07-07-2026
Tulisan ini didorong oleh fakta jika situasi republik terus memburuk pertama-tama yang terdampak adalah yang hidupnya pas-pas-an dan kekurangan. Masih ada waktu untuk memperbaiki situasi meski memang sudah agak terlambat. Banyak cara untuk memperbaiki, salah satu yang diusahakan di sini adalah memperbaiki ‘suasana kebatinan’ hidup bersama berdasarkan kepercayaan. Tentu salah satu hal pokok dari kepercayaan adalah kesesuaian antara kata dan tindakan. Tetapi dari beberapa hal-hal di bagian pertama, bahkan ‘kata’ itu sendiri sebenarnya sudah mampu untuk membuka pintu kepercayaan atau ketidakpercayaan. ‘Keberhasilan’ memoles ‘kata’ dengan mengerahkan buzzerRp nampaknya khasiatnya sudah sangat menurun, jadi janganlah bermimpi mengambil strategi dari pendahulu yang katakanlah hari-hari ini sedang menuai badai dari apa-apa yang kemarin-kemarin ia tebar sendiri.
Pertama-tama hasrus disadari bahwa masyarakat jaringan yang terbangun di atas cepatnya arus data dalam space of flows itu, ia tetap perlu nodes-nodes. Nodes-nodes ini tidak hanya sekedar ‘penghubung’ saja, tetapi seakan juga sebagai ‘tempat berhenti’ sehingga upaya mengolah data menjadi informasi lebih terdukung. Maka jika memakai istilah lain dari Manuel Castells, nodes-nodes ini juga akan ikut membangun ‘the self’. Seperti dikatakan oleh Castells, dalam masyarakat jaringan akan hadir pula ketegangan dari ‘the self’ dan ‘the net’. Maka input dari nodes-nodes ini menjadi sangat penting. Jangan sampai ia disesaki oleh ulah para buzzerRp, oleh hoax, atau bermacam algoritme tertentu dengan kepentingan tertentu pula. Salah satu ‘mega-input’ adalah dari si-pemegang kapital (simbolik) tertinggi. Itulah mengapa pidato-pidato seorang presiden menjadi penting di sini. Keseluruhan nuansa pidato, baik itu melalui bahasa tubuhnya atau isi pidato. Ketika pidato banyak ‘ikutan’ yang cenderung ‘bernilai rendah’, hati-hati, bisa-bisa ini yang lebih diserap oleh khalayak kebanyakan. Apalagi bahasa tubuh yang tidak perlu. Dalam derasnya arus space of flows, bahasa yang ‘efektif dan efisien’-lah yang lebih mungkin ‘hinggap-tersangkut’ dalam nodes-nodes, ketika itu keluar dari mulut si-pemegang kapital tertinggi. Termasuk di sini adalah yang mempunyai kapital tinggi karena kepakarannya. Tentu akan sedikit berbeda soal efektif-efisiennya dari yang punya kapital ‘rendah’. Toh kemungkinan masuk dalam nodes-pun juga rendah pula.
Maka tidak mengherankan ketika pidato menjadi awut-awutan dan banyak improvisasi yang ‘bernilai rendah’, perlahan pidato itu perlahan akan berubah menjadi sekedar data saja, sama sekali tidak mampu nyangkut di nodes, dan akhirnya yang namanya ‘the self’-pun tidak terbangun juga. Apalagi sejak awal ia sudah dipersepsikan sebagai yang bacaannya adalah buku-buku berat. Apa yang terjadi jika ‘the self’ menjadi sungguh mulai terbentuk dan terlibat dalam ketegangannya dengan ‘the net’? Salah satunya adalah semakin berkembang pula hal imajinasi. Imajinasi yang penting dalam mendukung berkembangnya sebuah ‘tertib tatanan’. Yang akan menjadi pula modal besar dalam penghayatan akan hukum atau peraturan sebagai bagian tak terpisahkan dari ‘tertib tatanan’.
Atau dalam konteks tulisan ini, ternyata oralitas yang salah satunya mewujud dalam bermacam pidato dari pemimpin tertinggi itu akan berkontribusi juga pada ‘sekolah rakyat tentang hukum’. Tentu kontribusi tidak hanya dari pemimpin tertinggi, tetapi juga dari banyak pihak juga. Dari pakar-pakar juga. Apalagi jika pemimpin tertinggi justru berperan minimal dalam sekolah ini, melalui ujaran yang awut-awutan itu. Contohnya, hari-hari ini selama lebih dari setahun kita perlahan tanpa sadar masuk dalam sekolah rakyat tentang hukum melalui kasus ijazah palsu. Tidak hanya belajar soal hukum, kita belajar juga soal kehormatan, misalnya. Mengapa soal sekolah rakyat tentang hukum ini menjadi penting? Karena ini akan sengat penting dalam membangun prakondisi sosial bagi sebuah keputusan politis saat Proklamasi dimana republik ditetapkan berdasarkan hukum. Sebuaah ‘tertib tatanan’ yang berdasarkan hukum. Tidak hanya itu, kita juga berharap segala hama-hama republik itu bisa juga ‘dikelola’ melalui hukum pula. Tidak seperti bertahun terakhir ini, ugal-ugalan, semau-maunya. Bahkan hukum berkali-kali dipermainkan dengan tanpa beban lagi. *** (07-07-2026)