21-08-2026
“Remember the first rule of politics. The ballots don’t make the results the counters make the results. The counters. Keep counting.”
(Film Gangs of New York, 2002)
Dalam The Theory of Moral Sentiments edisi terakhir (edisi ke-6, 1790), Adam Smith menambahkan beberapa hal terkait dengan keutamaan (virtue) dan filsafat moral. Salah satunya disinggung tentang famous sect, sik-sekte agung, yang banyak nuansa Stoik-nya. Maksudnya kira-kira di tengah-tengah samudera gejolak kepentingan diri, perlu ada sik-sekte agung yang mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan kebanyakan yang sibuk mengejar kepentingan diri di pasar. Terutama keutamaan dalam pengendalian diri, tahu batas.
Meski banyak yang tidak mau dimasukkan dalam kategori ranah pasar, tetapi dalam demokrasi tetaplah ada kepentingan pengejaran kepentingan diri. Bagaimana kepentingan-kepentingan diri itu saling berkompetisi. Hanya saja ketika ukuran menjadi besar dan luas, demokrasi langsung menjadi sulit dilaksanakan, sehingga memang sering perlu ‘orang-orang tengah’, dalam hal ini katakanlah partai politik. Maka sebenarnya, dalam partai politik di ujung atau di akar rumput, semestinya demokrasi langsung bisa dilatih-dipraktekkan sebagai pondasi rasa-merasa ketika tiba saatnya demokrasi dihayati secara ‘khusus’.
Dari hal-hal di atas, sedikit banyak kita bisa membayangkan bahwa anggota-anggota KPU (dan Bawaslu tentunya, juga DKPP) mestinya adalah golongan sekte agung, famous sect. Memang bukan dewa-dewa, tetapi yang sungguh mampu mengendalikan diri, tahu batas, sebagai syarat mutlaknya. Tentu ini belum cukup, perlu syarat mencukupi seperti pengetahuan tentang ke-pemilu-an, misalnya. Tetapi sekali lagi, tahu batas adalah syarat mutlak. Terlebih ketika ia hadir dalam situasi penguasa yang sungguh lekat dengan aktivitas perburuan rente. Korupsi meraja-lela. Penyalahgunaan wewenang seakan sudah menjadi banal, tidak tahu batas.
Apa yang akan dilakukan oleh kaum semau-maunya itu? Dari pengalaman paling tidak dua pemilihan terakhir, sangat nampak bagaimana KPU itu terus saja digoda untuk menjadi ‘tidak-tahu-batas’. Macam-macam godaannya, tetapi jika memakai Alegori Kereta-nya Platon, sik-kuda hitam yang menggambarkan hasrat perut ke bawah seperti makan, minum, bermacam kemewahan, seks, dan terutama hasrat akan uang, akan diulik-ulik, sehingga akhirnya mampu mengalahkan sik-kuda putih (kehormatan, kehendak baik) dan sais (kekuatan nalar). Bahkan sayap di kanan kiri kereta yang melambangkan semangat (untuk membuat pemilu jujur, adil, terbuka) itupun perlahan dipreteli. Akhirnya kereta KPU yang semestinya naik ke atas untuk mendekati hidup demokratis yang semakin bermartabat itu justru meluncur ke bawah terjerembab dalam kegelapan.
Rejim terdahulu itu adalah rejim tidak tahu batas sehingga pantas saja akhirnya menjadi nominasi pemimpin paling korup se-dunia. Semau-maunya. Dan apa yang mereka perbuat terhadap KPU? Seperti sudah disinggung di atas, terus saja menggoda supaya KPU menjadi juga: tidak tahu batas. Rusak-rusakan.
Maka KPU Bayangan jika ini dibentuk, pertama-tama adalah untuk menegaskan bahwa KPU bisa menjadi pusat yang excellent untuk terlibat dalam membangun demokrasi ke depan. Dari mana pintu masuk-nya? Mulailah dengan membuka semua kebobrokan KPU di masa lalu. Semua saja, termasuk Sirekap itu. Semua, semua, bongkar dulu! Supaya batas-batas itu semakin jelas. *** (21-08-2026)