16-06-2026
Vulgar adalah serapan bahasa asing, dan dalam KBBI berarti: kasar (tentang perilaku, perbuatan, dsb); tidak sopan. Saking geregetan kadang ingin bilang, korupsi ya korupsi tetapi ya yang sopan gitu loh … Apa yang terjadi dalam 12 tahun terakhir dan ‘memuncak’ di dua tahun terakhir ini, sungguh korupsi menampakkan diri sudah sedemikian vulgar-nya. Tidak hanya ‘tidak sopan’ tetapi sudah sangat-sangat kasar. Tentu korupsi ya tetaplah korupsi -kejahatan luar-biasa, mau ‘sopan’ atau tidak, mau ‘kasar’ atau tidak, tetapi pertanyaannya adalah terlebih bertahun terakhir mengapa: seakan sengaja menjadi vulgar? Menjadi vulgar dengan nyaris tanpa beban lagi? Bahkan seakan nantang-nantang, emang lo siapa? Sering didengar bahwa di politik itu kebetulan adalah barang langka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa tidak ada yang kebetulan dalam politik. Jadi korupsi yang sudah vulgar ini tentu bukan kebetulan saja. Jika bukan kebetulan, apa yang mau dicapai?
Jika meminjam term Jeffrey Winters terkait pembedaan oligarki, kita bisa melihat bahwa ada pergeseran ‘jenis’ setelah 1998, yaitu dari oligarki sultanistik ke oligarki penguasa kolektif (ruling oligarchy). Dari dua tahun terakhir kita bisa melihat ada upaya menggeser kembali ke oligarki sultanistik, sedangkan dari khalayak kebanyak ingin menggeser paling tidak ke oligarki sipil (civil oligarchy) dimana hukum akan mengatur dengan tegasnya. Masalahnya menurut Hobbes, kuasa itu tidak hanya dihasrati sampai ajal menjemput tetapi juga untuk mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmati. Syukur-syukur bisa untuk terus menambah kenikmatan. Oligarki penguasa kolektif yang ditengarai semakin ‘menggila’ di rejim sebelum ini, jelas ia akan melakukan apapun untuk mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmati itu. Dan dia akan menghadapi dua ‘front’, yang ingin menjadi ‘sultan’ dan khalayak kebanyakan yang ingin hukum benar-benar ditegakkan. Sebagai ‘taktik’ dalam menghadapi kedua front itulah sebenarnya ‘ugal-ugalan’ atau laku vulgar tanpa beban itu mendapat titik temunya.
Titik temu itu bisa dibayangkan sebagai akhirnya sik-(calon) sultan akan kerepotan sekali menghadap khalayak kebanyakan yang ingin tegaknya hukum. ‘Pembunuhan karakter’ -monsterisasi, yang akan berujung pada matinya rejim, jika perlu. Tetapi bisakah vulgar tanpa beban ini dapat memerankan diri sebagai pisau bermata dua, sekali dayung dua pulau? Selama lebih dari sepuluh tahun, emang lo siapa seakan menjadi salah satu ‘paradigma’ penting dalam menghadapi khalayak kebanyakan. Sebuah pergelaran ‘perang psikologis’ sampai benar-benar khalayak kebanyakan itu lumpuh. Salah satu penampakan yang berulang, ugal-ugalannya dari beberapa pemerintah daerah seakan sengaja dinampakkan dan akhirnya … ya tidak diapa-apakan! Atau menampilkan lagi ‘tokoh-tokoh’ terjerat korupsi, dibuktikan, dihukum, dan … ditampilkan lagi! Atau yang jogat-joget MBG itu, tampil lagi! Ini bukan saja maunya ‘menjerat’ untuk kemudian diperbudak, tetapi juga untuk membuat lumpuh khalayak kebanyakan, emang lo siapa? Belum lagi soal asal mangap, asal njeplak-nya.
Apa yang terjadi di republik hampir 12 tahun terakhir ini layak sebagai ‘studi perbandingan’ dari apa yang pernah ditulis Platon lebih dari 2000 tahun lalu tentang ‘Alegori Kereta’. Dengan pembedaan tripartite jiwa-nya, Platon kemudian membayangkan ada kereta yang ditarik oleh kuda putih dan kuda hitam, dengan sais di atas kereta. Kuda hitam menggambarkan nafsu atau hasrat bawah perut, seks, makan-minum, kenikmatan lain, dan terutama hasrat akan uang. Kuda hitam ini mempunyai energi yang kuat meledak-ledak, tetapi sayangnya ia cenderung semau-maunya dan tidak mudah ikut maunya sais. Dan juga maunya meluncur ke bawah, padahal kereta semestinya naik ke atas untuk semakin mendekati ‘kebaikan dewa-dewa’.
Kuda putih menggambarkan ‘kehendak’ dan terutama kehendak untuk berani, atau juga kehormatan. Kuda putih pada dasarnya maunya ‘naik ke atas’ dan lebih mudah untuk ikut atau manut sais. Sedangkan sais menggambarkan nalar atau rasio. Masih ada sayap di kanan kiri kereta, yang katakanlah ini menggambarkan sebuah elan vital, energi-semangat hidup. Bisa dibayangkan bahwa hidup akan terkait dengan hasrat, kehendak, dan nalar. Ditambah dengan adanya ‘energi hidup’-nya. Pembagian kesadaran Freud nampak tidak jauh-jauh amat dari ini, id, super-ego, ego. Dan bayangkan pula term oligarki penguasa kolektif, jangan-jangan yang jadi ‘sais’ adalah sik-kuda hitam, yang Platon sering menunjuk ‘kelas pedagang dan petani’. Oligarki sultanistik pemimpinnya sik-kuda putih yang Platon sering menunjuk ke ‘kelas serdadu’. Oligarki sipil? Nampaknya ini akan dipimpin oleh nalar (hukum), sik-‘filsuf raja’. Bagaimana dengan oligarki panglima (waring oligarchy)? Sekarang ini hanya akan ada di kerajaan iblis. Atau kalau toh mau menunjuk contoh, dekat-dekat dengan Haiti. Tentu kenyataan akan lebih rumit dan penuh komplikasi, tetapi hal-hal di atas bisa membantu untuk membuat ‘peta masalah’. Dari pendapat Hobbes di atas kita mesti ‘bersiap diri’ bahwa yang sudah menikmati proyek MBG itu tentu akan all-out mempertahankan kenikmatan yang sudah di tangan, misalnya. Apalagi ‘penguasa kolektif’ -sik-kuda hitam, yang selama hampir 12 tahun sungguh telah menggenggam kenikmatan luar biasa.
Ungkapan tidak masalah kucing itu hitam atau putih asal bisa menangkap tikus dari Deng Xiao Ping dalam konteks hal-hal di atas sebenarnya bisa dilihat bagaimana sik-kuda hitam yang mempunyai energi meledak-ledak itu ‘dilepas’. Tetapi berita terkait dengan Jack Ma pernah ‘hilang’ selama tiga bulan sedikit banyak mengatakan bahwa meski kuda hitam dilepas jangan kemudian tak tahu diri. Dan lihat bagaimana Xi Jin Ping ketika menampakkan diri di depan publik, kata-kata yang terukur dan mendekat pada yang disebut oleh Adam Smith dalam The Moral of Sentiments sebagai famous sect, atau sik-sekte agung, yang tahu batas. Dan yang lebih penting, sik-kuda putih tetap manut pada sais. Ditambah lagi adanya elan vital -sayap-sayap, untuk menjadi super-power. Koruptor dihukum mati. Apalagi koruptor vulgar-tanpa-beban-pecingas-pecingis-sok-ideologis. *** (16-06-2026)