28-08-2026
Apakah propaganda menemui batasnya karena ada masyarakat melodramatic? Mudah bosan, mudah lupa, mudah kasihan? Ataukah pada dirinya sendiri karena memang sudah sampai pada batas kekuatan gelembungnya? Beberapa tahun belakangan sebenarnya bisa menjadi pelajaran bagi republik bagaimana propaganda menemui batasnya. Tetapi sebelum sampai di sana mungkin bisa kita ajukan pertanyaan lebih dahulu, dalam situasi apa propaganda itu menjadi lebih berkhasiat?
Dari Naomi Klein dalam The Schock Doctrine kita bisa membayangkan, yaitu ketika bencana dahsyat menerjang kesadaran bisa-bisa akan seperti kanvas putih, kosong. Dan dengan sigap murid-murid Milton Friedman kemudian melukis langkah-langkah neolibnya. Atau, bagaimana ‘propaganda’ modern mulai berkembang di AS sono lebih dari seratus tahun lalu? Karena ada Perang Dunia I yang berkecamuk di Eropa. Empat tahun setelah Perang Dunia I berakhir, Carl Schmitt dalam Political Theology (1922) mengatakan bahwa “sovereign is he who decides on the exception”. Artinya memang ada ‘studi’ yang berangkat dari situasi exception itu. Tetapi mungkin saja kesadaran tidaklah kosong seperti kanvas putih seperti digambarkan dalam shock doctrine di atas, karena di bawah sadar (subconsciousness) ada bagian ‘kesadaran temaram’ (twilight consciousness, menurut Hermann Broch) yang masih meninggalkan sedikit rasionalitas, yang dengan itu pula ‘penjelasan-penjelasan sederhana’ mungkin saja bisa segera ditangkap. Dari hal-hal di atas maka di ‘era post-truth’ ini bisa saja ada yang berkeyakinan bahwa ini adalah juga ‘era propaganda’. Yang akan masuk dengan ‘logika-logika sederhana’, kita-mereka, misalnya. Buku Amy Chua Political Tribe (2019) seakan mengingatkan hal tersebut. Bagaimana jika an instinct to exclude dieksploitasi dengan memang sudah ada kecenderungan kuat dalam diri soal ‘tribalisme’ itu?
Dan hal-hal di atas tidaklah ada di ruang kosong. Kita hidup di ruang-ruang yang semakin rapuh saja. Nepal sering terberitakan bagaimana hidup bersama menyatu dengan alam. Bagaimana paradigma merawat alam sering muncul dalam pemberitaan. Tetapi, bahkan jika hidup bersama seperti itu ada di kepulauan Galapagos, tetap saja terdampak oleh rapuhnya dunia, dalam hal ini kedaruratan iklim. Sedikit goncangan, gunung es atau glacier tiba-tiba patah, mencair, dan berubah menjadi banjir bandang yang menerjang semuanya tanpa ampun lagi. Mengerikan. Maka hidup bersama di republik jangan dibayangkan seakan terisolasi dari segala kerapuhan itu. Tidak hanya sungai-sungai mengering, gempa-gempa yang berpotensi lebih sering karena naiknya air laut yang berarti juga beban terhadap bumi bisa semakin memicu pergeseran lempeng bumi, belum lagi kebakaran-kebakaran hutan. Hal-hal di atas bisa-bisa menjadi salah satu faktor bagaimana propaganda bisa semakin cepat menemui batasnya, alam yang tidak peduli terhadap segala propaganda yang keluar dari mulut manusia. Dan perlahan alam akan memberikan pelajaran pada manusia, untuk semakin ‘kebal’ terhadap propaganda.
Hugo Chavez naik ke puncak kekuasaan di Venezuela sono pada tahun-tahun propaganda jaman old di republik sudah menemui batasnya. Dan beberapa tahun setelah Chavez tidak berkuasa, bebarapa analisa terkait dari batas-batas propaganda Chavez muncul. Rejim sekarang ini kira-kira tak jauh berbeda, ia hadir di tengah-tengah khasiat propaganda rejim sebelumnya sudah mulai kehilangan kekuatannya. Dan kucluknya, gaya propaganda yang sudah sekarat itu masih saja diteruskan oleh orang-orang rejim terdahulu yang masuk dalam pemerintahan. Hasilnya? Kepercayaan-pun menurun dengan cepat. Kecanduan akan propaganda itu akhirnya menghadirkan situasi ‘khas’ sebagai akibat ‘kecanduan’, apapun kecanduan terhadap apa.
Yang namanya kecanduan itu tidak hanya membuat tidak mampu lagi melihat situasi secara clear and distinct, tetapi semakin tidak mampu lagi menghayati apa-apa yang tergantung pada diri dan yang tidak. Yang namanya kecanduan, akan sangat-sangat sulit ‘dinasehati’ atau bahkan hanya untuk mendengar saja. Jika hal-hal ini tidak cepat disadari, kehancuranlah yang sedang disongsong. Jangan salahkan jika khalayak kebanyakan kemudian bergerak, bersama-sama menyelamatkan diri dari potensi banjir-bandang akibat penguasa asyik sendiri dalam kecanduannya. *** (28-08-2026)