2074. Negara Kesatuan Republik Id

06-09-2026

Ada negara kesatuan dan juga adalah sebuah republik, tetapi sering dikelola dengan lebih mengedepankan id. Atau justru yang tereksploitir dalam diri pengelola negara adalah id, sebagai akibatnya super-ego dan ego-pun seakan minggir pelan-pelan. Bagi Freud, id yang ada dalam unconscious desire ‘unsur’ terkuatnya adalah terkait dengan hasrat akan seks. Jadi bukan hasrat akan kuasa seperti dibayangkan Nietzsche, misalnya. Selain sexual desire, dalam id ada lainnya, misalnya terkait dengan biological need terutama rasa lapar, greed atau keserakahan, agresi, misalnya merasa diserang kemudian segera saja bereaksi secara agresif tanpa banyak pertimbangan lagi, immediate gratification, ingin segera dapat kepuasan, imbalan, tanpa harus menunggu proses panjang, self-preservation, naluri melindungi diri, sudden emotional outbursts, misalnya merasa sedih tiba-tiba saja menangis tanpa control lagi di supermarket, jealousy, terutama dalam hal ini sexual jealousy, envy atau iri hati, addictive behaviors, impulsive actions, reckless behavior misalnya nekat ikut balapan liar demi kepuasan sesaat. Biasanya ini lebih banyak pada remaja dimana super-ego dan ego belumlah matang.

Bagi Freud, mimpi bisa merupakan ‘jawaban’ dari gejolak alam tidak sadar dimana id bersemayam. Dalam banyak hal-nya, mimpi bisa juga kita lihat sebagai ‘bahan mentah’ dari sebuah imajinasi. Imajinasi yang katakanlah ada dalam perjalanan waktu ‘consciousness of internal time’. Tetapi ada imajinasi yang katakanlah ada di rentang ‘waktu subyektif’. Waktu subyektif kita bisa berbeda saat menunggu sahabat ditangani di UGD, dengan saat ngobrol gayeng. Sama-sama lamanya 30 menit, yang satu terasa lamaaa dan yang lain terasa cepat. Atau ketika kita melihat A mirip dengan B, C mirip juga dengan A, dan juga D mirip dengan A, tiba-tiba saja imajinasi menyeruak dan kemudian kita mengatakan bahwa A, B, C, D itu adalah sama. Tidak hanya mirip saja. Tetapi karena imajinasi itu bisa begitu liar maka perlulah itu dikomunikasikan dengan imajinasi-imajinasi lain dari yang mengalami pengalaman serupa. Atau dicek-ricek lagi pada realitasnya. Tetapi bagaimana hal di atas menjadi mungkin? Karena kita punya bahasa.

Maka untuk menjadi res-publika memang perlu upaya lebih. Mengapa? Karena jika berangkat dari Freud, secara individual kesadaran kita itu justru yang paling besar ada di tidak-sadar, atau katakanlah id-lah yang akan lebih banyak ‘memprovokasi’ hidup kita. Jika memakai analogi gunung es, id itu ada di bawah permukaan yang merupakan bagian terbesar dari gunung es. Sedangkan super-ego (bawah sadar) dan terlebih ego (nalar-rasio) yang ada di alam sadar, hanyalah puncak gunung es yang ada di atas permukaan, dan itu merupakan bagian kecil saja dari kesadaran. Dalam hidup pribadi, banyak cara sehingga id kemudian bisa ‘dikendalikan’, salah satunya dengan agere contra, menabrakkan hasrat dengan hasrat. Dalam ranah kuasa negara mungkin saja bisa kita bayangkan dengan adanya oposisi. Atau dalam kepartaian kita mengenal kritik-otokritik. Dari sini kita bisa juga membayangkan pentingnya partai politik atau kelompok-kelompok masyarakat sipil, yaitu bagaimana melatih super-ego (yang berprinsip moralitas) dan ego (yang berprinsip realitas) secara bersama-sama.

Bisa dibayangkan ketika dalam ranah negara opisisi tidak ada, partai politik tidak berkembang dengan kritik-otokritik sebagaimana mestinya, kelompok-kelompok masyarakat sipil dilemahkan, perguruan-perguruan tinggi sebagai salah satu gemblèngan rasio dirusak di obok-obok, internal pemerintahan sangat tipis kaum teknokratnya, maka bagi sik-pengelola negara akan mempunyai potensi besar justru ia akan lebih ‘diprovokasi’ oleh id. Selama 12 tahun terakhir kita bisa merasakan hal tersebut, bagaimana sik-pengelola negara lebih banyak didorong oleh greed, self-preservation, immediate gratification, envy, kemudian juga impulsive actions, sudden emotional outbursts, reckless behavior, agresi, immediate gratification dan bahkan juga terkait dengan sexual desire. Dan semakin ke sini semakin nampak bahwa itu tidaklah semata by nature tetapi juga by nurture. Ada yang kemudian mengeksploitasi itu semua. Lihat contoh ‘kecil’, bagaimana pejabat atau keluarganya seakan bergantian ‘disuruh’ pamer kemewahan. Atau laku asal mangap, asal njeplak, asal usir itu. Lalu, apa tujuannya? Tujuan akhirnya? Penguasaan …, mau apa lagi?! *** (06-09-2026)