2054. Post-truth dan Subsidiaritas

19-08-2026

Post-truth dan Subsidiaritas (1)

Apakah terpompanya istilah post-truth itu adalah juga scenario-writing? Bagaimana jika itu ‘disandingkan’ dengan The End of History-nya Fukuyama? Mengapa kemungkinan itu mesti diperhitungkan meski kemungkinannya kecil? Tetapi entah itu besar atau kecil, faktanya bisa kita rasakan bahwa soal post-truth ini sudah bekerja layaknya sebuah mitos saja. Mitos yang disadari atau tidak telah ikut menentukan bagaimana bermacam tindakan muncul, dan dalam hal ini di ranah olah kuasa. Langsung atau tidak langsung. Salah satu yang kita rasakan bertahun ini tidak hanya soal akal sehat terpinggirkan, tetapi perlahan propaganda sudah menjadi semacam panacea saja. Semacam obat ajaib yang akan menentukan bagaimana sebuah ‘keinginan’ diwujudkan.

Hampir seratus tahun lalu Husserl menulis The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology, yang diterbitkan setelah Husserl meninggal, beberapa tahun setelah Perang Dunia II berakhir. Kemajuan sains dan matematika selama katakanlah abad 18-19 di belahan Eropa sono perlahan melahirkan keyakinan bahwa yang obyektif itu adalah yang serba terukur. Atau kalau kita memakai pembedaan waktu dalam Fenomenologi, waktu obyektif, waktu subyektif atau waktu internal, dan consciousness of internal time yang sudah disinggung di beberapa tulisan sebelum ini, krisis yang dimaksud Husserl dalam bukunya di atas kurang lebihnya adalah klaim ‘waktu obyektif’-lah yang dominan memberikan nafas pada hal-hal obyektif. Hanya sains dan matematika yang bisa dikatakan sebagai landasan yang obyektif dari realitas.

Husserl juga mengenalkan istilah ‘dunia-kehidupan’, life-world, dunia dalam keadaan ‘pra-reflektif’, diselami dijalani dalam kesehariannya. Sebagian besarnya dijalani dengan modus taken-for-granted. Sebagian besar hidup kita akan dijalani dengan ‘modus’ ini, dalam life-world masing-masing. Apakah yang keseharian ini menjadi ‘kurang atau bahkan tidak obyektif’, padahal sehari-hari realitas kongkret-pun terhayati (secara obyektif) dalam bermacam aktifitas? Dalam keseharian itu kita kadang-kadang menemui sesuatu atau peristiwa yang sungguh menyedot perhatian. Misalnya kita menunggu teman sedang ditangani di UGD. Waktu terasa lama, berbeda dengan saat ngobrol gayeng. ‘Tema’ tindakan medis tentu beda dengan tema ngobrol. ‘Tematisasi’ dalam life-world itulah yang memungkinkan pencarian yang bisa saja berujung pada sains. Atau bahkan sains terlibat di dalam per-tema-an itu. Tetapi yang lebih penting dari itu, subyektifitas yang muncul dalam proses ‘tematisasi’ itu perlulah dicek-ricek dengan subyektifitas lainnya. ‘Waktu subyektif’ yang bersifat privat itu kadang memang perlu dikomunikasikan. Maka tidak mengherankan beberapa pemikir seperti Hannah Arendt, Habermas menandaskan pentingnya komunikasi, atau katakanlah diskursus dalam membangun ruang publik yang lebih ‘berdaya-guna’. Para filsuf akan pandai dalam mengintepretasikan dunia, tetapi yang penting adalah mengubahnya, demikian pernah dikatakan Marx. Akhirnya memang bermacam inter-subyektifitas itu sering perlu di-operasikan, dengan beberapa hal disepakati, katakanlah terkait dengan ukuran-ukurannya. Bahkan Arendt menegaskan, siapa tahu itu berarti juga sebuah ‘operasi’ untuk ‘kelahiran baru’. Maka masuklah kita dalam penghayatan ‘waktu obyektif’. Tetapi, bagaimana ketika ‘waktu obyektif’ mengalami ‘megalo-mania’ sehingga ‘waktu subyektif’ dan consciousness of internal time ‘dilupakan’?

Pada tahun 1917, George Creel ditunjuk oleh Presiden AS saat itu, Woodrow Wilson, untuk mengepalai satuan tugas baru yang tujuannya adalah mengubah opini rakyat AS saat itu yang anti-perang, untuk mendukung pemerintahan AS terlibat di Perang Dunia I yang sedang berkecamuk di Eropa sana. Dengan menggunakan poster-poster, film-film, siaran radio, pidato-pidato, dan menggambarkan Jerman sebagai sik-setan, Creel dan bawahannya berhasil mengubah opini rakyat AS saat itu dari anti-perang menjadi keranjingan supaya AS segera mengirim pasukan ke Eropa melawan Jerman. Seratus tahun kemudian, di tahun 2016 terbongkar apa yang dikenal sebagai Skandal Cambridge Analitika. ‘Sihir’ bukan untuk perang, tetapi untuk Brexit dan kemenangan Trump periode pertamanya. Sik-post-truth komplit dengan echo-chambers-nya itu kemudian berkembang menjadi salah satu pondasi kokoh propaganda di era Revolusi Informasi ini. Bedanya dengan Komite Creel di tahun 1917, saat itu ‘sik-bodoh’ ditipu, seratus tahun kemudian ‘sik-bodoh’ dieksploitasi, sama-sama oleh sik-master-propaganda, sik ahli dalam dunia ke-mabuk-an.[i] *** (18-08-2026)

Post-truth dan Subsidiaritas (2)

Kalau ‘waktu subyektif’ dan consciousness of internal time doeloe ‘dilupakan’, sekarang ‘dihina-hina’ hanya untuk ‘dieksploitasi’. Siapa pemain utamanya ini? Nampaknya dari dulu sampai sekarang tidak jauh berbeda, yang punya banyak sekali hal-hal yang bisa diukur itu, terutama soal uang. Suka atau tidak kita sudah terbiasa tentang laporan (tiap tahun) terkait siapa-siapa yang mempunyai ‘uang-dalam-ukuran-terbanyak’, baik di republik maupun di dunia. Atau coba kita bayangkan apa yang mendorong adanya istilah gelombang globalisasi pertama untuk rentang waktu dekade-dekade sebelum UU Agraria di Hindia Belanda ditetapkan itu? Dan juga istilah gelombang globalisasi kedua yang mulai di sekitar pertengahan dekade 1970-an? Bahkan ketika itu mulai bersekutu dengan yang punya kekuatan kekerasan, maka apa yang dibayangkan Negri dan Hardt tentang Empire (2000) itu bisa-bisa sudah bukan lagi fakta potensial. Bagaimana dengan kekuatan pengetahuan?

Apa kira-kira yang dimaksud oleh Negri dan Hardt tentang multitude sebagai yang ada di sisi oposisi Empire? Nampaknya adalah dari masing-masing life-world, atau kelompok dengan life-world mirip, ada yang mampu membuat apa-apa yang sebenarnya di balik Empire itu sebagai ‘tema’ tersendiri, ‘tema’ yang semakin menampakkan diri, dan kemudian mengundang-mengembangkan bangunan subyektifitas serta mau-mampu melakukan inter-subyektifitas. Maka multitude sebenarnya berangkat dari pengalaman sendiri, pengalaman keseharian yang entah perlahan atau tiba-tiba merasakan apa-apa yang diperbuat Empire itu sebagai kategori pengalaman tersendiri. Dan ketika itu dikomunikasikan melalui jaringan digital-internet utamanya, perlahan pula akan semakin jelas bagaimana itu akan ‘dioperasionalkan’. Kekuatan pengetahuan yang dibangun melalui inter-subyektifitas, yang akan menguak kebenaran lapis demi lapis, the truth of disclosure. Kebenaran sebagai juga ketersingkapan. Berbeda dengan the truth of correctness, yang sebenarnya ini (semestinya) merupakan ‘kelanjutan’ dari the truth of disclosure.

Jadi sekarang dan seratus tahun lalu, paling tidak ada satu kesamaan, propaganda. Propaganda yang mampu masuk-mengusik pada rasa-merasa yang ada di life-world. Bahkan sekarang ini bisa menjangkau sampai ruang paling pribadi, kapanpun dimanapun. Jika meminjam secara bebas kata-kata Marx, kecanduan propaganda itu bukan lagi soal sik-tertindas, tetapi justru pada sik-penindas dalam upaya tanpa henti melanggengkan penindasan. Dan untuk itu pula, dengan adanya gejala post-truth yang justru dieksploitasi maka jika ada sementara pihak mengatakan bahwa glorifikasi post-truth itu adalah scenario-writing tidaklah salah-salah amat. Bukankah salah satu habitat ideal bagi propaganda adalah ketika banyak orang-orang lebih memakai emosinya? Dan kemudian hasil-hasil propaganda ini kemudian diangkakan dalam bentuk angka-angka statistik, misalnya. Bahkan satu kegilaan muncul dalam doa saat Upacara 17 Agustus di Istana negara kemarin, yang serba terukur dalam bentuk angka statistik-pun muncul juga, dalam doa![ii]

Manuel Castells pernah menandaskan bahwa politik di era Revolusi Informasi ini akan sangat dipengaruhi oleh ‘politik skandal’. Sebenarnya ini tidak jauh-jauh amat dari penggunaan prinsip propaganda. Pembunuhan karakter, ‘sandera kasus’ jelas akan terlibat dalam logika propaganda. Kasusnya nanti di-propagandakan lho … Akhirnya propaganda kemudian menjadi semacam panacea bagi penguasa untuk menyelesaikan bermacam masalah. Menjadi tidak tahu batas lagi. *** (18-08-2026)

Post-truth dan Subsidiaritas (3)

Apakah kibbutz di Israel sono adalah sebuah utopia? Tetapi faktanya sampai sekarang masih ada setelah lebih dari 100 tahun dipraktekkan. Apa yang bisa dipelajari dari ini? Mungkin pengertian subsidiaritas menjadi lebih bisa dibayangkan: apa-apa jika yang lebih kecil bisa menyelesaikan maka yang di atas harus menahan diri untuk tidak ugal-ugalan intervensi. Tetapi apakah itu adalah lebih masalah ‘yang atas’ menahan diri? Bagaimana dengan ‘komunitas basis’ yang harus menunjukkan bahwa dirinya memang mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri? Atau lihat bagaimana sebuah rantai produksi bisa melibatkan industri-industri lokal atau kecil sehingga mampu membangun industri skala global? Sebagian besar yang bisa disebut ‘komunitas basis’ banyak yang mulai dari pertanian. Jepang mulai dengan menentukan harga beras dimana dengan harga tersebut petani-petaninya mampu hidup layak, dan akhirnya bisa membeli produk-produk lain dari hasil industri. Maka Jepang sangat memperhatikan soal impor-impor beras, bahkan ketika harga beras dalam negeri melambung Jepang masih ngotot menolak desakan Amerika untuk membuka kran impornya. Atau lihat ketika Henry Ford menaikkan gaji pegawainya sehingga mereka mampu membeli mobil yang diproduksinya itu. Bahkan George W. Bush dalam Future Farmers of America 27 Juli 2001 mengatakan bahwa: “It’s important for our nation to build -to grow foodstuff, to feed our people. Can you imagine a country that was unable to grow enough food to feed the pople? It would be a nation subject to international pressure. It would be a nation at risk. So when we’re talking about American Agriculture, we’re really talking about nation security issue.”

Maka ‘pemberdayaan komunitas basis’ dengan memberikan kepercayaan tinggi ‘basis’ menyelesaikan apa-apa yang memang bisa diselesaikan sendiri adalah sangat penting dalam hidup bersama. Dari ‘bangsa yang mewaktu’ ini penting untuk bisa saling menghargai bahwa memang ada yang disebut dengan consciousness of internal time, waktu subyektif, dan waktu obyektif itu. Penghindaran klaim sebagai yang ‘paling mewaktu’-pun lebih bisa dilakukan. Bertahun terakhir sampai sekarang ini, ‘pemusatan’ semakin lebih dirasakan. Tidak ada yang ‘tulus’ dalam pemberdayaan komunitas basis. Maka tidak mengherankan seperti disebut di bagian terdahulu, propaganda yang maunya gebyah uyah, menyama-ratakan itu semakin ugal-ugalan saja. Bahkan ‘jalan gampang’-pun menjadi pilihan utama. Waktu-kalender pemilihan umum kemudian menentukan segalanya, dengan tidak ada yang mau dan mampu ‘melampaui’-nya.

Judul post-truth dan subsidiaritas itu ingin mengatakan bahwa segala yang mau ‘dicapai’ dalam post-truth post-truth-an itu bisa dilawan dengan pemberdayaan basis. Dimana dalam keseharian bisa muncul juga bermacam ‘tematisasi’ yang mungkin saja akan dilanjutkan dalam ‘inter-subyektifitas’. Sebagai ‘tandingan’ dari ‘fakta-fakta alternatif’ yang diproduksi oleh penguasa. Dan ini akan sangat terganggu terlebih ketika kemampuan itu sedang dikembangkan, justru ‘digoda’ dengan tanpa henti oleh bermacam propaganda tanpa henti, tanpa tahu batas, oleh penguasa. Seakan kita terus saja hidup dalam nuansa kampanye tanpa akhir. Atau lihat, apa sih misalnya, yang mau dicapai dengan pelarangan anak-anak usia di bawah 15 tahun untuk tidak mengakses sosial-media itu? *** (19-08-2026)

[i] https://www.youtube.com/watch?v=cS4NoySkTLE

[ii] https://www.youtube.com/watch?v=vadQJjgyjzw

2055. Jurus-jurus Penjerumusan (1)

20-08-2026

Mengapa ‘orang-orang sekitar’ penting dalam politik? Tetapi, mengapa ‘orang-orang jauh’ sama pentingnya juga? Salah satunya biar tidak mudah terjerumus. Bagaimana menghadapi kaum penjilat Machiavelli menyarankan pada Pangeran supaya mau meyakinkan pada semuanya bahwa ketika khalayak kebanyakan mengajukan kebenaran maka ia akan merasa tidak sedang diserang. Jadi oke-oke saja. Artinya ada soal ‘orang-orang sekitar’ dalam hal ini kaum penjilat, dan ‘orang-orang jauh’ dalam hal ini khalayak kebanyakan yang mengajukan kebenaran. Ketika khalayak kebanyakan mengungkap kebenaran dan kemudian justru dianggap sedang menyerang dirinya, sedang nyinyirin dirinya: nyé… nyé… nyé, maka itu tidak hanya menunjukkan suksesnya kaum penjilat dalam mengkondisikan Pangeran bersikap begitu, tetapi sebenarnya Sang-Pangeran sedang dijerumuskan. Dijerumuskan melalui dis-informasi karena kebenaran dari khalayak kebanyakan itu akhirnya tidak didengar. Atau tidak sampai. Kebenaran yang mungkin saja merupakan ‘umpan-balik’ dari bermacam program yang sedang dilaksanakan. Mungkin saja komplit dengan data-datanya, atau bermacam analisa ‘terukur’-nya.

Kemarin saat ‘ahli komunikasi’ Istana sik-kepala-babi-dimasak-saja itu meminta supaya khalayak kebanyakan lebih melihat substansi pidato atasannya saat 17 Agustus -tidak terus membicarakan misalnya tentang kupas bawang itu, dia lupa saat mengomentari terror kepala babi pada jurnalis beberapa waktu lalu. Asal mangap, asal njeplak, dan justru mengaburkan substansi peristiwanya, khas sik-spin doctor. Entah lebih banyak nature-nya atau nurture-nya, dalam beberapa peristiwa di ruang terbatas yang semestinya bisa menjadi tempat pertukaran ‘imajinasi’ justru hal-hal tidak substantif -bahkan cenderung kasar, muncul di sana-sini. Ketika bicara tentang ‘imajinasi-tematis’ itu justru yang di luar ‘tema’ mendapat tepuk tangan keras karena terasa out of the box, karena kasarnya misalnya. Karena suka tudang-tudingnya misalnya. Seakan keluar begitu saja tanpa refleksi mendalam, termasuk perhitungan terkait segala konsekuensinya. Apakah ini juga karena dalam kesehariannya ia begitu?

Bayangkan lebih dari 20 tahun lalu, tiba-tiba saja keluar dari seorang tokoh menunjuk pada seorang yang nantinya keluar sebagai pemenang pemilu presiden: ‘jenderal kok kekanak-kanak-an’. Atau seorang pemimpin ibu kota yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya tentang sebuah ayat, dan kemudian ini memicu kontroversi berkelanjutan. Mengapa dari contoh di atas, keluar begitu saja seakan tanpa refleksi mendalam terkait dengan segala akibatnya? Mungkin, mungkin saja ia di feeding sekali, dua kali, tiga kali, oleh orang-orang sekitar, masuk dalam alam bawah sadar karena mungkin saja masuk dengan guyonan, ledekan-glècènan, dan tiba-tiba saja boom keluar dengan enteng-enteng saja, taken for granted. Ke-taken for granted-an yang menerus dari keseharian-keseharian sebelumnya. Maka di sinilah pentingnya ‘orang-orang sekitar’, bagaimana keseharian dalam rasa-merasa dibangun. Apalagi ada orang-orang sekitar yang bisa masuk bahkan sampai ruang-ruang yang sungguh privat. Feeding-nya bisa lebih berkhasiat, baik dengan guyonan atau guyonan manja. Belum lagi jika by-nature memang demen tentang ‘hal-hal besar’, sehingga tanpa sadar banyak lubang di sana-sini yang semestinya itu ditutup-dilengkapi oleh ‘orang-orang sekitar’. Tetapi justru ‘orang-orang sekitar’ memanfaatkan ‘lubang-lubang’ itu untuk memasukkan feeding-feeding tertentu yang justru menjerumuskan. *** (20-08-2026)

2056. Jurus-jurus Penjerumusan (2)

20-08-2026

Paling tidak ada dua hal perlu diperhatikan terkait dengan apa-apa di bagian (1), pertama, itu tidaklah di ruang kosong, kedua, bisa saja tidak hanya soal satu orang tetapi juga soal satu bangsa. Tidak di ruang kosong akan juga berarti ‘siapa akan diuntungkan’? Juga soal situasi obyektif yang terus berkembang. Bukan hanya soal satu orang yang ada di pusat prakondisi politis, tetapi ini juga soal prakondisi teknis dan prakondisi sosial. Jika semua jadi rusak-rusakan maka akan sangat mudah bagi republik untuk masuk jurang.

Pertanyaan ‘siapa diuntungkan’ adalah juga soal penguasaan. Entah soal keinginan menumpuk kekuasaan dan atau demi mengamankan apa-apa yang sudah diperoleh, apa-apa yang sudah dinikmati. Dan itu ada dalam rentang dari lokal, nasional, regional, atau internasional. Apalagi dari banyak hal republik memang ‘menguntungkan’, tidak hanya sumber daya alamnya saja.

Jadi jika ada ‘skenario’ penjerumusan itu jelas adalah soal penguasaan. Bukan yang lain-lainnya. Yang sedang dijerumuskan jelas mempunyai potensi mengganggu apa-apa yang sudah dikuasai, atau mengganggu benteng kokoh yang sudah dibangun untuk mengamankan apa-apa yang sudah diperoleh. Maka titik kunci yang perlu diperhatikan adalah prakondisi sosial, karena prakondisi teknis, atau katakanlah lembaga-lembaga negara bisa dikatakan sebagian sudah menjadi bagian dari kokohnya benteng. Kata Machiavelli, benteng paling kokoh adalah ‘tidak dibenci rakyat’. Bagaimana supaya ‘tidak dibenci rakyat’? Atau pertanyaan bisa lain, bagaimana yang mempunyai potensi mengganggu benteng itu justru yang akan dijerumuskan sehingga ‘dibenci rakyat’?

Mengapa, menurut Platon, mata yang merupakan bagian terindah dari tubuh koq hanya diberi warna hitam dan putih saja? Supaya keseluruhan bisa terhayati keindahannya. Artinya, bagian terindah itu bisa saja justru dinampakkan kesederhanaannya saja, simple saja. Ini soal ‘keseimbangan’ sehingga keseluruhan itu bisa dihayati keindahannya. Di tengah-tengah ‘warna-warni’ kehidupan yang semakin sulit diprediksi ini, pemimpin sebagai ‘mata’ hidup bersama semestinya hadir dengan ‘kesederhanaan’-nya. Lihat bagaimana ‘strategi-sederhana’ bisa begitu membuai khalayak kebanyakan bertahun lalu, terutama saat ‘merebut kuasa’. Meski sebenarnya dalam ranah olah kuasa negara, terlebih dalam konteks ‘penggunaan kuasa’, ‘sederhana’ -simplisitas, lebih dari sekedar ‘bahasa tubuh’.

Bertahun terakhir Upacara Peringatan 17 Agustus di Istana berlangsung dengan penuh ‘warna-warni’, termasuk ‘bahasa tubuh’-nya. Padahal peristiwa itu sebenarnya tidak hanya ketika pemimpin tertinggi hadir sebagai ‘mata’ hidup bersama, tetapi keseluruhan acara tersebut sebenarnya juga ‘mata batin’ perjalanan sejarah republik. Semestinya, sebagai ‘mata’ yang merupakan bagian tubuh terindah, mengapa tidak dibuat ‘simpel-simpel’ saja? Tetapi penuh dengan ‘batin-yang-khidmat’? Apa hubungannya dengan ‘penguasaan’? Apakah akan menjadi semakin mudah untuk ‘dikuasai’ ketika ‘keindahan’ keseluruhan itu semakin ‘sulit’ terhayati?

Maka jurus lain dalam penjerumusan adalah ketika simplisitas kepemimpinan semakin (di)redup(kan). Ke-simpel-an sebuah prototipe-pun akhirnya tidak masuk dalam imajinasi, misalnya. Maunya langsung ke hal-hal besar yang sebenarnya rumit dan penuh komplikasi. Dan apa yang kemudian terjadi? Keindahan-pun akhirnya menjauh. “There is no greatness where there is no simplicity, goodness, and truth,” demikian pernah dikatakan Leo Tolstoy. *** (20-08-2026)

2057. Buat KPU Bayangan!

2058. Mengapa Perlu Dibuat KPU Bayangan?

21-08-2026

Remember the first rule of politics. The ballots don’t make the results the counters make the results. The counters. Keep counting.”

(Film Gangs of New York, 2002)

Dalam The Theory of Moral Sentiments edisi terakhir (edisi ke-6, 1790), Adam Smith menambahkan beberapa hal terkait dengan keutamaan (virtue) dan filsafat moral. Salah satunya disinggung tentang famous sect, sik-sekte agung, yang banyak nuansa Stoik-nya. Maksudnya kira-kira di tengah-tengah samudera gejolak kepentingan diri, perlu ada sik-sekte agung yang mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan kebanyakan yang sibuk mengejar kepentingan diri di pasar. Terutama keutamaan dalam pengendalian diri, tahu batas.

Meski banyak yang tidak mau dimasukkan dalam kategori ranah pasar, tetapi dalam demokrasi tetaplah ada kepentingan pengejaran kepentingan diri. Bagaimana kepentingan-kepentingan diri itu saling berkompetisi. Hanya saja ketika ukuran menjadi besar dan luas, demokrasi langsung menjadi sulit dilaksanakan, sehingga memang sering perlu ‘orang-orang tengah’, dalam hal ini katakanlah partai politik. Maka sebenarnya, dalam partai politik di ujung atau di akar rumput, semestinya demokrasi langsung bisa dilatih-dipraktekkan sebagai pondasi rasa-merasa ketika tiba saatnya demokrasi dihayati secara ‘khusus’.

Dari hal-hal di atas, sedikit banyak kita bisa membayangkan bahwa anggota-anggota KPU (dan Bawaslu tentunya, juga DKPP) mestinya adalah golongan sekte agung, famous sect. Memang bukan dewa-dewa, tetapi yang sungguh mampu mengendalikan diri, tahu batas, sebagai syarat mutlaknya. Tentu ini belum cukup, perlu syarat mencukupi seperti pengetahuan tentang ke-pemilu-an, misalnya. Tetapi sekali lagi, tahu batas adalah syarat mutlak. Terlebih ketika ia hadir dalam situasi penguasa yang sungguh lekat dengan aktivitas perburuan rente. Korupsi meraja-lela. Penyalahgunaan wewenang seakan sudah menjadi banal, tidak tahu batas.

Apa yang akan dilakukan oleh kaum semau-maunya itu? Dari pengalaman paling tidak dua pemilihan terakhir, sangat nampak bagaimana KPU itu terus saja digoda untuk menjadi ‘tidak-tahu-batas’. Macam-macam godaannya, tetapi jika memakai Alegori Kereta-nya Platon, sik-kuda hitam yang menggambarkan hasrat perut ke bawah seperti makan, minum, bermacam kemewahan, seks, dan terutama hasrat akan uang, akan diulik-ulik, sehingga akhirnya mampu mengalahkan sik-kuda putih (kehormatan, kehendak baik) dan sais (kekuatan nalar). Bahkan sayap di kanan kiri kereta yang melambangkan semangat (untuk membuat pemilu jujur, adil, terbuka) itupun perlahan dipreteli. Akhirnya kereta KPU yang semestinya naik ke atas untuk mendekati hidup demokratis yang semakin bermartabat itu justru meluncur ke bawah terjerembab dalam kegelapan.

Rejim terdahulu itu adalah rejim tidak tahu batas sehingga pantas saja akhirnya menjadi nominasi pemimpin paling korup se-dunia. Semau-maunya. Dan apa yang mereka perbuat terhadap KPU? Seperti sudah disinggung di atas, terus saja menggoda supaya KPU menjadi juga: tidak tahu batas. Rusak-rusakan.

Maka KPU Bayangan jika ini dibentuk, pertama-tama adalah untuk menegaskan bahwa KPU bisa menjadi pusat yang excellent untuk terlibat dalam membangun demokrasi ke depan. Dari mana pintu masuk-nya? Mulailah dengan membuka semua kebobrokan KPU di masa lalu. Semua saja, termasuk Sirekap itu. Semua, semua, bongkar dulu! Supaya batas-batas itu semakin jelas. *** (21-08-2026)