. Dalam kasus MBG misalnya, sebenarnya ada pelajaran terkait dengan penyelenggaraan BPJS Kesehatan. Yang tidak mampu premi-nya ditanggung pemerintah, sedangkan yang mampu menanggung diri sendiri. Mengapa MBG tidak mau dan tidak mampu seperti itu?
Persiapan pembentukan BPJS Kesehatan itu membutuhkan waktu lama, bahkan meski sebelumnya sudah ada pengalaman dalam mengelola semacam ‘asuransi kesehatan’ massal itu, seperti yang lama dilakukan oleh Askes atau melalui Jamsostek. Tidak mudah, makanya tidak boleh terus ‘malas berpikir’ untuk menemukan yang terbaik. Di ranah urusan publik, bagaimana menghadapi tantangan yang muncul dari ‘yang-tidak-mempunyai power’ itu perlu sikap prudence. Beda di ranah privat, kadang dengan ‘maksud baik’ saja sudah cukup. Apa latihan yang sebenarnya ‘mudah’ di ranah publik untuk mendorong mau menapak jalan ‘sulit’, terutama dalam keberpikiran, dalam hal timbang-menimbang, khususnya dalam hal ini untuk membangun respon tepat terhadap permasalahan yang dihadapi oleh ‘yang-tidak-punya-power’?
Dalam peristiwa-peristiwa ‘khusus’, bahasa akan menampakkan diri pada ‘situasi primordial’-nya, ia didahului oleh keberpikiran. Tidak taken for granted saja. Maka melalui bagaimana bahasa ‘dimainken’ keberpikiran bisa didorong. Tentu ini akan bertolak belakang ketika bahasa ‘dimainken’ justru lebih untuk kekuasaan. ‘Sebodoh-bodohnya’ kerumunan bagaimanapun ia terdiri dari manusia-manusia kongkret yang mempunyai kapasitas berpikir. Maka ‘langkah pertama’ ketika berdiri di podium dan akan berpidato, kapasitas berpikir orang-per-orang inilah yang semestinya ada dalam imajinasi, bukan kerumunan dengan potensi ‘kawanan’-nya. Untuk itu pidato yang akan disampaikan perlu dipersiapkan matang-matang. Jika perlu ada teks pidatonya. Mengapa? Kadang respon dari kerumunan di depannya itu justru yang akan ‘mendidik’-nya. Tepuk tangan, kadang muncul bukan dari isi utama pidato, tetapi lebih pada nuansa bombastisnya misalnya. Akhirnyab isa terjebak pada ‘spiral kebodohan’ bersama. Berkembangnya studi mirror neuron system akan lebih menjelaskan penampakan ini. Apalagi menurut Toynbee dalam hukum perjumpaan budaya, sering yang ‘rendah’ nilainya justru makin mudah menembus.
Apalagi kerumunan yang di depannya itu dihayati sebagai ‘properti pribadi’ saja. Bisa lebih ugal-ugalan. Hari-hari ini semakin membuktikan saja bahwa memang retorika itu perlahan tapi pasti akan mengusik peradaban. Retorika yang akan menggambarkan ‘tingkat berpikir’ yang nantinya akan digunakan untuk melawan ‘jalan gampang’ dalam membangun respon terhadap tantangan. ‘Jalan gampang’ yang jelas akan merusak hidup bersama, termasuk peradabannya. ‘Retorika’ asal-asal-an, asal dapat tepuk tangan misalnya, justru akan merusak peradaban. Termasuk keadaban publik di dalamnya. Mulai hancur bahkan seakan mulai dari pintu masuk ‘paling mudah’ atau ‘tak terduga’, ketika kekuasaan omong di depan publik. *** (12-06-2026)
1992. Perlu Diperhatikan
13-06-2026
Klik
https://www.youtube.com/watch?v=9rnMV2UW4gs
Klik
https://www.youtube.com/watch?v=XTBmlXvrSBE
Klik
https://www.youtube.com/shorts/c_nHheU36ng
(nasib pemimpin finalis terkorup se-dunia)
