2064. Batas-batas Propaganda
28-08-2026
Apakah propaganda menemui batasnya karena ada masyarakat melodramatic? Mudah bosan, mudah lupa, mudah kasihan? Ataukah pada dirinya sendiri karena memang sudah sampai pada batas kekuatan gelembungnya? Beberapa tahun belakangan sebenarnya bisa menjadi pelajaran bagi republik bagaimana propaganda menemui batasnya. Tetapi sebelum sampai di sana mungkin bisa kita ajukan pertanyaan lebih dahulu, dalam situasi apa propaganda itu menjadi lebih berkhasiat?
Dari Naomi Klein dalam The Schock Doctrine kita bisa membayangkan, yaitu ketika bencana dahsyat menerjang kesadaran bisa-bisa akan seperti kanvas putih, kosong. Dan dengan sigap murid-murid Milton Friedman kemudian melukis langkah-langkah neolibnya. Atau, bagaimana ‘propaganda’ modern mulai berkembang di AS sono lebih dari seratus tahun lalu? Karena ada Perang Dunia I yang berkecamuk di Eropa. Empat tahun setelah Perang Dunia I berakhir, Carl Schmitt dalam Political Theology (1922) mengatakan bahwa “sovereign is he who decides on the exception”. Artinya memang ada ‘studi’ yang berangkat dari situasi exception itu. Tetapi mungkin saja kesadaran tidaklah kosong seperti kanvas putih seperti digambarkan dalam shock doctrine di atas, karena di bawah sadar (subconsciousness) ada bagian ‘kesadaran temaram’ (twilight consciousness, menurut Hermann Broch) yang masih meninggalkan sedikit rasionalitas, yang dengan itu pula ‘penjelasan-penjelasan sederhana’ mungkin saja bisa segera ditangkap. Dari hal-hal di atas maka di ‘era post-truth’ ini bisa saja ada yang berkeyakinan bahwa ini adalah juga ‘era propaganda’. Yang akan masuk dengan ‘logika-logika sederhana’, kita-mereka, misalnya. Buku Amy Chua Political Tribe (2019) seakan mengingatkan hal tersebut. Bagaimana jika an instinct to exclude dieksploitasi dengan memang sudah ada kecenderungan kuat dalam diri soal ‘tribalisme’ itu?
Dan hal-hal di atas tidaklah ada di ruang kosong. Kita hidup di ruang-ruang yang semakin rapuh saja. Nepal sering terberitakan bagaimana hidup bersama menyatu dengan alam. Bagaimana paradigma merawat alam sering muncul dalam pemberitaan. Tetapi, bahkan jika hidup bersama seperti itu ada di kepulauan Galapagos, tetap saja terdampak oleh rapuhnya dunia, dalam hal ini kedaruratan iklim. Sedikit goncangan, gunung es atau glacier tiba-tiba patah, mencair, dan berubah menjadi banjir bandang yang menerjang semuanya tanpa ampun lagi. Mengerikan. Maka hidup bersama di republik jangan dibayangkan seakan terisolasi dari segala kerapuhan itu. Tidak hanya sungai-sungai mengering, gempa-gempa yang berpotensi lebih sering karena naiknya air laut yang berarti juga beban terhadap bumi bisa semakin memicu pergeseran lempeng bumi, belum lagi kebakaran-kebakaran hutan. Hal-hal di atas bisa-bisa menjadi salah satu faktor bagaimana propaganda bisa semakin cepat menemui batasnya, alam yang tidak peduli terhadap segala propaganda yang keluar dari mulut manusia. Dan perlahan alam akan memberikan pelajaran pada manusia, untuk semakin ‘kebal’ terhadap propaganda.
Hugo Chavez naik ke puncak kekuasaan di Venezuela sono pada tahun-tahun propaganda jaman old di republik sudah menemui batasnya. Dan beberapa tahun setelah Chavez tidak berkuasa, bebarapa analisa terkait dari batas-batas propaganda Chavez muncul. Rejim sekarang ini kira-kira tak jauh berbeda, ia hadir di tengah-tengah khasiat propaganda rejim sebelumnya sudah mulai kehilangan kekuatannya. Dan kucluknya, gaya propaganda yang sudah sekarat itu masih saja diteruskan oleh orang-orang rejim terdahulu yang masuk dalam pemerintahan. Hasilnya? Kepercayaan-pun menurun dengan cepat. Kecanduan akan propaganda itu akhirnya menghadirkan situasi ‘khas’ sebagai akibat ‘kecanduan’, apapun kecanduan terhadap apa.
Yang namanya kecanduan itu tidak hanya membuat tidak mampu lagi melihat situasi secara clear and distinct, tetapi semakin tidak mampu lagi menghayati apa-apa yang tergantung pada diri dan yang tidak. Yang namanya kecanduan, akan sangat-sangat sulit ‘dinasehati’ atau bahkan hanya untuk mendengar saja. Jika hal-hal ini tidak cepat disadari, kehancuranlah yang sedang disongsong. Jangan salahkan jika khalayak kebanyakan kemudian bergerak, bersama-sama menyelamatkan diri dari potensi banjir-bandang akibat penguasa asyik sendiri dalam kecanduannya. *** (28-08-2026)


2065. Isu Ijazah Palsu Sebagai Langkah Mundur Peradaban
29-08-2026
Siapa yang tidak ingin lingkungan tempat hidup sehari-hari nampak bersih dan sehat? Tidak kumuh, tidak buang sampah sembarangan, tidak semau-maunya? Anak-anak bisa bebas dan aman bermain-main?(Sebuah harapan)
Kadang-kadang rentetan peristiwa bisa terjadi dengan tidak terduga, karena setiap peristiwa tidaklah terjadi di ruang kosong. Tali-temali yang kadang bisa saja pada titik tertentu sudah terlambat untuk antisipasinya. Tiba-tiba sudah berdiri di tepi jurang. Kadang langsung ikut terlibat dalam sebuah rentetan, tetapi bisa saja secara tidak langsung dengan lebih terlibat dalam membangun ‘suasana kebatinan’, misalnya. Arnold J. Toynbee menunjukkan bahwa dalam pertukaran budaya-budaya, ‘yang satu’ bisa saja akan membawa ‘yang lain’. Atau maunya mendidik tenaga trampil dan murah dari penduduk jajahan sehingga untuk itu digelar Politik Etis, tetapi justru kehadiran guru-guru Barat di waktu luangnya telah membuka horizon baru bagi yang nantinya menjadi tokoh-tokoh pergerakan.
Siapa sangka jawaban asal mangap asal njeplak 93% listrik sudah menyala saat bencana banjir bandang akhirnya terlibat dalam rentetan peristiwa yang akhirnya membangun suasana kebatinan-tersimpan dalam ingatan kolektif? Dan itu kemudian untuk ‘membaca’ peristiwa lain di kemudian hari? Demikian juga yang aksi panggul beras itu. Dan banyaaak lagi. Kesalahan-kesalahan atau perilaku-perilaku yang semestinya bisa dicegah atau tidak dilakukan. Yang seperti-seperti inilah perlahan hidup bersama seakan ada dalam lingkungan penuh sampah. Sampah-sampah bertebaran dimana-mana. Tak terbayangkan sebelumnya oleh para pembayar-pembayar pajak terhormat. Peradaban apa yang akan berkembang jika kanan-kiri terlalu banyak sampah? Karena semakin ke sini semakin terasa saja bahwa itu akhirnya ‘membawa yang lain’ juga melalui bermacam rentetan peristiwa. Akhirnya hal-hal sontoloyo itu menjadi ‘model’ yang akan ditiru. Mengalami normalisasi, dan membangun ‘habitus baru’.
Salah satu faktor dalam perkembangan peradaban adalah terkait dengan tantangan dan respon. Bermacam tantangan di depan hidung memerlukan respon tepat. Dan semakin nampak saja salah satu tantangan yang mesti di respon adalah sampah-sampah republik itu. Termasuk juga sampah terkait isu ijazah palsu dan surat keterangan kesetaraan abal-abal. Jika gagal merespon ini maka potensi republik mengalami kemunduran peradaban sangat-sangat besar. Maka hormat setinggi-tingginya bagi siapa saja yang mau berjuang dalam membersihkan sampah-sampah ini. Ini bukan soal politik atau sekitarnya, tetapi sudah soal peradaban hidup bersama, dimana politik merupakan salah satu unsurnya. Yang bagi sementara pihak sudah tidak peduli lagi apakah peradaban republik akan hancur atau terjerumus dalam kegelapan. Yang penting adalah soal diri sendiri dan keluarganya serta orang-orang terdekatnya.
Lihat apa yang menampakkan diri dari orang-orang yang membela kasus ijazah palsu dan surat keterangan kesetaraan abal-abal itu selama paling tidak dua tahun ini. Berangasan, kasar, logika ngawur, asal mangap asal njeplak, main kuasa main kayu, lembaga-lembaga negara dirusak dengan tanpa beban lagi, semau-maunya. Tanpa kehormatan sama sekali, termasuk dan terutama sik-pemegang ijazahnya dan surat keterangan itu. Peradaban apa yang sedang mereka bangun? Atau kemunduran-kehancuran peradaban seperti apa yang sedang mereka jalankan? Sedang mereka agendakan? Sehingga kekayaan republik menjadi semakin mudah untuk dirampok? *** (29-08-2026)
2066. Lawan Berat: Yang Telah Mencampakkan Kehormatan
30-08-2026
Edward Routledge dalam suratnya pada John Jay tiga bulan setelah Amerika menandaskan bahwa demokrasi itu perlu patriotisme. Platon lebih 2000 tahun lalu dalam Alegori Kereta seakan membayangkan bahwa sais, atau katakanlah sik-filsuf raja itu perlulah ‘dukungan’ dari kuda putih. Kuda putih yang menggambarkan kehormatan dan mempunyai sifat lebih mudah nurut sais dibanding kuda hitam yang mempunyai energi besar tetapi cenderung semau-maunya. Dan maunya meluncur ke bawah saja. Adam Smith dalam The Theory of Moral Sentiments edisi terakhir memperkenalkan istilah famous sect, sik-sekte agung yang mempunyai keutamaan lebih dibanding yang berlalu-lalang di pasar. Terutama dalam keutamaan tahu-batas. Lenin dalam menerjemahkan ajaran Marx memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai ‘partai pelopor’, sik-‘sekte agung kolektif’, tentu dengan ada perbedaan peran. Apa yang mau ditekankan di sini bukanlah ‘teori elit’ tetapi bagaimana peran ‘kehormatan’ bisa sangat berperan dalam mendorong supaya kereta semakin mendekati ‘kebaikan dewa-dewa’ atau dalam hal ini amanat Proklamasi. Atau kalau meminjam pembedaan Freud, bagaimana super-ego bisa berkolaborasi dengan ego untuk ‘mengendalikan’ id.
Bahkan ‘pesan tersembunyi’ dari Machiavelli jika kita bicara soal republikanisme, Machiavelli dalam Sang Penguasa misalnya, justru sedang menunjukkan bermacam perilaku dalam olah kuasa yang akan menghancurkan prinsip-prinsip republik. Tentu ini dari sudut pandang ‘terang’. Tak berbeda jauh ketika Thomas Hobbes dalam Leviathan pada bagian pertamanya sedang memperkenalkan ‘manusia apa adanya’ yang jika itu diterus-teruskan maka situasi ‘state of nature’- akan membayang. Tetapi bagi pengikut ‘realisme politik’ akan mengatakan, ya begitulah senyatanya, mau apa lagi?
Jika Machiavelli dilihat dari ‘lembah hitam’-nya, maka ya begitulah senyatanya, jadi ‘kerjakan saja’. Maka ketika ada yang sukanya komik, diberikanlah komik tentang Machiavelli oleh mentornya. Ya hanya itu yang diberikan di luar komik-komik yang biasa dibaca. Karena kapasitas rasio-logikanya memang terbatas. Karena by nature memang punya bakat menipu, ditambah dengan bimbingan sik-mentor terhadap bacaan utama dan satu-satunya, Sang Penguasa dari Machiavelli maka dikerjakanlah dengan sebaik-baiknya apa-apa yang ditulis Machiavelli. Bahkan sampai bablas kemudian merasa diri bahwa ia sebenarnya adalah sang-pangeran yang sedang dinasehati oleh Machiavelli. Maka by nature dan by nurture akhirnya ia merasa sebagai raja, dan menerus keranjingan main raja-raja-an setelah tidak berkuasa. Inilah mungkin genealogi dari main raja-raja-an yang semakin lama semakin memuakkan itu.
Mengapa semakin memuakkan? Karena tidak semua manusia itu ‘pada dasarnya jahat’. Mungkin saja banyak juga ‘yang pada dasarnya baik’. Dari dua ‘asumsi’ itu kemudian beberapa teoripun berkembang. Tetapi lepas dari itu, yang pasti hidup bersama ini pastilah akan menghadirkan ‘masyarakat pembelajar’-nya sendiri. Dengan kemajuan tekhnologi komunikasi seperti sekarang ini pembelajaran bersama itu bisa semakin cepat pula. Tidak hanya ‘sarana’ yang membuat cepat belajar, tetapi juga ‘situasi-situasi negatif’ sekitar yang berkembang. Tetapi yang sudah keranjingan main raja-raja-an itu pasti tidak peduli akan situasi-situasi negative yang dihadapi khalayak kebanyakan. Bahkan dari lembah hitam Machiavelli, itu justru situasi yang bisa-bisa menguntungkan bagi dirinya. Diri yang sudah tidak mengenal lagi apa itu kehormatan. Sayangnya, orang jenis ini adalah lawan berat karena bisa dengan enteng-enteng saja menghalalkan segala cara. ‘Orang-orang baik’ bisa-bisa akan dilibas habis-habisan dengan yang jenis seperti ini.
Jika peradaban adalah juga soal tantangan dan respon seperti dikatakan Toynbee, maka menempatkan orang-orang jenis seperti ini -orang-orang yang sudah mencampakkan kehormatan, sebagai tantangan sebenarnya itu adalah juga ‘tugas peradaban’. Jika menurut Carl Schmitt politik itu menjadi ada karena adanya ‘pembedaan lawan dan kawan’, maka lawannya sudah jelas: yang sudah mencampakkan kehormatan ke dalam got itu. Hanya dengan itu sebagai pintu masuk maka ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ bisa semakin didekati. Salah satu yang begitu telanjang bagaimana kehormatan sudah dicampakkan adalah soal ijazah palsu dan surat keterangan kesetaraan abal-abal itu. Dan lihat bagaimana rentetan peristiwa dari tidak adanya kehormatan dari yang pegang kedua hal tersebut telah mempengaruhi suasana kebatinan republik. Suasana kebatinan yang semakin menjauh dari keadaban publik. Itu baru dari soal ‘lembar kertas’, belum korupsi dan (di)rusaknya lembaga-lembaga negara. *** (30-08-2026)
2067. Pecas Ndahé Dab …
30-08-2026
Klik:
(1) https://www.youtube.com/shorts/qAdz_xnasho
(2) https://www.youtube.com/watch?v=bgu8gMbOqx8&t=15s
(3) https://www.youtube.com/watch?v=3cJu8QYgrnc
(4) https://www.youtube.com/watch?v=18nhWwRIk3I
Bonus:
https://www.youtube.com/watch?v=dbJrb9ycYe0
Sengkuni lèdha-lédhé, mimpin baris ngarep dhéwé
Eh barisané mènggok, Sengkuni kok malah ndéprok
Nong, nong ji nong ro
Senja di Desa Baron
Matahari tenggelam di dalam kemaron
Lembu betina lari melompat-lompat
Dikejer-kejar anaknya yang kecil meloncat
Senja lucu dengan kasih sayang ibu dan anak
Langit senja mengandung sapi beranak
Terpesona Ranto melihat, ia tertawa bergelak
Dan berubah jadi Ranto Gudel sang pelawak
Jadi Marmoyo di panggung ketoprak
Ranto Gudel meminum arak
Terendam di dalam ciu
Birahinya berubah jadi biru
Diajaknya Nyai Dasima bercinta
Dengan cinta sepahit Topi Miringnya
Layar dibuka, turun hujan gembukan
Dewi Mlenuk gembuk datang
Membawa seguling roti cakwe
Marmoyo rebah terguling tidur
Di pangkuan Nyai Dasima
Yang sekeras ciu cangkol buah dadanya
Kemana Ranto Gudel pergi
Panggung selalu harum dengan arak wangi
Di Sriwedari jadi Petruk
Garengnya diajak mabuk
Bagongnya menggeloyor
Semarnya jualan ciu cangkol
Dengan terang lampu semprong
Pak Mloyo memukul kenong
Nong ji, nong ro, nong ji nong
Sengkuni ledha-ledhe, mimpin baris ngarep dhewe
Eh barisane menggok, Sengkuni kok malah ndeprok
Nong, nong ji nong ro
Giginya ompong mengerong
Ranto Gudel mendhem nyungsep
Thuyul gundhul kesana sini mengempit gendhul
Gendruwo thela-thelo tampak loyo
Jrangkong jalannya miring-miring, eh dhoyong
Belum selesai menabuh nong ji nongr o
Pak Mloyo terguling ke Bengawan Solo
Dengan alunan irama nong ji nong ro
Pak Mloyo pulang jalannya geloyoran
Sengkuni ledha-ledhe, mimpin baris ngarep dhewe
Eh barisane menggok, Sengkuni kok malah ndeprok
Ranto Gudel meminum arak bekonang
Mengantar gadis pulang berdandan bidan
Roknya putih bajunya putih
Serba putih lebih daripada peri
Tiba di pinggir kali
Ranto Gudel diajak belok ke kiri
Dhemit elek ASU tenan
Ngumpat Ranto Gudel geram
Ia marah terendam arak bekonang
Hampir saja aku bercinta dengan setan
Cinta manusia seperti Umbul Pengging
Dulu bening sekarang keruh
Ranto Gudel dengan empat istrinya
Tak pernah abadi cintanya
Sengkuni ledha-ledhe, mimpin baris ngarep dhewe
Eh barisane menggok, Sengkuni kok malah ndeprok
Nong, nong ji nong ro
Memang enak jadi wedhus daripada manusia
Bila mati dikubur di gundukan tanah
Kepalanya dikencingi wedhus yang merumput
Nasib manusia hanya sengsara sampai akhirnya
Mengapa kita mesti bersusah
Coba hiduplah seperti Joko Lelur
Siangnya melamun meminum limun
Malam beranjak bangun minum berminum
Lapen ciu cangkol arak bekonang dituang
Botol cangkol dipasangnya setiap sudut rumah
Apa guna tuk takut tikus-tikus rupanya
Oooh Mengenang bayangkan di masa tuanya
Ciu cangkol hanyalah spritus tuk usir tikus
Padahal dulu ku meminumnya sampai lepus
Sengkuni ledha-ledhe, mimpin baris ngarep dhewe
Eh barisane menggok, Sengkuni kok malah ndeprok
Nong, nong ji nong ro
Sengkuni ledha-ledhe, mimpin baris ngarep dhewe
Eh barisane menggok, Sengkuni kok malah ndeprok
Nong, nong ji nong ro




2068. Kata Mengalir Sampai Jauh
01-09-2026
Ketika ditanya mengapa judul buku kumpulan puisi Air Kata-kata, Sindhunata menjawab dengan terus terang, karena ‘air’-lah maka kata-kata muncul-mengalir dari tangannya.[1] Yang dimaksud dengan ‘air’ di sini adalah dalam konteks ‘alcohol intelligence’. Dalam bahasa jalanan, ‘ono surungané’ (Jw.), ada yang mendorong. Tentu itu hanya satu faktor saja. Tetapi ada komunitas ketika bercengkerama sering hadir minuman ‘ai’ di atas, katanya itu menjadi ‘lebih berani-lancar’ dalam mengeluarkan kata-kata. Tentu kita boleh setuju atau tidak. Tetapi bagi yang punya gangguan ‘waham’ dalam ilmu jiwa, ‘waham kebesaran’ misalnya, tanpa ‘ai’-pun ia bisa nyerocos tidak henti-henti. Dan bisa saja mempunyai ‘pengikut’, ada yang merasa yakin ia adalah titisan si-Bung misalnya, bicara bergaya a la si-Bung komplit dengan segala pernak-pernik tampilannya, dan ada yang percaya tuh. Banyak.
Dari sudut Fenomenologi, hal di atas bisa dilihat dari soal ‘waktu’, khususnya dalam hal ini terkait dengan ‘waktu internal’ baik dalam ‘waktu subyektif’ maupun dalam ‘consciousness of internal time’. Yang terakhir bisa dibayangkan sebagai nada 1-2-3, ketika sekarang kita dengar nada 2 maka nada 1 tidaklah menghilang begitu saja, ia seakan mengalami ‘retensi’. Sedangkan nada 3 meski belum terdengar ia seakan sudah diantisipasi. Masalahnya nada 1-nya itu bisa berbeda-beda. Bagi Sindhunata yang menguasai bermacam bahasa itu, ketika ia mengalami peristiwa yang menyedot perhatian (katakanlah ‘waktu subyektif’), misalnya bertemu anak yang berdendang nong, nong ji nong ro … tiba-tiba saja ada bagian ‘nada-nada’ seakan diaktifkan, kepenasaran ‘bergejolak’ dan mengalirlah kata-kata dalam Cintamu Sepahit Topi Miring, hadir dengan bermacam bahasa jadi satu sesuai dengan ‘greget’-nya masing-masing, yang semua itu kemudian diterjemahkan dalam lagu oleh JHF.[2] Tentu tidak hanya penguasaan bahasa, tetapi juga perjalanan hidup yang terus saja ada per-hati-an lebih akan suatu hal -ada passion, yang salah satunya akan membangun ‘horison’-nya masing-masing. Dengan horizon itu bermacam kemungkinan kemudian lebih menampakkan diri. Dan soal ‘ai’ di atas tetaplah sebenarnya hanya ‘surungan’ saja. Lihat misalnya penyanyi atau pencipta lagu itu, sayangnya ada yang bablas. Sebelum sampai jadi buku, relative dinamika di atas adalah berifat ‘privat’, persis seperti dikatakan oleh ‘mo Sindhu ia tidak peduli puisi-puisinya akan dibaca atau tidak oleh orang lain. Atau katakanlah setelah di lempar ke dunia ketiga-nya Popperian itu, silahkan siapa saja bebas untuk menginterpretasikan, mempersepsikannya. Salah satunya ya yang dilakukan oleh JHF itu.
Tetapi bagaimana ketika kita di ruang publik, sedang membicarakan ke-publik-an, dan bahkan saat itu kita adalah pejabat publik? Maka sebenarnya kita sedang menghayati ‘waktu eksternal atau waktu obyektif’, waktu dimana bersifat ‘publik’, bisa diukur bersama-sama. Dua jam-nya sik-A akan sama dengan sik-B. tetapi hidup pastilah akan mengalami ketiga waktu di atas, waktu obyektif, waktu subyektif, dan consciousness of internal time. Atau dalam bahasa Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, ada tahap fungsionil, tahap ontologis, dan tahap mitis, dimana tidak ada ‘tahap’ yang lebih tinggi satu sama lain, dan semua bisa ada dalam perjalanan hidup. Maka memang perlu latihan, latihan, dan latihan terkait menjadi mampu dan mau membedakan antara ‘yang publik’ dan ‘yang privat’ terutama bagi sik-pejabat publik.
Bahkan kemampuan untuk membedakan antara ‘yang publik’ dan ‘yang privat’ itu adalah ‘syarat mutlak’ untuk pejabat publik bisa disebut ‘profesional’, dan bukan ‘amatiran’. Contoh gamblang, sik-pokoknya ada itu jelas adalah pejabat publik kelas amatiran. Lalu bagaimana ‘latihan’-nya sehingga mampu membedakan ‘yang publik’ dan ‘yang privat’? Salah satunya adalah ‘latihan menunda’, atau dalam bahasa Fenomenologi, ‘bracketing atau epoché’, kita ‘tunda’ lebih dahulu bermacam prasangka, asumsi, pengetahuan awal kita terhadap sesuatu dan kemudian kita kembali ke sesuatunya itu untuk melihat dari bermacam sudut, aspek, profil-nya. Intinya, jangan taken for granted lebih dahulu. Jangan serta-merta, jangan ber-pendek-sumbu. Dan bagi sebagian besar orang, ini perlu ‘orang-orang sekitar’ dalam membangun ekosistem sehingga kemampuan ‘menunda’ itu semakin menebal. Mengapa? Karena setelah kembali ke sesuatunya itu dan melihat dari bermacam sudut, aspek, profilnya misalnya, maka berkembanglah imajinasi-imajinasi. Karen imajinasi itu bisa begitu liarnya -apalagi jika passion-nya adalah hal-hal besar, maka perlu dicek-ricek dengan imajinasi-imajinasi lain (yang bisa diajukan oleh orang-orang sekitar). Dan juga perlu dicek-ricek dengan realitas yang ada, Maka bayangkan jika di sekitar-sekitarnya isinya adalah penjilat semua! Ditambah lagi akses informasi dibatasi atau seakan ‘dikurung’ dalam sangkar emas![3] *** (01-09-2026)
[1] https://www.youtube.com/watch?v=iYNCtipPe6Y&t=5807s


