2006. Deep S

03-07-2026

Apa yang bisa dipelajari dari olah kuasa negara selama hampir 30 tahun ini terakhir ini? Jika memakai pembedaan oligarki dari Jeffrey Winters maka ada power-shift, dari ‘oligarki sultanistik’ selama jaman old ke ‘oligarki penguasa kolektif’ (ruling oligarch). Konsekuensi dari power-shift inilah yang bisa membantu apa yang bisa dipelajari 30 tahun terakhir ini. Jika meminjam term Marx maka hal mendasarnya adalah jangan sampai apa-apa yang ada di ‘bangunan atas’ itu menjadi mampu mempengaruhi ‘basis’. Jadi benar-benar ‘over-deterministik’. Maka tidak mengherankan dalam ruling oligarch ini kemudian bisa saja dikenal istilah deep state. Dan tidak hanya itu, di republik di belakang deep state itu juga ternyata ditebarlah deep stupidity. Maka dari yang serba ugal-ugalan di ‘basis’ itu akhirnya apa-apa yang ada di ‘bangunan atas’ juga ikut ugal-ugalan. Misal, ugal-ugalannya under-ground economy di ‘basis’ akhirnya melahirkan revisi UU P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, ditetapkan pertama kali tahun 2023) itu. Revisi yang lekat dengan segala mekanisme money laundering. Atau sebelumnya, lahirnya ‘uu cipta kerja’ itu.

Inti dari ruling oligarch adalah deep state itu isinya boneka-boneka saja. Boneka yang akan mengabdi pertama-tama untuk kepentingan oligarki. Konsekuensi dari per-boneka-an ini tidah hanya soal meleset-nya pengabdian, tetapi bisa dirasakan bertahun-tahun terakhir ini, kuasa seakan hadir ‘tanpa wajah’ lagi. Menurut Levinas, pertemuan face-to-face akan menghadirkan sebuah relasi, sebuah ‘tanggung jawab’ terhadap yang lain. Yang lain itu seakan sedang mengatakan ‘jangan bunuh saya’. Bayangkan ketika face, ‘wajah’ tidak hadir -namanya saja boneka, maka bisa-bisa menjadi tidak terlatih dalam hal etika lagi. Dengan tanpa beban lagi menjadi semau-maunya. Kalau banyak stok di gudang materi tipu-tipu, maka dengan tanpa beban lagi semua maunya ditipu. Kalau stok di gudang uang menggunung, maka tanpa beban lagi maunya semua dibeli. Tidak punya etika lagi, tidak punya kehormatan lagi, semau-maunya. Lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan-pun jika bisa ya dibeli. Maka ‘yang-tidak-punya-wajah’ ini adalah sosok ideal bagi ruling oligarch, apalagi nuansa stupidity-nya kuat. Sudah ego-nya lemah, nalar atau rasionya lemah, super-egonya -berprinsip pada moralitas, entah melenyap kemana, maka tinggal dipermainkan saja hasratnya (id), jadilah ia boneka nan setia. Bisa kejam pula. Dan yang seperti ini maunya akan keliling-keliling republik. Sampah republik itu sedang menebar bau busuknya sampai pelosok-pelosok republik. Maunya. Dengan tanpa beban. Tak peduli lagi keadaan republik yang sedang sulit. *** (03-07-2026)