2034. Karena Anak Tidak Bisa Memilih

29-07-2026

Yang dimaksud dengan memilih di sini bukanlah memilih dalam peristiwa pemilihan umum, tetapi anak tidak bisa memilih dimana ia akan dilahirkan. Seakan ia terlempar begitu saja dalam suatu tempat dengan kondisi tertentu, apapun itu. Bagi beberapa pihak, persoalan anak ini berarti juga sebuah tanggung jawab untuk menyediakan kondisi-kondisi yang baik dimanapun anak akan dilahirkan. Saat terlempar-dilahirkan dan ketika menapak jalan hidupnya.

Maka ada yang begitu perhatian jika ada pemimpin memakai ijazah palsu untuk naik ke puncak kekuasaan. Dalam bayangannya, tidak hanya itu akan menjadi contoh buruk bagi bagi anak-anak yang terlempar di republik, tetapi itu adalah awal dari rusak-rusakan yang bisa saja sungguh tidak bertepi. Bagi yang tahu bahwa ijazah itu palsu maka itu bisa membuat dirinya minta bermacam hal. Baik dalam hikayat sandera kasus atau tawaran-tawaran perlindungan. Akibatnya? Bisa-bisa penyalahgunaan wewenang bisa berlangsung ugal-ugalan, dan korupsi-pun akan berkembang dalam jumlah fantastis. Tak terkendali. Akhirnya setiap anak yang terlempar dalam republik akan menghadapi suasana republik yang tidak hanya rusak-rusakan, tetapi terus saja dalam bayang-bayang kemiskinan yang tidak pernah berkurang. Bahkan bisa-bisa mendadak bertambah miskin karena tiba-tiba saja krisis sudah menerjang. Atau ada yang begitu perhatian ketika ada pemimpin yang meng-otak-atik peraturan-perundangan demi dapat naik ke puncak kekuasaan. Bahkan hanya untuk dikatakan bahwa ia telah lulus SMA. Kekhawatiran sama-pun seakan berulang dan banyak yang kemudian merasa bahwa kerusakan-kerusakan sudah seperti ‘perlombaan menuju dasar’, menuju suasana chaotic yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Anak haram konstitusi itu kemudian menjadi sosok penuh tipu yang akan menghancurkan republik, tempat dari sebagian anak-anak di planet ini akan terlempar di dalamnya.

Atau juga banyak yang menampakkan kegundahan ketika pemimpin tertinggi bicara di depan publik seakan dunia itu miliknya sendiri. Genderang waktu seakan hanya miliknya sendiri sehingga suka-suka dia mau ditabuh seperti apa. Begitu mudah kata-kata kasar keluar dari mulut, begitu mudah kata-kata yang menyudutkan pihak lain keluar dengan mudahnya. Hal-hal besar seakan bukan sebagai tantangan yang semestinya berjarak untuk dapat dibayangkan langkah-langkah taktisnya, tetapi justru ia tenggelam di dalamnya. Dan yang kemudian mengkritik bermacam langkah taktis-teknisnya, ia merasa sedang diserang segala maksud baik-nya. Keter-tenggelam-annya sudah sangat akut sampai-sampai ia ‘tidak sadar’ sedang dimainken oleh banyak pihak.

Republik seakan sedang dihantam oleh dua kutukan, kutukan sumber daya dan kutukan matahari kembar. Semakin rusak-rusakan. Dalam dunia binatang, ketika anak dilahirkan maka komunitasnyapun akan serta-merta melindungi si-anak, dengan cara-cara khas mereka. Dengan segala cara. Demikian juga manusia, tidak akan jauh beda sebenarnya, dengan cara-cara khas manusia juga. Yang pilihannya bisa beragam, dari yang paling ‘lunak’ sampai pada perang saudara jika diperlukan. Untuk masa depan anak-anak banyak manusia mau melakukan apa saja, tidak hanya petinggi yang punya power tetapi juga khalayak kebanyakan yang (hanya) punya semangat. *** (29-07-2026)

2035. Tidak Hanya Berhenti Pada Korupsi

30-07-2026

Korupsi memang akan menghancurkan sebuah bangsa. Tetapi hari-hari ini, dan sebenarnya semakin nampak dari waktu ke waktu, tidak hanya korupsinya itu sendiri yang menghancurkan tetapi segala upaya untuk menutupi bahkan melanjutkan. Menurut Thomas Hobbes dalam Leviathan pada bagian pertama: Of Man (tentang ‘manusia apa adanya), hasrat akan kuasa itu tidak hanya akan dibawa sampai ajal menjemput, tetapi juga untuk melindungi apa-apa yang sudah di tangan. Untuk melindungi apa-apa yang sudah dinikmati dari segala laku korup itu. Ketika kuasa di tangan tidak hanya soal potensi ‘absolute corrupt’ menjadi korupsi ugal-ugalan, tetapi kekuasaan itu kemudian di-rancang bangun supaya mau dan mampu melindungi hasil-hasil korupsi. Inilah yang hari-hari ini semakin nampak daya rusaknya seakan mengalami percepatannya. Bukan ‘kematian’ republik yang terhayati sebagai potensi di tengah gejolak ke-tidak pastian, tetapi ‘kematian’ kenikmatan diri dan kelompoknyalah yang pertama-tama muncul. Semakin nampak bahwa republik sekedar alat saja, alat untuk menumpuk segala kenikmatan. Alat untuk melindungi segala kenikmatan yang sudah di tangan.

Benteng pertama untuk melindungi korupsi dan terutama segala kenikmatan yang sudah di tangan dibangun dengan pondasi ti-ji ti-bèh, tibo-siji tibo-kabèh, jatuh satu jatuh semua. Maka tidak hanya soal bagi-bagai lapak korupsi, tetapi juga bagaimana KPK dilemahkan. Lemah untuk melaksanakan tugas kewajibannya, tetapi kuat sebagai alat ancaman dalam hikayat ‘sandera kasus’. Maka berkembanglah ‘jaringan-koruptor’, atau ‘jaringan-penikmat-hasil-korupsi’ yang satu sama lain sudah paham untuk saling melindungi. Jika memakai pembedaan tipe oligarki Jeffrey Winters maka saat korupsi berlangsung, logika ‘oligarki-penguasa-kolektif’-lah yang berjalan. Tetapi ketika melindungi segala kenikmatan yang sudah di tangan, logika ‘oligarki-sultanistik’ berjalan.

Maka pondasi ti-ji ti-bèh ini akan sangat peka ketika nuansa ‘sultanistik’ terancam. Atau muncul potensi lain untuk menggantikan sik-‘sultan’. Tidak mengherankan jika istilah cawé-cawé-pun menyeruak ke permukaan, atau bahkan istilah ‘matahari kembar’. Komplit dengan segala konsekensinya. Sik-matahari-legal punya mimpi-mimpi, tetapi sik-matahari-cawé-cawé tujuannya terutama adalah bagaimana melindungi segala kenikmatan yang sudah di tangan. Bahkan jika bisa, menambahnya. Yang terjadi adalah bisa dilihat dengan mata telanjang bagaimana hancurnya lembaga-lembaga negara. Tidak hanya seakan sedang mengabdi pada ‘dua tuan’ tetapi juga mulai lupa apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya. Lupa bahwa republik-lah yang semestinya ada dalam hatinya. Lupa bahwa adanya lembaga-lembaga itu satu bentuk dari kesepakatan-kesepakatan demi semakin terwujudnya ‘tertib-tatanan’. Hancurnya lembaga-lembaga negara itu juga menggambarkan hancurnya Proklamasi yang sudah diperjuangkan dengan taruhan nyawa para pendahulu. Bagaimana tidak, karena lembaga-lembaga negara itu adalah salah satu alat penting untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi! Dan sekarang dengan tanpa beban telah diubah demi untuk melindungi diri dan kelompoknya saja. Bangsat-lah …

Hancurnya lembaga-lembaga itu sebenarnya menggambarkan bahwa pendapat Hobbes di awal tulisan yang ada di bagian pertama dari Leviathan, Of Man, ‘manusia apa adanya’ itu semestinya dilanjutkan dengan membangun kesepakatan-kesepakatan. Tetapi kesepakatan-kesepakatan itu secara telak dipinggirkan atau diotak-atik dengan semau-maunya demi membangun benteng perlindungan segala kenikmatan yang sudah di tangan. Intinya, hidup bersama serasa sedang menuju apa yang dibayangkan Hobbes sebagai state of nature, situasi alamiah ‘apa adanya’ yang ‘kacau balau’, yang kuatlah yang menang, layaknya sedang hidup di hutan rimba saja. Hilangnya kehormatan di republik sebenarnya salah satu penampakan saja bahwa yang dinamakan ‘elit-elit’ itu semakin telanjang saja. Hanya hasrat saja yang ada dalam dirinya, ego dan super-ego telah melenyap entah dimana. *** (30-07-2026)

2036. Ora Olèh Keplok

31-07-2026

Soré nang cakruké Nyah Ndut dadi gayeng. Totok crito ngalor-ngidul soal awan mau mèlu acara nang Balé Déso. Peresmian jalur odong-odong anyar sing dipisah karo dalan utama tengah Déso. Jalur seneng-seneng mau kuwi diresmèké Pak Pé.

Totok: “Wah sikil dadi kemeng Lik …”

Likwan: “Lho opo ora ono kursi?” Likwan penasaran.

Totok: “Ora Lik. Kabèh hadirin ngadeg, bentuk U …”

Cuk Bowo: “Koyo upacara kaé Tok?”

Totok: “Hè’èh Cuk …”

Nyah Ndut nimbrung: “Aku ngrungoké siaran langsung nang radio Tok …, kok kadingarèn ora ono sing keplok pas Pak Pé pidato …”

Totok: “Pancèn ora olèh keplok Nyah … Sak durungé mulai acara lan mulai mlebu nang Balé Déso, wis dikandani bisik-bisik nèk ngko ora olèh keplok nganti Pak Pé rampung pidato …”

Kang Yos penasaran, sajak ora percoyo: “Ngono yo Tok …”

Totok setengah njengat: “Hè’èh Kang … Tenan kuwi …”

Koh Bos: “Iyo percoyo Tok …”

Cak Babo njelaské: “Kuwi ora olèh keplok bèn Pak Pé ora dadi ndlèwèr pidatoné Tok …”

Totok: “Kan wis nganggo naskah pidato Cak … Tinggal baca, selesai …”

Mas Amir: “Keplok nggéndong lali Tok …”

Likwan: “Nèk wis dikeploki pas pidato, terus dadi ndlèwèr nang ngendi-endi, ora karu-karuan … La-li … Nganti kromo waé diantem …”

Cuk Bowo: “Antem kromo Lik …”

Likwan: “Maksudku ngono Cuk … Wis dadi nggilani kaé… Rem blong … koplak tenan kui …”

Totok: “Terus dadi oké gas … oké gas … Ngono yo Lik …”

Likwan: “Okélah kalo begitu (:sak karep-mu) …”

Totok isih ngèyèl: “Ning kan iso waé karo lungguh to Lik, ora terus dikongkon ngadeg koyo ngono kuwi …”

Nyah Ndut jelaské: “Kuwi nèk ngadeg ngono kan sikap-è terus ngapurancang Tok … Gelem ra gelem … Opo sikap siap grak. Opo tangan nang mburi koyo sikap istirahat kaè lho …”

Totok: “Dadi ora nang sikap siaga keplok yo Nyah …”

Nyah Ndut: “Ya’é …” *** (31-07-2026)

2037. Negara Dalam Komunikasi (1)

02-08-2026

Karena bangsa adalah juga ‘komunitas terbayang’ maka faktor komunikasi menjadi penting. Kita bisa membayangkan hal-hal abstrak atau ‘terbayang’ karena adanya bahasa. Maka sungguh beruntung jika sebuah komunitas mempunyai begitu banyak bahasa lokal tetapi ia mampu mempunyai satu bahasa yang disepakati sebagai ‘bahasa bersama’ untuk mengkomunikasikan bermacam bayangan tentang apa itu komunitasnya. Tentang bagaimana komunitas itu dikembangkan bersama. Albert Mehrabian (lahir 1939) seorang professor psikologi dari UCLA menggambarkan berhasilnya komunikasi itu akan melibatkan, isi yang dibicarakan (verbal), dan non-verbal: bahasa tubuh terutama ekspresi wajah, dan intonasi. Ada ‘rumus’ terkait keberhasilan dalam komunikasi sebagai penentu, yang verbal, isi pembicaraan, ternyata paling kecil sebagai penentu keberhasilan komunikasi, hanya sebesar 7% pengaruhnya. Sedangkan peran intonasi 38% dan yang terbesar justru bahasa tubuh, 55%. Mungkin ada perdebatan terkait besarannya, tetapi rata-rata sepakat dengan urutan mana yang paling berpengaruh. Karena negara itu sendiri akan terus dihirup-hidupi oleh bangsa maka pada dasarnya negara juga tidak lepas dari komunikasi.

Maka menjadi penting dalam hal ini, bagaimana ekspresi wajah sebagai bagian penting dari bahasa tubuh negara, juga intonasinya, dan sayangnya terakhir, apa yang mau dikatakan negara. Apakah apa yang disebut Hofstede sebagai power distance itu juga berpengaruh? Menjadi beda antara komunitas dengan power distance (index) tinggi dan yang rendah? Atau sekitar 15 tahun sebelum Mehrabian membuat pembedaan mana yang berpengaruh dalam berhasilnya komunikasi seperti disinggung di atas, Guy Debord memperkenalkan tesisnya tentang the society of spectacle (1967)? Tetapi apa kira-kira yang membuat Mehrabian sampai pada kesimpulan di atas? Apakah soal keserta-mertaan menjadi salah satu ‘penentu’-nya?

Dari Fenomenologi kita bisa membayangkan bahwa soal ekspresi wajah sebagai bahasa tubuh terpenting dalam komunikasi itu bisa dibayangkan ada dalam consciousness of internal time, sedangkan intonasi itu dalam ‘waktu subyektif’. Faktor verbal, isi dari pembicaraan bisa dikatakan ada dalam ‘waktu obyektif’. Sejak masih bayi kita pertama-tama akan akrab dengan ekspresi wajah, dan terus saja akan diperkenalkan dengan bermacam tarikan wajah. Endapan-endapan ini seakan-akan sebagai ‘nada-1’ yang dengan serta merta ketika ada dalam satu rangkaian nada saat kita berkomunikasi, ‘retensi’ dan antisipasinya yang bisa berlangsung dengan serta merta, taken for granted. Terlebih dengan berkembangnya studi mirror neuron system, hal ini semakin bisa dijelaskan. Tidak hanya ekspresi wajah, tetapi sejak awal suara-suara menjadi salah satu stimulus penting dalam perkembangan bayi. Baru setelah itu kita belajar kata-kata. Kata-kata yang bisa ‘diukur’ maknanya, misalnya kata ‘sepeda’ sebagian besarnya akan sama pengertiannya satu sama lain. Antara orang tua dan anak, misalnya. Makanya kata pertama yang ‘bermakna’ akan disambut dengan riang gembira oleh orang tua.

Kasus 1, mobil Esemka

Mobil Esemka dimulai dengan jalur ‘benar’ dalam komunikasi. Endapan tentang keinginan hadirnya mobil nasional sudah ada dalam ‘ingatan kolektif’. ‘Benar’ dalam komunikasi karena menghadirkan dengan kuatnya sebuah prototipe. Soal tipu-tipu-nya kita ‘tunda’ lebih dahulu. Prototipe itulah ‘bahasa tubuh’ tentang mobil Esemka itu, dan dengan itu pula ia kemudian dimainken dalam ‘panggung pertunjukan’. Bahasa verbal-pun ditebar melalui bermacam kesempatan, terutama melalui wawancara terkait betapa mak-nyus-nya mobil itu. Intonasi? Yaitu ketika mobil itu dipakai menjadi mobil dinas, misalnya. Jika kita memakai padanan prakondisi politis, sosial, dan teknis, prototipe atau ‘bahasa tubuh’ itu akan lebih pada ‘prakondisi sosial’. Tak usah banyak pikir, hadirkan barangnya maka segera saja endapan masa lalu tentang keinginan punya mob-nas sendiri segera saja akan menyeruak ke permukaan. Prakondisi teknis adalah ketika mobil itu memang bisa jalan, bahkan mengklaim dirinya sudah lolos uji emisi. Keduanya ini akan membantu untuk menebalkan prakondisi politis yang sebelumnya sudah ada, yaitu keinginan dari pihak ‘negara’ atau pejabat yang mendorong hadirnya mob-nas. Apalagi ketika itu jadi mobil dinasnya. Bahwa itu semua sebenarnya ada dalam bingkai tipu-tipu, itu adalah soal lain.

Kasus 2, MBG

Endapan dalam ‘ingatan kolektif’ tentang stunting sebenarnya sudah ada meski tipis-tipis saja. Juga jika dikaitkan dengan kekurangann gizi. Sayangnya, bagaimana soal MBG itu dikomunikasikan bisa dikatakan gagal total. Tidak ada prototipe yang bisa diposisikan sebagai ‘bahasa tubuh’ program MBG. Bahkan yang muncul berulang dan berulang adalah ‘bahasa tubuh’ keracunan massal akibat mengkonsumsi MBG. Belum lagi soal digelandangnya petinggi MBG terkait dengan korupsi. Atau ‘joget-MBG-6-juta-rupiah’ itu. Mau sik-verbal dipompa setinggi langit, puja-puji MBG sebagai yang paling top-markotop se-dunia dalam makan gratis untuk anak sekolah, tetap saja itu hanyalah soal 7% dari keberhasilan komunikasi. Dalam komunikasi selalu akan melibatkan informasi, in-formasio, membentuk. Dan dalam komunikasi MBG ini justru yang terbentuk adalah bayang-bayang gagal total, dan rusuh. Maka sebaiknya, hentikan semuanya dulu, mulailah dengan yang benar sebagai prototipe, dan desain ulang dengan lebih melibatkan sumber daya yang ada di sekolah-sekolah atau masyarakat sekitar sekolah. Kerusakan total sudah terjadi. Pelajaran komunikasi mobil Esemka di atas bisa sebagai pelajaran, tentu dengan sangat-sangat-sangat sadar, bukan untuk menipu. *** (01-08-2026)

2038. Negara Dalam Komunikasi (2)

02-08-2026

Kasus 3, Pertempuran Dua Tahun

Paling tidak ada pelajaran seratus tahun terakhir tentang bagaimana jika di luar rejim monarki atau aristokrasi terjadi hubungan erat antara pemimpin dan rakyatnya. Bermacam kemungkinan, dari yang terus terjerembab pada kegelapan atau kemudian berhasil menapak jalan terang menuju kesejahteraan bersama. Ada bangunan legitimasi dan legalitas yang jika keduanya bisa dimainken secara begini dan begitu, hasilnya bisa ini dan itu. Bagi rejim tirani maupun oligarki, membiarkan tumbuhnya pemimpin (‘tandingan’) yang mempunyai hubungan erat dengan rakyat akan terlalu beresiko. Menjadi banyak yang dipertaruhkan. Munculnya Megawati dan PDI-nya di bagian akhir jaman old merupakan pelajaran berharga bagi sik-tiran dan sik-oligark. Maka tidak mengherankan perhatian lebih akan ditujukan pada (calon) pemimpin yang mempunyai basis pendukung kuat. Maka tak mengherankan pula melalui ‘rute-khas’-nya, Gus Dur dan Megawati yang masing-masing (dalam sejarah-perjalanan panjangnya) mempunyai basis kuat itu ‘dipaksa’ untuk berbagi kekuasaan yang lima tahunan itu, supaya menjadi tidak terlalu lama berkuasa sehingga basis tidak jadi lebih kuat.

Maka jika pemimpin mempunyai program yang berpotensi membuat dirinya semakin dekat-erat dengan rakyat, alarm-siaga di kantor para konsultan kaum oligark itupun akan berbunyi meraung-raung. Maka akan ada tiga hal masuk dalam perhitungan, pemimpinnya itu sendiri, program-programnya, dan rentang waktu tidak boleh sampai 5 tahun. Apalagi 10 tahun. Terlalu lama. Dan dasar-strateginya adalah pada komunikasi. Jika Machiavelli memberikan pilihan pada ‘sang-pangeran’, memilih dicintai rakyat atau dibenci, segera saja pilihannya adalah supaya ‘pemimpin itu’ dibenci rakyat. Jelas pilihannya, tanpa ragu lagi.

Tidak mengherankan sejak hari pertama bagaimana membuat supaya ‘dibenci’ telah dijalankan. Lihat bagaimana pelanggaran HAM masa lalu diulik-ulik lagi. Endapan ingatan itu perlahan mulai dibuka. Tak ada soal apakah ingatan itu benar atau tidak, intinya jaring bingkai itu mulai ditebar. Di rejim sebelumnya, pejabat yang asal mangap, asal njeplak, asal usir itu seakan sudah banal. Dan ini nampaknya tidaklah kebetulan saja. Jadi ada ‘dalang’ yang mampu membuat pejabat publik mengisi komunikasi negara dengan semacam itu, demi tujuan-tujuan tertentu. Saat itu tujuannya seperti dibayangkan Orwell dalam 1984, mengendalikan atau dalam hal ini melumpuhkan yang banyak. Bagaimana jika itu kemudian digeser menjadi justru supaya sik-pejabat dibenci khalayak kebanyakan? Tidak sulit karena ke-banal-an sudah terjadi, tinggal orang-orang sekitar memberikan masukan-masukan kosa kata tertentu dalam komunikasinya. Tentu ada faktor nature, tetapi di sini yang dibicarakan adalah soal nurture. Nurture seperti skema Percobaan Milgram dimana ada orang di sekitar berfungsi sebagai ‘sik-pengawas’. Hasilnya? Omongan kasar, tudang-tuding pada rakyat, bahkan juga usir sana usir sini, dan sekitar-sekitarnya keluar dari mulut dengan tanpa beban lagi, banal, banal, banal. Tidak usah digoreng maka dengan serta merta sudah menebar kebencian sendiri, apalagi jika digoreng. Belum lagi seperti terakhir ini, ‘bahasa tubuh’ ketika apparat bersenjata mengawal pengumpulan pajak rakyat kecil. Sungguh, ‘bahasa tubuh’ yang mbèlgèdès. Tetapi di pihak lain, sangat efisien dan efektif dalam menebar kebencian rakyat pada pemimpinnya. Itu intelijen kerjanya apa ya?

Bagaimana dengan program-program yang mempunyai potensi dekat dengan rakyat? Banalisasi evil dalam bentuk asal mangap, asal njeplak, asal usir di belakangnya samar-samar ada nuansa eksploitasi hasrat akan uang di kalangan para pejabat. Pembagian lapak-lapak korupsi dan pelemahan KPK telah menjadikan gejolak hasrat menjadi ujung tombak, bukan olah ego dan super-ego lagi (sehingga menjadi tanpa beban mau saja asal mangap dll itu). Dan itulah nuansa yang sudah terbangun selama 10 tahun rejim terdahulu. Akibatnya? Program-program ‘pro-rakyat’ itupun tiba-tiba saja sudah ada nyemplung begitu saja dalam kolam-gejolak-hasrat para pejabat, para ‘elit’. Maka menjadi lebih mudah untuk ‘dibunuh-karakter’-nya melalui bagaimana hasrat dimainken. Pompa saja hasrat akan kebesaran. Pompa saja hasrat akan uang. Kombinasi dari dua hal itu saja sudah akan membunuh secara telak ego -nalar, berprinsip pada realitas, dan super-ego (berprinsip pada moralitas). Apalagi jika dibayang-bayangi dengan nuansa ‘perebutan kuasa’ dalam konteks ‘bangunan-jaringan-apparatus-kekuasannya’. Hasrat akan kuasa itu tiba-tiba mendorong untuk menjadi mudah diyakinkan bahwa seakan ia sedang dihadapkan pada mèpèt-nya waktu.

Bagaimana dengan tidak lebih dari dua tahun? Jika meleset maka akan dicoba untuk tidak lebih dari tiga tahun? Dan seterusnya. *** (02-08-2026)