2011. Sekolah Rakyat Tentang Hukum (2)

07-07-2026

Tulisan ini didorong oleh fakta jika situasi republik terus memburuk pertama-tama yang terdampak adalah yang hidupnya pas-pas-an dan kekurangan. Masih ada waktu untuk memperbaiki situasi meski memang sudah agak terlambat. Banyak cara untuk memperbaiki, salah satu yang diusahakan di sini adalah memperbaiki ‘suasana kebatinan’ hidup bersama berdasarkan kepercayaan. Tentu salah satu hal pokok dari kepercayaan adalah kesesuaian antara kata dan tindakan. Tetapi dari beberapa hal-hal di bagian pertama, bahkan ‘kata’ itu sendiri sebenarnya sudah mampu untuk membuka pintu kepercayaan atau ketidakpercayaan. ‘Keberhasilan’ memoles ‘kata’ dengan mengerahkan buzzerRp nampaknya khasiatnya sudah sangat menurun, jadi janganlah bermimpi mengambil strategi dari pendahulu yang katakanlah hari-hari ini sedang menuai badai dari apa-apa yang kemarin-kemarin ia tebar sendiri.

Pertama-tama hasrus disadari bahwa masyarakat jaringan yang terbangun di atas cepatnya arus data dalam space of flows itu, ia tetap perlu nodes-nodes. Nodes-nodes ini tidak hanya sekedar ‘penghubung’ saja, tetapi seakan juga sebagai ‘tempat berhenti’ sehingga upaya mengolah data menjadi informasi lebih terdukung. Maka jika memakai istilah lain dari Manuel Castells, nodes-nodes ini juga akan ikut membangun ‘the self’. Seperti dikatakan oleh Castells, dalam masyarakat jaringan akan hadir pula ketegangan dari ‘the self’ dan ‘the net’. Maka input dari nodes-nodes ini menjadi sangat penting. Jangan sampai ia disesaki oleh ulah para buzzerRp, oleh hoax, atau bermacam algoritme tertentu dengan kepentingan tertentu pula. Salah satu ‘mega-input’ adalah dari si-pemegang kapital (simbolik) tertinggi. Itulah mengapa pidato-pidato seorang presiden menjadi penting di sini. Keseluruhan nuansa pidato, baik itu melalui bahasa tubuhnya atau isi pidato. Ketika pidato banyak ‘ikutan’ yang cenderung ‘bernilai rendah’, hati-hati, bisa-bisa ini yang lebih diserap oleh khalayak kebanyakan. Apalagi bahasa tubuh yang tidak perlu. Dalam derasnya arus space of flows, bahasa yang ‘efektif dan efisien’-lah yang lebih mungkin ‘hinggap-tersangkut’ dalam nodes-nodes, ketika itu keluar dari mulut si-pemegang kapital tertinggi. Termasuk di sini adalah yang mempunyai kapital tinggi karena kepakarannya. Tentu akan sedikit berbeda soal efektif-efisiennya dari yang punya kapital ‘rendah’. Toh kemungkinan masuk dalam nodes-pun juga rendah pula.

Maka tidak mengherankan ketika pidato menjadi awut-awutan dan banyak improvisasi yang ‘bernilai rendah’, perlahan pidato itu perlahan akan berubah menjadi sekedar data saja, sama sekali tidak mampu nyangkut di nodes, dan akhirnya yang namanya ‘the self’-pun tidak terbangun juga. Apalagi sejak awal ia sudah dipersepsikan sebagai yang bacaannya adalah buku-buku berat. Apa yang terjadi jika ‘the self’ menjadi sungguh mulai terbentuk dan terlibat dalam ketegangannya dengan ‘the net’? Salah satunya adalah semakin berkembang pula hal imajinasi. Imajinasi yang penting dalam mendukung berkembangnya sebuah ‘tertib tatanan’. Yang akan menjadi pula modal besar dalam penghayatan akan hukum atau peraturan sebagai bagian tak terpisahkan dari ‘tertib tatanan’.

Atau dalam konteks tulisan ini, ternyata oralitas yang salah satunya mewujud dalam bermacam pidato dari pemimpin tertinggi itu akan berkontribusi juga pada ‘sekolah rakyat tentang hukum’. Tentu kontribusi tidak hanya dari pemimpin tertinggi, tetapi juga dari banyak pihak juga. Dari pakar-pakar juga. Apalagi jika pemimpin tertinggi justru berperan minimal dalam sekolah ini, melalui ujaran yang awut-awutan itu. Contohnya, hari-hari ini selama lebih dari setahun kita perlahan tanpa sadar masuk dalam sekolah rakyat tentang hukum melalui kasus ijazah palsu. Tidak hanya belajar soal hukum, kita belajar juga soal kehormatan, misalnya. Mengapa soal sekolah rakyat tentang hukum ini menjadi penting? Karena ini akan sengat penting dalam membangun prakondisi sosial bagi sebuah keputusan politis saat Proklamasi dimana republik ditetapkan berdasarkan hukum. Sebuaah ‘tertib tatanan’ yang berdasarkan hukum. Tidak hanya itu, kita juga berharap segala hama-hama republik itu bisa juga ‘dikelola’ melalui hukum pula. Tidak seperti bertahun terakhir ini, ugal-ugalan, semau-maunya. Bahkan hukum berkali-kali dipermainkan dengan tanpa beban lagi. *** (07-07-2026)

2012. WOAT

09-07-2026

GOAT! Greatest of all time, demikian banyak ditulis tentang Messi, bahkan sampai pertandingan melawan Mesir dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026. Menjadi GOAT tentu tidak tiba-tiba saja, Messi perlu waktu 20 tahun untuk menunjukkan ia pantas mendapat gelar tersebut. Bermula dari ‘anak ajaib’ yang mengguncang dunia sepak bola saat mulai debutnya di Barcelona. Semua konsistensinya, jumlah gol dan assist-nya, dan juga perilaku baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Di lapangan tidak hanya kepiwaian menggocek bola dan membuat gol, tetapi bagaimana ia membangun relasi dengan sesama timnya, dan bahkan kemampuan melihat peluang layaknya ia merangkap sebagai ‘pelatih’ dalam lapangan ketika ia semakin menua untuk ukuran pesepak-bola.

Selain berita tentang Messi di Piala Dunia kali ini, ada berita juga bagaimana Trump meminta FIFA untuk menunda konsekuensi akibat kartu merah dari penyerangnya Folarin Balogun sehingga dapat tampil di laga berikut. Dan FIFA ‘mengalah’ dengan menunda konsekuensi kartu merah. Balogun memang berlaga di pertandingan berikut meski akhirnya AS kalah juga. Pelajaran dari hal-hal di atas salah satunya adalah pelajaran tentang batas, batas antara yang privat dan yang publik, terlebih di ranah olah kuasa negara. Ketika yang publik -terutama dalam olah kuasa negara, terhayati sebagai hal privat, segera saja akan menampakkan pertaruhan-pertaruhan besar dalam hidup bersama. Dalam kompetisi sepakbola bahkan sebesar Piala Dunia sekalipun, ia merupakan ranah tersendiri. Bagaimana bermacam ‘kapital’ para pemain dan pelatih mempunyai ‘logika’ sendiri saat ada di lapangan. Logika, aturan, dan bahkan elan vital yang bisa saja akan melahirkan GOAT-nya sendiri. Demikian juga ranah ilmu pengetahuan, misalnya.

Bagaimana dengan ranah olah kuasa negara, apakah akan melahirkan GOAT-nya sendiri. Bisa saja. Tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana sebuah olah kuasa negara justru melahirkan WOAT, worst of all time. Karena yang sedang dipertaruhkan sungguh sangat-sangat besar. Apa yang menjadi pintu masuk dari WOAT di ranah olah kuasa negara ini? Pelajaran di sekitar 12 tahun terakhir ini memberitahukan kita bahwa itu adalah ketidak mampuan dan ketidak mauan dalam membedakan (batas antara) hal privat dan hal publik. Yang semestinya dihayati sebagai hal publik justru dihayati sebagai hal privat. Jika ini yang terjadi, apa cerita selanjutnya? Dari teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow bisa saja akan membantu, dan membayangkan apa-apa yang sedang dipertaruhkan.

Tiba-tiba saja dalam upaya memenuhi kebutuhan privat-nya seakan ia mempunyai (di tangan) segala alat-aparat yang ada dalam tubuh negara. Kebutuhan dasar menjadi sangat mudah terpenuhi, bahkan berlimpah-limpah. Bahkan juga bisa saja ‘begitu mudah’-nya. Maka tidak hanya soal pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi akhirnya menumpuk segala kebutuhan dasar itu dalam ukuran gigantisnya. Penyalahgunaan jabatan, kewenangan, korupsi, atau segala aksi culas lainnya akhirnya perlahan menjadi ‘habitus’ baru, dan sudah tanpa beban lagi. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, maka menginjak kebutuhan lain ‘di atas’-nya, rasa aman. Ketika ‘pemenuhan’ kebutuhan dasar sudah menjadi ugal-ugalannya akumulasi, meski itu dilakukan sudah dengan tanpa beban lagi, perlahan menelusup juga soal rasa aman.

Thomas Hobbes dalam Leviathan menegaskan bahwa hasrat akan kuasa itu tidak hanya dibawa sampai ajal menjemput, tetapi juga untuk mempertahankan apa-apa yang sudah diperolehnya, ini bisa juga dibaca soal rasa aman. Rasa aman di sini kemudian adalah soal rasa aman sebagai salah satu kebutuhan privat. Maka tidak mengherankan ia kemudian ingin berkuasa selama tiga periode misalnya, bahkan jika nantinya selesai di periode ketiga itu, bisa saja akan minta tambahan lagi. Ketika itu tidak kesampaian, maka tak mengherankan pula dengan segala cara yang terdekat dalam urusan privatnya diajukan supaya berkuasa, (terutama) anak-anaknya. Apapun akan dilakukan demi bangunan rasa aman ini. Tabrak sana tabrak sini, mata gelap. Mata picek, kuping budheg.

Bagaimana dengan kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang? Dalam olah kuasa negara, apa yang lebih mendebarkan selain ‘memiliki’ pengikut? Pengikut yang juga akan memberikan ‘kasih sayang’-nya dengan mengelu-elukan misalnya. Maka dengan uang yang sudah ditumpuk, rasa memiliki dan kasih sayang inipun bisa dibeli juga. Secara rutin kelompok-kelompok yang dibayar ini rutin mendatangi ke rumahnya untuk melantunkan puja dan pujinya. Tak peduli lagi akibat-akibat jangka panjang dari paradigma ‘semua ada harganya’ ini pada hidup bersama. Kehormatan-pun kemudian melenyap diganti dengan uang, uang, dan uang. Rusak-rusakan.

Bagaimana dengan kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri? *** (09-07-2026)

2013. Gangs of New York

10-07-2026

"Remember the first rule of politics. The ballots don't make the results, the counters make the results. The counters. Keep counting."

Klik:

https://www.youtube.com/watch?v=JTADF4k0E-s

2014. Meretakkan Mitos

10-07-2026

“The great enemy of truth is very often not the lie--deliberate, contrived and dishonest--but the myth--persistent, persuasive and unrealistic. Too often we hold fast to the cliches of our forebears. We subject all facts to a prefabricated set of interpretations. We enjoy the comfort of opinion without the discomfort of thought.”

John F. Kennedy, Address at Yale University, June 11 1962

Bagaimana hubungan mitos dan politik? Banyak pelajaran yang bisa dipetik warga republik terkait hal tersebut dengan menelusuri dinamika politik 15 tahun terakhir, paling tidak. Bisa saja rute pengerasan alur feodealisme disebut, tetapi apa yang dominan dalam feodalisme? ‘Perangkat lunaknya’ nampaknya adalah mitos. Tentu ini jika dilihat dari jarak tertentu setelah keluar dari lingkaran tertutup yang ada pada tahap mitis-nya Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan itu. Atau tepatnya: bablasannya, tahap magis. Van Peursen membedakan adanya tahap mitis, ontologis, dan fungsionil. Dan semuanya sebenarnya ada dalam jalan hidup kita, tidak kemudian yang satu lebih baik dibanding yang lain. Lihat misalnya, bagaimana analisis perdukunan-pun hadir dalam Piala Dunia hari-hari ini. Tidak masalah, hanya saja jangan sampai terperosok masuk tahap bablasan seperti masuk ke modus magis itu -benar-benar terkurung, atau tahap ontologis yang justru bablas ke eskapisme, atau tahap fungsionil bablas ke operasionalisme.

Ada yang kemudian demen main raja-raja-an, bahkan ada orang bayaran yang disuruh membaptis dia sebagai nabi pula. Gila. Tetapi mengapa sampai yang gila inipun muncul juga? Bukan hanya (berhenti saja pada) sekedar tipu-tipu melalui sihir komunikasi-perbingkaian yang ternyata memang sangat berkhasiat (pada rentang waktu tertentu), tetapi perlahan seakan menjadi benar adanya satu adagium, you are what you eat. Yang diuntungkan oleh perkembangan inipun oke-oke saja -tidak semua memang, akhirnya jalan mitos-pun kemudian ditapak. Yang dibayangkan akan bertahan lamaaa sekali. Dengan segala konsekuensinya, paling tidak seperti dikatakan JFK di awal tulisan. Maka sadar atau tidak, perlahan ‘mereka’-pun mulai memusuhi ‘yang berpikir’. Lembaga-lembaga ‘yang berpikir’-pun perlahan juga dibusukkan. Ini adalah salah satu cara merawat bangunan mitos, demikian dibayangkan. Tetapi di era digital-internet seperti sekarang ini, merawat mitos dalam ranah politik akan berbiaya sangat besar. Jelas buzzerRp itu perlu selalu dilempar uang. Belum lagi bagaimana membuat suatu peristiwa yang diharapkan mampu membangun bandwagon effect. Juga sebagai mitos semestinya tidak diganggu dengan hal-hal yang bisa menggerogoti ‘nama baik’ atau ‘kesaktian’-nya. Dan ini tentu berbiaya tinggi pula. Bisa dibayangkan juga berapa biaya atau ‘biaya perlindungan’ sehingga bermacam lembaga bisa dan mau bertugas sebagai ‘pengawal-pengawal mitos’.

Maka melawan mitos memang tidak pernah cepat apalagi instan. Perlu proses-proses molekuler panjang, proses-proses penggerogotan ‘kesaktian’ mitos. Di sinilah bisa dilihat peran penting kasus ijazah palsu yang membuat mriang republik lebih dari satu tahun ini. Apapun mau dilihat ‘berat-ringannya’ kasus ini, kontroversi ijazah palsu ini bagaimanapun juga sampai sekarang ia telah ‘melaksanakan tugas’ dengan sangat baik, tugas ‘menggerogori kesaktian’ sik-mitos. Dalam salah satu ‘hukum psikologi perjumpaan budaya’, Arnold J. Toynbee mengatakan bahwa ‘yang satu akan membawa yang lain’. Dan ‘yang lain’ itu bisa-bisa tak terduga juga. Memang ada pendapat bahwa dengan selalu masuk dalam pemberitaan maka power akan selalu terjaga. Tetapi bukankah ini lebih berangkat pada ‘dunia selebriti’? Coba bayangkan jika kasus kontroversi sik-selebriti itu selalu saja tentang ‘berita buruk’ dan terus menerus, bukankah lama-lama khalayak kebanyakan juga akan muak? Dan ingat, apapun itu sik-selebriti tidak memakai pajak-pajak dari warga negara yang terhormat. Atau mendapat pensiun dari negara. Jadi mau keranjingan koprol atau kayang mungkin hanya cibiran saja, bukan ‘dendam’.

Atau kalau memakai bagan tahap-tahap kebudayaan dari Van Peursen, mitos yang maunya dikemas dalam nuansa magis -bablasan dari tahap mitis, dimana digambarkan sebagai ‘lingkaran tertutup’ maka ‘gempuran’ (selama lebih dari setahun) dari bermacam sudut terkait dengan kasus ijazah palsu itu perlahan meretakkan lingkaran. Menjadi lebih dimungkinkan tahap ontologis dan fungsionil untuk berkembang. Sik-mitos perlahan disingkap lapis demi lapis dan semakin telanjang saja. Tetapi yang lebih penting adalah lanjutan dari ketersingkapan itu, yaitu ‘melemahnya’ mitos. Daya paksa dan juga daya lindung-nya semakin ke sini semakin lemah saja. Ketika ia mau keliling republik untuk menebar pesona mitos-nya, terbukti bahwa mitos yang semakin telanjang itu semakin nampak kehilangan daya magis-nya. Bahkan mulai nampak sudah menjadi bulan-bulanan saja. Menuai olok-olok. Daya lindung yang dulu banyak merasa aman-aman ketika ada di bawah payung mitos-nya, sekarang payung itu dirasa sudah sobek dan compang-camping di banyak bagiannya.

Akibatnya adalah tidak hanya yang selama ini ada di luar sihir mitos yang kemudian menjadi semakin berani, tetapi yang dulu tersihir-pun mulai merasa tidak nyaman atau merasa tidak terlindungi lagi. Akhirnya mulai muncul letupan di sana-sini, akibat benturan antara ‘pendisiplinan’ dan ‘kontra-disiplin’-nya. ‘Orang itu’ memang tidak peduli apa yang sedang dipertaruhkan republik. Dan ketika ‘tahap ontologis’ semakin tebal dan terus berkembang, semakin nampak bagaimana banyak hal mendasar dari hidup bersama ini telah dirusak oleh sik-mitos itu. ‘Orang itu’ lupa bahwa mitos serdadu di republik itu ‘ahli dalam segala hal’ misalnya, itu butuh puluhan tahun, tidak hanya sepuluh tahun saja. Masih mau main raja-raja-an? Raja-raja-an atau badut-badut-an? *** (10-07-2026)

2015. Empat Pilar Kebangsaan dan Rejim-nya

11-07-2026

Sekitar 17 tahun lalu kita mulai diperkenalkan adanya 4 pilar kebangsaan, yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Semestinya ke-empat pilar ini diterjemahkan oleh pengelola negara dalam kebijakan-kebijakannya. Sayangnya, sekitar 12 tahun terakhir ini pengelola negara atau rejim yang sedang berkuasa lebih mendasarkan diri pada empat pilar lain, yaitu kenikmatan, kenikmatan, kenikmatan, dan kenikmatan. Pergeseran ‘paradigma’ ini tentu akan mengubah banyak hal. Tidak hanya yang kasat mata tetapi juga ‘suasana kebatinan’ hidup bersama. Tetapi yang paling menampakkan diri adalah ‘gaya monarki’, yaitu ketika sik-mono dengan tanpa beban terus saja membagi-bagi kenikmatan itu. Ia sedang membangun lingkaran para pangerannya sendiri. Ia sedang membagi lapak-lapak korupsi pada para pangerannya. Bayang-bayang feodalisme itu tidak kemudian dikikis tetapi justru malah dikeraskan sebagai ‘perangkat lunak’-nya rejim. Sebagai ‘elen vital’-nya rejim.

Dan siapa tidak tergiur oleh segala kenikmatan? Terlebih kenikmatan yang lebih diperoleh melalui jalan gampang? Bahkan salah satu yang ditugasi supaya mengawasi supaya kenikmatan tidak diperoleh dengan jalan gampang atau jalan ugal-ugalan itupun dilemahkan pula. Meski ketika upaya pelemahan KPK itu sudah diperingatkan banyak tokoh bahkan secara langsung, akhirnya tipu-tipu juga yang maju. Seperti biasanya. Maka perlahan tapi pasti, korupsi yang sering dikatakan sebagai ‘kejahatan luar biasa’ itu kemudian menjadi semakin banal saja. Pelembagaan pilar rejim berarti pula pelembagaan korupsi untuk menggapai segala kenikmatan.

‘Orang itu’ tidak sadar atau bahkan tidak peduli bahwa sebenarnya ia sedang menanam bermacam bom waktu di seluruh republik. Bom yang muncul ketika para pangeran itu akan dengan segala upaya bahkan at all cost berusaha untuk mempertahankan segala kenikmatan yang sudah digenggam. Apa saja akan dilakukan. Apa saja. ‘Orang itu’ hanya memikirkan soal kuasa dan kesejahteraan diri dan keluarganya saja. Sama sekali tidak peduli dengan nasib republik. Republik hancur-pun ia tetap akan pecingas-pecingis tanpa beban. Lembaga-lembaga penyangga republik hancur-pun akan masih tetap sok-sok-an. Dan terus saja main raja-raja-an. Pecah ndahé dab …. *** (11-07-2026)