2029. Londo Edan

25-07-2026

Totok: “Londo édan nèk ora mèlu édan ora keduman.”

Likwan: “Sing culika mulya, sing jujur kojur”

Cuk Bowo: “Mangan ora mangan asal kumpul”

Nyah Ndut: “Nèk carané koyo ngono bangkrut aku Cuk …”

Mas Amir: “Lho kok iso Nyah?”

Nyah Ndut: “Lha podho nongkrong nang warung, kumpal-kumpul jegègèsan thok ning blas ora ono sing pesen …”

Kang Yos: “Ngono yo Nyah …”

Nyah Ndut: “Lha iyo to Kang …”

Koh Bos: “Sik-sik-sik, mau Totok omong opo yo ... Kok ‘londo édan’ … kan sing bener ‘jaman édan’ …?“ Koh Bos takon nang Totok karo pesen Indomie Goreng nyemek tambah endog gorèng setengah mateng. Tambah lombok sétan limo.

Totok: “Wingi wis diganti Koh …”

Likwan penasaran: “Sing ngganti sopo Tok?!”

Totok: “Pak Pé …”

Cuk Bowo: “Ngono yo Tok …”

Totok: “Ya’é …”

Nyah Ndut nimbrung: “Ngawur Totok kui Cuk …. Sing benar ‘lon-do i-reng’ …”

Kang Yos penasaran: “Kok ngerti Nyah …”

Nyah Ndut: “Lha wingi kan disiarké langsung nang radio …”

Mas Amir: “Ngono yo Nyah …”

Nyah Ndut: “Iyo Mas. Bar omong kuwi … wah sing keplok héboh banget Mas. Koyo-koyo nèk bal-bal-an kaé pas gol. Malah ono sing gebrak-gebrak mejo. Wis pokoké gayeng. Ono sing suit-suit barang. Malah pas kuwi ono sing nggowo mercon, terus disumet Mas … Dor … dor … Ping pindo mas. Tambah gayeng. Panitiané yo tambah kucluk …, terus disetèlké ndangdut koplo. Koplo time![1] Gas pol Mas … Kabèh ngadeg terus podho jogèt-jogèt kaé ... Malah ono cah telu maju, siji trus kayang, sijiné trus koprol. Sing kèri dhéwé karepé arep kayang, ning gagal terus akhiré goyang gemoy waé. Wis .. wis … kabèh koyo kesurupan …”

Likwan: “Kesurupan ‘londo ireng’ Nyah …”

Nyah Ndut: “Ya’é Lik …”

Cuk Bowo: “Ngono yo Nyah …”

Nyah Ndut: “Hè’èh Cuk …”

Totok langsung nimpali ora setuju: “Lho kan bener aku to Nyah … Jan-jan-é kan dudu ‘londo ireng’ ning kesurupan ‘lon-do é-dan’ ….”

Cuk Bowo: “Ngono yo Tok …”

Totok: “Hè’èh Cuk … I love you full ….”

Cuk Bowo: “Okélah kalo begitu …(dapat dibaca juga: sak karep-mu ...)” *** (25-07-2026)

[1] https://www.youtube.com/watch?v=bhS5ZooBKpI

2030. Siapa Londo Ireng-nya? Machiavelli!

25-07-2026

Jika kita perhatikan paling tidak selama 12 tahun terakhir maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa salah satu bayang-bayang yang mengiringi lekat rentang waktu itu adalah Niccolo Machiavelli (1469-1527), salah satu pemikir yang muncul dari ‘lembah hitam’. Pemikiran-nasehat yang ditujukan kepada ‘sang-pangeran’ itu bahkan perlahan dimaknai secara harafiah dan ujungnya bisa dilihat dengan sungguh telanjang, bagaimana ada yang sudah keranjingan saja main pangeran-pangeran-an, main raja-raja-an.

Tulisan pendek ini akan fokus terkait nasehat Machiavelli pada ‘sang-pangeran’ bagaimana seharusnya menghadapi penjilat-penjilat. Bagi Machiavelli, tidak ada jalan terbaik dalam melawan penjilat-penjilat selain memberitahukan pada khalayak kebanyakan bahwa memberitahukan kebenaran itu tidak akan membuat sik-pemberitahu, siapapun itu, sebagai yang sedang menyerang dirinya. Jadi, silahkan saja kebenaran diungkap, diberitahukan. “There is no other way to guard yourself against flattery than by making men understand that telling you the truth will not offend you.” Bagi sik-penjilat-penjilat yang paham soal ini maka ia pagi-pagi akan mendorong sebaliknya. Apalagi jika ada ‘agenda lain’, misalnya menusuk dari belakang dengan cara melalui pendapat Machiavelli lain bahwa sebaiknya sang-paneran itu jangan sampai dibenci khalayak kebanyakan,

Maka dibuatlah seorang pemimpin untuk selalu berulang dan berulang menyudutkan bermacam pihak, terutama yang mempunyai potensi besar untuk menguak kebenaran. Karena apa? Karena pihak-pihak itu sedang menyerang dirinya! Berlawanan dengan nasehat Machiavelli untuk memberitahukan pada semua pihak bahwa ia tidak akan merasa disudutkan atau diserang siapa saja yang menyampaikan kebenaran. Karena hobi menyudutkan-menyerang bermacam pihak yang dipandangnya sebagai yang mau menyerang dirinya, perlahan ia menempatkan diri -sadar atau tidak, sebagai yang sedang menebar bibit-bibit untuk dibenci khalayak kebanyakan. Dengan semakin ia menjadi keranjingan menyudutkan pihak lain, dengan itu pula para penjilat akan mempunyai ruang luas untuk semakin dalam menjilat.

Tidak hanya kemudian ia menjadi sosok yang perlahan dibenci, tetapi dengan bermacam kebenaran tidak sampai pada dirinya, ia semakin jauh dari virtu. Menurut Machiavelli, soal merebut kuasa itu berbeda dengan saat menggunakan kuasa. Saat menggunakan kuasa, ia perlu virtu, yang dimaksud Machiavelli yaitu selalu siap untuk mengantisipasi situasi yang berubah-ubah terus. Bagaimana ketika kebenaran situasi yang berubah-ubah itu tidak sampai pada dirinya, dan hanya ‘kebenaran’ yang disampaikan oleh penjilat-penjilatnya? Yang tentu itu sebagian besarnya akan lebih untuk menyenang-nyenangkan dirinya? Maka bisa dilihat bagaimana antisipasinya terhadap situasi yang terus berubah itu menjadi amburadul. Sungguh telanjang amburadulnya. Itulah ‘agenda lain’ yang sedang berjalan dari sik-penjilat, menusuk dari belakang. Ke-amburadul-annya dalam mengantisipasi situasi yang berubah-ubah itu akhirnya akan membuat bangkitnya perlawanan dari khalayak kebanyakan. *** (25-07-2026)

2031. Legitimasi dan Legalitas

26-07-2026

Akhir-akhir ini muncul diskusi tentang legalisme otokratis. Dengan bermacam senjata hukum, sik-otokrat kemudian mendefinisikan dirinya. Menyatakan kedaulatannya. Dengan segala permainan hukum ia membangun benteng-kekuasaannya. Tetapi soal per-benteng-an ini Machiavelli pernah mengatakan bahwa “benteng yang terbaik yang perlu dibangun ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat”.[1] Apa yang bisa kita bayangkan dari hal-hal di atas? Kita bisa membayangkan juga bahwa itu sebagai masalah legalitas dan legitimasi. Jamak dikatakan bahwa Machiavelli itu adalah seorang pemikir dari ‘lembah hitam’, tetapi tidak sedikit yang melihat dari ‘sisi terang’-nya. Yaitu Machiavelli sedang menampakkan dengan tanpa basa-basi -bloko suto (Jw.), apa-apa yang akan menghambat berkembangnya sebuah republik, misalnya.

Para konsultan politik atau para dalang di 12 tahun terakhir (paling tidak) pastilah paham dengan hal-hal di atas. Tentang bagaimana memainken hukum untuk mendukung rejim komplit dengan segala keuntungannya. Bagaimana ‘sandera kasus’ dan hukum yang diubah-ubah dengan semau-maunya demi keuntungannya adalah penampakan vulgarnya. Dan tidak hanya itu, bagaimana bermacam tangan-tangan hukum termasuk aparat penegaknya telah dipersiapkan untuk melindungi apa-apa yang sudah diperolehnya. Yang sudah dinikmatinya. Selain itu ‘mereka’ juga sangat paham pentingnya legitimasi. Maka ketika ‘matahari kembar’ terkerek ke atas, bahkan sejak hari pertama ‘mereka’ tanpa sungkan lagi melancarkan program ‘monsterisasi’ yang ujungnya adalah de-legitimasi sik-matahari satunya yang sebenarnya adalah juga sik-‘matahari-yang-legal’. Tidak hanya itu, bahkan bagaimana sik-‘matahari-yang-legal’ itu dibuat dari kesempatan satu ke kesempatan lain ketika bicara di depan publik, yang keluar dari mulut justru akan semakin men-de-legitimasi ke-legal-an posisi. Dan lihat bagaimana ‘program-program unggulan’ itu satu per satu dengan ‘rute-rute-nya yang khas’ perlahan menjadi kehilangan legitimasinya di depan khalayak kebanyakan. Maka, kapan ‘proses-proses molekuler de-legitimasi’ ini akan berubah menjadi proses ‘de-legalitas’?

Bagaimana dengan matahari satunya yang terus saja keranjingan cawé-cawé itu? Dengan modal berkuasa selama 10 tahun, ditambah dengan hilir-mudik di ruang publik selama paling tidak total hampir 20 tahun ditambah akumulasi logistik gigantis, ini menjadikan tidak mudah untuk ‘diusik’. Suka atau tidak. Percaya atau tidak. Maka hormat yang setinggi-tingginya terhadap Roy Suryo, dr. Tifa dkk, juga para penasehat hukum dan rekan diskusinya, media-digital yang tanpa lelah mendampingi, juga Bonjowi, atau juga yang mengajukan gugatan CLS di Solo, tak lupa pada Bonatua Silalahi, juga sik-Topi Merah, atau yang hari-hari ini sedang mengajukan gugatan baru, bahkan juga untuk Rismon sebelum ‘mabuk’ dan juga pasti Bambang Tri dan Gus Nur terhadap segala pengorbanannya selama ini. Salam hormat atas perjuangan berani tanpa takut dengan stamina tinggi. Meski ‘yang legal’ belumlah sampai pada ‘tujuannya’ tetapi apa yang mereka lakukan selama ini sangat-sangat jelas sudah sangat menggerogoti legitimasi ‘orang itu’. Jika memakai istilah populer dalam revolusi, retak-runtuhnya legitimasi itu seakan telah membuat ‘revolusi telah hamil tua’. Proses-proses molekuler itu semakin hari semakin matang. Kapan ‘kemenangan legal’ akan tercapai? Tentu ini adalah perjuangan lanjutan. Bahkan dalam hal-hal tertentu, bagi yang dengan susah payah bertahun-tahun ingin ditempatkan (atau menempatkan diri) sebagai sik-‘raja (-raja-an) adil”, de-legitimasi itu sudah seperti kehilangan mahkotanya. Bagai dukun yang sudah kehilangan pamor-nya. Ini bagai ‘hukum karma’, ketika ia dengan tanpa beban men-deligitimasi hukum, peraturan, undang-undang (legalitas) dengan semau-maunya tanpa beban dan pecicilan seakan sedang menjalankan ‘legalisme otokratis’ dan yakin dirinya tak akan tersentuh ‘secara legal’, sekarang dirinyalah yang sekarang mengalami de-legitimasi (merangkak) dan itu seakan sudah sampai titik point of no return. Legitimasi diri dan keluarganya itu telah roboh se-roboh-roboh-nya. *** (26-07-2026)

[1] Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa, Penerbit Pustaka Gramedia, 1987, hlm. 90

2032. Liar-nya Imajinasi

27-07-2026

Imagination is more important than knowledge …. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.” (Einstein, 1929)

Dalam imajinasi ada hal-hal abstrak, lawan dari kongkret. Mengapa kita bisa saja sekali waktu terdampar pada hal-hal abstrak? Karena kita punya bahasa. Binatang-pun menurut penelitian bisa berimajinasi, dan juga berbahasa, tetapi karena bahasanya terbatas jika dibandingkan kompleksitas bahasa manusia, hal-hal abstrak yang ada dalam imajinasipun menjadi terbatas pula. Maka tidak mengherankan imajinasi manusia itu perlahan bisa berkembang pula bahkan bisa menjadi pengetahuan seperti disinggung Einstein dalam kutipan di atas. Seakan imajinasi bisa sebagai pendobrak bermacam pengetahuan yang sudah baku, ataupun memulai jalan untuk menemukan pengetahuan baru.

Repetitio est mater studiorum, pengulangan adalah ibu dari pembelajaran, demikian sering kita dengar. Tidak hanya dalam proses belajar dengan mengulang-ulang membaca misalnya, tetapi juga ‘pola-pola’ yang mungkin saja hadir di depan mata. Ketika B mirip dengan A, dan C mirip dengan A, demikian juga D, maka bisa-bisa itu akan memprovokasi imajinasi kita bahwa A, B, C, D itu tidak hanya mirip, tetapi adalah juga sama. Tetapi imajinasi bisa begitu liar-nya, sehingga perlu di-cek-ricek dengan imajinasi-imajinasi lain, yang mungkin saja melihat peristiwa sama. Atau kita kembali pada realitasnya itu sendiri. Imajinasi kita ‘tunda’ lebih dahulu dan kemudian melihat ‘sesuatunya’ itu lebih detail.

Modernitas sebenarnya dimulai dengan menempatkan rasionalitas di ujung tombak. Tetapi paling tidak sejak Nietzsche, kehendak atau bahkan hasrat perlahan menggeser peran rasionalitas. Bagi hidup bersama, ‘geser-menggeser’ ini mungkin saja bagian dari perjalanan hidup, tetapi masalahnya adalah modus bablasan-nya. Ketika rasionalitas kemudian mengklaim diri sebagai satu-satunya yang obyektif, maka krisis-lah yang justru dituai. Ketika katakanlah kebenaran yang dihayati berangkat dari olah rasa itu kemudian dipinggirkan atau dilihat sebagai yang ‘tidak obyektif’. Atau kalau kita memakai tiga pembedaan ‘waktu obyektif’, ‘waktu subyektif’, dan ‘consciousness of internal time’, ketika hanya diakui yang ‘obyektif’ itu katakanlah hanya ‘waktu obyektif’ saja. Waktu yang bisa diukur secara obyektif, sepuluh menit yang sama bagi sik-A maupun sik-B.

Ada pelajaran berharga paling tidak selama 12 tahun terakhir, pelajaran bagaimana ketika imajinasi lebih bersekutu dengan kehendak bahkan hasrat. Dan lihat bagaimana bahasa kemudian sadar atau tidak perlahan ‘dihancurkan’. Bahasa yang sebenarnya memungkinkan tidak hanya untuk hal-hal abstrak yang ada dalam imajinasi, tetapi juga untuk melakukan cek-ricek dengan imajinasi-imajinasi lain. Atau sebagai ‘jembatan’ untuk mengecek dengan realitas yang ada. Apa yang dihadapi republik adalah bablasan kehendak atau hasrat itu akhirnya mengubah imajinasi kemudian jatuh hanya pada fantasi saja. Fantasy yang sejak tahun 1926 juga berarti sebagai "day-dream based on desires".[1] *** (27-06-2026)

[1] https://www.etymonline.com/word/fantasy

2033. Input-Proses-Output

27-07-2026

Pada tahun 1839 Gubernur Jenderal Usmani untuk Mesir Mohamad Ali Pasya ingin memperkuat armada kapal perangnya. Maka diundanglah ahli-ahli dari Barat untuk membangun kapal-kapal perang di kota Iskandariyah. Tetapi ahli-ahli Barat itu tidak mau datang jika tidak bersama dengan keluarganya, termasuk dokter-dokter Barat untuk merawat anggota-anggota keluarganya itu. Maka datanglah ahli-ahli Barat itu komplit dengan keluarga dan dokter-dokternya. Tetapi dokter-dokter itu ternyata banyak waktu luangnya, sehingga iapun membuka pelayanan bagi masyarakat sekitar, termasuk klinik bersalinnya. Peraturan ketat di Iskadariyah saat itu terkait dengan hubungan laki-laki dan perempuan ternyata kemudian perlahan ‘terkikis’ dengan hadirnya klinik-klinik bersalin itu yang juga melayani masyarakat sekitar.[1] Apa yang mau disampaikan di sini adalah terkait perjumpaan budaya-budaya dimana ‘yang satu’ akan membawa ‘yang lain’, bahkan bisa-bisa yang tak terduga sama sekali. Cerita tak jauh berbeda dipaparkan Mangunwijaya terkait Politik Etis (mulai 1901) di Hindia Belanda, dimana maksud utama adalah penyediaan tenaga-tenaga (murah) pribumi yang trampil, tetapi di waktu-waktu senggang guru-guru Belanda itu menyempatkan bertemu dengan banyak kalangan di luar dinding sekolah.

Abraham J. Heschel dalam Who Is Man? (1965) menulis bahwa ‘teori tentang bintang tidak akan mengubah esensi dari bintang itu, tetapi teori tentang manusia bisa mengubah manusia secara esensial’. Coba dibayangkan ada tokoh yang demen sekali ingin selalu masuk dalam pemberitaan, masuk dalam pembicaraan, karena dengan itu diyakini akan bisa ‘merawat’ power yang memang pernah lama di tangan. Maka ia biarkan saja dan bahkan menikmati gossip tentang palsunya ijazahnya. Tetapi benarkah output atau tepatnya outcome nantinya datang seperti diharapkan, seperti halnya 1 tambah 2 sama dengan 3? Dari lebih setahun bermacam keriuh-rendahan kasus ijazah palsu itu di ruang-ruang publik komplit dengan drama-drama tertentunya, ternyata ada ‘yang lain’ ikut dibawa, yaitu justru yang tadinya adalah lebih sebagai gossip perlahan meningkat jadi rumor, dan semakin lama justru semakin banyak yang meyakini bahwa ijazah itu memang palsu. Lebih dari sekedar rumor saja. Ini semua karena kita tidak sedang bicara tentang bintang, bulan, atau planet, tetapi manusia. Dan lihat ternyata tidak hanya itu, keseluruhan ‘kualitas diri’-nya pun semakin lama semakin tersingkap juga. Banyak pihak kemudian semakin ‘berani’ untuk nimbrung dalam penguakan masalah. Atau juga penyingkapan apa-siapa sejatinya ‘orang itu’ -yang diduga berijazah palsu.

Antonio Negri dan Michael Hardt dalam beberapa bukunya menekankan pentingnya ‘multitude’ dalam melawan ‘empire’. Tetapi apa yang bisa kita pelajari dari kiprah ‘multitude’ ini? Yaitu pada proses-prosesnya, bagaimana dalam ‘multitude’ ini akan melibatkan bermacam pihak, bermacam latar-belakang, bermacam ‘gaya bertarung’ dan lain-lainnya, tetapi ia seakan sepakat untuk menempatkan ‘empire’ sebagai ‘musuh bersama’-nya. Hari-hari ini kita lebih sering mendengar otokratik legalisme. Hal yangbisa juga dilihat sebagai yang lebih mengedepankan output, dan katakanlah tidak peduli akan input maupun proses. Pokoknya ada aturan atau undang-undang yang bisa dipakai untuk mendukung rejim. Maka melawan ‘empire’ yang bisa saja mengambil bentuk otokratik legalisme ini perlu lapangan bermain selain di ranah ‘output’, yaitu proses dan input. Apalagi jika memang titik bidik pertama adalah ‘prakondisi sosial’ sehingga perjuangan itu bisa menjadi perjuangan yang terdukung. Machiavelli pernah mengatakan bahwa “benteng yang terbaik yang perlu dibangun (oleh sik-empire, sik-otokrat legalisme), ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat”,[2] maka semestinyalah ‘energi kebencian’ itu ditujukan pada sik-‘empire’ sik-‘otokrat legalisme’. Bukannya ‘multitude’ malah saling benci … I Love you full*** (27-07-2026)

[1] Arnold J. Toynbee, Psikologi Perjumpaan Kebudayaan-kebudayaan, dalam, YB. Mangunwijaya, Teknologi dan Dampak Kebudayaannya, Vol. 1, Yayasan Obor Indonesia, cet-2, 1987, hlm. 84-85

[2] Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa, Penerbit Pustaka Gramedia, 1987, hlm. 90