2016. How Low Can Republic Go
12-07-2026
Ungkapan dalam judul sedikit banyak ingin menggambarkan republik yang memang ‘mewaktu’. Tidak hanya ‘waktu obyektif’ ataupun ‘waktu subyektif’-nya, tetapi juga dalam waktu paling primordialnya, consciousness of internal time. Bayangkan nada 1-2-3, dan jika sekarang kita mendengar nada-2 maka nada-1 seakan mengalami retensi, dan nada-3 meski belum hadir seakan sudah diantisipasi kedatangannya. Dan itulah ‘langgam-waktu’ keseharian yang banyak kita tapak. Hiruk-pikuk kasus ijazah palsu yang sudah berlangsung lebih satu tahun ini seakan mengusik ‘langgam-waktu’ langsung pada jantung nada-1-nya. Bagai dalam satu ruangan dimana hadirin sibuk bicara sendiri satu sama lain, palu di atas meja kemudian diketuk keras sehingga tiba-tiba semua jadi diam dan menoleh pada si pemukul palu. Itulah sedikit gambaran tentang keriuhan kasus ijazah palsu sehingga menjadi banyak yang kemudian menoleh penasaran. Terimakasih dan salam hormat pada siapa saja yang terlibat dalam mengetuk palu, atas keberanian dan stamina tingginya.
Mengapa soal berani dan terlebih lagi soal stamina perlu ditekankan? Karena tidak hanya soal singgungan dengan kuasa, tetapi juga karena ini terjadi dalam sebuah komunitas dengan power distance tinggi (Hofstede). Komunitas dengan power distance tinggi akan melihat kuasa di atas sebagai oke-oke saja, bahkan dilihat sebagai ‘yang putih’. Maka tidak mudah untuk ‘menggerogoti’ power yang di tangan. Tidak mudah, perlu ‘digempur’ terus menerus sehingga prakondisi sosial bisa bergeser sehingga menjadi mampu dan mau melihat bahwa ternyata kuasa di atas itu tidaklah sepenuhnya ‘putih-putih’ saja. Atau bayangkan peran SMID dan PRD di penghujung jaman old sekitar 30 tahun lalu dalam menggerogoti power yang begitu kuat. Perlu berapa tahun sehingga power bisa terhayati sebagai yang retak? Sebagai ‘prakondisi sosial’? Tentu memang masih banyak faktor sehingga peristiwa 1998 itu akhirnya kejadian.
Mengapa ‘langgam-waktu’ bisa diinterupsi? Ada banyak hal, tetapi yang terkuat adalah faktor ketika ‘kematian’ ada di depan mata. ‘Kematian’ baik yang dihadapi oleh sik-pemegang ijazah maupun yang mempersoalkan. Karena ketika ‘kematian’ hadir di depan, ada kesempatan lebih untuk berhenti sejenak dari irama ‘langgam-waktu’ yang seakan sudah taken for granted itu. Tidak hanya yang terlibat langsung, tetapi juga bagi the society of spectacle yang duduk di bangku ‘penonton’. Lakon itu bisa saja membuat banyak dari ‘penonton’ untuk berhenti sejenak. Dan ketika ‘langgam-waktu’ seakan berhenti sejenak, perlahan ‘proses penyingkapan’-pun mulai bekerja. Carut-marut republik hari-hari ini kemudian dilihat secara ‘berjarak’ dan ingatan ketika sik-pemegang ijazah dibaptis sebagai salah satu finalis pemimpin terkorup seduniapun kemudian dipanggil untuk masuk ‘arena’. Tiba-tiba saja banyak hal menjadi ‘masuk akal’ dan ternyata nada-1 yang selama ini terdengar semakin menampakkan diri adalah nada-nada korup yang ditabuh oleh sik-pemegang ijazah itu. Korup, korup, korup. Everything is all about corruption. Termasuk juga bagaimana soal strategi dan taktik dalam ‘pengamanannya’. Mengamankan segala kenikmatan yang diperoleh dari hasi-hasil korupsi. Dan jangan kaget jika yang brutal dan yang kejam masuk dalam pilihan-pilihan strategi dan taktiknya. Sejarah telah memberikan pelajaran pada kita. *** (12-07-2026)
2017. Sosialisme Tidak Boleh Diganggu?
14-07-2026
Judul berangkat dari pendapat dosen ex-Jerman Timur saat ngobrol bareng Ignas Kleden, dan kemudian ditulisnya dalam Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe, dimuat di Kompas, 6 Juli 1996. Sosialisme akan baik jika tidak diganggu, sedangkan kapitalisme baik jika diganggu, demikian kurang lebihnya pendapat dosen ex-Jerman Timur itu. Apakah ini soal ‘hak milik’? Ataukah konsekuensi dari diakuinya ‘hak milik’, yang bisa saja kemudian dihayati sebagai ‘akumulasi’? Sehingga di pihak sosialisme atau lebih tepatnya komunisme kemudian dikenal istilah ‘sama rata sama rasa’ itu? Dua abad sebelum ini, terutama abad 20 kita bisa mempelajari bermacam ‘varian’ dari solusi masalah di atas. Mulai dari menghilangkan bermacam ‘gangguan’ melalui ‘tangan besi’ sampai pada paradigma ‘ultra-minimal state’. Atau, adakah ‘jalan tengah’?
Duapuluh-tujuh tahun setelah Revolusi Bolshevik, 14 tahun sesudah Bung Karno membacakan pembelaan di pengadilan penjajah di Bandung, Karl Polanyi menerbitkan buku The Great Transformation (1944). Beberapa konsep kunci ada dalam buku tersebut, antara lain tentang double movement atau gerakan ganda dan embedded, disembedded. Sekitar 60 tahun sebelum buku itu terbit, di AS sono ditetapkan Pendleton Civil Service Act pada tahun 1883. Undang-undang itu ditujukan untuk mengakhiri spoils system (sistem patronase) yang diperkenalkan Presiden AS ke-7 Andrew Jackson pada tahun 1829. Intinya, begitu selesai pemilihan umum maka pemenang pemilihan ‘mengambil semuanya’: to the victor belong the spoils. Tak jauh dari logika ‘rampasan perang’. Mengapa spoils system ini disepakati untuk dihentikan 50 tahun kemudian? Karena selama sistem itu dijalankan justru inkompetensi merebak. Tak peduli kompeten atau tidak, asal masih dalam gerbong sik-pemenang maka masuklah itu barang dalam birokrasi, misalnya. Juga ternyata korupsi meledak di sana sini. Inefisiensi juga merebak dimana-mana. Intinya, banyak hal kemudian menjadi semau-maunya.
Paling tidak dari beberapa hal di atas, kompetensi, efisiensi, dan korupsi (aparatus negara) kita bisa membayangkan syarat dimungkinkannya adanya gerakan ganda yang dipikirkan oleh Polanyi seperti di awal tulisan. Yang dimaksud dengan gerakan ganda di sini adalah ada satu gerakan yang katakanlah lebih berpihak pada akumulasi dimana pasar mengklaim dirinya sebagai self-regulating market itu ternyata juga perlahan menuju pada nuansa dis-embedded, artinya seakan mau melepaskan diri dari ‘kepentingan’ masyarakat secara keseluruhan. Sedangkan gerakan lain adalah bermacam upaya sehingga akumulasi itu semakin merata dengan mengupayakan bermacam aturan dan ‘menegur’ bahwa self-regulating market itu hanyalah ilusi saja. Ke dis-embedded-an self-regulating market itu sedang ditarik lagi untuk lebih embedded terhadap kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Tetapi soal kompetensi, efisiensi, dan korupsi ini sebenarnya sudah merupakan ‘prasyarat’ jauh sebelumnya. Hanya saja dihayati secara berbeda dari waktu ke waktu. Doeloe misalnya, kompetensi itu adalah soal siapa yang mendapat mandat dari atas. Dari langit. Apa yang sekarang kita lihat sebagai korupsi, doeloe mungkin saja memang sudah sepantasnyalah. Yang efisien-pun kemudian terhayati dalam nuansa itu. Tetapi ketika ‘cara mendapat kekayaan’ semakin banyak yang tidak tergantung langsung pada tanah, iklim dan sekitarnya, perlahan penghayatan tentang kompetensi, efisiensi dan korupsi-pun kemudian berubah. Terus sampai hari-hari ini.
Ketika kerajaan kemudian digeser menjadi ‘kerajaan konstitusional’ seperti misalnya Inggris, perlahan pembedaan antara prakondisi politis, prakondisi teknis, dan prakondisi sosial-pun menjadi lebih mudah dibayangkan dan dihayati. Dari bermacam pengalaman di berbagai komunitas, prakondisi teknis yang kompeten, efisien, dan bebas dari korupsi yang kemudian dihidup-hidupi oleh prakondisi sosial itulah sebenarnya kuncinya. Prakondisi politis kemudian ‘dipaksa’ untuk menyesuaikan diri. Bahkan ketika prakondisi politis kemudian memutuskan untuk lebih ‘ke kanan’ ataupun lebih ‘ke kiri’. Maka menjadi semakin nampak bagaimana pentingnya ‘prakondisi teknis terkait lembaga pengadil’. Dan di sini pertama-tama adalah bicara soal Komisi Pemilihan Umum, dan Bawaslu tentunya. Bahkan dalam sistem partai tunggal-pun, kritik dan oto-kritik harus mendapatkan lapangan yang adil, tidak hanya soal kesempatan. Mengapa KPU menjadi sentral? Karena dengan itu pula ‘gerakan ganda’ menjadi dimungkinkan, atau jalan rusak-rusakan tidak harus ditempuh.
KPU yang tidak punya kehormatan, yang rusak-rusakan, yang hedonis, jelas hanya merusak hidup bersama saja. KPU yang tidak kompeten, tidak efisien, dan lekat dengan bayang-bayang korupsi akhirnya akan menghancurkan prakondisi teknis lainnya. Tidak hanya itu, prakondisi sosial-pun akan mengalami keretakan juga. Akhirnya, prakondisi politis-pun menjadi ugal-ugalan. Semau-maunya. Spoils system atau sistem patronase itupun akan kembali dengan segala inkompetensinya, dengan segala inefisiensinya, dan dengan segala korupsinya. Dengan tanpa beban, persis seperti yang doeloe diintrodusir oleh Presiden AS ke-7 itu. *** (14-07-2026)


To the victor belongs the spoils
2018. Olèh Opo Ora …?
14-07-2026
Pak Pé: “Olèh opo ora aku omong ba-ji-ngan?”
Hadirin: Plok … plok … plok …
Pak Pé: “Lho kok malah keplok … Tak balèni yo … o-lèh o-po o-ra??!”
Hadirin: “Olèèèh …”
Pak Pé: “Oléh opo ora aku omong ndasmu?”
Hadirin: Plok … plok … plok …
Pak Pé: “Lho kok malah keplok … Tak balèni yo … o-lèh o-po o-ra aku omong ndas-mu??!”
Hadirin: “Olèèèh …”
Ujug-ujug nang ngarep balé déso ono wong loro lagi mbarang nganggo tape-recorder. Sing siji njogèt-njogèt karo ngethungké kalèng bekas … Pak Pé koyo-koyo mendadak kesetrum, terus omong nang hadirin: “Oléh opo ora aku mèlu njogèt …?
Hadirin: Plok … plok … plok …
Pak Pé: “Lho kok malah keplok … Tak balèni yo … o-lèh o-po o-ra aku mèlu njo-gèt??!”
Hadirin: “Olèèèh …”
Pak satpam terus nyedhaki wong mbarang mau, ngkè’i sepuluh-ewu dileboké nang kalèng roti bekas, terus Pak Satpam setengah bisik-bisik njaluk diseroké laguné, nganti pol. Laguné Mbah Surip.[1]
Wis kojur tenan iki … *** (14-07-2026)


2019. Sumbu Pendek Di Ruang Antara
15-07-2026
Sebetulnya judul sudah ditimbang-timbang sebagai ‘Berisiknya Keinginan’. Karena dalam ranah publik atau dalam hal ini ranah kuasa negara, keinginan yang terlalu dikemas dalam suasana ‘berisik’ bisa-bisa ‘kontra-produktif’ bagi tujuan hidup bersama. Mengapa ‘berisik’ bisa menjadi ‘masalah’? Karena yang dipertaruhkan adalah uang-uang pajak yang terkumpul dari pembayar pajak terhormat, juga harapan-harapan dari warga negara pada umumnya. Kita sebenarnya hidup di banyak ‘ruang-antara’, misalnya ruang-antara kita berdiri sekarang dan harapan di masa datang. Jika kita terlalu banyak ‘berisik’ di ruang-antara itu bisa-bisa kita akan menjadi kurang perhatian dalam hal timbang-menimbang. Ujungnya? Yang nampak, suka atau tidak, kemudian terlalu banyak peristiwa ber-sumbu-pendek. Bagaimana jika ‘berisik’ itu sebenarnya bagian dari strategi-taktik? Yang pertama-tama harus ditimbang, strategi-taktik buat siapa? Atau siapa yang paling diuntungkan oleh keberisikan itu? Maka perlu dilihat lagi, siapa yang akhirnya ‘bermain’ dibalik tirai ‘berisik’ itu.
"Sovereign is he who decides on the exception”, demikian pernah dikatakan Carl Schmitt seratus tahun lalu. Maka jangan pula pernah dilupakan bahwa ‘keberisikan’ itu bisa saja sebagai ‘proto-exception’ selain sebagai tirai yang sudah disebut di atas. Jadi paling tidak ada tiga alasan mengapa keberisikan hadir di depan mata kita, pertama sebagai ‘proto-exception’, sebagai tirai, dan menipisnya timbang-menimbang alias sumbu-pendek. Rejim terdahulu selama sepuluh tahun rasa-rasanya sudah trampil dalam hal pertama dan kedua, sedangkan rejim sekarang ini sayangnya lebih ada di yang ketiga, sumbu-pendek. Tidak hanya itu, yang pertama dan kedua itu terus saja dimainken oleh bablasan rejim terdahulu. Artinya, ‘mereka’ lebih trampil dalam memainken yang pertama dan kedua itu, lebih ada dalam ‘kendali’ mereka.
Maka jika ingin ‘selamat’ hari-hari ini, kurangi ke-berisik-an itu.[1] Biar hal timbang-menimbang mendapat kesempatan untuk lebih berkembang. Selain ketiga hal ‘nuansa’ keberisikan di atas -yang sebenarnya ada dalam ranah ‘fungsionil’ atau bahkan ‘operasionalisme’, secara mendasar (ontologis) adalah juga soal persepsi, soal the primary of perception seperti disinggung oleh Maurice Merleau-Ponty dalam The Phenomenology of Perception (1945). Bermacam keberisikan itu akhirnya perlahan akan mempengaruhi ‘suasana kebatinan’ khalayak kebanyakan. ‘Suasana kebatinan’ yang juga mulainya berkembang rasa-merasa hal chaotic itu perlahan akan menggelisahkan, membuat gundah, dan terlebih seakan ‘putus harapan’. "Gouverner c'est prévoir," to govern is to foresee akhirnya perlahan akan menipis juga. Harapan yang dilempar ke depan itu seakan justru sedang dipermainkan. Mau pidato berjilid-jilid, berjam-jam, sulit untuk bisa dipercaya lagi. Hanya keberisikan saja yang menampakkan diri. Berisik yang membuat gatal telinga saja. Jika ada yang mengatakan bahwa bahasa adalah juga rumah being, atau katakanlah manusia dalam hal ini, justru berisiknya kata-kata terlontar itu malah meretakkan dinding-dinding. Membuat bolong atap. Saking berisiknya. Apalagi gaya pidato-nya masih saja tak jauh-jauh amat dari gaya saat ‘merebut kuasa’, atau katakanlah saat kampanye. Padahal menurut Machiavelli, merebut kuasa itu akan sangat berbeda saat menggunakan kuasa. Menurut Machiavelli, saat menggunakan kuasa perlulah apa yang disebut virtu, artinya kemampuan untuk mengantisipasi realitas yang terus saja berubah. Yang sumbu-pendek pasti akan gagal dalam hal ini. Apalagi jika ‘tim belakang layar’-nya lemah. *** (15-07-2026)
2020. Di Balik Kegilaan
16-07-2026
Dalam bahasa China, krisis terdiri dari dua karakter, wei – ji, wei berarti bahaya atau ancaman sedangkan ji berarti peluang. Tentu ada pendapat lain tentang ini, tetapi lihat bagaimana salah satu fitur accumulation by dispossession dari David Harvey, manajeman dan manipulasi krisis. Artinya bahkan krisis-pun bisa menjadi salah satu peluang (untuk akumulasi). Bahkan jika kita kaitkan dengan pendapat Carl Schmitt tentang kedaulatan, sovereign is he who decides on the exception, krisis atau exception itu bisa-bisa jadi ajang penentuan siapa yang sebenarnya berdaulat. Belum lagi jika kita bicara pasar keuangan. Atau hikayat bail-out-bail-out itu. Atau bagaimana Naomi Klein menggambarkan bagaimana sebuah shock berat justru menjadi peluang bagi kaum neolib untuk ‘melukis’ apa-apa yang menjadi maunya di atas ‘kanvas putih’, untuk menggambarkan karena shock berat kesadaran khalayak kebanyakan akan kosong seperti kanvas putih saja.
Hari-hari ini republik seakan tidak hanya menonton korupsi sebagai kejahatan luar biasa, tetapi sudah masuk tahap kegilaannya. Gila, extraordinary madness. Kegilaan yang seakan merangkak naik terus dan menyebar-menular kemana-mana. Atau turun terus tetapi yang turun adalah bola salju yang semakin lama semakin besar. Jika dulu saat awal-awal cerita globalisasi semakin membesar, sering digambarkan sebagai juggernaut. Sebuah truk besar yang seakan meluncur ke bawah dengan sudah tidak ada rem lagi. Semua yang menghadang di depan akan ditabrak. Itulah republik sekarang ini, korupsi seakan sudah seperti juggernaut saja. Siapa yang menghalangi akan dilindas-nya tanpa ampun. Siapa yang tidak ikut korupsi justru akan ‘dimatikan’ dengan kejam dan brutal. Bukan lagi kejahatan luar biasa yang republik hadapi, tetapi sekali lagi, kegilaan.
Sepuluh tahun lalu Cak Nun (Emha Ainun Najib) memperingatkan bahwa jika tidak hati-hati di 2024 bisa-bisa kita jadi jongos total.[1] Tetapi dari mana ‘pintu masuk’-nya? Cardoso di sekitar decade 1970-an membagi ‘dunia kapitalisme’ dalam dua pakta, pakta dominasi primer dan pakta dominasi sekunder. Tangan-tangan kapitalisme di ‘dunia ketiga’ itulah yang dikatakan sebagai ‘pakta dominasi sekunder’. Ia ‘hanyalah’ menari di atas nada-nada yang ditabuh pada genderang kapitalisme yang ada di ‘pakta dominasi primer’. Tiga-puluh tahun kemudian, Negri dan Hardt memperkenalkan analisis ‘struktur global’ melalui bukunya Empire (2000). Jauh sebelumnya, analisis tentang imperialisme sebenarnya juga sudah banyak bertebaran. Termasuk juga analisis terkait relasi patron-klien. Belum lagi bagaimana pergeseran-pergeseran geopolitik internasional selama se-abad terakhir. Maka memang tidak akan pernah ada penjelasan tunggal mengenai bagaimana kegilaan (korupsi) hari-hari ini. Apa yang ada di balik kegilaan ini.
Paling tidak selama 60 tahun terakhir kita bisa belajar banyak tentang dunia per-jongos-an ini, atau yang lebih lunak, dunia patron-klien. Kita bisa belajar banyak bagaimana se-jongos-jongos-nya ranah ‘prakondisi politis’, sejauh kita masih mampu membangun lembaga-lembaga yang mampu berfungsi sebagaimana mestinya, tetaplah masih ada kesempatan untuk ‘berkelit’. Nation building itu kemudian berarti juga institutional building. Mestinya. Sayangnya, lihat misalnya bagaimana presiden ketika bicara soal kebahagiaan, soal happiness beberapa waktu lalu, ia begitu bangga terhadap kebahagiaan yang lebih berangkat pada ‘subjective index’ dari pada yang ‘objective index’. Obyektif yang dimaksud di sini adalah bagaimana lembaga-lembaga dapat berfungsi untuk mendukung tercapainya kebahagiaan ‘yang terukur’.
Dalam ranah kebijakan negara, ‘index subyektif’ yang erat dengan rasa-merasa itu tetaplah penting, terutama dalam ‘situasi negatif’. Misalnya terkait dengan ketidak-adilan, ketidak-bahagiaan. Studi tentang tingginya angka bunuh diri di Haiti pada tahun 1970-an oleh Robert Levy yang kemudian mengintrodusir istilah hipokognisi itu sedikit banyak menggambarkan bahwa rasa-merasa ‘situasi negatif’ itu memang kadang lebih tidak mudah untuk diungkapkan. Puisi, cerita, lukisan kadang membantu untuk pengungkapannya. Atau bermacam pejuangan penyadaran-pembebasan. Ketidak-mampuan pengungkapan ini bukan berarti terus tidak ‘obyektif ada’. Pada titik inilah ‘prakondisi politis’ semestinya menjadi lebih peka. Atau ‘dipaksa’ peka. Dan tidak hanya berhenti di situ saja, ia perlu ‘prakondisi teknis’ termasuk di dalamnya membangun lembaga-lembaga yang mampu mengantisipasi ‘situasi negatif’ itu.
Maka jongos-se-jongos-jongos-nya adalah ketika ia tidak mampu menjaga lembaga-lembaga negara sehingga mampu berfungsi dengan baik. Bahkan justru merusaknya untuk lebih ‘menyelesaikan’ situasi negative yang dihadapinya dan keluarganya. Bukan situasi negative dari warga negara. Situasi seperti ini kemudian membuat gundah khalayak kebanyakan, seakan terus saja berkubang dalam situasi negative, bahkan dengan sudah tanpa harapan lagi. Maka tidak mengherankan jika khakayak kebanyakan-pun kemudian perlahan melatih diri untuk membuat ‘lembaga-lembaga’-nya sendiri. Mengorganisir diri. Salah satunya adalah mengorganisir diri untuk menolak kehadiran sik-perusak lembaga-lembaga negara itu. Sik-jongos-total yang sambil pecingas-pecingis mau keliling republik. Keliling republik menebar bermacam kegilaan. Kegilaan yang justru memberi peluang bagi perampok republik semakin ugal-ugalan saja. Sik-inciter-in-chief itu harus ditolak kemanapun ia pergi. Ngerusak saja. *** (16-07-2026)
[1] https://www.pergerakankebangsaan.com/002-Cak-Nun-dan-Elysium/
2021. Paradigm Shift Tanpa Power Shift?
17-07-2026
Jika memakai istilah Cardoso, kita bisa menghayati soal ‘paradigma’ di ranah olah kuasa negara itu sebagai yang ada dalam paradigma ‘pakta dominasi sekunder’. Banyaaak hal kemudian ditentukan berdasarkan paradigma ini. Paling tidak sejak enampuluh tahun lalu. Atau bisa dikatakan masih saja berkubang dalam paradigma patron-klien. Atau kasarnya, paradigma jongos. Puncak dari pada paradigma jongos ini, getaran yang paling kuat hari-hari ini adalah akibat dari segala pethakilannya yang suka main raja-rajaan itu. Sepuluh tahun republik seakan ada dalam paradigma jongos yang sungguh ugal-ugalan. Jongos se-jongos-jongosnya: jongos total.
You are what you eat, demikian ada satu adagium. Maka tidak mengherankan salah satu ketrampilannya adalah men-jongos-kan yang lain. Lempar-lempar bingkisan pada khalayak kebanyakan dari mobil yang berjalan pelan-pun ia lakukan dengan tanpa beban. Bahkan sambil pecingas-pecingis puas lagi. Atau lihat bagaimana para ‘pemuja’-nya kemudian ‘yang sosial’ itu memberikan julukan sebagai ‘ternak ---‘. Artinya, itu tidak muncul di ruang kosong saja.
Jika kita membayangkan apa yang dicapai oleh China sekarang ini dan ingin menirunya, pertama-tama harus diingat bahwa nuansa ‘patron-klien’ dalam pergaulan internasionalnya China relative tipis. Paradigma shift menjadi lebih mudah ketika power shift ‘diselesaikan’ lebih dulu. Dan itulah yang dilakukan Deng terhadap Gang of Four. Untuk membangun ‘prakondisi teknis’ yang penting adalah terkait ‘perjalanan ke selatan’ itu. Bagaimanapun Deng Xiao Ping perlu tenaga-tenaga dan lembaga-lembaga yang sungguh paham apa yang ada dalam ‘paradigma baru’-nya. “Menjadi kaya itu mulia” adalah salah satu ucapan yang ditujukan untuk membangun ‘prakondisi sosial’. Dari hal di atas maka sebuah ‘paradigma baru’ dalam olah kuasa negara maka ia pertama-tama perlu juga power shift. Sayangnya tidak hanya soal ‘orang’ tetapi juga ada ‘arus besar’ yang harus dilawan juga. Yang ‘baru’ tidak hanya soal pilihan pasar vs negara misalnya, tetapi sesuatu yang dihadapkan pada nuansa ‘patron-klien’ yang sungguh sudah mengakar. Bahkan diperkeras secara ugal-ugalan paling tidak sejak 12 tahun lalu.
Maka jika mau menggeser paradigma, geserlah hal power itu sendiri lebih dahulu seperti dilakukan oleh Ketua Deng di atas. Tetapi di republik, bukan hanya power yang ada dalam orang atau gerombolan orang tetapi juga ‘suasana kebatinan’-nya. Maka jika belajar dari langkah-langkah Deng Xiao Ping di atas, lakukan pengendalian dalam lembaga-lembaga negara karena bagaimanapun juga nantinya soal bagaimana ‘paradigma baru’ ini akan dijalankan sangat-sangat tergantung bagaimana lembaga-lembaga itu mendukung. Bahkan dalam rentang waktu tertentu, relasi ‘patron-klien’ dapat digunakan untuk ‘membersihkan’ jika dan hanya jika memang kalau ‘prakondisi politis’ mau di‘selesai’kan untuk mendukung ‘paradigmaa baru’ yang dibayangkan. Tetapi di lain pihak, akan sangat beda dengan urusan ‘prakondisi sosial’.
Hal ‘mudah’ yang bisa dilakukan adalah menolak dengan keras siapa saja yang mengatas-namakan relawan ini itu, pendukung ini itu, terlebih yang memakai ‘nama pribadi’ di buntutnya. Toh ini sudah bukan masa kampanye lagi. Hargailah khalayak kebanyakan sebagai warga negara yang terhormat, tanpa kecuali. Kata-kata dari pejabat yang punya nuansa asal mangap, asal njeplak, menyudutkan, bahkan mengusir-usir warga negara untuk keluar sebaiknya dihindarkan. Apalagi ketika modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital-internet sudah merebak seperti sekarang ini. Yang bermartabat perlahan tentu tidak akan begitu saja menikmati relasi patron-klien ini. Apalagi per-jongos-an. Hati-hati dalam berkata-kata, jangan sampai melukai rakyat, sebab jauh di lubuk hati rakyat itu selalu ingin diperlakukan secara bermartabat. Siapapun itu, berapapun ‘tingkat IQ’-nya.
Mengapa ‘prakondisi sosial’ ini bisa menjadi kunci? Karena hanya dengan ‘bersekutu’ dengan rakyat-lah paradigma patron-klien di ranah ‘prakondisi politis’ ini bisa digeser. Maka hati-hati dengan orang-orang sekitar, siapa tahu ada yang berperan sebagai ‘pengawas’ seperti dalam skema Percobaan Milgram itu. Tahu-tahu bahkan ‘tanpa sadar’ karena sudah ‘banal’, yang asal mangap, asal njeplak, menyudutkan, bahkan mengusir-usir warga negara dengan enteng-enteng saja, keluar begitu saja dari mulut. Ayo gas … ayo gas …. Banality of evil. *** (17-07-2026)
2022. Belajar Dari Sik-'Inmessionante'
18-07-2026
Inmessionante[1] adalah kata baru dalam bahasa Spanyol, dan semakin lama kata itu semakin nampak memang layak untuk dilahirkan. Bagi yang terus mengikuti perkembangan Lionel Messi sejak ia pertama kali debut di Barcelona sampai sekarang di usia 39 tahun ini, kita bisa melihat bagaimana ketrampilan di kaki itu akhirnya ‘naik ke atas’ sampai ke ‘hati’ dan ‘pikiran’-nya. Juga jika kita melihat bermacam unggahan bagaimana ia berlatih. Sedikit banyak kita bisa melihat contoh bagaimana pendidikan olah raga itu memang bisa mempengaruhi perkembangan karakter. Di pendidikan Yunani Kuno atau juga dalam sejarah komunitas lain mungkin, pendidikan olah raga (gymnastic) merupakan salah satu pilar dari pendidikan. Atau kalau kita bicara evolusi, ketrampilan dalam mengembangkan motorik halus setelah ‘kaki depan’ dilepaskan dari fungsi berjalan itu ternyata mempengaruhi berkembangnya area bicara di otak. Artinya, mungkin saja tidak hanya ‘dalam tubuh sehat maka ada jiwa sehat’ tetapi juga bagaimana otak dengan segala potensinya ‘dirawat’ melalu segala o;ah-gerak tubuh. Terutama bagi anak-anak dan usia muda. Tetapi bagi Messi untuk ‘sampai ke atas’ itu butuh waktu lebih dari sepuluh tahun. Maka bisa dibayangkan jika gymnasium ini oleh ahli-ahli olahraga dan perkembangan anak dikembangkan secara serius-berkelanjutan sejak usia SD sampai SMA, bayangkan apa yang mungkin bisa dicapai. Tentu memang masih banyak hal-hal lain yang akan berpengaruh.
Tetapi yang menjadi focus tulisan ini adalah dari kacamata Machiavelli. Terutama terkait dengan pendapat Machiavelli soal merebut kuasa dan menggunakan kuasa itu bisa sangat beda. Berlatih, menyusun trategi-taktik, mengikuti arahan pelatih adalah salah satu upaya merebut kuasa, atau katakanlah prestasi atau kemenangan. Masing-masing pemain masuk lapangan dengan ‘kuasa’-nya sendiri-sendiri -setelah berlatih keras, dan dengan adanya pelatih maka itu diramu menjadi kekuatan tim. Kemampuan diri dan tim itu telah menjadikan ‘kuasa’ di kaki-kepala sebagai fakta potensial, dan seakan memang telah telah direbut. Masalahnya bagaimana ‘kuasa’ yang telah direbut itu akan digunakan di lapangan sehingga berubah menjadi fakta factual-nya.
Dan di sinilah ‘Messi tua’ menampakkan kematangannya, ia mampu membaca situasi lapangan dengan tepat. Dalam berbagai analisa terkait saat Messi yang tampak sedang berjalan itu, ternyata ia sedang men-scan situasi lawan dan kawan. Bagaimana posisi masing-masing, dan peluang-peluangnya. Menurut Machiavelli, saat menggunakan kuasa -beda dengan saat merebut, itu lebih perlu virtu, dalam arti siap untuk mengantisipasi segala situasi yang mungkin sekali terus berubah. Dengan adanya virtu itu Messi kemudian memimpin rekan-rekannya, sebagai kapten tim. To govern is to foresee dilaksanakan komplit dalam input-proses-dan outcome-nya. Dari Messi kita belajar, kapten yang mumpuni itu bukanlah kapten yang ‘kepala batu’ sehingga menjadi berat-langkah untuk mengantisipasi situasi yang terus saja berubah. Apalagi yang egois, memikirkan nama baik-kejayaan diri sendiri saja.
Dari Messi kita bisa juga belajar tentang virtu tidak hanya dalam pengertian di atas, tetapi juga virtu dalam arti keutamaan. Dengan keutamaan yang dibangun panjang selama karir, rekan-rekan se-tim akan menjadi respek dan percaya untuk mengikuti arahan sang-kapten. *** (18-07-2026)
[1] https://www.espn.com/soccer/story/_/id/37386288/lionel-messi-added-spanish-dictionary


