02-08-2026
Karena bangsa adalah juga ‘komunitas terbayang’ maka faktor komunikasi menjadi penting. Kita bisa membayangkan hal-hal abstrak atau ‘terbayang’ karena adanya bahasa. Maka sungguh beruntung jika sebuah komunitas mempunyai begitu banyak bahasa lokal tetapi ia mampu mempunyai satu bahasa yang disepakati sebagai ‘bahasa bersama’ untuk mengkomunikasikan bermacam bayangan tentang apa itu komunitasnya. Tentang bagaimana komunitas itu dikembangkan bersama. Albert Mehrabian (lahir 1939) seorang professor psikologi dari UCLA menggambarkan berhasilnya komunikasi itu akan melibatkan, isi yang dibicarakan (verbal), dan non-verbal: bahasa tubuh terutama ekspresi wajah, dan intonasi. Ada ‘rumus’ terkait keberhasilan dalam komunikasi sebagai penentu, yang verbal, isi pembicaraan, ternyata paling kecil sebagai penentu keberhasilan komunikasi, hanya sebesar 7% pengaruhnya. Sedangkan peran intonasi 38% dan yang terbesar justru bahasa tubuh, 55%. Mungkin ada perdebatan terkait besarannya, tetapi rata-rata sepakat dengan urutan mana yang paling berpengaruh. Karena negara itu sendiri akan terus dihirup-hidupi oleh bangsa maka pada dasarnya negara juga tidak lepas dari komunikasi.
Maka menjadi penting dalam hal ini, bagaimana ekspresi wajah sebagai bagian penting dari bahasa tubuh negara, juga intonasinya, dan sayangnya terakhir, apa yang mau dikatakan negara. Apakah apa yang disebut Hofstede sebagai power distance itu juga berpengaruh? Menjadi beda antara komunitas dengan power distance (index) tinggi dan yang rendah? Atau sekitar 15 tahun sebelum Mehrabian membuat pembedaan mana yang berpengaruh dalam berhasilnya komunikasi seperti disinggung di atas, Guy Debord memperkenalkan tesisnya tentang the society of spectacle (1967)? Tetapi apa kira-kira yang membuat Mehrabian sampai pada kesimpulan di atas? Apakah soal keserta-mertaan menjadi salah satu ‘penentu’-nya?
Dari Fenomenologi kita bisa membayangkan bahwa soal ekspresi wajah sebagai bahasa tubuh terpenting dalam komunikasi itu bisa dibayangkan ada dalam consciousness of internal time, sedangkan intonasi itu dalam ‘waktu subyektif’. Faktor verbal, isi dari pembicaraan bisa dikatakan ada dalam ‘waktu obyektif’. Sejak masih bayi kita pertama-tama akan akrab dengan ekspresi wajah, dan terus saja akan diperkenalkan dengan bermacam tarikan wajah. Endapan-endapan ini seakan-akan sebagai ‘nada-1’ yang dengan serta merta ketika ada dalam satu rangkaian nada saat kita berkomunikasi, ‘retensi’ dan antisipasinya yang bisa berlangsung dengan serta merta, taken for granted. Terlebih dengan berkembangnya studi mirror neuron system, hal ini semakin bisa dijelaskan. Tidak hanya ekspresi wajah, tetapi sejak awal suara-suara menjadi salah satu stimulus penting dalam perkembangan bayi. Baru setelah itu kita belajar kata-kata. Kata-kata yang bisa ‘diukur’ maknanya, misalnya kata ‘sepeda’ sebagian besarnya akan sama pengertiannya satu sama lain. Antara orang tua dan anak, misalnya. Makanya kata pertama yang ‘bermakna’ akan disambut dengan riang gembira oleh orang tua.
Kasus 1, mobil Esemka
Mobil Esemka dimulai dengan jalur ‘benar’ dalam komunikasi. Endapan tentang keinginan hadirnya mobil nasional sudah ada dalam ‘ingatan kolektif’. ‘Benar’ dalam komunikasi karena menghadirkan dengan kuatnya sebuah prototipe. Soal tipu-tipu-nya kita ‘tunda’ lebih dahulu. Prototipe itulah ‘bahasa tubuh’ tentang mobil Esemka itu, dan dengan itu pula ia kemudian dimainken dalam ‘panggung pertunjukan’. Bahasa verbal-pun ditebar melalui bermacam kesempatan, terutama melalui wawancara terkait betapa mak-nyus-nya mobil itu. Intonasi? Yaitu ketika mobil itu dipakai menjadi mobil dinas, misalnya. Jika kita memakai padanan prakondisi politis, sosial, dan teknis, prototipe atau ‘bahasa tubuh’ itu akan lebih pada ‘prakondisi sosial’. Tak usah banyak pikir, hadirkan barangnya maka segera saja endapan masa lalu tentang keinginan punya mob-nas sendiri segera saja akan menyeruak ke permukaan. Prakondisi teknis adalah ketika mobil itu memang bisa jalan, bahkan mengklaim dirinya sudah lolos uji emisi. Keduanya ini akan membantu untuk menebalkan prakondisi politis yang sebelumnya sudah ada, yaitu keinginan dari pihak ‘negara’ atau pejabat yang mendorong hadirnya mob-nas. Apalagi ketika itu jadi mobil dinasnya. Bahwa itu semua sebenarnya ada dalam bingkai tipu-tipu, itu adalah soal lain.
Kasus 2, MBG
Endapan dalam ‘ingatan kolektif’ tentang stunting sebenarnya sudah ada meski tipis-tipis saja. Juga jika dikaitkan dengan kekurangann gizi. Sayangnya, bagaimana soal MBG itu dikomunikasikan bisa dikatakan gagal total. Tidak ada prototipe yang bisa diposisikan sebagai ‘bahasa tubuh’ program MBG. Bahkan yang muncul berulang dan berulang adalah ‘bahasa tubuh’ keracunan massal akibat mengkonsumsi MBG. Belum lagi soal digelandangnya petinggi MBG terkait dengan korupsi. Atau ‘joget-MBG-6-juta-rupiah’ itu. Mau sik-verbal dipompa setinggi langit, puja-puji MBG sebagai yang paling top-markotop se-dunia dalam makan gratis untuk anak sekolah, tetap saja itu hanyalah soal 7% dari keberhasilan komunikasi. Dalam komunikasi selalu akan melibatkan informasi, in-formasio, membentuk. Dan dalam komunikasi MBG ini justru yang terbentuk adalah bayang-bayang gagal total, dan rusuh. Maka sebaiknya, hentikan semuanya dulu, mulailah dengan yang benar sebagai prototipe, dan desain ulang dengan lebih melibatkan sumber daya yang ada di sekolah-sekolah atau masyarakat sekitar sekolah. Kerusakan total sudah terjadi. Pelajaran komunikasi mobil Esemka di atas bisa sebagai pelajaran, tentu dengan sangat-sangat-sangat sadar, bukan untuk menipu. *** (01-08-2026)