2054. Post-truth dan Subsidiaritas

19-08-2026

Post-truth dan Subsidiaritas (1)

Apakah terpompanya istilah post-truth itu adalah juga scenario-writing? Bagaimana jika itu ‘disandingkan’ dengan The End of History-nya Fukuyama? Mengapa kemungkinan itu mesti diperhitungkan meski kemungkinannya kecil? Tetapi entah itu besar atau kecil, faktanya bisa kita rasakan bahwa soal post-truth ini sudah bekerja layaknya sebuah mitos saja. Mitos yang disadari atau tidak telah ikut menentukan bagaimana bermacam tindakan muncul, dan dalam hal ini di ranah olah kuasa. Langsung atau tidak langsung. Salah satu yang kita rasakan bertahun ini tidak hanya soal akal sehat terpinggirkan, tetapi perlahan propaganda sudah menjadi semacam panacea saja. Semacam obat ajaib yang akan menentukan bagaimana sebuah ‘keinginan’ diwujudkan.

Hampir seratus tahun lalu Husserl menulis The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology, yang diterbitkan setelah Husserl meninggal, beberapa tahun setelah Perang Dunia II berakhir. Kemajuan sains dan matematika selama katakanlah abad 18-19 di belahan Eropa sono perlahan melahirkan keyakinan bahwa yang obyektif itu adalah yang serba terukur. Atau kalau kita memakai pembedaan waktu dalam Fenomenologi, waktu obyektif, waktu subyektif atau waktu internal, dan consciousness of internal time yang sudah disinggung di beberapa tulisan sebelum ini, krisis yang dimaksud Husserl dalam bukunya di atas kurang lebihnya adalah klaim ‘waktu obyektif’-lah yang dominan memberikan nafas pada hal-hal obyektif. Hanya sains dan matematika yang bisa dikatakan sebagai landasan yang obyektif dari realitas.

Husserl juga mengenalkan istilah ‘dunia-kehidupan’, life-world, dunia dalam keadaan ‘pra-reflektif’, diselami dijalani dalam kesehariannya. Sebagian besarnya dijalani dengan modus taken-for-granted. Sebagian besar hidup kita akan dijalani dengan ‘modus’ ini, dalam life-world masing-masing. Apakah yang keseharian ini menjadi ‘kurang atau bahkan tidak obyektif’, padahal sehari-hari realitas kongkret-pun terhayati (secara obyektif) dalam bermacam aktifitas? Dalam keseharian itu kita kadang-kadang menemui sesuatu atau peristiwa yang sungguh menyedot perhatian. Misalnya kita menunggu teman sedang ditangani di UGD. Waktu terasa lama, berbeda dengan saat ngobrol gayeng. ‘Tema’ tindakan medis tentu beda dengan tema ngobrol. ‘Tematisasi’ dalam life-world itulah yang memungkinkan pencarian yang bisa saja berujung pada sains. Atau bahkan sains terlibat di dalam per-tema-an itu. Tetapi yang lebih penting dari itu, subyektifitas yang muncul dalam proses ‘tematisasi’ itu perlulah dicek-ricek dengan subyektifitas lainnya. ‘Waktu subyektif’ yang bersifat privat itu kadang memang perlu dikomunikasikan. Maka tidak mengherankan beberapa pemikir seperti Hannah Arendt, Habermas menandaskan pentingnya komunikasi, atau katakanlah diskursus dalam membangun ruang publik yang lebih ‘berdaya-guna’. Para filsuf akan pandai dalam mengintepretasikan dunia, tetapi yang penting adalah mengubahnya, demikian pernah dikatakan Marx. Akhirnya memang bermacam inter-subyektifitas itu sering perlu di-operasikan, dengan beberapa hal disepakati, katakanlah terkait dengan ukuran-ukurannya. Bahkan Arendt menegaskan, siapa tahu itu berarti juga sebuah ‘operasi’ untuk ‘kelahiran baru’. Maka masuklah kita dalam penghayatan ‘waktu obyektif’. Tetapi, bagaimana ketika ‘waktu obyektif’ mengalami ‘megalo-mania’ sehingga ‘waktu subyektif’ dan consciousness of internal time ‘dilupakan’?

Pada tahun 1917, George Creel ditunjuk oleh Presiden AS saat itu, Woodrow Wilson, untuk mengepalai satuan tugas baru yang tujuannya adalah mengubah opini rakyat AS saat itu yang anti-perang, untuk mendukung pemerintahan AS terlibat di Perang Dunia I yang sedang berkecamuk di Eropa sana. Dengan menggunakan poster-poster, film-film, siaran radio, pidato-pidato, dan menggambarkan Jerman sebagai sik-setan, Creel dan bawahannya berhasil mengubah opini rakyat AS saat itu dari anti-perang menjadi keranjingan supaya AS segera mengirim pasukan ke Eropa melawan Jerman. Seratus tahun kemudian, di tahun 2016 terbongkar apa yang dikenal sebagai Skandal Cambridge Analitika. ‘Sihir’ bukan untuk perang, tetapi untuk Brexit dan kemenangan Trump periode pertamanya. Sik-post-truth komplit dengan echo-chambers-nya itu kemudian berkembang menjadi salah satu pondasi kokoh propaganda di era Revolusi Informasi ini. Bedanya dengan Komite Creel di tahun 1917, saat itu ‘sik-bodoh’ ditipu, seratus tahun kemudian ‘sik-bodoh’ dieksploitasi, sama-sama oleh sik-master-propaganda, sik ahli dalam dunia ke-mabuk-an.[i] *** (18-08-2026)

Post-truth dan Subsidiaritas (2)

Kalau ‘waktu subyektif’ dan consciousness of internal time doeloe ‘dilupakan’, sekarang ‘dihina-hina’ hanya untuk ‘dieksploitasi’. Siapa pemain utamanya ini? Nampaknya dari dulu sampai sekarang tidak jauh berbeda, yang punya banyak sekali hal-hal yang bisa diukur itu, terutama soal uang. Suka atau tidak kita sudah terbiasa tentang laporan (tiap tahun) terkait siapa-siapa yang mempunyai ‘uang-dalam-ukuran-terbanyak’, baik di republik maupun di dunia. Atau coba kita bayangkan apa yang mendorong adanya istilah gelombang globalisasi pertama untuk rentang waktu dekade-dekade sebelum UU Agraria di Hindia Belanda ditetapkan itu? Dan juga istilah gelombang globalisasi kedua yang mulai di sekitar pertengahan dekade 1970-an? Bahkan ketika itu mulai bersekutu dengan yang punya kekuatan kekerasan, maka apa yang dibayangkan Negri dan Hardt tentang Empire (2000) itu bisa-bisa sudah bukan lagi fakta potensial. Bagaimana dengan kekuatan pengetahuan?

Apa kira-kira yang dimaksud oleh Negri dan Hardt tentang multitude sebagai yang ada di sisi oposisi Empire? Nampaknya adalah dari masing-masing life-world, atau kelompok dengan life-world mirip, ada yang mampu membuat apa-apa yang sebenarnya di balik Empire itu sebagai ‘tema’ tersendiri, ‘tema’ yang semakin menampakkan diri, dan kemudian mengundang-mengembangkan bangunan subyektifitas serta mau-mampu melakukan inter-subyektifitas. Maka multitude sebenarnya berangkat dari pengalaman sendiri, pengalaman keseharian yang entah perlahan atau tiba-tiba merasakan apa-apa yang diperbuat Empire itu sebagai kategori pengalaman tersendiri. Dan ketika itu dikomunikasikan melalui jaringan digital-internet utamanya, perlahan pula akan semakin jelas bagaimana itu akan ‘dioperasionalkan’. Kekuatan pengetahuan yang dibangun melalui inter-subyektifitas, yang akan menguak kebenaran lapis demi lapis, the truth of disclosure. Kebenaran sebagai juga ketersingkapan. Berbeda dengan the truth of correctness, yang sebenarnya ini (semestinya) merupakan ‘kelanjutan’ dari the truth of disclosure.

Jadi sekarang dan seratus tahun lalu, paling tidak ada satu kesamaan, propaganda. Propaganda yang mampu masuk-mengusik pada rasa-merasa yang ada di life-world. Bahkan sekarang ini bisa menjangkau sampai ruang paling pribadi, kapanpun dimanapun. Jika meminjam secara bebas kata-kata Marx, kecanduan propaganda itu bukan lagi soal sik-tertindas, tetapi justru pada sik-penindas dalam upaya tanpa henti melanggengkan penindasan. Dan untuk itu pula, dengan adanya gejala post-truth yang justru dieksploitasi maka jika ada sementara pihak mengatakan bahwa glorifikasi post-truth itu adalah scenario-writing tidaklah salah-salah amat. Bukankah salah satu habitat ideal bagi propaganda adalah ketika banyak orang-orang lebih memakai emosinya? Dan kemudian hasil-hasil propaganda ini kemudian diangkakan dalam bentuk angka-angka statistik, misalnya. Bahkan satu kegilaan muncul dalam doa saat Upacara 17 Agustus di Istana negara kemarin, yang serba terukur dalam bentuk angka statistik-pun muncul juga, dalam doa![ii]

Manuel Castells pernah menandaskan bahwa politik di era Revolusi Informasi ini akan sangat dipengaruhi oleh ‘politik skandal’. Sebenarnya ini tidak jauh-jauh amat dari penggunaan prinsip propaganda. Pembunuhan karakter, ‘sandera kasus’ jelas akan terlibat dalam logika propaganda. Kasusnya nanti di-propagandakan lho … Akhirnya propaganda kemudian menjadi semacam panacea bagi penguasa untuk menyelesaikan bermacam masalah. Menjadi tidak tahu batas lagi. *** (18-08-2026)

Post-truth dan Subsidiaritas (3)

Apakah kibbutz di Israel sono adalah sebuah utopia? Tetapi faktanya sampai sekarang masih ada setelah lebih dari 100 tahun dipraktekkan. Apa yang bisa dipelajari dari ini? Mungkin pengertian subsidiaritas menjadi lebih bisa dibayangkan: apa-apa jika yang lebih kecil bisa menyelesaikan maka yang di atas harus menahan diri untuk tidak ugal-ugalan intervensi. Tetapi apakah itu adalah lebih masalah ‘yang atas’ menahan diri? Bagaimana dengan ‘komunitas basis’ yang harus menunjukkan bahwa dirinya memang mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri? Atau lihat bagaimana sebuah rantai produksi bisa melibatkan industri-industri lokal atau kecil sehingga mampu membangun industri skala global? Sebagian besar yang bisa disebut ‘komunitas basis’ banyak yang mulai dari pertanian. Jepang mulai dengan menentukan harga beras dimana dengan harga tersebut petani-petaninya mampu hidup layak, dan akhirnya bisa membeli produk-produk lain dari hasil industri. Maka Jepang sangat memperhatikan soal impor-impor beras, bahkan ketika harga beras dalam negeri melambung Jepang masih ngotot menolak desakan Amerika untuk membuka kran impornya. Atau lihat ketika Henry Ford menaikkan gaji pegawainya sehingga mereka mampu membeli mobil yang diproduksinya itu. Bahkan George W. Bush dalam Future Farmers of America 27 Juli 2001 mengatakan bahwa: “It’s important for our nation to build -to grow foodstuff, to feed our people. Can you imagine a country that was unable to grow enough food to feed the pople? It would be a nation subject to international pressure. It would be a nation at risk. So when we’re talking about American Agriculture, we’re really talking about nation security issue.”

Maka ‘pemberdayaan komunitas basis’ dengan memberikan kepercayaan tinggi ‘basis’ menyelesaikan apa-apa yang memang bisa diselesaikan sendiri adalah sangat penting dalam hidup bersama. Dari ‘bangsa yang mewaktu’ ini penting untuk bisa saling menghargai bahwa memang ada yang disebut dengan consciousness of internal time, waktu subyektif, dan waktu obyektif itu. Penghindaran klaim sebagai yang ‘paling mewaktu’-pun lebih bisa dilakukan. Bertahun terakhir sampai sekarang ini, ‘pemusatan’ semakin lebih dirasakan. Tidak ada yang ‘tulus’ dalam pemberdayaan komunitas basis. Maka tidak mengherankan seperti disebut di bagian terdahulu, propaganda yang maunya gebyah uyah, menyama-ratakan itu semakin ugal-ugalan saja. Bahkan ‘jalan gampang’-pun menjadi pilihan utama. Waktu-kalender pemilihan umum kemudian menentukan segalanya, dengan tidak ada yang mau dan mampu ‘melampaui’-nya.

Judul post-truth dan subsidiaritas itu ingin mengatakan bahwa segala yang mau ‘dicapai’ dalam post-truth post-truth-an itu bisa dilawan dengan pemberdayaan basis. Dimana dalam keseharian bisa muncul juga bermacam ‘tematisasi’ yang mungkin saja akan dilanjutkan dalam ‘inter-subyektifitas’. Sebagai ‘tandingan’ dari ‘fakta-fakta alternatif’ yang diproduksi oleh penguasa. Dan ini akan sangat terganggu terlebih ketika kemampuan itu sedang dikembangkan, justru ‘digoda’ dengan tanpa henti oleh bermacam propaganda tanpa henti, tanpa tahu batas, oleh penguasa. Seakan kita terus saja hidup dalam nuansa kampanye tanpa akhir. Atau lihat, apa sih misalnya, yang mau dicapai dengan pelarangan anak-anak usia di bawah 15 tahun untuk tidak mengakses sosial-media itu? *** (19-08-2026)

[i] https://www.youtube.com/watch?v=cS4NoySkTLE

[ii] https://www.youtube.com/watch?v=vadQJjgyjzw