2049. Robohnya Benteng Sik-J

11-08-2026

Dalam Bagian XX Sang Penguasa (The Prince), tentang: Apakah Benteng Perlindungan dan Banyak Hal yang Kerap Kali Dibangun Raja Berguna atau Merugikan, Machiavelli menuliskan: “Raja yang merasa lebih takut terhadap rakyat sendiri daripada serangan bangsa asing, sebaiknya membangun benteng. Tetapi raja yang merasa takut terhadap serangan musuh asing daripada rakyatnya sendiri tidak usah memusingkan soal benteng.”[1] Ada otak-atik-gathuk yang bisa dikembangkan dari pendapat Machiavelli ini. Pertama, ada rejim yang seakan keranjingan tudang-tuding antek asing, atau bisa saja ini menggambarkan perasaan ‘takut terhadap serangan musuh asing’ sehingga lupa mempertanyakan apakah perlu ia membangun benteng ‘menghadapi rakyatnya sendiri’. Kedua, rejim sebelumnya yang sama sekali tidak takut terhadap serangan musuh asing (karena apa yang diminta ‘musuh asing’ diberikan dengan tanpa beban lagi), tetapi sibuk membangun benteng karena takut ‘menghadapi rakyatnya sendiri’.

Tetapi apa kata Machiavelli terkait dengan ‘matahari kembar’? Matahari cawé-cawé yang sangat pengalaman membangun benteng, dan matahari legal yang khawatir akan serangan musuh asing? Tetapi dalang-dalang di belakang ‘matahari cawé-cawé’ dalam perjalanan panjangnya sudah sangat menguasai apa-apa yang ada dalam buku-buku Machiavelli, sehingga mereka sangat paham pula jika “benteng yang terbaik yang perlu dibangun ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat.[2] Machiavelli memang tidak membahas soal ‘matahari kembar’ sebagai hal okelah kalo begitu, yang boleh-boleh saja, atau lihat saja bagaimana cerita tentang nasib Remirro de Orco.[3]

Maka adalah makanan empuk ketika yang dihadapi adalah yang sedang khawatir ‘serangan musuh asing’ sehingga ‘lupa’ bahwa ada yang namanya ‘benteng’ dalam konteks ‘menghadapi rakyat sendiri’, yaitu nampak dengan telanjangnya melalui bermacam rutenya, sik-matahari cawé-cawé berkeinginan bahkan sejak hari pertama supaya matahari legal yang sedang menjabat dibuat (tanpa henti) supaya ‘dibenci rakyat’. Bermacam ‘persidangan rakyat’ digelar di sana-sini sehingga siapa tahu ada waktunya ia bernasib seperti Remirro de Orco. Macam-macam rutenya. Macam-macam ‘sidang’-nya. Tidak hanya itu, beberapa program dari sik-matahari legal yang mempunyai potensi untuk tidak dibenci (katakanlah, bisa saja menjadi dicintai) sudah disabotase sejak pagi-pagi. Pokoknya paket komplet, tidak boleh sampai dicintai, harus dibenci rakyat!

Tetapi focus tulisan ini adalah bagaimana retak-robohnya benteng sik-J, sik-matahari cawé-cawé itu. Bukan soal sik-matahari legal yang hari-hari ini sedang menunggu-menghitung nasib karena selain kesalahan sendiri tetapi karena juga orang-orang sekitarnya amatiran dan gebleg full. Retak-robohnya benteng sik-J karena mereka melupakan salah satu peringatan Machiavelli: “Karena itu, saya mengambil kesimpulan bahwa dewi fortuna atau nasib mujur dapat berubah-rubah dan orang yang tetap memegang teguh cara-cara mereka, akan berhasil selama cara-cara ini sesuai dengan situasi, tetapi kalau cara-cara itu berlawanan [dengan situasi yang berkembang], maka mereka akan mengalami kegagalan.”[4]

Dalam komunitas dengan ‘power distance (index) tinggi’ (Hofstede) seperti di republik, perbedaan distribusi kuasa akan dihayati sebagai baik-baik saja. Bahkan kuasa di atas cenderung dilihat sebagai yang putih-putih saja. Maka ketika ada di kuasa tinggi bahkan tertinggi, pengin main raja-raja-an sambil koprol atau kayang-pun akan dibiarkan saja. Main citra-citra-an di tengah-tengah bencanapun akan dibiarkan juga. Atau ngibul tak tahu batas akan dibiarkan juga. Kalau toh ada nuansa negatif di sekitar, itu semua akan dengan mudah ‘dicuci’ oleh para pembingkai bayaran. Selesai. Tetapi bagaimana jika sudah tidak di kekuasaan lagi? Dan jelas kalau memakai istilah Machiavelli di atas, situasinya berubah? Berubah total, dari dulunya di puncak kekuasaan sekarang berubah ada di luar kekuasaan. Apakah benteng yang sudah dipersiapkan lama selama ada di kekuasaan itu akan menerus berfungsi sampai ketika ia sudah di luar kekuasaan? Benteng yang membuat ketika dulu pecicilan, ngibul, kayang sana, koprol sini khalayak kebanyakan tetaplah ‘baik-baik saja’?

Ternyata ketika situasinya berubah dan tetap saja ‘cara berperilaku’ tetap, benar kata Machiavelli, mereka akan mengalami kegagalan. Lihat misalnya, ketika kasus ijazah palsu itu menerus sampai ketika kekuasaan sudah tidak di tangan, hasilnya? Mungkin saja isu itu dipelihara sehingga orang itu tetap dalam pemberitaan, bisa saja benar analisa tersebut. Tetapi ketika sudah tidak dalam kekuasaan, perlahan ‘kekuasaan’ yang di tangan itu akan dihayati khalayak kebanyakan bukan lagi putih-putih saja. Karena faktanya memang ia sudah tidak berkuasa lagi. Dan perlahan pula sisi gelap semakin menampakkan diri. Dan itulah yang membuat justru orang itu semakin banyak yang membecinya. Bahkan semakin banyak yang menolak kedatangannya karena nuansa kegelapan yang digendongnya itu. “Benteng yang terbaik yang perlu dibangun ialah menghindari jangan sampai dibenci oleh rakyat,” ternyata betul sekali. Ketika semakin dibenci khalayak kebanyakan maka nampak semakin telanjang saja, keretakan bahkan kerobohan benteng yang dibangun paling tidak 10 tahun itu semakin membesar potensinya. *** (11-08-2026)

[1] Niccolo Machiavelli, Sang Penguasa, Penerbit Pustaka Gramedia, 1987, hlm. 90

[2] Niccolo Machiavelli, hlm. 90

[3] Lihat misalnya, https://pergerakankebangsaan.org/tulsn-180, No. 1971

[4] Niccolo Machiavelli, hlm. 104

2050. Pasal 33

13-08-2026

Hari-hari ini sering kita dengar terkait ‘Pasal 33 (UUD 1945)’, ada di BAB berapa dalam UUD 1945 itu? Baik UUD 1945 asli atau hasil amandemen 2002, Pasal 33 ada di BAB XIV, yang dalam UUD 1945 asli adalah tentang Kesejahteraan Sosial, terdiri dari Pasal 33 dan Pasal 34. Sedangkan dalam UUD 1945 amandemen 2002, BAB XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial, juga terdiri dari Pasal 33 dan Pasal 34.

Dalam Strategi Kebudayaan, Van Peursen membedakan antara tahap mitis, ontologis, dan fungsionil. Ketiganya sebenarnya normal-normal saja mengiringi perjalanan hidup, dan juga tidak berarti yang satu lebih tinggi dari yang lain. Hanya saja kadang pada suatu saat yang satu lebih ‘menonjol’ dari yang lain, dan itu juga normal-normal saja. Van Peursen memberikan contoh ketiga tahap itu bisa saja mempengaruhi bagaimana obyek yang sama, misalnya gunung dan pemandangan danau di depannya dilukis oleh pelukis yang dominan menggunakan tahap mitis, ontologis, dan fungsionil. Yang ada di atas kanvas ternyata bisa begitu berbedanya. Demikian juga ketika kita sama-sama bicara soal ‘Pasal 33’ misalnya, mungkin saja penghayatan akan berbeda ketika yang satu dominan pada tahap mitis, lainnya tahap ontologis, dan tahap fungsionil.

Strategi Kebudayaan terbit pertama kali di Belanda tahun 1970, diterjemahkan Dick Hartoko tahun 1976, dengan Prakata oleh Soedjatmoko. Dalam Prakata Soedjatmoko menandaskan bahwa dengan pemikirannya Van Peursen melihat bahwa kebudayaan adalah juga sebagai siasat manusia menghadapi masa depan. Kebudayaan itu sebagai suatu proses pelajaran, suatu “learning process” yang terus-menerus sifatnya. Di dalam proses ini bukan saja kreativitas dan inventivitas merupakan faktor penting, melainkan kedua faktor ini kait-mengait dengan pertimbangan-pertimbangan ethis.[1]

Paling tidak 12 tahun terakhir -terlebih rejim terdahulu, semakin terasa bahwa dalam menguasai republik kebudayaan telah menjadi salah satu siasat penghancur masa depan. Sebagai proses pembelajaran, telah disuntik dengan ‘kurikulum-kurikulum’ mbèlgèdès. Jalan gampang ditebar yang perlahan meminggirkan kreativitas dan inventivitas. Ditambah lagi semakin menjauhnya pertimbangan-pertimbangan etis. Caranya? Kalau memakai skema tahap-tahap kebudayaan di atas, bablasannyalah yang kemudian dieksploitasi. Yang dieksploitasi adalah magis, substansialisme, dan operasionalisme.

Dalam tahap mitis seakan kita dikurung dalam sebuah lingkaran, hanya saja lingkaran itu adalah sebuah garis putus-putus. Dalam mode bablasannya, magis, seakan lingkaran itu tertutup total, tidak ada putus-putusnya. Kekuatan besar di atas kita itu seakan sudah menyihir total. Dalam tahap ontologis, kita mulai mencari hal-hal yang mendasar. Hal-hal ‘apa-nya’. Dan dari bermacam hal mendasar itu kita perlahan mempunyai kemampuan untuk menghubung-hubungkan. Bablasan tahap ontologis, substansialisme, adalah ketika satu hal yang kita yakini sebagai ‘apanya’ itu kemudian diklaim sebagai satu-satunya. Kemampuan menghubung-hubungkan kemudian menjadi semakin menipis. Tahap fungsionil pertanyaan mendasarnya adalah tentang ‘bagaimana-nya’. Ungkapan Marx bahwa para filsuf itu sibuk menafsirkan dunia tetapi yang paling penting adalah mengubahnya sedikit banyak menggambarkan tahap fungsionil ini. Operasionalisme sebagai bentuk bablasan fungsionil bisa digambarkan sebagai bentuk pragmatism ugal-ugalan. Van Peursen mengambil contoh dari Wittgenstein, yaitu kita mengambil kotak korek api kosong, dan diisi dengan kumbang, misalnya. Kemudian kita cerita pada teman tentang kumbang itu tanpa membuka korek api sehingga kumbang kelihatan. Demikian seterusnya, dan bahkan ketika di dalam kotak korek api itu tidak ada kumbangnya. ‘Operasi’ penceritaan dengan kotak korek api kosong dan tidak boleh dibuka inilah yang dimaksud dengan operasionalisme. Kumbangnya tidak pernah dinampakkan lagi untuk dilakukan cek-ricek, atau evaluasi bersama.

Maka ketika kita bicara Pasal 33, apakah kita sedang bersiasat membangun masa depan bersama dalam ‘jalan kebudayaan’ mitis-ontologis-fungsionil, ataukah sedang bersiasat menghancurkan masa depan dalam ‘jalan kebudayaan’ magis, substansialisme-operasionalisme? *** (13-08-2026)


[1] Van Peursen, Strategi Kebudayaan, Penerbit Kanisius, 2001, cet-11, hlm. 5

2051. Lethal Weapon 5

14-08-2026

“When small men attempt great enterprises, they always end by reducing them to the level of their mediocrity” (Napoleon Bonaparte)

Apa itu waktu? Tidak mudah menjawabnya. Bagaimana waktu akan ‘berubah’ ketika mendekati kecepatan cahaya? Tetapi ada waktu yang paling primordial, consciousness of internal time. Bayangkan ada nada 1-2-3, dan sekarang kita sedang mendengarkan nada-2. Nada-1 bukannya terus menghilang, tetapi seakan ia mengalami retensi. Sedangkan nada-3 meski belum terdengar, seakan ia sudah kita antisipasi kedatangannya. Dalam waktu ini bermacam persepsi, imajinasi, ingat-mengingat dan segala pengalaman akan bermacam stimulus terolah dengan ‘serta merta’, seakan taken for granted saja. Dalam pembedaan tahap kebudayaan dari Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, bisa dibayangkan tahap mitis lekat dengan pengertian waktu ini. Seakan segala persepsi, imajinasi, ingat-mengingat, kedatangan impuls tertentu saat ini, telah ‘mengurung’ kita dalam bagaimana kita berhubungan dengan dunia. Kita seakan ‘tenggelam’ begitu saja dan ‘tidak mampu’ mengambil jarak. Sebagian besar hidup kita, suka atau tidak, kita jalani dengan langgam atau modus ini.

Tetapi kadang kita masuk dalam peristiwa yang menyedot perhatian. Misalnya sedang menunggu sahabat yang sedang dirawat di UGD, misalnya. Rasanya, waktu di ruang tunggu itu berjalan lambat. Beda dengan ketika malam sebelumnya sedang ngobrol heboh, waktu seakan berjalan cepat. Waktu semacam ini disebut sebagai waktu subyektif atau juga waktu internal. Waktu internal dan consciousness of internal time adalah waktu yang sifatnya ‘privat’, dan bukan publik. Kadang-kadang modus taken for granted ‘ditunda’ dulu. Misalnya, kita tiba-tiba tersedot perhatian pada A koq mirip dengan B. Kesempatan lain ingatan itu seakan dipanggil lagi, koq C juga mirip dengan A. Demikian juga D dan E. maka bisa saja timbul ‘imajinasi baru’ bahwa A, B, C, D, E itu adalah sama, tidak hanya mirip. Imajinasi bisa begitu liarnya, maka ia perlu dikomunikasikan dengan imajinasi-imajinasi lain dari orang-orang yang mengalami pengalaman serupa. Atau ia kembali ‘ke sesuatu’-nya itu dan cek-ricek lebih detail lagi. Dalam pembedaan tahap kebudayaan dari Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, bisa dibayangkan tahap ontologis lekat dengan pengertian waktu ini. Tiba-tiba ke-subyektifan kita terpicu oleh kepenasaran untuk mencari jawaban apa-nya dari sesuatu atau peristiwa itu. Bermacam upaya kemudian dijalankan sehingga apa-nya itu semakin tersingkap. Maka sebenarnya ketersingkapan itu perlulah upaya inter-subyektifitas, bermacam imajinasi perlu dikomunikasikan. Ketika tidak mau dan tidak mampu untuk mengkomunikasikan maka bisa saja kemudian masuk pada modus substansialisme, bablasan dan tahap ontologis. Karena bagaimanapun juga tidak banyak yang akan kembali ke sesuatu-nya itu dan kemudian melihat lebih detail dari bermacam sudut, profil, atau aspeknya. Tidak banyak. Maka kemampuan untuk mengkomunikasikan apa-apa yang dipikirkan, apa-apa imajinasinya, perlu dipersiapkan bahkan sejak dini: berbahasa dan berani bicara.

‘Jenis’ waktu ketiga adalah waktu obyektif yang bersifat publik. Waktu yang bisa diukur bersama, bisa diverifikasi bersama, detiknya, menit, jam, hari, bulan, dst. Dalam pembedaan tahap kebudayaan dari Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, bisa dibayangkan tahap fungsionil lekat dengan pengertian waktu ini. Tentang bagaimana-nya. Tentang bagaimana itu di-operasikan, terukur. Bisa di-evaluasi (bersama). Maka Van Peursen memberikan perhatian lebih pada operasionalisme, bablasan tahap fungsionil. Mengambil dari Wittgenstein, Van Peursen mencontohkan bagaimana operasionalisme bekerja. Ambilah satu kotak korek api kosong dan isi dengan kumbang, kemudian tutup. Dan berceritalah kita tentang kumbang itu. Demikian kita ulang-ulang cerita tentang kumbang, bahkan sekarang ketika kotak korek api itu kosong, tanpa adanya kumbang. Tetap kita (beroperasi dengan ber-) cerita yang sama, tentang kumbang. Kita sebenarnya tidak pernah mengevaluasi kumbangnya sendiri.

Lethal Weapon 5 adalah plèsètan judul film sequel ke-5. Ceritanya jauh berbeda, karena ini soal bagaimana para elit, politisi di republik justru telah berubah menjadi ‘senjata mematikan’ bagi kelangsungan hidup republik. Salah satu yang bisa menjadi bahan pembelajaran adalah apa yang terjadi 12 tahun terakhir, terlebih 10 tahun rejim terdahulu (yang terasa bablas sampai sekarang). Apa yang terjadi? Mereka ‘membekukan waktu’, dengan lebih mendorong pada bablasan di setiap tahap kebudayaan Van Peursen di atas, yaitu magis, substansialisme, dan operasionalisme. Main raja-raja-an yang hari-hari ini dipraktekkan lagi adalah penampakan gunung es dari salah satu strategi dasar ‘membekukan waktu’: magis. Kalau tahap mitis lingkaran tertutupnya merupakan garis patah-patah sehingga tahap ontologis masih mampu ‘menerobos’, dalam mode bablasannya, magis, merupakan garis tertutup. Maunya mengurung khalayak kebanyakan sehingga kemampuan untuk masuk tahap ontologis menjadi minimal. Dari sini saja sudah semakin nampak bahwa ‘orang itu’ sudah menjadi lebih dari sekedar boneka, tetapi sudah menjadi ‘senjata mematikan’ yang akan merusak republik saja. Pertanyaannya, siapa behind the gun-nya? Ketika ‘waktu dibekukan’, kalau tidak hancur maka bisa dipastikan akan selalu saja tertinggal terseok-seok di belakang ….. Merdeka! *** (14-08-2026)

2052. Empan Papan

15-08-2026

Empan papan (Jw.) berarti kemampuan seseorang menempatkan diri secara tepat sesuai dengan tempat, waktu, situasi, dan kondisi yang dihadapi. Maka empan papan adalah salah satu tindakan juga. Menurut Bourdieu, tindakan akan dipengaruhi oleh modal, habitus, dan ranah. Modal di sini tidak hanya terkait dengan uang dan sekitarnya, tetapi ada juga modal kultural, modal sosial, dan modal simbolik. Habitus memang bisa dibayangkan sebagai kebiasaan, tetapi ini lebih dalam, ‘mengakar’, dan sulit diubah. Ranah bisa dibayangkan sebagai seperangkat ‘aturan’ yang semestinya ditaati dan didukung bersama. Ranah sepakbola pasti berbeda dengan ranah bulu tangkis, ranah rumah sakit pasti berbeda dengan ranah sekolah. Hidup bersama makin ke sini semakin banyak ranah-ranah dilahirkan. Menghayati bermacam ranah tersebut sebenarnya tidak hanya erat dengan habitus saja tetapi juga melibatkan ‘kecerdasan’ tertentu.

Bertahun terakhir, di ranah negara soal empan papan ini nampaknya semakin perlu diperhatikan. Lihat bagaimana penempatan menteri-menteri yang latar belakangnya jauh dari bidang kementriannya. Kepala BGN diisi oleh ahli serangga, misalnya. Dan banyaaak lagi. Semau-maunya. Bahkan banyak di bawah standar. Atau lihat bagaimana peristiwa-peristiwa kenegaraan kemudian dikemas dengan semau-maunya. Upacara 17 Agustus di Istana Negara dengan begitu mudahnya ‘dihancurkan’ dengan jogat-joget berangasan itu. Sama sekali tidak empan papan, sama sekali tidak bisa menghormati sebuah ranah yang semestinya khidmat dari awal sampai akhir, dan ke-khidmatannya itu semestinya terus dibawa pulang, terutama dibawa pulang sampai di tempat kerja masing-masing. Mengapa ‘bingung ranah’ ini semakin nampak bahwa itu sebenarnya disengaja? Dan dalam politik pertanyaan bisa dilanjutkan, siapa yang diuntungkan dalam ‘bingung ranah’ ini?

Menurut Platon, keadilan itu akan mewujud ketika masing-masing melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik. Tentu kita bisa berbeda tentang definisi keadilan itu, tetapi pendapat Platon itu paling tidak bisa sebagai alarm deteksi dini terhadap potensi ketidak-adilan, yaitu ketika masing-masing tidak melaksanakan tugas-kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Maka kesengajaan ‘bingung ranah’ ini bisa dilihat juga sebagai untuk menutupi potensi ketidak-adilan. Atau bahkan dibiasakan untuk menerima sebuah ketidak-adilan melalui dibiasakannya menerima ke-tidak-empan-papan-an. Mengapa ini justru diupayakan? Sebab faktanya justru negara sedang menjadi agen utama dari ketidak-adilan itu.

Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui, selain hal di atas ‘bingung ranah’ juga akan membuat republik semakin mudah dikuasai. Ke-amburadul-an ini akan membuat republik hilang focus, termasuk di sini focus dalam melindungi kekayaan alamnya. Tidak hanya berhenti di sini, inkompetensi di jabatan-jabatan tertentu akan membuat republik akan terseok-seok, tertinggal, dan hasilnyapun sama, semakin mudah untuk dikuasai. Jadi pada dasarnya, ‘bingung ranah’ yang disengaja itu sebenanya adalah hikayat penguasaan. Bukan yang lainnya.

"A pure democracy may possibly do, when patriotism is the ruling passion; but when the State abounds with rascals, as is the case with too many at this day, you must supress a little of that popular spirit," demikian salah satu isi surat Edward Rutledge kepada John Jay, 24 November 1776, hampir lima bulan setelah Amerika merdeka. Upacara peringatan 17 Agustus adalah salah satu moment kontemplatif bangsa yang salah satunya adalah untuk membangun semangat patriotisme. Tetapi oleh kaum rascals perampok kekayaan alam republik kemudian diubah atau moment itu segera saja dibilas habis dengan jogat-joget berangasan itu. Bertahun-tahun dinampakkan dengan tanpa beban segera saja setelah moment kontemplatif langsung digelar jogat-joget pethakilan oleh para menteri. Presiden yang gemar main raja-raja-an itu manggut-manggut sambil senyum kecil menikmati ‘para pangeran’ pecicilan pethakilan tak tahu tempat, sama sekali tidak empan papan. Tidak sadar sebenarnya sedang dimainken oleh kaum rascals itu. *** (15-08-2026)

2053. Anti Ugal-ugalan

16-08-2026

Jeihan (1938-2019) adalah pelukis dengan ciri khas mata berwarna hitam. Lebih dari 2000 tahun lalu Platon mempermasalahkan ini, bahwa mata adalah bagian tubuh yang paling indah, tetapi mengapa dalam patung tidak diwarnai dengan bermacam warna? Koq malah diwarnai dengan warna hitam saja? Kita bisa membayangkan juga, apa yang ‘paling indah’ dari seorang pemimpin? Dengan banyak bertebaran kutipan-kutipan dari bermacam pemimpin se-dunia, sedikit banyak kita bisa membayangkan bahwa itu adalah kemampuan retorika-nya. Kemampuan bicaranya. Tetapi dalam komunikasi keberhasilan komunikasi akan melibatkan bahasa tubuh, intonasi, dan justru yang paling kecil pengaruhnya -menurut Albert Mehrabian, adalah isi dari pembicaraan. Maka tidak ada salahnya memperhatikan bahasa tubuh dan intonasi, tetapi itu berarti pula perlu upaya lebih dalam membangun isi pembicaraan. Sebenarnya apa yang mau disampaikan itu bisa dikatakan sebagai ‘mata’ dalam patung yang dibicarakan oleh Platon di atas, atau mata-hitam-nya Jeihan. Dengan tanpa ‘warna-warni’ terlalu banyak semestinya sudah mampu untuk menunjukkan ‘keindahan-genuine’ seorang pemimpin.

Bagaimana jika pemimpin justru sering ugal-ugalan dalam bicara? Apakah maunya untuk memberikan ‘warna berlebih’ dalam bicara itu justru merusak ‘keseluruhan keindahan’ yang ingin ditampilkan? Tidak hanya dalam diri saat bicara tetapi juga dalam keputusan dan eksekusinya? Keputusan dan eksekusi yang kemudian ikut-ikutan mengalir dalam ke-ugal-ugalan? Lebih dari 20 tahun lalu David C. Korten pernah menulis: “The real political divide in the United States and the world is not between liberals and conservatives, who in fact share a great many core values –including the values of democracy and community. It is between those of us committed to a politics based on principle and the common good and those who purpose a politics of individual greed and power.”[i] Bagian akhir kutipan ini seakan menggambarkan situasi republik hari-hari ini. Rejim sekarang maunya politics based on principle and the common good sedangkan rejim terdahulu lebih pada politics of individual greed and power. Berapa kali ‘yang konstitusional’ dan soal kesejahteraan rakyat disebut oleh para pendukung rejim? Sering.

Apakah ketika muncul istilah ‘pemimpin peragu’ kemudian muncul pemimpin ugal-ugalan seakan menjadi anti-tesisnya? Sempat muncul analisis seperti itu, tetapi semakin lama semakin nampak bahwa ugal-ugalan itu ternyata lebih didorong oleh berkembangnya a politics of individual greed and power seperti disebut David Korten di atas. Dan sayangnya, ini melanjut sampai sekarang yang bahkan ketika rejim baru maunya mengembangkan a politics based on principle and the common good. Pengertian ranah -ranah negara misalnya, memang di dalamnya tersembunyi adanya bermacam kompetisi. Hari-hari ini sedang terjadi kompetisi antara a politics based on principle and the common good dan a politics of individual greed and power. Bagi khalayak kebanyakan ini bukan soal pilihan kapitalisme, sosialisme, state capitalism, atau isme-isme lain. Bukan soal pro-anti isme-isme di atas, tetapi yang jelas dalam khalayak kebanyakan dan terus saja berkembang: anti ugal-ugalan. Jika toh harus memilih siapa-nomics, maka jika ada pilihan prudence-nomics maka mungkin saja ini segera akan dipilih. Kemuakan terhadap laku ugal-ugalan itu sudah sampai ubun-ubun. *** (16-08-2026)

[i] https://davidkorten.org/balle-renewing-the-american-experiment/