29-07-2026
Yang dimaksud dengan memilih di sini bukanlah memilih dalam peristiwa pemilihan umum, tetapi anak tidak bisa memilih dimana ia akan dilahirkan. Seakan ia terlempar begitu saja dalam suatu tempat dengan kondisi tertentu, apapun itu. Bagi beberapa pihak, persoalan anak ini berarti juga sebuah tanggung jawab untuk menyediakan kondisi-kondisi yang baik dimanapun anak akan dilahirkan. Saat terlempar-dilahirkan dan ketika menapak jalan hidupnya.
Maka ada yang begitu perhatian jika ada pemimpin memakai ijazah palsu untuk naik ke puncak kekuasaan. Dalam bayangannya, tidak hanya itu akan menjadi contoh buruk bagi bagi anak-anak yang terlempar di republik, tetapi itu adalah awal dari rusak-rusakan yang bisa saja sungguh tidak bertepi. Bagi yang tahu bahwa ijazah itu palsu maka itu bisa membuat dirinya minta bermacam hal. Baik dalam hikayat sandera kasus atau tawaran-tawaran perlindungan. Akibatnya? Bisa-bisa penyalahgunaan wewenang bisa berlangsung ugal-ugalan, dan korupsi-pun akan berkembang dalam jumlah fantastis. Tak terkendali. Akhirnya setiap anak yang terlempar dalam republik akan menghadapi suasana republik yang tidak hanya rusak-rusakan, tetapi terus saja dalam bayang-bayang kemiskinan yang tidak pernah berkurang. Bahkan bisa-bisa mendadak bertambah miskin karena tiba-tiba saja krisis sudah menerjang. Atau ada yang begitu perhatian ketika ada pemimpin yang meng-otak-atik peraturan-perundangan demi dapat naik ke puncak kekuasaan. Bahkan hanya untuk dikatakan bahwa ia telah lulus SMA. Kekhawatiran sama-pun seakan berulang dan banyak yang kemudian merasa bahwa kerusakan-kerusakan sudah seperti ‘perlombaan menuju dasar’, menuju suasana chaotic yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Anak haram konstitusi itu kemudian menjadi sosok penuh tipu yang akan menghancurkan republik, tempat dari sebagian anak-anak di planet ini akan terlempar di dalamnya.
Atau juga banyak yang menampakkan kegundahan ketika pemimpin tertinggi bicara di depan publik seakan dunia itu miliknya sendiri. Genderang waktu seakan hanya miliknya sendiri sehingga suka-suka dia mau ditabuh seperti apa. Begitu mudah kata-kata kasar keluar dari mulut, begitu mudah kata-kata yang menyudutkan pihak lain keluar dengan mudahnya. Hal-hal besar seakan bukan sebagai tantangan yang semestinya berjarak untuk dapat dibayangkan langkah-langkah taktisnya, tetapi justru ia tenggelam di dalamnya. Dan yang kemudian mengkritik bermacam langkah taktis-teknisnya, ia merasa sedang diserang segala maksud baik-nya. Keter-tenggelam-annya sudah sangat akut sampai-sampai ia ‘tidak sadar’ sedang dimainken oleh banyak pihak.
Republik seakan sedang dihantam oleh dua kutukan, kutukan sumber daya dan kutukan matahari kembar. Semakin rusak-rusakan. Dalam dunia binatang, ketika anak dilahirkan maka komunitasnyapun akan serta-merta melindungi si-anak, dengan cara-cara khas mereka. Dengan segala cara. Demikian juga manusia, tidak akan jauh beda sebenarnya, dengan cara-cara khas manusia juga. Yang pilihannya bisa beragam, dari yang paling ‘lunak’ sampai pada perang saudara jika diperlukan. Untuk masa depan anak-anak banyak manusia mau melakukan apa saja, tidak hanya petinggi yang punya power tetapi juga khalayak kebanyakan yang (hanya) punya semangat. *** (29-07-2026)