02-09-2026
Ada yang ‘pasti’ dalam hidup bersama republik, apa-apa yang tertulis dalam konstitusi. Yang ‘tidak pasti’ adalah menginterpretasikannya, juga pelaksanaannya. Tetapi tidak hanya itu, tantangan situasi yang dihadapi semakin menggendong ketidak-pastian juga. Semakin hari semakin sulit diprediksi. Ketika pengelola negara ada di ‘ruang-antara’ antara amanat konstitusi dan situasi yang terus berubah, apa yang mesti dilakukan? Pertama-tama sebaiknya membuat diri sebagai ‘yang pasti’ lebih dahulu, terutama dalam menginterpretasi amanat konstitusi. Bisa dibantu dengan ideologi atau pengetahuan. Yang kedua adalah dalam hal pelaksanaan, dimana syarat mutlaknya adalah mampu dan mau membedakan antara ‘yang publik’ dan ‘yang privat’. Ketika tidak mampu membedakan kedua hal tersebut maka bola salju ke-amatiran-pun akan menggelinding cepat.
Sebenarnya judul tulisan maunya adalah: “Sebaiknya Survei Elektabilitas Dilarang”. Maksudnya, setelah pemenang pemilu dilantik, suvei-survei terkait dengan elektabilitas dilarang untuk dipublikasikan sampai katakanlah 3-4 tahun mendatang. Tentu partai atau siapapun boleh melakukan survei elektabiltas kapan saja untuk kepentingan ‘internal’, tetapi apapun itu republik perlu ‘masa tenang dalam rentang penggunaan kekuasaan’. Sedangkan survei elektabilitas itu secara telanjang ada dalam ranah ‘perebutan kuasa’. Survei kepuasan terhadap tingkah laku pemenang pemilihan tentu bisa dilakukan kapan saja, sebagai bagian dari cek-ricek ‘penggunaan kuasa’, selain berfungsinya oposisi tentunya. Dan suara-suara kritis dari masyarakat sipil, media massa.
Terlebih dalam komunitas dengan power distance index tinggi (Hofstede), dimana dalam komunitas itu power di atas sebagian besarnya akan dihayati sebagai baik-baik saja. Cenderung tidak rèsèh terhadap perbedaan power (termasuk perbedaan power akibat akumulasi kekayaan?). Maka perlu upaya ‘lebih’ untuk melakukan cek-ricek terhadap bagaimana kuasa digunakan oleh sik-pemegang kuasa. Untuk itu tidak usahlah ‘diganggu’ oleh hal yang semestinya ada dalam ranah ‘perebutan kuasa’ itu. Ranah ‘perebutan kuasa’ yang sudah dengan susah payah ‘dikandangi’ dalam proses pemilihan umum, komplit dengan rentang masa kampanyenya.
Machiavelli dalam Sang Penguasa pernah menyampaikan bahwa soal ‘merebut kuasa’ itu bisa berbeda dengan saat ‘penggunaan kuasa’. Karena dalam ‘penggunaan kuasa’ diperlukan virtu, dalam arti kemampuan untuk menghadapi situasi yang berubah-ubah. Ketergangguan membangun kemampuan sik-virtu ini bisa datang dari survei-survei elektabilitas itu, karena kemudian seakan menggeser ke ranah ‘perebutan kuasa’ yang tantangan di depannya cuma satu, merebut kuasa atau memenangkan pemilihan. Dan akhirnya yang mampu ‘menjawab’ situasi yang berubah-ubah itu adalah justru kuasa di luar pemenang pemilihan, macam-macam itu, oligarki misalnya.
Atau pemenang pemilihan kemudian semakin nampak bahwa mereka itu amatiran saja. Yang dipikirkan hanya memenangkan (lagi) pemilihan berikutnya. Akhirnya, salah satunya menjadi mudah ditipu. Karena hasrat menjadi lebih kuat dari virtu. Apalagi jika ‘kurang pengalaman’ seperti sik-T pokoknya ada itu. Diiming-imingi jabatan wapres misalnya, kayang atau koprol-pun akan dijalankan. Aèng-aèng saja. Di-ti-pu, cuk … Atau menjalankan kuasa layaknya sedang kampanye saja. Nuansa kampanye seakan tanpa ujung lagi.
Maka syarat mencukupi supaya tidak amatiran dalam penggunaan kuasa salah satunya adalah soal virtu seperti disebut Machiavelli di atas: mampu mengantisipasi situasi yang terus berubah, gouverner c'est prévoir, to govern is to foresee. Saran Machiavelli terkait bagaimana menghadapi penjilat di sekitar bisa sebagai pintu masuk. Machiavelli menyarankan pada Sang Pangeran supaya mengatakan dengan jelas bahwa siapa saja yang menyampaikan kebenaran tidak akan dipandang sebagai yang sedang menyerang dirinya. Ada dua hal bisa dicapai, pertama kebenaran termasuk bermacam situasi yang terus berubah bisa sampai, dan kedua, perlahan penjilat yang selalu ABS (asal bapak senang) itu akan mendapat lawan tangguh. Maka, ketika pejabat selalu nyinyir terhadap pengkritiknya, atau bahkan memojokkan siapa-siapa yang sedang menyampaikan kebenaran, itu by nature atau by nurture? Para ‘machiavellis’ pasti paham tentang hal ini. Makanya, jangan amatiran, cuk … Boleh dong kita bicara seperti itu, sebab ketika ketidak-pastian semakin membesar tetapi direspon secara amatiran, kita-kitalah justru yang pertama-tama akan merasakan akibat buruk-nya. Semakin kesulitan, semakin miskin saja. Bukan mereka-mereka yang amatiran itu … *** (02-09-2026)