1995. Vulgar Tanpa Beban
16-06-2026
Vulgar adalah serapan bahasa asing, dan dalam KBBI berarti: kasar (tentang perilaku, perbuatan, dsb); tidak sopan. Saking geregetan kadang ingin bilang, korupsi ya korupsi tetapi ya yang sopan gitu loh … Apa yang terjadi dalam 12 tahun terakhir dan ‘memuncak’ di dua tahun terakhir ini, sungguh korupsi menampakkan diri sudah sedemikian vulgar-nya. Tidak hanya ‘tidak sopan’ tetapi sudah sangat-sangat kasar. Tentu korupsi ya tetaplah korupsi -kejahatan luar-biasa, mau ‘sopan’ atau tidak, mau ‘kasar’ atau tidak, tetapi pertanyaannya adalah terlebih bertahun terakhir mengapa: seakan sengaja menjadi vulgar? Menjadi vulgar dengan nyaris tanpa beban lagi? Bahkan seakan nantang-nantang, emang lo siapa? Sering didengar bahwa di politik itu kebetulan adalah barang langka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa tidak ada yang kebetulan dalam politik. Jadi korupsi yang sudah vulgar ini tentu bukan kebetulan saja. Jika bukan kebetulan, apa yang mau dicapai?
Jika meminjam term Jeffrey Winters terkait pembedaan oligarki, kita bisa melihat bahwa ada pergeseran ‘jenis’ setelah 1998, yaitu dari oligarki sultanistik ke oligarki penguasa kolektif (ruling oligarchy). Dari dua tahun terakhir kita bisa melihat ada upaya menggeser kembali ke oligarki sultanistik, sedangkan dari khalayak kebanyak ingin menggeser paling tidak ke oligarki sipil (civil oligarchy) dimana hukum akan mengatur dengan tegasnya. Masalahnya menurut Hobbes, kuasa itu tidak hanya dihasrati sampai ajal menjemput tetapi juga untuk mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmati. Syukur-syukur bisa untuk terus menambah kenikmatan. Oligarki penguasa kolektif yang ditengarai semakin ‘menggila’ di rejim sebelum ini, jelas ia akan melakukan apapun untuk mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmati itu. Dan dia akan menghadapi dua ‘front’, yang ingin menjadi ‘sultan’ dan khalayak kebanyakan yang ingin hukum benar-benar ditegakkan. Sebagai ‘taktik’ dalam menghadapi kedua front itulah sebenarnya ‘ugal-ugalan’ atau laku vulgar tanpa beban itu mendapat titik temunya.
Titik temu itu bisa dibayangkan sebagai akhirnya sik-(calon) sultan akan kerepotan sekali menghadap khalayak kebanyakan yang ingin tegaknya hukum. ‘Pembunuhan karakter’ -monsterisasi, yang akan berujung pada matinya rejim, jika perlu. Tetapi bisakah vulgar tanpa beban ini dapat memerankan diri sebagai pisau bermata dua, sekali dayung dua pulau? Selama lebih dari sepuluh tahun, emang lo siapa seakan menjadi salah satu ‘paradigma’ penting dalam menghadapi khalayak kebanyakan. Sebuah pergelaran ‘perang psikologis’ sampai benar-benar khalayak kebanyakan itu lumpuh. Salah satu penampakan yang berulang, ugal-ugalannya dari beberapa pemerintah daerah seakan sengaja dinampakkan dan akhirnya … ya tidak diapa-apakan! Atau menampilkan lagi ‘tokoh-tokoh’ terjerat korupsi, dibuktikan, dihukum, dan … ditampilkan lagi! Atau yang jogat-joget MBG itu, tampil lagi! Ini bukan saja maunya ‘menjerat’ untuk kemudian diperbudak, tetapi juga untuk membuat lumpuh khalayak kebanyakan, emang lo siapa? Belum lagi soal asal mangap, asal njeplak-nya.
Apa yang terjadi di republik hampir 12 tahun terakhir ini layak sebagai ‘studi perbandingan’ dari apa yang pernah ditulis Platon lebih dari 2000 tahun lalu tentang ‘Alegori Kereta’. Dengan pembedaan tripartite jiwa-nya, Platon kemudian membayangkan ada kereta yang ditarik oleh kuda putih dan kuda hitam, dengan sais di atas kereta. Kuda hitam menggambarkan nafsu atau hasrat bawah perut, seks, makan-minum, kenikmatan lain, dan terutama hasrat akan uang. Kuda hitam ini mempunyai energi yang kuat meledak-ledak, tetapi sayangnya ia cenderung semau-maunya dan tidak mudah ikut maunya sais. Dan juga maunya meluncur ke bawah, padahal kereta semestinya naik ke atas untuk semakin mendekati ‘kebaikan dewa-dewa’.
Kuda putih menggambarkan ‘kehendak’ dan terutama kehendak untuk berani, atau juga kehormatan. Kuda putih pada dasarnya maunya ‘naik ke atas’ dan lebih mudah untuk ikut atau manut sais. Sedangkan sais menggambarkan nalar atau rasio. Masih ada sayap di kanan kiri kereta, yang katakanlah ini menggambarkan sebuah elan vital, energi-semangat hidup. Bisa dibayangkan bahwa hidup akan terkait dengan hasrat, kehendak, dan nalar. Ditambah dengan adanya ‘energi hidup’-nya. Pembagian kesadaran Freud nampak tidak jauh-jauh amat dari ini, id, super-ego, ego. Dan bayangkan pula term oligarki penguasa kolektif, jangan-jangan yang jadi ‘sais’ adalah sik-kuda hitam, yang Platon sering menunjuk ‘kelas pedagang dan petani’. Oligarki sultanistik pemimpinnya sik-kuda putih yang Platon sering menunjuk ke ‘kelas serdadu’. Oligarki sipil? Nampaknya ini akan dipimpin oleh nalar (hukum), sik-‘filsuf raja’. Bagaimana dengan oligarki panglima (waring oligarchy)? Sekarang ini hanya akan ada di kerajaan iblis. Atau kalau toh mau menunjuk contoh, dekat-dekat dengan Haiti. Tentu kenyataan akan lebih rumit dan penuh komplikasi, tetapi hal-hal di atas bisa membantu untuk membuat ‘peta masalah’. Dari pendapat Hobbes di atas kita mesti ‘bersiap diri’ bahwa yang sudah menikmati proyek MBG itu tentu akan all-out mempertahankan kenikmatan yang sudah di tangan, misalnya. Apalagi ‘penguasa kolektif’ -sik-kuda hitam, yang selama hampir 12 tahun sungguh telah menggenggam kenikmatan luar biasa.
Ungkapan tidak masalah kucing itu hitam atau putih asal bisa menangkap tikus dari Deng Xiao Ping dalam konteks hal-hal di atas sebenarnya bisa dilihat bagaimana sik-kuda hitam yang mempunyai energi meledak-ledak itu ‘dilepas’. Tetapi berita terkait dengan Jack Ma pernah ‘hilang’ selama tiga bulan sedikit banyak mengatakan bahwa meski kuda hitam dilepas jangan kemudian tak tahu diri. Dan lihat bagaimana Xi Jin Ping ketika menampakkan diri di depan publik, kata-kata yang terukur dan mendekat pada yang disebut oleh Adam Smith dalam The Moral of Sentiments sebagai famous sect, atau sik-sekte agung, yang tahu batas. Dan yang lebih penting, sik-kuda putih tetap manut pada sais. Ditambah lagi adanya elan vital -sayap-sayap, untuk menjadi super-power. Koruptor dihukum mati. Apalagi koruptor vulgar-tanpa-beban-pecingas-pecingis-sok-ideologis. *** (16-06-2026)
1996. Bahkan Menjilat-pun Vulgar
18-06-2026
Tidak hanya dalam menipu tetapi menjilat-pun semakin vulgar tanpa beban. Juga dalam bermacam pernak-pernik pidato atau ketika bicara di depan publik. Bahkan dalam korupsi atau dalam membangun ‘citra’ diri. Atau dalam debat publik yang punya power lebih itu justru sudah keranjingan mengerahkan para ‘pembela’ yang sekelas ‘ternak’ atau buzzerRp, kasar, menang-menangan sendiri tanpa dasar argumentasi yang kokoh. Komplit dengan bahasa tubuh yang vulgar pula. Bahkan upacara peringatan kemerdekaan-pun kemudian diubah menjadi sesuatu yang vulgar ketika dilanjutkan jogat-joget di tempat sama. Hal-hal di atas ‘diingatkan’ karena itu semua terjadi di ranah kuasa negara. Tidah hanya ‘habitus’ yang merangkak menjadi rusak-rusakan, tetapi ‘taste’, rasa-merasa dalam hidup bersama seakan sedang dibuat vulgar-tanpa-beban oleh sik-pengelola pajak. Apakah benar seperti pernah dikatakan Napoleon bahwa ‘when small men attempt great enterprises, they always end by reducing them to the level of their mediocrity’? Menjadi medioker tentu bukanlah dosa atau menjadi terkutuk, tetapi di ranah kuasa negara yang akan mengelola pajak-pajak kita? Yang akan menjaga-melindungi kedaulatan republik? Mengelola pajak-pajak kita untuk mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa? Dan akan berperan aktif dalam perdamaian dunia sekaligus menunjukkan pada dunia tentang apa itu bebas-aktif? Tetapi apa yang membedakan seorang menjadi medioker atau tidak di ranah kuasa negara? Pembeda ‘mutlak’ adalah apakah ia paham pembedaan yang privat dan yang publik.
Mampu membedakan yang privat dan yang publik bisa dilihat sebagai ia telah melalui proses latihan panjang tentang ‘batas’. Menjadi ‘tahu batas’ tidak hanya terkait erat dengan ‘pengendalian diri’, tetapi adalah modal dasar untuk masuk ranah ilmu pengetahuan, terutama ranah sains. Mau menulis skripsi, tesis, disertasi mesti akan ada ‘pembatasan masalah’, misalnya. Dengan ‘tahu batas’ maka tiba-tiba saja sebuah horizon akan lebih menampakkan banyak kemungkinan, dan ‘dipaksa’ untuk melibatkan hal timbang-menimbang dalam menentukan pilihan. Termasuk juga dalam pidato, bicara-berperilaku di depan publik, dan banyak lagi. Pada akhirnya juga lebih mampu menghayati hal-hal etis. Tetapi bagaimana menumbuhkan ‘tahu batas’ dalam -katakanlah, komunitas paguyuban, gemeinschaft? Dalam komunitas yang ‘suka tolong-menolong’ sehingga dalam menghadapi krisis-pun bisa lentur juga? Bahkan kemudian menjadi salah satu tolok ukur yang di-survei untuk menilik tingkat kebahagian sebuah komunitas?
Dari sekian ‘perbedaan’ antara gemeinschaft dan gesellschaft, atau patembayan, apa persamaannya? Jelas keduanya diisi oleh manusia-manusia kongkret, dengan segala sensibilitasnya. Sama-sama akan menerima impuls, dan akan membangun responnya. Sama-sama mempunyai segala inderanya. Impuls yang akan membangkitkan respon dan juga persepsi. Jadi ada input, proses, dan keluarannya. Tetapi mengapa Paulo Freire pernah menyinggung pendidikan ber-‘gaya bank’? Yang dalam bayangan Freire jenis pendidikan itu bukanlah ‘pendidikan yang membebaskan’? Mengapa ini dipersoalkan? Karena menurut Freire pendidikan ‘yang tidak membebaskan’ justru hanya akan melanggengkan situasi yang tidak adil atau eksploitatif. Dan Paulo Freire salah satunya berangkat dari bahasa, terutama ketika saat itu -sekitar tahun 1960-an, masih banyak yang buta huruf. Pernak-pernik bahasa dalam simbol huruf itu kemudian secara bersamaan dipelajari dengan tidak lepas dengan konteks realitas keseharian yang ada di sekitar.
Sebagai animal symbolicum bermacam simbol akhirnya juga merupakan bentuk impuls yang akan dirasakan manusia, termasuk dalam hal ini bahasa. Bahasa ternyata tidak hanya sekedar alat yang penggunaan dan responnya seakan taken for granted saja, tetapi ia bisa saja seperti dicontohkan Paulo Freire di atas, bisa membongkar ‘kesadaran palsu’, misalnya. Dalam pendidikan ‘gaya bank’ sebenarnya tidak hanya soal ke-pasif-an dan menyerah saja dibuat seakan sebagai celengan pengetahuan, tetapi juga ada ‘pembiasaan’ dalam relasi kuasa, yang kurang power dibiasakan diam saja ketika menghadapi yang lebih power, dalam hal ini guru. Maka perlu ‘kebiasaan’ lain, yang sama power-nya -sama sama muridnya, misalnya, dibiasakan bicara di depan dan lainnya mendengar serta memberikan apresiasinya. Jika ini terus diulang dan diulang sehingga bisa saja menjadi semacam ‘latihan’, di sinilah sebenarnya soal ‘tahu batas’ mulai juga dilatih. Bahasa sebagai simbol itu akhirnya terlibat dalam latihan ‘tahu batas’.
Dalam penelitiannya terkait tingginya tingkat bunuh diri di Haiti, Robert Levy mengajukan konsep hipokognisi (1973). Tidak ada kata-kata yang menggambarkan rasa tidak enak diri ketika menghadapi perasaan menderita dan kehilangan yang dalam, dan ujungnya adalah meningkatnya tingkat bunuh diri. Perasaan atau soal rasa merasa itu memang bisa sebagai ‘materi’ tanpa tepi. Dan bagaimana ketika sebagian darinya itu dilontarkan ke ‘dunia ketiga’-nya Popperian melalui bahasa? Maka tiba-tiba saja orang lain-pun akan punya potensi lebih untuk merasakan juga, dan mendekat untuk memperbincangkannya dalam ‘halaman yang sama’. Mungkin dengan itu selain beban menjadi berkurang, yang lainpun bisa ikut ‘menolong’ juga. Tetapi Wittgenstein juga mengingatkan, ‘whereof one cannot speak, thereof one must be silent’. Maka, untuk itulah mengapa puisi diperlukan untuk mengakrabi yang sementara belum bisa dikatakan itu. Lihat bagaimana Rendra dengan keseluruhan puisi dan bahasa tubuhnya, ‘berkontribusi’ terhadap peristiwa 1998 lalu.
Kejengkelan, kegeraman, kemarahan terhadap bermacam laku vulgar penguasa bertahun terakhir ini seakan menjadi hal yang sulit untuk ‘dideskripsikan’ dalam kata. Dan ketika ada seorang yang dilihat sebagai pengkhianat dan penjilat pecicilan berperilaku vulgar di atas panggung akademik beberapa waktu lalu, tiba-tiba massa mahasiwa itu menemukan kata yang kemudian dilempar dalam ‘dunia ketiga’ dan dengan itu siap pula dicerna, dibicarakan, ditindak-lanjuti. Seakan mendapat ‘katalis’ dalam sebuah proses-proses molekuler panjang. Kata itu dengan lantang diteriakkan: “Revolusi”! *** (18-06-2026)
1997. Ketika Kemuliaan Menghilang
19-06-2026
"All circumstances taken together, the French Revolution is the most astonishing that has hitherto happened in the world... Everything seems out of nature in this strange chaos of levity and ferocity." -Edmund Burke
“But what is liberty without wisdom and without virtue? It is the greatest of all possible evils; for it is folly, vice, and madness, without tuition or restraint. Those who know what virtuous liberty is, cannot bear to see it disgraced by incapable heads, on account of their having high-sounding words in their mouths.” -Edmund Burke
Bagi Edmund Burke (1729-1797) Revolusi Perancis salah satu pendorong kuatnya adalah hilangnya ‘perilaku mulia’ di kalangan kaum bangsawan. Ada istilah yang sudah lama ‘terdukung secara sosial’ di Perancis sono, noblesse oblige dimana yang lebih mempunyai power dibanding kebanyakan mempunyai kewajiban untuk berperilaku ‘mulia’ dibanding yang kurang power. Mungkinkah pernak-pernik yang terjadi di Revolusi Perancis (1789-1799) juga mendorong Adam Smith dalam The Theory of Moral Sentiments merasa perlu untuk secara eksplisit menambahkan istilah ‘famous sect’ atau ‘sekte agung’ dalam edisi terakhirnya (1790)? Sik-sekte agung yang berbeda dengan yang sibuk dalam pasar? Sik-sekte agung yang mempunyai keutamaan atau virtue lebih dari ‘yang banyak’ terutama dalam hal ‘tahu batas’ atau pengendalian diri? Jelas ‘sekte agung’ yang tidak levity dan ferocity jika meminjam kutipan Edmund Burke di atas? Hal-hal di atas katakanlah merupakan bagian dari dinamika ‘bangunan atas’, termasuk juga dalam hal ini peran ensiklopedia (terbit mulai tahun 1751 sampai 1772) dan munculnya kafe-kafe saat doeloe itu. Bagaimana dengan ‘basis’ setelah Revolusi Industri yang berkembang pada tahun 1760-1850? Dan ‘di tengah-tengahnya’ kemudian ada fakta munculnya ‘sosialisme utopia’ itu?
Maka bisa dibayangkan sebuah revolusi perlulah prakondisi ‘politis’, ‘teknis’, dan ‘sosial’. Yang disebut ‘sosial’ di sini lebih merupakan dinamika ‘basis’ dalam arti dinamika relasi-relasi kekuatan produksi (kekayaan). Prakondisi ‘politis’ lebih terkait dengan berkembangnya ‘kekuatan diskursif’ sehingga mempunyai kehendak dan kemampuan bertindak ‘politis’. Sedangkan ‘teknis’ adalah soal bermacam ‘perangkat’ sehingga kehendak dan kemampuan ‘politis’ itu akhirnya benar-benar menjadi sebuah tindakan politik. Tetapi mana yang paling berpengaruh? Atau tepatnya, pintu pertama yang akan terbuka? Tidak mudah menjawab ini sebab akan juga melibatkan erat dengan ‘kode-kode kultural’ misalnya, yang dengan itu akan menjadi ekosistem untuk berkembangnya ‘kekuatan diskursif’ sebagai pondasi bangunan kesadaran politis itu. Dimana ekosistem ini akan berhadapan langsung dengan ‘kekuatan deterministik’ dari dinamika ‘basis’. Tetapi lepas dari hal-hal di atas, dalam praktek lebih dari 100 tahun terakhir kita bisa membayangkan bahwa adanya ‘partai pelopor’ dan istilah ‘sekte agung’ Smithian seperti disinggung di atas sebenarnya mempunyai fungsi ‘sama’, sama-sama sebagai ‘lawan tangguh’ dari potensi ugal-ugalannya ‘basis’. Sama-sama sebagai ‘benteng terakhir’ dari ranah ‘pembagian-distribusi kekayaan’.
Maka sebagai ‘benteng terakhir’ dalam ranah ‘pembagian kekayaan’ musuh utamanya adalah: konflik kepentingan. Baik yang mengambil jalan sebagian besar pembagian kekayaan adalah urusan negara maupun yang mengambil jalan sebagian besar bahkan satu-satunya pembagian kekayaan adalah melalui mekanisme pasar. Apa yang dituntut di tahun 1998 salah satunya adalah pemberantasan KKN, dan semua itu sebenarnya adalah juga: konflik kepentingan. Masalahnya, seperti ditunjukkan oleh Thomas Piketty dalam Capital in the Twenty-First Century, kesenjangan antara kaya-miskin seakan sudah kembali ke abad 18-19 saja. Dan menurut Hobbes, kuasa itu tidak hanya dihasrati sampai ajal menjemput, tetapi adalah juga untuk mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmati. Bagi yang ‘di atas’, kesenjangan sangat mungkin itu bukanlah untuk diratapi, tetapi adalah juga kenikmatan tersendiri. Dan apa yang akan dilakukan demi mempertahankan kenikmatan itu? Trump dalam banyak kesempatan memperlihatkan dengan telanjang bagaimana yang namanya ‘konflik kepentingan’ itu telah dibenamkan dengan semena-mena. Apalagi di republik, terutama di 12 tahun terakhir ini. Intinya, kekuasaan atau yang mempunyai power lebih dengan tanpa beban lagi menjadi semau-maunya. Apakah sejarah akan berulang di bagian awal Revolusi Informasi ini? Dan perlukah Marx dibaca lagi dengan segala pelajaran di seratus tahun terakhir ini? Biar tidak jatuh pada ‘sosialisme utopia’ atau juga ‘sosialisme-malas-berpikir’, atau bahkan hanya gegayaan sok-sok-an berpihak pada yang kecil-kecil? Dan akhirnya high-sounding words in their mouths adalah juga tirai tebal dari laku semau-maunya itu. Semau-maunya, sewenang-wenang, rusak-rusakan. Sama sekali sudah tidak ada lagi apa itu ‘kemuliaan’. *** (19-06-2026)


1998. Palingan Bahasa di 'Basis'
21-06-2026
Menurut Alasdair MacIntyre dalam After Virtue (1981), ‘man is essentially a story-telling animal’. Sekitar 20 tahun kemudian, David Korten -pengarang When Corporations Rule the World (1995), mengatakan bahwa kekuatan sayap kanan-jauh yang jumlahnya sebenarnya relative kecil adalah dalam membangun story-telling, membangun ‘narasi’, membangun ‘bingkai’. Maka jika di ‘basis’ akan terjadi dinamika relasi-relasi kekuatan produksi yang akhir-ujungnya adalah ‘produksi power’ juga, story-telling juga termasuk di dalamnya. Entah itu sebagai tirai asap ataupun menjadi bagian tak terpisahkan dalam ranah olah kuasa. Karena membangun cerita atau narasi akan erat dengan penggunaan bahasa maka bahasa itu sendiri layak untuk dicermati dalam olah kuasa.
Selain sebagai tirai atau merupakan bagian tak terpisahkan dalam olah kuasa, salah satu bagian yang perlu dicermati adalah untuk ‘melumpuhkan bangunan atas’ sehingga ‘perlawanan’ terhadap ‘basis’ bisa diminimalkan. Salah satu contoh hampir 50 tahun terkait ‘narasi’ atau ‘bingkai’ atau story-telling adalah yang dibongkar oleh Syed Hussein Alatas dalam The Myth of the Lazy Native (1977). Mengapa bahasa menjadi penting dalam bangunan strategi dan taktik. Salah satu titik bidiknya adalah soal koherensi dan konsistensi. Penggunaan bahasa ditujukan justru untuk merusak ‘rasa-merasa’ soal ke dua hal tersebut. Dan ini dilakukan di sisi ke-taken for granted-an penggunaan bahasa. Contoh tentang lazy native di atas tentu bukan dalam bentuk propaganda massif melalui pamphlet-pamphlet, tetapi sangat mungkin dalam obrolan sehari-hari yang kemudian tiba-tiba saja sudah menjadi ‘mitos’. Sedangkan hari-hari ini bertahun terakhir, bukan ‘apanya’ tetapi dalam ‘struktur’ bahasa itu sendiri yang dirusak.
Terlebih struktur konsistensi dan koheransi-nya. Penggunaan bahasa yang dihilangkan sisi konsistensi terlebih terkait antara yang diomongkan dan tindakan atau realitas. Dan juga koherensinya, keterkaitan antara satu yang lain yang tidak nyambung. Intinya, bahasa yang penuh dengan ke-ngibul-an dan awut-awutan. Apa yang kita bayangkan terkait dengan konsistensi dan koheransi di ‘bangunan atas’? Konsistensi dan koherensi akan merupakan hal sentral tidak hanya dalam sains atau ilmu pengetahuan, tetapi juga di ranah ideologi. Tentu di kedua ranah itu masih tetaplah ada kritik oto-kritiknya, tetapi bagaimanapun konsistensi dan koherensi akan ada di sentralnya. Bahkan nantinya jika ada ‘pergeseran paradigma’ sekalipun. Maka tidak hanya soal de-ideologisasi yang salah satu ujungnya adalah juga de-politisasi, tetapi juga pembodohan massal.
Ada yang menarik dalam banyak pidato-pidato presiden terakhir ini, setelah gaya pidato ‘bebas’-nya mendapat banyak kritikan maka ia kemudian berpidato dengan teks. Nampaknya ya sekali itu saja, dan pidato berikutnya ya gaya ‘bebas’ lagi dengan segala awut-awutannya di sana sini. Apapun itu nampaknya ada yang melihat penting-strategis-nya pidato ‘awut-awutan’ itu, yang jauh dari konsistensi dan koherensi. Dan banyak nglucunya yang tidak lucu. Ada yang sungguh berkepentingan dan ternyata mereka (masih) ada di sekitar presiden.
Maka tidak mengherankan ‘industri alih isu’ menjadi berkembang pesat di decade terakhir ini. Ekosistem inkonsisten dan inkoheren merupakan lapangan ideal bagi bermacam cerita yang bisa saja ngawur-ngawuran demi teralihkan dari satu isu ke isu lain. Hanya partai politik yang mempunyai ekosistem ideologis yang kuat akan tidak mudah masuk dalam kubangan olah-isu seperti ini. Termasuk juga yang mempunyai ekosistem ilmu pengetahun atau sains, seperti lembaga pendidikan (tinggi) dan juga jaringan pengamat atau aktivis.
Sedikit banyak Alegori Kereta Platon dapat membantu memahami situasi di atas. Bisa dibayangkan jika memakai judul buku David Korten di awal tulisan, mungkinkah akan lahir buku dengan judul ‘when black-horses rule the republic’? Kuda-hitam yang ada dalam ‘kolektif-nya’ jenis ‘oligarki penguasa kolektif’-nya Jeffrey Winters itu. Kuda hitam yang menurut Platon dalam Alegori Kereta itu sebagai hasrat perut ke bawah, terkait dengan seks, makan-minum, kenikmatan lain, dan terutama hasrat akan uang. Yang meski mempunyai energi besar dan meledak-ledak tetapi tidak mudah untuk ikut maunya sais. Dan masih menurut Platon, kuda hitam itu cenderungnya meluncur ke bawah saja. Padahal semestinya kereta diarahkan ke atas untuk semakin mendekat pada kebaikan dewa-dewa. Maka jangan kaget jika republik menjadi rusak-rusakan. Bahkan hancur-pecah-pun ‘mereka’ tidak peduli. *** (21-06-2026)






1999. Peradaban vs Semau-maunya
23-06-2026
Kebudayaan berasal dari kata Sanskerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti ‘budi’ atau ‘akal’. Maka kebudayaan dapat berarti ‘hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal’. Ada yang mengatakan budaya dari kata budi-daya, artinya daya dari budi kekuatan dari akal budi. Sebagai konsep, kebudayaan menurut Koentjaraningrat berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Sedangkan dalam bahsa Inggris, berasal dari kata Latin colere yang berarti ‘mengolah, mengerjakan’. Sedangkan istilah peradaban dapat disejajarkan dengan civilization. Istilah ini biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, serta sopan-santun dan sistem pergaulan yang kompleks. Sering juga istilah peradaban dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks.[1]
Ada yang perlu diperhatikan dalam definisi peradaban di atas, yaitu kata kompleks. Sejak 1650-an complex berarti, "composed of interconnected parts, formed by a combination of simple things or elements."[2] Pengertia di KBBI tidak jauh berbeda. Dalam keseharian kebanyakan khalayak, kompleksitas tentu sebagian besarnya hanya akan hadir dalam peristiwa atau waktu-waktu tertentu. ‘Penyederhanaan’ kompleksitas itu menampakkan diri dalam ke-taken for granted-an keseharian, bahkan sejak bangun tidur di pagi hari. Maka tidak mengherankan jika Toynbee dalam A Study of History lebih dari 60 tahun lalu melihat bahwa peradaban itu akan melibatkan tantangan dan respon. Dan di tengahnya ada yang disebut sebagai minoritas kreatif. Tantangan yang terlalu besar seperti bencana dahsyat bisa saja melenyapkan peradaban, tetapi tantangan terlalu kecil tidak akan mengembangkan peradaban. Diantara itu ada tantangan-tantangan yang mesti di-respon, dan tentu itu adalah tantangan yang kompleks. Maka di dalam respon yang dibangun oleh sik-minoritas kreatif itu tentu ada kompleksitasnya dalam dirinya.
Mengapa hal ‘kompleks’ ini ditekankan di sini? Karena selama paling tidak 12 tahun terakhir, yang diharapkan bisa sebagai bagian dari sik-‘minoritas kreatif’ ternyata lebih demen untuk mengambil ‘jalan gampang’. Yang dimaksudkan di sini adalah sik-terpilih untuk mengurus negara. ‘Jalan gampang’ itu bisa saja ‘tersedia’ saat merebut kekuasaan -katakanlah di rentang waktu kampanye, misalnya ada keberuntungan di situ. Dewi Fortuna ‘ikut bermain’. Tetapi seperti sudah diperingatkan Machiavelli, saat ‘menggunakan kuasa’ -ketika sudah menjadi sik-terpilih, itu bisa sangat berbeda dengan saat merebut. Kata Machiavelli saat di rentang penggunaan kuasa itu perlu adanya virtu, yang dalam hal ini adalah kesiapan untuk menghadapi situasi yang terus saja berubah. Sedangkan saat merebut kuasa itu masalahnya tidaklah terlalu kompleks, satu-satunya hal adalah ya merebut kuasa itu. Bahkan masih mungkin dibantu Dewi Fortuna. Tetapi ketika di rentang penggunaan kuasa? Jelas tantangan tiba-tiba menjadi begitu kompleksnya. Dan ketika ‘mempertahankan kuasa’ menjadi satu-satunya dorongan maka bisa saja seakan kembali pada nuansa ‘merebut kuasa’ dan kemampuan menghadapi kompleksitas (tantangan)-pun akan meredup. Seakan hidup yang dijalani selalu saja dalam ‘jalan kampanye’ tanpa akhir. Salahkah itu? Tidak-lah, tetapi untuk itulah ada istilah ‘negarawan’. Dan tidak hanya soal istilah saja tetapi juga dengan segala akibatnya, salah satunya ‘bakat-bakat terbaik’ yang diperlukan dalam membangun respon terhadap tantangan yang semakin kompleks akan perlahan disingkirkan.[3]
Maka jika memakai kata krisis, selama 12 tahun terakhir ini banyak dirasakan bahwa republik telah terjerumus dalam krisis negarawan. Ketika kompleksitas tantangan dihadapi justru dengan ‘jalan gampang’. Dan semakin ke sini semakin terasa bahwa ini adalah juga masalah peradaban. ‘Jalan gampang’ yang semakin menjauh dari budi-daya itu akhirnya akan merusak peradaban saja. Karena kompleksitas hidup bersama maunya direduksi atau disederhanakan menjadi semata urusan pribadi dan keluarganya saja. Maka jika ada yang sudah jelas tidak punya bayangan negarawan itu mau keliling republik, ia sebenarnya sedang keliling untuk melanjutkan merusak peradaban saja. Jika suatu saat ia lewat di depan mata, maka saya memilih balik badan. Tidak sudi bahkan untuk melihat mukanya saja. Terlalu banyak hal (mendasar) yang sudah dirusaknya. Yang seperti ini mau dilanjutkan? Memangnya republik milik mbah-mu!? *** (23-06-2026)
[1] Diambil dan ditulis ulang dari: Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, hlm. 9-10
[2] https://www.etymonline.com/word/complex
[3] Kata Napoleon: “When small men attempt great enterprises, they always end by reducing them to the level of their mediocrity.”
