2059. Republik Yang Terus Dirusak

22-08-2026

Republik menjadi rusak-rusakan karena politik semakin menjadi poly-tics, poly = banyak, tics = caplak (serangga). Politik akhirnya justru menjadi jalan ajang pesta-pora penghisapan kekayaan republik. Menjadi parasit-nya republik. Bagi Hannah Arendt, politik akan selalu berarti sebuah interaksi, sebuah aksi (action, mestinya bukan labor atau work), dari bermacam perspektif secara bersama. Dari sini segera saja nampak bahwa politik itu akan lekat dengan fitrah manusia, ada bersama dengan yang lain. Sebenarnya bisa dibayangkan juga jika kita lacak asal-usul katanya, polis, urusan ‘kota’ atau hidup bersama. Tentu ada penghayatan yang ‘lebih apa adanya’ seperti dikatakan oleh Laswell (1936) sebagai who gets what, when, how.

Dari beberapa perjalanan sejarah, negara-bangsa yang akhirnya muncul dua partai dominan, atau yang mampu membangun dua koalisi dominan, ternyata lebih ‘produktif’ dalam mengembangkan hidup bersama. Bahkan dalam partai tunggal sekalipun jika kritik-otokritik masih dimungkinkan dalam internal partai. Jika politik juga berarti ‘perang tanpa pertumpahan darah’ -menurut Ketua Mao, apa yang menjadi ‘senjatanya’? Dari bermacam ‘definisi’ politik di atas, ada satu persamaan, penggunaan bahasa. Bahasa yang membuat kita tertawa bersama, bahasa untuk bercerita, bahasa untuk menembus batas, dan mengurai sebuah keindahan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa bahasa adalah juga rumah kita, dimana dengan bahasa kita lebih mampu untuk menggali keberakaran kita.

Tetapi di 12 tahun terakhir, bahasa di ranah politik justru sering dipakai untuk menipu, asal mangap, asal njeplak, dan akhir-akhir ini sering kasar dan semau-maunya. Bahasa dalam politik sudah hilang keindahannya. Apa iya mau meniru gaya Trump? Tetapi tidak mau ada oposisi? Atau bergaya Trump tapi oposisinya lemah, atau tipis telinga? Ketika Biden mengalahkan Trump yang saat itu sebagai incumbent pada jabatan pertamanya, yang diusung Biden adalah soal mengembalikan jiwa bangsa, the battle for the soul of the nation. Dan ingat juga masih banyak lembaga-lembaga negara yang berintegritas di sana terutama pengadilannya, termasuk juga perguruan-perguruan tingginya. Lha di republik, sudah bahasanya dirusak, lembaga-lembaga negarapun banyak dirusak pula. Bahkan juga perguruan tingginya.

Salah satu yang disinggung Hermann Broch (1886-1951) tentang politik adalah, politics means taking care of a community. Di lain pihak, Broch juga mengenalkan istilah ‘kesadaran remang-remang’, twilight consciousness. Jika ada unconsciousness dan subconsciousness, maka the twilight state of mind, as an animal heritage, is partly a function of subconsciousness, i.e. instincts and irrational impulses, but partly also a function of man’s rational faculty and its specific limitations. Dari hal-hal ini maka kita bisa membayangkan bagaimana simplisitas, ‘kesederhanaan’ bisa berperan penting, untuk katakanlah taking care of community atau sebaliknya, merusak komunitas dengan lebih banyak menghadirkan ‘keruwetan’. Atau simplisitas yang diarahkan sekedar pada ‘musuh bersama’, simplisitas yang kemudian mengubah twilight consciousness itu menjadi ‘histeria-massa’. Tetapi yang mau diingatkan di sini, jika politics means taking care of a community yang ‘rumahnya’ adalah bahasa, maka simplisitas di sini akan lekat dengan penggunaan bahasa. Dan itu juga berarti dalam ‘alur-pikirnya’ karena dari sono-nya, berpikir itu mendahului bahasa.

Ketika ada tsunami menerjang Aceh 2004, Ryamizard Ryacudu sebagai KSAD langsung menerjunkan pasukan dan logistic untuk membantu korban. Cara berpikirnya sederhana, selamatkan-evakuasi korban dan buka akses darat. Demikian juga SBY saat itu dan jajarannya. Di jaman Jokowi, ketika bencana menghantam, presiden tidak pernah lupa membawa rombongan tukang potret, media massa, dan berjalan sendiri demi citra diri. Ini contoh perilaku pemimpin terburuk sepanjang masa! Ketika banjir bandang melanda Aceh beberapa waktu lalu? Lihat narasi nasionalistis justru membuat banyak keruwetan. Atau ketika gempa menghantam NTT baru-baru ini?

Ketika berhadapan dengan sik-twilight consciousness, simplisitas dalam bahasa dan alur berpikir adalah penting, tetapi behind the language tentu tidaklah sederhana. Lihat misalnya bagaimana pidato-pidato presiden di planet ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dari semua seginya, zero defect kalau bisa. Inilah mengapa taking care of a community itu pastilah tidak mudah. Lebih mudah merusaknya, dan itulah yang dilakukan oleh rejim terdahulu, yang rasa-rasanya terus saja dilanjutkan melalui ternak-ternaknya. Bangsat-lah. *** (22-08-2026)