2044. Land of Confusion, 40 Tahun Kemudian
08-08-2026
Land of Confusion, Genesis, 1986
https://www.youtube.com/watch?v=TlBIa8z_Mts
I must've dreamed a thousand dreams
Been haunted by a million screams
But I can hear the marching feet
They're moving into the street
Now did you read the news today?
They say the danger's gone away
But I can see the fires still alight
They're burning into the night
There's too many men, too many people
Making too many problems
And not much love to go 'round
Can't you see this is a land of confusion?
This is the world we live in (oh, oh, oh)
And these are the hands we're given (oh, oh, oh)
Use them and let's start trying (oh, oh, oh)
To make it a place worth living in
Oh, Superman, where are you now
When everything's gone wrong somehow?
The men of steel, the men of power
Are losing control by the hour
This is the time, this is the place
So we look for the future
But there's not much love to go 'round
Tell me why this is a land of confusion
This is the world we live in (oh, oh, oh)
And these are the hands we're given (oh, oh, oh)
Use them and let's start trying (oh, oh, oh)
To make it a place worth living in
I remember long ago
Oh, when the sun was shining
Yes, and the stars were bright all through the night
And the sound of your laughter as I held you tight
So long ago
I won't be coming home tonight
My generation will put it right
We're not just making promises
That we know we'll never keep
Too many men, there's too many people
Making too many problems
And not much love to go 'round
Can't you see this is a land of confusion?
Now this is the world we live in (oh, oh, oh)
And these are the hands we're given (oh, oh, oh)
Use them and let's start trying (oh, oh, oh)
To make it a place worth fighting for
This is the world we live in (oh, oh, oh)
And these are the names we're given (oh, oh, oh)
Stand up and let's start showing (oh, oh, oh)
Just where our lives are going to


2045. Korupsi Hama Semua Ideologi
08-08-2026
Dalam Fenomenologi, ada dua jenis ‘bagian-bagian’, pieces dan moments. Pieces adalah obyek yang bisa dihayati lepas dari keseluruhan, kadang disebut sebagai independent parts. Daun masih bisa kita hayati lepas dari pohonnya, misalnya. Sedangkan moments adalah bagian yang tidak bisa dilepas dari keseluruhan, kadang disebut juga sebagai non-independent parts. Contoh, meski kita bisa mendefinisikan warna merah panjang gelombangnya sekian, jika dicampur dengan warna ini akan menjadi warna itu, dst, tetapi kita bisa menghayati warna merah itu ketika menempel di kursi, pintu, atau sepeda, misalnya. Demikian juga ideologi, kita bisa merumuskan dan dipajang-dibingkai di dinding, atau ditulis di buku-buku, tetapi sebenarnya kita baru bisa menghayati ideologi hanya dalam perilaku, dalam kebijakan-kebijakan, misalnya. Artinya, ideologi ‘dalam praktek’. Dalam konteks inilah sebenarnya perilaku korup adalah hama dari semua ideologi, dalam semua spektrumnya.
Mengapa tidak korupsi seakan menjadi ‘syarat mutlak’ bagi pelaksanaan sebuah ideologi? Korupsi di sini tentu juga termasuk ketika kita bicara ‘konflik kepentingan’. Tidak korupsi adalah ‘latihan dasar’ tentang ‘tahu batas’ ketika ideologi masuk dalam prakteknya. Mengapa ideologi dalam praktek perlu syarat mutlak ‘tahu batas’? Karena imajinasi bisa begitu liarnya, dan untuk itu ia perlu dicek-ricek dengan imajinasi-imajinasi lain, atau dalam hal ini bisa saja kita bicara soal kritik-otokritik. Atau dicek lagi dengan realitas yang berkembang. Jika mengingat apa yang pernah dikatakan Machiavelli, soal merebut kuasa itu bisa berbeda dengan saat menggunakan kuasa, ada yang perlu diperhatikan. Ideologi bisa saja menjadi daya dorong untuk merebut kuasa, tetapi saat menggunakan kuasa atau katakanlah bobot ‘praktek’-nya menjadi semakin tebal, ia perlu virtu. Virtu yang dimaksud Machiavelli di sini adalah siap untuk menghadapi realitas yang berubah-ubah. Ada imajinasi yang perlu cek-ricek lagi pada realitas yang berkembang, realitas sebagai ‘batas baru’ dan ‘baru’ lagi karena terus berubah. Bahkan jika virtu kita hayati sebagai keutamaan-pun maka kita akan segera saja bertemu dengan ‘tahu batas’, karena keutamaan itu sendiri adalah soal ‘batas’ yang didekati dengan hal timbang-menimbang.
Atau lihat bagaimana Marx dengan susah-payah memberikan ‘batas-batas’ dimana semestinya ‘maksud baik’ (setiap ideologi pastilah mengklaim diri mempunyai ‘maksud baik’) itu dibangun, yaitu dengan memperhatikan relasi-relasi kekuatan produksi yang berkembang di ‘basis’. Jadi imajinasi tentang ‘maksud baik’ itu tidak dibiarkan liar berlari sendiri, dan akhirnya (terjerumus) masuk dalam situasi ‘utopia’ saja. Dari beberapa hal di atas bisa dilihat apa yang bisa menjadi senjata bagi yang tidak suka terhadap praktek ‘ideologi-ideologi-an’, pertama ‘senjata korupsi’ dan kedua dijerumuskan masuk dalam situasi ‘utopia’ saja.
Bahkan ideologi yang mendukung ‘korupsi’-pun ia tidak suka dengan korupsi. Yang dimaksud ‘korupsi’ di sini adalah korupsi ugal-ugalan terhadap ‘nilai lebih’ yang sebenarnya adalah hak dari kaum pekerja. Dan Adam Smith dalam Theory of Moral Sentiment edisi terakhir memperkenalkan istilah famous sect, sik-sekte agung yang lekat dengan pengetahuan dan penghayatan tentang ‘tahu batas’, tidak ikut-ikutan ‘korupsi’ atau bahkan ‘konflik kepentingan’. Apalagi dalam ideologi yang meminta supaya apa yang menjadi ‘nilai lebih’ milik pekerja itu dapat dipergunakan sebesar-besarnya bagi kaum pekerja. Menolak L'exploitation de l'homme par l'homme. Atau ‘nilai lebih’ negara untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan bangsa-warga negaranya. Yang selama ini menguasai kekayaan republik tentu akan mengadakan perlawanan mati-matian terhadap ini karena selama ini kekayaan republik adalah untuk kesejahteraan diri atau kelompoknya saja. Dan kita bisa belajar hari-hari ini, bagaimana efektifnya ‘senjata korupsi’ dan penjerumusan untuk masuk dalam mode utopia itu. Ketika amanat konstitusi yang kemudian seakan dihayati sebagai ideologi dalam praktek itu, mereka sik-perampok kekayaan republik sangat tahu senjata apa yang mesti digelar: ‘senjata korupsi’ dan ‘utopia’ seperti sudah disinggung di atas. Dijerumuskan, di-blondrok-é, dalam ‘hal-hal-besar-utopis’. Bahkan penghargaan nobel-nobel-anpun dilibatkan! Penjerumusan yang sudah sedemikian kasarnya. Dan alur cerita selanjutnya? Kita lihat ke depannya, bisa hari-hari ini, minggu-minggu depan, bulan-bulan depan. Situasi sudah berubah terus cuk, apa virtu-nya? Masih pecicilan tak tahu batas? Lihat sekitar, apakah selama ini ada kritik-otokritik? Atau yang di sekitar hanyalah penjilat saja? Penjilat yang sebenarnya sedang menyiapkan liang kubur bagi anda, cuk?
Bagaimana menghadapi para penjilat? Machiavelli pernah memberikan saran terkait menghadapi para penjilat ini, yaitu dengan meyakinkan pada khalayak bahwa siapa saja yang memberitahukan kebenaran (atau kritik) tidak akan dituding sedang menyerang dirinya. Dan bagaimana orang-orang sekitar anda justru berhasil membuat anda merasa yakin bahwa ketika dikritik, ketika kebenaran disampaikan, anda merasa sedang diserang? Orang-orang sekitar anda itu amatiran atau sedang menjerumuskan anda? Piyé cuk … Long Live Flattery! *** (08-08-2026)
2046. "Melawan" AI Dengan Tatap Muka (1)
09-08-2026
Yang dimaksud dengan judul adalah di rentang ‘pendidikan dasar’, atau kalau kita bicara perundangan, di rentang usia ‘wajib belajar’. Wajib belajar yang semestinya 100% merupakan tanggung jawab negara. Pendidikan dasar adalah pendidikan di rentang usia SD-SMP. Mengapa di beberapa negara dan semakin bertambah saja, ada yang melarang anak-anak usia katakanlah, di bawah 16 tahun, mengakses sosial media? Tentu ada alasan kuatnya, meski pertanyaan apakah larangan itu akan efektif atau tidak masih saja sah untuk diajukan. Tetapi apapun itu, negara telah melaksanakan salah satu tugasnya, tentu masih diminta juga bagaimana supaya larangan itu dari hari ke hari semakin berdampak. Apa kira-kira alasan kuatnya?
Kita hadir di dunia ini tidak hanya ‘terlempar begitu saja’, tetapi adalah juga kita hadir bersama ‘yang lain’. Tetapi ‘bersama dengan yang lain’ itu bukan hanya hal yang semestinya, peristiwa itu juga sebenarnya bisa menjadi latihan berkelanjutan untuk mengembangkan hal-hal etis. Karena relasi-relasi dengan yang lain itu adalah juga ‘relasi etis’. Dalam peristiwa face-to-face, yang lain itu seakan sedang mengatakan ‘jangan bunuh saya’, artinya kita dituntut juga ikut bertanggung-jawab terhadap ‘yang lain’ itu. Pelarangan anak-anak ber-sosial media dan juga selama di sekolah HP atau smart-phone itu masuk loker dulu, kira-kira maksudnya adalah soal membangun pondasi melalui pe-maksimal-an peristiwa tatap-muka selama jam sekolah. Membangun kekuatan ‘radar etis’ melalui segala yang dimungkinkan dalam peristiwa tatap-muka.
Mengapa ketika ditanya tentang faktor kunci kualitas pendidikan dasar petinggi pendidikan Finlandia itu menjawab dengan tegas: “Guru, guru, dan guru?” Dari teori mimetic-nya Rene Girard kita bisa melihat bahwa seorang menghasrati sesuatu karena meniru model yang juga menghasrati sesuatu itu. Anak adalah juga ‘peniru ulung’, maka guru terlebih di pendidikan dasar -bahkan sebenarnya pendidikan di semua jenjang, guru adalah juga model, yang akan ditiru oleh peserta didik. Maka tak mengherankan ketika men-dongeng di depan anak-anak, guru dengan sengaja membaca buku ceritanya di depan, misalnya. Ketika dulu ada kuliah Filsafat China, dosen yang lama di China untuk program S3-nya, bercerita bahwa pemerintah China sangat memperhatikan dongeng-dongeng untuk anak-anak. Tidak hanya soal kegembiraan di-dongeng-in, atau juga bagaimana pesan-pesan moral di dalamnya, tetapi seperti disinggung di atas, ketika guru sengaja membaca buku dongeng saat mendongeng itu ada banyak hal yang perlahan menyelusup di antara anak-anak, senangnya bisa membaca, gemar membaca, dan mendengarkan bahasanya. Gaya bicaranya. Bicara di depan banyak orang. Dan bagaimana jika suatu saat anak-anak bergantian membaca, bicara di depan dan teman-teman lainnya mendengarkan dengan ‘khidmat’ terus kemudian tepuk tangan memberikan apresiasinya?
Can the Subaltern Speak? Demikian esai terkenal Gayatri Spivak pada tahun 1988. Dan bukankah anak-anak dilihat dari segi apapun adalah juga subaltern? Maka bisa dibayangkan juga tugas utama guru terutama di rentang pendidikan SD adalah membuat siswa bicara dan berani bicara. Di sisi lain juga berani mendengar dan memberikan apresiasi ketika teman bicara. Melalui dongeng misalnya, banyak hal bisa menjadi terdukung. Ketika guru membacakan dongeng di depan murid, tidak hanya kegembiraan, tetapi juga soal grammar, logika, dan retorika tampil di depan murid. Tiga hal yang dalam pendidikan klasik disebut sebagai trivium. Dan saat itu guru tidak hanya sebagai pendongeng, tetapi juga ‘model’ yang akan ditiru murid.
Kelihatannya soal dongeng-mendongeng ini seakan ‘sepele’ saja, tetapi jika sepele mengapa China menaruh perhatian lebih terhadap dongeng-dongeng untuk anak-anaknya? Apakah anak-anak republik justru disesaki dongeng-dongeng yang tak jauh-jauh beda dengan ‘Kancil Mencuri Timun’? Ketika tulisan ini mulai dibuat, saya menemukan unggahan di YouTube terkait “Presiden minta buku ajar SD-SMA dievaluasi total.”[1] Melihat pengalaman dulu-dulu, hati-hatilah … jangan sampai ini terjebak dalam perburuan rente pengadaan buku ajar untuk seluruh siwa di republik … *** (09-08-2026)
2047. "Melawan" AI Dengan Tatap Muka (2)
09-08-2026
Apakah program evaluasi buku ajar SD-SMA yang digagas presiden akhirnya bernasib sama dengan MBG, KDMP? Sama dalam arti grusa-grusu dan akhirnya justru lekat dengan perburuan rente alias korupsi? Karena pendidikan pasti akan juga berarti ‘politik pendidikan’. ‘Maksud baik’ itu akhirnya justru bisa saja tenggelam-terjerumus dalam hiruk-pikuk tarik-menarik ‘penguasaan’. ‘Strategi dasar’ para perampok kekayaan republik itu selalu sama, pakem: tidak boleh ada pemimpin yang dekat dengan rakyat. Maka ada dua faktor dalam bahasan kali ini, sik-pemimpin dan rakyat. Pemimpin yang genuine dekat dengan rakyat ia akan terbuka terhadap rakyatnya. Yang tidak takut terhadap rakyatnya sendiri. Machiavelli dalam bahasannya tentang ‘benteng’ dan ‘bagaimana menghadapi penjilat’ paling tidak telah memberikan petunjuk. Bagaimana menghadapi penjilat dikatakan Machiavelli adalah dengan meyakinkan pada khalayak bahwa siapa saja yang memberitahukan kebenaran (atau kritik) tidak akan dituding sedang menyerang dirinya. Bagaimana kebenaran atau kritik disampaikan? Dengan bicara! Berani bicara.
Tak mengherankan jika Paulo Freire sekitar 50 tahun lalu sudah menyinggung soal ‘masyarakat bisu’. Sebuah bentuk masyarakat ‘idaman’ bagi perampok kekayaan republik. Maka beranikah keputusan politik memberi dukungan pendidikan yang memberikan ruang dan waktu bagi peserta didik melatih dan melatih diri untuk bicara, berani bicara? Mendengar, dan mau memberikan apresiasi pada temannya? Terus berkelanjutan sejak masuk SD sampai paling tidak selesai SMP? Dan sebaiknya juga, sampai tingkat SMA? Ruang dan waktu yang dijaga untuk tidak disapu atau menjadi mungkret oleh ‘hal-hal besar’ lain yang justru akan menjadi beban berat bagi anak-anak kita?
Jika mau memperbaiki pendidikan kita, terutama SD-SMA, jangan pakai kata-kata memperbaiki ‘buku ajar’ yang sangat rentan terhadap pengadaan buku ajar untuk jatuh dalam nuansa perburuan rente. Bisa ambyar semua. Ingat, ingat. Apa yang terjadi dalam program MBG dan KDMP itu. Mulailah dengan merasakan harta karun pembelajaran di era serba digital-internet ini. Apa itu? Tatap-muka! Bagaimana di pendidikan dasar yang merupakan wajib belajar itu peristiwa tatap-muka bisa diolah sedemikian rupa sehingga siswa didik menjadi lebih berani bicara, mendengar, memberikan apresiasi, dan perlahan dengan itu semua melatih diri dengan hal-hal etis. Tetapi ada yang ‘tersembunyi’ tekait dengan hal-hal tersebut, yaitu lebih dimungkinkan potensi anak untuk semakin (berani juga) menampakkan diri. Masing-masing anak itu unik, termasuk potensi yang dibawanya. Inilah sebenarnya beban utama atau berat bagi guru-guru di pendidikan dasar. Bagi negara-negara yang maju pendidikannya, justru guru-guru terbaiklah yang akan mengajar di pendidikan dasar.
Ingin memperbaiki pendidikan? Mulailah dengan pendidikan dasar, atau rentang waktu wajib belajar itu. Mulailah dengan bagaimana memperbaiki dongeng-dongeng anak-anak. Libatkan para ahli, termasuk praktisi pendongeng. Latih guru-guru paling tidak guru kelas 1-3 SD dulu, bagaimana mendongeng yang baik dan sungguh paham apa yang ingin dicapai dari dongeng itu. Jangan sekali-kali soal dongeng-mendongeng, soal melatih bicara kemudian dinilai dan menjadi ‘mata pelajaran baku’ yang menakutkan. Gembira-lah dalam mengikuti proses.
Selain pendekatan ‘verbal’, pendekatan ‘non-verbal’ perlu dikembangkan, bahasa tubuh yang diolah melalui bermacam permainan atau olah raga. Selain menyehatkan tubuh, permainan dalam bermacam bentuknya itu akan membantu anak dalam melatih ‘bahasa tubuh’ yang nantinya akan sangat berguna ketika ia membangun komunikasi dengan yang lain. Ingat, kita adalah juga sik homo ludens. Bermainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Dan jangan pula permainkan permainan, demikian pernah dikatakan oleh Driyarkara. *** (09-08-2026)
2048. Ketika Politik Menjadi Yang Primer
11-08-2026
Kalau bahasa lugasnya, politik sebagai panglima. Mungkin di jaman old kemudian digeser menjadi pembangunan sebagai panglima untuk mengkontraskan dengan jaman old-old. Tetapi apakah republik memang benar-benar pernah bergeser dari nuansa politik sebagai panglima atau the primacy of politics? Bergeser menjadi ekonomi sebagai panglima misalnya, yang mengusung self-regulating market itu? Nampaknya belum pernah. Yang namanya depolitisasi di jaman old itu sebenarnya juga adalah ‘politik sebagai kaisar’. Tetap politik sebagai panglima, hanya saja nuansa kuat di sekitar kekuasaan hasil dari dinamika politik itulah yang berbeda-beda. Apakah itu kaum kaum politisi, kaum teknokrat, keluarga-kroni-kroni, atau mafia.
Tiga-puluh enam tahun sebelum Karl Polanyi menerbitkan The Great Transformation (1944), Universitas Harvard membuka program MBA untuk pertamakalinya. Sebelumnya sudah ada sekolah bisnis, misalnya di Perancis se-abad sebelumnya. Kadang-kadang lulusan-lulusan sekolah bisnis ini disebut sebagai sik-visible hand, untuk nantinya akan masuk dalam dunia invisible hand-nya Adam Smith. Sembilan tahun setelah sekolah MBA di Harvard dibuka, Lenin dalam Revolusi Bolshevik memperkenalkan konsep partai pelopor dalam praktek, untuk memimpin perlawanan terhadap keganasan invisible hand waktu itu. Secara konseptual sendiri istilah ‘partai pelopor’ diperkenalkan Lenin pada tahun 1902. Peristiwa-peristiwa seperti inilah yang kemudian dipotret Karl Polanyi di tahun 1944 itu yang salah satunya muncul dalam gagasan double movement atau gerakan ganda. Gerakan ganda sebagai:“The one was the principle of economic liberalism, aiming at the establishment of a self-regulating market, relying on the support of trading classes, and using largely laissez-faire and free trade as its methods; the other was the principle of social protection aiming at the conservation of man and nature as well as productive organization, relying on the varying support of those most immediately affected by the deleterious action of the market –primarily, but not exclusively, the working and landed classes – and using protective legislation, restrictive associations, and other instruments of interventions as its method.[1] Yang pertama pasar yang sudah mengklaim diri sebagai self-regulating market itu semakin meloloskan diri dari negara, dis-embedded. Sedangkan gerakan kedua ingin pasar embedded lagi dengan masyarakat luas. Atau dalam pembedaan negara-pasar-masyarakat sipil, apakah itu sebenarnya adalah negara-masyarakat sipil dimana pasar adalah bagian dari masyarakat sipil? Harold J. Laski dalam The State in Theory and Practice (1923) telah memperingatkan bahwa ‘benturan’ dari aksi ambil untung dan adanya tuntutan peningkatan kesejahteraan dari kaum pekerja misalnya, bisa-bisa dilema itu akan diselesaikan dengan fasisme.
Paling tidak selama 150 tahun terakhir banyak pelajaran yang bisa diambil. Atau bagi republik, paling tidak ada banyak pelajaran penting di 50-60 tahun terakhir yang perlu diperhatikan hari-hari ini, yaitu hikayat semakin lemahnya kemampuan sik-‘panglima’ sehingga semakin mudah saja digeser atau dimainken oleh sik-‘sekitar’. Politik sebagai panglima itu semakin merosot saja kemampuannya. Apakah ini akibat dari lamanya masuk dalam nuansa de-politisasi di jaman old itu? Ataukah karena bau-bau feodalisme masih begitu kuat sehingga ketika bicara politik, atau tepatnya pimpinan politik itu seakan yang dibicarakan adalah seorang raja atau kaisar? Raja yang orang-orang sekitarnya selalu saja menunduk, entah itu takut atau sedang menjilat? Saran Machiavelli terkait dengan bagaimana menghadapi penjilat yaitu dengan meyakinkan pada khalayak bahwa siapa saja yang memberitahukan kebenaran (atau kritik) tidak akan dituding sedang menyerang dirinya, bisa dilihat juga Macgiavelli sedang menyarankan untuk mengikis feodalisme dalam dunia res-publika. Ada saran lain dari Machiavelli yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa memang bisa beda saat merebut kekuasaan dengan saat menggunakan kekuasaan. Saat menggunakan kekuasaan diperlukan adanya virtu, dalam hal ini adalah soal kesiapan untuk menghadapi situasi yang berubah-ubah. Virtu yang jelas bukan soal wangsit atau bergantung pada Dewi Fortuna. Maka hal di atas -bagaimana menghadapi penjilat, mestinya itu tidaklah hanya pura-pura dalam arti terus masuk mode mbudeg, tetapi sebaiknya juga mau mendengar. Karena berubahnya situasi itu bisa saja hal yang sebenarnya ingin khalayak kebanyakan beritahukan pada pemimpin.
Maka bagi, rapublik jalan yang sudah dan sedang ditapak adalah hikayat ‘orang-orang sekitar’ dan ‘orang-orang jauh’. Hikayat orang-orang sekitar adalah di sekitar kekuasaan, atau dalam hal ini juga lemahnya partai politik. Hikayat orang-orang jauh adalah soal oposisi, dalam bermacam bentuknya tetapi dalam hal ini yang lebih muncul dari masyarakat sipil. Oposisi yang lebih banyak sibuk justru untuk ‘dibunuh’ atau tidak didengar sama sekali. Mau bermimpi state capitalism atau lainnya, jika kedua hal itu tidak diperhatikan serius maka hasilnya akan sama saja. Sama rusak-rusakannya. Maka, mana yang akan dipilih untuk ‘orang-orang sekitar’, kaum teknokrat, politisi yang genuine, politisi karbitan, politisi cari makan, penjilat, atau tangan-tangan para mafia itu? Mau terus saja menudang-nuding aktivis sebagai antek asing dan sejenisnya, atau mbudeg terus, atau gimana? *** (11-08-2026)
[1] Karl Polanyi, The Great Transformation, Beacon Press, 2001, hlm. 138-139
