2049. Robohnya Benteng Sik-J
11-08-2026
Dalam Bagian XX Sang Penguasa (The Prince), tentang: Apakah Benteng Perlindungan dan Banyak Hal yang Kerap Kali Dibangun Raja Berguna atau Merugikan, Machiavelli menuliskan: “Raja yang merasa lebih takut terhadap rakyat sendiri daripada serangan bangsa asing, sebaiknya membangun benteng. Tetapi raja yang merasa takut terhadap serangan musuh asing daripada rakyatnya sendiri tidak usah memusingkan soal benteng.”[1] Ada otak-atik-gathuk yang bisa dikembangkan dari pendapat Machiavelli ini. Pertama, ada rejim yang seakan keranjingan tudang-tuding antek asing, atau bisa saja ini menggambarkan perasaan ‘takut terhadap serangan musuh asing’ sehingga lupa mempertanyakan apakah perlu ia membangun benteng ‘menghadapi rakyatnya sendiri’. Kedua, rejim sebelumnya yang sama sekali tidak takut terhadap serangan musuh asing (karena apa yang diminta ‘musuh asing’ diberikan dengan tanpa beban lagi), tetapi sibuk membangun benteng karena takut ‘menghadapi rakyatnya sendiri’.
Tetapi apa kata Machiavelli terkait dengan ‘matahari kembar’? Matahari cawé-cawé yang sangat pengalaman membangun benteng, dan matahari legal yang khawatir akan serangan musuh asing? Tetapi dalang-dalang di belakang ‘matahari cawé-cawé’ dalam perjalanan panjangnya sudah sangat menguasai apa-apa yang ada dalam buku-buku Machiavelli, sehingga mereka sangat paham pula jika “benteng yang terbaik yang perlu dibangun ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat.”[2] Machiavelli memang tidak membahas soal ‘matahari kembar’ sebagai hal okelah kalo begitu, yang boleh-boleh saja, atau lihat saja bagaimana cerita tentang nasib Remirro de Orco.[3]
Maka adalah makanan empuk ketika yang dihadapi adalah yang sedang khawatir ‘serangan musuh asing’ sehingga ‘lupa’ bahwa ada yang namanya ‘benteng’ dalam konteks ‘menghadapi rakyat sendiri’, yaitu nampak dengan telanjangnya melalui bermacam rutenya, sik-matahari cawé-cawé berkeinginan bahkan sejak hari pertama supaya matahari legal yang sedang menjabat dibuat (tanpa henti) supaya ‘dibenci rakyat’. Bermacam ‘persidangan rakyat’ digelar di sana-sini sehingga siapa tahu ada waktunya ia bernasib seperti Remirro de Orco. Macam-macam rutenya. Macam-macam ‘sidang’-nya. Tidak hanya itu, beberapa program dari sik-matahari legal yang mempunyai potensi untuk tidak dibenci (katakanlah, bisa saja menjadi dicintai) sudah disabotase sejak pagi-pagi. Pokoknya paket komplet, tidak boleh sampai dicintai, harus dibenci rakyat!
Tetapi focus tulisan ini adalah bagaimana retak-robohnya benteng sik-J, sik-matahari cawé-cawé itu. Bukan soal sik-matahari legal yang hari-hari ini sedang menunggu-menghitung nasib karena selain kesalahan sendiri tetapi karena juga orang-orang sekitarnya amatiran dan gebleg full. Retak-robohnya benteng sik-J karena mereka melupakan salah satu peringatan Machiavelli: “Karena itu, saya mengambil kesimpulan bahwa dewi fortuna atau nasib mujur dapat berubah-rubah dan orang yang tetap memegang teguh cara-cara mereka, akan berhasil selama cara-cara ini sesuai dengan situasi, tetapi kalau cara-cara itu berlawanan [dengan situasi yang berkembang], maka mereka akan mengalami kegagalan.”[4]
Dalam komunitas dengan ‘power distance (index) tinggi’ (Hofstede) seperti di republik, perbedaan distribusi kuasa akan dihayati sebagai baik-baik saja. Bahkan kuasa di atas cenderung dilihat sebagai yang putih-putih saja. Maka ketika ada di kuasa tinggi bahkan tertinggi, pengin main raja-raja-an sambil koprol atau kayang-pun akan dibiarkan saja. Main citra-citra-an di tengah-tengah bencanapun akan dibiarkan juga. Atau ngibul tak tahu batas akan dibiarkan juga. Kalau toh ada nuansa negatif di sekitar, itu semua akan dengan mudah ‘dicuci’ oleh para pembingkai bayaran. Selesai. Tetapi bagaimana jika sudah tidak di kekuasaan lagi? Dan jelas kalau memakai istilah Machiavelli di atas, situasinya berubah? Berubah total, dari dulunya di puncak kekuasaan sekarang berubah ada di luar kekuasaan. Apakah benteng yang sudah dipersiapkan lama selama ada di kekuasaan itu akan menerus berfungsi sampai ketika ia sudah di luar kekuasaan? Benteng yang membuat ketika dulu pecicilan, ngibul, kayang sana, koprol sini khalayak kebanyakan tetaplah ‘baik-baik saja’?
Ternyata ketika situasinya berubah dan tetap saja ‘cara berperilaku’ tetap, benar kata Machiavelli, mereka akan mengalami kegagalan. Lihat misalnya, ketika kasus ijazah palsu itu menerus sampai ketika kekuasaan sudah tidak di tangan, hasilnya? Mungkin saja isu itu dipelihara sehingga orang itu tetap dalam pemberitaan, bisa saja benar analisa tersebut. Tetapi ketika sudah tidak dalam kekuasaan, perlahan ‘kekuasaan’ yang di tangan itu akan dihayati khalayak kebanyakan bukan lagi putih-putih saja. Karena faktanya memang ia sudah tidak berkuasa lagi. Dan perlahan pula sisi gelap semakin menampakkan diri. Dan itulah yang membuat justru orang itu semakin banyak yang membecinya. Bahkan semakin banyak yang menolak kedatangannya karena nuansa kegelapan yang digendongnya itu. “Benteng yang terbaik yang perlu dibangun ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat,” ternyata betul sekali. Ketika semakin dibenci khalayak kebanyakan maka nampak semakin telanjang saja, keretakan bahkan kerobohan benteng yang dibangun paling tidak 10 tahun itu semakin membesar potensinya. *** (11-08-2026)
[1] Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa, Penerbit Pustaka Gramedia, 1987, hlm. 90
[2] Niccolo Machiavelli, hlm. 90
[3] Lihat misalnya, https://pergerakankebangsaan.org/tulsn-180, No. 1971
[4] Niccolo Machiavelli, hlm. 104


