2039. Negara Dalam Komunikasi (3)

.03-08-2026

Kasus 4, Upacara 17 Agustus

Hannah Arendt membedakan dua aktifitas manusia, vita contemplativa dan vita activa. Vita activa terdiri dari kerja (labor), karya (work), dan tindakan (action), sedangkan vita contemplativa terdiri dari berpikir (thinking), berkehendak (willing), dan mempertimbangkan (judging). Sebagian besar hidup kita akan dijalani dalam vita activa. Politik menurut Arendt sebenarnya ada di ‘tindakan’ (action), dan jangan sekali-kali dihayati sebagai kerja (labor) yang lebih untuk memenuhi kebutuhan (biologis) dasar. Bisa repot sekali jika begitu. Tetapi bagaimana hidup jika tidak pernah masuk dalam ruang kontemplasi? Tidak pernah katakanlah ‘berhenti sebentar’ untuk melihat ulang dengan detail bahkan baru?

Upacara 17 Agustus sebenarnya adalah moment vita contemplativa bagi seluruh komponen bangsa, secara bersama-sama. Kita melihat kembali dengan khidmat apa-apa yang terjadi tidak hanya saat 17 Agustus 1945, tetapi juga sebelum-sebelumnya. Bagaimana moment itu diperjuangkan dengan taruhan nyawa oleh para pendahulu. Tidak hanya kita yang mempunyai moment seperti itu tetapi semua negara-bangsa akan mempunyai moment vita contemplativa bersama seperti itu. Tetapi bagaimana negara mengkomunikasikan moment ini? Atau tepatnya, bagaimana mengkomunikasikan moment vita contemplativa yang mestinya khidmat ini?

Sudah 12 tahun ini kita merasakan bahwa Upacara 17 Agustus di Istana Negara sono sebagai salah satu peristiwa penting vita contemplativa bangsa hadir dengan ditutup (langsung) dengan jogat-joget tidak karu-karuan di tempat sama dimana segala ke-khidmatan sebenarnya sudah dibangun. Lihat misalnya bagaimana Paskibraka itu dipersiapkan. Atau latihan-latihan serius dari Paduan Suara dan musiknya. Atau yang bertugas sebagai inspektur upacara, atau katakanlah ‘panitia’-nya. Apakah tidak boleh jogat-joget sebagai rasa syukur? Boleh-lah, tetapi di tempat upacara yang serba khidmat itu dan dipersiapkan ke-khidmat-annya dengan serius berbulan-bulan? Jangan-lah …, emang gak ada tempat lain?

Mengapa sebaiknya tidak begitu? Menurut Arnold. J. Toynbee dalam ‘hukum perjumpaan budaya-budaya’, sinar budaya dengan ‘nilai rendah’ akan lebih mudah menembus, tetapi sinar budaya dengan ‘nilai tinggi’ akan lebih sulit. Dan ‘bahasa tubuh’ dalam keberhasilan komunikasi itu akan sangat menentukan. Maka bisa dipastikan segala ke-khidmat-an itu akan segera saja hilang ditutup oleh jogat-joget tidak karu-karuan. Tidak akan ada yang akan tersisa dari vita contemplativa karena diterjang dengan brutal oleh jogat-joget berangasan itu yang kalau dimasukkan dalam kategori vita activa ia lebih masuk pada kategori kerja (labor) yang sebatas pada pemenuhan kebutuhan biologis. Dan apa sebenarnya ‘agenda tersembunyi’ dari jogat-joget berangasan itu? Ya ‘membunuh’ kemampuan vita kontemplativa itu, atau katakanlah membunuh kemampuan refleksi bangsa, kemampuan berpikir bangsa. Bangsa diarahkan kepada kesibukan pemenuhan kebutuhan biologis saja, bahkan termasuk nantinya juga politik, yang menurut Arendt sebenarnya masuk dalam tindakan (action). Dan lihat bagaimana politik sampai sekarang ini disesaki oleh ‘orang-orang yang sebatas cari makan’ dari dunia politik saja. Cari kekayaan dari politik. Kekayaan yang tidak habis tujuh turunan. Tidak hanya itu, perlahan res-publica itupun bergeser menjadi res-privata. Kehormatan perlahan melenyap, keberpikiran menipis, etika-pun melayang entah kemana, karena ‘pertanggung-jawaban publik’-pun semakin diingkari. Maka apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang enteng-enteng saja membilas dengan brutal sambil pecingas-pecingis-pecicilan ke-khidmat-an peringatan pada pendahulu-pendahulu yang sudah berkorban nyawa demi 17 Agustus 1945 itu? Sama sekali tidak ada!

Bahkan politik-pun menjadi ‘alergi’ pada karya (work), yang menurut Arendt dalam karya manusia mampu menghasilkan obyek, katakanlah ia bisa menjadi seorang homo faber. Atau dalam politik ranah negara, bisa dibayangkan sebagai kaum teknokrat. Mengapa alergi? Karena kemampuan teknokratis itu langsung atau tidak langsung akan mengganggu ugal-ugalan-nya kerja (labor) dalam menumpuk segala kekayaan dari republik. Padahal itupun belum cukup, seharusnya politik itu sebagai tindakan (action), dimana dengan itu manusia akan mengungkapkan kebebasannya. Dalam kebebasannya ia lebih dimungkinkan untuk menciptakan yang baru. Dan dengan kemajemukan yang ada di sekitar, yang baru itu ‘diciptakan bersama’ melalui komunikasi. Dalam politik sebagai tindakan, res-publika-pun akan terus dirawat. Maka jika ada juara-juara-an dalam menghancurkan soft power bangsa[1], ‘orang itu’ pasti tidak akan hanya masuk sebagai finalis pemimpin paling korup se-dunia, tetapi akan masuk juga sebagai finalis sik-perusak pondasi hidup bersama sebagai suatu bangsa. Demi segala kenikmatan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Bahkan negara-bangsanya sendiripun akan digadaikan juga. Dengan tanpa beban. Republik dihancurkan, dan kemana-mana yang digendong hanyalah kepentingan privatnya sendiri. Sekali lagi, tanpa kehormatan sama sekali. *** (03-08-2026)

[1] Tidak mengherankan saat dulu jualan Revolusi Mental, sambutan hangat datang dari berbagai pihak. Di bawah sadar banyak yang sudah gerah dengan adanya bermacam kebiasaan buruk yang tidak kunjung ‘selesai’ sebagai bangsa. Tetapi sama halnya dengan mobil esemka, revolusi mental juga akhirnya tipu-tipu saja. Bahkan modal sosial yang bisa menjadi pondasi bangunan soft power-pun diacak-acak, adu domba nampak dengan telanjangnya melalui peliharaan buzzerRp. Katakanlah, people’s confidence-pun diacak-acak pula. Mulai lempar-lempar bingkisan melalui jendela mobil yang berjalan pelan, sambil pecingas-pecingis. Intinya, terlalu banyak perilaku yang sebenarnya ditujukan menghancurkan ‘kepercayaan diri’ tetapi juga ke-martabat-an rakyat. Lihat misalnya bagaimana ketika bencana melanda, malah menjadi tempat citra diri dibangun. Berjalan sendirian dengan kamerawan yang selalu siap sedia. Kelakuan yang sunggu bangsat. Asal mangap, asal njeplak, asal usir , apmer-pamer kemewahan dari pejabat dan istri-suami-anak-anaknya, tujuannya adalah untuk melumpuhkan rakyat. ‘Sandera kasus’ tidak hanya menghancurkan penegakan hukum, tetapi juga sik-tersandera itu kemudian mau saja menjadi bagian dari pelemahan soft power bangsa. Belum lagi bagaimana dunia pendidikan dihancurkan pelan-pelan. Macam-macam rutenya. Belum lagi pelemahan KPK yang terus saja menerus pada pelemahan kelembagaan negara lainnya, dan akhirnya menjadikan ‘orang itu’ menjadi finalis pemimpin paling korup sedunia. ‘Jebakan utang’ terus saja justru dikembangkan dengan ugal-ugalan, sehingga misalnya PT Kereta Api yang sukses dikembangkan oleh Jonan itu harus jadi ngos-ngos-an karena ugal-ugalannya kereta api cepat. Juga kasus ijazah palsu dan anak haram konstitusi itu, jika ini tidak diselesaikan dengan ‘baik dan benar’ maka komplit-lah kehancuran soft power republik. Main raja-raja-an sampai hari ini juga tidak lepas bagaimana kekuatan soft power republik sedang diobok-obok, sedang diolok-olok. Tidak hanya soal bohong-bohongnya, tipu-tipunya, tetapi bagaimana uang kemudian dengan mudahnya menggerus harga diri rakyat. Digunakan terus, berulang dan berulang.