2024. Hikayat Pendulum Ekstrem (1)

21-07-2026

Hari-hari ini kita bisa belajar bagaimana ketika pendulum olah kuasa diayunkan sampai ke ujung ekstrem, dan … ‘reaksi’-nya. Menurut Thomas Hobbes dalam Leviathan (1651), hasrat akan kuasa itu akan dibawa sampai ajal menjemput, tetapi tidak hanya itu, hasrat akan kuasa juga untuk mempertahankan atau melindungi apa-apa yang sudah diperolehnya. Atau yang sudah dinikmatinya. Peran negara dalam melindungi apa-apa yang sudah diperoleh oleh warga negara memang disinggung dalam paradigma kaum neolib. Bahkan itulah tugas utama negara dalam paradigma ‘ultra-minimal state’-nya. Negara sebagai ‘penjaga malam’ saja, sehingga kekayaan yang dikumpulkan di siang hari itu tidak dibobol maling malam ketika ia tidur, misalnya. Metaforanya. Tetapi bagaimana jika negara kemudian dikembangkan justru pertama-tama untuk melindungi apa-apa yang sudah diperoleh sik-penguasa dan keluarga dan orang-orang sekitarnya? Melindungi segala kenikmatan yang sudah dirasakan oleh sik-pengelola negara dan kroni-kroninya? Tentu negara akan menyediakan perlindungan pada pejabat-pejabat tertingginya, entah uang pension, rumah tempat tinggal komplit dengan segala pengamanan 24 jam-nya. Tetapi bagaimana jika sik-penguasa membawa juga segala kekayaan yang gigantis di luar kewajaran akibat segala olah-korupsi yang bahkan kemudian ia masuk dalam finalis pemimpin terkorup se-dunia? Maka mengingat pendapat Hobbes di atas, ini bukan lagi sekedar hasrat akan kuasa tidak kunjung padam, tetapi adalah soal melindungi segala kenikmatan yang sudah di tangan. Tidak hanya bangunan benteng dengan bahan-bahan dari dalam negeri saja yang dibuat dengan kuatnya, tetapi juga dari bahan-bahan dari kekuatan luar. Tentu ini pasti dengan ‘biaya’ sangat besar. Tak mengherankan bagaimana tambang-tambang diserahkan. Tidak hanya itu, bagaimana barang-barang selundupan-pun seakan dipersilahkan masuk dengan tanpa beban. Belum lagi dari kepentingan strategis-militer-nya. Atau segala yang diminta untuk sebuah ‘migrasi’ besar-besaran jika nanti-nantinya diperlukan. Jika besok-besoknya sudah sampai waktunya. Paket komplit demi segala kenikmatan tetap terus bisa dinikmati. Artinya, bandul memang sudah diayun sampai ujung ekstremnya.

Soal per-benteng-an ini, Machiavelli pernah mengatakan bahwa “Raja yang merasa lebih takut terhadap rakyat sendiri daripada serangan bangsa asing, sebaiknya membangun benteng. Tetapi raja yang merasa takut terhadap serangan musuh asing daripada rakyatnya sendiri tidak usah memusingkan soal benteng.”[1] Machiavelli juga menandaskan, “Benteng yang terbaik yang perlu dibangun ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat.”[2] Ketika benteng sudah dibangun dengan mengambil batu-batu dari bangunan pengadilan, kejaksaan, yang pegang senjata, dan banyaaak lagi, ternyata kemudian menjadi meragukan karena perlahan ia justru semakin dibenci rakyat dan itu terbukti ketika bahkan baru saja melangkah untuk keliling republik, maka hati gundah-gulana tiba-tiba menyergap. Ia tidak lagi ‘dicintai’ tetapi sekarang sudah ‘dibenci’! ‘Benteng terbaik’ itu tiba-tiba mengalami keretakan besarnya.

Bahkan ketika ia hadir sebagai salah satu dari ‘matahari kembar’ dan terus saja berusaha untuk menyingkitkan matahari satunya dengan salah satu jalannya adalah membuat supaya dibenci rakyat-pun, seakan itu masih kurang dalam menambal keretakan benteng-nya sendiri. Pada awalnya memang bukan ditujukan untuk ‘menambal keretakan’ -karena memang belum nampak retak besarnya, tetapi itu adalah salah satu prinsip atau ‘garis merah’ yang tidak boleh dilanggar, apa itu? Jika kekuatan oligarki disebut, maka hantu gentayangan yang menakutkan mereka adalah ketika ada pemimpin mampu merawat kedekatannya dengan rakyat kebanyakan. Makanya, Gus Dur dan Megawati-pun ‘dipaksa’ untuk berbagi rentang 5 tahun itu. Bayangkan jika penuh 5 tahun -apalagi 10 tahun, kedekatan dengan basis pendukung akan menjadi lebih menakutkan. SBY? Nampaknya SBY tahu itu sehingga ia tidak terlalu bernafsu untuk membangun kedekatan dengan rakyat kebanyakan selama menjabat. Kalau toh mau, ia perlu waktu lebih panjang karena ‘modal’ kedekatan dengan rakyat sebelumnya boleh dikatakan nol. ‘Dekat’ dengan rakyat saat mencalonkan diri diperoleh secara instan saja, sebagai ‘korban’ dari olok-olok ‘jenderal ke-kanak-kanak-an’ dulu itu. Tetapi yang terakhir ini, bahkan ia telah mencalonkan diri sudah berkali-kali. Dan ketika naik ke puncak kekuasaan, ia tidak berangkat dari nol dalam potensi untuk membangun kedekatan dengan rakyat. Maka tak mengherankan, bahkan sejak hari pertama menjabat ‘proyek monsterisasi’ itupun sudah dijalankan. Supaya dibenci rakyat kebanyakan. *** (21-07-2026)

[1] Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa, Penerbit Pustaka Gramedia, 1987, hlm. 90

[2] Ibid

2025. Hikayat Pendulum Ekstrem (2)

21-07-2026

Jika segala ‘maksud baik’ ditunda lebih dahulu, atau katakanlah di-ceteris paribus lebih dahulu, dan kita melihat ayunan pendulum (strategi-taktik) kekuasaan semata sebagai sebuah ayunan, maka segera nampak bagaimana ekstrem-nya ‘reaksi’. Bandul yang sudah diayun dengan ekstremnya oleh sik-cawé-cawé itu itu jelas tidak hanya untuk mengumpulkan dana besar, tetapi bagaimana dana terkumpul itu juga untuk mendorong sehingga bandul bisa diayun sampai ujung ekstremnya. Bagaimana melawan kekuatan dana gigantis ini? Perlukah ‘pooling dana’ penyeimbangnya? Ketika jajaran birokrasi bahkan sampai ke desa-desa sudah menjadi bagian dari ayunan bandul, bagaimana dengan ‘alat-penyeimbangnya’ sehingga jajaran birokrasi yang di desa-desa itu tidak kemudian menjadi bagian bandul pihak lain? Perlukah lembaga atau ‘alat-penyeimbangnya’? Ketika yang pegang senjata, pentungan dan gas air mata itu menjadi bagian penting dari ayunan bandul ekstrem, akankah perlu yang juga pegang senjata sebagai ‘alat-penyeimbang’? Dan masih ada beberapa yang bisa disebut terkait ‘aksi-reaksi’ dalam perhitungan bandul olah-kuasa ini, tentu terkait dengan ‘reaksi’ (ekstrem)-nya juga. Maka tiba-tiba saja lapangan bermainnya serasa sebuah lapangan yang tidak mengenal lagi apa itu abuse of power. Yang ekstrem vs (reaksi) yang ekstrem lainnya. Maka lembaga-lembaga negara-pun menjadi semakin semau-maunya, ikut-ikutan menghilangkan abuse of power dari horizonnya. Intinya, menjadi tidak tahu batas lagi. Wonderful world itu perlahan menjadi serasa bopeng-bopeng di sana-sini.[i]

Politik menjadi begitu kasarnya, tidak hanya tanpa estetika lagi, tetapi juga an-esthesia, seakan sudah terbius dan tak mampu merasakan apa-apa lagi selain berkelahi di ‘dunia pendulum ekstrem’ itu. Ini bukan lagi soal ‘dua gajah berkelahi pelanduk mati di tengah’, tetapi dua gajak ngamuk-ekstrem dan menabrak-merusak segala yang ada di kanan kiri. Inilah kerusakan republik yang sudah menuju rusak-rusakan karena lembaga-lembaga negara itu telah menjadi lembaga yang rusak secara mendasar: tidak tahu batas lagi. Ini sudah bukan lagi bermacam kepentingan akan ancang-ancang untuk ‘damai’, tetapi lebih sudah menjadi pertarungan ‘ekstrem’. Dua hal yang menjadikan ini adalah ‘pertarungan ekstrem’, pertama soal maunya sik-cawè-cawé terlindungi segala kenikmatan yang sudah diperoleh. Tentu dengan kroni-kroninya. Tidak hanya terlindungi, tetapi juga kekal-melanjut. Kedua, jangan sampai melanggar ‘garis-merah’: bersekutu dengan rakyat kebanyakan. Tidak boleh ada pemimpin yang mampu bersekutu dengan rakyat, dalam arti mempunyai basis kuat, katakanlah seperti Gus Dur atau Megawati lebih dari 20 tahun lalu.

Maka tak mengherankan jika ‘proyek-proyek strategis rakyat’, program-program yang sangat mungkin membangun kedekatan dengan rakyat kemudian ‘dibusukkan’. Jalur pembusukan adalah melalui rute eksploitasi hasrat utamanya. Siapa yang tidak akan ngiler melihat ratusan triliun rupiah lalu-lalang di depan mata? Apalagi ketika bermacam aparat penegak hukum itu banyak yang ada di ujung bandul yang sudah diayun secara ekstrem itu? Tetapi lebih dari itu adalah soal bagaimana supaya sik-Pé itu menjadi sosok yang dibenci rakyat kebanyakan. Maka orang-orangpun ditebar di sekitar, untuk mendorong paling tidak dari segi verbalitas justru yang keluar membuat ia perlahan dibenci. Suka menuding-nuding pihak lain, menyudutkan pihak lain, atau ungkapan-ungkapan lain yang njelèhi, yang sebenarnya tak pantas keluar dari mulut seorang pemimpin. Bahkan dari kata-kata yang keluar dari mulut bayang-bayang ‘monster’ sudah mulai keluar. Tidak sulit untuk ‘memprovokasi’ hal seperti ini ketika yang dihadapi mempunyai karakter sumbu pendek. Apalagi yang sedang tenggelam akan hal-hal besar. Machiavelli telah mengingatkan tentang orang-orang sekitar ini, terutama para penjilat. *** (21-07-2026)

[i] https://www.youtube.com/watch?v=blYsECLGnEE