2059. Republik Yang Terus Dirusak

22-08-2026

Republik menjadi rusak-rusakan karena politik semakin menjadi poly-tics, poly = banyak, tics = caplak (serangga). Politik akhirnya justru menjadi jalan ajang pesta-pora penghisapan kekayaan republik. Menjadi parasit-nya republik. Bagi Hannah Arendt, politik akan selalu berarti sebuah interaksi, sebuah aksi (action, mestinya bukan labor atau work), dari bermacam perspektif secara bersama. Dari sini segera saja nampak bahwa politik itu akan lekat dengan fitrah manusia, ada bersama dengan yang lain. Sebenarnya bisa dibayangkan juga jika kita lacak asal-usul katanya, polis, urusan ‘kota’ atau hidup bersama. Tentu ada penghayatan yang ‘lebih apa adanya’ seperti dikatakan oleh Laswell (1936) sebagai who gets what, when, how.

Dari beberapa perjalanan sejarah, negara-bangsa yang akhirnya muncul dua partai dominan, atau yang mampu membangun dua koalisi dominan, ternyata lebih ‘produktif’ dalam mengembangkan hidup bersama. Bahkan dalam partai tunggal sekalipun jika kritik-otokritik masih dimungkinkan dalam internal partai. Jika politik juga berarti ‘perang tanpa pertumpahan darah’ -menurut Ketua Mao, apa yang menjadi ‘senjatanya’? Dari bermacam ‘definisi’ politik di atas, ada satu persamaan, penggunaan bahasa. Bahasa yang membuat kita tertawa bersama, bahasa untuk bercerita, bahasa untuk menembus batas, dan mengurai sebuah keindahan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa bahasa adalah juga rumah kita, dimana dengan bahasa kita lebih mampu untuk menggali keberakaran kita.

Tetapi di 12 tahun terakhir, bahasa di ranah politik justru sering dipakai untuk menipu, asal mangap, asal njeplak, dan akhir-akhir ini sering kasar dan semau-maunya. Bahasa dalam politik sudah hilang keindahannya. Apa iya mau meniru gaya Trump? Tetapi tidak mau ada oposisi? Atau bergaya Trump tapi oposisinya lemah, atau tipis telinga? Ketika Biden mengalahkan Trump yang saat itu sebagai incumbent pada jabatan pertamanya, yang diusung Biden adalah soal mengembalikan jiwa bangsa, the battle for the soul of the nation. Dan ingat juga masih banyak lembaga-lembaga negara yang berintegritas di sana terutama pengadilannya, termasuk juga perguruan-perguruan tingginya. Lha di republik, sudah bahasanya dirusak, lembaga-lembaga negarapun banyak dirusak pula. Bahkan juga perguruan tingginya.

Salah satu yang disinggung Hermann Broch (1886-1951) tentang politik adalah, politics means taking care of a community. Di lain pihak, Broch juga mengenalkan istilah ‘kesadaran remang-remang’, twilight consciousness. Jika ada unconsciousness dan subconsciousness, maka the twilight state of mind, as an animal heritage, is partly a function of subconsciousness, i.e. instincts and irrational impulses, but partly also a function of man’s rational faculty and its specific limitations. Dari hal-hal ini maka kita bisa membayangkan bagaimana simplisitas, ‘kesederhanaan’ bisa berperan penting, untuk katakanlah taking care of community atau sebaliknya, merusak komunitas dengan lebih banyak menghadirkan ‘keruwetan’. Atau simplisitas yang diarahkan sekedar pada ‘musuh bersama’, simplisitas yang kemudian mengubah twilight consciousness itu menjadi ‘histeria-massa’. Tetapi yang mau diingatkan di sini, jika politics means taking care of a community yang ‘rumahnya’ adalah bahasa, maka simplisitas di sini akan lekat dengan penggunaan bahasa. Dan itu juga berarti dalam ‘alur-pikirnya’ karena dari sono-nya, berpikir itu mendahului bahasa.

Ketika ada tsunami menerjang Aceh 2004, Ryamizard Ryacudu sebagai KSAD langsung menerjunkan pasukan dan logistic untuk membantu korban. Cara berpikirnya sederhana, selamatkan-evakuasi korban dan buka akses darat. Demikian juga SBY saat itu dan jajarannya. Di jaman Jokowi, ketika bencana menghantam, presiden tidak pernah lupa membawa rombongan tukang potret, media massa, dan berjalan sendiri demi citra diri. Ini contoh perilaku pemimpin terburuk sepanjang masa! Ketika banjir bandang melanda Aceh beberapa waktu lalu? Lihat narasi nasionalistis justru membuat banyak keruwetan. Atau ketika gempa menghantam NTT baru-baru ini?

Ketika berhadapan dengan sik-twilight consciousness, simplisitas dalam bahasa dan alur berpikir adalah penting, tetapi behind the language tentu tidaklah sederhana. Lihat misalnya bagaimana pidato-pidato presiden di planet ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dari semua seginya, zero defect kalau bisa. Inilah mengapa taking care of a community itu pastilah tidak mudah. Lebih mudah merusaknya, dan itulah yang dilakukan oleh rejim terdahulu, yang rasa-rasanya terus saja dilanjutkan melalui ternak-ternaknya. Bangsat-lah. *** (22-08-2026)

2060. Keberanian Setelah Pemilihan

23-08-2026

Mengapa masalah ‘keberanian’ perlu dipertanyakan setelah pemilihan? Karena sebelum pemilihan bisa-bisa yang di depan hidung adalah cuma satu, memenangkan pemilihan. Sedangkan setelah pemilihan, bermacam situasi segera saja ada di depan hidung, dan bisa berubah-ubah juga, bahkan berubah dengan cepat. Sebelum pemilihan, ‘memenangkan pemilihan’ bisa dikatakan sebagai (satu-satunya) ‘ide fixed[1] yang dengannya bermacam hal kemudian ‘menyesuaikan diri’, dan bahkan fanatisme-pun seakan mendapat ruang seluas-luasnya. Karena setelah pemilihan yang dihadapi tidak hanya bermacam hal tetapi juga terus berubah-ubah, maka sebenarnya setelah pemilihan seakan-akan tidak ada semacam ‘ide fixed’ seperti saat pemilihan. Di tengah-tengah tidak adanya ‘ide fixed’ inilah permasalahan keberanian kemudian menjadi masalah. Keberanian untuk ‘mengandalkan diri’ dalam bersikap tanpa harus menggantungkan pada ‘ide-ide fixed’, terutama ketika menghadapi situasi yang terus berubah.

Masalahnya ketika di sini kita bicara dalam ranah negara, kita tidak ada di ruang kosong. Kita berada di ‘ruang antara’ -in-between, antara cita-cita hidup bersama dan bermacam tantangan di depan. Cita-cita yang disepakati bersama dan banyak tertuang dalam dokumen UUD misalnya, yang suka atau tidak memang bisa saja akan menjadi sebuah ‘ide fixed’. Lalu bagaimana harus bersikap di ‘ruang antara’ seperti itu?

Belakangan ini sepertinya kita merasakan di sana-sini apa-apa yang ada dalam konstitusi itu seakan telah berubah menjadi bagian dari ‘ide fixed’ yang rasa-rasanya pula ada di rentang sebelum pemilihan. Bahkan seakan menjadi bagian dari ‘ide fixed’ sebelum pemilihan: memenangkan pemilihan. Dan salah satu akibatnya adalah perlahan semakin menebalnya fanatisme. Fanatisme itu bukan hanya soal agama, ideologi, atau sekitar-sekitarnya, tetapi hari-hari ini kita melihat fanatisme terhadap ‘program-program unggulan’ yang sedang dijalankan, terlebih ketika narasi ‘amanat konstitusi’ telah menjadi bahan bakar utama dalam fanatisme tersebut. Maka perlahan kita bisa merasakan apa yang disebut Nietzsche sebagai ‘mental budak’ itu. Mentalitas yang tidak punya keberanian untuk membuka diri terhadap bermacam situasi yang terus berkembang, tetapi lebih suka berlindung di belakang ‘ide-ide fixed’.

Deng Xiao Ping membawa China yang terus berkembang seperti sekarang ini adalah juga merupakan keberhasilannya dalam bersikap di ‘ruang antara’. ‘Ide-ide fixed’ yang lama dipegang dalam perjalanan sejarah kemudian ‘ditunda’ lebih dahulu, ‘diberi tanda kurung’ lebih dahulu, dan kemudian melihat bermacam tantangan di depan dan situasi yang terus berubah. Gouverner, c’est prévoir, to govern is to foresee, demikian Émile de Girardin pernah mengatakan lebih dari seratus tahun lalu. Demikian juga ketika Jerman dan Jepang mengalami porak-poranda akibat kalah perang doeloe.

Maka setelah pemilihan, itu adalah masa dimana animum fortuna sequitur, ‘keberuntungan mengikuti keberanian’. Keberanian-lah yang sebenarnya memimpin. Dari hari-hari belakangan ini, kita bisa belajar ketika ‘ahli komunikasi’ yang sebenarnya lebih sebagai surveyor terutama dalam rentang waktu ‘perebutan kuasa’ atau sebelum pemilihan, ternyata kemudian masuk di rentang ‘penggunaan kuasa’ atau setelah pemilihan, maka tak mengherankan ‘nuansa kampanye’-lah yang akan ‘diusung’. Termasuk ‘nuansa yang mendorong pada fanatisme’ itu juga. Nuansa yang lebih tergantung pada ‘ide-ide fixed’. Orang-orang semacam ini akhirnya hanya akan men-ternak ‘mentalitas budak’ di ranah kekuasaan. Atau kalau kita terjemahkan secara harafiah, rejim hanyalah akan menjadi budak-nya oligarki terus, karena ‘mentalitas tuan’ tidak pernah punya kesempatan untuk berkembang. *** (23-08-2026)

[1] Terimakasih pada ‘mo Setyo Wibowo yang sering memakai istilah ini (ide fixed) ketika membicarakan tentang Nietzsche, penggunaan bebas dalam tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

2061. Dua Peristiwa

24-08-2026

Apakah ada hubungannya antara ‘gaya’ Upacara Peringatan 17 Agustus (di Istana) dan penanganan bencana? Ilmu ‘otak-atik-gathuk’ bisa saja akan mengatakan ada hubungannya koq... Paling tidak dari rentang waktu 22 tahun terakhir bisa kita imajinasikan hubungannya, semakin aèng-aèng ‘gaya’ upacara, semakin ‘ruwet’ saja penanganan bencana. Pintu masuk otak-atik-nya adalah the law of parsimony yang mulai dikenalkan oleh William of Ockham, filsuf abad 14. Sehingga sering disebut sebagai Occam’s razor, a problem-solving rule that says the simplest explanation is usually the best one. Atau, among competing hypotheses, the one with the fewest assumptions should be selected.

Lebih dari 2000 tahun lalu, Platon ‘memproblematisir’ mengapa mata yang merupakan bagian tubuh terindah itu hanya diwarnai hitam saja? Tidak terus warna-warni, atau ungu misalnya? Ini soal keseimbangan sehingga keseluruhan keindahan lebih bisa dihayati. Lukisan-lukisan Jeihan dengan ciri khas mata hitamnya sedikit banyak membuktikan hal ini.

You are what you eat, demikian ada satu ungkapan. Upacara 17 Agustus di pusat kekuasaan, adalah salah satu ‘mata batin’ terpenting bagi republik. Di luar upacara pastilah ada warna-warni perayaan, dari tingkat RT-RW sampai tingkat nasional. Di jaman SBY, Upacara 17 Agustus di Istana bisa dikatakan simple-simpel saja. Atau kalau memakai gambaran Platon di atas, sebagai ‘mata batin’ yang terindah dalam keseluruhan republik, cukup diberi ‘warna hitam’ saja. Dan nampaknya ini tidak kemudian hanya soal bagaimana keseimbangan keindahan secara menyeluruh diupayakan, tetapi juga bisa saja mempengaruhi ‘cara-berpikir-cara bereaksi’ ketika menghadapi bencana, misalnya. Terlebih ketika tindakan-tindakan pragmatis diperlukan. Ketika tindakan-tindakan ‘serta-merta’ harus dilakukan.

Di jaman rejim sebelum ini -rejim sesudah SBY, Upacara 17 Agustus kemudian bergeser menjadi ‘penuh warna’. Bahkan kemudian ‘dibajak’ menjadi juga diabdikan bagi ‘kepentingan pribadi’. Lihat bagaimana para menteri kemudian ‘turun gelanggang’ jogat-joget-pecicilan-berangasan sementara presiden manggut-manggut angguk-angguk kecil sambil pecingas-pecingis di atas panggung seakan sedang main raja-raja-an. ‘Raja’ yang sedang dihibur oleh ‘tarian’ para ‘pangeran’-nya. Dan apa yang dilakukan ketika bencana menerjang! Dari sekian jejak digital, ia dengan tanpa beban nunggangi peristiwa bencana itu untuk juga diabdikan bagi kepentingan dirinya! Berjalan sendiri kemudian diikuti juru kamera demi naiknya citra diri. Di tengah-tengah bencana! Sungguh kelakuan paling mbèlgèdès, kelakuan paling laknat dari seorang pemimpin. Lima tahun lalu ketika Angela Merkel meninjau banjir bandang dengan membawa rombongan, salah satu rombongon bersedau-gurau dengan yang disampingnya saat Merkel memberikan keterangan pers. Langsung saja sikap itu mengundang kritikan luas. Tidak ada empati! Itupun ‘hanya’ bersendau gurau, lha ini di republik malah aksi-aksi-an sok-sok-an gegayaan jalan sendirian di depan kamera-kamera!

Bagaimana rejim sekarang ini? Lihat bagaimana menteri-menteri bablasan rejim terdahulu itu dengan tanpa beban pula menunggangi bencana untuk kepentingan (citra) diri. Misalnya akting panggul beras itu. Atau gagal paham terkait ‘hal sederhana’ dalam menghadapi bencana, salah satunya: jujur dalam melihat kerusakan. Ada menteri yang asal mangap bilang 93% listrik sudah menyala! Belum lagi segala keruwetan dalam mengatasi masalah, termasuk keterlibatan narasi-narasi ‘nasionalistis’ yang tidak empan-papan itu. Bagaimana rejim sekarang ‘mengemas’ Upacara 17 Agustus di Istana? Tidak jauh berbeda dengan rejim sebelumnya, tidak sederhana, tetapi dipaksakan untuk dikemas dengan ‘penuh warna’. Tetap aèng-aèng.

Naomi Klein dalam The Shock Doctrine (2007) mengatakan bahwa bencana dahsyat bisa saja membuat kesadaran seperti ‘kanvas putih’, ‘kosong’. Atau mungkin saja yang tersisa hanyalah apa yang disebut Hermann Broch sebagai twilight consciousness, ‘kesadaran remang-remang, atau temaram’. Maka ‘hal sederhana’ dalam respon terhadap bencana sebenarnya akan sangat membantu. ‘Logika sederhana’ akan sangat membantu terutama bagi korban dimana rasionalistas hanya tersisa sedikit dalam ‘kesadaran temaram’-nya, dan itulah yang dilakukan SBY-JK dan jajarannya ketika merespon bencana tsunami Aceh 22 tahun silam. Tetapi rejim sesudahnya justru menunggangi bencana yang membuat ‘kesadaran kosong’ itu untuk menulis atau melukiskan citra diri dengan berjalan sendirian di area bencana dan diikuiti oleh juru kamera. Memang laknat ... *** (24-08-2026)

2062. Tidak Boleh Lebih Baik

25-08-2026

When small men attempt great enterprises, they always end by reducing them to the level of their mediocrity

(Napoleon Bonaparte)

Semakin ke sini semakin nampak bahwa tidak hanya ‘tidak boleh lebih baik’, tetapi juga ada upaya keras untuk ‘normalisasi’. Main raja-raja-an itu bukan hanya soal sok-sok-an konyol-konyol-an, tetapi bisa saja sebuah puncak gunung es dari bongkahan besar ke-megalo-mania-an. Dan kita banyak belajar dari berbagai penjuru dunia atau bahkan yang hari-hari ini dekat dalam keseharian, bahwa ke-megalo-mania-an itu sudah seperti ‘ide fixed’ saja yang dengannya seakan seseorang menjadi bisa hidup. Tidak hanya itu, bermacam hal kemudian ikut-ikutan ‘menyesuaikan’ diri. Padahal hidup bersama selalu saja bermacam hal yang harus dihadapi, termasuk segala hal yang bisa saja berubah dari waktu ke waktu. Semakin nampak bahwa sebenarnya hari-hari ini dan ke depannya kita hidup dalam ruang dan waktu yang semakin sulit diprediksi. Maka pertanyaannya, siapa yang akan diuntungkan ketika ‘waktu’ seakan dikunci dalam ‘ide fixed’ ke-megalo-mania-an itu?

Jika ada yang mengambil untung dari ke-megalo-mania-an maka bisa dilihat atau dikatakan bahwa megalomania bisa saja tidak hanya soal by nature tetapi juga by nurture, dijerumuskan, di-blondrok-é, misalnya. Akhirnya ke-megalo-mania-an itu kemudian dimainken untuk bermacam tujuan, salah satunya sebagai tirai asap tebal ketika laku-laku perampokan kekayaan republik terus saja semakin menggila. Lainnya bisa saja dimainken sebagai ‘tukang pukul’. Percobaan Milgram di pertengahan dekade 1960-an sedikit banyak bisa menjelaskan salah satu rute bagaimana ‘ke-megalo-mania-an’ (baca: nafsu bablasan akan hal-hal besar) bisa mengalahkan pertimbangan moral bahkan juga suara hati nurani. Apalagi pertimbangan ‘rasio’. Dan siapa yang berperan by nurture-nya? Dalam percobaan itu adalah ‘pengawas’ yang bertugas mengingatkan ketika peserta percobaan ragu-ragu memberikan ‘sengatan listrik’ pada ‘murid’. ‘Pengawas’ yang selalu ada dekat atau di sekitar peserta percobaan. Maka di sinilah peran penting dari ‘orang-orang sekitar’ itu. Termasuk dalam menjalankan skenario ‘menjerumuskan’ atau mblondrok-é.

Maka dalam ranah politik kuasa negara, ‘paradigma’ tidak boleh lebih baik (dibanding rejim sebelumnya) sungguh bisa-bisa semua saja seakan sedang menyongsong kegelapan. Terlibat langsung atau tidak, suka atau tidak, setuju atau tidak, ikut terseret dalam kegelapan itu. Gelap karena bisa masuk dalam ‘perangkap ke-medioker-an’, seperti tergambarkan dari kutipan Napoleon di awal tulisan. Gelap seakan sedang berlomba menuju ke dasar. Mengapa tidak boleh lebih baik bisa menjadi penting bagi kaum medioker itu? By nature-nya karena ke-megalo-mania-an rejim sebelumnya itu ada dalam bayang-bayang ‘mentalitas budak’. Beda dengan (rejim) sekarang, nuansanya lebih condong pada ‘mentalitas tuan’. Tetapi dua-duanya sebenarnya sama-sama ada dalam rengkuhan ‘ide fixed’ ke-megalo-mania-an. Ujungnya tak akan jauh berbeda, sama-sama akan ditelikung oleh yang lebih ‘lincah’ nantinya.

Semakin lama semakin nampak bagaimana bablasan orang-orang rejim terdahulu itu berusaha keras melakukan normalisasi beberapa laku mbèlgèdès rejim sebelumnya. Tak jauh berbeda dengan apa-apa yang dilakukan dalam paradigma tidak boleh lebih baik. Salah satu yang khas dari ‘mentalitas budak’. Dari gambar besarnya, yang selalu ingin di-normal-kan adalah demen-nya pada propaganda. Apapun masalahnya, propaganda-lah obat utamanya. Makanya sik-kepala-babi-dimasak-saja itu bisa gegayaan merasa yang paling saja. Yang sebenarnya ia adalah amatiran saja ketika ada di rentang ‘penggunaan kuasa’. Dan itu semua bisa dibaca pula sebagai keengganan (ketidak-mampuan?) untuk melihat bermacam-macamnya situasi, dan betapa cepatnya situasi terus berubah.

Dari hal-hal di atas, apa yang mesti diperbuat sehingga republik bisa keluar dari ‘jebakan ke-medioker-an’ ini? Yang utama adalah singkirkan orang-orang dari rejim terdahulu karena agenda utama mereka hanyalah dua, membuat rejim sekarang ini menjadi tidak lebih baik dari rejim sebelumnya -rejim junjungannya, dan kedua, mereka itu selalu saja berupaya menormalkan laku-laku mbèlgèdès yang terjadi di rejim sebelumnya. Jadi tidak ada yang salah terkait laku-laku mbèlgèdès itu. Maunya. Dan tentu itu -menyingkirkan orang-orang rejim terdahulu, belum cukup, maka kurangi tuh nuansa ke-megalo-mania-annya. Caranya? Mulailah mau mendengar, mendengar, dan mendengar. Jika ada sumbatan dalam aliran pendengaran, ya buka tuh sumbatannya. Buang apa-apa yang menyumbat. Bisa? Mau? Jika tidak mau yaque sera sera[1] *** (25-08-2026)


[1] https://www.youtube.com/watch?v=xZbKHDPPrrc

2063. Lemparan Ke Dunia Ketiga

27-08-2026

Yang dimaksud ‘dunia ketiga’ ini adalah dunia ketiga-nya Popperian. Karl Popper mengajukan pembedaan, dunia pertama, dunia fisik, dunia material. Dunia kedua adalah ‘dunia persepsi’, dunia mental, dan dunia ketiga katakanlah seperti cloud dalam dunia digital-internet, dunia dimana karya-karya manusia dilempar, dunia ‘kultural’. Politik skandal yang akan membayangi olah-politik di Era Informasi seperti dikatakan Manuel Castells, pertama-tama adalah soal potensi untuk (sedikit-demi-sedikit) dilempar ke dunia ketiga. Bisa dicicil sebagai ancaman, misalnya: untuk ‘pendisiplinan’. Demikian juga’pembunuhan karakter merangkak’, sedikit demi sedikit ‘tabungan’ laku-laku mbèlgèdès itu dilempar atau diunggah ke dunia ketiga. Atau ketika sedang memanaskan tungku kerusuhan, sedikit demi sedikit hal-hal yang membuat marah massa ditabung lebih dahulu di dunia ketiga. Atau kata-kata ‘politisi’ entah ancaman atau apalah itu, meski kemudian minta maaf terhadap ucapannya, kata-katanya sudah ‘tersimpan rapi’ dan tidak akan hilang meski ia minta maaf sambil koprol sekalipun. Dan jangan-jangan memang itu tujuannya, karena sudah lama memang mainannya seperti itu. Masuk dalam dunia ketiga yang selalu siap untuk kemudian masuk dalam persepsi, entah kapan. Setelah di-eksternalisasi, kemudian terobyektivisir, dan siap di-internalisasi.

Tetapi bagaimana yang sungguh terserak di dunia ketiga itu akan masuk ke dunia kedua melalui dunia persepsi manusia? Arnold J. Toynbee dalam hukum psikologis perjumpaan budaya, mengatakan bahwa sinar budaya yang ‘nilainya’ rendah akan lebih mudah masuk dibanding dengan yang ‘nilainya’ tinggi. Atau jika bukan soal nilai, tetapi ‘kemasan’ misalnya, maka ‘yang sederhana’ itu akan lebih mudah masuk. Dari dunia persepsi sendiri, dominasi ‘twilight consciousness’ yang sebenarnya merupakan bagian dari subconsciousness dimana insting dan impuls-impuls irasional ‘bersemayam’, tetapi masih ada sedikit bagian rasionalnya, maka tidak mengherankan kemudian ada yang membuat ‘partai pelopor’, misalnya. Atau muncul istilah ‘intelektual organik’. Atau lainnya, yang berusaha ‘memperbesar’ peran rasionalitas dalam ber-persepsi. Kegagalan ‘partai pelopor’, ‘intelektual organik’, atau apapun itu, maka khalayak kebanyakan lebih akan menggunakan twilight consciousness ini, yang rasio masih ada tetapi sedikit saja. Tak mengherankan pula jika kemudian lebih akrab dengan mitos.[1] Dan salah satu ujungnya menurut Hermann Broch, tidak hanya terbentuk massa, tetapi juga ‘histeria massa’.

Kegagalan yang bisa saja karena terlalu kuatnya ekosistem ‘kedaruratan’, entah itu ‘by nature’ karena situasi pasca-kemerdekaan atau ‘by nurture’ seperti di jaman old. Jika dihitung sejak 1950-an, lebih dari separuh perjalanan republik nuansa ‘kedaruratan’ seakan terus membayang. Tetapi benarkah hanya separuhnya? Duabelas tahun terakhir, terlebih sepuluh tahun rejim terdahulu, situasi kedaruratan juga dimainken melalui isu radikal-radikul (dua tahun terakhir terkait isu osang-asing?), dan kemudian disambung dengan ‘kampanye tiada akhir’, seakan terus saja ada dalam situasi darurat ‘perebutan kuasa’. Mungkinkah karena by nurture begitu menghayati ungkapan Carl Schmitt seratus tahun lalu, sovereign is he who decides on the exception?

Ada pelajaran menarik di era sepuluh tahun SBY, yaitu bagaimana PDIP yang beroposisi justru telah mendorong keberhasilan era tersebut. Artinya ketika kekuasaan selalu ada dalam check and balances, maka potensi kekuasaan untuk dengan semau-maunya (me)masuk(an) dalam ‘situasi darurat’ bisa dihindarkan. Nuansa kedaruratan itu perlahan dibawa ke ranah ‘yang berkuasa dan yang beroposisi’, dan itu dilaksanakan melalui partai politik, yang mana partai politik itu pada dasarnya lebih mampu untuk ‘berjarak’. ‘Berjarak’ sehingga langkah-langkahnya semestinya tidak taken for granted saja. Maka memang sebaiknya setelah pemilihan umum selesai, relawan-relawan itu dibubarkan. Kalau tidak dibubarkan maka ia akan terus saja merawat suasana perebutan kuasa saja. Sebab ia hanya ‘bisa makan’ (untuk relawan sontoloyo) kalau ada dalam nuansa perebutan kuasa. Itulah juga mengapa mainan mereka tak jauh-jauh amat dari main mitos-mitos-an. Termasuk salah satunya main raja-raja-an itu. *** (27-08-2026)

[1]The great enemy of truth is very often not the lie--deliberate, contrived and dishonest--but the myth--persistent, persuasive and unrealistic. Too often we hold fast to the cliches of our forebears. We subject all facts to a prefabricated set of interpretations. We enjoy the comfort of opinion without the discomfort of thought.”

John F. Kennedy, Commencement Address at Yale University, June 11 1962