2001. Peradaban vs Semau-maunya (3)

27-06-2026

Pada tahun 2005 -lebih dari 20 tahun lalu, MIT Technology Review mengunggah artikel berjudul The Rise of Digital Thugs yang dimuat sehari sebelumnya di New York Times. Bahkan sebelum sosial media ada. Tetapi delapan tahun sebelumnya, Manuel Castells dalam The Power of Identity (1997) mengatakan bahwa di era Revolusi Informasi nanti yang namanya ‘politik skandal’ bisa akan menjadi ‘senjata ampuh’ dalam ranah politik. Tahun 1998 Jeffrey Epstein membeli sebuah pulau yang nantinya akan dikenal sebagai ‘pulau fantasi’-nya ‘elit-elit’ penyuka-predator anak-anak di bawah umur. Dan ‘politik skandal’ yang ditulis Castells setahun sebelum pulau itu dibeli Epstein seakan semakin ke sini semakin menampakkan kebenarannya. Dalam artikel The Rise of Digital Thugs di awal tulisan, disinggung tentang hacker yang memeras sebuah perusahaan melalui ancaman dunia digital, tak jauh-jauh amat dengan apa yang kita kenal sebagai ‘sandera kasus’ meski beda ancaman dan ‘cara bermainnya’. Jauh sebelumnya, mafia telah menggunakan jalan ini dengan begitu trampilnya.

Apakah accumulation by dispossession-nya David Harvey itu juga bisa dikatakan juga sebagai accumulation by premanism? Apa beda dengan akumulasi ‘tradisional’ yang merampas bisa sampai ugal-ugalan dari ‘nilai lebih’ pekerja? Atau akumulasi di pasar keuangan yang bisa saja sampai ugal-ugalan dan menimbulkan krisis keuangan berantai? Jika melihat fitur-fitur accumulation by dispossession adalah privatisasi, finansialisasi, manipulasi dan manajemen krisis, dan terkait dengan state redistributions, lalu apa beda dengan imperialisme? Ataukah jangan-jangan bangsa semakin ‘terasing’ dari negaranya? Negara kemudian menjadi lebih sebagai instrument akumulasi. Termasuk akumulasi dari bermacam ‘nilai lebih’ dari pajak-pajak yang dikumpulkan dari warga negara? Sehingga dalam fitur-fitur accumulation by dispossession itu kemudian ditambahkan satu fitur lagi, mass incarceration?

Hal-hal di atas adalah potensi ‘sisi gelap’ yang tidak terjadi ketika pasca PD II Jepang mulai membangun ‘Japan Incorporate’. Cristianto Wibisono juga membayangkan berkembangnya ‘Indonesia Incorporate’. Dan bayangkan dengan modal lebih dari 1 milyar penduduk China kemudian membangun ‘China Incorporate’ dengan memanfaatkan gelombang hausnya modal untuk diinvestasikan. Jepang dan China berhasil karena mampu membangun bangunan dasar negara sehingga kolaborasi dengan sektor privat menjadi mampu dibangun, yaitu bisa dipercaya, trust. Ketika pejabat mundur dari jabatan bahkan karena hanya slip of tongue, atau bagaimana koruptor dihukum mati, itu utamanya adalah untuk menjaga kepercayaan. Jika memakai teori tindakan Bourdiesu dimana itu akan dipengaruhi oleh capital, habitus dan ranah, pemegang capital (simbolik) tinggi yang ada dalam ranah negara itu sungguh hati-hati jangan sampai ia ‘menebar kekerasan simbolik’ sehingga ranah kolaborasi yang sedang dibangun dalam segala ‘incorporate’ di atas bisa terbangun. Dan melahirkan habitus ‘baru’. Terlebih dalam komunitas yang disebut Hofstede sebagai yang mempunyai power distance index tinggi. Pengelola negara perlahan menjadi semacam ‘axis mundi’ dalam ‘kolaborasi raksasa’ antar bermacam kekuatan dalam negeri. Dan menjadi lebih siap dalam menghadapi segala ‘creative destruction’ di depan mata, terlebih dalam pergaulan internasionalnya.

Tetapi mengapa Jepang dan China bisa berhasil membangun bermacam kolaborasi dalam negerinya? Kadang ‘situasi negatif’ bisa terhayati secara ‘positif’, yaitu Jepang yang porak poranda pasca PD II dan China di bagian akhir Mao yang ‘banyak masalah’. Bayang-bayang kematian itu bisa saja kemudian memaksa untuk membuat pilihan yang ‘otentik’, Dan ada ‘Dewi Fortuna’ juga, investasi modal global yang sedang haus-hausnya. Sama-sama menjadi mampu untuk berselancar di atas gelombang. Republik sebenarnya bisa saja menghayati sebuah ‘situasi negatif’, yaitu porak porandanya republik selama 10 tahun dipimpin oleh sik-finalis pemimpin terkorup se-dunia itu. Porak poranda dalam prakondisi politis, teknis, dan sosialnya. Tidak hanya kepercayaan yang hancur, tetapi juga kehormatan. Kehormatan melenyap bahkan sambil pecingas-pecingis, glècènan, tanpa beban. Semau-maunya.

Maka masalahnya adalah sik-penikmat ke-porak-poranda-an masa lalu itu. Jika mereka-mereka itu disebut ‘gerombolan’, mereka jelas maunya bukan ‘Indonesia Incorporated’ tetapi ‘gerombolan incorporated’. Gerombolan Incorporated yang akumulasinya tidak hanya mendasar pada accumulation by dispossession tetapi juga accumulation by premanism. Sekali lagi, semau-maunya. Siapa yang mau kehilangan kenikmatan atas laku semau-maunya itu? Jalan preman, jalan mafia, jalan gampang? Maka sejak awal strategi-taktik sudah dijalankan: mengikis kepercayaan. Melalui hal masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Semua dikerahkan untuk mengikis secara brutal hal kepercayaan. Bangun, bangun cuk … [*] *** (27-06-2026)

[*] https://www.youtube.com/watch?v=tdfJbn_NTqQ

2002. Para Pemburu Kambing Hitam

28-06-2026

Rene Girard dalam ‘teori mimetik’-nya mengatakan bahwa sebagian besar hasrat kita terhadap sesuatu itu karena meniru hasrat seseorang terhadap sesuatu itu, katakanlah yang ditirunya itu sebagai ‘model’. Jadi ketika ada obyek (O), subyek (S) akan menghasrati (O) karena ada model (M) menghasrati (O), dan ditirunya. Seperti diharapkan oleh perusahaan iklan, misalnya diharapkan akan banyak yang menghisap rokok Marlboro karena meniru Marlboro Man. Tetapi Girard membedakan antara ‘model eksternal’ dan ‘model internal’. Marlboro Man adalah ‘model eksternal’, dari segi jarak, jauh dan mungkin saja jarang bertemu. Apalagi bertemu langsung dalam keseharian. Sebaliknya ‘model internal’ akan terasa dekat baik karena jarak maupun keberulangan bertemu dalam keseharian. Dalam nuansa ‘model internal’ inilah apa yang disebut Girard sebagai ‘kambing hitam’ lebih dimungkinkan muncul. Perlahan akan muncul ‘rivalitas’ antara subyek (S) dan model (M) terkait akan hasrat yang ‘sama’ itu. Untuk supaya ‘rivalitas’ tidak kemudian menghancurkan ‘hidup bersama’ maka diperlukan hadirnya ‘kambing hitam’ yang akan -katakanlah, ‘disembelih’ bersama. Dan dengan itu tensi rivalitas-pun akan berkurang, dan pecah-retaknya hidup bersama bisa dihindari.

Berbulan-bulan republik seakan diarahkan untuk merayakan ‘penyembelihan kambing hitam’ ini. Macam-macam bentuk kambing hitam yang terus saja disodorkan pada khalayak kebanyakan. Lihat narasi-narasi tentang ‘antek asing’, inflasi pengamat, ekonom yang tidak tahu apa-apa, dan banyak lagi. Apakah itu hanya sekedar nyinyir-nyinyiran? Atau sebagai tirai asap sebuah ketidak-mampuan? Atau jangan-jangan ada sebuah ‘rivalitas’ yang diam-diam sedang memerlukan hadirnya sik-kambing hitam? Maka siapa S-nya, M-nya, dan bahkan apa O-nya?

Dalam ranah kuasa negara, O apa paling dominan? Yang pertama adalah tentu hasrat akan kuasa sebagai O-nya. Kedua, ketika kuasa itu sudah berpuluh tahun berhimpitan dengan kenikmatan, terutama kenikmatan ‘berbasis’ uang, maka uang-lah O-nya. Uang, uang, uang. Rejim sebelum ini, sik-dalang sangat paham akan itu sehingga supaya ‘boneka’-nya selalu bercokol dalam kekuasaan, dibukalah selebar-lebarnya pintu akan hasrat terhadap uang, uang, uang itu, dengan melemahkan fungsi KPK salah satunya. Bahwa itu bisa saja berujung pada ‘sandera kasus’ tidak masalah, bahkan ketika warga negara pembayar pajak yang terhormat menjadi semakin muak terhadap ‘jalan gampang’ menumpuk kekayaan itu. Maka secara ‘berkala’ disembelihlah sik-kambing hitam, satu-dua-tiga-sepuluh-dst sik-pejabat korup dijebloskan ke penjara. Secara ‘berkala’. Dan ‘hidup bersama’ kembali ke ‘normal’ lagi, termasuk korupsinya. Para ‘pangeran korup juga bayaran’ ini selain nantinya berfungsi sebagai pemuja-pemuji kuasa tertinggi, ia harus juga terlibat dalam ‘perayaan akbar’ penyembelihan kambing hitam ‘milik’ sik-kuasa tertinggi. Di jaman old yang diputar filmnya setiap bulan September itu, di rejim sebelum ini, radikal-radikul itu. Setahun lebih terakhir, narasi osang-asing itu. Dan kadang dicoba yang lain. Mengapa dicoba-coba yang lain?

Selambat-lambatnya masyarakat belajar, tetapi ia tetaplah tidak akan lepas dari nuansa sebagai ‘masyarakat pembelajar’. Apalagi dengan berkembangnya modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital-internet seperti sekarang ini. Menjadi lebih mungkin imajinasi satu sama lain mengalami cek-riceknya. Meski tentu setiap teknologi akan mempunyai ‘wajah janus’-nya, wajah ganda-nya. Apalagi di ranah yang akan melibatkan hal timbang-menimbang. Termasuk di sini ketika sik-kambing hitam disodorkan, perlahan ia akan masuk dalam ranah timbang-menimbang ‘kolektif’ ini juga. Mau diulang-ulang terus? Jaman old, modus komunikasi dominan masihlah man-to-mass melalui cetak massal, radio, dan terutama televisi, yang sebagian besar dalam rentang 32 tahun itu masihlah tunggal. Jadi ‘resep lama’ belum tentu berhasil dalam jangka waktu yang sama ketika ‘material’-nya sudah berubah. Mungkinkah ini yang membuat berbulan terakhir narasi ‘kambing hitam’-nya kadang dicoba ini dan dicoba itu? Pokoknya ada sik-kambing hitam-nya?

Atau bisa kita baca juga, maunya cawé-cawé dan faktanya memang anak dan gerombolannya masih ada di rejim sekarang, maka bagaimana jika itu kemudian menjadi ‘model internal’-nya yang seperti dikatakan Girard, perlahan akan muncul ‘rivalitas’ juga. Karena tidak juga ‘berani menghadapi rivalitas’ itu maka dihadirkanlah (macam-macam) kambing hitam itu. Di sisi lain, demen-nya rejim terdahulu dalam membuka pintu ugal-ugalannya hasrat akan uang bahkan sampai ia dibaptis sebagai finalis pemimpin terkorup se-dunia, korupsinya semakin ugal-ugalan karena ada ‘kambing hitam raksasa’ yang nantinya akan ‘disembelih’ dengan ‘perayaan besar-besaran’ pula.

Lebih dari 2000 tahun lalu, ketika bicara soal ‘persahabatan’ sejati Platon berpendapat bahwa itu akan melibatkan ‘pihak ketiga’. Pihak ketiga atau hal ketiga yang menjadi perhatian mendalam bersama diantara yang bersahabat. Dan ‘pihak ketiga’ itu adalah ‘hal-hal baik’. Maka pertanyaannya, mengapa tidak mengeksplorasi ‘hal-hal baik’ itu tanpa ‘diganggu’ oleh kecanduan akan kambing hitam? Bagaimanapun dalam sosok kambing itu salah satunya ada nuansa kuat di belakangnya: gebyah-uyah (Jw.), menyamaratakan. Di dalam dunia yang semakin ter-fragmentaris ini, kelincahan berpikir semakin diperlukan dari pada penyama-rataan itu. Lihat hasilnya di program MBG itu. Dalam studi bertahun-tahun mendatang, program itu bisa saja menjadi salah satu ‘contoh klasik’ dari modus ‘malas berpikir’ karena terbiasa dalam mode ‘penyama-rataan’ itu. Bisa menjadi contoh di fakultas-fakultas manajemen, sosial-politik atau lainnya bagaimana ‘malas berpikir’ bisa menghancurkan sebuah negara-bangsa. *** (28-06-2026)

2003. Peradaban dan Tata Kelola

29-06-2026

Peradaban disinggung dalam judul lebih untuk menekankan apa-apa yang sedang dipertaruhkan. Peradaban yang nantinya akan terlibat juga dalam ‘mengasuh’ anak-anak kita. Bahkan juga yang sudah dewasa. Studi epigenetic menunjukkan bahkan faktor lingkungan bisa mempengaruhi DNA dan itu akan diturunkan. Bagi Marx, tata kelola yang ada di ‘bangunan atas’ akan sangat dipengaruhi oleh relasi-relasi kekuatan produksi di ‘basis’. Ketika kekuatan produksi masih berkubang dalam dinamika pertanian, maka tata kelola akan lebih condong pada feodalisme. Ketidak-pastian alam dalam mendukung dunia pertanian mengakibatkan ‘bantuan’ dari yang ‘mempunyai’ mandat dari semesta menjadi lebih mudah diterima. Tetapi ketika relasi-relasi kekuatan produksi berubah maka tata kelola-pun akan berubah. Misalnya, ketika pasar berkembang, modal berkembang, dan seterusnya, feodalisme-pun perlahan digantikan tata kelola lain. Tetapi dari pelajaran masa laloe, kita bisa melihat bagaimana manusia dengan segala kapasitasnya kemudian tidak begitu saja membangun tata kelola (hidup bersama) dengan begitu saja menyerahkan pada kehendak dari ‘basis’. Kekuatan-kekuatan produksi itu kemudian seakan menjadi ‘tantangan’ dalam hidup bersama, terutama ketika ia membangun relasi-relasinya. Dan bagaimana itu di-respon kita bisa belajar juga dari masa laloe itu bisa begitu beragam dengan segala prasyarat dan konsekuensinya. Juga tentu, cerita gelapnya.

Dari masa laloe, apapun ‘basis’ akan dihayati, ada pelajaran bahwa jika hidup bersama itu dibayangkan akan menuju ‘kesejahteraan bersama’ maka diperlukan tata kelola-nya. Apapun pilihan yang diyakini bersama. Mau bendera ditancapkan di ujung kiri maupun kanan, atau tengah. Semua memerlukan tata kelola yang nantinya ia akan ‘mengatur’ atau mengantisipasi dinamika di ‘basis’ itu. Atau kalau memakai Alegori Kereta-nya Platon, bagaimana sik-kuda hitam ‘dikelola’. Sik-kuda hitam yang mempunyai energi meledak-ledak, tetapi sayangnya cenderung tidak mau ikut saja maunya sais, semau-maunya, dan bahkan maunya meluncur ke bawah saja. Padahal menurut Platon, kereta semestinya diarahkan ke atas untuk mendekati kebaikan dewa-dewa.

Jika peradaban akan sangat dipengaruhi oleh tantangan dan respon menurut Toynbee, maka dari hal-hal di atas bukan hanya alam semesta yang menjadi tantangan tetapi juga ‘manusia apa adanya’ ternyata juga telah menjadi tantangan dimana respon terhadapnya akan ikut menentukan bagaimana peradaban akan berkembang. ‘Manusia apa adanya’ komplit dengan segala hasrat-nafsunya, yang dalam beberapa hal kadang ‘disederhanakan’ menjadi kepentingan diri, self-interest. Bahkan kemudian ada yang mendeklarasikan, greed is good. Di ujung sisi lain greed dikendalikan total, sama rasa sama rata. Tetapi ternyata ini tidak hanya berhenti pada ‘kepentingan diri’ saja. Sejak manusia mulai menetap sampai sekarang, akumulasi menjadi ‘tema sentral’ tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga bertahan dalam segala kenikmatannya. Bahkan keyakinan siapa yang mempunyai akumulasi besar akan mempunyai kekuatan besar pula sebenarnya sudah semacam ‘arketipe’ saja. Di satu sisi, manusia tidak hanya soal individu saja, yang ‘tak terbagikan’, tetapi juga ternyata ‘makluk sosial’, hidup bersama dengan yang lain.

Abraham J. Heschel seorang rabbi Yahudi pernah menulis (Who is Man? 1965) bahwa teori tentang bintang tidak akan mengubah esensi tentang bintang, tetapi teori tentang manusia akan mengubah manusia secara esensial. Jadi ada ‘input’ yang harus diperhatikan. Atau katakanlah, prakondisi politis dalam hal ini. Proses atau prakondisi teknis adalah mungkin saja yang di sini disebut sebagai ‘tata kelola’. Keluaran atau outcome akan sangat mempengaruhi bagaimana prakondisi sosial berkembang, dan itu juga yang akan menghidup-hidupi prakondisi teknis dan politis. Pada bagaimana ‘tata kelola’ itulah sebenarnya kita bisa bicara tentang ‘peradaban’, dimana peradaban salah satunya akan membangun bermacam lembaga atau institusi yang nantinya tidak hanya soal ‘teori tentang manusia’ akan direalisasi, tetapi juga dalam menghadapi bermacam tantangan di depan.

Bertahun terakhir sampai hari-hari ini, di republik tersajikan ‘bahan pelajaran sangat berharga’ terkait dengan ‘tata kelola’ ini. Bagaimana rusak-rusakannya lembaga-institusi yang merupakan ‘tubuh tata kelola’ ini ternyata karena telah terjangkit penyakit kronis yang begitu dalam. Penampakan sungguh telanjang dari kondisi ini adalah: semau-maunya. Ugal-ugalan habis-habisan. Itulah yang terjadi pada rejim sebelum ini, dan sayangnya melanjut sampai hari-hari ini. Dan ketika lembaga atau institusi itu menjadi lumpuh atau bahkan semau-maunya, maka jelas yang dipertaruhkan di sini adalah juga peradaban. Peradaban yang akan mengasuh kita, dan terlebih anak-anak kita semua. Di ranah kuasa negara, apapun ‘maksud baik’-nya, ia perlu ‘tata kelola’ yang tepat. Jika rusak-rusakan atau ugal-ugalan, maka perlahan prakondisi sosial-pun akan mengalami keretakan luar biasa juga. Dengan segala konsekuensinya. Dan selalu diingat bahwa soal ‘tata kelola’ yang melibatkan bermacam lembaga atau institusi itu akan ‘terhubung’ dengan prakondisi sosial sebagian besarnya melalui: kepercayaan. Jelas bukan dengan represi atau dipaksa-paksa. Bukan juga melalui bermacam sogokan. *** (29-06-2026)

2004. Spiral Kegilaan

30-06-2026

Sekitar tahun 1970-an Uskup Brasil Dom Helder Camara mengajukan istilah spiral kekerasan. Berangkat dari ketidak-adilan yang merebak di Brasil saat itu, Camara melihat bahwa ketidak-adilan akan memicu reaksi yang menginginkan ketidak-adilan dihapus atau dikurangi. Tetapi keinginan itu justru memicuk represi atau kekerasan dari pihak penguasa atau status quo. Maka ketidak-adilan justru semakin menguat, dan mengundang reaksi yang lebih keras lagi. Selanjutnya represi-pun tambah keras lagi. Dan seterusnya. Hari-hari ini seakan kita merasakan adanya ‘spiral kegilaan’. Kegilaan dalam membangun -katakanlah, kekuatan politik. Atau sebenarnya, kegilaan dalam menumpuk dan mempertahankan segala kenikmatan. Atau kalau memakai pendapat Thomas Hobbes, tidak hanya kegilaan dalam hal hasrat akan kuasa yang akan dibawa sampai ajal menjemput, tetapi juga kegilaan dalam segala upaya untuk mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmati. Tentu akibatnya sama dengan pendapat Camara di atas, merebaknya pula ketidak-adilan.

Kegilaan seperti dimaksud di atas, di bertahun lalu salah satunya adalah bagaimana upaya memaksimalkan peran kepala desa dalam ‘struktur penyangga kekuasaan politik’ rejim terdahulu. Jejak-jejak digital pemberitaan bisa dilacak secara terbuka. Dalam hal-hal tertentu bisa dikatakan sebagai membangun ‘partai siluman’ melalui jalur birokrasi. Tidak jauh dari pendapat Alvin Toffler dalam Power-Shift (1990) terkait dengan ‘invisible party’. Hanya saja ini bukan terjadi secara ‘merangkak’ tetapi sungguh ‘dipercepat’ adanya. Maka bermacam dana desa-pun semakin dibesarkan, tentu dengan argumentasi yang sebenarnya bisa saja diterima akal sehat. Tetapi dalam praktek? Pengawasan-pertanggung-jawabannya? Maka untuk meng-efektifkan bangunan itu perlulah didampingi struktur lain yang mampu ‘mendisiplinkan’ mereka, dan juga tentu itu harus juga merupakan struktur sampai bawah juga. Itulah dimana ‘sandera kasus’ dimainken tidak hanya sampai desa-desa, tetapi juga jajaran birokrasi di atasnya. Maka tidak mengherankan karena ‘sandera kasus’ menjadi salah satu senjata andalan, KPK kemudian diperlemah. Diperlemah di sini lebih dimaksudkan sebagai yang bisa dimainken, tertutama dalam genderang ‘sandera kasus’ itu. On/off-nya sesuai dengan kepentingan saat itu.

Di balik ‘sandera kasus’ itu sebenarnya perlahan diperkenalkan pada apa yang disebut sebagai faustian bargain. Demi mendapatkan gadis idaman, Faust bahkan mau menjual jiwanya pada sik-iblis Mephistopheles. Demi segala kenikmatan yang diperoleh dari ngunthet, ngemplang, pat-gu-li-pat, kong-ka-li-kong, korupsi, maka diserahkan jiwanya pada sik-pemegang kekuasan tertinggi itu, dengan ganjarannya akan dilindungi. Tak jauh-jauh amat dari logika para mafioso sebenarnya. Maka tidak mengherankan bisa dilihat secara telanjang bagaimana pejabat-pejabat secara bergantian kadang bicara di depan publik dalam nuansa asal mangap, asal njeplak, atau perilaku nir-empati lainnya. Itu bukanlah kebetulan saja. Bagi yang ada di ‘akar rumput’ -katakanlah kepala desa, misalnya, pada saat pemilihan umum nantinya jelas akan ditagih habis-habisan. Belum lagi bicara soal yang pegang senapan, pentungan, dan gas air-mata. Yang semua hikayatnya selalu dimulai dengan ‘umpan segala kenikmatan’.

Tidak hanya itu, dalam pergaulan internasional-pun bandul diayunkan sampai ke ujung ekstremnya. Juga masih dalam konteks ‘umpan segala kenikmatan’. Apa saja diberikan asal dapat dukungan. Tidak dipikirkan dampak jangka panjangnya. Perguruan tinggi, bahkan juga lembaga-lembaga keagaman tidak lupa juga dibagikan ‘segala kenikmatan’ itu. Tentu juga para relawan, lembaga survei, buzzerRp, dan banyak lagi. Intinya, semua ada harganya. Dan dengan itu pula kekuasaan dibangun, dengan harga, lebih berdasar pada kekuatan uang dan kekuatan kekerasan yang juga sudah dibeli.

Rejim baru di hampir dua tahun terakhir ini, semakin nampak telah masuk dalam ‘spiral kegilaan’ ini. Program seperti MBG yang dalam banyak halnya nampak begitu telanjang adanya tarik-menarik dengan kepentingan rejim terdahulu itu, menampakkan juga bagaimana kegilaan itu hadir dengan tanpa beban lagi. Demikian juga ‘koperasi desa’ yang ingin menandingi jaringan kepala desa yang di rejim terdahulu itu dibangun sudah seakan sebagai ujung tombak dari ‘partai siluman’-nya. Komplit dengan ‘pengurus’ di atasnya, jajaran birokrasi di atasnya, dan tentu seperti sudah disebut di atas, ‘apparatus represif’-nya. Dan jika ditarik sampai ke atas, siapa ‘ketua harian’-nya dari ‘partai siluman’ itu?

Maka tidak mengherankan ketika ada yang ingin keliling republik itu, kegilaan-lah yang muncul. Tanpa beban lagi, dan lagi, dan lagi. Sekali lagi: sama sekali tidak tahu batas. Salah satunya tidak tahu batas antara kegilaan dan kewarasan. Semau-maunya. Sak gelem-gelem-é dhéwé. *** (30-06-2026)

2005. Mrucutologi

02-07-2026

‘Penggenggaman’ baik di era modus komunikasi masih man-to-man, kemudian man-to-mass, sampai mass-to-mass via jaringan digital-internet seperti sekarang ini, selalu saja akan ada ke-mrucut-annya. Jumlahnya saja yang berbeda, dan itu semakin banyak. Semakin mudah mrucut dari genggaman. Mrucut dari bahasa Jawa, bayangkan kita menangkap ikan lele dan seakan sudah ada dalam genggaman, eh ternyata lele-nya masih bisa meloloskan diri, mrucut dari genggaman.

Menurut Walter J. Ong, sound, suara cenderung menyatukan. Sebaliknya modus melihat lebih banyak ‘memecah belah’. Maka tidak mengherankan ketika modus komunikasi masih dominan man-to-man dengan oralitas-nya, itu lebih ‘menyatukan’. Yang mrucut dari genggaman akan menjadi lebih sedikit. Ketika mesin cetak massal ditemukan, tidak hanya print capitalism yang berkembang, tetapi perlahan pula berkembang modus komunikasi man-to-mass. Pesan tidak hanya bergema dalam satu ruangan atau lapangan kecil, tetapi bisa sampai menjangkau bahkan sampai di luar daerah. Tidak hanya bisik-bisik dengan penafsiran lain-lain, tetapi ketika bertemu di kafe-kafe yang diperbincangkan bisa-bisa berkembang menjadi cek-ricek berdasarkan bermacam bacaan sebelumnya. Terlebih ketika radio dan televisi berkembang. Maka yang mampu meloloskan diri dan mrucut dari genggaman-pun semakin banyak. Apalagi ketika modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital-internet seperti sekarang ini.

Noam Chomsky di pertengahan decade 1970-an pernah menulis bahwa semakin banyak yang satu mengetahui apa yang menjadi sentiment yang lain maka status quo bisa-bisa akan terganggu. Atau katakanlah, semakin banyak yang mampu mrucut dari genggaman sik-status quo. Dekade 1970-an bisa dikatakan adalah juga puncak dari modus komunikasi man-to-mass. Yang di decade sebelumnya telah melahirkan pula gejala hiper-konsumerisme itu.

Hiper-konsumerisme sebenarnya juga melibatkan mudahnya ‘konsumen’ untuk meloloskan diri dari genggaman ‘creative destruction’ satu dan beralih ke lainnya. Apakah ini yang juga melatar-belakangi Daniel Bell di tahun 1960-an menulis tentang The End of Ideology? Genggaman satu ‘ideologi’ tertentu seakan tidak lagi dirasakan sebagai genggaman (kuat) karena sibuk meloloskan diri dari satu genggaman ke genggaman lain dalam hal konsumsi? Bagaimana dengan sekarang di era modus komunikasi mass-to-mass, apakah ada ‘hiper konsumsi informasi’? Dan memang kemudian sudah ada yang menulis tentang The Death of Expertise (2017) itu? Padahal kekuasaan itu akan selalu ada nuansa ‘menggenggamnya’, meski dari rejim monarki-aristokrasi-demokrasi, genggaman semakin dimungkinkan untuk diperlonggar. Karena ‘genggaman kuat’ selalu saja akan menggoda, padahal jika mengingat pendapat Chomsky di atas yang dengan merebaknya modus komunikasi mass-to-mass seperti sekarang ini menjadi lebih mudah yang satu tahu apa yang menjadi sentiment yang lain, apa yang akan dilakukan untuk ‘memperkuat genggaman’? Itulah mengapa istilah post-truth muncul, emosi-lah yang kemudian diaduk-aduk’. Apakah itu berarti tidak hanya kepakaran yang ‘mati’, tetapi ideologi menjadi ‘mati dua kali’ juga?

Sebelum internet benar-benar merebak, Manuel Castells sudah ‘mengantisipasi’ dengan memperkenalkan salah satu konsepnya tentang the net dan the self. Dunia digital-internet yang telah membangun space of flows itu akhirnya membangun pula the net, atau katakanlah juga seperti yang disebut Castells, networking society, masyarakat jaringan. Tetapi karakteristik informasi yang cepat silih berganti atau hiper-konsumsi informasi itu, akhirnya perlahan soal ‘identitas’ atau the self menjadi sebuah kebutuhan tersendiri. ‘Ketegangan’ antara the net dan the self inipun sadar atau tidak akan mengiringi dinamika Revolusi Informasi seperti sekarang ini. Bacaan tentang ‘de-globalisasi’ yang berujung pada perhatian lebih pada ‘kepentingan nasional’ nampaknya akan lebih produktif jika dibaca sebagai ketegangan antara the net dan the self ini. Supaya tidak jatuh pada eksploitasi ‘the self’ secara membabi-buta, dan akhirnya justru ‘terisolasi’. Sebab ketika eksploitasi the self menjadi membabi-buta, misalnya untuk memperkuat genggaman, the net tidak hanya akan mengkoreksi, tetapi akan mempermudah juga mrucut-nya apa-apa yang mau (maunya) digenggam itu.

Bagaimana dengan ideologi dan kepakaran yang kadang memang bisa saja ikut ‘bermain’ dalam penggenggaman? Di ranah olah kuasa negara, dua hal tersebut justru semakin penting apalagi jika dilihat dalam konteks ketegangan the net dan the self di atas. Tetapi lebih pada know-how dari pada know-that. Atau kalau memakai istilah Polanyi, lebih sebagai tacit knowledge. Seorang pemimpin bisa saja dan bahkan perlu menjelaskan bagaimana pernak-pernik untuk bisa naik sepeda, tetapi ia ‘wajib’ menampakkan diri bahwa ia bisa naik sepeda juga. Maka peran penting ‘prototipe’ sebaiknya selalu diingat. Bukan sebagai tipu-tipu seperti prototipe mobil esemka itu, tetapi lebih sebagai ‘jembatan keledai’ dari segala tacit knowledge yang ada dalam ideologi atau kepakarannya. Katakanlah, sebagai bagian dari ‘bahasa tubuh’ atau sebagai segala ‘tarikan wajah’ dari ideologi dan kepakaran. Menurut Mehrabian, saat berkomunikasi tatap-muka, sebagian besar keberhasilan komunikasi adalah melalui bahasa tubuh, lalu intonasi, dan baru kemudian isi dari apa yang mau disampaikan. Jika memakai pendapat Platon terkait bahwa persahabatan sejati itu perlu ‘pihak ketiga’, prototipe bisa menjadi ‘pihak ketiga’. Dan sebaiknya ini tidak usahlah ‘diganggu’ dengan segala keranjingan untuk ‘menyembelih’ kambing hitam.

Dalam dunia apapun, terlebih dunia ‘creative destruction’, prototipe akan selalu melibatkan penelitian, uji coba panjang, dan jelas hati-hati. Tidak akan ada prototipe ‘sumbu pendek’, atau ugal-ugalan. Jika ada ya kayak ‘mobil esemka’ itu, dijadikan hanya untuk tipu-tipu saja. *** (02-07-2026)