2016. How Low Can Republic Go

12-07-2026

Ungkapan dalam judul sedikit banyak ingin menggambarkan republik yang memang ‘mewaktu’. Tidak hanya ‘waktu obyektif’ ataupun ‘waktu subyektif’-nya, tetapi juga dalam waktu paling primordialnya, consciousness of internal time. Bayangkan nada 1-2-3, dan jika sekarang kita mendengar nada-2 maka nada-1 seakan mengalami retensi, dan nada-3 meski belum hadir seakan sudah diantisipasi kedatangannya. Dan itulah ‘langgam-waktu’ keseharian yang banyak kita tapak. Hiruk-pikuk kasus ijazah palsu yang sudah berlangsung lebih satu tahun ini seakan mengusik ‘langgam-waktu’ langsung pada jantung nada-1-nya. Bagai dalam satu ruangan dimana hadirin sibuk bicara sendiri satu sama lain, palu di atas meja kemudian diketuk keras sehingga tiba-tiba semua jadi diam dan menoleh pada si pemukul palu. Itulah sedikit gambaran tentang keriuhan kasus ijazah palsu sehingga menjadi banyak yang kemudian menoleh penasaran. Terimakasih dan salam hormat pada siapa saja yang terlibat dalam mengetuk palu, atas keberanian dan stamina tingginya.

Mengapa soal berani dan terlebih lagi soal stamina perlu ditekankan? Karena tidak hanya soal singgungan dengan kuasa, tetapi juga karena ini terjadi dalam sebuah komunitas dengan power distance tinggi (Hofstede). Komunitas dengan power distance tinggi akan melihat kuasa di atas sebagai oke-oke saja, bahkan dilihat sebagai ‘yang putih’. Maka tidak mudah untuk ‘menggerogoti’ power yang di tangan. Tidak mudah, perlu ‘digempur’ terus menerus sehingga prakondisi sosial bisa bergeser sehingga menjadi mampu dan mau melihat bahwa ternyata kuasa di atas itu tidaklah sepenuhnya ‘putih-putih’ saja. Atau bayangkan peran SMID dan PRD di penghujung jaman old sekitar 30 tahun lalu dalam menggerogoti power yang begitu kuat. Perlu berapa tahun sehingga power bisa terhayati sebagai yang retak? Sebagai ‘prakondisi sosial’? Tentu memang masih banyak faktor sehingga peristiwa 1998 itu akhirnya kejadian.

Mengapa ‘langgam-waktu’ bisa diinterupsi? Ada banyak hal, tetapi yang terkuat adalah faktor ketika ‘kematian’ ada di depan mata. ‘Kematian’ baik yang dihadapi oleh sik-pemegang ijazah maupun yang mempersoalkan. Karena ketika ‘kematian’ hadir di depan, ada kesempatan lebih untuk berhenti sejenak dari irama ‘langgam-waktu’ yang seakan sudah taken for granted itu. Tidak hanya yang terlibat langsung, tetapi juga bagi the society of spectacle yang duduk di bangku ‘penonton’. Lakon itu bisa saja membuat banyak dari ‘penonton’ untuk berhenti sejenak. Dan ketika ‘langgam-waktu’ seakan berhenti sejenak, perlahan ‘proses penyingkapan’-pun mulai bekerja. Carut-marut republik hari-hari ini kemudian dilihat secara ‘berjarak’ dan ingatan ketika sik-pemegang ijazah dibaptis sebagai salah satu finalis pemimpin terkorup seduniapun kemudian dipanggil untuk masuk ‘arena’. Tiba-tiba saja banyak hal menjadi ‘masuk akal’ dan ternyata nada-1 yang selama ini terdengar semakin menampakkan diri adalah nada-nada korup yang ditabuh oleh sik-pemegang ijazah itu. Korup, korup, korup. Everything is all about corruption. Termasuk juga bagaimana soal strategi dan taktik dalam ‘pengamanannya’. Mengamankan segala kenikmatan yang diperoleh dari hasi-hasil korupsi. Dan jangan kaget jika yang brutal dan yang kejam masuk dalam pilihan-pilihan strategi dan taktiknya. Sejarah telah memberikan pelajaran pada kita. *** (12-07-2026)