2039. Negara Dalam Komunikasi (3)
.03-08-2026
Kasus 4, Upacara 17 Agustus
Hannah Arendt membedakan dua aktifitas manusia, vita contemplativa dan vita activa. Vita activa terdiri dari kerja (labor), karya (work), dan tindakan (action), sedangkan vita contemplativa terdiri dari berpikir (thinking), berkehendak (willing), dan mempertimbangkan (judging). Sebagian besar hidup kita akan dijalani dalam vita activa. Politik menurut Arendt sebenarnya ada di ‘tindakan’ (action), dan jangan sekali-kali dihayati sebagai kerja (labor) yang lebih untuk memenuhi kebutuhan (biologis) dasar. Bisa repot sekali jika begitu. Tetapi bagaimana hidup jika tidak pernah masuk dalam ruang kontemplasi? Tidak pernah katakanlah ‘berhenti sebentar’ untuk melihat ulang dengan detail bahkan baru?
Upacara 17 Agustus sebenarnya adalah moment vita contemplativa bagi seluruh komponen bangsa, secara bersama-sama. Kita melihat kembali dengan khidmat apa-apa yang terjadi tidak hanya saat 17 Agustus 1945, tetapi juga sebelum-sebelumnya. Bagaimana moment itu diperjuangkan dengan taruhan nyawa oleh para pendahulu. Tidak hanya kita yang mempunyai moment seperti itu tetapi semua negara-bangsa akan mempunyai moment vita contemplativa bersama seperti itu. Tetapi bagaimana negara mengkomunikasikan moment ini? Atau tepatnya, bagaimana mengkomunikasikan moment vita contemplativa yang mestinya khidmat ini?
Sudah 12 tahun ini kita merasakan bahwa Upacara 17 Agustus di Istana Negara sono sebagai salah satu peristiwa penting vita contemplativa bangsa hadir dengan ditutup (langsung) dengan jogat-joget tidak karu-karuan di tempat sama dimana segala ke-khidmatan sebenarnya sudah dibangun. Lihat misalnya bagaimana Paskibraka itu dipersiapkan. Atau latihan-latihan serius dari Paduan Suara dan musiknya. Atau yang bertugas sebagai inspektur upacara, atau katakanlah ‘panitia’-nya. Apakah tidak boleh jogat-joget sebagai rasa syukur? Boleh-lah, tetapi di tempat upacara yang serba khidmat itu dan dipersiapkan ke-khidmat-annya dengan serius berbulan-bulan? Jangan-lah …, emang gak ada tempat lain?
Mengapa sebaiknya tidak begitu? Menurut Arnold. J. Toynbee dalam ‘hukum perjumpaan budaya-budaya’, sinar budaya dengan ‘nilai rendah’ akan lebih mudah menembus, tetapi sinar budaya dengan ‘nilai tinggi’ akan lebih sulit. Dan ‘bahasa tubuh’ dalam keberhasilan komunikasi itu akan sangat menentukan. Maka bisa dipastikan segala ke-khidmat-an itu akan segera saja hilang ditutup oleh jogat-joget tidak karu-karuan. Tidak akan ada yang akan tersisa dari vita contemplativa karena diterjang dengan brutal oleh jogat-joget berangasan itu yang kalau dimasukkan dalam kategori vita activa ia lebih masuk pada kategori kerja (labor) yang sebatas pada pemenuhan kebutuhan biologis. Dan apa sebenarnya ‘agenda tersembunyi’ dari jogat-joget berangasan itu? Ya ‘membunuh’ kemampuan vita kontemplativa itu, atau katakanlah membunuh kemampuan refleksi bangsa, kemampuan berpikir bangsa. Bangsa diarahkan kepada kesibukan pemenuhan kebutuhan biologis saja, bahkan termasuk nantinya juga politik, yang menurut Arendt sebenarnya masuk dalam tindakan (action). Dan lihat bagaimana politik sampai sekarang ini disesaki oleh ‘orang-orang yang sebatas cari makan’ dari dunia politik saja. Cari kekayaan dari politik. Kekayaan yang tidak habis tujuh turunan. Tidak hanya itu, perlahan res-publica itupun bergeser menjadi res-privata. Kehormatan perlahan melenyap, keberpikiran menipis, etika-pun melayang entah kemana, karena ‘pertanggung-jawaban publik’-pun semakin diingkari. Maka apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang enteng-enteng saja membilas dengan brutal sambil pecingas-pecingis-pecicilan ke-khidmat-an peringatan pada pendahulu-pendahulu yang sudah berkorban nyawa demi 17 Agustus 1945 itu? Sama sekali tidak ada!
Bahkan politik-pun menjadi ‘alergi’ pada karya (work), yang menurut Arendt dalam karya manusia mampu menghasilkan obyek, katakanlah ia bisa menjadi seorang homo faber. Atau dalam politik ranah negara, bisa dibayangkan sebagai kaum teknokrat. Mengapa alergi? Karena kemampuan teknokratis itu langsung atau tidak langsung akan mengganggu ugal-ugalan-nya kerja (labor) dalam menumpuk segala kekayaan dari republik. Padahal itupun belum cukup, seharusnya politik itu sebagai tindakan (action), dimana dengan itu manusia akan mengungkapkan kebebasannya. Dalam kebebasannya ia lebih dimungkinkan untuk menciptakan yang baru. Dan dengan kemajemukan yang ada di sekitar, yang baru itu ‘diciptakan bersama’ melalui komunikasi. Dalam politik sebagai tindakan, res-publika-pun akan terus dirawat. Maka jika ada juara-juara-an dalam menghancurkan soft power bangsa[1], ‘orang itu’ pasti tidak akan hanya masuk sebagai finalis pemimpin paling korup se-dunia, tetapi akan masuk juga sebagai finalis sik-perusak pondasi hidup bersama sebagai suatu bangsa. Demi segala kenikmatan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Bahkan negara-bangsanya sendiripun akan digadaikan juga. Dengan tanpa beban. Republik dihancurkan, dan kemana-mana yang digendong hanyalah kepentingan privatnya sendiri. Sekali lagi, tanpa kehormatan sama sekali. *** (03-08-2026)
[1] Tidak mengherankan saat dulu jualan Revolusi Mental, sambutan hangat datang dari berbagai pihak. Di bawah sadar banyak yang sudah gerah dengan adanya bermacam kebiasaan buruk yang tidak kunjung ‘selesai’ sebagai bangsa. Tetapi sama halnya dengan mobil esemka, revolusi mental juga akhirnya tipu-tipu saja. Bahkan modal sosial yang bisa menjadi pondasi bangunan soft power-pun diacak-acak, adu domba nampak dengan telanjangnya melalui peliharaan buzzerRp. Katakanlah, people’s confidence-pun diacak-acak pula. Mulai lempar-lempar bingkisan melalui jendela mobil yang berjalan pelan, sambil pecingas-pecingis. Intinya, terlalu banyak perilaku yang sebenarnya ditujukan menghancurkan ‘kepercayaan diri’ tetapi juga ke-martabat-an rakyat. Lihat misalnya bagaimana ketika bencana melanda, malah menjadi tempat citra diri dibangun. Berjalan sendirian dengan kamerawan yang selalu siap sedia. Kelakuan yang sunggu bangsat. Asal mangap, asal njeplak, asal usir , apmer-pamer kemewahan dari pejabat dan istri-suami-anak-anaknya, tujuannya adalah untuk melumpuhkan rakyat. ‘Sandera kasus’ tidak hanya menghancurkan penegakan hukum, tetapi juga sik-tersandera itu kemudian mau saja menjadi bagian dari pelemahan soft power bangsa. Belum lagi bagaimana dunia pendidikan dihancurkan pelan-pelan. Macam-macam rutenya. Belum lagi pelemahan KPK yang terus saja menerus pada pelemahan kelembagaan negara lainnya, dan akhirnya menjadikan ‘orang itu’ menjadi finalis pemimpin paling korup sedunia. ‘Jebakan utang’ terus saja justru dikembangkan dengan ugal-ugalan, sehingga misalnya PT Kereta Api yang sukses dikembangkan oleh Jonan itu harus jadi ngos-ngos-an karena ugal-ugalannya kereta api cepat. Juga kasus ijazah palsu dan anak haram konstitusi itu, jika ini tidak diselesaikan dengan ‘baik dan benar’ maka komplit-lah kehancuran soft power republik. Main raja-raja-an sampai hari ini juga tidak lepas bagaimana kekuatan soft power republik sedang diobok-obok, sedang diolok-olok. Tidak hanya soal bohong-bohongnya, tipu-tipunya, tetapi bagaimana uang kemudian dengan mudahnya menggerus harga diri rakyat. Digunakan terus, berulang dan berulang.
2040. Negara Dalam Komunikasi (4 -Bagian 1)
04-08-2026
Kasus 5, Partai Siluman I (i)
Bagian 1
“No matter how many parties run against one another in elections, and no matter who gets the most votes, a single party always wins. It is the Invisible Party of bureaucracy.”
(Alvin Toffler, Power Shift, 1990, hlm. 257)
“Remember the first rule of politics. The ballots don’t make the results, the counters make the results. The counters. Keep counting.”
(Film Gangs of New York, 2002)
Cerita dalam film Gangs of New York (2002) mengambil situasi New York di sekitar 10 tahun sebelum UU Agraria ditetapkan Belanda di Hindia Belanda pada tahun 1870, sebagai salah satu penampakan dari gelombang globalisasi pertama. Dalam hal politik, saat itu Amerika masih dalam pelaksanaan spoils system atau sistem patronase yang dimulai oleh presiden AS ke-7 Andrew Jackson pada tahun 1828. Tahun-tahun yang menjadi latar belakang film Gangs of New York itu bisa dikatakan ada pada memuncaknya tahun-tahun kegelisahan terkait segala dampak buruk dari spoils system, inkompetensi pejabat, inefisiensi, korupsi, nepotisme, dan sekitar-sekitarnya. Puncaknya adalah terbunuhnya presiden Amerika ke-20 James A. Garfield pada tahun 1881 karena ditembak salah seorang pencari kerja yang frustasi karena merasa terus saja terhalang tembok spoils system ini. Dua tahun kemudian pada tahun 1883 spoils system sepakat dihentikan. Pegawai-pegawai federal misalnya, tidak boleh diganti dengan sewenang-wenang oleh pemenang pemilu. Sistem meritokrasi tidak boleh diganggu oleh pemenang pemilu. Tidak lagi "to the victor belong the spoils".
Dari beberapa catatan, peralihan ini tidak mudah dan berjalan sampai berhasil bisa dikatakan mengambil waktu lebih dari 20 tahun. Tetapi apapun itu nampaknya pergeseran ini telah berhasil memberikan pondasi sehingga akhirnya Amerika menjadi sik-pax americana. Lihat misalnya, bagaimana yang bersentuhan dengan lembaga pengadilan diambil dari lulusan terbaik dari fakultas-fakultas hukum yang sudah mapan dalam jangka waktu lama. Atau lainnya, termasuk lembaga risetnya. Sekolah-sekolah bisnispun -sik-‘visible hand’, kemudian berkembang. Tentu nampaknya ini juga tidak lepas bagaimana ‘dua partai dominan’ itu bekerja sesuai dengan ideologi-nya masing-masing. Dalam perjalanannya, Partai Demokrat selalu akan mengambil posisi ‘lebih kiri’ dibanding Partai Republik, misalnya. Ada yang selalu siap ‘cuci piring’ ketika kapitalisme itu mengalami krisis, demikian bisa dibayangkan. Atau ada yang maunya pertumbuhan (Republik), di pihak lain ada yang ingin menekankan pemerataan. Ada yang maunya ngajak berkelahi saja kayak Trump, tetapi ada yang maunya lebih mengambil jalan diplomasi. Dan seterusnya.
Trump di akhir jabatan periode pertama sempat membuat keputusan untuk kembali ke spoils system, tetapi itu kemudian dianulir oleh Biden pada hari-hari pertama ia menjabat. Tetapi ketika Trump menang lagi, nuansa spoils system itu kembali dihidupkan Trump. Memang Trump sendiri secara terbuka mengatakan bahwa Andrew Jackson adalah salah satu presiden idolanya. Tak mengherankan untuk melegitimasi langkah di atas terus saja Trump bicara soal ‘shadow state’, yang ditudingnya banyak ada dalam jajaran birokrasi. Atau kalau memakai istilah Alvin Toffler di awal tulisan, ada ‘invisible party’ yang terus saja gentayangan. Tetapi semakin ke sini semakin nampak saja bahwa tudingan itu lebih didorong supaya ugal-ugalannya Trump itu tidak menghadapi banyak ‘halangan’ atau ‘pertimbangan’ dari jajaran birokrasi yang sudah terbangun lama melalui jalan meritokrasi itu.
Apa pelajaran dari hal-hal di atas dan yang terjadi sampai hari-hari ini? Apapun ‘prakondisi politis’ yang akan sangat berpengaruh dalam nations building, sebagai sebuah negara-bangsa ia perlu pelembagaan alat-alatnya. Bahkan ‘prakondisi teknis’ ini bisa menjadi penentu. Pendapat Platon tentang keadilan misalnya, keadilan akan mewujud ketika masing-masing melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Tentu akan banyak pendapat tentang keadilan setelah Platon, tetapi bagaimanapun juga pendapat Platon tentang keadilan ini bisa juga sebagai alarm deteksi dini terkait ketidak-adilan. Ketika masing-masing tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik, maka potensi munculnya ketidak-adilan-pun akan membesar. Nation building itu juga bisa terhayati sebagai institusionalisasi. Dalam perjalanan lahirnya ‘mitos’, pelembagaan adalah tahap sebelum mitos menjadi mitos. Sekedar untuk mengingatkan pentingnya apa itu ‘pelembagaan’. *** (04-08-2026)
2041. Negara Dalam Komunikasi (4 -Bagian 2)
05-08-2026
Kasus 5, Partai Siluman I (i)
Bagian 2
Bagaimana ‘komunitas terbayang’ terlembagakan? Menurut Alasdair MacIntyre, manusia adalah story-telling animal. Tetapi bagaimana story-telling disampaikan? Melalui bahasa. Maka analisis ‘komunitas terbayang’ yang disampaikan Ben Anderson dimulai dengan peristiwa diterjemahkannya Bible ke bahasa-bahasa ‘daerah’. Dengan itu maka proses lahirnya ‘negara-negara nasional’-pun mulai berkembang. Bahasa yang akrab dalam keseharian itu akhirnya terlibat intens dalam proses eksternalisasi, obyektifikasi, dan internalisasi yang perlahan melanjut pada proses pelembagaan atau institusionalisasi. Dalam banyak halnya, pelembagaan itu akhirnya menuntut ada pihak-pihak lain untuk membantu (proses) pelembagaan di atas. Misalnya dalam mitos akhirnya muncul lembaga tetua misalnya, yang berfungsi ‘khusus’ merawat mitos. Atau lembaga-lembaga negara seperti yang kita kenal sekarang ini, untuk merawat ‘cita-cita Proklamasi’. Merawat dan berdiri paling depan untuk mewujudkannya, dengan biaya-biaya yang sudah dikumpulkan dari pajak-pajak warga negara.
Maka seperti sudah disebut di Bagian-1, nations building dimana nations itu sebagai ‘komunitas terbayang’, peran lembaga-lembaga menjadi penting, baik itu lembaga negara maupun non-negara. Lembaga-lembaga yang akan merawat ‘mitos’ atau dalam hal ini cita-cita Proklamasi. Kalau melihat kutipan di awal Bagian-1, birokrasi sebagai ‘invisible party’ yang dikaitkan dengan proses pemilihan umum itu lebih ada pada soal outcome-nya. Setelah input-proses-output pemilihan selesai. Yang dimaksud outcome di sini adalah output yang sudah mulai terasa dampaknya.
Tetapi kutipan kedua dari salah satu dialog dalam Gangs of New York, adalah soal input-proses-output pemilihan. Nampak jelas pada scene pemilihan umumnya dalam film tersebut. Itulah mengapa ada ledekan bahwa soal siapa pemenang pemilihan umum di republik itu sudah diketahui bahkan sebelum pemilihan dimulai, karena bahkan sejak dari input sudah digarap. Tak jauh dari brutal-nya pemilihan abad-19 seperti digambarkan film Gang of New York itu. Oleh siapa? Katakanlah, Partai Siluman I. Bagaimana cara kerjanya?
Bisa dibayangkan paling tidak ada 3 ‘pemain’ dalam hal ini, bagian ‘viral’, bagian survei, dan partai siluman i. Dalam permainan ‘politik skandal’ kadang tidak penting skandal itu benar-benar terjadi atau tidak, atau terjadi tipis-tipis saja, atau bahkan sangat tebal, intinya ketika ‘meledak’ ada tujuan terukurnya. Terukur sesuai dengan apa yang kemudian dimainken di balik layar. Maka pemain pertama bagian ‘viral’ tugasnya memang tampil di depan publik minimal jadi pemberitaan, apapun caranya. Ini akan menjadi landasan bagi pemain kedua, surveiRp membangun narasi sesuai bayarannya. Tetapi siapa yang sebenarnya menjadi ‘axis mundi’ permainan? Ya pemain ketiga, partai siluman i itu. Partai siluman yang mempunyai cabang-cabang atau struktur sampai ‘akar rumput’. Anggotanya? Birokrasi di akar rumput, dan yang pegang senjata, pentungan, gas air mata sampai unit terkecilnya. Bagaimana mengendalikan birokrasi pada unit terkecil itu? Maka digelontorkan dana besar untuk setiap unit terkecil itu, atau katakanlah desa. Pengawasannya? Agak diperlonggar sehingga potensi terjebak pada dunia ‘sandera kasus’ akan meningkat. Siapa yang tidak akan tergoda dengan seliweran uang besar di depan mata? Jika dilihat dari jarak cukup jauh, sebenarnya tidak jauh berbeda dari logika atau rute jaman old. Intinya bagaimana memastikan siapa pemenang sebelum pemilihan, dan pemilihan itu sendiri akhirnya hanyalah kosmetik saja sehingga bisa disebut sebagai ‘negara demokrasi’. Masalahnya, berapa harga yang harus dibayar republik? Karena jelas ini akan berdampak secara langsung atau tidak langsung pada pengembangan lembaga-lembaga negara. Yang sudah dirasakan, akibat maunya terus berkuasa itu dapat dilihat bagaimana retak-hancurnya bermacam lembaga negara. Lembaga-lembaga negara yang semestinya adalah salah satu alat penting untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi akhirnya lebih untuk mengabdi pada cita-cita ‘orang itu’ dan keluarga serta kelompoknya untuk berkuasa terus. Untuk terus menguras kekayaan republik. Sebagai yang telah menghancurkan lembaga-lembaga negara, jelas ‘orang itu’ adalah pengkhianat republik. Lihat bagaimana apa yang disebut sebagai nations building itu tidak hanya compang-camping di sana-sini, tetapi sudah digadaikan untuk lebih mudah dikuasai oleh siapa saja yang mau mendukung ambisinya itu. Ia sama sekali tidak peduli apakah nantinya nations building itu justru akan terjerembab dalam situasi ‘jongos total’.[1] Lihat bagaimana rakyat sudah dilatih, dilatih, dan dilatih serta diperlakukan layaknya jongos, sementara ia sendiri sibuk main raja-raja-an supaya ‘bahasa tubuh’ itu ‘viral’ terus. *** (05-08-2026)
[1] https://www.pergerakankebangsaan.com/002-Cak-Nun-dan-Elysium/
2042. Demokrasi Mosaik
06-08-2026
Dalam Powershift (1990) Alvin Toffler menyinggung tentang ‘demokrasi mosaik’ yaitu untuk menjadi yang terpilih dalam demokrasi era Revolusi Informasi ini maka calon akan lebih banyak mendekati kelompok-kelompok berbeda. Ketika masyarakat sudah seperti mosaic jika dilihat dari aspirasi atau kepentingan yang diperjuangkan. Yang berbeda-beda. Tetapi bagaimana jika kita membacanya secara terbalik, dari pihak khalayak kebanyakan? Tahun 2000 Antonio Negri dan Michael Hardt menerbitkan Empire, dan kemudian buku lainnya yang banyak menyinggung tentang multitude dimana ia berdiri sebagai lawan dari Empire.
Tetapi ketika Powershift terbit, internet masih sangat terbatas, bahkan www-pun baru ada setahun kemudian. Apalagi sosial media. Facebook baru diperkenalkan 14 tahun kemudian, kemudian sosial media lainnya menyusul. Tetapi lihat misalnya, Facebook yang baru berusia 12 tahun itu sudah berperan penting dalam Skandal Cambridge Analytica. Dengan bocornya data sekitar 80 juta pengguna Facebook maka dibuatlah ‘profil psikologi’-nya dan kemudian dikelompok-kelompokkan dan dikirimkanlah pesan-pesan yang sudah disesuaikan dengan masing-masing (kelompok) psikologisnya. Semua itu dengan algoritma tertentu, dan itu dilakukan untuk kemenangan Donald Trump di tahun 2016. Hal yang sama dilakukan ketika referendum Brexit diadakan di Inggris di tahun sama. Saat itu AI belumlah semaju seperti sekarang ini. Artinya adalah, ke-mosaik-an masyarakat itu ternyata bisa diakali oleh kemajuan teknologi dalam rentang waktu tertentunya. Istilah echo chamber yang mulai dikenal tahun 2001 itu sedikit banyak menginspirasi (pengembangan algoritma dalam) Skandal Cambridge Analytica di atas. Dan nampaknya inilah salah satu pertimbangan mengapa sosial media dilarang bagi anak-anak di beberapa negara. Anak-anak yang kemudian ‘dikurung’ oleh algoritma tertentu sehingga potensi berkembangnya menjadi terhambat. Atau karena masih muda-sedikit-pengalaman, bisa-bisa dimakan mentah-mentah oleh algoritma.
Di sisi lain, Revolusi Informasi yang membuat banjir informasi tidak hanya dalam jumlah, isi, tetapi juga seakan cepat silih-berganti membuat apa yang disebut sebagai ‘logika waktu pendek’-pun kemudian merebak. Hampir 20 tahun lalu, Haryatmoko melalui Etika Komunikasi (2007) sudah membahas tentang hal ini, terutama dikaitkan dengan ‘nasib’ media massa dimana ia harus berjibaku dalam situasi ‘logika waktu pendek’ ini. Apa yang dipertaruhkan dalam ‘logika waktu pendek’ ini? Salah satunya adalah ‘kedalaman’. Tak mengherankan tiba-tiba saja terbit buku yang menarik perhatian, The Death of Expertise (2017). Lalu bagaimana nasib masyarakat sebagai ‘masyarakat pembelajar’? Selain hal-hal di atas, ‘masyarakat pembelajar’ juga menghadapi tantangan lain yaitu yang sering disebut sebagai era post-truth. Era yang lebih mengaduk-aduk emosi dan kepercayaan dari pada kebenaran yang ‘obyektif’. Seakan berkebalikan dengan apa yang diperingatkan Husserl dalam The Crisis of European Sciences (1930) dimana dikatakan bahwa terjadi krisis karena melupakan hal subyektif rasa-merasa dan kemudian meng-klaim bahwa satu-satunya yang ‘obyektif’ adalah yang serba terukur.
Tetapi apapun itu, selalu ada prinsip dalam pembelajaran, ‘repetitio est mater studiorum’, pengulangan adalah ibu dari pembelajaran. Ketika A mirip dengan B, dan C mirip dengan A, dst, maka bisa saja kemudian disimpulkan bahwa A, B, C adalah sama. Sebelum sampai pada kesimpulan tersebut maka imajinasi akan terlibat. Tetapi imajinasi bisa begitu liarnya, sehingga ia perlu dicek-ricek dengan imajinasi-imajinasi lain. Atau kembali ke sesuatunya lagi dan dilihat dari bermacam aspek, profil, sudutnya, misalnya. Dengan apa hal di atas menjadi lebih dimungkinkan? Dengan bahasa. Maka pada titik inilah salah satu ‘strategi’ bagaimana multitude yang dibangun bersama dari bermacam ‘latar belakang’ itu dapat perlahan dibangun. Atau perlahan ‘dihancurkan’.
Pelajaran dari kasus ijazah palsu di ruang-ruang publik adalah bagaimana kata-kata kasar komplit dengan segala ‘bahasa tubuh’ dan intonasinya, begitu lekat dengan yang membela ijazah palsu itu. Ini bukan sekedar dari sononya orang-orang itu punya karakter demikian, tetapi jelas itu by design. Termasuk juga gaya saat diskusi tentang Koperasi Desa, atau lihat bagaimana gaya Ngabalin itu hadir di ruang-ruang publik beberapa tahun silam. Dan akhir-akhir ini hadir lagi. Maka pelajarannya adalah, jangan pernah menggunakan kata-kata ‘yang mengganggu’ secara ‘horisontal’ supaya apa yang menjadi modal dasar multitude itu tetap ‘terjaga’, yaitu: bahasa. Untuk tidak terjebak dalam ‘permainan emosi’ terlebih terhadap ‘rekan seperjuangan’ atau rekan-rekan lain dari kelompok-kelompok lain, dan sedapat mungkin retorika-nya jangan pernah lepas dari grammar yang benar dan terlebih lagi, dengan logika yang kuat. Jika perlu dikuatkan dengan ‘angka-angka’ yang tak terbantahkan. Hal-hal ini akan lekat jika kita bicara tentang ‘pendidikan klasik’ yang terdiri dari trivium (tentang bahasa) dan quadrivium (tentang angka) itu. Pendidikan yang akan memberikan dasar-dasar untuk menjadi bebas, untuk menjadi tuan dan puan menurut istilah Mangunwijaya. Pembelajaran yang jelas menolak untuk menjadi jongos. Atau kalau kita melihat pendahulu-pendahulu kita doeloe itu, rata-rata mereka mempunyai pengetahuan di atas rata-rata, serta kemampuan retorika yang mumpuni. Keberanian dan stamina tinggi untuk mengulang, mengulang, dan mengulang bermacam hal yang mencerdaskan rakyatnya. *** (06-08-2026)
2043. Siapa Diuntungkan Dg Komunikasi Seperti Itu?
07-08-2026
Dalam usia 34 tahun Harold Lasswell (1902 – 1978) menerbitkan buku Politics: Who Gets What, When, How (1936). Definisi politik dari kelompok realisme-pun mendapat tambahan pengertiannya. Duabelas tahun kemudian setelah Perang Dunia II berakhir, Lasswell mengembangkan pengertian politik di atas dalam menganalisa komunikasi, ‘Who?’, ‘Says What?’, ‘In What Channel?’. ‘To Whom?’, dan ‘With What Effect?’. Apapun itu, dalam politik komunikasi dibangun pastilah lekat dengan who gets what, when, how, paling tidak itu dari ‘mazhab’ realisme politik. Tentang bagaimana komunikasi itu berhasil akan sangat dipengaruhi oleh isi komunikasi, intonasi, dan bahasa tubuh. Apa yang ada dalam komunikasi? Sebagian besarnya adalah informasi, yang bisa kita bayangkan pula sebagai in-formatio, ‘yang membentuk’. Maka pertanyaannya, demi who gets what, when, how akan dibangun komunikasi seperti apa sehingga akan ‘membentuk’ terutama khalayak kebanyakan? Studi terkait relasi bahasa dan kuasa telah luas dibahas, bahkan dalam novel 1984 karya George Orwell (terbit pertama kali tahun 1949, empat tahun setelah PD II dan Nazi-Hitler berakhir) digambarkan bagaimana newspeak berperan penting dalam pengendalian yang banyak.
Tetapi ada tambahan analisa yang mungkin saja bisa membantu, yaitu apakah komunikasi dalam politik itu ada dalam tahap mitis, ontologis, atau fungsionil[1] jika memakai pembedaan Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan. Semua sebenarnya ada dalam perjalanan hidup, dan bukan berarti yang satu lebih tinggi dibanding tahap lain. Bagai seorang pelukis dengan tahap berbeda maka obyek yang sama akan dilukis secara berbeda, sesuai dengan penekanan tahap apa yang sedang ‘menguasai’-nya. Tetapi terkait dengan gejolak hasrat akan kuasa, ‘modus bablasan’ dari ketiga tahap itu bisa-bisa akan ‘menguasai’ dalam ‘lukisan’ komunikasi. Sepuluh tahun rejim sebelum ini sangat terasa komunikasi rejim lebih dibangun dalam modus bablasannya, tahap mitis berubah total menjadi tahap magis, maunya komunikasi akan membentuk sebuah ‘kurungan’ total bagi rakyat, sihir total. Tahap ontologis -yang semestinya upaya menyingkap hal-hal mendasar, berubah jadi modus bablasannya, eskapisme, atau dalam bahasa rentang waktu itu: ngibul, ngibul, dan ngibul. Sedangkan tahap fungsionil -katakanlah ada aksi-refleksi, bablas menjadi operasionalisme, pragmatism ugal-ugalan, tanpa ada perdebatan atau refleksi sedikitpun. Mbudeg. Jika itu semua digabungkan bisa dikatakan sebagai sebuah propaganda total.
Dalam banyak halnya, propaganda tidaklah hanya soal sihir, tetapi juga bisa sekaligus adalah sebuah tirai tebal. Tirai tebal yang menyembunyikan who gets what, when, how yang sebenarnya. Dengan Alegori Gua-nya Platon akan membantu menjelaskan. Ada beberapa orang diikat dalam gua dan menghadap dinding gua. Di belakangnya ada perapian, dan di antara api perapian dan orang-orang terikat itu lalu-lalang orang lain, kadang bawa tempayan di atas kepala, atau lainnya. Maka bayangan dari orang lalu-lalang itu jatuh di dinding dan itulah yang terus-menerus dilihat orang-orang terikat itu. Dan itulah pula yang kemudian diyakini sebagai realitas. Syahdan, ada yang berhasil melepas ikatan dan berpaling, berdiri, terus beranjak keluar gua. Dan langsung sinar matahari menyergap matanya, silau, dan bahkan menyakitkan. Tetapi ia terus melawan dan akhirnya ia melihat realitas lain selain ‘realitas’ bayang-bayang di tembok. Kemudian ia masuk gua lagi untuk memberitahulan rekan-rekannya yang masih terikat tentang realitas di luar gua. Tapi sayangnya banyak yang justru melawannya, mungkin sudah terlalu enak atau cukup melihat bayang-bayang saja.
Itulah sebenarnya nuansa komunikasi rejim terdahulu, penuh tipu, yang outcome-nya adalah untuk ‘mengurung’ khalayak kebanyakan untuk tetap ‘bodoh’. Hal-hal mendasar yang mestinya disingkap dalam tahap ontologis selalu saja dihadapi dengan ngibul, dan ngibul. Bagaimana dengan rejim sesudahnya? Rejim sekarang ini? Yang maunya ingin menyingkap siapa sebenarnya di balik tirai, yang ber- who gets what, when, how selama ini secara ugal-ugalan? Tetapi di satu sisi sedang masuk juga dalam kutukan matahari kembar? Dengan orang-orang ‘lama’ dalam hal komunikasi masih bercokol dengan kuatnya? Dimana ‘yang ontologis’ itupun akhirnya menerus jatuh pula dalam ‘operasionalisme’? Hal teknis yang kemudian amburadul dan terus saja mengandalkan sihir propaganda untuk menutupinya? Ujungnya? Akhirnya masalah ‘tirai tebal’ itupun kembali berulang. Dulu Pancasila pernah menjadi tirai tebal, sekarang ‘hal-hal konstitusional’ kemudian jatuh pada fungsi tirai tebal juga? Maka tak heran jika ada usulan untuk ‘mengatur ulang’ orang-orang sekitar istana, termasuk yang mendisain bagaimana komunikasi itu mesti dibangun. Pecat itu semua. *** (07-08-2026)
[1] Dalam Fenomenologi, mitis-ontologis-fungsionil bisa dibayangkan terkait dengan ‘temporalitas’, tahap mitis akan lekat dengan ‘internal time-consciousness’, tahap ontologis dengan ‘internal time’ atau waktu subyektif, sedangkan tahap fungsionil dengan ‘external time’ atau waktu obyektif.
