2074. Negara Kesatuan Republik Id
06-09-2026
Ada negara kesatuan dan juga adalah sebuah republik, tetapi sering dikelola dengan lebih mengedepankan id. Atau justru yang tereksploitir dalam diri pengelola negara adalah id, sebagai akibatnya super-ego dan ego-pun seakan minggir pelan-pelan. Bagi Freud, id yang ada dalam unconscious desire ‘unsur’ terkuatnya adalah terkait dengan hasrat akan seks. Jadi bukan hasrat akan kuasa seperti dibayangkan Nietzsche, misalnya. Selain sexual desire, dalam id ada lainnya, misalnya terkait dengan biological need terutama rasa lapar, greed atau keserakahan, agresi, misalnya merasa diserang kemudian segera saja bereaksi secara agresif tanpa banyak pertimbangan lagi, immediate gratification, ingin segera dapat kepuasan, imbalan, tanpa harus menunggu proses panjang, self-preservation, naluri melindungi diri, sudden emotional outbursts, misalnya merasa sedih tiba-tiba saja menangis tanpa control lagi di supermarket, jealousy, terutama dalam hal ini sexual jealousy, envy atau iri hati, addictive behaviors, impulsive actions, reckless behavior misalnya nekat ikut balapan liar demi kepuasan sesaat. Biasanya ini lebih banyak pada remaja dimana super-ego dan ego belumlah matang.
Bagi Freud, mimpi bisa merupakan ‘jawaban’ dari gejolak alam tidak sadar dimana id bersemayam. Dalam banyak hal-nya, mimpi bisa juga kita lihat sebagai ‘bahan mentah’ dari sebuah imajinasi. Imajinasi yang katakanlah ada dalam perjalanan waktu ‘consciousness of internal time’. Tetapi ada imajinasi yang katakanlah ada di rentang ‘waktu subyektif’. Waktu subyektif kita bisa berbeda saat menunggu sahabat ditangani di UGD, dengan saat ngobrol gayeng. Sama-sama lamanya 30 menit, yang satu terasa lamaaa dan yang lain terasa cepat. Atau ketika kita melihat A mirip dengan B, C mirip juga dengan A, dan juga D mirip dengan A, tiba-tiba saja imajinasi menyeruak dan kemudian kita mengatakan bahwa A, B, C, D itu adalah sama. Tidak hanya mirip saja. Tetapi karena imajinasi itu bisa begitu liar maka perlulah itu dikomunikasikan dengan imajinasi-imajinasi lain dari yang mengalami pengalaman serupa. Atau dicek-ricek lagi pada realitasnya. Tetapi bagaimana hal di atas menjadi mungkin? Karena kita punya bahasa.
Maka untuk menjadi res-publika memang perlu upaya lebih. Mengapa? Karena jika berangkat dari Freud, secara individual kesadaran kita itu justru yang paling besar ada di tidak-sadar, atau katakanlah id-lah yang akan lebih banyak ‘memprovokasi’ hidup kita. Jika memakai analogi gunung es, id itu ada di bawah permukaan yang merupakan bagian terbesar dari gunung es. Sedangkan super-ego (bawah sadar) dan terlebih ego (nalar-rasio) yang ada di alam sadar, hanyalah puncak gunung es yang ada di atas permukaan, dan itu merupakan bagian kecil saja dari kesadaran. Dalam hidup pribadi, banyak cara sehingga id kemudian bisa ‘dikendalikan’, salah satunya dengan agere contra, menabrakkan hasrat dengan hasrat. Dalam ranah kuasa negara mungkin saja bisa kita bayangkan dengan adanya oposisi. Atau dalam kepartaian kita mengenal kritik-otokritik. Dari sini kita bisa juga membayangkan pentingnya partai politik atau kelompok-kelompok masyarakat sipil, yaitu bagaimana melatih super-ego (yang berprinsip moralitas) dan ego (yang berprinsip realitas) secara bersama-sama.
Bisa dibayangkan ketika dalam ranah negara opisisi tidak ada, partai politik tidak berkembang dengan kritik-otokritik sebagaimana mestinya, kelompok-kelompok masyarakat sipil dilemahkan, perguruan-perguruan tinggi sebagai salah satu gemblèngan rasio dirusak di obok-obok, internal pemerintahan sangat tipis kaum teknokratnya, maka bagi sik-pengelola negara akan mempunyai potensi besar justru ia akan lebih ‘diprovokasi’ oleh id. Selama 12 tahun terakhir kita bisa merasakan hal tersebut, bagaimana sik-pengelola negara lebih banyak didorong oleh greed, self-preservation, immediate gratification, envy, kemudian juga impulsive actions, sudden emotional outbursts, reckless behavior, agresi, immediate gratification dan bahkan juga terkait dengan sexual desire. Dan semakin ke sini semakin nampak bahwa itu tidaklah semata by nature tetapi juga by nurture. Ada yang kemudian mengeksploitasi itu semua. Lihat contoh ‘kecil’, bagaimana pejabat atau keluarganya seakan bergantian ‘disuruh’ pamer kemewahan. Atau laku asal mangap, asal njeplak, asal usir itu. Lalu, apa tujuannya? Tujuan akhirnya? Penguasaan …, mau apa lagi?! *** (06-09-2026)
2075. Keracunan MBG dan Yang Dipertaruhkan
07-09-2026
Repetitio est mater studiorum, pengulangan adalah ibu dari pembelajaran, demikian sering kita dengar. Tetapi bagaimana jika sudah diulang-ulang tetap masih belum paham juga? Pastilah pantang menyerah akan menyelusup memberi dukungan, sebab ‘kepentingan diri’ yang sedang dipertaruhkan. Atau mencari bantuan melalui teman yang sudah paham. Atau guru, atau lainnya. Dulu ketika masih praktek dokter dan bekerja di Puskesmas, lalu RS, memang belum sampai menemui apa yang disebut compassion fatigue. Tetapi bagi dokter yang sudah praktek puluhan tahun dan terlebih yang merawat-inap pasien, tentu potensi compassion fatigue ini akan membesar. Untung di kalangan medis sering ada pertemuan entah itu seminar atau ‘pendidikan berkelanjutan’ diantara peer-group-nya yang mungkin saja itu bisa menjadi salah satu jalan menjauhkan diri dari ‘perangkap’ compassion fatigue ini. Atau bagi yang terlibat dalam penyelamatan terkait dengan bencana yang korbannya banyak, sesama petugas atau relawan bisa saling menguatkan.
Menurut Hermann Broch (1886-1951) di alam bawah sadar manusia ada ‘tinggalan’ sejak dalam evolusi manusia doeloe sebuah kesadaran yang disebut Broch sebagai twilight consciousness, ‘kesadaran temaram atau remang-remang’. The twilight state of mind, as an animal heritage, is partly a function of subconsciousness, i.e. instincts and irrational impulses, but partly also a function of man’s rational faculty and its specific limitation. Di bagian lain dalam A Study on Mass Hysteria, Broch terkait dengan twilights consciousness ini menulis: “The highly developed rational elements of modern metropolitan civilization do not mitigate man’s twilight condition, but, in contrary, they intensify it. Accepted as they have been, these elements are robbed of their force of original knowledge and use of merely as expedients of gratifications of instincts.” Paulo Freire juga pernah menyebut ‘kesadaran fanatik’ dimana kesadaran naif kemudian ‘gagal’ untuk berkembang menjadi kesadaran kritis, dan ini justru banyak di kota-kota besar. Di bagian lain Hermann Broch menandaskan bahwa, twilight state makes man to mass, the mass is the product of individual twilight state of mind.
“Desire is man’s very essence, insofar as it is conceived to be determined, from any given affection of it, to do something,” demikian pernah dikatakan Spinoza (1632-1677). Afeksi dominan dalam hal ini terkait dengan joy dan sadness. Dalam konteks ini maka kita bisa juga membicarakan soal keracunan MBG pada anak-anak, yang sebenarnya sangat-sangat sadness. Maka hasrat untuk menolong-pun bergejolak menjadi daya dorong utama. Tidak hanya itu, apa yang pernah dikatakan David Hume (1711-1776) bahwa reason is, and ought only to be the slave of the passions, seakan mendapat tempatnya. Rasionalitas yang ada tipis-tipis saja di twilight consciousness itu seakan di-booster untuk menjadi mampu masuk ke wilayah ‘ego’. Bisa saja yang dibayangkan Arnold Toynbee bahwa peradaban itu akan terkait erat dengan tantangan dan respon, salah satu rute yang ditapak oleh ‘minoritas kreatif’ adalah seperti itu. Artinya apa? Ketika hasrat untuk ‘keluar atau menghindari’ dari sadness itu dan menemukan atau berubah menjadi energi ‘jalan rasionalitasnya’ maka bayang-bayang ‘sempurnanya’ respon-pun perlahan hinggap dalam harapan. Tetapi bagaimana ketika justru responnya selalu saja léda-lédé tidak adekuat? Jika begitu terus maka tidak hanya akan membesarnya potensi compassion fatigue atau bahkan hope fatigue, tetapi pengalaman terhadap ‘kesempurnaan’-pun akhirnya menjadi sesuatu yang semakin langka. Nilai-nilai yang digendong dalam proses menuju ‘kesempurnaan’ itupun perlahan menjadi juga tidak pernah dialami lagi. Dan rentetan akibat-akibatnya bisa panjang itu …
Logika bahwa yang keracunan itu hanya sekian persen adalah sangat salah. Mengapa? Karena bagaimanapun juga dalam ‘situasi negatif’-lah sebenarnya situasi lebih akan ‘didefinisikan’, lebih akan terhayati. Bahkan dari pengalaman, dalam situasi-situasi negative itulah kemanusiaan kita tidak hanya diuji tetapi juga seakan mempunyai momentum untuk berkembang menjadi lebih baik. Atau lihat mengapa paradigma ‘zero defect’ menjadi salah satu paradigma penting dalam manajemen? Hal-hal di ataslah yang sedang dipertaruhkan, selain tentu pertama-tama adalah nasib anak-anak kita. Ataukah memang maunya republik ini tidak lagi diisi oleh ‘publik’ tetapi ‘massa’? Yang mana sebagai massa mempunyai potensi besar dimainken terus dalam histeria-nya? Dan masih saja bicara soal masa emas di entah kapan itu? Pakai hati dan otak itu, cuk … Jangan hanya gegayaan sok-ideologis. Yang seperti-seperti ini ada banyaaak, tunggalé akèh cuk … *** (07-09-2026)
2076. Pesan dari Kanan-Jauh (1)
08-09-2026
Dalam banyak halnya, Nazi adalah salah satu prototipe ekstrem dari sayap kanan-jauh atau far-right. Tetapi bagaimana kita akan membayangkan sayap kanan-jauh ini di era dimana modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital-internet dominan? Ketika Nazi merangkak ke puncak kekuasaan saat itu, modus komunikasi yang sudah lama terbentuk melalui produk cetak massal sedang menggeliat karena ada tambahan ‘tenaga’ dengan ditemukannya telegram, telepon, radio, film, dan televisi yang masih terbatas. Dan juga penemuan loudspeaker. Pada saat itu studi tentang massa atau crowd juga sudah berkembang. Gustav Le Bon menerbitkan The Crowd: A Study of the Popular Mind di tahun 1895. Pada tahun 1890-an Freud mulai mengembangkan psikoanalisisnya. Pada tahun 1917 dibentuk Komite Creel di AS sono untuk mengubah opini publik yang anti-perang (dunia pertama) supaya menjadi mendukung keinginan pemerintah mengirim pasukan ke Eropa terlibat dalam perang tersebut. Dan ternyata komite Creel sangat berhasil, maka lahirlah apa yang dikenal sebagai (tehnik) propaganda modern itu. Tetapi beberapa dekade sebelumnya, Marx dan Engels ingin mengajak untuk lebih melihat apa-apa yang terjadi di ‘basis’, terutama relasi-relasi kekuatan produksi.
Buku Political Tribes (2019) karangan Amy Chua sedikit banyak bisa menggambarkan kecenderungan menguatnya sayap kanan di beberapa negara. Setelah Trump di AS sono, kemudian Italia di Eropa, di Jerman di salah satu negara bagian pemilunya dimenangkan oleh sayap kanan-jauh baru-baru ini. Besaran kemenangan mengejutkan, 44%! Tidak jauh dari pendapat Amy Chua, bagaimana soal kanan-jauh ini tidak hanya soal tribalism yang menguat tetapi juga bagaimana ‘an instinct to exclude’ (pada kaum imigran, misalnya) terus saja ‘dieksploitasi’. Apakah yang terjadi di China komplit dengan partai tunggalnya dipandang sebagai penampakan tribalism yang mengancam? Sehingga ‘aksi-reaksi’-nyapun menjadi seperti itu, yaitu berkembangnya sayap kanan-jauh? Amy Chua dengan jelas telah menunjukkan bahayanya jika political tribes ini terus berkembang. Dari apa yang pernah ditulis Manuel Castells di penghujung abad-20, mungkinkah nuansa tribalisme ini kita geser dalam penghayatan sebagai sebuah dinamika ‘masyarakat jaringan’?
Masyarakat jaringan tentu sudah ada jauh sebelum ini, tetapi yang dimaksud Manuel Castells adalah ketika masyarakat kemudian lebih banyak ‘berkumpul’ di sekitar-sekitar jaringan (komunikasi) digital-internet. Perlahan tidak hanya informasi yang sedang diserap dari jaringan digital-internet ini, tetapi juga in-formatio-nya. Yang mana bisa-bisa kita jatuh juga pada apa yang disebut sebagai ‘echo-chamber’ itu. Bisa dibayangkan ketika rapat-rapat raksasa Nazi jaman doeloe itu, bukankah itu juga semacam ‘echo-chamber’? Atau dalam kampanye-kampanye lainnya. Atau dalam kerumunan-kerumunan lainnya. Bukankah apa yang mendorong peristiwa-peristiwa itu tidak jauh berbeda? Maka tantangan dalam masyarakat jaringan seperti disebut Manuel Castells di atas bisa dikatakan salah satunya adalah soal ‘kerumunan digital’. ‘Tribalisme’ digital yang selalu akan melibatkan ‘an instinct to exclude’ juga. Jika tidak ada ini maka tidak akan ada ‘echo-chamber’ itu. Manuel Castells membedakan antara space of flows dan space of places. Mungkin kita bisa bayangkan ketika pergi ke restoran (space of places) tetapi segera saja kita melihat pengunjung restoran justru asyik sendiri-sendiri dengan smart-phone-nya (space of flows). Dan tertawa bukan karena obrolan dengan teman di depannya, tetapi dengan yang jauh di sana via smart-phone-nya, dan dengan itu flows informasi seakan tiada henti.
Tujuh-puluh enam tahun lalu, David Riesman dkk menerbitkan The Lonely Crowd (1950) yang menjelaskan adanya pergeseran tiga kebudayaan utama, dari tradition-directed, ke inner-directed, dan akhirnya, other-directed. Sayap kanan jauh biasanya akan bicara soal tradition-directed dan inner-directed yang di Amerika sono itu juga berarti lebih bersumber pada sik-strict father. Fasilitasi televisi dalam (hiper)konsumsi di tahun-tahun 1950-an saat itu sudah membuat analisis other-directed mendapat perhatian, apalagi sekarang sudah berkembang modus komunikasi mass-to-mass via jaringan digital internet seperti sekarang ini. Dari asal-usul istilah kanan-kiri, ‘kanan’ dalam jaman sekitar Revolusi Perancis doeloe adalah golongan yang lebih memihak nilai-nilai aristokrasi, konservatisme. *** (08-09-2026)
2077. Pesan dari Kanan-Jauh (2)
09-09-2026
Di penghujung abad-20, Mangunwijaya menerbitkan kumpulan tulisan dalam buku Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein (Kanisius, 1999). Tetapi bagaimana sayap kanan-jauh membaca buku itu? Mungkin saja tidak akan dibaca karena titik berangkatnya berbeda, kanan-jauh lebih dekat dengan pandangan hedonistic, dalam arti manusia itu yang mengejar kesenangan dan menghindari kesakitan. Sedangkan Mangunwijaya dalam Pasca-Indonesia di atas, berangkat dari yang disebut Aristoteles sebagai eudaimonic, kebahagiaan akan terkait dengan bagaimana realisasi manusia sebagai manusia mendapat kesempatan lebih, bagaimana makna juga terkesplorasi, misalnya. Sayap kanan-jauh dengan pandangan kebahagiaan dalam konteks di atas, menganggap bahwa dunia itu penuh dengan marabahaya, survival of the fittest. Maka ada kecenderungan asumsi bahwa manusia itu pada dasarnya jahat. Tidak mengherankan pula apa-apa yang dilakukan Trump misalnya, semakin nampak bahwa penguasaan sumber-sumber daya ekonomi ada di ujung gerakannya, katakanlah untuk membiayai joy sekaligus membiayai upaya menghindari sadness, termasuk untuk membiayai angkatan perangnya. “Desire is man’s very essence, insofar as it is conceived to be determined, from any given affection of it, to do something,” demikian pernah dikatakan Spinoza (1632-1677). Dan afeksi yang dominan adalah terkait dengan joy dan sadness. Tak jauh-jauh amat dari ‘etika epikurean’, Epikurus (341 SM-270 SM).
Dari pernak-pernik di atas, termasuk juga di bagian (1) sebenarnya pengalaman 12 tahun terakhir republik bisa sebagai bahan pelajaran bagaimana sayap ‘kanan-jauh’ itu bekerja. Hal pertama yang perlu ditambahkan di sini adalah sayap kanan-jauh (yang jumlahnya relative kecil) itu kekuatan utamanya menurut David C. Korten adalah kemampuan dalam membangun story-telling. Apakah kemampuan membangun story-telling ini yang pertama-tama bersentuhan dengan republik? Mungkin saja. Yang kedua adalah bagaimana eksploitasi hasrat yang diarahkan pada joy dan sadness. Dalam bermacam bentuknya. Hasrat akan segala kenikmatan, dan hasrat untuk menghilangkan kesakitan, dalam hal ini hilangnya kenikmatan yang sudah di tangan. Termasuk dalam hal ini merekayasa bermacam lembaga negara untuk pertama-tama diabdikan untuk menghindari sadness itu: hilangnya tumpukan joy yang sudah di tangan. Termasuk dalam hal ini, untuk yang pegang senjata. Karena sayap kanan-jauh itu berasumsi bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya maka hal-hal yang dapat ‘berbahaya’ itu satu demi satu disingkirkan, mulai dari oposisi, kekuatan masyarakat sipil, adu domba, sampai dengan merusak story-telling ‘tandingan’ yang akan menggerogoti story-telling bangunan mereka. Maka buzzerRp-pun dikerahkan. Tidak hanya adu-domba, tetapi perlahan an instinct to exclude-pun dipertebal untuk mempertebal rasa-merasa nuansa tribalisme (mereka, utamanya). Tradition-directed-pun dicoba ‘dipakai’ hanya saja dalam nuansa sungguh superfisial dan semata di ujungnya justru ditelikung untuk digunakan sebagai salah satu tirai saja, yang paling vulgar hari-hari ini ya main raja-raja-an itu. Sebelumnya, banyaaak. Lihat saja bagaimana tradition-directed setiap upacara 17 Agustus itu tidak hanya diacak-acak semau-maunya, tetapi bahkan ditelikung untuk mengukuhkan ‘ke-raja-an’-nya. Para ‘pangeran’-nya disuruh jogat-joget pethakilan sementara ia duduk di atas panggung sambil pecingas-pecingis. Raja kan nggak boleh polah pethakilan …
Maka saran Marx benar, lihatlah apa yang terjadi di basis, dimana ada relasi-relasi kekuatan produksi. Bahkan di belakang itu sebenarnya ada juga hasrat. Jika hasrat ini diperhitungkan, maka ia perlu di-kontra-kan dengan hasrat lain yang ‘lebih baik’. Apa itu? Misalnya, (hasrat) meritokrasi yang kemudian membangun lembaga-lembaga negara itu. Di dalam republik misalnya, bisa dibayangkan ia adalah sebuah ‘jaringan besar’ yang terdiri dari bermacam jaringan di dalamnya. Bermacam jaringan yang bisa saja menggendeong bermacam kepentingan pula. Bermacam hasrat pula. Maka mereka-mereka itu perlulah nodes-nodes yang ‘bisa diandalkan’ (dalam hal ini di space of places), sepertihalnya dalam space of flows itu perlulah ‘nodes-nodes’ yang bisa diandalkan, yang sayangnya, ini terus saja diganggu oleh para buzzerRp atau bahkan bermacam algoritma yang diciptakan demi kepentingan tertentu. Lembaga-lembaga negara yang bisa diandalkan karena terbangun dari (hasrat) meritokrasi ini telah terbukti mampu membuat Amerika menjadi besar dan kuat setelah spoils system dihapus sekitar 150 tahun lalu.
Mengapa ‘nodes-nodes’ yang bisa diandalkan sangat diperlukan oleh khalayak kebanyakan? Untuk ‘menyelamatkan’ rasionalitas yang sangat tipis dalam kesadaran yang disebut Herman Broch sebagai twilight consciousness atau ‘kesadaran temaram’ itu. Yang dengan itu pula kemudian tidak menjadi mudah terjerembab dalam ‘massifikasi’ atau menjadi massa bahkan kemudian menjadi ‘histeria massa’ akibat segala story-telling dari sik-kanan-jauh. Mengapa ini menjadi penting? Karena jika kita mengingat peringatan Alvin Toffler, abad-21 ini adalah juga Abad Pengetahuan. *** (09-09-2026)
2078. Ada Yang Sibuk Soal Benteng
10-09-2026
Machiavelli dalam Sang Penguasa (1532) mengatakan bahwa jika pemimpin lebih takut pada ancaman asing maka ia tidak perlu membangun benteng, tetapi jika ia lebih takut pada rakyatnya sendiri maka ia akan membangun benteng. Di bagian lain Machiavelli mengatakan bahwa sebenarnya benteng terbaik itu adalah tidak dibenci rakyatnya. Tetapi bagaimana jika di tempat duduknya pemimpin itu ada ‘matahari kembar’? Machiavelli nampaknya melihat ini adalah sebuah potensi (saja) yang harus dihindarkan, paling tidak bisa dilihat terkait bagaimana nasib Remirro de Orco, dimana ia hanya digunakan saja untuk ‘menertibkan rakyat’ tapi ujung-akhirnya adalah tersungkur di tengah lapangan dengan pisau penuh darah. Tidak hanya terbunuh dengan sadis, tetapi juga dipermalukan di tengah lapangan.
Dengan ilmu otak-atik-gathuk, kedua saran Machiavelli untuk Sang Pangeran itu bisa sebagai pintu masuk. Rejim PS dengan seringnya kunjungan ke luar negeri paling tidak bisa dihayati sebagai ia lebih takut terhadap ancaman asing. Maka ia tidak sibuk membangun benteng. Tetapi ia tahu bahwa benteng terbaik adalah tidak menjadi yang dibenci rakyat, makanya ia buat program-program ‘pro-rakyat’, katakanlah begitu maunya.
Rejim Sik-J selama sepuluh tahun sebelumnya, dan sekarang masih saja (maunya) duduk di kursi kepemimpinan sebagai ‘matahari kembar’, bisa dilihat jarang sekali melakukan kunjungan ke luar negeri. Ia tidak takut ancaman dari asing karena asing sudah dipersilahkan ngeruk kekayaan republik dengan semau-maunya. Bahkan kedaulatan-pun sudah digadaikan juga. Tetapi nampaknya ia lebih takut pada rakyatnya sendiri, dan semakin ke sini semakin nampak bagaimana selama 10 berkuasa ada kesibukan luar biasa dalam membangun benteng, terutama bahan-bahan benteng dari yang pegang senjata dan lembaga pengadilan atau aparat penegak hukum secara umum. Juga terkait dengan sihir-sihir komunikasi dimana itu salah satu pilar supaya ia ‘dicintai’ dan tidak dibenci.
Maka otak-atik-gathuk-nya adalah, bagi sik-J yang utama adalah mempertahankan benteng. Kalau toh nampak selalu berhasrat pada kuasa karena ya memang soal hasrat akan kuasa itu bagi semua saja akan dibawa sampai ajal menjemput, menurut Hobbes, tetapi Hobbes meneruskan, kuasa dihasrati adalah juga untuk melindungi atau mempertahankan apa-apa yang sudah dinikmati. Maka sekali lagi, ini adalah soal benteng juga.
Mengapa otak-atik-gathuk ini dirasa perlu untuk disampaikan? Karena ada pertaruhan besar bagi republik: hancurnya lembaga-lembaga negara. Mengapa potensi hancurnya lembaga-lembaga menjadi membesar potensinya? Karena ia pertama-tama adalah bagian dari bentengnya sik-J, dan bukan pertama-tama untuk mengabdi pada negara yang melahirkannya, rules of the game-nya sudah digeser. Inilah salah satu dosa terbesar dari sik-J pada republik. Terlebih jika kita ingat bagaimana pentingnya lembaga-lembaga dalam menggapai kesejahteraan bersama, yang disampaikan oleh pemenang Nobel tahun 2024 bidang ilmu ekonomi.
Belum lagi jika dikaitkan dengan ‘benteng terbaik adalah tidak dibenci rakyat’ seperti dikatakan Machiavelli. Ketika terjadi ‘matahari kembar’ dan ‘kembaran-bablasan’ itu semakin bernafsu mempertahankan benteng yang sudah dibangunnya selama 10 tahun itu, kita menyaksikan bagaimana seakan race to the bottom terjadi, ketika ‘kembaran-bablasan’ itu berusaha keras untuk menjadi yang ‘tidak paling dibenci’, the lesser evil. Maka lihat, bagaimana ‘proyek monsterisasi’ yang ditujukan pada sik-‘matahari-legal’ itu sudah dijalankan bahkan sejak hari pertama menjabat. Dan seterusnya, seakan tiada henti. Banyak cara, banyak jalan untuk melakukan pembunuhan karakter sehingga ia menjadi sosok ‘yang paling dibenci’. Termasuk juga terhadap bermacam ‘program unggulan’ yang kemudian di-jungkir-balik-kan sehingga program-program itu justru dapat sebagai pintu masuk membesarnya kebencian pada sik-‘matahari-legal’. Maka, mikir … mikir cuk. Jika terlambat, ya que sera … sera … lah. *** (10-09-2026)


